2020 - 2025

  • REALITAS DAYA TAFSIR KOMUNITAS KAIBUTSU TERHADAP PENGGAMBARAN HETERONORMATIVITAS DALAM FILM MONSTER KARYA HIROKAZU-KOREEDA
    Penelitian ini menganalisa pembingkaian norma gender dalam film Jepang berjudul Monster. Heteronormativitas sebagai konstruksi sosial sering kali direpresentasikan dalam film melalui narasi, karakter, dan konflik yang mengutamakan relasi heteroseksual sebagai norma utama. Monster adalah film yang menggambarkan kehidupan dua anak laki-laki, Minato Mugino dan Yori Hoshikawa, yang menghadapi kesulitan akibat tekanan heteronormativitas dari lingkungan mereka. Film ini memperlihatkan bentuk diskriminasi, kecurigaan, dan homofobia yang dihadapi keduanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi pembingkaian heteronormativitas dalam film serta memahami bagaimana audiens dari Komunitas Kaibutsu merespons pembingkaian tersebut. Analisis menggunakan teori analisis framing Murray Edelman. Data dikumpulkan melalui Google Form dan wawancara online serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Kaibutsu menafsirkan bahwa film Monster membingkaikan heteronormativitas yang berperan membentuk ekspektasi dan perilaku gender, tetapi juga menimbulkan tekanan sosial dan psikologis, terutama bagi individu yang menyimpang dari norma tersebut.
  • PERAN KOMUNITAS SKATEBOARD STREETWEAR DALAM INDUSTRI CLOTHING DI KOTA BANDUNG (Studi Pada Clothing UNKL347)
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pola budaya streetwear dalam perkembangan industri clothing, peran komunitas dalam membentuk dan menyebarluaskan budaya streetwear dan faktorfaktor yang mempengaruhi pertumbuhan budaya streetwear di Kota Bandung. Lokus penelitian dilakukan di Kota Bandung. Populasi penelitian ini adalah pelaku industri industri clothing dan komunitas streetwear yang terlibat secara lansung. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara dan studi pustaka. Partisipan penelitian adalah pendiri clothing UNKL347 dan Skateboarder. Berdasarkan hasil penelitian bahwa peran komunitas skateboard streetwear dalam industri clothing di Kota Bandung (studi pada clothing UNKL347) terdapat beberapa aspek utama. Aspek karakteristik pola budaya streetwear mencakup 1) pengaruh subkultur; 2) desain kasual dan eksklusivitas; dan 3) kolaborasi. Aspek peran komunitas mencakup 1) pembentuk kolaborasi kreatif; 2) pendorong brand lokal; dan 3) pembentuk identitas kolektif. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan budaya streetwear di Kota Bandung mencakup beberapa faktor pendukung diantaranya: 1) budaya kreatif lokal; 2) platform digital; 3) industri clothing; dan 4) event dan festival.
  • REPRESENTASI NILAI SINKRETISME DALAM PRAKTIK KEHIDUPAN DI NEGERI PELAUW KABUPATEN MALUKU TENGAH
    Penelitian ini membahas tentang representasi nilai sinkretisme dalam praktik kehidupan masyarakat di Negeri Pelauw, Kabupaten Maluku Tengah. Negeri Pelauw merupakan salah satu komunitas adat Islam di Pulau Haruku yang mempertahankan tradisi leluhur sambil mempraktikkan ajaran Islam secara bersamaan. Sinkretisme dalam konteks ini merujuk pada perpaduan nilai-nilai adat dan agama yang melebur secara harmonis dalam kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai sinkretisme tercermin dalam berbagai praktik kehidupan, antara lain ritual Ma’atenu, pelantikan raja dan kabaresi, ritual sasi, gotong royong (masohi), serta penggunaan pakaian dan simbol keagamaan. Sinkretisme ini terbentuk melalui tiga faktor utama: sejarah dan warisan budaya, peran tokoh adat dan agama, serta struktur sosial yang inklusif. Masyarakat Negeri Pelauw tidak memisahkan adat dari agama, melainkan memandang keduanya sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Ajaran Islam memberikan legitimasi spiritual atas praktik-praktik adat, sementara adat memperkuat identitas lokal dan solidaritas sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa sinkretisme bukan sekadar kompromi budaya, melainkan bentuk keberagamaan yang kontekstual dan berakar kuat pada nilai-nilai kearifan lokal.
  • PERAN PEREMPUAN PENGANYAM TOPI BAMBU TERHADAP PEMENUHAN EKONOMI RUMAH TANGGA DI DESA ANCOL PASIR KABUPATEN TANGERANG
    Realitas sosial kelompok masyarakat di pedesaan dihadapkan pada tantangan ekonomi akibat keterbatasan akses pekerjaan formal, rendahnya pendidikan, serta minimnya keterampilan produktif. Dalam kondisi di Desa Ancol Pasir, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, perempuan mengambil peran strategis sebagai agen ekonomi keluarga melalui kegiatan menganyam topi bambu yang merupakan keterampilan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana peran sosial perempuan terbentuk melalui proses interaksi sosial, kontribusi ekonomi mereka berdampak pada keberlangsungan rumah tangga, serta aspek gender dan pemberdayaan perempuan pada pekerjaan menganyam topi bambu. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi lapangan, dan studi literatur. Informan terdiri dari perempuan penganyam, pengrajin, ketua komunitas, dan pihak pemerintah daerah. Teori yang digunakan adalah teori pembentukan peran dari George Herbert Mead yang menekankan tahapan pembentukan peran melalui pengalaman sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran perempuan sebagai penganyam sudah terbentuk sejak dini melalui proses sosial dari Ibu dan menjadi bagian dari struktur sosial kelompok penganyam. Aktivitas menganyam, cenderung dikategorikan sebagai pekerjaan sampingan karena segi penghasilan yang relatif rendah. Namun, bagi perempuan di pedesaan dengan tingkat pendidikan yang rendah dan keterampilan yang terbatas, pekerjaan ini menjadi satu-satunya pilihan untuk menopang ekonomi rumah tangga. Analisis gender pada pekerjaan ini menggambarkan adanya ketimpangan gender dalam pembagian kerja, akses, dan upah. Hal ini mencerminkan relasi kuasa yang tidak seimbang dalam rantai produksi. Meski demikian, pekerjaan ini membuka ruang pemberdayaan perempuan dalam skala lokal. Diperlukan kebijakan afirmatif berbasis gender untuk memperkuat posisi, peran, dan kapasitas perempuan dalam struktur ekonomi lokal.
  • FESYEN AMERICAN 80’S STYLE DI KOMUNITAS GANIATI UPI BANDUNG SEBAGAI PEMBENTUK IDENTITAS DIRI
    Penelitian ini membahas bagaimana pengaruh fesyen American 80’s style terhadap dinamika kehidupan anggota komunitas Ganiati UPI Bandung dalam aktivitas sehari-hari dan apa makna serta nilai yang terkandung dalam penggunaan fesyen American 80’s style dikalangan anggota komunitas Ganiati UPI Bandung dalam pembentukan identitas diri. Proses pembentukan identitas diri melalui fesyen American 80’s style di komunitas Ganiati UPI Bandung dianalisis menggunakan teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan pengaruh, makna dan nilai fesyen American 80’s style terhadap dinamika kehidupan anggota komunitas Ganiati UPI Bandung dalam aktivitas sehari-hari. Penelitian ini memberikan manfaat untuk pengembangan ilmu Antropologi Budaya mengenai hubungan fesyen internasional dalam penggunaannya di kalangan masyarakat lokal dan pembentukan identitas diri melalui fesyen dalam anggota komunitas tertentu. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data studi literatur, observasi partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fesyen American 80’s style digunakan anggota komunitas Ganiati sebagai bagian dari pembentukan identitas diri. Pilihan gaya dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, lingkungan komunitas, serta nilai dan kesadaran yang dimiliki masing-masing individu. Fesyen tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetika tetapi juga mencerminkan sikap, prinsip dan posisi mereka dalam lingkungan sosial.
  • PERSEPSI PENGUNJUNG MENGENAI FENOMENA SELFIE DI MASJID RAYA AL-JABBAR KOTA BANDUNG
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pengunjung terhadap fenomena selfie yang dilakukan di lingkungan Masjid Raya Al-Jabbar, Kota Bandung. Selfie sebagai bagian dari budaya digital telah merambah berbagai ruang publik, termasuk ruang ibadah, sehingga menimbulkan respons sosial yang beragam. Masjid Raya Al-Jabbar dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki daya tarik arsitektural yang tinggi dan menjadi salah satu destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori persepsi yang dilengkapi dengan teori atribusi sosial, yang membantu menjelaskan bagaimana pengunjung membentuk pandangan dan penilaian terhadap aktivitas selfie di lingkungan masjid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pengunjung terhadap fenomena selfie di Masjid Raya Al-Jabbar terbagi menjadi tiga kategori: positif, netral, dan negatif. Persepsi positif umumnya dilandasi oleh anggapan bahwa selfie merupakan bentuk ekspresi kekaguman terhadap kemegahan masjid dan sebagai sarana dokumentasi pribadi. Sementara itu, persepsi negatif muncul dari pandangan bahwa selfie mengganggu kekhusyukan beribadah dan tidak sesuai dengan norma kesopanan di tempat suci.
  • JARINGAN SOSIAL PEDAGANG BAKSO PATROL DI KOTA BANDUNG
    Penelitian ini dilakukan untuk meneliti jaringan sosial pedagang bakso patrol di Kota Bandung serta menjelaskan aktor-aktor dan proses pembentukan jaringan sosial. Penelitian ini melibatkan manfaat dan relevansi dengan menggali potensi sistem sosial pedagang bakso patrol yang berasal dari Ciamis, Sumedang, dan Tasikmalaya dalam membangun keberlangsungan usaha mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah metodologi kualitatif dengan pendekatan etnografi yang menggunakan teori Jaringan Sosial Mark Granovetter. Populasi penelitian meliputi pedagang bakso patrol di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan sosial pedagang bakso patrol terdiri atas empat bentuk jaringan. Pertama, jaringan sosial paguyuban yang bersifat informal dan dilandasi kepentingan, dengan titik awal dari juragan HN yang merekrut pekerja berdasarkan kepercayaan dan kesamaan daerah asal. Kedua, jaringan sosial kesamaan daerah asal dari Dusun Bitungsari dan Samarang (Ciamis), Rancakalong (Sumedang), dan Singaparna (Tasikmalaya). Ketiga, jaringan sosial perkawinan dan kekerabatan dengan ikatan emosional yang lebih kuat. Keempat, jaringan sosial pertemanan melalui interaksi sehari-hari dengan bentuk expressive emotional friendship dan instrumental friendship. Proses pembentukan terjadi melalui transformasi ikatan lemah menjadi ikatan kuat, pembentukan norma vertikal dan horizontal, keterlekatan relasional melalui interaksi harian, serta kepercayaan askriptif dan prosesual yang mendorong solidaritas antarpedagang. Simpulan dari penelitian ini adalah jaringan sosial pedagang bakso patrol di Kota Bandung tidak hanya berorientasi pada aktivitas ekonomi semata, tetapi juga membangun sistem sosial yang mendukung keberlangsungan usaha. Jaringan didasari oleh ikatan kuat dan ikatan lemah yang terbentuk melalui interaksi sehari-hari. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat menjadi bentuk pertimbangan dalam memahami dinamika hubungan sosial, budaya dan ekonomi pedagang yang berkembang di kawasan perkotaan.
  • PERSEPSI PENGUNJUNG DAN PENGELOLA MUSEUM TERHADAP REVITALISASI TAMAN MUSEUM GEDUNG JUANG 45 DI KABUPATEN BEKASI
    Museum Gedung Juang 45 Bekasi merupakan bangunan cagar budaya bersejarah yang terletak di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, yang berfungsi sebagai pusat edukasi sejarah perjuangan rakyat Bekasi serta pelestarian identitas budaya lokal. Penelitian ini membahas persepsi pengunjung dan pengelola terhadap revitalisasi Museum Gedung Juang 45 Bekasi sebagai upaya pelestarian cagar budaya sekaligus peningkatan fungsi edukasi dan rekreasi. Revitalisasi mencakup alih fungsi museum menjadi berbasis digital serta penataan ulang kawasan taman agar lebih menarik bagi masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan revitalisasi memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan jumlah kunjungan, khususnya dari kalangan pelajar dan generasi muda. Selain itu, revitalisasi berhasil menciptakan museum yang lebih interaktif, tidak hanya sebagai tempat menyimpan benda sejarah, tetapi juga menjadi ruang publik yang edukatif dan rekreatif. Persepsi positif dari pengelola dan pengunjung menunjukkan bahwa revitalisasi mampu mengembalikan fungsi museum sebagai media pembelajaran sejarah sekaligus tempat hiburan masyarakat Bekasi.
  • APLIKASI BUBBLE SEBAGAI MEDIUM ILUSI PARASOSIAL PADA PENGGEMAR K-POP LUCY BAND (WALWAL)
    Penelitian ini mengkaji peran aplikasi Bubble sebagai medium pembentuk ilusi parasosial antara penggemar Lucy Band (Walwal) dengan idolanya. Penelitian ini mengungkapkan fenomena hubungan parasosial di era digital yang semakin kompleks, di mana teknologi tidak hanya memediasi interaksi, tetapi juga membentuk persepsi dan realitas emosional penggemar. Kesenjangan penelitian ini muncul dari terbatasnya studi tentang aplikasi Bubble sebagai platform eksklusif yang menciptakan kedekatan semu, khususnya dalam konteks K-Band seperti Lucy Band, yang berbeda secara musikalitas dan interaksi dengan penggemar dibandingkan idola K-Pop pada umumnya. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis mekanisme ilusi parasosial yang terbentuk melalui Bubble serta pengaruhnya terhadap kehidupan nyata penggemar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, berlandaskan teori Ekologi Media McLuhan yang menekankan peran medium dalam membentuk persepsi dan realitas sosial. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan lima penggemar (Walwal), dan studi literatur. Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola interaksi dan dampak hubungan parasosial. Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa fitur-fitur Bubble seperti notifikasi real-time, konten eksklusif, dan simulasi interaksi personal (seperti fitur Your Name dan Birthday Greetings) berhasil menciptakan ilusi kedekatan emosional yang dalam. Hubungan parasosial ini memengaruhi perilaku penggemar, seperti perubahan gaya hidup, pembentukan emotional bonding, dan peningkatan standar hubungan ideal. Namun, di balik dampak positif seperti motivasi berolahraga atau belajar bahasa Korea, terdapat risiko ketergantungan emosional pada hubungan sepihak. Implikasi penelitian ini mencakup dua aspek: akademis dan praktis. Secara akademis, temuan ini memperkaya literatur tentang hubungan parasosial di era digital, khususnya dalam konteks K-Band. Secara praktis, penelitian ini memberikan wawasan bagi industri hiburan tentang dampak psikologis platform parasosial serta rekomendasi bagi penggemar untuk menjaga keseimbangan antara interaksi virtual dan kehidupan nyata.
  • REPRESENTASI PENGGUNAAN RUANG DAN INTERAKSI SOSIAL PENGUNJUNG DI TAMAN LITERASI MARTHA CHRISTINA TIAHAHU BLOK M JAKARTA SELATAN
    Penelitian ini mengkaji representasi penggunaan ruang dan interaksi sosial pengunjung di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Blok M, Jakarta Selatan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teori produksi ruang Henri Lefebvre, penelitian bertujuan untuk memahami bagaimana ruang taman diproduksi secara sosial dan bagaimana pola interaksi sosial terbentuk di dalamnya. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan pengunjung, pengelola, dan komunitas penyelenggara kegiatan, serta dokumentasi aktivitas di taman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang taman tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai ruang sosial yang dinamis, tempat pertukaran ide dan pengembangan literasi masyarakat. Pengunjung dan komunitas secara aktif memaknai dan memanfaatkan ruang sesuai kebutuhan, sementara desain dan aktivitas yang ada mendorong terbentuknya interaksi sosial yang beragam. Penelitian ini merekomendasikan pengelolaan taman yang lebih partisipatif dan adaptif agar taman dapat terus berkembang sebagai ruang publik yang inklusif dan berkelanjutan di tengah masyarakat urban.
  • FENOMENA CANCEL CULTURE DI TWITTER/X: STUDI KASUS PLAGIARISME RICODWICHY
    Penelitian ini bertujuan untuk memahami fungsi cancel culture sebagai mekanisme kontrol sosial di media sosial Twitter/X serta menganalisis respons pengguna terhadap kasus plagiarisme Ricodwichy. Dengan pendekatan etnografi virtual dan teori intersubjektivitas Alfred Schutz, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana makna kolektif dibangun melalui interaksi digital. Data dikumpulkan melalui pengamatan konten digital, dokumentasi postingan, dan analisis interaksi, menggunakan kerangka analisis media siber pada level ruang media, dokumen media, objek media, dan pengalaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cancel culture menjadi alat yang efektif untuk menegakkan norma sosial di ruang digital, dengan engagement tinggi pada thread utama yang mengekspos kasus ini. Diskursus daring menciptakan dampak nyata di dunia offline, seperti sanksi akademik yang diterima Ricodwichy. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian budaya digital dengan menyoroti bagaimana ruang digital mendukung pembentukan dan penerapan norma sosial.
  • PERSEPSI WISATAWAN DOMESTIK PADA DESTINASI WISATA MUSEUM BATIK INDONESIA TMII JAKARTA
    Museum Batik Indonesia yang terletak di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta merupakan destinasi wisata budaya yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik. Museum Batik Indonesia memiliki peran penting sebagai media edukasi serta upaya pelestarian batik sebagai warisan budaya takbenda Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana Museum Batik Indonesia mampu memenuhi ekspektasi dan kebutuhan wisatawan. Oleh karena itu penting untuk mempelajari persepsi wisatawan domestik terhadap empat komponen utama dalam pengelolaan destinasi wisata, yaitu atraksi, aksesibilitas, fasilitas, dan layanan tambahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan pengelola museum dan wisatawan domestik, serta studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Museum Batik Indonesia memiliki atraksi, aksesibilitas, fasilitas, dan layanan tambahan yang kuat sebagai destinasi wisata edukatif dan budaya. Museum ini sudah memberikan kepuasan serta respons yang positif kepada wisatawan domestik. Namun, terdapat beberapa catatan yang perlu diperhatikan untuk museum yaitu kurangnya penyampaian informasi mengenai kegiatan workshop kepada wisatawan, tidak adanya toko suvenir resmi, akses menuju pintu masuk yang belum ramah bagi penyandang disabilitas, tidak adanya petunjuk arah yang jelas menuju mushola, serta fasilitas media interaktif yang masih bersifat pasif. Selain itu, Museum Batik Indonesia juga menjalankan peran strategis dalam pelestarian warisan budaya batik melalui program-program yang edukatif, partisipatif, berkelanjutan, serta adaptif terhadap perkembangan zaman.
Browse all
< Previous page Next page >