2020 - 2025

  • PERTUNJUKAN TARI REJANG DEWA DALAM RITUAL PUJAWALI AGUNG DI PURA WIRA SATYA DHARMA KOTA BANDUNG
    Tari Rejang Dewa merupakan tarian yang digunakan sebagai sarana ritual upacara Hindu Indonesia, dipertunjukkan pada ritual Pujawali yang merupakan bagian dari ritual pemujaan kepada Tuhan (Dewa Yadnya) di Pura Wira Satya Dharma Kota Bandung. Tarian ini dipertunjukkan pada kegiatan ritual Pujawali Agung ke-53, yang menjadi ketertarikan bagi penulis, terutama dalam prosesi kegiatan yang dilakukan oleh para penari untuk mempersiapkan pertunjukan tari tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara terstruktur terkait proses pertunjukan Tari Rejang Dewa, yang terdiri dari tiga fase, yakni: Pra-Pertunjukan, Pertunjukan, dan Pasca-Pertunjukan. Penelitian skripsi ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif pendekatan deskriptif pendapat Imam Setyobudi, dengan teknik pengumpulan data triangulasi, terdiri dari observasi, wawancara semi terstruktur, dan pengumpulan data dokumen. Serta dalam memecahkan masalah penelitian, digunakan teori Victor Turner terkait liminalitas yang diadaptasi oleh Richard Schechner terkait fase pertunjukan. Hasil pada penelitian ini didapatkan bahwa, Tari Rejang Dewa dilaksanakan dengan persiapan awal (Separasi), berupa penentuan penari, latihan dan gladi, serta persiapan khusus dengan memercikkan air tirta. Pada fase Liminal (Masuk hal Sakral), penari bertemu Pedanda, lalu menari secara bersama dengan struktur tarian yang telah ada, di dalam fase ini juga terjadi komunikasi sakral secara tidak langsung antara penari dengan yang dituju 'Tuhan', dan para penonton yang menikmati. Pada akhir kegiatan (Reagerasi), para penari akhirnya kembali menjadi dirinya, ke luar dari yang sakral dengan beristirahat dan melakukan kegiatan lainnya, serta tampilan baru saat melakukan perilaku ritual (Persembahyangan).
  • KREATIVITAS R. EFFENDI LESMANA DALAM PENCIPTAAN TARI PANCAWARNA
    R. Effendi Lesmana merupakan seniman tari yang menciptakan Tari Pancawarna pada tahun 1988. Karya ini bersumber dari perpaduan dua rumpun tari yang berbeda, yaitu Tari Keurseus dan Tari Wayang, yang kemudian dikemas dalam bentuk Tari Kreasi Baru. Meskipun menggabungkan dua rumpun tari yang berbeda, R. Effendi Lesmana tetap menjaga keharmonisan dalam koreografi, tata rias, busana, dan iringan musiknya. Keunikan dalam penggabungan tersebut menjadi titik tolak penelitian ini, dengan fokus pada proses kreatif yang ditempuh oleh R. Effendi Lesmana dalam penciptaan Tari Pancawarna. Penelitian ini menitikberatkan pada aspek kreativitas dan menggunakan teori Four P’s of Creativity dari Mel Rhodes, yang mencakup Person, Process, Press, dan Product. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, melalui studi lapangan, studi pustaka, serta analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya R. Effendi Lesmana sebagai person, menunjukkan sikap (pathos), pengetahuan (logos), dan keterampilan (technos) yang terbentuk dari latar belakang keluarga seniman dan proses belajar secara otodidak. Motivasi internal untuk meneruskan warisan sang ayah serta faktor eksternal berupa kebutuhan pertunjukan yang lebih ringkas mendorongnya untuk menciptakan karya baru. Dalam proses kreatifnya, ia mengidentifikasi masalah, berpikir terbuka, mencari solusi terbaik, dan mentransformasi nilai-nilai tari ke dalam bentuk yang lebih adaptif. Tari Pancawarna menjadi produk tari berdurasi singkat yang tetap sarat makna, mencerminkan perjalanan hidup manusia sebagai representasi filosofi kehidupan. Karya ini mencerminkan keberhasilan transformasi kreativitas tradisi dalam konteks kekinian.
  • PARIVARTANA
    Karya tari yang berjudul Parivartana diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya Transformasi. Transformasi ini bermaksudkan pada upaya para seniman untuk tetap saling menjaga kebersamaan. Pada Kesenian Bebegig Sukamantri ini menjadi sumber inspirasi dalam mencipta karya ini karena dengan dukungan pengalaman emperis yang menyaksikan sendiri kurangnya kesadaran pegiat adanya proses perjuangan dalam menjadi pegiat yang baik. Profesi pegiat Kesenian Bebegig Sukamantri sebagai wirausaha menjadikan salah seorang pegiat seni yang hanya ingin enaknya saja tanpa adanya proses perjuangan untuk menjadi seorang pegiat yang saling gotong-royong. Tetapi para seniman lainnya bersih keras untuk bersikap profesional dalam menjaga kesenian ini. Semangat dan perjuangan secara goyong-royong bersikeras untuk saling berusaha mengubah sikap antara pegiat lain terutama di ruang lingkup Kesenian saat ini. Kerja keras dan semangat ini diusung ke dalam karya tari Parivartana yang dikemas kedalam bentuk tari kelompok dengan metode pendekatan kontemporer serta tipe garap dramatik. Karya tari Parivartana menggunakan landasan teori Y. Sumandiyo Hadi dan metode pendekatan Alma M hawkins dengan lima pola merasakan, menghayati, menghayalkan, mengejawantahkan, dan memberi bentuk , yang dimana sumber gerak yang digunakan merupakan hasil desain dinamika, irama. Gerak ini dibawakan dengan cara yang sudah didistorsi dan stiisasi dari gerak khas Bebegig juga gerak keseharian. Semua ini tercipta dan membentuk karya tari Parivartana.
  • IGEL
    Karya ini berjudul IGEL, yang terinspirasi dari topeng Benjang. Kata "IGEL" berasal dari bahasa sunda yang berarti "menari", tubuh menjadi representasi utama dari ekspresi dalam tarian tersebut. Topeng Benjang memiliki ciri khas salah satunya gerakan yang unik serta tangan yang selalu mengepal pada setiap gerakannya, inilah salah satu bagian yang mendasari penulis untuk menciptakan sebuah karya tari. Pengidentifikasian dari gerak Topeng Benjang menjadi suatu insprirasi yang dijadikan sebuah ide gagasan sebagai pijakan dalam proses penciptaan karya tari. Dalam tariannya penulis mengusung tema non-verbal sebagai tari dengan tipe murni. Gerak-gerak yang dijadikan sumber penggarapnya berasal dari gerak mincid Benjang, angin-angin, senggolan, serta tangan yang selalu mengepal disetiap gerak tariannya yang dieksplor dengan gerak keseharian seperti berjalan, berputar, melompat, berguling, berlari, dan melompat dengan unsur ruang, tenaga dan waktu. Metode garap yang digunakan yaitu menurut Y. Sumandyo Hadi yang mengatakan bahwa pengembangan kreatif dapat melalui tahap eksplorasi, improvisasi, dan komposisi. Serta landasan konsep menggunakan teori Eko Supriyanto yang mengatakan bahwa kolaborasi merupakan menciptakan suatu ide gagasan yang baru dengan hubungan yang lama, walaupun masing-masing merujuk pada akar yang lama namun menjadikan tradisi sebakai akar menciptakan gagasan baru. Tujuan menciptakan karya ini untuk menghadirkan estetika gerak tradisional dalam bentuk kontemporer hasilnya dapat membangun apresiasi terhadap seni budaya lokal sekaligus mendorong inovasi untuk menghasilkan karya tari baru namun tetap mempertahankan nilai-nilai budaya asli.
  • BALANCE
    Karya tari dengan judul “Balance” diambil dari Bahasa Inggris yang artinya seimbang, diartikan sebagai harmonisasi sifat manusia yang terus bergerak melingkari atau mengelilingi kehidupan sehari-hari manusia, yaitu sifat baik dan buruk. Karya tari ini terinspirasi dari sebuah pemikiran orang Tionghoa tentang konsep Yin dan Yang. Pemikiran orang Tionghoa tersebut dijadikan sumber inspirasi untuk menciptakan karya tari yang berjudul “Balance”. Sumber inspirasi tersebut merupakan hasil dari pengamatan oleh panca indera terhadap lingkungan sekitar dan kepekaan dalam berpikir. Karya tari “Balance” ini digarap menggunakan pendekatan tari kontemprer tipe dramatik, yang dibangun melalui proses kreativitas berdasarkan konsep pemikiran Wallas. Adapun hasil capaian dari karya tari “Balance” ini, terwujudnya tiga unsur estetika utama meliputi koreografi, musik, dan artistik tari dalam bentuk tari duet atau tari berpasangan sejenis dan memiliki nilai kehidupan di dalamnya.
  • TARI NGECEK SETEPAK KARYA ANDI SUPARDI DI SANGGAR KINANG PUTRA KOTA DEPOK
    Tari Ngecek Setepak merupakan sebuah tari kreasi yang diciptakan oleh Andi Supardi di Sanggar Kinang Putra pada tahun 2017. Kata Ngecek sendiri berarti enjot, dorong dan tekan, sedangkan kata Setepak berarti mengikuti irama gendangan topeng. Tarian ini terinspirasi dari kesenian Topeng Betawi yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah bentuk kreasi baru. Hal tersebut yang menjadi daya tarik utama bagi penulis untuk mengkaji tarian dengan fokus pada struktur Tari Ngecek Setepak. Metode penelitian yang digunakan yaitu menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dengan langkah-langkah pengumpulan data sebagai berikut; studi pustaka, studi lapangan, dan analisis data. Penelitian ini menggunakan teori struktur dari Y Sumandiyo Hadi yang terdiri atas; gerak tari, ruang tari, iringan tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah penari dan jenis kelamin, rias dan kostum, tata cahaya dan properti tari. Penelitian ini menghasilkan data mengenai struktur Tari Ngecek Setepak yang di dalamnya ada korelasi antar aspek-aspeknya. Adapun struktur tarinya yaitu terdiri dari; gerak tari yang dapat ditampilkan pada panggung proscenium dan arena menggunakan alat musik gambang kromong, dengan tema kegembiraan yang bersifat non-literal atau tidak bercerita, tarian ini berjenis tari kreasi baru dengan tipe murni dan memiliki mode penyajian simbolis-representasional. Tari Ngecek Setepak ditarikan secara berkelompok berjumlah lima orang penari perempuan dengan rias korektif dan kostum tari yang dimodifikasi dari tari tradisi Betawi, dengan tata cahaya yang menyesuaikan dengan kebutuhan penampilan.
  • TARI KUKUPU GUBAHAN IRAWATI DURBAN DI PUSAT BINA TARI KOTA BANDUNG
    Tari Kukupu diciptakan oleh Rd. Tjetje Somantri tahun 1952 menggambarkan siklus kehidupan kukupu sejak keluar kepompong, menjemur sayap hingga saling berkejaran, digambarkan dengan gerakan yang indah. Tarian ini terinsipirasi dari kehidupan binatang, bermula dari pemikiran Tb. Oemay Martakusuma ini bertujuan ‘membaletkan’ tari Sunda. Namun pada tahun 1978 Irawati melakukan gubahan pada beberapa koreografi dan kostum tarian tersebut, hingga saat ini tarian tersebut masih terpelihara dan diajarkan di sanggar Pusbitari. Hal tersebut menjadi ketertarikan bagi penulis untuk lebih lanjut mengkaji struktur Tari Kukupu menggunakan landasan konsep pemikiran Y. Sumandiyo Hadi mengenai struktur tari yang meliputi: gerak tari, ruang tari, iringan tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah penari dan jenis kelamin, rias dan kostum tari, tata cahaya, dan properti tari. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, terdapat langkah-langkah pengumpulan data meliputi: observasi, wawancara, dokumentasi, triangulasi, dan analisis data. Hasil penelitian terhadap struktur Tari Kukupu yang saling berkorelasi dengan aspek di dalamnya terdiri dari tigabelas ragam gerak bersumber dari gerak binatang dan dapat ditampilkan di panggung apapun sesuai kebutuhan pertunjukan, menggunakan lagu Jemplang dua wilet, berjudul Tari Kukupu dengan tema non- literal, tergolong tipe murni dengan berpijak tari kreasi baru (pada zamannya) dan bersifat non- literal, serta disajikan secara simbolis-representasioal, yang ditarikan secara berkelompok berpasangan oleh perempuan, menggunakan rias korektif di dalamnya terdapat alis bulan sapasi, pasuteleng trisula, godeg eulis dan kostum menggambarkan binatang kukupu, menggunakan lighting warm, dan properti selendang dan sayap.
  • TARI PANGGUGAH KARYA ZENZEN DJUANSYAH DI SANGGAR GETAR PAKUAN BOGOR
    Tari Panggugah buah karya Zenzen Djuansyah memiliki arti “menggugah”, yaitu mengajak serta mengingatkan siswa sanggar maupun masyarakat untuk mencintai seni Budaya Khususnya seni tari. Daya tarik dari tarian ini adalah terletak pada penggunaan sumber inspirasi yaitu tari Oray Welang dan Keser Bojong. Kedua tarian tersebut, merupakan bentukan awal tari Jaipongan di Padepokan Jugala. Oleh sebab itu, Djuansyah sebagai kreatornya merancang sebagai tari dasar bagi siswa sanggar untuk lebih memudahkan dan memahami tari Jaipongan. Sehubungan dengan hal tersebut, pertanyaan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana stuktur Tari Panggugah karya Zenzen Djuansyah di Sanggar Getar Pakuan Bogor. Adapun tujuan dari penelitian yang difokuskan pada struktur tari adalah untuk mendapatkan penjelasan secara deskriptif tentang struktur tari Panggugah di Sanggar Getar Pakuan Bogor. Untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut, dalam penelitian ini digunakan landasan konsep pemikiran dari Y. Sumandiyo Hadi yang menyatakan, bahwa untuk melihat keseluruhan hubungan tersebut pada sebuah karya tari perlu mencermati beberapa elemen penting, yaitu: gerak tari, judul tari, tema tari, iringan tari, jenis tari, penyajian, jumlah penari dan jenis kelamin, rias dan kostum tari, ruang tari, tata cahaya, dan properti tari. Adapun dalam operasionalnya menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dan secara teknis melalui langkah-langkah, yaitu; studi pustaka, studi lapangan, triangulasi, dan analisis data. Hasil yang dicapai adalah struktur tari Panggugah, dibentuk dari empat konstruksi tari meliputi; bukaan, pencugan, nibakeun, dan mincid dalam kesaatuan tiga unsur estetika utama yaitu; koreografi, iringan tari, dan busana.
  • NAHAS
    Karya penciptaan tari NAHAS mengusung ide dari kisah tokoh Dewi Anjani dalam cerita wayang epos Ramayana yang bernasib buruk, sebagai akibat dari kejadian melanggar amanat tidak boleh membuka rahasia isi dari Cupu Manik Astagina yang mengakibatkan kutukan terhadap Dewi Anjani berubah paras cantiknya menjadi kera. Judul Karya tari NAHAS merupakan kata yang diambil dari diksi yang memiliki arti malang, menggunakan tipe garap dramatik agar nilai-nilai yang diusung dapat tersampaikan dengan baik. Untuk mewujudkan karya tari ini, digunakan landasan konsep garap mengenai kreativitas dari Alma M. Hawkins yang menyebutkan, bahwa ada lima tahap yaitu; merasakan, menghayati, menghayalkan, mengejawantahkan, dan memberi bentuk. Sejalan dengan konsep pemikiran tersebut, digunakan pendekatan metode garap dari Y. Sumandio Hadi, yaitu proses garap dilalui dengan tiga tahapan, di antaranya; eksplorasi, evaluasi, dan komposisi. Adapun hasil yang dicapai adalah suatu bentuk karya tari yang dikemas dalam pola garap kontemporer yang inovatif dan disajikan berkelompok tujuh orang penari putri.
  • BURNOUT
    Karya tari “Burnout” terinspirasi dari sindrom psikologis yang merupakan sebuah karya tari kontemporer bertipe dramatik yaitu aktivitas Dokter di Rumah Sakit. Karya ini memfokuskan tentang Sindrom psikologis yang dialami Dokter begitu padat sehingga tidak sesuai antara kondisi fisik sebagai manusia dengan beban pekerjaan yang begitu banyak. Hal ini menyebabkan rasa kewalahan dan rasa lelah seorang Dokter yang berada di Rumah Sakit, baik lelah fisik maupun lelah pikiran disebabkan banyaknya pasien-pasien. Karya tari ini diberi judul “Burnout” yang diambil dari bahasa Inggris yang memiliki arti kewalahan atau kelelahan, bisa juga diartikan sudah tidak mempunyai tenaga atau ketertarikan untuk melakukan aktivitas. Burnout tidak hanya kelelahan secara fisik tapi juga secara emosional. Biasanya burnout itu muncul ketika kondisi lelah ataupun kewalahan karena pekerjaan. Metode yang dipakai dalam karya ini ialah metode F.X Widaryanto yaitu tiga tahapan proses eksplorasi, improvisasi dan komposisi dengan landasan teori Sudiasa yaitu pencapaian dramatik yang akan dipakai untuk menimbulkan tumbuh daya imajinasi menjadikan sebuah tema dan konsep. Hasil pada karya tari ini terwujud melalui konsep garap menjadi sebuah karya tari yang berjudul “Burnout” melalui pendekatan kontemporer dan tersampaikannya pesan simpati atas sindrom psikologis seorang dokter.
  • TWO SIDE
    Karya tari berjudul Two Side terinspirasi dari fenomena gangguan kesehatan mental, khususnya kepribadian ganda, yang menggambarkan perjuangan seorang penderita dalam menghadapi dan menyembuhkan dirinya. Judul Two Side, yang berarti "dua sisi", mencerminkan kondisi ketika satu kepribadian mengambil alih tubuh penderita saat gangguan tersebut kambuh. Karya ini digarap dengan pendekatan tari kontemporer dan disajikan dalam bentuk tari kelompok bertipe dramatik. Tari kontemporer dipilih karena mampu mengeksplorasi ekspresi gerak secara lebih kompleks dan emosional, sesuai dengan tema yang diangkat. Menurut Wallas (dalam Munandar 2014:59) bahwa:“proses kreatif meliputi 4 tahap, yaitu tahap persiapan, tahap inkubasi, tahap iluminasi dan tahap verifikasi” . Melalui karya ini, penulis berharap dapat meningkatkan kesadaran dan empati masyarakat terhadap penderita gangguan kesehatan mental serta menjadikan seni sebagai media penyampaian pesan sosial yang mendalam.
  • TARI EAK-EAKAN KARYA HETTY PERMATASARI DI PADEPOKAN SENI JAMPARING PARIKESIT
    Tari Eak-Eakan merupakan tari kreasi baru yang diciptakan oleh Hetty Permatasari pada tahun 1996. Tarian ini terinspirasi dari sebuah kesenian yang berada di Jawa Barat yaitu, Kesenian Reak. Salah satu daya tarik dari Tari Eak-Eakan ini yaitu koreografi. Koreografi dalam Tari Eak-Eakan menggambarkan alur yang terdapat dalam Kesenian Reak, dengan adanya Tari Eak-Eakan ini bisa memperlihatkan Kesenian Reak dalam kemasan seni pertunjukan berupa sebuah tari bentuk. Hal tersebut merupakan faktor daya tarik bagi penulis untuk mengetahui tentang Struktur Tari Eak-Eakan Karya Hetty Permatasari di Padepokan Seni Jamparing Parikesit. Adapun rumusan masalah pada penelitian ini yaitu: Bagaimana Struktur Tari Eak-Eakan Di Padepokan Seni Jamparing Parikesit? Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur Tari Eak-Eakan melalui sebelas elemen struktur tari menurut Y. Sumandiyo Hadi sebagai landasan pemikiran teoritisnya, yaitu: gerak tari, ruang tari, iringan tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah dan jenis kelamin penari, rias dan kostum tari, tata cahaya, serta properti tari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa seluruh elemen tersebut hadir secara utuh dan saling mendukung, mulai dari pengolahan gerak yang bersumber dari tari tradisional, pemanfaatan ruang panggung melalui desain lantai yang bervariasi, hingga penggunaan properti dan tata rias yang mendukung tema dan karakter tari.
Browse all
< Previous page Next page >