Musik Bambu

  • SIRENS AND SILENCE
    Sirens and Silence merupakan karya komposisi musik instrumental berdurasi 10 menit 45 detik yang berangkat dari gagasan pengolahan ritme suara sirine tipe Wail 2 atau sirine gawat darurat. Karya ini disusun dalam empat bagian utama dengan dua bagian pengulangan, menggunakan kombinasi birama 4/4 dan 2/4 serta variasi tempo 135 bpm, 153 bpm, 165 bpm, 60 bpm, dan 55 bpm. Fokus utama komposisi ini terletak pada transformasi ritme sirine sebagai sumber musikal yang dikembangkan dan diimitasi melalui instrumen angklung toel sebagai media utama. Dalam proses penciptaannya, karya ini mengaplikasikan berbagai konsep dan teori musik Barat, khususnya pengembangan motif ritmik melalui teknik augmentasi dan diminusi, teknik interlocking, serta penerapan polyrhythm. Pendekatan tersebut digunakan untuk membangun struktur musikal yang koheren dan dinamis, sehingga sumber bunyi non-musikal berupa sirine dapat diolah menjadi bahasa musikal yang kontekstual dan estetis. Pada penyajiannya, Sirens and Silence dikemas dalam format pertunjukan ansambel kecil yang dimainkan oleh lima orang musisi. Instrumen yang digunakan meliputi angklung toel sebagai pembawa melodi utama, serta gambang low, bass, synthesizer, dan drum set sebagai instrumen pendukung. Karya ini diharapkan dapat memperkaya wacana penciptaan musik berbasis eksplorasi bunyi lingkungan serta membuka kemungkinan baru dalam pengembangan angklung toel dalam konteks musik kontemporer.
  • GENGGAM
    Genggam merupakan karya komposisi musik bambu yang mengadopsi eksplorasi timbre sebagai ide gagasan utamanya. Karya instrumental dengan format instrumen dua carumba, bas lodong dan triangle. Eksplorasi timbre dilakukakn dengan menambahkan media pembunyi berupa busur biola, panakol dan pegangan panakol yang umum digunakan pada Carumba. Hasil eksplorasi timbre tersebut diolah dan dikembangkan menjadi struktur musikal dengan menerapkan pendekatan teori pengolahan ritmik, yaitu hochketing, interlocking, dan kontrapung. Pendekatan teori ini digunakan untuk menjadikan sebuah komposisi musik yang utuh. Tujuan penciptaan karya komposisi ini adalah merealisasikan ide dasar eksplorasi timbre dan memenuhi tugas akhir untuk memeperoleh gelar Sarjana Terapan Seni di Institut Seni Budaya Indonesia Bandung.
  • MORFO
    Morfo merupakan sebuah karya komposisi instrumental musik bambu yang mengangkat time signature sebagai ide gagasan. Morfo diambil dari kata metamoRfosis yang memiliki arti perubahan baik itu bentuk, sifat, maupun susunan, perubahan ini diimplementasikan dengan teknik-teknik komposisi yang berkaitan dengan unsur time signature guna menunjang pengembangan motif, dan memperkaya tekstur pada karya musik. Pendekatan musikal yang digunakan dalam karya komposisi ini yaitu berupa penggunaan metric modulation, multimeter, dan polimeter. Instrumen yang digunakan meliputi satu Angklung Toel, dua Carumba F#- A4, satu Gitar elektrik, satu Bass elektrik, satu set perkusi, dan satu Floor tom. Karya ini ditujukan sebagai bagian dari Tugas Akhir Program Studi Angklung dan Musik Bambu.
  • INFINITY GAMEBANG
    Infinity Gamebang merupakan komposisi musik yang berangkat dari upaya mentransformasi motif single paradiddle—yang umumnya digunakan sebagai pola latihan teknik dasar drum—menjadi tema musikal dalam format ensambel carumba. Proses penciptaan didasarkan pada eksplorasi teknik motive development, meliputi augmentasi ritmik, truncation, fragmentation, sinkopasi, serta penerapan gaya permainan interlocking dan call and response. Motif single paradiddle dikembangkan menjadi berbagai varian ritmis dan teks-tural yang kemudian dirangkai ke dalam bentuk musik binary form. Karya ini memanfaatkan tangga nada D minor pentatonik, tempo bervariasi (moderato–allegro), serta kombinasi simple dan compound meter untuk memperkaya struktur ritmis. Secara keseluruhan, Infinity Gamebang menghadirkan karakter musik yang perkusif dan ritmikal, sekaligus menunjukkan potensi transformasi rudiment sebagai sumber penciptaan komposisi baru.
  • A G E
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek ritme dalam karya Pleura karya King Gizzard and the Lizard Wizard sebagai sumber inspirasi dalam proses penciptaan karya musik. Karya Pleura dipilih karena memiliki karakter ritmis yang unik, khususnya melalui penggunaan perubahan birama, serta struktur ritme yang tidak konvensional. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan deskriptif analisis, melalui studi pustaka, observasi partitur, dan analisis audio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritme dalam karya Pleura berperan penting dalam membentuk identitas musikal. Temuan ini kemudian diaplikasikan dalam proses penciptaan karya komposisi dengan mengadaptasi konsep ritme, struktur, dan pola permainan sebagai dasar pengembangan ide musikal. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa eksplorasi ritme dalam karya Pleura dapat menjadi referensi kreatif yang efektif dalam pengembangan karya musik.
  • LIDE
    Karya komposisi musik LIDE diciptakan sebagai respon kreatif terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi di Kepulauan Sangihe, terutama menyangkut soal degradasi ekosistem laut akibat aktivitas penambangan emas. Penciptaan ini bertujuan menjadikan musik sebagai media refleksi dan edukasi ekologis dengan memadukan gaya musik pop dan karakter bunyi lokal. Proses penciptaan dilakukan melalui tahapan observasi, eksplorasi, eksperimen, evaluasi, pembentukan karya, dan penyajian, serta menggunakan teori garap sebagai landasan pengolahan musikal. Hasil penciptaan menunjukkan bahwa ; (1) komposisi LIDE menawarkan tentang cara mengadaptasi instrumen tradisi ke dalam struktur musik pop tanpa menghilangkan identitas bunyinya; (2) struktur komposisi musik pop dapat diorganisasi berdasarkan narasi ekologis, atau tidak selalu mengikuti naluri konvensionalnya; (3) aplikasi teori garap dalam musik populer berbasis bambu menghasilkan pola pengolahan bunyi yang lebih terstruktur; serta (4) pengolahan tempo dan dinamika dapat menjadi representasi dramatik dari setai tema perubahan lingkungan yang diangkat.
  • MANTUN
    Kesenian pantun Sunda mengalami penurunan eksistensi akibat lemahnya regenerasi juru pantun dan perubahan fungsi dari ritual sakral menjadi hiburan. Penelitian ini bertujuan merevitalisasi kesenian pantun Baros melalui penciptaan karya musik berjudul Mantun. Inovasi dilakukan dengan menambahkan iringan ansambel campuran berupa gambang bambu laras pelog, kacapi, suling, dan perkusi, serta menerapkan pola tabuhan cacagan dan pirigan tanpa menghilangkan nilai tradisi. Cerita Jaka Sura dijadikan dasar garapan sebagai penguat karakter musikal dan naratif. Hasil karya menunjukkan bahwa pengembangan iringan dapat meningkatkan daya tarik pertunjukan dan menjadi alternatif pelestarian kesenian pantun bagi generasi muda.
  • CAWI
    Karya musik komposisi berjudul Cawi (berasal dari bahasa Sunda yang berarti 'penca awi' atau pencak bambu) merupakan perpaduan inovatif antara musik pencak silat dan instrumen bambu. Penelitian ini berfokus pada kajian musik pencak silat, khususnya pada pola ritme tepakan kendang golempang yang menjadi inspirasi dasar bagi penulis. Pola tepak kendang penca diolah dan diimplementasikan menjadi bentuk melodi pada tarompet penca. Tujuan penciptaan karya ini adalah untuk menstimulasi kreativitas para pengrajin tarompet penca agar tidak terbatas pada bahan dasar tertentu, sekaligus sebagai upaya pemeliharaan dan pelestarian kesenian budaya lokal Jawa Barat, serta memperkaya khazanah alat musik bambu. Karya Cawi menggunakan format instrumen bambu dengan implementasi motif golempang ke dalam tarompet penca. Kolaborasi instrumen tambahan seperti floor, kendang jaipong, dan goong digunakan untuk menghasilkan bentuk musik yang berbeda dari kesenian pencak pada umumnya. Dalam proses penciptaan, penulis menggunakan pendekatan teori garap Rahayu Supanggah sebagai rujukan untuk merealisasikan karya dan turut serta meningkatkan eksistensi serta perkembangan seni pencak silat.
  • THE SOUND OF FATH
    Karya musik berjudul The Sound of Fath merupakan interpretasi musikal terhadap peristiwa Fathu Makkah, yaitu penaklukan Kota Makkah oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun ke-8 Hijriah. Karya ini berangkat dari analisis film Fathu Makkah, yang menampilkan unsur auditif seperti takbir, bunyi bedug, dan langkah kaki pasukan yang menghadirkan nuansa emosional. Penulis mengembangkan komposisi dengan pendekatan musikal berupa penggunaan tangga nada Hijaz, teknik interlocking, multimeter, perubahan tempo, dan perubahan birama. Instrumen yang digunakan meliputi Vokal, Suling Tanji, Carumba, Bass Elektrik, Sequencer, Bedug, Darbuka, dan perangkat Perkusi. Karya ini bertujuan sebagai bagian dari Tugas Akhir Program Studi Angklung dan Musik Bambu, serta diharapkan dapat menambah referensi dan repertoar musik interpretasi berbasis musik bambu.
  • WUNYU
    Kekhawatiran akan hilangnya spirit, kreativitas, dan inovasi seniman atau komposer dalam menciptakan komposisi baru bersamaan dengan media ekspresi baru khususnya di wilayah musik bambu, telah mendorong penulis untuk melakukan proses kreatif. Selain untuk memperkaya wahana musik bambu di Jawa Barat, tujuan lainnya adalah mengelaborasi kemampuan teknis, pengalaman emosional, dan keberanian diri untuk menciptakan bentuk komposisi baru yang belum pernah didengar sebelumnya. Adapun metode yang ditempuh antara lain: apresiasi, kajian pustaka, observasi, eksplorasi, eksprerimen, pembentukan dan evaluasi, Pendekatan teori organologi digunakan sebagai panduan untuk memahami sifat dan karakter bahan material bambu dan air. Sedangkan teori komposisi digunakan sebagai pendekatan dalam menyusun komposisi baru yang mengolah unsur-unsur musikal seperti call and response, canon, polyrhythm, interlocking, dan polymeter pada medium ekspresi drone flute, lodang, kohkol, krincing bel, botol drum serta medium ekspresi pokok dalam karya ini yaitu Wunyu. Hasil akhirnya adalah (1) perwujudan sebuah instrumen baru dengan karakter suara lembut (soft) yang terinspirasi dari instrument Citok karya Randhy serta memanfaatkan potensi rambatan getaran air dan material bambu Surat: (2) Komposisi ini memiliki tiga bagian struktur. Pada struktur pertama, lebih dominan menggunakan teknik permainan interlocking, struktur kedua terdapat teknik permainan call and response, canon dan polyrhythm, struktur ketiga terdapat teknik permainan polymeter. Dalam komposisi ini lebih menekankan pada pengolahan ritmik, menyesuaikan dengan karakter instrument Wunyu.
  • TAFAKUR
    Karya musik Tafakur diciptakan sebagai langkah pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional Terbang Buhun dalam konteks dakwah Islam. Latar belakang penciptaannya berangkat dari kekhawatiran atas melemahnya eksistensi Terbang Buhun akibat minimnya regenerasi dan ruang ekspresi seni yang ada. Tujuan utama penciptaan ini adalah mengembangkan pola-pola permainan Terbang Buhun dengan perspektif garap kekinian dalam format sajian musik vokal-instrumental. Metode pengumpulan data material musik yang digunakan meliputi observasi, wawancara, studi pustaka dan analisis audio-visual baik dari dokumentasi pertunjukan milik pribadi maupun sumber-sumber digital. Adapun pendekatan teori penciptaan yang digunakan dalam penyusunan komposisi Tafakur ini yakni teori kreativitas dalam karawitan Sunda yang berfokus pada kemampuan seniman untuk melahirkan karya baru baik dalam bentuk komposisi maupun gaya permainan. Hasil akhirnya adalah; (1) komposisi Tafakur mempunyai tiga bagian struktur yang diberi nama Ma, Nu, dan Sa. Ketiganya merepresentasikan tentang nilai-nilai spiritual serta menggambarkan perjalanan manusia. Pada bagian Ma terdapat penonjolan vokal tunggal dengan naskah yang dibuat untuk pembukaan pertunjukan karya Tafakur, berikut olahan komposisi instrumen bambu dengan memainkan nada La dan Ti yang terdengar harmonis satu sama lain. Pada bagian Nu ditonjolkan permainan Terbang Buhun yang telah dikembangkan sebagai penggambaran dari manusia yang merasa dirinya tidak tenang dan mulai mencoba untuk eksplor diri. Pada bagian Sa ditonjolkan permainan vokal tunggal dan diiringi gambang dengan teknik cacagan sebagai gambaran tentang manusia itu kembali dituntun oleh alunan musik dan diingatkan dengan vokal. (2) aspek musikalitas Terbang Buhun dalam karya Tafakur dapat dikembangkan secara efektif dengan menggunakan teknik interlocking, call and response, repetisi, dan transfer oktaf. (3) melalui penciptaan karya Tafakur, kesenian Terbang Buhun membangkitkan potensinya kembali sebagai media pendukung dakwah Islam dan terbuka untuk langkah-langkah pengembangan lainnya.
  • KATAWARE DOKI
    Kataware Doki merupakan karya aransemen yang berawal dari ketertarikan akan menonton anime Jepang dan mengadopsi lagunya sebagai subjek aransemen. Kataware Doki sendiri menjadi pengenalan untuk para pecinta budaya populer Jepang, bahwasannya budaya luar dapat disajikan dengan budaya lokal. Sajian aransemen ini berfokus pada pengembangan motif melodi, akor, dan pola ritmis. Teori musik dalam pengolahan akor menggunakan borrowed chord dan negative harmony. Pengembangan motif menggunakan retrograsi, inversi, diminusi, imitasi. Pengolahan ritmis teknik permainan multimeter dan perubahan tempo. Alat musik pada aransemen ini adalah carumba, gitar akustik, gitar bass elektrik, kajon, hi-hat. Karya ini bertujuan sebagai bagian dari Tugas Akhir Program Studi Angklung dan Musik Bambu, serta diharapkan dapat menambah referensi dan repertoar aransemen berbasis musik bambu.
Browse all
< Previous page Next page >