Items
-
PRAPANCA GARINIKarya penataan tari ini berjudul Prapanca Garini, kata Prapanca Garini diambil dari bahasa sansakerta Prapanca artinya gelisah dan Garini artinya istri. Maka dari itu Prapanca Garini sebagai gambaran kegelisahan seorang istri terhadap suaminya. Prapanca Garini diambil dari penggalan cerita legenda Situ Gede Tasikmalya yang sangat populer di Tasikmalaya, menjelaskan tentang sikap seorang Nyi Raden Dewi Kondang Hapa yang memiliki ketakutan dan rasa trauma akan poligami yang dilakukan oleh suaminya yaitu Prabu Adilaya. Pendekatannya menggunakan tipe tari dramatik dengan bentuk tari kelompok melalui proses kreatif dari pemikiran Wallas melalui 4 tahap yaitu; (1) persiapan, (2) inkubasi, (3) iluminasi, dan (4) verifikasi dan metode garap menurut Y Sumandiyo Hadi eksplorasi, improvisasi, dan komposisi. Dengan tahapan tersebut tentunya membuka ruang berpikir dan proses berkarya secara kreatif dan inovatif sehingga menghasilkan elemen koreografi, musik, rias busana, dan artistik tari yang relatif berbeda dengan karya lain. Dari tahapan penjajagan proses tersebut, tentunya bukan perihal bentuk estetika yang ingin di sajikan dan di sampaikan pada para apresiator namun ada pesan moral bahwa jangan terlalu mencintai secara berlebihan, karena akan menimbulkan rasa gelisah yang menyakiti diri sendiri.
-
RUNTIK-ING GALIH SANG ATMAJAKarya tari "Runtik-ing Galih Sang Atmaja" merupakan transformasi dari legenda Sangkuriang yang menggambarkan kekecewaan Sangkuriang saat mengetahui wanita yang dicintainya adalah ibu kandungnya, Dayang Sumbi. Karya ini disajikan oleh lima penari laki-laki dan satu penari perempuan dengan pendekatan tradisi dan tipe dramatik. Proses penciptaannya menggunakan metode eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan, sebagaimana dijelaskan oleh Y. Sumandiyo Hadi (2016:136), bahwa proses penciptaan tari bertumpu pada kreativitas dalam mengekspresikan gagasan secara artistik. Hasil garapan menonjolkan konflik batin melalui gerak ekspresif, komposisi dinamis, dan tata artistik yang mendukung suasana dramatik. Pesan moral yang disampaikan adalah pentingnya bersyukur dan menerima kenyataan hidup agar tidak terjebak dalam ambisi yang merusak, seperti yang dialami Sangkuriang, di mana hubungan sedarahnya mencerminkan perilaku menyimpang layaknya naluri hewan.
-
TARI SRIKANDI X MUSTAKAWENITari Srikandi X Mustakaweni merupakan salah satu repertoar tari wayang, yang ditarikan secara berpasangan dan berkarakter putri ladak, mengisahkan tentang dua tokoh pewayangan yaitu Srikandi dan Mustakaweni untuk memperebutkan Pusaka Layang Jamus Kalimusada. Tarian ini dipilih sebagai materi tugas akhir berdasar kepada ketertarikan penulis terhadap koreografi juga penggunaan properti cundrik dan gondewa. Penguasaan terhadap properti tersebut merupakan suatu tantangan bagi penulis untuk mengasah skill kepenarian dan meningkatan kreativitas dari segi koreografi. Penyajian Tari Srikandi X Mustakaweni ini dibuat dalam bentuk hasil inovasi baru, tetapi tidak merubah esensi isi dan bentuk tarian. Untuk mencapai hasil yang optimal dalam proses garap ini penulis menggunakan metode gubahan tari dengan beberapa tahapan di antaranya eksplorasi, evaluasi, dan komposisi. Adapun hasil akhir yang telah dilakukan melalui gubahan tari ini yaitu dengan terwujudnya sebuah tarian hasil kreativitas melalui bentuk gubahan tari dengan mengembangkan beberapa variasi ragam gerak, pemadatan gerak, juga penambahan gerak awal dan akhir yang disesuai dengan ciri khas penulis.
-
BARYA PURUGKarya yang berjudul Barya Purug terinspirasi oleh kisah Lutung Kasarung yang mengambil momen saat putri Purbasari diusir ke dalam hutan. Tari kelompok ini disajikan dengan pendekatan dramatik yang mengedepankan tradisi. Koreografi ini berasal dari gerak tari putri yang ditambahkan dengan elemen dari tari kreasi baru, termasuk karya tari R. Tjetje Somantri dan tari Putri. Tujuannya adalah untuk mewujudkan konsep tersebut menjadi sebuah karya tari berjudul Barya Purug. Pesan dan nilai yang ingin disampaikan penulis dalam karya ini adalah bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai keinginan kita, tetapi juga tentang memilih jalan kebaikan di saat senang maupun sulit. Metode yang diterapkan adalah metode kreativitas Hawkin, yang digunakan dalam karya tari Barya Purug dan terdiri dari beberapa langkah, seperti eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Pendekatan yang diusulkan oleh Y. Sumandiyo Hadi memberikan kebebasan bagi penari untuk berinovasi secara spontan, sehingga mereka lebih leluasa dalam mengembangkan gerakan. Setiap gerakan yang dihasilkan juga memiliki nilai emosional yang dapat dituangkan melalui tema atau cerita yang ingin disampaikan. Hasil dari proses ini adalah eksplorasi dan kreativitas penulis dalam menciptakan tari baru yang terinspirasi oleh elemen-elemen dari cerita rakyat.
-
TARI SRIKANDI X MUSTAKAWENITari Srikandi x Mustakaweni merupakan salah satu genre tarian yang sumber penciptaannya berdasarkan cerita wayang menyangkut penokohan serta memiliki kekhasan tersendiri pada aspek koreografi, tata rias busana, dan karawitannya. Tari Srikandi x Mustakaweni ini menggambarkan perang tanding atau adu kesaktian antara Srikandi melawan Mustakaweni yang diperintahkan untuk mengambil Pusaka Layang Jamus kalimusada. Kedua tokoh ini memiliki karakter yang sama yaitu Putri Ladak. Tujuan penyajian tari Srikandi x Mustakaweni ini untuk meningkatkan kualitas kepenarian serta mewujudkan sebuah sajian yang baru. Kreativitas dalam minat utama penyajian ini menggunakan metode garap “gubahan” merupakan sebuah metode penggubahan dan pengembangan pada bagian-bagian elemen tari dengan mengolah koreografi pada variasi ruang, tenaga, waktu, serta penambahan pada bagian karawitan dan artistik tari dengan tidak menghilangkan esensi tariannya. Hasil dari proses garap ini pada akhirnya akan menampilkan kualitas kepenarian yang baik dan terwujudnya bentuk sajian baru melalui tahap eksplorasi, evaluasi dan kompisisi.
-
TARI SRIKANDI X MUSTAKAWENITari Srikandi X Mustakaweni merupakan produk dari Tari Wayang Wong Priangan di Kabupaten Garut, dipimpin oleh Kayat, yang dikenal sebagai Dalang Bintang. Tari Srikandi X Mustakaweni memiliki gambaran cerita mengenai perang tanding antara Srikandi melawan Mustakaweni untuk memperebutkan Pusaka Layang Jamus Kalimusada. Ketertarikan dalam mengambil minat utama karya seni Penyajian Tari yang merupakan individu yang memiliki kemampuan menampilkan karya tari secara kreatif meliputi suatu proses atau cara menyajikan suatu karya tanpa mengubah pakem keasliannya, adapun materi yang diambil yaitu Tari Srikandi X Mustakaweni yang berkarakter putri ladak, dimana karakter tersebut dimiliki oleh penulis, selain itu dalam Tari Srikandi X Mustakaweni yaitu terdapat nilai keberanian yang dapat dijadikan cerminan kehidupan untuk menumpas kejahatan. Tantangan dalam mengembangkan Tari Srikandi X Mustakaweni tanpa mengubah pakem yang telah ada juga merupakan salah satu daya tarik tersendiri dikarenakan adanya penggunaan properti yang perlu dikuasai. Tujuan untuk menyajikan Tari Srikandi X Mustakaweni sebagai karya baru yang lebih kreatif dengan menggunakan metode gubahan. Metode ini dilakukan melalui beberapa tahapan, di antaranya: tahap eksplorasi, tahap evaluasi, dan komposisi, sehingga dapat terbentuknya sajian baru dengan kualitas kepenarian yang baik, dengan dilakukannya pengembangan kreativitas dan pendalaman tari, sehingga penulis menjadikan tarian ini sebagai representasi visual yang kaya tanpa mengubah ciri khas identitas atau esensi yang akan disampaikan.
-
PENYAJIAN REPERTOAR TARI BADAYATari Wayang merupakan salah satu rumpun tari yang berkembang di lingkungan ISBI Bandung, salah satunnya Tari Badaya yang menggambarkan emban geulis atau abdi keraton yang tugasnya menari untuk menghibur raja dan para petinggi kerajaan lainnya. Penulis tertarik menyajikan Tari Badaya karena sesuai dengan ketubuhan penulis serta didasari oleh nilai kerjasama dan kebersamaan di dalamnya. Pada penyajian Tari Badaya ini, penulis menggunakan metode garap gubahan tari. Tahapan yang dilakukan untuk menggarap melalui proses ekplorasi, evaluasi, dan komposisi. Penulis mencoba menyisipkan beberapa pengembangan dalam struktur, pola lantai, jumlah penari, dan iringan. Tari Badaya memiliki tiga struktur pola irama, yaitu cepat, lambat, sedang, dan cepat lagi, dengan lagu pengiring yaitu Kawitan dan Badaya. Hal ini dapat memberi peluang bagi penulis untuk menambahkan pengembangan gerak di bagian awal dan akhir, juga pengembangan pola lantai dengan menyesuaikan jumlah pendukung tari yang dapat memberikan daya tarik. Hasil yang diperoleh terwujudnya Tari Badaya dari kreativitas dan pengembangan, pemadatan, serta perpaduan antara gerak dengan musik hasil inovasi tanpa menghilangkan ciri khas asli dari tariannya.
-
PERTUNJUKAN TARI REJANG DEWA DALAM RITUAL PUJAWALI AGUNG DI PURA WIRA SATYA DHARMA KOTA BANDUNGTari Rejang Dewa merupakan tarian yang digunakan sebagai sarana ritual upacara Hindu Indonesia, dipertunjukkan pada ritual Pujawali yang merupakan bagian dari ritual pemujaan kepada Tuhan (Dewa Yadnya) di Pura Wira Satya Dharma Kota Bandung. Tarian ini dipertunjukkan pada kegiatan ritual Pujawali Agung ke-53, yang menjadi ketertarikan bagi penulis, terutama dalam prosesi kegiatan yang dilakukan oleh para penari untuk mempersiapkan pertunjukan tari tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara terstruktur terkait proses pertunjukan Tari Rejang Dewa, yang terdiri dari tiga fase, yakni: Pra-Pertunjukan, Pertunjukan, dan Pasca-Pertunjukan. Penelitian skripsi ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif pendekatan deskriptif pendapat Imam Setyobudi, dengan teknik pengumpulan data triangulasi, terdiri dari observasi, wawancara semi terstruktur, dan pengumpulan data dokumen. Serta dalam memecahkan masalah penelitian, digunakan teori Victor Turner terkait liminalitas yang diadaptasi oleh Richard Schechner terkait fase pertunjukan. Hasil pada penelitian ini didapatkan bahwa, Tari Rejang Dewa dilaksanakan dengan persiapan awal (Separasi), berupa penentuan penari, latihan dan gladi, serta persiapan khusus dengan memercikkan air tirta. Pada fase Liminal (Masuk hal Sakral), penari bertemu Pedanda, lalu menari secara bersama dengan struktur tarian yang telah ada, di dalam fase ini juga terjadi komunikasi sakral secara tidak langsung antara penari dengan yang dituju 'Tuhan', dan para penonton yang menikmati. Pada akhir kegiatan (Reagerasi), para penari akhirnya kembali menjadi dirinya, ke luar dari yang sakral dengan beristirahat dan melakukan kegiatan lainnya, serta tampilan baru saat melakukan perilaku ritual (Persembahyangan).
-
KREATIVITAS R. EFFENDI LESMANA DALAM PENCIPTAAN TARI PANCAWARNAR. Effendi Lesmana merupakan seniman tari yang menciptakan Tari Pancawarna pada tahun 1988. Karya ini bersumber dari perpaduan dua rumpun tari yang berbeda, yaitu Tari Keurseus dan Tari Wayang, yang kemudian dikemas dalam bentuk Tari Kreasi Baru. Meskipun menggabungkan dua rumpun tari yang berbeda, R. Effendi Lesmana tetap menjaga keharmonisan dalam koreografi, tata rias, busana, dan iringan musiknya. Keunikan dalam penggabungan tersebut menjadi titik tolak penelitian ini, dengan fokus pada proses kreatif yang ditempuh oleh R. Effendi Lesmana dalam penciptaan Tari Pancawarna. Penelitian ini menitikberatkan pada aspek kreativitas dan menggunakan teori Four P’s of Creativity dari Mel Rhodes, yang mencakup Person, Process, Press, dan Product. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, melalui studi lapangan, studi pustaka, serta analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya R. Effendi Lesmana sebagai person, menunjukkan sikap (pathos), pengetahuan (logos), dan keterampilan (technos) yang terbentuk dari latar belakang keluarga seniman dan proses belajar secara otodidak. Motivasi internal untuk meneruskan warisan sang ayah serta faktor eksternal berupa kebutuhan pertunjukan yang lebih ringkas mendorongnya untuk menciptakan karya baru. Dalam proses kreatifnya, ia mengidentifikasi masalah, berpikir terbuka, mencari solusi terbaik, dan mentransformasi nilai-nilai tari ke dalam bentuk yang lebih adaptif. Tari Pancawarna menjadi produk tari berdurasi singkat yang tetap sarat makna, mencerminkan perjalanan hidup manusia sebagai representasi filosofi kehidupan. Karya ini mencerminkan keberhasilan transformasi kreativitas tradisi dalam konteks kekinian.
-
PARIVARTANAKarya tari yang berjudul Parivartana diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya Transformasi. Transformasi ini bermaksudkan pada upaya para seniman untuk tetap saling menjaga kebersamaan. Pada Kesenian Bebegig Sukamantri ini menjadi sumber inspirasi dalam mencipta karya ini karena dengan dukungan pengalaman emperis yang menyaksikan sendiri kurangnya kesadaran pegiat adanya proses perjuangan dalam menjadi pegiat yang baik. Profesi pegiat Kesenian Bebegig Sukamantri sebagai wirausaha menjadikan salah seorang pegiat seni yang hanya ingin enaknya saja tanpa adanya proses perjuangan untuk menjadi seorang pegiat yang saling gotong-royong. Tetapi para seniman lainnya bersih keras untuk bersikap profesional dalam menjaga kesenian ini. Semangat dan perjuangan secara goyong-royong bersikeras untuk saling berusaha mengubah sikap antara pegiat lain terutama di ruang lingkup Kesenian saat ini. Kerja keras dan semangat ini diusung ke dalam karya tari Parivartana yang dikemas kedalam bentuk tari kelompok dengan metode pendekatan kontemporer serta tipe garap dramatik. Karya tari Parivartana menggunakan landasan teori Y. Sumandiyo Hadi dan metode pendekatan Alma M hawkins dengan lima pola merasakan, menghayati, menghayalkan, mengejawantahkan, dan memberi bentuk , yang dimana sumber gerak yang digunakan merupakan hasil desain dinamika, irama. Gerak ini dibawakan dengan cara yang sudah didistorsi dan stiisasi dari gerak khas Bebegig juga gerak keseharian. Semua ini tercipta dan membentuk karya tari Parivartana.
-
IGELKarya ini berjudul IGEL, yang terinspirasi dari topeng Benjang. Kata "IGEL" berasal dari bahasa sunda yang berarti "menari", tubuh menjadi representasi utama dari ekspresi dalam tarian tersebut. Topeng Benjang memiliki ciri khas salah satunya gerakan yang unik serta tangan yang selalu mengepal pada setiap gerakannya, inilah salah satu bagian yang mendasari penulis untuk menciptakan sebuah karya tari. Pengidentifikasian dari gerak Topeng Benjang menjadi suatu insprirasi yang dijadikan sebuah ide gagasan sebagai pijakan dalam proses penciptaan karya tari. Dalam tariannya penulis mengusung tema non-verbal sebagai tari dengan tipe murni. Gerak-gerak yang dijadikan sumber penggarapnya berasal dari gerak mincid Benjang, angin-angin, senggolan, serta tangan yang selalu mengepal disetiap gerak tariannya yang dieksplor dengan gerak keseharian seperti berjalan, berputar, melompat, berguling, berlari, dan melompat dengan unsur ruang, tenaga dan waktu. Metode garap yang digunakan yaitu menurut Y. Sumandyo Hadi yang mengatakan bahwa pengembangan kreatif dapat melalui tahap eksplorasi, improvisasi, dan komposisi. Serta landasan konsep menggunakan teori Eko Supriyanto yang mengatakan bahwa kolaborasi merupakan menciptakan suatu ide gagasan yang baru dengan hubungan yang lama, walaupun masing-masing merujuk pada akar yang lama namun menjadikan tradisi sebakai akar menciptakan gagasan baru. Tujuan menciptakan karya ini untuk menghadirkan estetika gerak tradisional dalam bentuk kontemporer hasilnya dapat membangun apresiasi terhadap seni budaya lokal sekaligus mendorong inovasi untuk menghasilkan karya tari baru namun tetap mempertahankan nilai-nilai budaya asli.
-
BALANCEKarya tari dengan judul “Balance” diambil dari Bahasa Inggris yang artinya seimbang, diartikan sebagai harmonisasi sifat manusia yang terus bergerak melingkari atau mengelilingi kehidupan sehari-hari manusia, yaitu sifat baik dan buruk. Karya tari ini terinspirasi dari sebuah pemikiran orang Tionghoa tentang konsep Yin dan Yang. Pemikiran orang Tionghoa tersebut dijadikan sumber inspirasi untuk menciptakan karya tari yang berjudul “Balance”. Sumber inspirasi tersebut merupakan hasil dari pengamatan oleh panca indera terhadap lingkungan sekitar dan kepekaan dalam berpikir. Karya tari “Balance” ini digarap menggunakan pendekatan tari kontemprer tipe dramatik, yang dibangun melalui proses kreativitas berdasarkan konsep pemikiran Wallas. Adapun hasil capaian dari karya tari “Balance” ini, terwujudnya tiga unsur estetika utama meliputi koreografi, musik, dan artistik tari dalam bentuk tari duet atau tari berpasangan sejenis dan memiliki nilai kehidupan di dalamnya.
-
TARI NGECEK SETEPAK KARYA ANDI SUPARDI DI SANGGAR KINANG PUTRA KOTA DEPOKTari Ngecek Setepak merupakan sebuah tari kreasi yang diciptakan oleh Andi Supardi di Sanggar Kinang Putra pada tahun 2017. Kata Ngecek sendiri berarti enjot, dorong dan tekan, sedangkan kata Setepak berarti mengikuti irama gendangan topeng. Tarian ini terinspirasi dari kesenian Topeng Betawi yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah bentuk kreasi baru. Hal tersebut yang menjadi daya tarik utama bagi penulis untuk mengkaji tarian dengan fokus pada struktur Tari Ngecek Setepak. Metode penelitian yang digunakan yaitu menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dengan langkah-langkah pengumpulan data sebagai berikut; studi pustaka, studi lapangan, dan analisis data. Penelitian ini menggunakan teori struktur dari Y Sumandiyo Hadi yang terdiri atas; gerak tari, ruang tari, iringan tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah penari dan jenis kelamin, rias dan kostum, tata cahaya dan properti tari. Penelitian ini menghasilkan data mengenai struktur Tari Ngecek Setepak yang di dalamnya ada korelasi antar aspek-aspeknya. Adapun struktur tarinya yaitu terdiri dari; gerak tari yang dapat ditampilkan pada panggung proscenium dan arena menggunakan alat musik gambang kromong, dengan tema kegembiraan yang bersifat non-literal atau tidak bercerita, tarian ini berjenis tari kreasi baru dengan tipe murni dan memiliki mode penyajian simbolis-representasional. Tari Ngecek Setepak ditarikan secara berkelompok berjumlah lima orang penari perempuan dengan rias korektif dan kostum tari yang dimodifikasi dari tari tradisi Betawi, dengan tata cahaya yang menyesuaikan dengan kebutuhan penampilan.
-
TARI KUKUPU GUBAHAN IRAWATI DURBAN DI PUSAT BINA TARI KOTA BANDUNGTari Kukupu diciptakan oleh Rd. Tjetje Somantri tahun 1952 menggambarkan siklus kehidupan kukupu sejak keluar kepompong, menjemur sayap hingga saling berkejaran, digambarkan dengan gerakan yang indah. Tarian ini terinsipirasi dari kehidupan binatang, bermula dari pemikiran Tb. Oemay Martakusuma ini bertujuan ‘membaletkan’ tari Sunda. Namun pada tahun 1978 Irawati melakukan gubahan pada beberapa koreografi dan kostum tarian tersebut, hingga saat ini tarian tersebut masih terpelihara dan diajarkan di sanggar Pusbitari. Hal tersebut menjadi ketertarikan bagi penulis untuk lebih lanjut mengkaji struktur Tari Kukupu menggunakan landasan konsep pemikiran Y. Sumandiyo Hadi mengenai struktur tari yang meliputi: gerak tari, ruang tari, iringan tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah penari dan jenis kelamin, rias dan kostum tari, tata cahaya, dan properti tari. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, terdapat langkah-langkah pengumpulan data meliputi: observasi, wawancara, dokumentasi, triangulasi, dan analisis data. Hasil penelitian terhadap struktur Tari Kukupu yang saling berkorelasi dengan aspek di dalamnya terdiri dari tigabelas ragam gerak bersumber dari gerak binatang dan dapat ditampilkan di panggung apapun sesuai kebutuhan pertunjukan, menggunakan lagu Jemplang dua wilet, berjudul Tari Kukupu dengan tema non- literal, tergolong tipe murni dengan berpijak tari kreasi baru (pada zamannya) dan bersifat non- literal, serta disajikan secara simbolis-representasioal, yang ditarikan secara berkelompok berpasangan oleh perempuan, menggunakan rias korektif di dalamnya terdapat alis bulan sapasi, pasuteleng trisula, godeg eulis dan kostum menggambarkan binatang kukupu, menggunakan lighting warm, dan properti selendang dan sayap.
-
TARI PANGGUGAH KARYA ZENZEN DJUANSYAH DI SANGGAR GETAR PAKUAN BOGORTari Panggugah buah karya Zenzen Djuansyah memiliki arti “menggugah”, yaitu mengajak serta mengingatkan siswa sanggar maupun masyarakat untuk mencintai seni Budaya Khususnya seni tari. Daya tarik dari tarian ini adalah terletak pada penggunaan sumber inspirasi yaitu tari Oray Welang dan Keser Bojong. Kedua tarian tersebut, merupakan bentukan awal tari Jaipongan di Padepokan Jugala. Oleh sebab itu, Djuansyah sebagai kreatornya merancang sebagai tari dasar bagi siswa sanggar untuk lebih memudahkan dan memahami tari Jaipongan. Sehubungan dengan hal tersebut, pertanyaan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana stuktur Tari Panggugah karya Zenzen Djuansyah di Sanggar Getar Pakuan Bogor. Adapun tujuan dari penelitian yang difokuskan pada struktur tari adalah untuk mendapatkan penjelasan secara deskriptif tentang struktur tari Panggugah di Sanggar Getar Pakuan Bogor. Untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut, dalam penelitian ini digunakan landasan konsep pemikiran dari Y. Sumandiyo Hadi yang menyatakan, bahwa untuk melihat keseluruhan hubungan tersebut pada sebuah karya tari perlu mencermati beberapa elemen penting, yaitu: gerak tari, judul tari, tema tari, iringan tari, jenis tari, penyajian, jumlah penari dan jenis kelamin, rias dan kostum tari, ruang tari, tata cahaya, dan properti tari. Adapun dalam operasionalnya menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dan secara teknis melalui langkah-langkah, yaitu; studi pustaka, studi lapangan, triangulasi, dan analisis data. Hasil yang dicapai adalah struktur tari Panggugah, dibentuk dari empat konstruksi tari meliputi; bukaan, pencugan, nibakeun, dan mincid dalam kesaatuan tiga unsur estetika utama yaitu; koreografi, iringan tari, dan busana.
-
NAHASKarya penciptaan tari NAHAS mengusung ide dari kisah tokoh Dewi Anjani dalam cerita wayang epos Ramayana yang bernasib buruk, sebagai akibat dari kejadian melanggar amanat tidak boleh membuka rahasia isi dari Cupu Manik Astagina yang mengakibatkan kutukan terhadap Dewi Anjani berubah paras cantiknya menjadi kera. Judul Karya tari NAHAS merupakan kata yang diambil dari diksi yang memiliki arti malang, menggunakan tipe garap dramatik agar nilai-nilai yang diusung dapat tersampaikan dengan baik. Untuk mewujudkan karya tari ini, digunakan landasan konsep garap mengenai kreativitas dari Alma M. Hawkins yang menyebutkan, bahwa ada lima tahap yaitu; merasakan, menghayati, menghayalkan, mengejawantahkan, dan memberi bentuk. Sejalan dengan konsep pemikiran tersebut, digunakan pendekatan metode garap dari Y. Sumandio Hadi, yaitu proses garap dilalui dengan tiga tahapan, di antaranya; eksplorasi, evaluasi, dan komposisi. Adapun hasil yang dicapai adalah suatu bentuk karya tari yang dikemas dalam pola garap kontemporer yang inovatif dan disajikan berkelompok tujuh orang penari putri.
-
BURNOUTKarya tari “Burnout” terinspirasi dari sindrom psikologis yang merupakan sebuah karya tari kontemporer bertipe dramatik yaitu aktivitas Dokter di Rumah Sakit. Karya ini memfokuskan tentang Sindrom psikologis yang dialami Dokter begitu padat sehingga tidak sesuai antara kondisi fisik sebagai manusia dengan beban pekerjaan yang begitu banyak. Hal ini menyebabkan rasa kewalahan dan rasa lelah seorang Dokter yang berada di Rumah Sakit, baik lelah fisik maupun lelah pikiran disebabkan banyaknya pasien-pasien. Karya tari ini diberi judul “Burnout” yang diambil dari bahasa Inggris yang memiliki arti kewalahan atau kelelahan, bisa juga diartikan sudah tidak mempunyai tenaga atau ketertarikan untuk melakukan aktivitas. Burnout tidak hanya kelelahan secara fisik tapi juga secara emosional. Biasanya burnout itu muncul ketika kondisi lelah ataupun kewalahan karena pekerjaan. Metode yang dipakai dalam karya ini ialah metode F.X Widaryanto yaitu tiga tahapan proses eksplorasi, improvisasi dan komposisi dengan landasan teori Sudiasa yaitu pencapaian dramatik yang akan dipakai untuk menimbulkan tumbuh daya imajinasi menjadikan sebuah tema dan konsep. Hasil pada karya tari ini terwujud melalui konsep garap menjadi sebuah karya tari yang berjudul “Burnout” melalui pendekatan kontemporer dan tersampaikannya pesan simpati atas sindrom psikologis seorang dokter.
-
TWO SIDEKarya tari berjudul Two Side terinspirasi dari fenomena gangguan kesehatan mental, khususnya kepribadian ganda, yang menggambarkan perjuangan seorang penderita dalam menghadapi dan menyembuhkan dirinya. Judul Two Side, yang berarti "dua sisi", mencerminkan kondisi ketika satu kepribadian mengambil alih tubuh penderita saat gangguan tersebut kambuh. Karya ini digarap dengan pendekatan tari kontemporer dan disajikan dalam bentuk tari kelompok bertipe dramatik. Tari kontemporer dipilih karena mampu mengeksplorasi ekspresi gerak secara lebih kompleks dan emosional, sesuai dengan tema yang diangkat. Menurut Wallas (dalam Munandar 2014:59) bahwa:“proses kreatif meliputi 4 tahap, yaitu tahap persiapan, tahap inkubasi, tahap iluminasi dan tahap verifikasi” . Melalui karya ini, penulis berharap dapat meningkatkan kesadaran dan empati masyarakat terhadap penderita gangguan kesehatan mental serta menjadikan seni sebagai media penyampaian pesan sosial yang mendalam.
-
TARI EAK-EAKAN KARYA HETTY PERMATASARI DI PADEPOKAN SENI JAMPARING PARIKESITTari Eak-Eakan merupakan tari kreasi baru yang diciptakan oleh Hetty Permatasari pada tahun 1996. Tarian ini terinspirasi dari sebuah kesenian yang berada di Jawa Barat yaitu, Kesenian Reak. Salah satu daya tarik dari Tari Eak-Eakan ini yaitu koreografi. Koreografi dalam Tari Eak-Eakan menggambarkan alur yang terdapat dalam Kesenian Reak, dengan adanya Tari Eak-Eakan ini bisa memperlihatkan Kesenian Reak dalam kemasan seni pertunjukan berupa sebuah tari bentuk. Hal tersebut merupakan faktor daya tarik bagi penulis untuk mengetahui tentang Struktur Tari Eak-Eakan Karya Hetty Permatasari di Padepokan Seni Jamparing Parikesit. Adapun rumusan masalah pada penelitian ini yaitu: Bagaimana Struktur Tari Eak-Eakan Di Padepokan Seni Jamparing Parikesit? Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur Tari Eak-Eakan melalui sebelas elemen struktur tari menurut Y. Sumandiyo Hadi sebagai landasan pemikiran teoritisnya, yaitu: gerak tari, ruang tari, iringan tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah dan jenis kelamin penari, rias dan kostum tari, tata cahaya, serta properti tari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa seluruh elemen tersebut hadir secara utuh dan saling mendukung, mulai dari pengolahan gerak yang bersumber dari tari tradisional, pemanfaatan ruang panggung melalui desain lantai yang bervariasi, hingga penggunaan properti dan tata rias yang mendukung tema dan karakter tari.
-
RESCHEDULEKarya tari bertajuk Reschedule berakar pada istilah profesional “menjadwalkan ulang” yang dipilih sebagai metafora atas kenyataan kompleks perempuan berperan ganda menjembatani tuntutan karier dan kewajiban domestik secara serempak. Isu ini menjadi poros penciptaan, menyoroti upaya perempuan modern dalam mengelola waktu dan energi di dua ranah yang kerap berkonflik. Kebaruan karya diwujudkan melalui pendekatan interdisipliner yang memadukan koreografi dengan unsur visual berupa aktivitas melukis sebagai refleksi batin, sastra dalam bentuk dramatisasi puisi, serta audio yang mencakup musik internal dan musik eksternal. Unsur visual diwujudkan melalui tata artistik panggung, penggunaan rias korektif, serta kostum yang merepresentasikan identitas formal (ranah profesional) dan informal (ranah domestik). Penggunaan properti simbolik turut memperkuat representasi visual terhadap tekanan psikologis dan beban sosial yang dihadapi perempuan dalam menjalani peran ganda. Proses penciptaan karya ini berlandaskan pada teori proses kreatif Graham Wallas yang mencakup empat tahapan: Persiapan, Inkubasi, Iluminasi, dan Verifikasi. Tahapan tersebut diterapkan melalui metode garap dari Y. Sumandiyo Hadi yang terdiri atas Eksplorasi, Improvisasi, dan Pembentukan (komposisi dan evaluasi). Pendekatan Relasi Artistik yang dikemukakan oleh Alfianto juga digunakan untuk membangun integrasi antar elemen garap secara menyeluruh, sehingga tercipta koherensi antara bentuk dan makna dalam penyampaian gagasan. Karya ini diwujudkan menggunakan pola garap kontemporer bertipe dramatik, dan disajikan sebagai tari kelompok, yang memungkinkan pengolahan gerak dari aktivitas keseharian perempuan menjadi bentuk ekspresi estetis melalui teknik distorsi dan stilisasi.
-
S-HEELSKarya tari S-Heels merupakan bentuk penciptaan tari yang terinspirasi dari bentuk kaki saat menggunakan sepatu hak tinggi, khususnya stiletto heels. Ide dasar penciptaan berangkat dari rangsang kinetik, yaitu bentuk kaki yang mengikuti lengkungan sepatu hak tinggi atau yang dikenal dengan posisi jinjit. Istilah S-Heels merupakan akronim dari Stiletto Heels, yakni salah satu jenis sepatu dengan hak tinggi yang runcing, lancip, serta menuntut kekuatan dan keseimbangan dalam penggunaannya. Jinjit tersebut dalam anatomi gerak tubuh dikategorikan sebagai dorsiflexion dan plantarflexion, yaitu gerakan yang melibatkan otot-otot kaki dalam mempertahankan keseimbangan. Selain itu, karya ini juga mengadaptasi gerakan khas dunia modeling seperti kickstep atau kickwalk, yaitu teknik berjalan dengan mengangkat kaki dan sedikit menendang ke depan saat melangkah. Proses penciptaan karya tari ini menggunakan metode kreativitas menurut Alma M. Hawkins yang meliputi tahapan: sensing, feeling, imaging, transforming, dan forming. Karya tari ini disusun dengan pendekatan garap kontemporer, termasuk dalam kategori tari murni, dan disajikan dalam bentuk pertunjukan kelompok oleh enam penari. Tema yang diangkat bersifat non-literer.
-
TARI EMPOK KINANG KARYA ANDI SUPARDI DI SANGGAR KINANG PUTRA KOTA DEPOKTari Empok Kinang merupakan hasil pengembangan dari ragam gerak yang terdapat dalam kesenian Topeng Betawi. Nama tari ini diambil dari sosok maestro Kesenian Topeng Cisalak atau Betawi, yakni Mak Kinang, sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya tersebut. Tari ini diciptakan oleh Andi Supardi, seorang maestro generasi ketiga dalam tradisi Kesenian Topeng Betawi. Tari Empok Kinang menyimpan banyak hal menarik untuk dikaji, khususnya dalam aspek koreografinya. Meskipun terdapat banyak pengulangan gerak, tarian ini tetap menyuguhkan komposisi yang memikat, baik dari segi pola lantai maupun bentuk gerakannya. Penelitian ini secara khusus menyoroti struktur penyajian Tari Empok Kinang sebagai objek utama kajian. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Konsep yang digunakan berlandaskan pada teori struktur tari yang dikemukakan oleh Y. Sumandiyo Hadi. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik triangulasi, yaitu kombinasi antara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk mencapai tujuan penelitian, yakni mengungkap struktur mendalam dari Tari Empok Kinang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur penyajian Tari Empok Kinang mencakup sebelas aspek utama: Gerak Tari, Iringan Tari, Judul Tari, Tema Tari, Jenis Tari, Penyajian Tari, Jumlah dan Jenis Kelamin Penari, Rias dan Kostum, Ruang Tari, Tata Cahaya, dan Properti Tari. Kesebelas aspek ini saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang tidak terpisahkan, di mana setiap elemen berkontribusi dalam memperkuat makna, suasana, dan nilai artistik tari secara keseluruhan. Korelasi antar aspek tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun struktur tari yang ideal serta menyampaikan pesan budaya dan estetika secara harmonis kepada penonton.
-
TARI BANDRONG ING CILEGON KREATIVITAS DATUK NURHIDAYAT DI PADEPOKAN DUTA SENI KRAKATAU STEELDatuk Nurhidayat merupakan salah satu seniman yang dikenal konsisten dan produktif dalam menciptakan tari, salah satunya yaitu Tari Bandrong Ing Cilegon yang dibentuk sebagai tarian Kreasi Baru. Sumber penggalian keragaman geraknya diambil dari kesenian Pencak Silat Bandrong, karena di dalamnya sebagai upaya pelestarian budaya tradisional Kota Cilegon. Karya tari ini memiliki ciri khas tersendiri, yaitu gerakan tangan dan kaki yang cenderung cepat dan menggunakan teknik bawah untuk menjatuhkan lawan seperti; pasang, tonjok, tangkis, gentus, catrok/sompok, beset, sepak, lima pukul, bandrong, kuwintang, banteng malang, rambet, gunting, colok, rogo dengan tambahan dua gerak peralihan yaitu encos dan bandul. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis kreativitas Nurhidayat dalam penciptaan tari tersebut di Padepokan Duta Seni Krakatau Steel. Oleh sebab itu yang menjadi pertanyaan penelitian dirumuskan bagaimana kreativitas Datuk Nurhidayat dalam penciptaan tari Bandrong Ing Cilegon Di Padepokan Duta Seni Krakatau Steel. Untuk mendapatkan jawabannya, digunakan landasan konsep pemikiran Rhodes yang menyebutkan, bahwa kreativitas meliputi 4P; person, process, press, Product. Sejalan dengan konsep pemikiran tersebut, dalam operasionalnya digunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dengan langkah-langkah meliputi; studi Pustaka, studi lapangan (observasi, wawancara, dokumentasi, dan triangulasi), dan analisis data. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa proses kreatif Datuk Nurhidayat diwujudkan dengan melibatkan pribadi yang dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik, melakukan proses, mendapatkan dorongan dari intrinsik dan ekstrinsik, sehingga mampu menghasilkan produk karya tari yang diberi judul “Bandrong Ing Cilegon”. Karya tari ini menggabungkan nilai-nilai tradisi, ekspresi seni, dan inovasi dalam gerak, musik, serta kostum tari.
-
TARI EKALAYA KARYA R. ONO LESMANA KARTADIKOESOEMAH DI PADEPOKAN SEKAR PUSAKA SUMEDANGTari Ekalaya merupakan salah satu Tari Klasik yang disebut dengan rumpun Tari Wayang gaya Sumedang yang diciptakan R. Ono Lesmana Kartadikoesomah pada tahun 1954 di Padepokan Sekar Pusaka. Penelitian ini memfokuskan kajian pada aspek estetika yang terkandung dalam Tari Ekalaya karya R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah, dengan menelaah unsur-unsur keindahan visual, ragam gerak, serta nilai simbolik yang membentuk kekuatan artistik pada tarian tersebut. Fokus permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini mengenai estetika Tari Ekalaya, yang dikaji menggunakan pendekatan teori estetika AAM Djelantik. Estetika Tari Ekalaya ini mengacu pada pemahaman tiga konsep mendasar yaitu; wujud meliputi bentuk (form) dan struktur (structure); bobot (content) meliputi suasana, gagasan, dan pesan; dan penampilan (presentation) meliputi bakat, keterampilan dan sarana. Guna mencapai hasil yang maksimal kegiatan penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis menggunakan langkah-langkah metode penelitian antara lain; observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisis data. Hasil dari penelitian ini diperoleh bahwa pada Tari Ekalaya memiliki nilai estetika yang terlihat dari ketiga aspek tersebut, juga didapatkan korelasi yang relevan antar bagiannya. Estetika Tari Ekalaya tidak hanya tercermin melalui koreografi, tetapi juga melalui pemaknaan mendalam yang tersirat dalam setiap gerak dan elemen pendukungnya, seperti tata rias, busana, iringan tari dan tata panggung, yang secara keseluruhan menciptakan pengalaman apresiatif yang utuh bagi penonton.
-
GARIS HIDUPGARIS HIDUP merupakan karya tari yang terinspirasi dari kisah seorang tunanetra yang tidak menerima takdirnya. Tunanetra adalah sebutan bagi seseorang yang mengalami kerusakan pada indera penglihatan, sehingga kehidupannya berbeda dari kebanyakan orang. Secara etimologi, Garis Hidup berasal dari dua kata dalam bahasa Indonesia. Garis berarti titik-titik yang tersusun sejajar dan memanjang, sedangkan hidup mengacu pada keberadaan manusia yang mengandung nilai. Dengan demikian, Garis Hidup dimaknai sebagai penetapan, nasib, atau takdir. Karya tari ini di garap secara kelompok menggunakan tipe dramatik, yaitu berfokus pada penguatan suasana dan penyampaian pesan, yang kemudian diekspresikan melalui pola garap tari kontemporer. Landasan konseptual dari karya ini mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Alma M. Hawkins, sedangkan metode pendekatan garap yang digunakan merujuk pada metode Y Sumandiyo Hadi. Karya tari ini tidak akan terwujud tanpa keberadaan tiga unsur utama yang saling berkaitan, yaitu koreografi, musik dan artistik. Tujuan terciptanya karya tari ini tentu untuk memenuhi salah satu syarat lulusnya Sarjana Seni juga untuk menyampaikan pesan sosial maupun moral pada diri sendiri, apresiator dan teman-teman tunanetra diluar sana. Hasil yang penulis dapat bukan hanya menciptakan sebuah karya tari, namun juga penulis dapat belajar dan memahami bagaimana rasanya tidak dapat melihat. Hal ini menjadikan penulis dan para pendukung lebih bersyukur dalam menjalani kehidupan.
