Televisi dan Film
-
PENERAPAN METODE EDFAT DALAM FOTOGRAFI DOKUMENTER ALAT MUSIK TRADISIONAL KECAPI SUNDA NGAWANGUN KACAPIKecapi merupakan alat musik yang memiliki nilai budaya tinggi dan menjadi simbol identitas masyarakat Sunda. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan setiap tahapan pembuatan kecapi, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses akhir. Dalam fotografi dokumenter yang berfokus pada proses pembuatan alat musik tradisional Sunda, yaitu kecapi. Metode EDFAT digunakan untuk menghasilkan dokumentasi visual yang tidak hanya informatif tetapi juga edukatif, sehingga dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang teknik pembuatan kecapi. Proses pembuatan kecapi terdiri dari beberapa tahapan penting: pemotongan dan pembentukan kayu, penghalusan permukaan, serta pemasangan senar dan komponen lainnya. Dokumentasi ini dilakukan dengan teknik fotografi yang memperhatikan komposisi, pencahayaan, dan sudut pengambilan gambar agar dapat menampilkan detail yang jelas dari setiap langkah.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metode EDFAT dalam fotografi dokumenter dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pelestarian budaya lokal, serta meningkatkan apresiasi terhadap seni dan kerajinan tangan tradisional.
-
TRADISI SOSIAL DAN BUDAYA MASYARAKAT KLATEN JAWA TENGAH DALAM PENULISAN SKENARIO “REWANG RAHASIA DI BALIK DAPUR”Tradisi rewang merupakan kegiatan gotong royong yang sudah lama dikenal dalam masyarakat Jawa. Dalam pelaksanannya rewang diikuti oleh sekelompok orang yang bekerjasama untuk membantu acara atau pekerjaan besar seperti pernikahan, lamaran atau upacara adat. Tradisi ini menggambarkan nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan saling membantu dan sangat dijunjung tinggi dalam kehidupan sosial masyarakat Desa Bunder. Penulisan skenario film bertemakan rewang bertujuan menggali kembali nilai-nilai tersebut dalam konteks kekinian serta mengangkat relevansi tradisi gotong royong dalam kehidupan modern. Adapun pembuatan skenario ini dengan tujuan untuk menyajikan sebuah cerita yang menggambarkan pentingnya kerjasama dalam masyarakat serta bagaimana rewang dapat menjadi solusi dalam menghadapi tantangan bersama. Skenario ini berupaya memperkenalkan tradisi rewang kepada generasi muda melalui media film yang menarik dan mudah dipahami. Metode yang digunakan dalam pembuatan skenario ini adalah pendekatan kualitatif dengan studi literatur dan observasi terhadap pelaksanaan tradisi rewang di beberapa komunitas. Penulis juga melakukan wawancara dengan tokoh masyarakat yang masih melestarikan tradisi ini. Konsep skenario film ini mengusung tema sosial dengan latar belakang budaya Jawa, menggabungkan elemen-elemen tradisional dan modern. Cerita berfokus pada hubungan antar karakter yang terjalin dalam kegiatan rewang, serta konflik-konflik yang muncul dalam proses kerjasama. Dengan menggunakan narasi yang kuat dan karakter yang mendalam, diharapkan media ini dapat memberikan pesan moral tentang pentingnya kebersamaan dalam membangun masyarakat yang harmonis.
-
PENERAPAN PROMOSI DAN DISTRIBUSI FILM PENDEK What They Don't Know About MeFilm pendek memiliki peran penting dalam dunia perfilman sebagai medium ekspresi kreatif, film pendek mampu menyampaikan gagasan kompleks, kritik sosial, serta pesan-pesan emosional secara efektif dan efisien. Penelitian ini mengangkat film pendek What They Don’t Know About Me yang mengusung isu pelecehan seksual sebagai bentuk kampanye sosial. Melalui pendekatan naratif yang emosional dan sinematografi yang kuat, film ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak psikologis, sosial, dan hukum yang dialami korban. Hasil penelitian ini mengkaji bagaimana strategi co- production, promosi, dan distribusi berkontribusi terhadap kesuksesan film pendek di tengah persaingan industri film yang kian ketat. Co-production, atau kerja sama dalam produksi, menjadi salah satu strategi utama yang memungkinkan produser untuk menggabungkan sumber daya, jaringan, dan keahlian sehingga meningkatkan kualitas produksi tanpa membebani biaya secara sepihak. Penelitian ini mengidentifikasi tantangan dan peluang yang dihadapi produser. Produser film pendek menghadapi keterbatasan dana dan visibilitas, namun memiliki peluang besar untuk menyampaikan pesan kuat dan menjangkau publik global melalui strategi produksi kolaboratif dan distribusi adaptif. Kesimpulannya, promosi yang kreatif, terutama melalui media sosial dan festival film, mampu meningkatkan eksposur dan daya tarik film pendek di mata publik. Distribusi digital membuka peluang luas bagi film pendek untuk menjangkau audiens global, meskipun produser tetap menghadapi tantangan dalam hal pendanaan, persaingan konten, dan akses jaringan distribusi.
-
VISUALISASI PEKERJA LANSIA DI KOTA BANDUNG MELALUI FOTOGRAFI HUMAN INTEREST RENTANPenelitian pembuatan karya fotografi “rentan” dengan gaya human interest ini mengungkap potret kehidupan sehari-hari para lansia di tengah kota bandung yang masih aktif bekerja, sekaligus memberikan contoh positif bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Karya ini tidak hanya bersifat dokumentasi, namun juga bertujuan untuk menghargai pengalaman dan kontribusi para pekerja lansia, serta mengajak masyarakat untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas. Konsep visual yang terstruktur dengan baik menjadi pedoman, dengan penerapan komposisi yang tepat, pencahayaan alami dari matahari, dan pemilihan sudut pandang yang strategis untuk menyampaikan emosi yang tersirat dalam karya. Proses penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang mencakup observasi, studi pustaka, studi media, dan wawancara, serta mengacu pada metode penciptaan karya seni menurut S.P. Gustami, yang terdiri dari tiga tahap: eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Melalui pendekatan tersebut, diharapkan karya fotografi ini tidak hanya mendokumentasikan pekerja lansia, tetapi juga menyampaikan pesan tentang tantangan yang mereka hadapi, sehingga menumbuhkan simpati dan kesadaran akan pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan lansia.
-
PENERAPAN GAYA PENYUTRADARAAN REALISME PADA FILM FIKSI “LUNAS NEPI KA MODYAR”Fenomena pinjaman online (pinjol) yang semakin marak di masyarakat, terutama di kalangan generasi muda, menjadi latar belakang penting dalam pengembangan film “Lunas Nepi Ka Modyar”. Film ini mengangkat kisah seorang mahasiswa yang terjerat dalam tren dan gaya hidup modern, yang akhirnya membuatnya terperangkap dalam pinjaman online. Dengan pengemasan yang menggabungkan gaya realisme dan komedi, film ini bertujuan untuk memvisualisasikan realitas kehidupan sehari-hari dan menyampaikan pesan moral melalui pendekatan yang ringan dan menghibur. Dengan menggunakan komedi sebagai alat untuk menyampaikan isu serius, diharapkan penonton dapat lebih mudah meresapi pesan yang ingin disampaikan. Maka dari itu terbentuklah rumusan ide penciptaan film ini di antaranya: bagaimana menginterpretasikan naskah “Lunas Nepi Ka Modyar” ke dalam struktur dramatika dalam film fiksi, bagaimana penerapan karakter terhadap pemeran dapat mendukung gaya realisme dalam film, serta bagaimana ekspresi dan gestur dalam film dapat menyampaikan emosi secara efektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka. Selain itu, metode penciptaan yang digunakan mencakup tahapan pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Hasil penelitian menciptakan interpretasi naskah yang dikembangkan menjadi master breakdown, callsheet, dan karya film yang sesuai dengan visi dan misi sutradara. Dengan penerapan gaya realisme dan komedi, visi dan misi sutradara dalam “Lunas Nepi Ka Modyar” dapat diwujudkan secara optimal dan menghasilkan visualisasi film yang sesuai dengan harapan serta penyampaian pesan film yang tepat.
-
STRATEGI PENGENDALIAN PRODUKSI DAN DISTRIBUSI FILM PENDEK FIKSI HISTORICAL STORY “PANON HIDEUNG”Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menerapkan strategi yang efektif dalam pengelolaan produksi dan distribusi dalam sebuah film pendek historical story berjudul “Panon Hideung”. Film tersebut memiliki genre drama– romansa yang mengangkat kisah cinta antara Ismail Marzuki dan Eulis Andjung yang diceritakan dari sudut pandang istrinya. Film ini tidak hanya menghadirkan narasi sejarah tetapi juga berupaya menghubungkan penonton modern dengan kisah cinta penuh nilai budaya Indonesia melalui lagu karya Ismail Marzuki dengan judul yang sama yaitu “Panon Hideung”. Produser dalam penelitian tersebut melakukan berbagai rangkaian tugas yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, dan pengkontrolan seluruh aspek produksi dan distribusi film. Proses produksi dilakukan melalui tahapan pra produksi, produksi, dan pasca produksi yang masing-masing membutuhkan pengelolaan waktu, anggaran, dan sumber daya manusia yang optimal. Selain itu, distribusi film pendek ini direncanakan secara strategis dan terstruktur agar dapat menjangkau target penonton yang lebih luas baik melalui platform digital maupun konvensional. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pengendalian yang tepat dalam setiap tahapan produksi sangat berperan dalam memastikan kelancaran dan kesesuaian hasil akhir dengan visi kreatif film. Selain itu strategi distribusi yang terencana juga membantu film pendek “Panon Hideung” mencapai target penonton yang lebih luas serta mendukung upaya pelestarian budaya melalui karya audio visual. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa peran Produser dalam strategi pengendalian produksi dan distribusi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan film tersebut. Strategi ini dapat menjadi panduan bagi produksi film pendek lain yang bertujuan untuk memaksimalkan kinerja produksi dalam industri film di Indonesia.
-
MEMBANGUN NUANSA DRAMATIK MELALUI RITME EDITING DALAM FILM BELENGGUTragedi tahun 1965 di Indonesia merupakan kejadian masa lalu yang tidak dapat dilupakan oleh korban yang mengalami trauma mendalam yang bersifat fisik maupun mental, para korban di tahan tanpa ada proses hukum dan di siksa yang mengakibatkan gangguan mental PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) hingga beberapa orang dinyatakan hilang. Penyintas yang selamat menghadapi keadaan sosial dimana para korban menghadapi pengasingan, pembatasan gerak sehingga mereka semakin sulit bersosialisasi dari pengalaman trauma yang seharusnya mejadi bagian dari proses penyembuhan. Penyunting gambar atau Editor Film memiliki peran yang penting dalam sebuah proses produksi film. Tugas dari editor adalah menyusun dan mengolah hasil rekaman, ritme editing mengatur visual dan audio agar dapat membangun suasana dalam adegan dan emosi karakter dengan mengatur pacing, cutting, transisi, warna, dan audio. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode kualitatif yang melibatkan pencarian dan mengumpulkan jurnal, artikel, buku, dan wawancara dengan narasumber professional. Dalam konteks film ritme editing adalah mengatur tempo agar selaras dengan konsep transcendental yang merujuk pada pendalaman emosi dengan pengambilan gambar yang berdurasi lama atau slow pace dan memfokuskan pada karakter utama dalam adegan.
-
PENDEKATAN ISU ANOMIE SUICIDE DALAM BENTUK SLOW CINEMA “Blue, that we don’t know what blue is”Film pendek ini bertujuan untuk menghadirkan sudut pandang alternatif terhadap kasus bunuh diri yang melibatkan ibu dan anak. Masyarakat umumnya menilai tindakan tersebut dari perspektif etis tanpa mempertimbangkan faktor-faktor kompleks yang melatarbelakangi keputusan tersebut. Film ini dirancang untuk menyampaikan pengalaman emosional dan psikologis yang dialami oleh ibu, sehingga penonton dapat merasakan tekanan dan dilema moral yang dihadapinya. Konsep film menggunakan bentuk slow cinema, yang mempunyai tempo lambat, minim dialog, dan penggunaan longtake. Pendekatan ini dipilih untuk memberikan ruang bagi penonton untuk merenung dan meresapi setiap adegan. Metode pembuatan film meliputi tiga tahap: praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Tahap praproduksi mencakup riset, penyusunan naskah, serta perencanaan visual. Produksi berfokus pada pengambilan gambar yang menciptakan suasana reflektif, sementara pascaproduksi mencakup proses penyuntingan untuk mempertahankan konsistensi suasana dan pesan. Hasilnya, Film ini rampung dibuat dengan mengupayakan gagasan sutradara dan penulis naskah lewat film. Karya ini diharapkan dapat membangkitkan empati dan membuka diskusi lebih luas tentang bagaimana kita seharusnya secara etis memandang peristiwa bunuh diri yang melibatkan ibu dan anak. Yang pada akhirnya tidak mengabaikan sisi humanis dari peristiwa tersebut.
-
MEMORABLE Filosofi Mulih Ka Jati Mulang Ka Asal Sebagai Gagasan Karya AssemblingIndonesia sebuah negara yang memiliki berbagai macam suku dan budaya yang melimpah, pada setiap suku yang ada di Indonesia memiliki jati diri dan makna-makna yang berbeda disetiap wilayahnya. Indonesia memiliki suku yang sudah tidak asing di dengar oleh setiap masyarakat yaitu suku Sunda. Filosofi mulih ka jati mulang ka asal dari suku Sunda mengajak kita untuk kembali pada jati diri dan asal usul, menekankan pentingnya introspeksi dan penghargaan terhadap warisan budaya. Dalam konteks Tugas Akhir ini, penulis berusaha mengeksplorasi tema tersebut melalui karya seni assembling menggunakan batu hebel. Melalui metode penelitian kualitatif, penulis ingin menggali makna mendalam dari pengalaman hidup dan kenangan, serta mendorong penikmat untuk merenungkan hubungan mereka dengan diri sendiri dan Sang Pencipta. Karya ini diharapkan dapat menjadi pengingat akan nilai-nilai identitas dan perjalanan hidup, serta pentingnya menghargai setiap momen yang telah dilalui. Dengan demikian, mulih ka jati mulang ka asal bukan hanya sebuah ungkapan, tetapi juga panduan untuk memahami diri dan menghargai warisan budaya yang membentuk kita sebagai individu. Penulis memvisualisasikan kepada sebuah karya yang mengangkat tentang memori atau mengenang masa yang sudah lalu.
-
PENDEKATAN NEO-REALISME DALAM PENYUTRADARAAN FILM SILENCE ART STORIESFilm Silence Art Stories terinspirasi dari kisah nyata Gebar Sasmita, seorang tahanan politik yang dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September 1965 dan ditahan tanpa proses peradilan dari tahun 1965 hingga 1979. Dengan pendekatan neorealisme, film ini menggambarkan realitas keras kehidupan para tahanan politik dan dampaknya terhadap masyarakat kelas bawah. Tema ini menarik karena mengangkat isu sejarah yang jarang dieksplorasi, sekaligus memadukan elemen naratif dan sinematik untuk merekonstruksi suasana era Orde Baru. Konsep penciptaan berfokus pada tiga aspek utama: Bagaimana cara penggambaran Gebar Sasmita dalam komposisi frame within frame yang memperlihatkan keterbatasan masyarakat kelas bawah? Bagaimana membangun Mise en Scene dalam Film Silence Art Stories agar sesuai dengan realitas kehidpuan masyarakat kelas bawah dan Bagaimana penerapan CGI dalam film Silence Art Stories digunakan untuk membangun setting kehidupan masyarakat yang terpenjara dan realitas masyarakat kelas bawah? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, seperti wawancara, studi pustaka, dan kajian media, sementara metode penciptaan mencakup empat tahap: riset dan pengembangan, pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Hasilnya, film ini berhasil merekonstruksi kondisi sosial dan psikologis tahanan politik melalui estetika visual yang mendalam. Teknik sinematik, seperti tata cahaya, pemilihan shot, dan mise en scene, digunakan untuk menciptakan atmosfer autentik yang memperkuat narasi emosional dan pesan sejarah kepada penonton.
-
STEREOTIPMASYARAKAT TERHADAP SEORANGPENARI PADA PENULISAN SKENARIO “WANGSUL”Perubahan nilai budaya pada tari Bedhaya Ketawang masih banyak yang belum memahaminya. Akibat kurangnya pemahaman perubahan nilai tersebut, munculah stereotip dan stigma negatif dari masyarakat pada penari khususnya Bedhaya Ketawang ini. Tujuannya adalah untuk mengedukasi masyarakat mengenai perubahan nilai budaya pada tari Bedhaya Ketawang dan meminimalisir adanya stereotip dan stigma terhadap penari. Mengunakaan metode kualitatif berupa wawancara, riset online, dan obervasi langsung ke Keraton Surakarta Hadiningrat. Serta menggunakan struktur berupa Freytag’s Pyramid untuk struktur dramatik. Dengan menggunakan aplikasi scenarist, menghasilkan sebuah skenario dengan genre drama, berdurasi kurang lebih 48 menit dengan total 42 scene.
-
NARASI PEMBERONTAKAN PADA PESIMISME DALAM EKSPERIMENTASI PASCA FOTOGRAFIS PATAH RUNTUH TUMBUHKegagalan dalam mencapai tujuan merupakan bagian tak terhindarkan dalam perjalanan hidup manusia, ia dapat menjadi titik balik kemajuan positif atau justru menghambat perkembangan diri. Sebagai respon alami pertahanan diri manusia, hal tersebut memberi dampak seperti rasa takut, kecemasan, dan sikap pesimis. Jika dibiarkan dalam jangka panjang, pesimisme dapat menimbulkan kerusakan pada diri dan jiwa. Dengan tekad kuat, pesimismedapat diubah dan dikelola dengan mengembangkan ekspektasi positif atau optimisme. Salah satunya melalui ekspresi diri yang positif. Fotografi, khususnya dalam fotografi ekspresi atau fine art photography, dapat menjadi media pengungkapan yang efektif untuk menyalurkan ekspresi tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode penciptaan karya practice-led research.Karya fotografi yang dihasilkan memakai teknik eksperimen merobek dan menjahit foto gabungan dari fotografi dengan media benang rajut.Warna gambar hitam-putih menampilkan manusia dengan ekspresi, gestur, properti, dan tekstur dipadukan cahaya kontras yang dramatis menggambarkan perasaan getirnya memori dan keputusasaan. Eksperimen pada foto menciptakan pola acak yang merepresentasikan amarah, ketidakberdayaan, pemberontakan, dan penerimaan diri . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fotografi tidak hanya sebagai media dokumentasi, tetapi juga sebagai sarana ekspresi yang mampu menyampaikan emosi, refleksi diri, dengan caran menghadirkan keterbukaan atas ketidaksempurnaan dan luka.
