2020 - 2025

  • PRAUPAN
    Perpustakaan Pusat
  • DARA ENDARU
    Perpustakaan Pusat
  • NYURUP
    Perpustakaan Pusat
  • HYPER MOTION
    Perpustakaan Pusat
  • TJI-TARA
    Perpustakaan Pusat
  • KALA LAWAN
    Perpustakaan Pusat
  • AGILITY
    Agility merupakan karya tari kelompok yang digarap dengan pendekatan tari tradisi inovasi bertipe murni, terinspirasi dari esensi gerak kesenian Barongsai. Proses penciptaan karya ini berangkat dari pengalaman personal dan ketertarikan terhadap nilai-nilai simbolik seperti kelincahan, kerja sama, dan ketangkasan. Teori kreativitas Mihaly Csikszentmihalyi digunakan sebagai landasan konseptual, dengan memaknai kreativitas sebagai interaksi antara individu kreatif (person), lingkungan budaya (domain), dan komunitas yang memvalidasi (field). Gerak tari disusun melalui eksplorasi dan teknik distilasi serta distorsi terhadap gerak Barongsai, gerak dasar Wushu, tradisi Jawa Barat, dan gerak keseharian. Karya ini diperkuat oleh unsur artistik berupa rias wajah fantasi, kostum jumpsuit dengan bahan kombinasi, serta properti tonggak kayu sebagai penanda ruang dan tantangan gerak. Penyajian dilakukan oleh tujuh penari laki-laki untuk merepresentasikan kekompakan dan dinamika kelompok. Karya Agility yang dihasilkan merepresentasikan kualitas gerak murni, dengan penekanan pada pengolahan energi, teknik, dan dinamika tubuh secara variatif untuk menciptakan komposisi yang segar dan inovatif dalam bentuk kontemporer.
  • PERTUNJUKAN TARI REJANG DEWA DALAM RITUAL PUJAWALI AGUNG DI PURA WIRA SATYA DHARMA KOTA BANDUNG
    Tari Rejang Dewa merupakan tarian yang digunakan sebagai sarana ritual upacara Hindu Indonesia, dipertunjukkan pada ritual Pujawali yang merupakan bagian dari ritual pemujaan kepada Tuhan (Dewa Yadnya) di Pura Wira Satya Dharma Kota Bandung. Tarian ini dipertunjukkan pada kegiatan ritual Pujawali Agung ke-53, yang menjadi ketertarikan bagi penulis, terutama dalam prosesi kegiatan yang dilakukan oleh para penari untuk mempersiapkan pertunjukan tari tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara terstruktur terkait proses pertunjukan Tari Rejang Dewa, yang terdiri dari tiga fase, yakni: Pra-Pertunjukan, Pertunjukan, dan Pasca-Pertunjukan. Penelitian skripsi ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif pendekatan deskriptif pendapat Imam Setyobudi, dengan teknik pengumpulan data triangulasi, terdiri dari observasi, wawancara semi terstruktur, dan pengumpulan data dokumen. Serta dalam memecahkan masalah penelitian, digunakan teori Victor Turner terkait liminalitas yang diadaptasi oleh Richard Schechner terkait fase pertunjukan. Hasil pada penelitian ini didapatkan bahwa, Tari Rejang Dewa dilaksanakan dengan persiapan awal (Separasi), berupa penentuan penari, latihan dan gladi, serta persiapan khusus dengan memercikkan air tirta. Pada fase Liminal (Masuk hal Sakral), penari bertemu Pedanda, lalu menari secara bersama dengan struktur tarian yang telah ada, di dalam fase ini juga terjadi komunikasi sakral secara tidak langsung antara penari dengan yang dituju 'Tuhan', dan para penonton yang menikmati. Pada akhir kegiatan (Reagerasi), para penari akhirnya kembali menjadi dirinya, ke luar dari yang sakral dengan beristirahat dan melakukan kegiatan lainnya, serta tampilan baru saat melakukan perilaku ritual (Persembahyangan).
Browse all
< Previous page Next page >