2020 - 2025
-
THE SOUND OF FATHKarya musik berjudul The Sound of Fath merupakan interpretasi musikal terhadap peristiwa Fathu Makkah, yaitu penaklukan Kota Makkah oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun ke-8 Hijriah. Karya ini berangkat dari analisis film Fathu Makkah, yang menampilkan unsur auditif seperti takbir, bunyi bedug, dan langkah kaki pasukan yang menghadirkan nuansa emosional. Penulis mengembangkan komposisi dengan pendekatan musikal berupa penggunaan tangga nada Hijaz, teknik interlocking, multimeter, perubahan tempo, dan perubahan birama. Instrumen yang digunakan meliputi Vokal, Suling Tanji, Carumba, Bass Elektrik, Sequencer, Bedug, Darbuka, dan perangkat Perkusi. Karya ini bertujuan sebagai bagian dari Tugas Akhir Program Studi Angklung dan Musik Bambu, serta diharapkan dapat menambah referensi dan repertoar musik interpretasi berbasis musik bambu.
-
WUNYUKekhawatiran akan hilangnya spirit, kreativitas, dan inovasi seniman atau komposer dalam menciptakan komposisi baru bersamaan dengan media ekspresi baru khususnya di wilayah musik bambu, telah mendorong penulis untuk melakukan proses kreatif. Selain untuk memperkaya wahana musik bambu di Jawa Barat, tujuan lainnya adalah mengelaborasi kemampuan teknis, pengalaman emosional, dan keberanian diri untuk menciptakan bentuk komposisi baru yang belum pernah didengar sebelumnya. Adapun metode yang ditempuh antara lain: apresiasi, kajian pustaka, observasi, eksplorasi, eksprerimen, pembentukan dan evaluasi, Pendekatan teori organologi digunakan sebagai panduan untuk memahami sifat dan karakter bahan material bambu dan air. Sedangkan teori komposisi digunakan sebagai pendekatan dalam menyusun komposisi baru yang mengolah unsur-unsur musikal seperti call and response, canon, polyrhythm, interlocking, dan polymeter pada medium ekspresi drone flute, lodang, kohkol, krincing bel, botol drum serta medium ekspresi pokok dalam karya ini yaitu Wunyu. Hasil akhirnya adalah (1) perwujudan sebuah instrumen baru dengan karakter suara lembut (soft) yang terinspirasi dari instrument Citok karya Randhy serta memanfaatkan potensi rambatan getaran air dan material bambu Surat: (2) Komposisi ini memiliki tiga bagian struktur. Pada struktur pertama, lebih dominan menggunakan teknik permainan interlocking, struktur kedua terdapat teknik permainan call and response, canon dan polyrhythm, struktur ketiga terdapat teknik permainan polymeter. Dalam komposisi ini lebih menekankan pada pengolahan ritmik, menyesuaikan dengan karakter instrument Wunyu.
-
TAFAKURKarya musik Tafakur diciptakan sebagai langkah pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional Terbang Buhun dalam konteks dakwah Islam. Latar belakang penciptaannya berangkat dari kekhawatiran atas melemahnya eksistensi Terbang Buhun akibat minimnya regenerasi dan ruang ekspresi seni yang ada. Tujuan utama penciptaan ini adalah mengembangkan pola-pola permainan Terbang Buhun dengan perspektif garap kekinian dalam format sajian musik vokal-instrumental. Metode pengumpulan data material musik yang digunakan meliputi observasi, wawancara, studi pustaka dan analisis audio-visual baik dari dokumentasi pertunjukan milik pribadi maupun sumber-sumber digital. Adapun pendekatan teori penciptaan yang digunakan dalam penyusunan komposisi Tafakur ini yakni teori kreativitas dalam karawitan Sunda yang berfokus pada kemampuan seniman untuk melahirkan karya baru baik dalam bentuk komposisi maupun gaya permainan. Hasil akhirnya adalah; (1) komposisi Tafakur mempunyai tiga bagian struktur yang diberi nama Ma, Nu, dan Sa. Ketiganya merepresentasikan tentang nilai-nilai spiritual serta menggambarkan perjalanan manusia. Pada bagian Ma terdapat penonjolan vokal tunggal dengan naskah yang dibuat untuk pembukaan pertunjukan karya Tafakur, berikut olahan komposisi instrumen bambu dengan memainkan nada La dan Ti yang terdengar harmonis satu sama lain. Pada bagian Nu ditonjolkan permainan Terbang Buhun yang telah dikembangkan sebagai penggambaran dari manusia yang merasa dirinya tidak tenang dan mulai mencoba untuk eksplor diri. Pada bagian Sa ditonjolkan permainan vokal tunggal dan diiringi gambang dengan teknik cacagan sebagai gambaran tentang manusia itu kembali dituntun oleh alunan musik dan diingatkan dengan vokal. (2) aspek musikalitas Terbang Buhun dalam karya Tafakur dapat dikembangkan secara efektif dengan menggunakan teknik interlocking, call and response, repetisi, dan transfer oktaf. (3) melalui penciptaan karya Tafakur, kesenian Terbang Buhun membangkitkan potensinya kembali sebagai media pendukung dakwah Islam dan terbuka untuk langkah-langkah pengembangan lainnya.
-
KATAWARE DOKIKataware Doki merupakan karya aransemen yang berawal dari ketertarikan akan menonton anime Jepang dan mengadopsi lagunya sebagai subjek aransemen. Kataware Doki sendiri menjadi pengenalan untuk para pecinta budaya populer Jepang, bahwasannya budaya luar dapat disajikan dengan budaya lokal. Sajian aransemen ini berfokus pada pengembangan motif melodi, akor, dan pola ritmis. Teori musik dalam pengolahan akor menggunakan borrowed chord dan negative harmony. Pengembangan motif menggunakan retrograsi, inversi, diminusi, imitasi. Pengolahan ritmis teknik permainan multimeter dan perubahan tempo. Alat musik pada aransemen ini adalah carumba, gitar akustik, gitar bass elektrik, kajon, hi-hat. Karya ini bertujuan sebagai bagian dari Tugas Akhir Program Studi Angklung dan Musik Bambu, serta diharapkan dapat menambah referensi dan repertoar aransemen berbasis musik bambu.
-
RINGRETKarya musik ini merupakan hasil penciptaan yang mengangkat motif tonggeret dari instrumen karinding sebagai ide utama dalam pengembangan komposisi untuk ansambel suling kuartet. Motif tonggeret yang dikenal melalui pola ritmis khas dan tekstur bunyi alamiah, diolah menjadi struktur musikal baru melalui pendekatan eksploratif dan kreatif. Proses penciptaan dilakukan dengan menggali karakteristik bunyi tonggeret, lalu mentransformasikannya ke dalam idiom permainan suling. Teknik pengembangan seperti repetisi, fragmentasi, modifikasi ritme, serta eksplorasi dinamika dan artikulasi digunakan untuk memperkaya nuansa musikal dalam format kuartet. Hasil karya ini menampilkan perpaduan antara kekayaan motif tradisional dengan bentuk penyajian kontemporer, sehingga menghadirkan pengalaman musikal yang segar namun tetap berakar pada tradisi lokal. Penciptaan ini diharapkan dapat menjadi kontribusi terhadap upaya pelestarian dan pengembangan musik tradisional melalui medium ekspresi musik baru.
-
BUNGONG JEUMPAAceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di ujung utara Pulau Sumatra dan dikenal memiliki kekayaan budaya yang khas, termasuk dalam bidang seni musik. Salah satu bentuk warisan budaya tersebut tercermin melalui lagu daerah Bungong Jeumpa, yang bukan hanya dikenal sebagai lagu tradisional, tetapi juga menjadi simbol identitas masyarakat Aceh. Seiring perkembangan zaman, lagu ini telah mengalami berbagai proses aransemen, baik dalam bentuk tradisional maupun modern. Dalam karya ini, penulis menyusun aransemen Bungong Jeumpa dengan pendekatan musikal yang mengutamakan penggunaan nada minor dan dinamika bertahap untuk membangun suasana emosional. Beberapa elemen seperti pola repetitif pada melodi, ritme pengiring, serta penggunaan modulasi diterapkan secara halus untuk memperkuat karakter lagu daerah. Dinamika musik juga dimanfaatkan sebagai elemen penting dalam membentuk alur emosi, dimulai dari bagian pembuka yang tenang hingga mencapai klimaks. Penggunaan instrumen tradisional seperti angklung toel, carumba, dan seruling bambu dipadukan dengan instrumen modern seperti drum akustik; gitar bass elektrik, dan gitar elektrik untuk menciptakan warna musikal yang berlapis. Aransemen ini diharapkan dapat menjadi bentuk karya musik yang tidak hanya melestarikan nilai-nilai budaya lokal, tetapi juga relevan dalam konteks musik masa kini.
-
MONORAGAMRepetisi atau pengulangan dalam komposisi musik bagi sebagian orang kerap dianggap sebagai sesuatu yang kurang berbobot, mudah ditebak, dan membosankan. Meskipun diketahui dalam satuan yang sama, pengulangan selalu menyimpan keberagaman yang tersembunyi dan terkadang hanya bisa dirasakan oleh kepekaan seseorang pada tingkat tertentu. Sebagaimana fenomena waktu yang terus hadir dalam satuan yang sama (jam, menit, detik), namun senantiasa memperlihatkan ragam peristiwa di setiap siklusnya. Penulis menjadikan waktu sebagai ide penciptaan komposisi musik dengan tujuan mengelaborasi ragam pola dan teknik komposisi pada rangkaian melodi datar dan berulang, serta mengeksplorasi potensi musik bambu dengan perspektif garap komposisi yang tidak umum. Adapun metode penciptaan yang digunakan di antaranya, mencari konsep ide gagasan, menganalisis audio-visual, studi pustaka, eksplorasi dan penyusunan bentuk komposisi karya untuk di aplikasikan ke dalam alat musik bambu. Sebagai media ungkap karya penulis menggunakan tiga intrumen carumba yang dimainkan oleh tiga orang dengan posisi penyajian membentuk segitiga. Untuk menghadirkan keragaman dalam alur melodi yang monoton, penulis menerapkan teori dinamika dengan nada dasar DO=C, A, E dengan Time Signature 4/4 dan 16/8. Selain itu penulis juga mengaplikasikan teknik permainan interlocking untuk membentuk tekstur komposisi yang terkesan kaya akan pola ritmis. Hasilnya adalah (1) sebuah bentuk komposisi instrumental yang diberi judul Monoragam dengan tiga bagian struktur di dalamnya. Pada struktur pertama penulis merangkai pola permainan solo carumba dengan tempo 60 bpm yang menghasilkan tekstur monophonic. Pada bagian kedua penulis menonjolkan permainan interlocking pada carumba High dan Low untuk menghasilkan bentuk pola ritmis. Bagian ke tiga penulis menonjolkan pengulangan dengan tempo cepat dan dinamika yang sangat keras untuk membentuk klimaks pada komposisi karya. (2) lewat karya Monoragam terbagun sebuah kesadaran bahwa repetisi yang monoton mempunyai ragam ekspresi dan kesan emosional jika di tangani serta di pahami oleh kepekaan musikal yang baik.
-
KUCING HOKIKarya berjudul Kucing Hoki, memiliki genre musik pop yang menggunakan tangga nada diatonis dan tangga nada pentatonis hirajoshi. Karya musik ini terinspirasi dari alur legenda kucing hoki di Jepang, kemudian dikembangkan menjadi musik instrumental dan dituangkan menjadi empat bagian. Legenda kucing hoki menceritakan tentang seorang prajurit bernama Li Naotaka yang berhasil selamat dari pohon tumbang yang tersambar oleh petir karena dipanggil oleh seekor kucing di kuil Budha yaitu kuil Gotokuji. Legenda kucing hoki ini sebagai asal muasal terbentuknya kebudayaan memajang kucing hoki di tempat usaha yang dipercaya bisa membawa keberuntungan bagi pemiliknya. Teknik musikal yang digunakan yaitu repetisi, imitasi, modulasi, perubahan dinamika dan tempo. Karya ini juga menggunakan tambahan sound effect yaitu suara kucing dan suara petir. Media atau instrumen yang digunakan yaitu carumba melodi, carumba bas dua buah, bas elektrik, floor drum dan cymbal crash.
