Items
-
TREMENDUM ET FASCINANS TRANSFORMASI WUJUD RANGDA SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA DRAWINGRangda merupakan salah satu folklore dari Bali dengan makna simbolis yang kuat dan menjadi sumber inspirasi dalam ekspresi berkesenian. Penciptaan karya ini mengangkat transformasi wujud Rangda sebagai ide penciptaan karya drawing dengan pendekatan interpretasi dan reinterpretasi. Interpretasi dilakukan melalui pemahaman terhadap budaya, mitos, sejarah, dan narasi yang melatarbelakangi sosok Rangda, serta alasan terjadinya transformasi dan peristiwa-peristiwa yang menyertainya. Reinterpretasi mengacu pada pemberlakuan berbagai perubahan, modifikasi, perombakan, diversifikasi atau bahkan inovasi bentuk, dan wujud. Charcoal digunakan secara ekspresif untuk menciptakan bentuk Rangda yang berbeda, dengan lebih menerjemahkan pengalaman batin penulis dengan mewujudkannya kedalam bentuk karya. Karya ini akan berbentuk panel progresi visual, dengan setiap panel saling terhubung satu sama lain untuk menampilkan alur yang utuh. Pendekatan ekspresionis digunakan untuk mengungkapkan emosi mendalam, suasana mengerikan, serta transformasi sosok Rangda dalam karya drawing. Media charcoal dipilih karena kemampuannya menghadirkan kontras tajam, goresan ekspresif, gelap, dan dramatis. Penciptaan karya ini merupakan sebuah proses dalam upaya untuk memahami dan menerjemahkan pengalaman batin penulis, dengan harapan mampu mewujudkannya kedalam bentuk karya visual yang ‘mengerikan’ dan memesona.
-
PENDEKATAN ESTETIKA NATURALISME SEBAGAI LANDASAN ANALISIS KARYA STUDIO LUKIS II JURUSAN SENI RUPA MURNI FSRD ISBI BANDUNGPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendekatan estetika naturalisme dalam karya mahasiswa pada mata kuliah Studio Lukis II di Jurusan Seni Rupa Murni FSRD ISBI Bandung. Pendekatan estetika naturalisme dipilih karena relevansinya dalam menggambarkan kenyataan alam secara akurat, serta perannya sebagai dasar teknis dan visual dalam pembelajaran seni lukis lanskap. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan estetika naturalisme. Data diperoleh melalui studi dokumentasi karya mahasiswa, observasi, serta wawancara dengan dosen dan mahasiswa. Sampel karya dianalisis menggunakan indikator visual naturalisme yang disusun berdasarkan unsur rupa dan unsur naturalisme seperti komposisi, pencahayaan, perspektif, kedalaman, serta teknik dan akurasi. Metode analisis karya menggunakan kritik formalistik berdasarkan indikator visual naturalisme yang telah disusun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar karya mahasiswa belum memenuhi kriteria dasar naturalisme, karena kecenderungan mahasiswa lebih menekankan kepada kesan dibandingkan detail.
-
“SOSIAL POLITIK DALAM SENI RUPA DI INDONESIA: PADA PRAKTIK DAN KARYA KOLEKTIF UDEIDO”Kolektif seni rupa yang berasal dari Papua bernama Udeido Kolektif, muncul pada medan seni rupa kontemporer dengan membawa pesan sosial-politik dari realitas masyarakat papua. Mereka juga menyampaikan pesan dengan karya serta praktik mereka sebagai cerminan bagaimana masyarakat Papua. Hal demikian menjadi khazanah baru dalam medan seni rupa Indonesia. Dengan karya-karya mereka yang membawakan pesan tertentu kepada publik menjadikan suatu fenomena tertentu. Udeido Collective, menyampaikan pemikiran dan refleksinya tentang berbagai isu yang berkelindan di antara lanskap sejarah kolonialisme, penindasan, perebutan kekuasaan dengan pemerintah Indonesia, hilangnya artefak dan tradisi seremonial berbagai suku bangsa asli, perubahan bentang alam, degradasi lingkungan, kekuatan dan kerapuhan spiritualitas, dan sebagainya.
-
REINTERPRETASI KISAH SINTA OBONG SEBAGAI IDE PENCIPTAAN SENI LUKISPerubahan sosial akibat modernisasi telah memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap nilai-nilai tradisional, termasuk persepsi mengenai perempuan dan kesuciannya. Kisah Sinta Obong dari epos Ramayana, secara historis dipahami sebagai simbol kemurnian atau kesucian perempuan, kini menghadapi interpretasi baru di tengah tarik-menarik antara nilai lama dan kebebasan dalam budaya modern. Terdapat kesenjangan dalam kajian visual yang mengkritisi makna simbolik kesucian perempuan dari cerita Sinta Obong melalui medium seni lukis, khususnya dalam konteks sosial saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk merefleksikan kembali posisi perempuan melalui penciptaan karya seni lukis melalui pendekatan simbolik dan surealistik, sebagai bentuk perenungan dan kritik atas pergeseran nilai kesucian dan peran sosial perempuan di tengah arus modernitas.. Penelitian menggunakan metode kualitatif dan proses kreasi menurut teori ICS-USI-USA. Tahapan yang dilalui meliputi persiapan, mengimajinasi, pengembangan, dan pengerjaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa visualisasi simbol-simbol seperti bunga melati merepresentasikan kritik nilai sosial pada perempuan. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa seni lukis bukan hanya media ekspresi estetis, melainkan sarana kritik dan refleksi terhadap pergeseran nilai dalam masyarakat.
-
PERAN PEREMPUAN DALAM RUMAH TANGGA SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN SENI KERAMIKPeran perempuan dalam ruang lingkup domestik adalah untuk mengurus rumah, mempercantik, dan mendidik anak hal tersebut adalah hasil dari sebuah konstruksi yang tercipta di masyarakat. Pengalaman empirik tumbuh besar didalam sebuah keluarga yang tergolong dalam keluarga menengah kebawah melihat begitu sulitnya perempuan memikul beban kerja ganda antara mengurus rumah dan mencari uang timbul kesadaran akan kurangnya apresiasi terhadap perempuan atau yang sering kita sebut ibu di rumah yang telah mendedikasikan seumur hidupnya untuk melayani, mengurus, dan mendidik. Karya ini diciptakan dengan tujuan sebagai bentuk apresiasi terhadap seluruh perempuan yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengurus rumah dan mendidik anak. Metode yang digunakan dalam penciptaan ini berupa tahapan proses keatif, ada tiga tahapan yaitu upaya menemukan gagasan, proses penyempurnaan, lalu proses visualisasi medium, bentuk karya yang akan dihasilkan berupa piring, gelas, mangkuk, vas, dan guci yang terbuat dari tanah liat stoneware. Keramik yang dibuat memiliki satu kesatuan dalam satu judul karya yang ditampilkan menjadi instalasi seni. Hasil akhir dari karya yang diciptakan diharapkan dapat membuka kesadaran terhadap masyarakat akan pentingnya mengapresiasi kerja keras yang telah dilakukan oleh perempuan yang mendapat peran sebagai ibu.
-
ORANG-ORANGAN SAWAH SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI INSTALASIOrang-orangan sawah dikenal sebagai alat tradisional untuk mengusir hama di lahan pertanian. Namun lebih dari sekadar alat, ia juga memiliki nilai budaya yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat agraris. Seiring dengan perkembangan zaman dan berkurangnya lahan pertanian, keberadaan orang-orangan sawah mulai terpinggirkan dan kehilangan fungsinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perubahan makna orang-orangan sawah dalam konteks seni kontemporer, khususnya melalui karya seni instalasi. Dalam karya ini, orang-orangan sawah diangkat kembali sebagai simbol reflektif yang membahas hubungan antara manusia, alam, dan budaya ditengah modernisasi. Proses penciptaan karya menggunakan pendekatan kritik seni Feldman yang mencakup empat tahap: deskripsi, analisis formal, interpretasi, dan evaluasi. Selain itu, teori proses kreatif dari Graham Wallas juga digunakan yaitu melalui tahapan persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Melalui pendekatan ini, karya tidak hanya menampilkan visual yang estetik tetapi juga membangun makna baru bagi orang-orangan sawah sebagai simbol yang merepresentasikan kondisi sosial petani saat ini. Karya ini diharapkan dapat menjadi media refleksi terhadap perubahan budaya pertanian serta peran tradisi dalam dunia modern.
-
POTRET SEPASANGMEMPELAI: REINTERPRETASI TRADISI MAPPASIALA DALAMKARYAMIXED MEDIAGAYAKUBISTIKDi era modern, praktik perjodohan paksa seharusnya tidak lagi diberlakukan, khususnya dalam institusi pernikahan yang menekankan hak maupun pendapat pribadi dalam memilih. Tradisi Mappasiala sebuah bentuk perjodohan paksa yang masih ditemukan di wilayah Sulawesi menjadi fokus dalam karya ini, yang berangkat dari pengalaman personal penulis melalui kisah sang ibu yang menolak perjodohan dan memilih menentukan pasangannya sendiri, tindakan yang dalam budaya Bugis dianggap sebagai pelanggaran terhadap nilai siri’. Melalui karya bertajuk “Potret Sepasang Mempelai: Reinterpretasi Tradisi Mappasiala dalam karya Mixed Media Gaya kubistik”, penulis menghadirkan jumlah total delapan karya mix media dengan gaya kubistik yang mampu membentuk ruang dialog reflektif akan pentingnya kesadaran ruang berekspresi individu dalam menentukan pasangan hidup, sekaligus menawarkan reinterpretasi terhadap tradisi melalui pendekatan seni kontemporer yang kontekstual dan relevan dengan perkembangan zaman.
-
RONA: VISUALISASI EMOSI PADA EKSPRESI WAJAH SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA LUKISMigrasi merupakan fenomena yang telah lama menjadi bagian dari sejarah Indonesia dan terus berlangsung hingga kini. Indonesia yang kaya akan budaya menghadirkan tantangan tersendiri bagi para migran, salah satunya dalam hal komunikasi antarbudaya. Perbedaan bahasa, pola pikir, lingkungan sekitar, serta gaya hidup antara migran dan masyarakat lokal mengharuskan adanya proses adaptasi oleh migran. Selama proses adaptasi berlangsung, beragam emosi muncul. Emosi ini mencerminkan perjuangan dan upaya individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda. Tugas akhir ini diangkat dari pengalaman pribadi penulis yang melakukan migrasi dari kota Tangerang Selatan ke pedesaan Yogyakarta. Melalui media lukisan, penulis berupaya memvisualisasikan emosi-emosi yang muncul selama penulis mengalami proses adaptasi dengan lingkungan baru. Hasil dari keseluruhan proses ini adalah enam buah lukisan potret diri dengan gaya ekspresionistik yang menceritakan perubahan emosi yang muncul silih berganti.
-
“LAUT ADALAH IBU”: INTERPRETASI LAUT SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA LUKIS SUREALISPengkaryaan ini berangkat dari permasalahan tentang bagaimana laut dari berbagai budaya digambarkan sebagai sesuatu yang penuh dengan teka-teki, asal mula kehidupan, dan seringkali mengandung banyak cerita magis. Salah satunya adalah laut yang dianggap sebagai sosok ibu yang penuh kasih. Laut juga memiliki peran penting dalam menopang kehidupan dan kesejahteraan umat manusia. Laut tidak hanya menjadi elemen dalam narasi tetapi juga simbol penting dalam menggambarkan emosi dan harapan manusia. Hal ini menegaskan pandangan pengkarya bahwa laut memiliki interpretasi yang tidak hanya dipahami dari segi fisiknya sebagai bentang alam, tetapi juga dapat menciptakan ruang untuk mengekspresikan seni dan sebagai refleksi diri. Sehingga sering kali menggambarkan bagaimana laut dapat memengaruhi perasaan serta jiwa manusia. Dalam pengkaryaan ini, pengkarya menggunakaan metode penciptaan berdasarkan pandangan L.H. Chapman yang dikenal karena teorinya tentang proses penciptaan seni, dengan proses kreatifnya yang melibatkan tiga tahapan utama; eksplorasi, eksperimen, dan evaluasi untuk menghasilkan karya yang menggambarkan interpretasi laut adalah ibu dengan gaya lukis surealis. Hasil penelitian ini adalah serangkaian karya lukis dengan ukuran 60X80 cm sebanyak tiga buah dan 200x100 cm sebanyak satu buah karya. Pengkarya memanfaatkan elemen ombak, arus, dan kedalaman laut sebagai wujud interpretasi yang merefleksikan kasih ibu, sekaligus mencerminkan peran ganda seorang ibu sebagai pemberi kehidupan dan pelindung dari bahaya. Elemen-elemen simbolik ditambahkan untuk memperkuat pesan, seperti visualisasi karya dengan simbolisasi wanita seperti rambut dan perahu serta berbagai objek penghuni laut. Bentuk ombak yang melingkupi, serta kehadiran makhluk laut, turut melambangkan kehidupan yang terkait dengan peran ibu.
-
TRI TANGTU: REFLEKSI KESEIMBANGAN EGRANG SEBAGAI PENCIPTAAN KARYA SENI LUKISPermainan tradisional merupakan warisan budaya yang kaya akan nilai filosofis, sosial, dan kreatif. Namun, perkembangan zaman menyebabkan permainan tradisional menggeser minat masyarakat akan budaya daerah. Di Indonesia, terdapat sekitar 2.600 jenis permainan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk di Jawa Barat dengan istilah Kaulinan Barudak. Salah satu permainan khas Jawa Barat adalah Jajangkungan atau dikenal sebagai egrang, yang menggunakan dua batang bambu sebagai alat utama dan membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan sebagai metafora di tengah tantangan modernisasi yang kompleks, tumbuh dalam tekanan sosial dan ketidakpastian. Metode yang digunakan yaitu teori L.H. Chapman yaitu menemukan gagasan (inception of an idea), menyempurnakan, mengembangkan, dan memantapkan gagasan awal (elaboration and refinement), serta visualisasi ke dalam medium (heention in a medium). Dalam tugas akhir ini menciptakan karya seni lukis dengan eksplorasi gaya pop surealis menggunakan objek egrang sebagai representasi visual. Diharapkan dapat menarik perhatian melalui elemen visual yang unik dan memantik refleksi mengenai mengenai pentingnya keseimbangan, dan menjaga keberlanjutan budaya tradisional di tengah perubahan zaman.
-
“MASAGI” SIMBOLISME PERTAHANAN EGO SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS STILL LIFEPada kebudayaan Sunda terdapat filosofi masagi yang berfokus pada pencarian kesempurnaan dan integrasi pengalaman hidup, namun dengan adanya goncangan, kecemasan dan trauma, maka kesempurnaan tersebut sulit untuk diraih. Untuk melindungi ego dari perasaan cemas dan pengalaman traumatis yang dihadapi oleh manusia, maka muncul mekanisme pertahanan ego. Mekanisme pertahanan ego ini menjadi alat bagi manusia untuk mengelola emosi dan goncangan batin yang dirasakan ketika dipicu oleh satu dan lain hal. Dalam skripsi ini, penulis bertujuan untuk merepresentasikan mekanisme pertahanan ego Sigmund Freud melalui simbol yang digambarkan oleh benda-benda yang dekat dengan kehidupan sehari-hari manusia sebagai ajang perenungan akan identitas dan kepribadian diri. Metode penciptaan yang digunakan dalam karya ini diantaranya terdapat tahap pengumpulan data, inkubasi, eliminasi, dan verifikasi. Setiap karya yang diciptakan memuat objek topeng sebagai simbol ego. Lukisan ini disajikan dengan pendekatan seni lukis still life dengan gaya realis menggunakan cat minyak di atas kanvas.
-
SAREUPNA” REINTERPRETASI TRADISI PAMALI SEBAGAI PENCIPTAAN KARYA SENI LUKISPamali merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat Indonesia yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui praktiknya dalam masyarakat. Dalam masyarakat Sunda, pamali berperan sebagai bentuk pengendalian sosial yang memasukkan etika dan nilai melalui larangan atau tabu, terutama dalam konteks kehidupan sehari-hari anak-anak, kehidupan sosial, batasan waktu dan tempat. Penciptaan tugas akhir ini berangkat dari fenomena pudarnya nilai tradisi pamali, khususnya larangan aktivitas saat menjelang Maghrib pada generasi muda saat ini. Karya lukisan ini merupakan bentuk reinterpretasi terhadap tradisi pamali tersebut dengan menggunakan pendekatan parodi sebagai gaya visualnya. Visual lukisan ini menggabungkan unsur bernuansa horor dan kelucuan, serta memadukan simbol-simbol tradisi. Melalui eksplorasi visual yang lucu dan jenaka, pamali tidak lagi ditampilkan sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai dialog budaya yang reflektif serta terbuka untuk dimaknai ulang. Karya lukisan ini berjumlah 3 buah kanvas menggunakan cat akrilik, yang setiap karyanya mengilustrasikan ungkapan-ungkapan pamali waktu menjelang Maghrib.
-
PERUBAHAN VISUAL BARONGAN DALAM KESENIAN KUDA LUMPING DI DESA SUMBERSARI KABUPATEN BANDUNGKesenian Kuda lumping mengandung beberapa unsur seni, diantaranya yaitu seni musik, seni tari, serta seni rupa yang dipadukan menjadi sebuah seni pertunjukan. Kesenian Kuda lumping memiliki berbagai macam bentuk khas di setiap daerahnya masing-masing. Saat ini kesenian Kuda lumping yang berada di Desa Sumbersari Kabupaten Bandung telah menjadi kesenian yang berfungsi sebagai media perayaan atau hiburan masyarakat, meskipun tetap mempertahankan nilai-nilai sakral dan tradisi. Objek penelitian ini merujuk pada perubahan visual yang terdapat dalam salah satu instrumen kesenian Kuda lumping, yaitu Barongan, pada kelompok Kuda lumping yang terletak di Desa Sumbersari, Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan Trans-estetika, dalam memaparkan transformasi atau transisi pada visual Barongan dari bentuk asalnya. Transestetika pada Barongan di interpretasikan melalui berbagai perubahan dan percampuran kandungan estetik dan simboliknya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif. Hasil penelitian ini memaparkan data mengenai bagaimana Barongan dalam kesenian Kuda lumping di Desa Sumbersari Kabupaten Bandung, Mengalami transisi perubahan dari bentuk asalnya yang bersumber pada Bangbarongan Reak dan BengBerokan. Perubahan visual tersebut dilatar belakangi oleh adanya pergeseran fungsi sakral menjadi profan, serta tradisi yang digantikan oleh kreasi dan inovasi.
-
KARYA DIORAMA DALAM UPAYA REKONSTRUKTIF EKSPEDISI CARSTENSZ 1936 UNTUK MUSEUM PT.FREEPORT INDONESIAEkspedisi Carstensz 1936 merupakan ekspedisi sejarah yang sangat penting di Papua, Indonesia. Ekspedisi ini dilakukan oleh tokoh-tokoh penting pada masa itu diantaranya Jean Jacques Dozy, Anton Colijn, dan Frits Wissel. Sejarah ekspedisi ilmiah ini sayangnya belum terdokumentasi dengan baik secara visual, oleh karena itu, penelitian ini akan dilakukan dengan mengumpulkan data-data untuk merekonstruksi visual Ekspedisi Carstensz 1936 dengan pendekatan seni rupa pembuatan mini diorama. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk merekonstruksi visual Ekspedisi Carstensz 1936 dengan membuat maket diorama peristiwa Ekspedisi Carstensz 1936. Rangkaian penelitian ini mengumpulkan studi literatur sejarah, pengumpulan arsip foto, data antropologis, serta dalam eksekusi praktiknya menggunakan teknik modelling sculpture. Hasil penelitian ini merupakan satu buah maket skala 1:4 yang merepresentasikan kembali suasana ekspedisi Carstensz pada salah satu dokumentasi foto yang ada. Kesimpulannya bahwa sebuah sejarah dapat direkonstruksi melalui pendekatan seni yang menjadikan media edukatif untuk menghidupkan kembali suasana suatu peristiwa yang kurang terdokumentasi dengan baik secara visual.
-
BONEKA SEBAGAI INSPIRASI KARYA SENI LUKIS DENGAN PENDEKATAN SIMBOLIKKarya tugas akhir ini berangkat dari gagasan bahwa boneka bukan sekadar objek permainan. Sebaliknya, boneka berfungsi sebagai media dari berbagai aspek emosional, psikologis, dan sosial kehidupan terhadap manusia. Boneka dapat menggambarkan kenangan, masa kecil, isolasi, bahkan trauma psikologis yang tersimpan. Boneka digunakan dalam karya seni lukis ini sebagai media ekspresi untuk mengangkat tema-tema universal melalui pendekatan simbolik. Lukisan ini dimaksudkan untuk menciptakan suasana hati dan menciptakan cerita simbolik yang dapat dipahami oleh penonton melalui permainan warna, tekstur, komposisi, dan ekspresi boneka. Aspek estetika bukan satu-satunya tujuan dari pembuatan ini; itu juga berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi dengan emosi yang paling dalam dan sulit diungkapkan secara verbal. Diharapkan bahwa karya ini akan membantu perkembangan wacana seni lukis simbolik, memberi penonton lebih banyak opsi interpretasi, dan memperluas perspektif tentang objek boneka sebagai simbol kehidupan.
-
NAWANG WULAN SEBAGAI INSPIRASI KREATIF SENI LUKIS SIMBOLISMEPenciptaan karya seni lukis konseptual ini berfokus pada konsep yang terinspirasi dari cerita rakyat "Nawang Wulan," sebuah legenda yang mengangkat isu perempuan yang kemudian dikaitkan dengan budaya 3M (Macak, Masak, Manak) di pulau Jawa, sebuah norma sosial yang membatasi peran perempuan hanya pada peran domestik saja. Cerita Nawang Wulan ini mengisahkan seorang bidadari dari kayangan yang kehilangan selendangnya akibat dicuri oleh Jaka Tarub, sehingga membuatnya terikat pada kehidupan duniawi dan peran domestik. Selendang dalam cerita ini tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk kembali ke kayangan tetapi juga menjadi simbol identitas dan kebebasan Nawang Wulan. Melalui karya ini, seniman ingin memberikan respon positif terhadap perjuangan perempuan Jawa yang berhasil keluar dari tekanan budaya tersebut. Selendang menjadi simbol dari kebebasan, pilihan, dan jati diri. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dengan memperkaya kajian tentang perjuangan perempuan dalam cerita rakyat Indonesia, serta manfaat berupa edukasi mengenai isu kesetaraan gender dan pentingnya kesadaran akan peran perempuan dalam masyarakat.
-
SEMIOTIKA RELIEF MONUMEN RAWAGEDE: REPRESENTASI PERISTIWA SEJARAH DALAM TANDA DAN MAKNARelief Monumen Rawagede merupakan representasi visual peristiwa pembantaian oleh militer Belanda pada 9 Desember 1947 di Desa Rawagede. Namun, pemaknaan terhadap relief ini masih minim karena masyarakat belum banyak menggunakan pendekatan keilmuan seperti semiotika. Menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce, penelitian ini menganalisis tanda-tanda visual dalam relief—seperti ikon, indeks, dan simbol—untuk mengungkap makna yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan, studi pustaka, dan wawancara. Setiap elemen visual dalam relief berperan sebagai bentuk komunikasi visual yang memperkuat ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah bangsa. Penelitian menunjukkan bahwa relief tidak hanya menyampaikan narasi sejarah, tetapi juga memuat pesan simbolik tentang penderitaan dan perjuangan, serta berfungsi sebagai media komunikasi visual yang kuat. Selain itu, Penelitian ini juga menegaskan peran penting seni rupa dalam merekam dan menyampaikan narasi sejarah kepada generasi penerus.
-
INTERPRETASI PERSONA ARTISTIK PADA KARYA TUGAS AKHIR MAHASISWA DALAM PAMERAN GROUND:01Dalam proses pendidikan seni rupa, pameran tugas akhir tidak hanya menjadi bagian dari syarat kelulusan, tetapi juga menjadi ruang awal bagi mahasiswa seni untuk memperkenalkan karya dan identitas artistiknya kepada publik. Namun, persoalan yang muncul adalah bagaimana karya-karya tersebut sering kali hanya dipahami sebatas pencapaian teknis dan formal, tanpa membongkar lebih dalam narasi personal dan artistik yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana persona artistik seniman dibentuk dan direpresentasikan dalam karya tugas akhir pada pameran Ground:01. Fokus utama penelitian ini adalah pada bagaimana hubungan antara ekspresi visual dan latar belakang personal maupun sosial membentuk citra diri seniman sebagai individu kreatif dalam karya tugas akhir dalam sebuah pameran. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode deskriptif interpretatif menggunakan konsep dramaturgi Goffman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap seniman yang sedang melaksanakan atau telah melaksanakan tugas akhir memiliki persona artistik yang unik dalam karyanya, hal itu dipengaruhi oleh kombinasi dari pemilihan medium, tema, gaya visual, latar belakang personal dan sosial masingmasing seniman.
-
PERANCANGAN MEDIA EDUKASI BUKU ILUSTRASI FANTASI KOPI PUNTANGkopi puntang, media, buku ilustrasi
-
RAISTARA (Penyajian Sekar Kepesindenan dalam Wayang Golek)Penulisan Skripsi ini berjudul “RAISTARA” dalam cerita yang berjudul “ANGKARA SIRNA” dengan minat utama penyajian sekar kepesindenan dalam wayang golek. Skripsi ini berisi seluruh aspek yang berkaitan dengan garap pertunjukan wayang golek. Sajian pertunjukan wayang golek ini merajuk pada struktur sajian wayang golek konvensional yang digarap dengan singkat dan dipadatkan. Tujuan penyajian sekar kepesindenan dalam wayang golek ini untuk meningkatkan keterampilan penyaji mengenai seni tradisi khususnya sekar kepesindenan dan juga untuk regenerasi pesinden. Untuk menambah referensi rumpaka, lagu yang digunakan dalam sekar kepesindenan dalam wayang golek. Sajian pertunjukan wayang golek ini merujuk pada pendekatan teori Surupan Machyar Angga Koesoemadinata, yang dalam hal ini penyaji akan menambahkan sentuhan-sentuhan kreativitas terhadap pengolahan laras dan surupan. Mengingat, bahwa untuk menguji keterampilan dalam menyajikan sekar kepesindenan, dibutuhkan materi-materi yang memiliki keragaman bentuk, irama, dan laras, sebagai minat utama penyajian.
-
GALÉCOK (Penyajian Gambang dalam Gambangan)Penyajian karya seni berjudul “GALÉCOK” ini merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan eksistensi Gambangan yang kini semakin meredup dan kurang dikenal oleh masyarakat luas bahkan di kalangan seniman sekalipun. Gambangan merupakan salah satu genre dalam karawitan Sunda yang memperlakukan Gambang sebagai waditra utama dalam sajiannya. Melalui penyajian “GALÉCOK” ini penyaji mencoba untuk membangkitkan kembali genre Gambangan dengan pemikiran-pemikiran baru, dengan tujuan Gambangan dapat hidup dan eksis seperti kesenian karawitan Sunda lainnya. Judul “GALÉCOK” bukan hanya sekedar nama dari sebuah pertunjukan, melainkan menggambarkan bagaimana kerumitan ragam garap tabuh Gambang yang digambarkan melalui judul “GALÉCOK” yang berarti saling mengobrol atau saling bersautan. Untuk mencapai tujuan itu, Penyaji menggunakan pendekatan Teori Garap Rahayu Supanggah, yang membahas tentang segala unsur yang terdapat pada sebuah proses menyusun sebuah karya, yaitu Materi Garap, Penggarap, Sarana Garap, Prabot/Piranti Garap, Penentu Garap, dan Pertimbangan Garap. Melalui teori itu, pada penyajian karya “GALÉCOK” ini ditemukan bahwa waditra Gambang dapat berdiri sendiri menjadi waditra utama pembentuk genre.
-
NGAPING HARIRING KU RUPANING SULING (Penyajian Suling dalam Tembang Sunda Cianjuran)Karya “Ngaping Hariring ku Rupaning Suling” merupakan bentuk penyajian musik dalam Tembang Sunda Cianjuran yang menitikberatkan pada eksplorasi instrumen suling sebagai elemen utama. Latar belakang penyajian karya ini berangkat dari ketertarikan penyaji terhadap keberagaman jenis suling dalam Tembang Sunda Cianjuran seperti suling panjang liang tujuh, suling degung, suling mandalungan, suling wisaya, suling cirebonan, dan suling songsong, yang pada dasarnya memiliki ukuran dan karakteristik bunyi yang berbeda. Karya seni ini disajikan secara konvensional dengan menggunakan instrumen kacapi indung, kacapi rincik, dan ragam suling dengan surupan 60, serta dilengkapi oleh vokal yaitu panembang pria dan wanita. Untuk menonjolkan skill penyaji, lagu-lagu yang disajikan menggunakan laras degung, mandalungan, dan madenda. Permainan suling pun disesuaikan dengan konteks fungsionalnya, yakni suling berperan penting sebagai pamurba lagu dalam sajian instrumentalia, serta sebagai pengiring vokal dengan menerapkan konsepsi méréan, marengan, dan nungtungan. Tujuan dari penyajian karya ini adalah sebagai wujud penerapan hasil pembelajaran selama studi di Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, serta sebagai sarana apresiasi dan inspirasi bagi generasi berikutnya. Teori garap yang dikemukakan Rahayu Supanggah menjadi landasan pendekatan dalam pengembangan karya ini.
-
JENTRÉNG KACAPI MIRIG ATI (Penyajian Kacapi indung dalam Tembang Sunda Cianjuran)Jentréng Kacapi Mirig Ati merupakan salah satu bentuk ekspresi seni musik tradisional sunda yang mengandalkan alat musik kacapi indung sebagai instrumen utama yang dimaknai sebagai suara kacapi yang bisa mengiringi setiap suasana hati manusia, baik dalam suka maupun duka. Dalam penyajian ini lebih bersifat konvensional karena membawakan lagu-lagu tembang sunda cianjuran secara utuh. Dalam sajian ini kacapi indung merupakan pemimpin dalam pertunjukan kacapi tembang sunda cianjuran dengan berbagai laras yakni laras degung dan laras sorog. Selain itu penyajian kacapi indung dalam tembang sunda cianjuran ini yang diaktualisasikan dalam tugas akhir Jentréng Kacapi Mirig Ati. Dalam tulisan ini penyaji menggunakan teori garap yang dimana akan menitik beratkan ke dalam teknik dan pola permainan kacapi indung. Dalam sajian ini, terdapat garap, diantaranya: pada bagian menambahkan jembatan antara laras degung ke laras sorog. Oleh karena itu, penyaji memasukan parabot garap seperti teknik pasieupan. Kemprangan, dan kait yang dimana merujuk ke dalam estetika pemainan kacapi indung. Artinya garap sajian merupakan reinterpretasi garap penyajian Tembang Sunda Cianjuran yang dipertunjukan sebagai pertunjukan yang diapreasi oleh penonton.
-
ANALISIS TEKNIK PERMAINAN SULING SUNDA PADA SULING BANGSING DALAM GARAPAN GRUP MUSIK SWARANTARAPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis teknik permainan suling Sunda pada suling bangsing dalam garapan grup musik Swarantara. Teori yang digunakan adalah teori analisis musik Nettl dengan pendekatan selektif, yaitu mendeskripsikan dan menganalisis bagian tertentu dari musik, dalam hal ini teknik permainan yang berkaitan langsung dengan estetika musikal. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan secara kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, studi literatur, dan dokumantasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa grup Swarantara mengadaptasi teknik permainan suling Sunda pada suling bangsing dengan cara yang sangat kreatif dan inovatif. Teknik permainan suling Sunda yang digunakan pada suling bangsing Swarantara meliputi teknik ornamentasi, teknik tiupan, dan teknik penjarian. Penelitian ini memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi pengembangan musik tradisional Sunda. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan untuk pengembangan teknik permainan suling Sunda yang lebih kreatif dan inovatif.
