TRI TANGTU: REFLEKSI KESEIMBANGAN EGRANG SEBAGAI PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS
- Rights Holder
- ISBI
- Creator
- ERVIANA AULIA LESTARI
- Title
- TRI TANGTU: REFLEKSI KESEIMBANGAN EGRANG SEBAGAI PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS
- PENCIPTAAN
- Description
- Permainan tradisional merupakan warisan budaya yang kaya akan nilai filosofis, sosial, dan kreatif. Namun, perkembangan zaman menyebabkan permainan tradisional menggeser minat masyarakat akan budaya daerah. Di Indonesia, terdapat sekitar 2.600 jenis permainan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk di Jawa Barat dengan istilah Kaulinan Barudak. Salah satu permainan khas Jawa Barat adalah Jajangkungan atau dikenal sebagai egrang, yang menggunakan dua batang bambu sebagai alat utama dan membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan sebagai metafora di tengah tantangan modernisasi yang kompleks, tumbuh dalam tekanan sosial dan ketidakpastian. Metode yang digunakan yaitu teori L.H. Chapman yaitu menemukan gagasan (inception of an idea), menyempurnakan, mengembangkan, dan memantapkan gagasan awal (elaboration and refinement), serta visualisasi ke dalam medium (heention in a medium). Dalam tugas akhir ini menciptakan karya seni lukis dengan eksplorasi gaya pop surealis menggunakan objek egrang sebagai representasi visual. Diharapkan dapat menarik perhatian melalui elemen visual yang unik dan memantik refleksi mengenai mengenai pentingnya keseimbangan, dan menjaga keberlanjutan budaya tradisional di tengah perubahan zaman.
- Traditional games are a cultural heritage rich in philosophical, social, and creative values. However, the passage of time has caused traditional games to shift people's interest away from regional culture. In Indonesia, there are around 2,600 types of traditional games passed down through generations, including in West Java with the term Kaulinan Barudak. One of the typical games from West Java is Jajangkungan, also known as egrang, which uses two bamboo poles as the main tool and requires balance. Balance as a metaphor amidst the complex challenges of modernization, growing under social pressure and uncertainty. The method used is L.H. Chapman's theory, which involves the inception of an idea, elaboration and refinement, and visualization into a medium. In this final project, a painting artwork is created with an exploration of pop surrealism style using stilts as a visual representation. It is expected to attract attention through unique visual elements and provoke reflection on the importance of balance and preserving traditional culture amidst changing times.
- kaulinan barudak, egrang, keseimbangan, pop surealisme
- Date
- 2025
- Has Part
- senirupamurni
Position: 169 (7 views)