Tari Sunda

  • ANGGADA ANDHIRA
    Anggada Andhira merupakan judul yang dibawakan untuk karya penataan tari sunda, berasal dari kata sangsekerta. Anggada yaitu kuat berani atau tangkas dan gesit, Andhira artinya perempuan maka Anggada Andhira mempunyai makna tersendiri yaitu perempuan kuat dan pemberani. Latar belakang karya ini terwujud berdasarkan tafsir dari cerita sejarah pendekar perempuan Nyimas Gamparan pada masa kolonial Belanda, bagaimana spirit semangat juang seorang perempuan ketika memperjuangkan hak bumi Banten agar tidak dirampas oleh kolonial belanda. Naskah sejarah tersebut kemudian ditreanformasikan kedalam garapan tari kelompok yang merujuk pada bentuk karya inovatif dengan tipe Tari dramatik dengan bentuk tari kelompok. Motif gerak yang diusung pada karya ini yaitu berakar pada gendre ibing pencak silat yang telah didistorsi dan distilisasi kembali sehingga menghadirkan bentuk yang relative memiliki karakter dan warna tersendiri. Dalam karya tari Anggada Andhira terbentuk melalui beberapa sumber diantaranya buku-buku sejarah, video dan hasil wawancara, selain sumber data juga karya ini menggunakan teori dalam tahap penataan yaitu teori kreativitas dari Wallas yang diaplikasikan dengan beberapa tahap kreatif; tahap persiapan, incubasi, iluminasi, dan tahap Verifikasi dengan metode garap Y. Sumandiyo Hadi yaitu Eksplorasi, Evaluasi, Komposisi. Terbangunya karya tari ini meliputi koreografi, musik tari dan artistik tari. Penataan dan sajian sebuah karya tidak hanya ditinjau dari bentuknya saja namun ada pesan moral yang disampaikan. Karya tari ini, memiliki pesan moral yaitu mengalah bukan berati harus terpuruk, namun kalah merupakan titik awal untuk bangkit dan memperjuangkan kembali hak yang semetinya dimiliki.
  • TARI TOPENG KLANA CIREBON GAYA SLANGIT
    Tari Topeng Cirebon merupakan suatu tarian yang berkembang di daerah Cirebon, juga menjadi salah satu media penyebaran agam Islam dengan cara bebarang dari satu tempat ketempat lainnya oleh para Wali, dari pertunjukan ini terdapat banyak gaya dan ciri khas salah satunya adalah gaya Slangit. Tari Topeng Klana merupakan tari topeng yang dipentaskan pada akhir petunjukan Topeng Cirebon. Tarian ini menggambarkan seseorang yang memiliki sifat buruk, serakah, penuh amarah dan tidak bisa mengendalikan hawa nafsu, bentuk dan sikap gerak nya tegas, lebar dan kuat. Dalam penyajian ini penulis menggunakan metode Gawe Jogedan dengan langkah-langkah penyusunan koreografi, menambahankan dan pengurangan ragam gerak pengulangan, Adapun hasil dari penyajian tari Topeng Klana Cirebon gaya Slangit dengan metode Gawe Jogedan ini yaitu terciptanya bentuk sajian tari Topeng Klana Cirebon gaya Slangit yang baru tetapi tidak meninggalkan esensi yang telah ada.
  • PRAPANCA GARINI
    Karya penataan tari ini berjudul Prapanca Garini, kata Prapanca Garini diambil dari bahasa sansakerta Prapanca artinya gelisah dan Garini artinya istri. Maka dari itu Prapanca Garini sebagai gambaran kegelisahan seorang istri terhadap suaminya. Prapanca Garini diambil dari penggalan cerita legenda Situ Gede Tasikmalya yang sangat populer di Tasikmalaya, menjelaskan tentang sikap seorang Nyi Raden Dewi Kondang Hapa yang memiliki ketakutan dan rasa trauma akan poligami yang dilakukan oleh suaminya yaitu Prabu Adilaya. Pendekatannya menggunakan tipe tari dramatik dengan bentuk tari kelompok melalui proses kreatif dari pemikiran Wallas melalui 4 tahap yaitu; (1) persiapan, (2) inkubasi, (3) iluminasi, dan (4) verifikasi dan metode garap menurut Y Sumandiyo Hadi eksplorasi, improvisasi, dan komposisi. Dengan tahapan tersebut tentunya membuka ruang berpikir dan proses berkarya secara kreatif dan inovatif sehingga menghasilkan elemen koreografi, musik, rias busana, dan artistik tari yang relatif berbeda dengan karya lain. Dari tahapan penjajagan proses tersebut, tentunya bukan perihal bentuk estetika yang ingin di sajikan dan di sampaikan pada para apresiator namun ada pesan moral bahwa jangan terlalu mencintai secara berlebihan, karena akan menimbulkan rasa gelisah yang menyakiti diri sendiri.
  • RUNTIK-ING GALIH SANG ATMAJA
    Karya tari "Runtik-ing Galih Sang Atmaja" merupakan transformasi dari legenda Sangkuriang yang menggambarkan kekecewaan Sangkuriang saat mengetahui wanita yang dicintainya adalah ibu kandungnya, Dayang Sumbi. Karya ini disajikan oleh lima penari laki-laki dan satu penari perempuan dengan pendekatan tradisi dan tipe dramatik. Proses penciptaannya menggunakan metode eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan, sebagaimana dijelaskan oleh Y. Sumandiyo Hadi (2016:136), bahwa proses penciptaan tari bertumpu pada kreativitas dalam mengekspresikan gagasan secara artistik. Hasil garapan menonjolkan konflik batin melalui gerak ekspresif, komposisi dinamis, dan tata artistik yang mendukung suasana dramatik. Pesan moral yang disampaikan adalah pentingnya bersyukur dan menerima kenyataan hidup agar tidak terjebak dalam ambisi yang merusak, seperti yang dialami Sangkuriang, di mana hubungan sedarahnya mencerminkan perilaku menyimpang layaknya naluri hewan.
  • TARI SRIKANDI X MUSTAKAWENI
    Tari Srikandi X Mustakaweni merupakan salah satu repertoar tari wayang, yang ditarikan secara berpasangan dan berkarakter putri ladak, mengisahkan tentang dua tokoh pewayangan yaitu Srikandi dan Mustakaweni untuk memperebutkan Pusaka Layang Jamus Kalimusada. Tarian ini dipilih sebagai materi tugas akhir berdasar kepada ketertarikan penulis terhadap koreografi juga penggunaan properti cundrik dan gondewa. Penguasaan terhadap properti tersebut merupakan suatu tantangan bagi penulis untuk mengasah skill kepenarian dan meningkatan kreativitas dari segi koreografi. Penyajian Tari Srikandi X Mustakaweni ini dibuat dalam bentuk hasil inovasi baru, tetapi tidak merubah esensi isi dan bentuk tarian. Untuk mencapai hasil yang optimal dalam proses garap ini penulis menggunakan metode gubahan tari dengan beberapa tahapan di antaranya eksplorasi, evaluasi, dan komposisi. Adapun hasil akhir yang telah dilakukan melalui gubahan tari ini yaitu dengan terwujudnya sebuah tarian hasil kreativitas melalui bentuk gubahan tari dengan mengembangkan beberapa variasi ragam gerak, pemadatan gerak, juga penambahan gerak awal dan akhir yang disesuai dengan ciri khas penulis.
  • BARYA PURUG
    Karya yang berjudul Barya Purug terinspirasi oleh kisah Lutung Kasarung yang mengambil momen saat putri Purbasari diusir ke dalam hutan. Tari kelompok ini disajikan dengan pendekatan dramatik yang mengedepankan tradisi. Koreografi ini berasal dari gerak tari putri yang ditambahkan dengan elemen dari tari kreasi baru, termasuk karya tari R. Tjetje Somantri dan tari Putri. Tujuannya adalah untuk mewujudkan konsep tersebut menjadi sebuah karya tari berjudul Barya Purug. Pesan dan nilai yang ingin disampaikan penulis dalam karya ini adalah bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai keinginan kita, tetapi juga tentang memilih jalan kebaikan di saat senang maupun sulit. Metode yang diterapkan adalah metode kreativitas Hawkin, yang digunakan dalam karya tari Barya Purug dan terdiri dari beberapa langkah, seperti eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Pendekatan yang diusulkan oleh Y. Sumandiyo Hadi memberikan kebebasan bagi penari untuk berinovasi secara spontan, sehingga mereka lebih leluasa dalam mengembangkan gerakan. Setiap gerakan yang dihasilkan juga memiliki nilai emosional yang dapat dituangkan melalui tema atau cerita yang ingin disampaikan. Hasil dari proses ini adalah eksplorasi dan kreativitas penulis dalam menciptakan tari baru yang terinspirasi oleh elemen-elemen dari cerita rakyat.
  • TARI SRIKANDI X MUSTAKAWENI
    Tari Srikandi x Mustakaweni merupakan salah satu genre tarian yang sumber penciptaannya berdasarkan cerita wayang menyangkut penokohan serta memiliki kekhasan tersendiri pada aspek koreografi, tata rias busana, dan karawitannya. Tari Srikandi x Mustakaweni ini menggambarkan perang tanding atau adu kesaktian antara Srikandi melawan Mustakaweni yang diperintahkan untuk mengambil Pusaka Layang Jamus kalimusada. Kedua tokoh ini memiliki karakter yang sama yaitu Putri Ladak. Tujuan penyajian tari Srikandi x Mustakaweni ini untuk meningkatkan kualitas kepenarian serta mewujudkan sebuah sajian yang baru. Kreativitas dalam minat utama penyajian ini menggunakan metode garap “gubahan” merupakan sebuah metode penggubahan dan pengembangan pada bagian-bagian elemen tari dengan mengolah koreografi pada variasi ruang, tenaga, waktu, serta penambahan pada bagian karawitan dan artistik tari dengan tidak menghilangkan esensi tariannya. Hasil dari proses garap ini pada akhirnya akan menampilkan kualitas kepenarian yang baik dan terwujudnya bentuk sajian baru melalui tahap eksplorasi, evaluasi dan kompisisi.
  • TARI SRIKANDI X MUSTAKAWENI
    Tari Srikandi X Mustakaweni merupakan produk dari Tari Wayang Wong Priangan di Kabupaten Garut, dipimpin oleh Kayat, yang dikenal sebagai Dalang Bintang. Tari Srikandi X Mustakaweni memiliki gambaran cerita mengenai perang tanding antara Srikandi melawan Mustakaweni untuk memperebutkan Pusaka Layang Jamus Kalimusada. Ketertarikan dalam mengambil minat utama karya seni Penyajian Tari yang merupakan individu yang memiliki kemampuan menampilkan karya tari secara kreatif meliputi suatu proses atau cara menyajikan suatu karya tanpa mengubah pakem keasliannya, adapun materi yang diambil yaitu Tari Srikandi X Mustakaweni yang berkarakter putri ladak, dimana karakter tersebut dimiliki oleh penulis, selain itu dalam Tari Srikandi X Mustakaweni yaitu terdapat nilai keberanian yang dapat dijadikan cerminan kehidupan untuk menumpas kejahatan. Tantangan dalam mengembangkan Tari Srikandi X Mustakaweni tanpa mengubah pakem yang telah ada juga merupakan salah satu daya tarik tersendiri dikarenakan adanya penggunaan properti yang perlu dikuasai. Tujuan untuk menyajikan Tari Srikandi X Mustakaweni sebagai karya baru yang lebih kreatif dengan menggunakan metode gubahan. Metode ini dilakukan melalui beberapa tahapan, di antaranya: tahap eksplorasi, tahap evaluasi, dan komposisi, sehingga dapat terbentuknya sajian baru dengan kualitas kepenarian yang baik, dengan dilakukannya pengembangan kreativitas dan pendalaman tari, sehingga penulis menjadikan tarian ini sebagai representasi visual yang kaya tanpa mengubah ciri khas identitas atau esensi yang akan disampaikan.
  • PENYAJIAN REPERTOAR TARI BADAYA
    Tari Wayang merupakan salah satu rumpun tari yang berkembang di lingkungan ISBI Bandung, salah satunnya Tari Badaya yang menggambarkan emban geulis atau abdi keraton yang tugasnya menari untuk menghibur raja dan para petinggi kerajaan lainnya. Penulis tertarik menyajikan Tari Badaya karena sesuai dengan ketubuhan penulis serta didasari oleh nilai kerjasama dan kebersamaan di dalamnya. Pada penyajian Tari Badaya ini, penulis menggunakan metode garap gubahan tari. Tahapan yang dilakukan untuk menggarap melalui proses ekplorasi, evaluasi, dan komposisi. Penulis mencoba menyisipkan beberapa pengembangan dalam struktur, pola lantai, jumlah penari, dan iringan. Tari Badaya memiliki tiga struktur pola irama, yaitu cepat, lambat, sedang, dan cepat lagi, dengan lagu pengiring yaitu Kawitan dan Badaya. Hal ini dapat memberi peluang bagi penulis untuk menambahkan pengembangan gerak di bagian awal dan akhir, juga pengembangan pola lantai dengan menyesuaikan jumlah pendukung tari yang dapat memberikan daya tarik. Hasil yang diperoleh terwujudnya Tari Badaya dari kreativitas dan pengembangan, pemadatan, serta perpaduan antara gerak dengan musik hasil inovasi tanpa menghilangkan ciri khas asli dari tariannya.
Browse all
< Previous page Next page >