2022
-
Ludira Seta: Alih Wahana Garap Musik WayangLudira Seta: alih wahana garap musik wayang merupakan konstruksi karawitan dan musik yang diwujudkan melalui pemikiran teoritik kreativitas yang digagas Margaret.A Boden (2010). Substansi garap yang terdapat pada seluruh kompositoris musikal mengikuti alur skematik cerita. Implementasi dari proses garap secara metodik tidak bersifat parsial melainkan diformulasi melalui konsep kolaboratif dengan menyertakan varian dimensi pertunjukan (multidimensi). Metode pembentukan komposisi musikal mengacu pada konsep garap Rahayu Supanggah mengenai: (1) Materi garap; (2) Penggarap; (3) Sarana garap; (4) Prabot/Piranti garap; (5) Penentu garap; (6) Pertimbangan garap. Kedua konsep Kreativitas (Boden, 2010 dan Supanggah, 2011) menghasilkan bingkai keutuhan artistik yang divisualisasi mengabstraksi cerita yang diformat melalui format pertunjukan virtual. Kompleksitas garap musik secara substansial dihadirkan dari 2 sumber dan latar belakang tradisi yang berbeda, yaitu tradisi musik yang berlatar belakang konvensi karawitan Sunda serta tradisi musik yang berlatar belakang musik klasik barat. Kedua latar belakang musik tersebut sebagian besar diproses melalui sistem Digital Audio Workstation (DAW) serta mengacu pada referensi Electronic Dance Music (EDM). Temuan dari penciptaan karya ini di samping secara pengerjaan memiliki metodologi yang khas tetapi sekaligus menghasilkan varian baru tentang karakter bunyi pada karawitan Sunda dapat dijadikan sebagai opsi kreatif musik pertunjukan wayang golek. Keywords: Kreativitas, Garap, Wayang Golek, DAW.
-
SEJARAH TARI BADAYA WIRAHMASARI RANCAEKEKTari Badaya Wirahmasari Rancaekek diciptakan oleh Rd. Sambas Wirakoesoemah pada tahun 1930, bersumber dari Tari Karawitan Istri yang telah dibuat sebelumnya pada tahun 1924/1925. Dalam perkembangannya, Tari Badaya ini telah melewati tiga regenerasi yang kemudian mengembangkan tarian ini. Penelitian ini akan menjawab tentang bagaimana sejarah perkembangan Tari Badaya di Priangan, khususnya perkembangan Tari Badaya Wirahmasari Rancaekek sebagai satu-satunya artefak Tari Badaya dari masa kolonial. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teori strukturasi Anthonny Giddens. Adapun metode yang digunakan ialah metode sejarah yang memiliki tahapan yakni heuristik, kritik, interpretasi, serta historiografi. Dalam sejarah perkembangannya, Tari Badaya Wirahmasari Rancaekek yang diciptakan oleh Rd. Sambas Wirakoesoemah sekitar tahun 1925-1930 sebagai agen pertama, telah dua kali diregenerasikan yakni kepada Rd. Nugraha Sudiredja pada tahun 1950-an yang kemudian diajarkan kepada Irawati sekitar tahun 1980-an. Ditangan mereka Tari Badaya kemudian direpresentasikan kembali sesuai dengan pengalaman estetis serta interpretasi masing masing
