Televisi dan Film

  • ADIKSI MEDIA SOSIAL PADA GEN Z DALAM PENULISAN SKENARIO FILM FIKSI “MENGGENGGAM CEMAS”
    Dalam era digital yang berkembang pesat, penggunaan media sosial oleh Gen Z khususnya mahasiswa semakin meningkat pesat. Penggunaan yang tidak terkontrol ini berpotensi menyebabkan adiksi yang memicu dampak negatif seperti perbandingan sosial dan kecemasan. Fenomena ini mendorong penciptaan naskah skenario berjudul “Menggenggam Cemas” untuk meningkatkan kesadaran Gen Z tentang dampak adiksi media sosial melalui struktur dramatik tiga babak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data berdasarkan survey terbuka terhadap Gen Z di Jawa Barat dan Jakarta serta wawancara mendalam bersama dua narasumber Gen Z dari responden survey dan seorang psikolog. Proses penciptaan naskah melibatkan eksplorasi ide dari hasil riset, pengolahan data menjadi unsur naratif, dan perwujudan penulisan naskah. Naskah ini menggunakan struktur tiga babak untuk menggambarkan konflik psikologis seorang karakter Gen Z dalam menghadapi kecemasan akibat adiksi media sosial untuk mengedukasi penonton. Melalui karya ini, diharapkan dapat mendorong Gen Z agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial.
  • PENATAAN VISUAL REALIS DALAM FILM "MALAM BENCANA YANG TIDAK DIRENCANAKAN DARI PEMANGGUNGAN BENCANA YANG DIRENCANAKAN"
    Film “Malam Bencana yang Tidak Direncanakan dari Pemanggungan Bencana yang Direncanakan” adalah film fiksi yang membahas tentang seorang sutradara teater yang terobsesi dengan teater. Untuk mendukung konsep tersebut menggunakan penerapan teknik sinematografi long take sebagai pendukung dalam film ini. Film ini berupaya untuk mendorong fokus penonton secara maksimal sehingga penonton bisa merasakan apa yang karakter rasakan serta merasa ikut andil di dalam frame tersebut dan berusaha menciptakan atmosfer dramatis serta ketegangan yang mendalam. Camera movement merupakan teknis sinematografi yang mendukung long take sebagai acuan utama frame dengan fokus kamera mengikuti setiap pergerakan subject. Mood and look juga salah satu unsur pendukung emotional yang memiliki mood yang warm bisa menciptakan atmosfer yang intens, psikologis dan ketegangan. Penata kamera memiliki peran penting dalam pembuatan sebuah film, penata kamera juga memiliki tanggung jawab terhadap pengkonversian dari konsep naratif ke dalam konsep sinematik melalui unsur – unsur mise en scene seperti latar waktu dan tempat, pencahayaan, make up and wardrobe, properti, dll. Unsur sinematik juga menjadi acuan utama untuk pembuatan karya untuk mengkomunikasikan konsep naratif menjadi visual. Dengan adanya long take sebagai elemen estetika realitas penggambaran karakter obsesif dari gambar yang tidak terputus dan penonton dihadapkan pada realitas dalam temporalitas aktualnya.
  • HARMONISASI RITME EDITING UNTUK DRAMA CINTA FILM FIKSI HISTORICAL STORY PANON HIDEUNG
    Penelitian ini menganalisis harmonisasi ritme editing dalam film fiksi historical story berjudul Panon Hideung, dengan fokus pada unsur dramatis cinta sebagai elemen sentral dalam cerita. Panon Hideung merupakan film berlatar sejarah yang menampilkan konflik percintaan di tengah peristiwa bersejarah tertentu, sehingga menciptakan tantangan tersendiri dalam menata ritme editing agar sesuai dengan emosi dan intensitas cerita. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kualitatif, dengan mengamati berbagai teknik editing yang digunakan untuk mengatur ritme cerita, seperti pemilihan durasi shot, pemotongan adegan, dan transisi antar adegan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harmonisasi ritme editing dapat memperkuat unsur dramatis cinta dalam film, terutama ketika digunakan secara konsisten untuk membangun suasana emosional dan meningkatkan ketegangan cerita. Pengaturan ritme yang lambat pada momen-momen romantis, serta ritme yang cepat pada konflik, membantu menciptakan daya tarik visual dan memperdalam hubungan emosional antara karakter utama dan penonton. Dengan demikian, ritme editing yang tepat berperan penting dalam menyampaikan pesan emosional secara efektif, sekaligus mempertahankan konsistensi naratif dalam historical story ini. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami bagaimana harmonisasi ritme editing dapat digunakan sebagai alat untuk memperkuat unsur dramatis dalam film bergenre sejarah-romantis, dan diharapkan menjadi referensi bagi praktisi film dalam mengembangkan narasi visual yang efektif.
  • TATA PENGAMBILAN GAMBAR DI FILM BAYAR WARIS
    Laporan tugas akhir ini berjudul “Tata Pengambilan Gambar di Film Bayar Waris” membahas konflik keluarga terkait pembagian harta warisan yang sering memicu perselisihan, keserakahan, dan kekerasan. Sebagai Director of Photography, fokus penelitian ini adalah visualisasi dinamika emosional dan ketegangan yang terjadi. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggabungkan studi film dan kajian literatur untuk menciptakan narasi visual yang menggambarkan konflik keluarga dalam warisan yang ternyata berupa utang, bukan kekayaan. Adapun harapan dari dibuatnya film ini adalah untuk menyampaikan dan menciptakan emosi maupun visual yang dapat dimengerti oleh audience. Dengan film berdurasi 24 menit ini tidak saja hanya mengangkat isu-isu sosial, tetapi juga adanya pengungkapan kenyataan pahit yang ternyata sering tersembunyi dalam drama keluarga.
  • PENERAPAN LINGKARAN CERITA “DAN HARMON” DALAM PENULISAN SKENARIO FILM FIKSI “SHOULD I OPEN THIS DOOR?”
    Penciptaan tugas akhir yang berjudul Penerapan Lingkaran Cerita “Dan Harmon” Dalam Penulisan Skenario Film Fiksi “Should I Open This Door?” merupakan karya skenario yang mengangkat tema kisah perjalanan seorang wanita yang mencari pria untuk meminta pertanggungjawaban atas kehamilannya. Cerita ini dilatarbelakangi atas isu sosial yang sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat yaitu aborsi. Skenario film fiksi Inspired by True Story “Should I Open This Door?”, diharapkan dapat menjadi sebuah edukasi dan sebuah pengalaman, terhadap bahayanya seks pranikah yang menyebabkan kehamilan tidak diinginkan. Hal tersebut memberikan dampak yang buruk untuk diri sendiri ataupun orang disekitar. Pengembangan cerita dalam skenario film ini dilakukan melalui berbagai riset dengan metode kualitatif, terkait dengan seks pranikah mengakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan, dan juga bahayanya aborsi. Dari hasil penelitian tersebut terbentuklah skenario cerita film fiksi Inspired by True Story “Should I Open This Door?”. Dalam proses pembuatan karya skenario film fiksi ini, menerapkan metode “Dan Harmon” Story Circle, yang dibagi menjadi 8 bagian sekuens diantaranya you, need, go, search, find, take, return, change. Dalam pembuatan karya skenario ini juga menggunakan penciptaan sebuah cerita metafora untuk menciptakan ruang dimensi yang berbeda dan adegan menegangkan yang membuat skenario film ini menjadi utuh sepenuhnya secara teratur dan terkonsep.
  • MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DAN ANGGARAN PADA PRODUKSI FILM FIKSI BELENGGU
    Manajemen film dalam proses pembuatan film memainkan peran yang sangat penting dalam memastikan kelancaran dan keberhasilan produksi sebuah film. Proses pembuatan film melibatkan berbagai tahap, mulai dari pra-produksi, produksi, hingga pasca-produksi, yang masing-masing memerlukan pengelolaan yang cermat terhadap sumber daya, anggaran, waktu, dan tim yang terlibat. Laporan ini bertujuan untuk menganalisis pentingnya manajemen film dalam setiap tahapan produksi dan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan efisiensi serta kualitas hasil akhir film. Penelitian ini mengidentifikasi berbagai elemen kunci dalam manajemen film, termasuk perencanaan anggaran dan jadwal yang matang, pengelolaan sumber daya manusia, koordinasi antar departemen teknis dan kreatif, serta penyelesaian masalah yang timbul selama produksi. Selain itu, laporan ini juga membahas pentingnya komunikasi yang efektif antara semua pihak yang terlibat dalam produksi film, mulai dari produser, sutradara, kru, hingga pemeran. Dalam aspek post-produksi, manajemen yang baik diperlukan untuk memastikan penyelesaian film sesuai dengan standar yang diinginkan dalam waktu dan anggaran yang telah disepakati. Dengan menggunakan metode deskriptif analitis dan studi kasus pada beberapa proyek film, laporan ini memberikan wawasan tentang tantangan yang dihadapi dalam manajemen produksi film, serta solusi-solusi yang dapat diterapkan untuk mengoptimalkan proses tersebut. Sebagai hasilnya, laporan ini menyarankan penerapan teknologi manajemen proyek, peningkatan kemampuan komunikasi antar tim, serta pengelolaan risiko yang lebih baik sebagai kunci sukses dalam manajemen produksi film.
  • PENERAPAN TEKNIK LOW KEY PADA KAMERA UNTUK MENDUKUNG METAFORA VISUAL DALAM FILM PENDEK SWITCHING SIDE
    Film pendek Switching Side menggunakan teknik Low Key Lighting untuk menciptakan atmosfer horor yang mendalam. Teknik pencahayaan ini digunakan untuk menggambarkan ketegangan, konflik batin, dan metafora visual yang mengarah pada tema pengorbanan, penyesalan dan dilemma sosial. Penelitian ini mengaplikasikan metode sinematografi yang terdiri dari tiga tahap: persiapan produksi, perekaman, dan evaluasi. Dalam persiapan, konsep visual dirancang dengan fokus pada pemilihan pencahayaan dan komposisi yang mendukung cerita. Selama perekaman, pencahayaan rendah diterapkan untuk menciptakan bayangan tajam yang mengarah pada penekanan karakter dan elemen penting dalam adegan. Pada tahap evaluasi, hasil rekaman disempurnakan dalam proses pasca-produksi untuk menjaga atmosfer yang gelap dan misterius. didukung oleh mood and look dengan dominasi warna dingin bernuansa kehijauan yang memperkuat atmosfer suram dan penuh ketegangan. Komposisi dan pergerakan kamera dirancang untuk mempertegas konflik emosional, sementara elemen seperti pencahayaan, latar, properti, tata rias, dan kostum dirancang secara sinematik untuk merepresentasikan konsep naratif. Hasilnya menunjukkan bahwa Low Key Lighting efektif dalam memperkuat tema horor, memperdalam pengalaman emosional penonton, dan mendukung metafora visual yang tercipta melalui kontras cahaya dan bayangan.
  • PENCAK SILAT SEBAGAI KEBUDAYAAN DALAM BENTUK FOTOGRAFI DOKUMENTER GARUDA AMARTA
    Pencak Silat, kerap menjadi perbincangan hangat dikarenakan beberapa oknum yang menyalah gunakan ilmu hasil pembelajaran yang telah dituai dari pencak silat. Hal tersebut memberi dampak buruk dan mengurangi kepercayaan kepada masyarakat umum, beberapa menganggap pencak silat hanya sebuah kegiatan yang membuang-buang tenagadan waktu. Namun, banyak orang tidak mengerti dan tidak memahami kedalaman atau nilai nilai positif yang ada pada pencak silat itu sendiri baik dalam bentuk keindahan secara gerakan, sifat ataupun pengaplikasian dari ilmu pencak silat itu sendiri. Pada karya fotografi ini menampilkan keindahan gerak serta memberikan pengetahuan melalui pencak silat garuda amarta, dengan tujuan untuk memberikan visualisasi pencak silat supaya tidak lagi adanya hal negatif yang berkeliling pada fikiran masyarakat umum. Pada karya foto “Garuda Amarta” telah terjadi berbagai riset yang menggunakan metode penelitian kualitatif dan visualisasikan pesilat dengan segala keindahan geraknya dalam bentuk jurus-jurus atau pun dalam bentuk perjalanan fisik yang telah ditempuh.
  • PENGUATAN TRAUMATIK PADA KARAKTER SKENARIO FIKSI “DI AMBANG PILU”
    Skenario fiksi berjudul Penguatan Traumatik Pada Karakter Dalam Skenario Fiksi “Di Ambang Pilu” mengangkat tema tentang kehidupan nyata seorang wanita bernama Talia, yang diolah menjadi karya fiksi. Skenario ini menceritakan perjuangan Talia yang bercita - cita menjadi guru, namun harus menghadapi tantangan berupa kondisi kelainan yang memaksanya mengorbankan impian tersebut. Untuk memperkuat narasi, penelitian ini melibatkan wawancara dengan beberapa masyarakat setempat serta penambahan unsur fiksi melalui karakter dan adegan tertentu. Penelitian ini menggunakan metode kualitat i f, yang bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami fenomena sentral melalui wawancara dengan partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penciptaan karakter traumatik Talia dilakukan dengan menghadirkan latar belakang trauma akibat pelecehan oleh ayah tirinya, yang menyebabkan gangguan hiperseksualitas. Pengembangan karakter tersebut digambarkan melalui perubahan emosional yang signifikan, di mana Talia berjuang mengatasi rasa malu, kesepian, dan ketidakberdayaan yang membayangi kehidupannya. Teknik flashback digunakan untuk mengungkap asal mula trauma Talia, memberikan kedalaman emosional dan memperkuat konflik internal yang ia hadapi. Penerapan struktur tiga babak pada skenario ini adalah cerita berkembang secara efektif. Skenario Film ini tidak hanya menampilkan sisi dramatis dari perjuangan seorang wanita dengan masa lalu yang kelam, tetapi juga menyentuh tema penyembuhan dan pemulihan dari trauma, dengan struktur tiga babak yang mendukung pengembangan karakter dan alur cerita secara efektif.
  • MEMBANGUN KEDEKATAN EMOSIONAL MELALUI TEKNIK HANDHELD CAMERA DAN POINT OF VIEW SHOT DALAM PENATAAN KAMERA FILM DOKUMENTER SECANGKIR LESTARI
    Alih fungsi lahan di kawasan Puncak, Bogor, untuk pariwisata dan komersial telah menyebabkan degradasi lingkungan serius, seperti deforestasi, penurunan resapan air, serta peningkatan banjir dan longsor. Sebagai solusi, Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibulao mengembangkan sistem agroforestri kopi yang mendukung restorasi ekosistem dan ketahanan ekonomi masyarakat lokal. Film dokumenter Secangkir Lestari bertujuan merekam dan menyuarakan upaya tersebut, serta meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya konservasi berbasis komunitas. Dalam produksi ini, peran yang diambil adalah sebagai Director of Photography (DoP), yang merancang dan mewujudkan konsep visual guna mendukung pesan naratif. Metode penciptaan menggunakan pendekatan partisipatif, dengan teknik handheld camera, point-of-view shot, dan komposisi visual yang merefleksikan keterhubungan manusia dan alam. Peran sinematografi menjadi media edukasi visual dalam Secangkir Lestari. Melalui metode kualitatif berupa observasi langsung dan wawancara mendalam, teknik handheld dan POV memperkuat keterlibatan emosional serta menciptakan pengalaman menonton yang imersif. Visual yang dihasilkan lebih dekat dan dinamis, menampilkan realitas keseharian masyarakat secara organik dan memperkuat ikatan antara subjek dan penonton. Dokumenter ini mengusung konsep visual storytelling sebagai alat komunikasi efektif untuk meningkatkan kesadaran publik tentang konservasi lingkungan dan mendorong kolaborasi dalam pengelolaan agroforestri kopi secara berkelanjutan
  • PERGERAKAN KAMERA DINAMIS UNTUK MEMPERKUAT DINAMIKA KARAKTER DALAM FILM “BENEATH THE SURFACE OF THE MIND’S EYE ”
    Beneath the Surface of the Mind’s Eye merupakan film fiksi pendek yang menyoroti isu kesehatan mental pada remaja melalui pendekatan visual yang kuat. Cerita berfokus pada seorang remaja yang mengalami tekanan emosional dan krisis identitas, yang divisualisasikan melalui teknik sinematografi dinamis dan ekspresif. Penggunaan gerakan slow track in/out memperkuat nuansa keterasingan dan pencarian jati diri, sementara teknik handheld camera menciptakan kesan labil dan cemas—merefleksikan gejolak batin yang tidak menentu. Transisi antara dunia nyata dan imajinasi diperkuat lewat gerakan pan horizontal, yang merepresentasikan pergeseran perspektif karakter terhadap realitas. Teknik Handheld juga dibeberapa scene digunakan untuk membawa penonton lebih dekat ke momen-momen emosional yang intens, sedangkan closeup menekankan ekspresi wajah yang menyiratkan konflik internal. Seluruh pendekatan visual ini tidak hanya membentuk estetika film, tetapi juga menjadi medium penceritaan tematik yang mendalam dan emosional. Secara visual, film ini memadukan nuansa warna hangat dan biru dingin sebagai simbol dari benturan antara kenyataan dan ilusi. Elemen seperti ruang kosong, pencahayaan dramatis, tata latar, serta properti dipilih secara cermat sebagai bagian dari mise-enscene untuk menciptakan atmosfer psikologis yang kuat. Melalui perpaduan visual dan narasi yang terarah, film ini berupaya menyuguhkan pengalaman sinematik yang menyentuh, reflektif, serta relevan dengan kondisi psikologis remaja masa kini.
Browse all
< Previous page Next page >