JUNGKIR BALIK WACANA KAWASAN CICADAS KOTA BANDUNG
- Rights Holder
- ISBI
- Creator
- DIVANYA LUTHFI ADZANI
- Title
-
JUNGKIR BALIK WACANA
KAWASAN CICADAS KOTA BANDUNG - Description
- Julukan “Negara Beling” pada kawasan Cicadas di Kota Bandung tidak hadir sebagai label yang netral. Ia adalah wacana yang terus-menerus dibentuk, dipertahankan, dan dinegosiasikan dalam interaksi sosial dan bahasa. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana label tersebut bekerja sebagai bagian dari mekanisme pembentukan makna ruang: siapa yang menggunakannya, dalam konteks apa, dan untuk tujuan apa. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough. Data diperoleh dari dokumentasi media daring, blog warga, observasi lapangan, dan wawancara dengan warga lokal. Analisis dilakukan pada tiga level: representasi teks, praktik diskursif, dan praktik sosial. Temuan menunjukkan bahwa wacana tentang “Cicadas” sebagai kawasan dengan citranya sendiri diproduksi melalui pertemuan berbagai arah wacana dominan yang saling berkelindan: wacana teknokratis (yang melihat kawasan sebagai objek tata kelola), wacana moral (yang menilai kawasan melalui standar sosial), dan wacana resistensi (yang muncul dari warga dan narasi informal). Makna kawasan tidak dibentuk oleh satu narasi tunggal, melainkan dari silang teks dan pengalaman yang berlapis—baik sebagai ruang geografis, simbol sosial, maupun pengalaman hidup. Penamaan seperti “Negara Beling” tidak bekerja sebagai stereotip yang tetap, melainkan terus diproduksi melalui proses pengolahan makna yang halus dan bertahap dalam bahasa dan relasi sosial. Dengan demikian, makna kawasan Cicadas merupakan hasil negosiasi yang terus berlangsung antara wacana dominan dan pengalaman hidup warga.
- The Bandung City neighbourhood known as "Negara Beling" exemplifies the sense that the neighbourhood is 'tough' and densely populated space. Labels such as this have never been value-neutral. This research aims to understand how these labels are produced, maintained and renegotiated in the social interactions of the citizens of Cicadas. Using a qualitative methodology, the study used Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis model. Data were collected using field sampling observations, citizen blog documentation, media documentation, and in-depth interviews with local residents. Findings demonstrate that the way Cicadas is discussed as tough, was produced by the specifications of a number of maximum adjoining discourses that were overlapping including opposition discourse (from local people and the unofficial); moral discourse (assessing the area using social norms); and a technocracy (the area was framed as an object of government). The area meaning was collectively defined by numerous texts and experiences - activities in life, social authorship symbols, geographical place - no one defined the absolute meaning, however. Rather than being a fixed stereotype, terms like "Negara Beling" are always produced through a gradual process of sensitive meaning making in language and social relations. As a result, the meaning of the Cicadas area is the outcome of a continuous process of balancing the lived realities of its inhabitants with the dominant discourse.
- “Negara Beling”, Cicadas, Wacana Dominan, Analisa Wacana Kritis Fairclough
- Date
- 2025
- Has Part
- antropologibudaya
Position: 144 (8 views)