FENOMENA LIMINALITAS MASYARAKAT PADA RITUAL LARUNG DI JATIGEDE KABUPATEN SUMEDANG
- Rights Holder
- ISBI
- Creator
- MAHIJA PURWA RAJENDRA
- Title
- FENOMENA LIMINALITAS MASYARAKAT PADA RITUAL LARUNG DI JATIGEDE KABUPATEN SUMEDANG
- Description
- Penelitian ini mengkaji fenomena liminalitas yang dialami oleh masyarakat Jatigede, Kabupaten Sumedang, melalui ritual Larung yang muncul sebagai respons budaya terhadap perubahan sosial dan lingkungan besar akibat pembangunan Waduk Jatigede. Waduk yang dikategorikan sebagai proyek strategis nasional ini menyebabkan terendamnya puluhan desa, lahan pertanian, makam leluhur, dan ruang hidup masyarakat adat, sehingga memaksa ribuan penduduk untuk berpindah dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Ritual Larung yang awalnya hanya dimaknai sebagai bentuk mengenang, kini berkembang menjadi ruang budaya simbolik yang mencerminkan usaha masyarakat dalam menjaga memori kolektif, merekonstruksi identitas, dan melanjutkan keberlangsungan budaya di tengah keterputusan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi literatur. Data diperoleh dari tokoh adat, warga terdampak, seniman, akademisi, dan perwakilan pemerintah daerah. Analisis menggunakan teori liminalitas dari Victor Turner yang membagi proses perubahan menjadi tiga tahap utama: separation, liminality, dan incorporation. Ketiga tahapan ini menunjukkan dimensi transisi dan transformasi yang dialami masyarakat Jatigede. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap separation, masyarakat mengalami keterputusan dari tanah kelahiran dan akar budayanya, disertai rasa kehilangan dan keterasingan. Tahap liminality menjadi fase yang paling kompleks, di mana masyarakat berada dalam kondisi “mengambang” antara kehilangan dan harapan. Di fase ini, ritual Larung menjadi media penting untuk mengolah trauma, mempererat solidaritas, dan merawat hubungan spiritual melalui prosesi ziarah, sesajen, tarian Umbul, pelarungan, dan diskusi budaya. Pada tahap incorporation, masyarakat mulai menerima keadaan baru dan menjadikan ritual Larung sebagai sarana penyembuhan, penguatan identitas, dan pelestarian budaya secara kolektif. Dengan demikian, ritual Larung Jatigede bukan sekadar upacara adat, melainkan wujud nyata dari liminalitas budaya masyarakat yang menghadapi transformasi besar. Larung menjadi ruang reflektif atas pengalaman kehilangan dan harapan, sekaligus menjadi strategi budaya untuk bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan.
- This research explores the phenomenon of liminality experienced by the community of Jatigede, Sumedang Regency, through the Larung ritual, which emerged as a cultural response to massive social and environmental changes due to the construction of the Jatigede Reservoir. As a national strategic project, the reservoir submerged dozens of villages, agricultural lands, ancestral graves, and indigenous community spaces, forcing thousands of people to relocate and adapt to new environments. Initially regarded merely as a form of remembrance, the Larung ritual has evolved into a symbolic cultural space that reflects the community’s effort to preserve collective memory, reconstruct identity, and sustain cultural continuity amid disruption. This study employs a qualitative approach using ethnographic methods, including in-depth interviews, participant observation, and literature review. Data were collected from traditional leaders, affected residents, artists, academics, and local government officials. The analysis draws on Victor Turner’s theory of liminality, which identifies three primary phases of social transition: separation, liminality, and incorporation. These stages illustrate the community’s process of transformation and adaptation. The findings reveal that during the separation phase, the community experienced detachment from their birthplace and cultural roots, accompanied by feelings of loss and displacement. The liminality phase represents the most complex moment, where people exist in a suspended state—neither fully detached from the past nor integrated into the future. Here, the Larung ritual functions as a key medium to process trauma, strengthen solidarity, and maintain spiritual ties through practices such as pilgrimage, offering rituals, Umbul dance, ceremonial larung, and public discussions. In the incorporation phase, the community begins to accept their new reality and transform the Larung ritual into a collective expression of healing, cultural preservation, and identity reinforcement. Thus, the Larung ritual of Jatigede is not merely a traditional ceremony but a tangible manifestation of cultural liminality. It serves as a reflective space for loss and hope, while also becoming a strategic cultural mechanism for resilience and adaptation in the face of profound change.
- Liminalitas, Ritual Larung, Jatigede
- Date
- 2025
- Has Part
- antropologibudaya
Position: 84 (12 views)