2020 - 2025
-
BURUNG PHOENIX SEBAGAI CITRA PERUSAHAAN INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI MONUMENTAL, BASED PROJECT PERUSAHAAN PENGEMBANG PERUMAHAN SUBSIDI DAN KOMERSIL PT.PANCA MULIA PERSADAPenelitian ini berfokus pada penciptaan karya seni patung monumental yang merepresentasikan citra perusahaan PT. Panca Mulia Persada, sebuah pengembang perumahan subsidi dan komersial. Patung monumental ini menggunakan simbol Burung Phoenix sebagai elemen utama, yang melambangkan pembaruan, kebangkitan, dan transformasi. Dalam konteks ini, Burung Phoenix dipilih karena relevansinya dengan visi dan misi perusahaan yang selalu berusaha untuk mengubah lahan yang belum berkembang menjadi kawasan hunian yang bernilai dan berkelanjutan. Penelitian ini membahas pentingnya seni patung monumental dalam memperkuat identitas visual wilayah, khususnya dalam sektor pembangunan perumahan. Patung yang dihasilkan tidak hanya bertujuan sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai instrumen komunikasi untuk memperkenalkan nilai-nilai perusahaan kepada masyarakat luas. Dengan menggunakan teknik cetak resin, karya ini diharapkan dapat menciptakan hubungan emosional antara penghuni dengan lingkungan tempat tinggal mereka, sekaligus memperkuat citra perusahaan sebagai pengembang yang visioner dan peduli terhadap budaya lokal. Melalui pendekatan ini, penelitian ini juga mengkaji tantangan dan realitas dalam penciptaan karya seni monumental di ruang publik, yang seringkali berinteraksi dengan berbagai kepentingan eksternal dan keterbatasan sumber daya.
-
SELF-HARM : SENI INSTALASI SEBAGAI MEDIUM EKSPRESI TRAUMAKarya seni merupakan medium ekspresi yang mampu merepresentasikan pengalaman emosional personal maupun kolektif. Dalam penciptaan karya ini, penulis mengangkat tentang isu Kesehatan mental khususnya fenomena self-harm, terlebih di era digital saat ini isu Kesehatan mental semakin relevan. Pengalaman ini dituangkan ke dalam karya instalasi dengan menggunakan media sehari – hari yang dekat dengan kehidupan manusia, seperti bantal dan pisau sebagai simbol yang kontras antara rasa aman dan rasa sakit. Fenomena self-harm dipilih bukan hanya sebatas refleksi pengalaman pribadi, tetapi juga sebagai cerminan persoalan mental yang lebih luas. Diharapkan karya ini dapat membuka ruang dialog dan kontemplasi bagi audiens dalam pemaknaan atas pengalaman luka dan proses pemulihan.
-
KEMULIAAN SUNAN AMBU REFLEKSI MASA KINI SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA LUKISPenciptaan ini merekontekstualisasi nilai-nilai luhur perempuan dalam budaya Sunda melalui medium seni lukis, dengan menggabungkan kekuatan visual budaya tradisi melalui pendekatan kontemporer, dalam hal ini figur mitologis Sunan Ambu sebagai sumber gagasan utama, yang dipandang memiliki nilai-nilai kemuliaan, kasih sayang, kebijaksanaan, keadilan, pemberi berkah dan pemberi pertolongan. Sosok Sunan Ambu dimetaforavisualkan ke dalam figur perempuan bergaya ekspresionisme. Proses kerja karya ini menggunakan metode practice-led research, yakni proses penciptaan karya melalui observasi, eksplorasi bentuk dan teknik, penguatan pokok gagasan serta implementasi konsep sehingga menghasilkan karya sebagai ekspresi artistik yang berkait dengan isu pergeseran nilai perempuan pada masa kini.
-
PENCIPTAAN PATUNG DIORAMA HEWAN ENDEMIK PAPUA BERDASARKAN KEUNIKAN FISIK DAN PERILAKU (Tugas Akhir Project Based: PT Artes Indonesia – Museum Hewan di Papua)Tugas akhir ini merupakan penciptaan karya seni berbasis proyek yang berfokus pada perwujudan patung diorama fauna endemik Papua. Tiga spesies yang diangkat sebagai objek utama adalah Crocodylus novaeguineae (Buaya Irian), Zaglossus bruijni (Nokdiak), dan Probosciger aterrimus (Kakatua Raja). Ketiga hewan tersebut dipilih berdasarkan keunikan fisik dan perilaku khasnya, serta pentingnya mereka dalam ekosistem Papua. Proses penciptaan dilakukan dengan pendekatan riset morfologi dan etologi, melalui studi pustaka dan observasi visual, yang dilanjutkan dengan tahapan sketsa, pembuatan maket, pencetakan, dan pengecoran menggunakan material seperti resin dan silikon. Tujuan dari karya ini tidak hanya untuk menampilkan bentuk realistis dari fauna Papua, tetapi juga untuk menghadirkan narasi edukatif yang mampu menumbuhkan kesadaran publik terhadap pelestarian spesies langka. Karya ini dirancang agar dapat digunakan sebagai media visual di museum, khususnya untuk memperkuat fungsi edukasi dan interpretasi tentang keanekaragaman hayati Papua. Pendekatan estetika yang digabungkan dengan data ilmiah menjadi kunci dalam menghasilkan representasi yang informatif sekaligus menarik secara visual.
-
FRAGMEN MEMORI: KOPI SEBAGAI MEDIA EKSPRESI DALAM KARYA SENI LUKIS ABSTRAKSeni rupa kontemporer telah berkembang menjadi medium ekspresi yang tidak hanya merepresentasikan bentuk visual, tetapi juga menghadirkan pengalaman batin, refleksi personal, dan pencarian makna melalui pendekatan yang intuitif dan konseptual. Dalam perkembangan tersebut, seni lukis abstrak menempati posisi penting sebagai ruang pengolahan emosi yang tidak terikat pada bentuk representasional. Gagasan yang tidak terucapkan secara verbal, termasuk memori dan trauma personal, dapat diekspresikan melalui warna, tekstur, dan struktur visual yang terbuka terhadap interpretasi. Karya ini mengangkat tema memori sebagai pengalaman psikologis yang bersifat personal dan fragmentaris. Melalui pendekatan seni lukis abstrak, pengkarya merepresentasikan fragmen-fragmen ingatan dalam bentuk nonfiguratif yang diolah menggunakan medium kopi. Pemilihan kopi tidak hanya didasarkan pada karakter visualnya yang khas, tetapi juga karena sifat simboliknya sebagai jejak cairan yang menyerap, mengering, dan meninggalkan residu, layaknya kenangan dalam kesadaran manusia. Proses penciptaan dilakukan secara intuitif melalui teknik pouring, dripping, dan layering, menghasilkan bentuk-bentuk organis dan spontan. Setiap fragmen karya menyimpan lapisan emosi yang berbeda dan disusun dalam struktur 1:1, menciptakan narasi visual yang menyampaikan transisi perasaan dari kegelisahan, tekanan, hingga kontemplasi. Pendekatan ini dikaji melalui konsep trace dari Jacques Derrida yang menyatakan bahwa jejak dari sesuatu yang telah berlalu tetap aktif membentuk makna. Warna-warna kopi yang bersifat earthy juga diperkuat melalui teori warna dari David Hornung yang menghubungkannya dengan kesan waktu dan nostalgia. Selain itu, teori seni sebagai bentuk pemulihan emosional dari Menurut Malchiodi (2007) praktik artistik dapat menjadi sarana reflektif untuk memproses pengalaman batin. Karya ini tidak hanya menjadi representasi visual dari memori, tetapi juga menjadi ruang penyembuhan personal, eksplorasi medium non-tradisional, dan upaya pengarsipan emosi melalui bentuk yang tak terikat oleh figur. Medium kopi menjadi metafora yang menyatu dengan proses, bentuk, dan warna mengubah setiap fragmen menjadi bagian dari kesadaran yang terpecah namun saling terhubung.
-
STRATEGI GRUP CUTA MUDA DALAM MELESTARIKAN KESENIAN REAKPenelitian ini membahas strategi yang diterapkan oleh Grup Cuta Muda dalam melestarikan kesenian Reak di tengah tantangan modernisasi dan merosotnya minat generasi muda terhadap seni tradisional. Reak, sebagai bagian dari warisan budaya Sunda, menghadapi tekanan untuk tetap relevan di era yang didominasi budaya populer dan digital. Untuk menjawab tantangan tersebut, Cuta Muda melakukan berbagai inovasi dengan pendekatan yang terstruktur dan berorientasi pada karakteristik audiens masa kini. Menggunakan metode kualitatif studi kasus, penelitian ini mengumpulkan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi aktivitas komunitas. Analisis didasarkan pada teori Difusi Inovasi dari Everett Rogers, yang menjelaskan bagaimana suatu inovasi menyebar dalam masyarakat melalui tahapan adopsi. Hasilnya menunjukkan bahwa Cuta Muda berhasil mengintegrasikan elemen musik modern ke dalam komposisi Reak, mempercantik tampilan visual pertunjukan, dan secara aktif memanfaatkan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube untuk menjangkau audiens muda serta membangun interaksi yang lebih luas. Kehadiran konten kreator yang turut mengangkat pertunjukan mereka di media digital turut mempercepat proses adopsi kesenian ini di kalangan generasi baru. Strategi-strategi tersebut membuat pertunjukan Reak tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga sarana hiburan yang kontekstual dan menarik bagi publik masa kini. Dengan demikian, pelestarian kesenian tradisional seperti Reak dapat berhasil bila inovasi dilakukan secara terarah, adaptif, dan tetap berpijak pada nilai-nilai budaya aslinya.
-
ORNAMEN PADA FASAD GEDUNG SATE SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI PATUNGKota Bandung sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat memiliki sejarah perkembangan yang tidak terlepas dari peran pemerintah kolonial Belanda. Perpindahan pusat pemerintahan ke Kota Bandung mendorong pembangunan signifikan di wilayah Bandung dan Cimahi, dengan fokus tidak hanya kepada pertumbuhan ekonomi tetapi juga pembangunan infrastruktur pemerintahan. Bangunan peninggalan era kolonial kini menjadi bangunan heritage yang menyimpan nilai historis sebagai warisan budaya Kota Bandung. Kompleksitas elemen visual dan kekhasan arsitektur bangunan heritage menghadirkan peluang eksplorasi yang signifikan dalam pengembangan visual dan rupa melalui medium seni patung. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bentuk arsitektur bangunan heritage Gedung Sate dalam seni patung dengan mempertimbangkan prinsip komposisi seperti harmoni, kesatuan, dan keseimbangan juga pendekatan semiotika yang digunakan untuk membantu pemaknaan karya. Pemilihan bangunan heritage Gedung sate sebagai gagasan utama didasari kemampuannya dalam menghubungkan masa lalu dengan masa kini serta relevansi dengan isu pelestarian bangunan heritage dan citra kota. Metode penciptaan karya menggunakan pendekatan Three Processes of Creation yang terdiri dari tiga tahapan utama. Pertama, tahap eksplorasi untuk membangun bentuk dan menggali ide pokok terkait Gedung Sate dan seni patung. Kedua, tahap improvisasi yang meliputi pertimbangan konsep bentuk dan pembuatan sketsa dengan memperhatikan prinsip-prinsip desain. Ketiga, tahap perwujudan menggunakan teknik memahat (carving), cor (casting), dan teknik perakitan (assembly), menggunakan kombinasi material batu, beton dan bahan industri seperti kaca, resin, logam, besi, dan akrilik. Karya yang tercipta diharapkan tidak hanya menangkap esensi arsitektur Gedung Sate namun juga memperkuat hubungan antara seni rupa dan arsitektur. Eksplorasi artistik yang menerjemahkan elemen-elemen bangunan Gedung Sate ke dalam bentuk patung masih jarang dilakukan menciptakan peluang sekaligus tantangan dalam pengembangan bahasa visual baru. Hasil akhir karya diharapkan dapat menawarkan pengalaman baru dalam mengapresiasi bangunan heritage dan memicu masyarakat serta pemerintah dalam menjaga warisan budaya Kota Bandung.
