Items
-
TARI JAIPONGAN GALUDRA KARYA NENI SURYANI DI SANGGAR CITRA BUDAYA KABUPATEN BOGORTari Jaipongan Galudra yang diciptakan oleh Neni Suryani di Sanggar Citra Budaya bertemakan perjuangan, daya tariknya terletak pada gerak hiber yang mengolah sampur sebagai sayap, ngepak muka, pasang ngalaga. Berdasarkan daya tarik tersebut, pertanyaan penelitian dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana struktur Tari Jaipongan Galudra karya Neni Suryani di Sanggar Citra Budaya?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis secara deskriptif analisis struktur Tari Jaipongan Galudra. Landasan konsep pemikiran yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada konsep pemikiran struktur tari dari Y. Sumandiyo Hadi, meliputi sebelas komponen yaitu: gerak tari, ruang tari, iringan/musik tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah penari dan jenis kelamin penari, rias dan kostum tari, tata cahaya, serta properti tari. Adapun dalam operasionalnya menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis serta menggunakan langkah-langkah; pengumpulan data, studi lapangan, dan analisis data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, bahwa struktur penyajian koreografi dari Tari Jaipongan Galudra dibangun oleh empat ragam gerak (konstruksi) tari, yaitu; bukaan, nibakeun, pencugan, dan mincid. Keempat konstruksi tersebut, terwujudkan dalam suatu struktur tari yang meliputi: Pertama, struktur koreografi terdiri atas intro, lagu Galudra irama lalamba embat sawilet, naek lagu Galudra irama jalan embat dua wilet. Kedua, karawitan iringan tari dengan menggunakan struktur intro, lagu Galudra irama lalamba embat sawilet, naek lagu Galudra irama jalan embat dua wilet. Ketiga, busana; apok, daleman tile, rok, celana sontog, dan sabuk dan dilengkapi dengan kace serta riasan rambut dan wajah. Daya tarik lainnya, yaitu sampur yang dibentuk berupa sayap pada bagian bahu.
-
NGLEKERKarya tari ini terinspirasi dari permainan tradisional anak-anak yang berasal dari Yogyakarta, yaitu Permainan Jamuran. Permainan ini memiliki kesan yang sangat energik dan biasanya dimainkan di luar ruangan atau di halaman yang cukup luas, serta melibatkan jumlah pemain yang tidak terbatas. Gerak dominan dalam permainan Jamuran bersifat melingkar. Hal ini terlihat dari cara bermainnya, di mana satu orang berdiri di tengah sebagai batang atau pusat, sementara pemain lainnya bergandengan tangan membentuk lingkaran mengelilingi batang tersebut. Berdasar karakter permainan tersebut, karya tari ini diberi judul “Ngleker”. Kata “Ngleker” diambil dari bahasa Jawa yang berarti melingkar, sejalan dengan pola gerak utama yang digunakan dalam permainan Jamuran. Karya tari “Ngleker” digarap dalam bentuk tari kelompok yang ditarikan oleh tujuh orang penari. Tari ini bertipe murni dan mengangkat tema non-literer. Proses kreatif penciptaannya menggunakan metode tari kontemporer yang dikemukakan oleh F.X. Widaryanto yang meliputi tiga tahapan utama: eksplorasi, komposisi, dan evaluasi. Pola gerak serta karakter energik Permainan Jamuran menjadi dasar dalam penciptaan karya ini, kemudian dipadukan dengan gerak-gerak sehari-hari yang diperkuat melalui pengolahan unsur teknik tari seperti tenaga, ruang, dan waktu. Melalui proses tersebut, lahirlah sebuah karya tari berjudul “Ngleker” sebuah interpretasi artistik dari semangat permainan tradisional dalam bentuk ekspresi tari kontemporer.
-
TARI JAIPONGAN KIDUNG SILAYUNG KARYA AYEP DI PADEPOKAN SENI TUNJUNG BALEBAT KABUPATEN BANDUNG BARATAbah Ayep merupakan seorang kreator Tari Jaipongan yang konsisten dan produktif menciptakan karya Tari Jaipongan, salah satunya adalah tari Jaipongan “Kidung Silayung”. Karya tari ini memiliki daya tarik tersendiri, terutama dari aspek gerak yang khas seperti; ngecrik dalam kegiatan nelayan ketika menangkap ikan, liukan gerakan ikan, dan beberapa jurus penca. Karya tari ini terinspirasi dari kondisi kerusakan lingkungan Situ Ciburuy yang diusung menjadi tema. Adapun fokus penelitian ini tertuju pada bagaimana kreativitas Ayep dalam menciptakan Tari Jaipongan Kidung Silayung di Padepokan Seni Tunjung Balebat Kabupaten Bandung Barat. Landasan konsep pemikiran Rhodes mengenai 4P (Person, Process, Press, Product) digunakan sebagai acuan untuk mendapatkan jawaban, sejalan dengan konsep pemikiran tersebut, dalam operasionalnya digunakan metode Kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dengan langkah-langkah meliputi; studi pustaka, studi lapangan, dan analisis data. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa wujud karya tari Kidung Silayung ini memiliki dua dimensi, yaitu: Pertama, kreativitas Ayep dalam penciptaan Tari Jaipongan Kidung Silayung sangat ditentukan oleh adanya person, process, press, product sebagaimana disampaikan Rhodes (4P) yang masing-masing membangun keterkaitan erat saling mempengaruhi dan melengkapi menjadi satu kesatuan bentuk yang utuh secara visual estetik-artistik; Kedua, karya tari Jaipongan Kidung Silayung mampu menyampaikan pesan moral dan sosial kepada masyarakat seperti yang terkandung dalam tema Tari Jaipongan Kidung Silayung yaitu agar lebih peduli terhadap pelestarian alam yang terkandung dalam kearifan budaya lokal. Dengan demikian, proses kreatif Ayep menghasilkan karya tari yang otentik dan bermakna.
-
CHANCHALAHProses kreatif penciptaan karya tari ini mengangkat tentang persoalan nikah siri yang banyak terjadi di berbagai daerah termasuk di Jawa Barat. Karya tari ini diberi judul “Chanchalah” berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti resah. Resah yang dimaksudkan dalam karya tari ini adalah perasaan dari seorang perempuan yang mengalami kekecewaan akibat nikah siri, serta sebuah keinginan untuk keluar dari persoalan tersebut. Diharapkan persoalan yang dijadikan sebagai gagasan karya tari ini dapat menjadi sebuah pesan edukasi bagi perempuan terhadap dampak nikah siri. Karya tari ini menggunakan metode pola garap tari kontemporer dengan tipe tari dramatik, berbentuk tari kelompok yang ditarikan oleh lima orang penari (tiga orang perempuan dan dua orang laki-laki). Landasan konsep garap tentang tipe dramatik yang dipakai pada karya ini adalah konsep Jacqueline Smith, sedangkan untuk metode penciptaan menggunakan metode Y. Sumandiyo Hadi yang meliputi tahap Eksplorasi, Improvisasi dan Komposisi. Adapun capaian dari karya “Chanchalah” ini adalah untuk pengingat pada masyarakat supaya mentaati peraturan Agama dan Negara. Karya ini diharapkan dapat menyampaikan pesan moral tentang akibat yang sangat rentan dalam pernikahan siri baik terhadap individu dirnya sendiri maupun keluarga.
-
NAFIQNAFIQ berasal dari bahasa Arab memiliki arti munafik. Karya tari ini mengisahkan tentang seorang manusia (perempuan) pilihan yang memiliki sifat egois. Proses penciptaan karya NAFIQ yang terinspirasi dari kesenian Sintren khususnya dari Cirebon. Sintren merupakan kesenian yang mengandung unsur magis dan hanya dapat dimainkan oleh orang tertentu. Karya tari ini berfokus pada sosok penari Sintren yang diyakini bukan sembarang orang. Dalam tafsir penulis, ditunjukan bahwa manusia tidaklah sempurna: mereka memiliki sisi baik dan buruk, namun selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Landasan teori yang digunakan dalam karya tari ini kreativitas dari Wallas, sementara metode garap yang digunakan merujuk pada pendekatan Y. Sumandiyo Hadi. Karya tari NAFIQ disajikan dalam bentuk tari kelompok, bertipe dramatik dan diwujudkan dalam pola garap kontemporer. Sebuah karya tari tidak akan terwujudtanpa dari tiga unsur utama, yaitu koreografi, musik, dan artistik. Hasil yang dicapai dari karya tari NAFIQ, sebagai pelajaran bagi manusia bahwa tidak boleh bersikap egois.
-
KAMAKama merupakan judul dari karya tari ini, diambil dari kata sansekerta, yang mempunyai arti keinginan. Keinginan yang dimaksud dalam karya tari ini adalah keinginan untuk memperjuangkan serta memajukan pendidikan bagi kaum perempuan. Karya ini terinspirasi dari salah satu tokoh Garut yaitu Raden Ayu Lasminingrat yang merupakan pahlawan pendidikan bagi kaum perempuan. Karya tari ini mencoba menafsirkan kembali perjuangan Raden Ayu Lasminingrat dalam bidang pendidikan. Karya Kama berfokus pada semangat perempuan dan keberanian dalam memperjuangkan pendidikan untuk kaum perempuan. Adapun nilai dalam karya tari ini adalah tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan agar memperoleh hak yang setara serta kesempatan yang sama dalam kehidupan. Karya tari ini ditarikan dengan bentuk kelompok, bertipe dramatik, serta menggunakan pola garap tari kontemporer. Proses penciptaan karya tari ini menggunakan motode garap Y. Sumandiyo Hadi yang meliputi beberapa tahapan yaitu eksplorasi, Improvisasi dan komposisi. Adapun capaian karya ini yaitu untuk mengapresiasi perjuangan Raden Ayu Lasminingrat dalam menyebarluaskan semangat perempuan dalam meningkatkan akses pendidikan bagi perempuan. Merepresentasikan nilai-nilai emansipasi serta memperkuat peran seni pertunjukan sebagai pewaris nilai-nilai historis.
-
BURUNG PHOENIX SEBAGAI CITRA PERUSAHAAN INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI MONUMENTAL, BASED PROJECT PERUSAHAAN PENGEMBANG PERUMAHAN SUBSIDI DAN KOMERSIL PT.PANCA MULIA PERSADAPenelitian ini berfokus pada penciptaan karya seni patung monumental yang merepresentasikan citra perusahaan PT. Panca Mulia Persada, sebuah pengembang perumahan subsidi dan komersial. Patung monumental ini menggunakan simbol Burung Phoenix sebagai elemen utama, yang melambangkan pembaruan, kebangkitan, dan transformasi. Dalam konteks ini, Burung Phoenix dipilih karena relevansinya dengan visi dan misi perusahaan yang selalu berusaha untuk mengubah lahan yang belum berkembang menjadi kawasan hunian yang bernilai dan berkelanjutan. Penelitian ini membahas pentingnya seni patung monumental dalam memperkuat identitas visual wilayah, khususnya dalam sektor pembangunan perumahan. Patung yang dihasilkan tidak hanya bertujuan sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai instrumen komunikasi untuk memperkenalkan nilai-nilai perusahaan kepada masyarakat luas. Dengan menggunakan teknik cetak resin, karya ini diharapkan dapat menciptakan hubungan emosional antara penghuni dengan lingkungan tempat tinggal mereka, sekaligus memperkuat citra perusahaan sebagai pengembang yang visioner dan peduli terhadap budaya lokal. Melalui pendekatan ini, penelitian ini juga mengkaji tantangan dan realitas dalam penciptaan karya seni monumental di ruang publik, yang seringkali berinteraksi dengan berbagai kepentingan eksternal dan keterbatasan sumber daya.
-
SELF-HARM : SENI INSTALASI SEBAGAI MEDIUM EKSPRESI TRAUMAKarya seni merupakan medium ekspresi yang mampu merepresentasikan pengalaman emosional personal maupun kolektif. Dalam penciptaan karya ini, penulis mengangkat tentang isu Kesehatan mental khususnya fenomena self-harm, terlebih di era digital saat ini isu Kesehatan mental semakin relevan. Pengalaman ini dituangkan ke dalam karya instalasi dengan menggunakan media sehari – hari yang dekat dengan kehidupan manusia, seperti bantal dan pisau sebagai simbol yang kontras antara rasa aman dan rasa sakit. Fenomena self-harm dipilih bukan hanya sebatas refleksi pengalaman pribadi, tetapi juga sebagai cerminan persoalan mental yang lebih luas. Diharapkan karya ini dapat membuka ruang dialog dan kontemplasi bagi audiens dalam pemaknaan atas pengalaman luka dan proses pemulihan.
-
KEMULIAAN SUNAN AMBU REFLEKSI MASA KINI SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA LUKISPenciptaan ini merekontekstualisasi nilai-nilai luhur perempuan dalam budaya Sunda melalui medium seni lukis, dengan menggabungkan kekuatan visual budaya tradisi melalui pendekatan kontemporer, dalam hal ini figur mitologis Sunan Ambu sebagai sumber gagasan utama, yang dipandang memiliki nilai-nilai kemuliaan, kasih sayang, kebijaksanaan, keadilan, pemberi berkah dan pemberi pertolongan. Sosok Sunan Ambu dimetaforavisualkan ke dalam figur perempuan bergaya ekspresionisme. Proses kerja karya ini menggunakan metode practice-led research, yakni proses penciptaan karya melalui observasi, eksplorasi bentuk dan teknik, penguatan pokok gagasan serta implementasi konsep sehingga menghasilkan karya sebagai ekspresi artistik yang berkait dengan isu pergeseran nilai perempuan pada masa kini.
-
PENCIPTAAN PATUNG DIORAMA HEWAN ENDEMIK PAPUA BERDASARKAN KEUNIKAN FISIK DAN PERILAKU (Tugas Akhir Project Based: PT Artes Indonesia – Museum Hewan di Papua)Tugas akhir ini merupakan penciptaan karya seni berbasis proyek yang berfokus pada perwujudan patung diorama fauna endemik Papua. Tiga spesies yang diangkat sebagai objek utama adalah Crocodylus novaeguineae (Buaya Irian), Zaglossus bruijni (Nokdiak), dan Probosciger aterrimus (Kakatua Raja). Ketiga hewan tersebut dipilih berdasarkan keunikan fisik dan perilaku khasnya, serta pentingnya mereka dalam ekosistem Papua. Proses penciptaan dilakukan dengan pendekatan riset morfologi dan etologi, melalui studi pustaka dan observasi visual, yang dilanjutkan dengan tahapan sketsa, pembuatan maket, pencetakan, dan pengecoran menggunakan material seperti resin dan silikon. Tujuan dari karya ini tidak hanya untuk menampilkan bentuk realistis dari fauna Papua, tetapi juga untuk menghadirkan narasi edukatif yang mampu menumbuhkan kesadaran publik terhadap pelestarian spesies langka. Karya ini dirancang agar dapat digunakan sebagai media visual di museum, khususnya untuk memperkuat fungsi edukasi dan interpretasi tentang keanekaragaman hayati Papua. Pendekatan estetika yang digabungkan dengan data ilmiah menjadi kunci dalam menghasilkan representasi yang informatif sekaligus menarik secara visual.
-
FRAGMEN MEMORI: KOPI SEBAGAI MEDIA EKSPRESI DALAM KARYA SENI LUKIS ABSTRAKSeni rupa kontemporer telah berkembang menjadi medium ekspresi yang tidak hanya merepresentasikan bentuk visual, tetapi juga menghadirkan pengalaman batin, refleksi personal, dan pencarian makna melalui pendekatan yang intuitif dan konseptual. Dalam perkembangan tersebut, seni lukis abstrak menempati posisi penting sebagai ruang pengolahan emosi yang tidak terikat pada bentuk representasional. Gagasan yang tidak terucapkan secara verbal, termasuk memori dan trauma personal, dapat diekspresikan melalui warna, tekstur, dan struktur visual yang terbuka terhadap interpretasi. Karya ini mengangkat tema memori sebagai pengalaman psikologis yang bersifat personal dan fragmentaris. Melalui pendekatan seni lukis abstrak, pengkarya merepresentasikan fragmen-fragmen ingatan dalam bentuk nonfiguratif yang diolah menggunakan medium kopi. Pemilihan kopi tidak hanya didasarkan pada karakter visualnya yang khas, tetapi juga karena sifat simboliknya sebagai jejak cairan yang menyerap, mengering, dan meninggalkan residu, layaknya kenangan dalam kesadaran manusia. Proses penciptaan dilakukan secara intuitif melalui teknik pouring, dripping, dan layering, menghasilkan bentuk-bentuk organis dan spontan. Setiap fragmen karya menyimpan lapisan emosi yang berbeda dan disusun dalam struktur 1:1, menciptakan narasi visual yang menyampaikan transisi perasaan dari kegelisahan, tekanan, hingga kontemplasi. Pendekatan ini dikaji melalui konsep trace dari Jacques Derrida yang menyatakan bahwa jejak dari sesuatu yang telah berlalu tetap aktif membentuk makna. Warna-warna kopi yang bersifat earthy juga diperkuat melalui teori warna dari David Hornung yang menghubungkannya dengan kesan waktu dan nostalgia. Selain itu, teori seni sebagai bentuk pemulihan emosional dari Menurut Malchiodi (2007) praktik artistik dapat menjadi sarana reflektif untuk memproses pengalaman batin. Karya ini tidak hanya menjadi representasi visual dari memori, tetapi juga menjadi ruang penyembuhan personal, eksplorasi medium non-tradisional, dan upaya pengarsipan emosi melalui bentuk yang tak terikat oleh figur. Medium kopi menjadi metafora yang menyatu dengan proses, bentuk, dan warna mengubah setiap fragmen menjadi bagian dari kesadaran yang terpecah namun saling terhubung.
-
STRATEGI GRUP CUTA MUDA DALAM MELESTARIKAN KESENIAN REAKPenelitian ini membahas strategi yang diterapkan oleh Grup Cuta Muda dalam melestarikan kesenian Reak di tengah tantangan modernisasi dan merosotnya minat generasi muda terhadap seni tradisional. Reak, sebagai bagian dari warisan budaya Sunda, menghadapi tekanan untuk tetap relevan di era yang didominasi budaya populer dan digital. Untuk menjawab tantangan tersebut, Cuta Muda melakukan berbagai inovasi dengan pendekatan yang terstruktur dan berorientasi pada karakteristik audiens masa kini. Menggunakan metode kualitatif studi kasus, penelitian ini mengumpulkan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi aktivitas komunitas. Analisis didasarkan pada teori Difusi Inovasi dari Everett Rogers, yang menjelaskan bagaimana suatu inovasi menyebar dalam masyarakat melalui tahapan adopsi. Hasilnya menunjukkan bahwa Cuta Muda berhasil mengintegrasikan elemen musik modern ke dalam komposisi Reak, mempercantik tampilan visual pertunjukan, dan secara aktif memanfaatkan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube untuk menjangkau audiens muda serta membangun interaksi yang lebih luas. Kehadiran konten kreator yang turut mengangkat pertunjukan mereka di media digital turut mempercepat proses adopsi kesenian ini di kalangan generasi baru. Strategi-strategi tersebut membuat pertunjukan Reak tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga sarana hiburan yang kontekstual dan menarik bagi publik masa kini. Dengan demikian, pelestarian kesenian tradisional seperti Reak dapat berhasil bila inovasi dilakukan secara terarah, adaptif, dan tetap berpijak pada nilai-nilai budaya aslinya.
-
ORNAMEN PADA FASAD GEDUNG SATE SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI PATUNGKota Bandung sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat memiliki sejarah perkembangan yang tidak terlepas dari peran pemerintah kolonial Belanda. Perpindahan pusat pemerintahan ke Kota Bandung mendorong pembangunan signifikan di wilayah Bandung dan Cimahi, dengan fokus tidak hanya kepada pertumbuhan ekonomi tetapi juga pembangunan infrastruktur pemerintahan. Bangunan peninggalan era kolonial kini menjadi bangunan heritage yang menyimpan nilai historis sebagai warisan budaya Kota Bandung. Kompleksitas elemen visual dan kekhasan arsitektur bangunan heritage menghadirkan peluang eksplorasi yang signifikan dalam pengembangan visual dan rupa melalui medium seni patung. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bentuk arsitektur bangunan heritage Gedung Sate dalam seni patung dengan mempertimbangkan prinsip komposisi seperti harmoni, kesatuan, dan keseimbangan juga pendekatan semiotika yang digunakan untuk membantu pemaknaan karya. Pemilihan bangunan heritage Gedung sate sebagai gagasan utama didasari kemampuannya dalam menghubungkan masa lalu dengan masa kini serta relevansi dengan isu pelestarian bangunan heritage dan citra kota. Metode penciptaan karya menggunakan pendekatan Three Processes of Creation yang terdiri dari tiga tahapan utama. Pertama, tahap eksplorasi untuk membangun bentuk dan menggali ide pokok terkait Gedung Sate dan seni patung. Kedua, tahap improvisasi yang meliputi pertimbangan konsep bentuk dan pembuatan sketsa dengan memperhatikan prinsip-prinsip desain. Ketiga, tahap perwujudan menggunakan teknik memahat (carving), cor (casting), dan teknik perakitan (assembly), menggunakan kombinasi material batu, beton dan bahan industri seperti kaca, resin, logam, besi, dan akrilik. Karya yang tercipta diharapkan tidak hanya menangkap esensi arsitektur Gedung Sate namun juga memperkuat hubungan antara seni rupa dan arsitektur. Eksplorasi artistik yang menerjemahkan elemen-elemen bangunan Gedung Sate ke dalam bentuk patung masih jarang dilakukan menciptakan peluang sekaligus tantangan dalam pengembangan bahasa visual baru. Hasil akhir karya diharapkan dapat menawarkan pengalaman baru dalam mengapresiasi bangunan heritage dan memicu masyarakat serta pemerintah dalam menjaga warisan budaya Kota Bandung.
-
TREMENDUM ET FASCINANS TRANSFORMASI WUJUD RANGDA SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA DRAWINGRangda merupakan salah satu folklore dari Bali dengan makna simbolis yang kuat dan menjadi sumber inspirasi dalam ekspresi berkesenian. Penciptaan karya ini mengangkat transformasi wujud Rangda sebagai ide penciptaan karya drawing dengan pendekatan interpretasi dan reinterpretasi. Interpretasi dilakukan melalui pemahaman terhadap budaya, mitos, sejarah, dan narasi yang melatarbelakangi sosok Rangda, serta alasan terjadinya transformasi dan peristiwa-peristiwa yang menyertainya. Reinterpretasi mengacu pada pemberlakuan berbagai perubahan, modifikasi, perombakan, diversifikasi atau bahkan inovasi bentuk, dan wujud. Charcoal digunakan secara ekspresif untuk menciptakan bentuk Rangda yang berbeda, dengan lebih menerjemahkan pengalaman batin penulis dengan mewujudkannya kedalam bentuk karya. Karya ini akan berbentuk panel progresi visual, dengan setiap panel saling terhubung satu sama lain untuk menampilkan alur yang utuh. Pendekatan ekspresionis digunakan untuk mengungkapkan emosi mendalam, suasana mengerikan, serta transformasi sosok Rangda dalam karya drawing. Media charcoal dipilih karena kemampuannya menghadirkan kontras tajam, goresan ekspresif, gelap, dan dramatis. Penciptaan karya ini merupakan sebuah proses dalam upaya untuk memahami dan menerjemahkan pengalaman batin penulis, dengan harapan mampu mewujudkannya kedalam bentuk karya visual yang ‘mengerikan’ dan memesona.
-
PENDEKATAN ESTETIKA NATURALISME SEBAGAI LANDASAN ANALISIS KARYA STUDIO LUKIS II JURUSAN SENI RUPA MURNI FSRD ISBI BANDUNGPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendekatan estetika naturalisme dalam karya mahasiswa pada mata kuliah Studio Lukis II di Jurusan Seni Rupa Murni FSRD ISBI Bandung. Pendekatan estetika naturalisme dipilih karena relevansinya dalam menggambarkan kenyataan alam secara akurat, serta perannya sebagai dasar teknis dan visual dalam pembelajaran seni lukis lanskap. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan estetika naturalisme. Data diperoleh melalui studi dokumentasi karya mahasiswa, observasi, serta wawancara dengan dosen dan mahasiswa. Sampel karya dianalisis menggunakan indikator visual naturalisme yang disusun berdasarkan unsur rupa dan unsur naturalisme seperti komposisi, pencahayaan, perspektif, kedalaman, serta teknik dan akurasi. Metode analisis karya menggunakan kritik formalistik berdasarkan indikator visual naturalisme yang telah disusun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar karya mahasiswa belum memenuhi kriteria dasar naturalisme, karena kecenderungan mahasiswa lebih menekankan kepada kesan dibandingkan detail.
-
“SOSIAL POLITIK DALAM SENI RUPA DI INDONESIA: PADA PRAKTIK DAN KARYA KOLEKTIF UDEIDO”Kolektif seni rupa yang berasal dari Papua bernama Udeido Kolektif, muncul pada medan seni rupa kontemporer dengan membawa pesan sosial-politik dari realitas masyarakat papua. Mereka juga menyampaikan pesan dengan karya serta praktik mereka sebagai cerminan bagaimana masyarakat Papua. Hal demikian menjadi khazanah baru dalam medan seni rupa Indonesia. Dengan karya-karya mereka yang membawakan pesan tertentu kepada publik menjadikan suatu fenomena tertentu. Udeido Collective, menyampaikan pemikiran dan refleksinya tentang berbagai isu yang berkelindan di antara lanskap sejarah kolonialisme, penindasan, perebutan kekuasaan dengan pemerintah Indonesia, hilangnya artefak dan tradisi seremonial berbagai suku bangsa asli, perubahan bentang alam, degradasi lingkungan, kekuatan dan kerapuhan spiritualitas, dan sebagainya.
-
REINTERPRETASI KISAH SINTA OBONG SEBAGAI IDE PENCIPTAAN SENI LUKISPerubahan sosial akibat modernisasi telah memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap nilai-nilai tradisional, termasuk persepsi mengenai perempuan dan kesuciannya. Kisah Sinta Obong dari epos Ramayana, secara historis dipahami sebagai simbol kemurnian atau kesucian perempuan, kini menghadapi interpretasi baru di tengah tarik-menarik antara nilai lama dan kebebasan dalam budaya modern. Terdapat kesenjangan dalam kajian visual yang mengkritisi makna simbolik kesucian perempuan dari cerita Sinta Obong melalui medium seni lukis, khususnya dalam konteks sosial saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk merefleksikan kembali posisi perempuan melalui penciptaan karya seni lukis melalui pendekatan simbolik dan surealistik, sebagai bentuk perenungan dan kritik atas pergeseran nilai kesucian dan peran sosial perempuan di tengah arus modernitas.. Penelitian menggunakan metode kualitatif dan proses kreasi menurut teori ICS-USI-USA. Tahapan yang dilalui meliputi persiapan, mengimajinasi, pengembangan, dan pengerjaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa visualisasi simbol-simbol seperti bunga melati merepresentasikan kritik nilai sosial pada perempuan. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa seni lukis bukan hanya media ekspresi estetis, melainkan sarana kritik dan refleksi terhadap pergeseran nilai dalam masyarakat.
-
PERAN PEREMPUAN DALAM RUMAH TANGGA SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN SENI KERAMIKPeran perempuan dalam ruang lingkup domestik adalah untuk mengurus rumah, mempercantik, dan mendidik anak hal tersebut adalah hasil dari sebuah konstruksi yang tercipta di masyarakat. Pengalaman empirik tumbuh besar didalam sebuah keluarga yang tergolong dalam keluarga menengah kebawah melihat begitu sulitnya perempuan memikul beban kerja ganda antara mengurus rumah dan mencari uang timbul kesadaran akan kurangnya apresiasi terhadap perempuan atau yang sering kita sebut ibu di rumah yang telah mendedikasikan seumur hidupnya untuk melayani, mengurus, dan mendidik. Karya ini diciptakan dengan tujuan sebagai bentuk apresiasi terhadap seluruh perempuan yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengurus rumah dan mendidik anak. Metode yang digunakan dalam penciptaan ini berupa tahapan proses keatif, ada tiga tahapan yaitu upaya menemukan gagasan, proses penyempurnaan, lalu proses visualisasi medium, bentuk karya yang akan dihasilkan berupa piring, gelas, mangkuk, vas, dan guci yang terbuat dari tanah liat stoneware. Keramik yang dibuat memiliki satu kesatuan dalam satu judul karya yang ditampilkan menjadi instalasi seni. Hasil akhir dari karya yang diciptakan diharapkan dapat membuka kesadaran terhadap masyarakat akan pentingnya mengapresiasi kerja keras yang telah dilakukan oleh perempuan yang mendapat peran sebagai ibu.
-
ORANG-ORANGAN SAWAH SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI INSTALASIOrang-orangan sawah dikenal sebagai alat tradisional untuk mengusir hama di lahan pertanian. Namun lebih dari sekadar alat, ia juga memiliki nilai budaya yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat agraris. Seiring dengan perkembangan zaman dan berkurangnya lahan pertanian, keberadaan orang-orangan sawah mulai terpinggirkan dan kehilangan fungsinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perubahan makna orang-orangan sawah dalam konteks seni kontemporer, khususnya melalui karya seni instalasi. Dalam karya ini, orang-orangan sawah diangkat kembali sebagai simbol reflektif yang membahas hubungan antara manusia, alam, dan budaya ditengah modernisasi. Proses penciptaan karya menggunakan pendekatan kritik seni Feldman yang mencakup empat tahap: deskripsi, analisis formal, interpretasi, dan evaluasi. Selain itu, teori proses kreatif dari Graham Wallas juga digunakan yaitu melalui tahapan persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Melalui pendekatan ini, karya tidak hanya menampilkan visual yang estetik tetapi juga membangun makna baru bagi orang-orangan sawah sebagai simbol yang merepresentasikan kondisi sosial petani saat ini. Karya ini diharapkan dapat menjadi media refleksi terhadap perubahan budaya pertanian serta peran tradisi dalam dunia modern.
-
POTRET SEPASANGMEMPELAI: REINTERPRETASI TRADISI MAPPASIALA DALAMKARYAMIXED MEDIAGAYAKUBISTIKDi era modern, praktik perjodohan paksa seharusnya tidak lagi diberlakukan, khususnya dalam institusi pernikahan yang menekankan hak maupun pendapat pribadi dalam memilih. Tradisi Mappasiala sebuah bentuk perjodohan paksa yang masih ditemukan di wilayah Sulawesi menjadi fokus dalam karya ini, yang berangkat dari pengalaman personal penulis melalui kisah sang ibu yang menolak perjodohan dan memilih menentukan pasangannya sendiri, tindakan yang dalam budaya Bugis dianggap sebagai pelanggaran terhadap nilai siri’. Melalui karya bertajuk “Potret Sepasang Mempelai: Reinterpretasi Tradisi Mappasiala dalam karya Mixed Media Gaya kubistik”, penulis menghadirkan jumlah total delapan karya mix media dengan gaya kubistik yang mampu membentuk ruang dialog reflektif akan pentingnya kesadaran ruang berekspresi individu dalam menentukan pasangan hidup, sekaligus menawarkan reinterpretasi terhadap tradisi melalui pendekatan seni kontemporer yang kontekstual dan relevan dengan perkembangan zaman.
-
RONA: VISUALISASI EMOSI PADA EKSPRESI WAJAH SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA LUKISMigrasi merupakan fenomena yang telah lama menjadi bagian dari sejarah Indonesia dan terus berlangsung hingga kini. Indonesia yang kaya akan budaya menghadirkan tantangan tersendiri bagi para migran, salah satunya dalam hal komunikasi antarbudaya. Perbedaan bahasa, pola pikir, lingkungan sekitar, serta gaya hidup antara migran dan masyarakat lokal mengharuskan adanya proses adaptasi oleh migran. Selama proses adaptasi berlangsung, beragam emosi muncul. Emosi ini mencerminkan perjuangan dan upaya individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda. Tugas akhir ini diangkat dari pengalaman pribadi penulis yang melakukan migrasi dari kota Tangerang Selatan ke pedesaan Yogyakarta. Melalui media lukisan, penulis berupaya memvisualisasikan emosi-emosi yang muncul selama penulis mengalami proses adaptasi dengan lingkungan baru. Hasil dari keseluruhan proses ini adalah enam buah lukisan potret diri dengan gaya ekspresionistik yang menceritakan perubahan emosi yang muncul silih berganti.
-
“LAUT ADALAH IBU”: INTERPRETASI LAUT SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA LUKIS SUREALISPengkaryaan ini berangkat dari permasalahan tentang bagaimana laut dari berbagai budaya digambarkan sebagai sesuatu yang penuh dengan teka-teki, asal mula kehidupan, dan seringkali mengandung banyak cerita magis. Salah satunya adalah laut yang dianggap sebagai sosok ibu yang penuh kasih. Laut juga memiliki peran penting dalam menopang kehidupan dan kesejahteraan umat manusia. Laut tidak hanya menjadi elemen dalam narasi tetapi juga simbol penting dalam menggambarkan emosi dan harapan manusia. Hal ini menegaskan pandangan pengkarya bahwa laut memiliki interpretasi yang tidak hanya dipahami dari segi fisiknya sebagai bentang alam, tetapi juga dapat menciptakan ruang untuk mengekspresikan seni dan sebagai refleksi diri. Sehingga sering kali menggambarkan bagaimana laut dapat memengaruhi perasaan serta jiwa manusia. Dalam pengkaryaan ini, pengkarya menggunakaan metode penciptaan berdasarkan pandangan L.H. Chapman yang dikenal karena teorinya tentang proses penciptaan seni, dengan proses kreatifnya yang melibatkan tiga tahapan utama; eksplorasi, eksperimen, dan evaluasi untuk menghasilkan karya yang menggambarkan interpretasi laut adalah ibu dengan gaya lukis surealis. Hasil penelitian ini adalah serangkaian karya lukis dengan ukuran 60X80 cm sebanyak tiga buah dan 200x100 cm sebanyak satu buah karya. Pengkarya memanfaatkan elemen ombak, arus, dan kedalaman laut sebagai wujud interpretasi yang merefleksikan kasih ibu, sekaligus mencerminkan peran ganda seorang ibu sebagai pemberi kehidupan dan pelindung dari bahaya. Elemen-elemen simbolik ditambahkan untuk memperkuat pesan, seperti visualisasi karya dengan simbolisasi wanita seperti rambut dan perahu serta berbagai objek penghuni laut. Bentuk ombak yang melingkupi, serta kehadiran makhluk laut, turut melambangkan kehidupan yang terkait dengan peran ibu.
-
TRI TANGTU: REFLEKSI KESEIMBANGAN EGRANG SEBAGAI PENCIPTAAN KARYA SENI LUKISPermainan tradisional merupakan warisan budaya yang kaya akan nilai filosofis, sosial, dan kreatif. Namun, perkembangan zaman menyebabkan permainan tradisional menggeser minat masyarakat akan budaya daerah. Di Indonesia, terdapat sekitar 2.600 jenis permainan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk di Jawa Barat dengan istilah Kaulinan Barudak. Salah satu permainan khas Jawa Barat adalah Jajangkungan atau dikenal sebagai egrang, yang menggunakan dua batang bambu sebagai alat utama dan membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan sebagai metafora di tengah tantangan modernisasi yang kompleks, tumbuh dalam tekanan sosial dan ketidakpastian. Metode yang digunakan yaitu teori L.H. Chapman yaitu menemukan gagasan (inception of an idea), menyempurnakan, mengembangkan, dan memantapkan gagasan awal (elaboration and refinement), serta visualisasi ke dalam medium (heention in a medium). Dalam tugas akhir ini menciptakan karya seni lukis dengan eksplorasi gaya pop surealis menggunakan objek egrang sebagai representasi visual. Diharapkan dapat menarik perhatian melalui elemen visual yang unik dan memantik refleksi mengenai mengenai pentingnya keseimbangan, dan menjaga keberlanjutan budaya tradisional di tengah perubahan zaman.
-
“MASAGI” SIMBOLISME PERTAHANAN EGO SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS STILL LIFEPada kebudayaan Sunda terdapat filosofi masagi yang berfokus pada pencarian kesempurnaan dan integrasi pengalaman hidup, namun dengan adanya goncangan, kecemasan dan trauma, maka kesempurnaan tersebut sulit untuk diraih. Untuk melindungi ego dari perasaan cemas dan pengalaman traumatis yang dihadapi oleh manusia, maka muncul mekanisme pertahanan ego. Mekanisme pertahanan ego ini menjadi alat bagi manusia untuk mengelola emosi dan goncangan batin yang dirasakan ketika dipicu oleh satu dan lain hal. Dalam skripsi ini, penulis bertujuan untuk merepresentasikan mekanisme pertahanan ego Sigmund Freud melalui simbol yang digambarkan oleh benda-benda yang dekat dengan kehidupan sehari-hari manusia sebagai ajang perenungan akan identitas dan kepribadian diri. Metode penciptaan yang digunakan dalam karya ini diantaranya terdapat tahap pengumpulan data, inkubasi, eliminasi, dan verifikasi. Setiap karya yang diciptakan memuat objek topeng sebagai simbol ego. Lukisan ini disajikan dengan pendekatan seni lukis still life dengan gaya realis menggunakan cat minyak di atas kanvas.
-
SAREUPNA” REINTERPRETASI TRADISI PAMALI SEBAGAI PENCIPTAAN KARYA SENI LUKISPamali merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat Indonesia yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui praktiknya dalam masyarakat. Dalam masyarakat Sunda, pamali berperan sebagai bentuk pengendalian sosial yang memasukkan etika dan nilai melalui larangan atau tabu, terutama dalam konteks kehidupan sehari-hari anak-anak, kehidupan sosial, batasan waktu dan tempat. Penciptaan tugas akhir ini berangkat dari fenomena pudarnya nilai tradisi pamali, khususnya larangan aktivitas saat menjelang Maghrib pada generasi muda saat ini. Karya lukisan ini merupakan bentuk reinterpretasi terhadap tradisi pamali tersebut dengan menggunakan pendekatan parodi sebagai gaya visualnya. Visual lukisan ini menggabungkan unsur bernuansa horor dan kelucuan, serta memadukan simbol-simbol tradisi. Melalui eksplorasi visual yang lucu dan jenaka, pamali tidak lagi ditampilkan sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai dialog budaya yang reflektif serta terbuka untuk dimaknai ulang. Karya lukisan ini berjumlah 3 buah kanvas menggunakan cat akrilik, yang setiap karyanya mengilustrasikan ungkapan-ungkapan pamali waktu menjelang Maghrib.
