2020 - 2025

  • LIMBOSIS: RUANG SENI INSTALASI QUARTER-LIFE CRISIS
    Kategori penelitian seni ini adalah Practice-Led Research, dengan objek kajian fenomena psikologis pada kelompok orang dewasa awal, termasuk juga diri pengkarya. Transformasi gagasan dan implementasi konsep penelitian ini, diwujudkan dalam karya seni patung instalasi yang terinspirasi dari tekanan psikologis yang pada umumnya dialami oleh individu berusia 20-30 tahun. Fase ini sering ditandai dengan ketidakpastian arah hidup, tekanan sosial, ekspektasi karier, dan pencarian identitas yang dapat menimbulkan kecemasan serta perasaan terjebak. Metode pendekatan yang digunakan yaitu dengan teknik Encaustic - memadukan material yang bervariasi. Hal ini dilakukan untuk memperkuat bentuk yang merepresentasi nilai yang ada di dalam konsep. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teori Perkembangan Psikoanalisis dan teori Morfologi Estetik. Dari hasil proses pengalaman estetik peneliti, menegaskan bahwa seni instalasi ini tidak hanya mengekspresikan kompleksitas emosional dan psikologis dari Quarter-life crisis, tetapi juga mengajak apresian untuk merenung dan menemukan hubungan dengan pengalaman objek penderita Quarter-life crisis. Hasil penelitian ini berjumlah 35 karya seni patung instalasi dengan bahan dasar lilin dan polyuretan. Bentuk karya patung tersebut berupa figur manusia dengan bentuk visual yang merepresentasikan symbol keletihan fisik dan mental serta perasaan hilangnya kontrol atas kehidupan. Figur lain digambarkan dalam posisi duduk bersila tanpa tangan, mengekspresikan perasaan keterbatasan, introspeksi, dan kehilangan identitas. Hasil Karya patung instalasi ini disajikan dalam bentuk pameran dengan ditunjang oleh elemen audio digital untuk menambah kedalaman makna pada karakter visual (bentuk dan tekstru, serta display pameran) sehingga meningkatkan resonansi emosional suasana pada karya.
  • ANALISIS TEKSTUAL PADA LAGU GIRIMIS KASORÉNAKEUN KARYA MANG KOKO DAN DEDY WINDYAGIRI
    Penelitian ini menganalisis lagu Girimis Kasorénakeun yang merupakan hasil kolaborasi antara komponis Mang Koko dan sastrawan Dedy Windyagiri. Penelitian difokuskan pada dua aspek utama, yaitu analisis makna lirik menggunakan pendekatan Hermeneutika Schleiermacher dan Analisis Gramatika musikal berdasarkan Teori Ilmu Bentuk Musik karya Karl Edmund Prier. Tujuan dari penelitian ini untuk mengungkap makna dari lirik lagu serta mengkaji keterkaitan antara hubungan musik dan makna yang dikandungnya. Penelitian dilakukan melalui metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data mencakup observasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil analisis menunjukkan bahwa lagu ini merepresentasikan perenungan spiritual seseorang yang telah memasuki usia senja yang merasa kehidupannya akan segera usai, yang disampaikan secara implisit melalui lirik yang simbolis dan musikalitas yang sederhana namun dalam. Penelitian ini menemukan bahwa hubungan antara musik dan lirik dalam lagu ini ditampilkan secara eksplisit dan implisit, aspek eksplisit terlihat pada melodi, laras dan tempo di akhir lagu sedangkan aspek implisit terlihat dari tempo di awal lagu. Lagu Girimis Kasorénakeun bukan hanya karya musik biasa, tetapi juga karya yang mampu memunculkan berbagai interpretasi mendalam dari para pendengarnya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengkaji seni, khususnya dalam mengembangkan pemahaman mendalam terhadap lagu-lagu dalam tradisi Karawitan Sunda.
  • TULOPAGASI: INTERPRETASI DAN IMPLEMENTASI TEORI RARAS 15 NADA R.M.A. KOESOEMADINATA
    Tulopagasi merupakan karya musik yang mencoba menawarkan kemungkinan harmoni yang berpangkal pada teori 15 nada R.M.A. Koesoemadinata. Secara keseluruhan, karya ini berupaya mengartikulasikan elemen-elemen agar menjadi bagian penting dalam peristiwa musik yang terjadi pada setiap bunyi yang dihasilkan. Konsep gagasan dalam konteks karya ini yaitu menginterpretasikan ulang penyusunan 15 nada melalui beberapa tahapan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk mengeksplorasi kembali potensi teori 15 nada yang relatif jarang diaplikasikan dalam praktik komposisi. Tujuan utama penelitian ini adalah menginterpretasikan ulang penyusunan 15 nada melalui beberapa tahapan kreatif, yang meliputi eksplorasi, penyusunan, pengembangan, serta pengujian dalam konteks musikal. Pendekatan yang digunakan dalam karya ini bertujuan untuk menelaah ulang struktur dan hubungan antar nada dengan mempertimbangkan berbagai aspek musikal seperti harmoni, interval, serta karakter warna suara yang muncul dari nada-nada tersebut. Dalam proses ini, dilakukan berbagai eksperimen untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan yang dapat memperkaya sekaligus menawarkan sistem harmoni dalam konteks 15 nada. Setiap tahapan dalam karya Tulopagasi dirancang agar mampu memberikan perspektif dalam bagaimana suatu sistem nada dapat diadaptasi, dikembangkan, dan dikontekstualisasikan sesuai dengan kebutuhan kompositoris.
  • SAKRALITAS TARI DADUNG DALAM PESTA DADUNG DI LEGOKHERANG KABUPATEN KUNINGAN
    Pesta Dadung merupakan tradisi Masyarakat Legokherang yang rutin dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Tradisi ini mengandung nilai simbolisme kehidupan masyarakat Legokherang yang tercermin dalam gerakan tari dadung. Warisan budaya ini diturunkan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik dan nilai kesakralan yang terkandung dalam gerakan tari pada Pesta Dadung. Untuk menggali tradisi tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui teknik wawancara, observasi partisipatif, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan-gerakan dalam Tari dadung memiliki makna simbolik yang mendalam, melambangkan penghormatan terhadap alam, leluhur, dan kekuatan kosmik. Gerakan berulang dalam lingkaran sambil memegang dadung mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam semesta. Teori konstruksi sosial budaya Clifford Geertz dan teori paradoks Jacob Sumardjo digunakan untuk menganalisis data, mengungkapkan bahwa gerakan tari ini menjadi media komunikasi simbolik yang menghubungkan individu dengan masyarakat dan alam semesta. Pesta Dadung dilakukan melalui pelaksanaan upacara yang berkesinambungan setiap tiga tahun sekali, melibatkan seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda. Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa Pesta Dadung tidak hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga manifestasi nilai-nilai spiritual dan sosial yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Desa Legokherang.
  • NYETREET: THE PRESENTATION OF SELF FOTOGRAFI JALANAN SEBAGAI EKSISTENSI MASYARAKAT URBAN DI KOTA BANDUNG
    Proyek fotografi NYETREET berfokus pada eksplorasi kehidupan masyarakat Kota Bandung melalui medium fotografi jalanan. Kota Bandung, dengan sejarahnya yang kaya dan dinamika sosial yang terus berkembang, menjadi latar belakang utama untuk menggali eksistensi dan identitas warganya. NYETREET, sebuah istilah yang lahir dari penggabungan kata "nyet" (dari bahasa Sunda, yang berarti 'melihat') dan "street" (jalan), menggambarkan aktivitas mengamati dan mengabadikan momen sehari-hari di ruang publik. Menggunakan pendekatan fotografi jalanan, karya ini bertujuan menangkap interaksi masyarakat di jalanan yang tidak hanya memproyeksikan identitas individu, tetapi juga mencerminkan proses menuju aktualisasi diri, sesuai dengan teori presentasi diri Erving Goffman dan hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Fotografi dalam proyek ini tidak sekadar menjadi sarana dokumentasi, melainkan juga medium artistik yang menampilkan estetika sederhana namun bermakna dari kehidupan sehari-hari. NYETREET menghadirkan narasi visual tentang keindahan yang sering terabaikan, menyoroti dinamika sosial, budaya, dan ekonomi yang tercermin dalam interaksi warga Bandung. Karya ini merangkai esensi masa lalu, masa kini, dan masa depan, menjadikan jalanan sebagai panggung tempat masyarakat mengekspresikan eksistensi mereka, di tengah kompleksitas kota metropolitan yang terus berkembang.
  • KREATIVITAS DOEL SUMBANG DALAM LAGU-LAGU POP SUNDA
    This research focuses on analyzing Doel Sumbang's creativity in creating Sundanese Pop music using the 4P creativity framework (Person, Process, Press, and Product). The study is directed towards four main aspects: the artist's personality, the mechanism of the creative process, the influence of internal and external factors, and the resulting musical product as an original work rich in meaning. The analysis was conducted on three songs, namely Somse, Ai, and Runtah, through a descriptive study of the lyrics, melody transcription, and instrumental playing patterns as musical representations. This research uses a qualitative method with a phenomenological and narrative approach. Data was obtained through observation, literature review, interviews, and documentation. The research findings indicate that Doel Sumbang's creativity is formed through a dynamic interaction between socio-cultural sensitivity (Person), a reflective and adaptive creative process (Process), environmental influences (Press), and original and communicative musical products (Product). The widespread reception and viral phenomenon of his songs are not only determined by the power of his critically and socially contextual lyrics, but also by fresh and easily accessible musical innovations.
  • PENERAPAN INSTRUMEN MUSIK BAMBU RAHAIDI SEBAGAI MEDIA TERAPEUTIK UNTUK AUTISME
    Penelitian ini bertujuan untuk menilai efek dari penggunaan instrumen musik bambu Rahaidi dalam meningkatkan konsentrasi pada individu autisme dewasa di Yayasan Budaya Individu Spesial (YBUIS) Bandung. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan action research berdasarkan model Lin S. Norton. Teknik yang diterapkan meliputi observasi, wawancara, studi pustaka, serta lima langkah penelitian: identifikasi masalah, solusi, pelaksanaan, evaluasi, dan modifikasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan organologi (Sue Carole DeVale) dan teori konsentrasi (Santrock). Dalam menganalisis data, digunakan model ITDEM yang melibatkan triangulasi dan reduksi data untuk memastikan validitas hasil penelitian. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan instrumen musik bambu Rahaidi dapat meningkatkan konsentrasi pada individu autisme dewasa, dengan pengukuran dilakukan pada empat jenis perhatian: Selective Attention (kemampuan fokus pada informasi tertentu sambil mengabaikan yang lain), Sustained Attention (kemampuan mempertahankan fokus untuk waktu lama), Executive Attention (kemampuan merencanakan, mengarahkan konsentrasi pada tujuan, memantau perubahan tugas, dan menyesuaikan tugas baru), serta Divided Attention (kemampuan untuk memfokuskan diri pada beberapa aktivitas sekaligus). Proses terapeutik dibagi menjadi tiga tahap: pemula, menengah, dan mahir, yang mencakup asesmen, perancangan, penerapan terapi, pencatatan, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen musik bambu Rahaidi berdampak positif pada perkembangan rentang konsentrasi individu autisme dewasa, dengan perbaikan yang signifikan dalam semua aspek perhatian yang diukur tingkat dasar. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan yang disesuaikan dan penggunaan instrumen musik sebagai alat terapeutik efektif untuk meningkatkan konsentrasi.
  • PERKEMBANGAN TREND SIGER PENGANTIN SUNDA DI JAWA BARAT TAHUN 1980-2024
    Siger di Jawa Barat merupakan elemen aksesoris yang dikenakan oleh pengantin perempuan Sunda. Siger terdiri atas dua jenis karakter dan bentuk yakni Siger klasik dan Siger kontemporer. Dalam kehidupan masyarakat, Siger menunjukkan ragam jenis yang terus berkembang dan menjadi trend yang beradaptasi terhadap kemajuan zaman. Hal ini menimbulkan berbagai ragam perubahan jenis dan bentuk yang terkait dengan perkembangan trend Siger pada pengantin Sunda di Jawa Barat. Penelitian ini membahas mengenai trend Siger pengantin Sunda di Jawa Barat dengan menggunakan tiga teori, yakni: Teori Sejarah Charles Firh dan Sartono Kartodirdjo, Teori Perubahan Sosial John Lewis Gillin dan John Philip Gillin, serta Teori Transformasi D’Arcy Thompson. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang menerapkan empat tahapan analisis sejarah meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Penelitian terhadap perkembangan trend Siger pada pengantin Sunda di Jawa Barat dalam rentang waktu tahun 1980 hingga 2024 menghasilkan temuan yang menunjukkan perubahan trend pada Siger dari masa ke masa. Hal tersebut ditandai dengan perubahan bentuk dan gaya, serta munculnya ragam variasi model, hingga penamaan bentuk pada ragam Siger yang merujuk pada tokoh panutan (role model) pada suatu trend, yakni Raja dan Ratu Pasundan, kalangan aristokrat lokal (kaum ménak), hingga tokoh publik modern seperti selebriti. Penelitian ini berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan tentang Siger khususnya dari sisi perubahan bentuk, model, dan trend Siger dalam perkembangan zaman.
  • KARUSAKANG : FENOMENA KERUSAKAN ALAM DALAM PENCIPTAAN MUSIK BERGENRE JAZZ FUSION
    Karya musik Karusakang merupakan sebuah karya penciptaan seni pertunjukan musik yang bermula dari kegelisahan atas fenomena deteriorasi atau penurunan mutu lingkungan akibat dari kehidupan modern yang mengubah lanskap alami yang telah dirawat oleh masyarakat adat dan diekspresikan ke dalam bentuk karya seni. Transformasi atas fenomena kerusakan alam ke dalam komposisi musik Karusakang melibatkan dua estetika musik, yakni musik tradisional Bali sebagai representasi musik etnik dan jazz fusion sebagai representasi musik modern. Konsep dasar Karusakang berlandaskan pada gagasan memadukan jazz fusion dengan pola permainan interlocking atau kotekan yang menjadi elemen penting pada beragam jenis musik tradisional Bali. Struktur karya Karusakang menggunakan alur tiga babak yang mempertunjukkan suasana dramatik atas fenomena kerusakan alam yang tengah terjadi. Perpaduan antara permainan komunal pada kotekan dengan permainan individual pada jazz fusion mengantar pada situasi disharmonis sebagai suatu metafor dari fenomena deteriorasi alam beserta dampaknya pada pola kehidupan manusia. Ekspresi musikal yang suram pada babak terakhir dari komposisi ini menjadi sintesa atas fenomena kerusakan alam yang telah terjadi sebagai hasil dari implementasi suatu fenomena kerusakan alam di Bali, yang bertujuan untuk menimbulkan kesadaran pendengarnya akan kepedulian terhadap lingkungan.
  • STUDI INTERTEKSTUAL DALAM PERTUNJUKAN GENDING KARESMÉN SI KABAYAN JEUNG RAJA JIMBUL
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur musik dan dramatik dalam pertunjukan Gending Karesmén Si Kabayan Jeung Raja Jimbul, serta menganalisis korelasi antara Karawitan Sunda, drama, dan tata rupa sebagai elemen utama pembentuk pertunjukan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk mengungkap makna yang terkandung dalam relasi antarunsur pertunjukan. Teknik pengumpulan data meliputi studi literatur, studi dokumentasi terhadap naskah dan rekaman pertunjukan, wawancara dengan pelaku seni terkait, serta refleksi kritis terhadap proses analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Karawitan Sunda menempati posisi sentral dalam struktur dramatik pertunjukan. Musik tidak hanya mengiringi, tetapi juga menandai transisi, memperkuat emosi tokoh, dan memandu ritme aksi panggung. Drama berperan sebagai narasi utama, sementara tata rupa memperkuat aspek visual yang kontekstual dengan Budaya Sunda. Ketiganya membentuk sistem multi-teks yang menciptakan komunikasi estetik terpadu, menjadikan pertunjukan ini sebagai media ekspresi budaya dan sarana pendidikan karakter berbasis tradisi.
Browse all
< Previous page Next page >