Items
-
TARI RINEKA DEWI KARYA INDRAWATI LUKMAN DI STUDIO INDRA KOTA BANDUNGTari Rineka Dewi merupakan tari kreasi baru yang diciptakan oleh Indrawati Lukman pada tahun 1971. Judul tarian ini memiliki arti yaitu Rineka menurut Indrawati dibuat dalam bahasa Sunda berarti beraneka atau beragam dan Dewi menurut KBBI yaitu sosok perempuan yang memiliki kekuatan ilahiah atau adikodrati namun dalam tarian ini dewi diartikan sebagai gadis yang cantik dan indah. Tari ini disajikan oleh penari putri secara kelompok yang menggambarkan kemolekan para dan kecantikan gadis yang sedang berhias mempercantik diri dan bersenda gurau. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis yang berupa penjelasan dengan berdasar kepada data yang ditemukan. Peneliti mengambil fokus dari estetika pada Tari Rineka Dewi dengan menggunakan konsep estetika A.A.M Djelantik yang menjelaskan bahwa aspek yang terdapat dalam estetika meliputi wujud (bentuk dan struktur), bobot (isi tarian yang mencakup suasana, gagasan, dan pesan), dan penampilan (bakat, keterampilan, dan sarana atau media yang mencakup rias busana, tata panggung, dan tata cahaya). Adapun tujuan dan hasil dari Tari Rineka Dewi ini dapat dieksplanasi berdasarkan teori estetika beserta aspek-aspek di dalamnya, sehingga tulisan ini dapat menjadi bahan kajian berikutnya.
-
DUGA RUMEKSAKarya tari Duga Rumeksa mengangkat fenomena sosial yang marak terjadi di kalangan masyarakat khususnya remaja, yaitu perjudian online yang kini menjadi gaya hidup baru akibat pengaruh perkembangan zaman. Judul karya tari Duga Rumeksa berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti “Pemikiran atau Pandangan kedua”, mereprsentasikan refleksi atas kondisi sosial yang terjadi. Tema utama yang diangkat dalam karya tari ini adalah perjuangan, dengan fokus pada dampak negatif dari aktivitas perjudian online terhadap kehidupan individu dan masyarakat. Tari ini digarap dengan pendekatan dramatik agar pesan sosial yang ingin disampaikan dapat diterima secara emosional oleh apresiator. Proses penciptaan karya menggunakan metode penciptaaan tari menurut Y. Sumandiyo Hadi, yang dilandasi oleh konsep garap Jacqueline Smith dalam Autard. Pola garap yang digunakan bersifat kontemporer dan bersumber dari gerak keseharian. Karya ini disajikan dalam bentuk kelompok oleh tujuh orang penari, dan disusun dalam bentuk baru yang inovatif dengan harapan dapat diterima oleh masyarakat serta menjadi sarana edukasi sosial melalui media seni pertunjukan.
-
SEA BELLSIde gagasan dalam Karya ini terinspirasi dari hewan Biota Laut yaitu ubur- ubur berjenis Moonjellyfish. Bentuk tubuh ubur-ubur seperti lonceng dan transparan serta memiliki keunikan terutama dalam cara gerak sehingga menjadi ketertarikan tersendiri bagi penulis. Karya ini diberi judul “SEA BELLS”, merupakan sebutan lain dari hewan ubur-ubur di ambil dari bahasa inggris yang mempunyai arti Lonceng Laut, karna tubuhnya memiliki bentuk seperti lonceng serta habitatnya di laut. Karya ini menggunakan pendekatan kontemporer bertipe murni dengan metode Alma M. Hawkins meliputi eksplorasi, improvisasi (evaluasi), dan komposisi. Penulis dalam garapan ini lebih memfokuskan pada kebiasaan bergerak yang dilakukan ubur-ubur bulan yang di padukan dengan gerak dan gerak sehari-hari serta di olah melalui tenaga, ruang, dan waktu. Karya tari ini bertujuan menyampaikan nilai-nilai keindahan dan kebersamaan. Karya ini dikemas dalam bentuk tari kelompok yang berjumlah 7 orang penari, 5 penari perempuan, dan 2 orang penari laki-laki, serta melalui proses komposisi sehingga terciptanya satu kesatuan yang utuh.
-
TARI SEKE KARYA SUDRAJAT DI SANGGAR DAPUR SENI FITRIA CIMAHITari Seke yaitu sebuah tarian bergenre Tari Jaipongan karya Sudrajat di Sanggar Dapur Seni Fitria Kota Cimahi. Seke berasal dari bahasa Sunda yang memiliki arti mata air, kehadiran tari Seke secara tidak langsung menggambarkan nilai- nilai dan pelestarian alam khususnya mata air. Tarian ini disajikan oleh tujuh orang penari berjenis kelamin perempuan, sejak tahun 2017 karya tari Seke telah dijadikan icon Kota Cimahi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Struktur Tari Seke Karya Sudrajat di Sanggar Tari Dapur Seni Fitria di Kota Cimahi, adapun metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dan menggunakan landasan konsep pemikiran dari teori struktur Y. Sumandiyo Hadi yang memiliki sebelas aspek. Hasil dari penelitian ini tari Seke Karya Sudrajat di Sanggar Tari Dapur Seni Fitria Cimahi memiliki gerak tari yang terstruktur, mulai dari gerak tari, ruangan tari, iringan atau musik tari, tema tari, judul tari, jenis tari, rias dan kostum tari, tata cahaya, dan properti tari. Dari sebelas aspek tersebut memiliki korelasi yang saling berkaitan.
-
SELVIA ERVILIANI KREATOR TARI GEOL MANIS DI MARGASARI KACRIT PUTRA KABUPATEN BEKASITari Geol Manis merupakan karya tari kreasi baru yang diciptakan pada tahun 2018 oleh Selvia Erviliani di Sanggar Margasari Kacrit Putra. Tarian ini menceritakan tentang anak-anak gadis remaja yang sedang dalam proses pendewasaan diri dan masa senang bergaul. Penamaan Tari Geol Manis diambil dari gerakan geol yang berarti menggoyangkan pinggul, di mana dapat dikembangkan menjadi banyak variasi gerak. Sedangkan kata ‘manis’ di sini diartikan sebagai pemanis atau pemikat karena gerakan-gerakan dalam tari ini dibuat dinamis, lincah, dan dapat menarik perhatian. Tari Geol Manis diciptakan sebagai tari tontonan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, serta teknik pengumpulan data yang terdiri dari studi pustaka, observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisis data. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kreativitas Selvia Erviliani dalam menciptakan Tari Geol Manis. Oleh karena itu, untuk menganalisisnya digunakan teori kreativitas dari Rhodes yang isinya terdiri dari Person (Pribadi), Process (Proses), Press (Dorongan), dan Product (Produk). Adapun hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Selvia merupakan pribadi yang kreatif, ia banyak menciptakan karya tari kreasi baru melalui sebuah proses eksplorasi, improvisasi, dan komposisi (memberi bentuk) dengan ciri khas nya tersendiri.
-
STRUKTUR TARI ENGGANG MELENGGANG KARYA RISNA HERJAYANTI DI KABUPATEN BERAUTari Enggang Melenggang ini diciptakan oleh Risna Herjayanti koreografer asal Kabupaten Berau, Kalimantan Timur pada tahun 2015. Karya tari ini terinspirasi dari simbolisme Burung Enggang sebagai makhluk yang dihormati dalam budaya Dayak Kenyah, dengan penyajian yang memadukan elemen tradisional dan kontemporer. Tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis struktur Tari Enggang Melenggang berdasarkan teori struktur tari menurut Y. Sumandiyo Hadi yang mencakup sebelas aspek tari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Teknik pengumpulan data meliputi studi pustaka, observasi, wawancara, dokumentasi, dan triangulasi. Data dianalisis secara sistematis untuk memperoleh gambaran menyeluruh tentang struktur tari yang mencakup aspek gerak, ruang, iringan, judul, tema, tipe/jenis, mode penyajian, jumlah dan jenis kelamin, rias dan kostum, tata cahaya, dan properti tari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Enggang Melenggang memiliki struktur yang terencana, di mana seluruh elemen tari mendukung penyampaian isi secara estetis. Gerak yang terinspirasi dari Burung Enggang, penggunaan property Kirip, serta iringan musik gabungan alat tradisional dan EDM membentuk satu kesatuan yang harmonis. Korelasi antara kesebelas aspek menciptakan karya yang memiliki nilai estetis dan representative terhadap kearifan lokal budaya Dayak.
-
BAGJAKarya tari dengan judul BAGJA berasal dari Bahasa sunda yang berarti “Bahagia”. Judul ini terinspirasi dari ungkapan kebahagiaan masyarakat Desa Pasirangin, Kecamatan Darangdan. Yang dahulu merayakan turunnya hujan sebagai anugrah melalui kesenian domyak. Dalam proses penciptaan karya tari, inspirasi menjadi titik awal yang penting bagi seorang koreografer, untuk menerjemahkan nilai budaya kedalam bentuk gerak. Karya tari BAGJA mengangkat kesenian domyak sebagai sumber ide utama, dengan menitikberatkan kepada nilai kekompakan yang mencerminkan rasa Syukur pada Masyarakat. Adapun proses dalam karya tari ini digarap dengan menggunakan metode Sumandiyo Hadi (2003:70) dan diwujudkan dengan menggunakan landasan konsep garap walas yang menyatakan empat komponen dalam struktur tari, meliputi: persiapan, inkubasi, iluminasi, verifikasi, dengan pendekatan dramatic dan pola garap kontemporer. Penyajian Karya dilakukan dalam bentuk tari kelompok yang dibawakan oleh tujuh penari, terdiri dari lima Perempuan dan dua laki-laki. Pengolahan gerak dalam karya ini merupakan hasil eksplorasi dari unsur-unsur tradisi domyak yang dikembangkan secara kreatif agar tetap relevan dalam konteks pertunjukan tari kontemporer. BAGJA tidak hanya menghadirkan aspek esteti, tetapi juga menjadi symbol harapan, rasa Syukur, dan ikatan social dalam kehidupan Masyarakat,
-
KROLOCITAKarya penciptaan tari Krolocita terinspirasi dari fenomena sosial yaitu perselingkuhan, karya tari ini menggambarkan luka emosional akibat pengkhianatan dalam relasi personal, khususnya yang dialami oleh perempuan, serta menjadi medium untuk menyuarakan pemulihan, kekuatan, dan penghargaan terhadap martabat perempuan. Judul ini diambil dari dua kata yaitu Kroda dan Anglocita yang mempunyai arti; Kroda artinya amarah, sedangkan Anglocita berartikan ungkapan isi hati. Penciptaan karya ini menggunakan pendekatan teori kreativitas dua tingkat dari Mark A. Runco Teori ini menekankan dua komponen utama yaitu proses (motivasi dan pengetahuan) serta kemampuan kreatif (penemuan masalah, ideasi, dan evaluasi). Menggunakan pendekatan tari kontemporer, dengan tipe tari dramatik karena memunculkan konflik dan penyelesaian dan disajikan dalam bentuk tari kelompok berjumlah satu penari laki-laki dan tujuh penari perempuan, yang menitik fokuskan pada perselingkuhan dan memiliki tema amarah. Tahapan eksplorasi, komposisi, dan evaluasi dilakukan secara kolaboratif bersama penari, komposer, dan tim artistik, guna memastikan kesatuan antara tema, gerak, musik, dan visualisasi panggung. Hasil karya ini menunjukkan bahwa proses kreatif yang terstruktur, dengan landasan teoritik yang kuat, mampu menghasilkan karya tari yang estetis, komunikatif, dan reflektif. Krolocita menjadi media untuk menyampaikan pesan bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk bangkit, layak bahagia, dan layak dihormati.
-
TARI RAKEAN KALANG SUNDA KARYA TOTO SUGIARTO DI SANGGAR ANGGITASARI KABUPATEN SUKABUMITari Rakean Kalang Sunda merupakan sebuah repertoar tari Kreasi Baru yang diciptakan oleh Toto Sugiarto pada tahun 2011 di Sanggar Anggitasari, mengangkat tentang cerita pantun yang ada di Kabupaten Sukabumi. Tarian ini ditarikan oleh lima orang penari laki-laki yang menggambarkan tentang karakter gagah, lincah, perkasa serta sakti pada tokoh Rakean Kalang Sunda. Keunikan dari tarian ini adalah gerak yang mengadopsi dari gerak tari tradisi Sunda yang dikreasikan dengan gerak-gerak akrobatik. Oleh sebab itu, fokus permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan bagaimana estetika tari Rakean Kalang Sunda karya Toto Sugiarto di Sanggar Anggitasari. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan informasi akademis secara deskriptif dan analisis mengenai estetika Tari Rakean Kalang Sunda. Untuk mendapatkan jawaban pada penelitian ini yaitu menggunakan landasan konsep pemikiran yang bersifat teoritik Estetika Instrumental dari Djelantik yang akan menjadi pisau bedah dalam penelitian ini. Sejalan dengan konsep pemikiran tersebut, digunakan pendekatan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dengan langkah-langkah operasional meliputi; studi pustaka, studi lapangan (observasi, wawancara, dan dokumentasi). Adapun hasil dari penelitian ini menunjukan, bahwa tari Rakean Kalang Sunda dibentuk oleh tiga unsur estetika utama yaitu; wujud tari, bobot tari, serta penampilan yang saling berhubungan yang menjadi sebuah kesatuan yang utuh.
-
NIEMAKarya penciptaan tari dengan judul Niema merupakan karya yang terinpirasi dari kehidupan sosial saat ini, dimana banyak seorang ibu yang mengalami kecemasan pasca melahirkan atau bisa disebut dengan istilah sindrom baby blues. Karya tari ini berjudul Niema berasal dari Bahasa arab yang berarti rahmat atau karunia. Karya tari Niema bertemakan literer tentang perjuangan seorang ibu terhadap kodratnya sebagai wanita dengan tipe dramatik yang digarap secara berkelompok yakni lima penari perempuan dengan pola garap kontemporer yang dihasilkan dari proses distorsi dan stilasi dari gerak keseharian sehingga menghasilkan sebuah pembaruan. Adapun tahapan metode garap yang dikemukakan oleh Sumandiyo Hadi yang meliputi eksplorasi, evaluasi, dan komposisi sehingga dapat menjadi sebuah karya tari yang utuh. Dalam mewujudkan karya tari ini memiliki pesan moral yang dapat dipahami dan dapat menjadi sumber inspirasi bagi apresiator serta bertujuan untuk menambah wawasan dan menambah jenis karya tari yang terinspirasi dari fenomena sosial. Hasil yang dicapai dari proses karya tari Niema, sebagai informasi penting bahwa wanita harus menerima kodrat yang diberikan oleh Tuhan.
-
GOALSKarya tari dengan judul GOALS merupakan sebuah karya tari kontemporer yang terinspirasi dari permainan futsal. GOALS berasal dari bahasa Inggris yang memiliki arti tujuan akhir yang ingin dicapai. Gagasan utama dalam Karya ini adalah perjuangan seorang pemain futsal yang mengalami intimidasi dari lawan yang licik dan bermain kasar. Karya ini menggambarkan proses panjang yang harus dilalui oleh pemain untuk mencapai tujuan akhir, yaitu goals, sebuah istilah yang juga bermakna atau pencapaian akhir. Penciptaan karya ini menggunakan metode eksplorasi, improvisasi, dan seleksi. Sumber gerak diambil dari aktivitas keseharian seperti berjalan, berlari, berguling serta gerak futsal yang di distorsi dan distilisasi untuk menghasilkan bentuk gerak baru yang ekspresif. Karya ini digarap dengan pendekatan dramatik dalam gaya tari kontemporer, mengangkat tema perjuangan sebagai fokus utama. Hasil akhir dari proses ini adalah terwujudnya sebuah karya tari yang utuh, yang tidak hanya menampilkan estetika gerak tetapi juga menyampaikan pesan tentang semangat perjuangan, ketekunan dan keberanian dalam menghadapi tantangan untuk mencapai tujuan
-
IBING TEPAK DUA ZNER DI PAGURON MUSTIKA SIMPAY WARGI KABUPATEN BANDUNGIbing Tepak Dua Znér merupakan perkembangan dari pencak silat yang berasal dari Kabupaten Bandung. Ibing Znér ini dimiliki oleh Iim komalawati di Paguron Mustika Simpay Wargi, Kabupaten Bandung. Ibing Znér ini disusun bersama Atep sebagai pelatih dari Paguron Budhi Kancana. Ibing Znér merupakan ibingan yang menggunakan jurus-jurus pencak silat dari aliran Cikalong dan Cimande. Ibing Znér memiliki gerak ciri khas yaitu bandungbanters, gatotkaca ngawang-ngawang dan sumsangsumel yang menjadi daya tarik penelitian ini. Penelitian ini menggunakan landasan konsep pemikiran Y. Sumandyo Hadi mengenai struktur tari yang terdiri atas; gerak tari, ruang tari, iringan tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah penari, jenis kelamin, rias kostum tari, tata cahaya, dan properti tari. Metode yang digunakan ialah metode penelitian kualitafif melalui pendekatan deskriptif analisis dengan menggunakan langkah-langkah pengumpulan data meliputi; observasi, wawancara, dokumentasi, triangulasi; analisis data. Hasil dari penelitian ini ialah terungkapnya struktur Ibing Tepak Dua Znér yang saling berkorelasi antar aspek-aspeknya. Adapun struktur tarinya terdiri atas; tiga susunan ragam gerak yaitu tepak dua, tepak tilu dan padungdung. Tarian ini ditampilkan di panggung prosenium menggunakan seperangkat alat kendang penca sebagai pengiring tarinya. Tari ini berjudul Ibing Znér dengan tema Kegagahan Wanita, tergolong pada tari tradisi kerakyatan dengan tipe murni tidak bercerita. Disajikan secara simbolis-representasional, secara Tunggal dan hanya dapat dimainkan oleh perempuan. Ibing Znér menggunakan kostum pangsi, iket, dan sabuk dengan menggunakan properti tari berupa kujang, trisula dan golok. Adapun struktur tari ini saling berkorelasi antar aspek-aspek tarinya, sehingga menjadi sebuah pertunjukan yang utuh.
-
TARI JAIPONGAN GALUDRA KARYA NENI SURYANI DI SANGGAR CITRA BUDAYA KABUPATEN BOGORTari Jaipongan Galudra yang diciptakan oleh Neni Suryani di Sanggar Citra Budaya bertemakan perjuangan, daya tariknya terletak pada gerak hiber yang mengolah sampur sebagai sayap, ngepak muka, pasang ngalaga. Berdasarkan daya tarik tersebut, pertanyaan penelitian dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana struktur Tari Jaipongan Galudra karya Neni Suryani di Sanggar Citra Budaya?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis secara deskriptif analisis struktur Tari Jaipongan Galudra. Landasan konsep pemikiran yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada konsep pemikiran struktur tari dari Y. Sumandiyo Hadi, meliputi sebelas komponen yaitu: gerak tari, ruang tari, iringan/musik tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah penari dan jenis kelamin penari, rias dan kostum tari, tata cahaya, serta properti tari. Adapun dalam operasionalnya menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis serta menggunakan langkah-langkah; pengumpulan data, studi lapangan, dan analisis data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, bahwa struktur penyajian koreografi dari Tari Jaipongan Galudra dibangun oleh empat ragam gerak (konstruksi) tari, yaitu; bukaan, nibakeun, pencugan, dan mincid. Keempat konstruksi tersebut, terwujudkan dalam suatu struktur tari yang meliputi: Pertama, struktur koreografi terdiri atas intro, lagu Galudra irama lalamba embat sawilet, naek lagu Galudra irama jalan embat dua wilet. Kedua, karawitan iringan tari dengan menggunakan struktur intro, lagu Galudra irama lalamba embat sawilet, naek lagu Galudra irama jalan embat dua wilet. Ketiga, busana; apok, daleman tile, rok, celana sontog, dan sabuk dan dilengkapi dengan kace serta riasan rambut dan wajah. Daya tarik lainnya, yaitu sampur yang dibentuk berupa sayap pada bagian bahu.
-
NGLEKERKarya tari ini terinspirasi dari permainan tradisional anak-anak yang berasal dari Yogyakarta, yaitu Permainan Jamuran. Permainan ini memiliki kesan yang sangat energik dan biasanya dimainkan di luar ruangan atau di halaman yang cukup luas, serta melibatkan jumlah pemain yang tidak terbatas. Gerak dominan dalam permainan Jamuran bersifat melingkar. Hal ini terlihat dari cara bermainnya, di mana satu orang berdiri di tengah sebagai batang atau pusat, sementara pemain lainnya bergandengan tangan membentuk lingkaran mengelilingi batang tersebut. Berdasar karakter permainan tersebut, karya tari ini diberi judul “Ngleker”. Kata “Ngleker” diambil dari bahasa Jawa yang berarti melingkar, sejalan dengan pola gerak utama yang digunakan dalam permainan Jamuran. Karya tari “Ngleker” digarap dalam bentuk tari kelompok yang ditarikan oleh tujuh orang penari. Tari ini bertipe murni dan mengangkat tema non-literer. Proses kreatif penciptaannya menggunakan metode tari kontemporer yang dikemukakan oleh F.X. Widaryanto yang meliputi tiga tahapan utama: eksplorasi, komposisi, dan evaluasi. Pola gerak serta karakter energik Permainan Jamuran menjadi dasar dalam penciptaan karya ini, kemudian dipadukan dengan gerak-gerak sehari-hari yang diperkuat melalui pengolahan unsur teknik tari seperti tenaga, ruang, dan waktu. Melalui proses tersebut, lahirlah sebuah karya tari berjudul “Ngleker” sebuah interpretasi artistik dari semangat permainan tradisional dalam bentuk ekspresi tari kontemporer.
-
TARI JAIPONGAN KIDUNG SILAYUNG KARYA AYEP DI PADEPOKAN SENI TUNJUNG BALEBAT KABUPATEN BANDUNG BARATAbah Ayep merupakan seorang kreator Tari Jaipongan yang konsisten dan produktif menciptakan karya Tari Jaipongan, salah satunya adalah tari Jaipongan “Kidung Silayung”. Karya tari ini memiliki daya tarik tersendiri, terutama dari aspek gerak yang khas seperti; ngecrik dalam kegiatan nelayan ketika menangkap ikan, liukan gerakan ikan, dan beberapa jurus penca. Karya tari ini terinspirasi dari kondisi kerusakan lingkungan Situ Ciburuy yang diusung menjadi tema. Adapun fokus penelitian ini tertuju pada bagaimana kreativitas Ayep dalam menciptakan Tari Jaipongan Kidung Silayung di Padepokan Seni Tunjung Balebat Kabupaten Bandung Barat. Landasan konsep pemikiran Rhodes mengenai 4P (Person, Process, Press, Product) digunakan sebagai acuan untuk mendapatkan jawaban, sejalan dengan konsep pemikiran tersebut, dalam operasionalnya digunakan metode Kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dengan langkah-langkah meliputi; studi pustaka, studi lapangan, dan analisis data. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa wujud karya tari Kidung Silayung ini memiliki dua dimensi, yaitu: Pertama, kreativitas Ayep dalam penciptaan Tari Jaipongan Kidung Silayung sangat ditentukan oleh adanya person, process, press, product sebagaimana disampaikan Rhodes (4P) yang masing-masing membangun keterkaitan erat saling mempengaruhi dan melengkapi menjadi satu kesatuan bentuk yang utuh secara visual estetik-artistik; Kedua, karya tari Jaipongan Kidung Silayung mampu menyampaikan pesan moral dan sosial kepada masyarakat seperti yang terkandung dalam tema Tari Jaipongan Kidung Silayung yaitu agar lebih peduli terhadap pelestarian alam yang terkandung dalam kearifan budaya lokal. Dengan demikian, proses kreatif Ayep menghasilkan karya tari yang otentik dan bermakna.
-
CHANCHALAHProses kreatif penciptaan karya tari ini mengangkat tentang persoalan nikah siri yang banyak terjadi di berbagai daerah termasuk di Jawa Barat. Karya tari ini diberi judul “Chanchalah” berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti resah. Resah yang dimaksudkan dalam karya tari ini adalah perasaan dari seorang perempuan yang mengalami kekecewaan akibat nikah siri, serta sebuah keinginan untuk keluar dari persoalan tersebut. Diharapkan persoalan yang dijadikan sebagai gagasan karya tari ini dapat menjadi sebuah pesan edukasi bagi perempuan terhadap dampak nikah siri. Karya tari ini menggunakan metode pola garap tari kontemporer dengan tipe tari dramatik, berbentuk tari kelompok yang ditarikan oleh lima orang penari (tiga orang perempuan dan dua orang laki-laki). Landasan konsep garap tentang tipe dramatik yang dipakai pada karya ini adalah konsep Jacqueline Smith, sedangkan untuk metode penciptaan menggunakan metode Y. Sumandiyo Hadi yang meliputi tahap Eksplorasi, Improvisasi dan Komposisi. Adapun capaian dari karya “Chanchalah” ini adalah untuk pengingat pada masyarakat supaya mentaati peraturan Agama dan Negara. Karya ini diharapkan dapat menyampaikan pesan moral tentang akibat yang sangat rentan dalam pernikahan siri baik terhadap individu dirnya sendiri maupun keluarga.
-
NAFIQNAFIQ berasal dari bahasa Arab memiliki arti munafik. Karya tari ini mengisahkan tentang seorang manusia (perempuan) pilihan yang memiliki sifat egois. Proses penciptaan karya NAFIQ yang terinspirasi dari kesenian Sintren khususnya dari Cirebon. Sintren merupakan kesenian yang mengandung unsur magis dan hanya dapat dimainkan oleh orang tertentu. Karya tari ini berfokus pada sosok penari Sintren yang diyakini bukan sembarang orang. Dalam tafsir penulis, ditunjukan bahwa manusia tidaklah sempurna: mereka memiliki sisi baik dan buruk, namun selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Landasan teori yang digunakan dalam karya tari ini kreativitas dari Wallas, sementara metode garap yang digunakan merujuk pada pendekatan Y. Sumandiyo Hadi. Karya tari NAFIQ disajikan dalam bentuk tari kelompok, bertipe dramatik dan diwujudkan dalam pola garap kontemporer. Sebuah karya tari tidak akan terwujudtanpa dari tiga unsur utama, yaitu koreografi, musik, dan artistik. Hasil yang dicapai dari karya tari NAFIQ, sebagai pelajaran bagi manusia bahwa tidak boleh bersikap egois.
-
KAMAKama merupakan judul dari karya tari ini, diambil dari kata sansekerta, yang mempunyai arti keinginan. Keinginan yang dimaksud dalam karya tari ini adalah keinginan untuk memperjuangkan serta memajukan pendidikan bagi kaum perempuan. Karya ini terinspirasi dari salah satu tokoh Garut yaitu Raden Ayu Lasminingrat yang merupakan pahlawan pendidikan bagi kaum perempuan. Karya tari ini mencoba menafsirkan kembali perjuangan Raden Ayu Lasminingrat dalam bidang pendidikan. Karya Kama berfokus pada semangat perempuan dan keberanian dalam memperjuangkan pendidikan untuk kaum perempuan. Adapun nilai dalam karya tari ini adalah tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan agar memperoleh hak yang setara serta kesempatan yang sama dalam kehidupan. Karya tari ini ditarikan dengan bentuk kelompok, bertipe dramatik, serta menggunakan pola garap tari kontemporer. Proses penciptaan karya tari ini menggunakan motode garap Y. Sumandiyo Hadi yang meliputi beberapa tahapan yaitu eksplorasi, Improvisasi dan komposisi. Adapun capaian karya ini yaitu untuk mengapresiasi perjuangan Raden Ayu Lasminingrat dalam menyebarluaskan semangat perempuan dalam meningkatkan akses pendidikan bagi perempuan. Merepresentasikan nilai-nilai emansipasi serta memperkuat peran seni pertunjukan sebagai pewaris nilai-nilai historis.
-
BURUNG PHOENIX SEBAGAI CITRA PERUSAHAAN INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI MONUMENTAL, BASED PROJECT PERUSAHAAN PENGEMBANG PERUMAHAN SUBSIDI DAN KOMERSIL PT.PANCA MULIA PERSADAPenelitian ini berfokus pada penciptaan karya seni patung monumental yang merepresentasikan citra perusahaan PT. Panca Mulia Persada, sebuah pengembang perumahan subsidi dan komersial. Patung monumental ini menggunakan simbol Burung Phoenix sebagai elemen utama, yang melambangkan pembaruan, kebangkitan, dan transformasi. Dalam konteks ini, Burung Phoenix dipilih karena relevansinya dengan visi dan misi perusahaan yang selalu berusaha untuk mengubah lahan yang belum berkembang menjadi kawasan hunian yang bernilai dan berkelanjutan. Penelitian ini membahas pentingnya seni patung monumental dalam memperkuat identitas visual wilayah, khususnya dalam sektor pembangunan perumahan. Patung yang dihasilkan tidak hanya bertujuan sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai instrumen komunikasi untuk memperkenalkan nilai-nilai perusahaan kepada masyarakat luas. Dengan menggunakan teknik cetak resin, karya ini diharapkan dapat menciptakan hubungan emosional antara penghuni dengan lingkungan tempat tinggal mereka, sekaligus memperkuat citra perusahaan sebagai pengembang yang visioner dan peduli terhadap budaya lokal. Melalui pendekatan ini, penelitian ini juga mengkaji tantangan dan realitas dalam penciptaan karya seni monumental di ruang publik, yang seringkali berinteraksi dengan berbagai kepentingan eksternal dan keterbatasan sumber daya.
-
SELF-HARM : SENI INSTALASI SEBAGAI MEDIUM EKSPRESI TRAUMAKarya seni merupakan medium ekspresi yang mampu merepresentasikan pengalaman emosional personal maupun kolektif. Dalam penciptaan karya ini, penulis mengangkat tentang isu Kesehatan mental khususnya fenomena self-harm, terlebih di era digital saat ini isu Kesehatan mental semakin relevan. Pengalaman ini dituangkan ke dalam karya instalasi dengan menggunakan media sehari – hari yang dekat dengan kehidupan manusia, seperti bantal dan pisau sebagai simbol yang kontras antara rasa aman dan rasa sakit. Fenomena self-harm dipilih bukan hanya sebatas refleksi pengalaman pribadi, tetapi juga sebagai cerminan persoalan mental yang lebih luas. Diharapkan karya ini dapat membuka ruang dialog dan kontemplasi bagi audiens dalam pemaknaan atas pengalaman luka dan proses pemulihan.
-
KEMULIAAN SUNAN AMBU REFLEKSI MASA KINI SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA LUKISPenciptaan ini merekontekstualisasi nilai-nilai luhur perempuan dalam budaya Sunda melalui medium seni lukis, dengan menggabungkan kekuatan visual budaya tradisi melalui pendekatan kontemporer, dalam hal ini figur mitologis Sunan Ambu sebagai sumber gagasan utama, yang dipandang memiliki nilai-nilai kemuliaan, kasih sayang, kebijaksanaan, keadilan, pemberi berkah dan pemberi pertolongan. Sosok Sunan Ambu dimetaforavisualkan ke dalam figur perempuan bergaya ekspresionisme. Proses kerja karya ini menggunakan metode practice-led research, yakni proses penciptaan karya melalui observasi, eksplorasi bentuk dan teknik, penguatan pokok gagasan serta implementasi konsep sehingga menghasilkan karya sebagai ekspresi artistik yang berkait dengan isu pergeseran nilai perempuan pada masa kini.
-
PENCIPTAAN PATUNG DIORAMA HEWAN ENDEMIK PAPUA BERDASARKAN KEUNIKAN FISIK DAN PERILAKU (Tugas Akhir Project Based: PT Artes Indonesia – Museum Hewan di Papua)Tugas akhir ini merupakan penciptaan karya seni berbasis proyek yang berfokus pada perwujudan patung diorama fauna endemik Papua. Tiga spesies yang diangkat sebagai objek utama adalah Crocodylus novaeguineae (Buaya Irian), Zaglossus bruijni (Nokdiak), dan Probosciger aterrimus (Kakatua Raja). Ketiga hewan tersebut dipilih berdasarkan keunikan fisik dan perilaku khasnya, serta pentingnya mereka dalam ekosistem Papua. Proses penciptaan dilakukan dengan pendekatan riset morfologi dan etologi, melalui studi pustaka dan observasi visual, yang dilanjutkan dengan tahapan sketsa, pembuatan maket, pencetakan, dan pengecoran menggunakan material seperti resin dan silikon. Tujuan dari karya ini tidak hanya untuk menampilkan bentuk realistis dari fauna Papua, tetapi juga untuk menghadirkan narasi edukatif yang mampu menumbuhkan kesadaran publik terhadap pelestarian spesies langka. Karya ini dirancang agar dapat digunakan sebagai media visual di museum, khususnya untuk memperkuat fungsi edukasi dan interpretasi tentang keanekaragaman hayati Papua. Pendekatan estetika yang digabungkan dengan data ilmiah menjadi kunci dalam menghasilkan representasi yang informatif sekaligus menarik secara visual.
-
FRAGMEN MEMORI: KOPI SEBAGAI MEDIA EKSPRESI DALAM KARYA SENI LUKIS ABSTRAKSeni rupa kontemporer telah berkembang menjadi medium ekspresi yang tidak hanya merepresentasikan bentuk visual, tetapi juga menghadirkan pengalaman batin, refleksi personal, dan pencarian makna melalui pendekatan yang intuitif dan konseptual. Dalam perkembangan tersebut, seni lukis abstrak menempati posisi penting sebagai ruang pengolahan emosi yang tidak terikat pada bentuk representasional. Gagasan yang tidak terucapkan secara verbal, termasuk memori dan trauma personal, dapat diekspresikan melalui warna, tekstur, dan struktur visual yang terbuka terhadap interpretasi. Karya ini mengangkat tema memori sebagai pengalaman psikologis yang bersifat personal dan fragmentaris. Melalui pendekatan seni lukis abstrak, pengkarya merepresentasikan fragmen-fragmen ingatan dalam bentuk nonfiguratif yang diolah menggunakan medium kopi. Pemilihan kopi tidak hanya didasarkan pada karakter visualnya yang khas, tetapi juga karena sifat simboliknya sebagai jejak cairan yang menyerap, mengering, dan meninggalkan residu, layaknya kenangan dalam kesadaran manusia. Proses penciptaan dilakukan secara intuitif melalui teknik pouring, dripping, dan layering, menghasilkan bentuk-bentuk organis dan spontan. Setiap fragmen karya menyimpan lapisan emosi yang berbeda dan disusun dalam struktur 1:1, menciptakan narasi visual yang menyampaikan transisi perasaan dari kegelisahan, tekanan, hingga kontemplasi. Pendekatan ini dikaji melalui konsep trace dari Jacques Derrida yang menyatakan bahwa jejak dari sesuatu yang telah berlalu tetap aktif membentuk makna. Warna-warna kopi yang bersifat earthy juga diperkuat melalui teori warna dari David Hornung yang menghubungkannya dengan kesan waktu dan nostalgia. Selain itu, teori seni sebagai bentuk pemulihan emosional dari Menurut Malchiodi (2007) praktik artistik dapat menjadi sarana reflektif untuk memproses pengalaman batin. Karya ini tidak hanya menjadi representasi visual dari memori, tetapi juga menjadi ruang penyembuhan personal, eksplorasi medium non-tradisional, dan upaya pengarsipan emosi melalui bentuk yang tak terikat oleh figur. Medium kopi menjadi metafora yang menyatu dengan proses, bentuk, dan warna mengubah setiap fragmen menjadi bagian dari kesadaran yang terpecah namun saling terhubung.
-
STRATEGI GRUP CUTA MUDA DALAM MELESTARIKAN KESENIAN REAKPenelitian ini membahas strategi yang diterapkan oleh Grup Cuta Muda dalam melestarikan kesenian Reak di tengah tantangan modernisasi dan merosotnya minat generasi muda terhadap seni tradisional. Reak, sebagai bagian dari warisan budaya Sunda, menghadapi tekanan untuk tetap relevan di era yang didominasi budaya populer dan digital. Untuk menjawab tantangan tersebut, Cuta Muda melakukan berbagai inovasi dengan pendekatan yang terstruktur dan berorientasi pada karakteristik audiens masa kini. Menggunakan metode kualitatif studi kasus, penelitian ini mengumpulkan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi aktivitas komunitas. Analisis didasarkan pada teori Difusi Inovasi dari Everett Rogers, yang menjelaskan bagaimana suatu inovasi menyebar dalam masyarakat melalui tahapan adopsi. Hasilnya menunjukkan bahwa Cuta Muda berhasil mengintegrasikan elemen musik modern ke dalam komposisi Reak, mempercantik tampilan visual pertunjukan, dan secara aktif memanfaatkan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube untuk menjangkau audiens muda serta membangun interaksi yang lebih luas. Kehadiran konten kreator yang turut mengangkat pertunjukan mereka di media digital turut mempercepat proses adopsi kesenian ini di kalangan generasi baru. Strategi-strategi tersebut membuat pertunjukan Reak tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga sarana hiburan yang kontekstual dan menarik bagi publik masa kini. Dengan demikian, pelestarian kesenian tradisional seperti Reak dapat berhasil bila inovasi dilakukan secara terarah, adaptif, dan tetap berpijak pada nilai-nilai budaya aslinya.
-
ORNAMEN PADA FASAD GEDUNG SATE SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI PATUNGKota Bandung sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat memiliki sejarah perkembangan yang tidak terlepas dari peran pemerintah kolonial Belanda. Perpindahan pusat pemerintahan ke Kota Bandung mendorong pembangunan signifikan di wilayah Bandung dan Cimahi, dengan fokus tidak hanya kepada pertumbuhan ekonomi tetapi juga pembangunan infrastruktur pemerintahan. Bangunan peninggalan era kolonial kini menjadi bangunan heritage yang menyimpan nilai historis sebagai warisan budaya Kota Bandung. Kompleksitas elemen visual dan kekhasan arsitektur bangunan heritage menghadirkan peluang eksplorasi yang signifikan dalam pengembangan visual dan rupa melalui medium seni patung. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bentuk arsitektur bangunan heritage Gedung Sate dalam seni patung dengan mempertimbangkan prinsip komposisi seperti harmoni, kesatuan, dan keseimbangan juga pendekatan semiotika yang digunakan untuk membantu pemaknaan karya. Pemilihan bangunan heritage Gedung sate sebagai gagasan utama didasari kemampuannya dalam menghubungkan masa lalu dengan masa kini serta relevansi dengan isu pelestarian bangunan heritage dan citra kota. Metode penciptaan karya menggunakan pendekatan Three Processes of Creation yang terdiri dari tiga tahapan utama. Pertama, tahap eksplorasi untuk membangun bentuk dan menggali ide pokok terkait Gedung Sate dan seni patung. Kedua, tahap improvisasi yang meliputi pertimbangan konsep bentuk dan pembuatan sketsa dengan memperhatikan prinsip-prinsip desain. Ketiga, tahap perwujudan menggunakan teknik memahat (carving), cor (casting), dan teknik perakitan (assembly), menggunakan kombinasi material batu, beton dan bahan industri seperti kaca, resin, logam, besi, dan akrilik. Karya yang tercipta diharapkan tidak hanya menangkap esensi arsitektur Gedung Sate namun juga memperkuat hubungan antara seni rupa dan arsitektur. Eksplorasi artistik yang menerjemahkan elemen-elemen bangunan Gedung Sate ke dalam bentuk patung masih jarang dilakukan menciptakan peluang sekaligus tantangan dalam pengembangan bahasa visual baru. Hasil akhir karya diharapkan dapat menawarkan pengalaman baru dalam mengapresiasi bangunan heritage dan memicu masyarakat serta pemerintah dalam menjaga warisan budaya Kota Bandung.
