Items
Class
Thesis
-
PENATAAN VISUAL REALIS DALAM FILM "MALAM BENCANA YANG TIDAK DIRENCANAKAN DARI PEMANGGUNGAN BENCANA YANG DIRENCANAKAN"Film “Malam Bencana yang Tidak Direncanakan dari Pemanggungan Bencana yang Direncanakan” adalah film fiksi yang membahas tentang seorang sutradara teater yang terobsesi dengan teater. Untuk mendukung konsep tersebut menggunakan penerapan teknik sinematografi long take sebagai pendukung dalam film ini. Film ini berupaya untuk mendorong fokus penonton secara maksimal sehingga penonton bisa merasakan apa yang karakter rasakan serta merasa ikut andil di dalam frame tersebut dan berusaha menciptakan atmosfer dramatis serta ketegangan yang mendalam. Camera movement merupakan teknis sinematografi yang mendukung long take sebagai acuan utama frame dengan fokus kamera mengikuti setiap pergerakan subject. Mood and look juga salah satu unsur pendukung emotional yang memiliki mood yang warm bisa menciptakan atmosfer yang intens, psikologis dan ketegangan. Penata kamera memiliki peran penting dalam pembuatan sebuah film, penata kamera juga memiliki tanggung jawab terhadap pengkonversian dari konsep naratif ke dalam konsep sinematik melalui unsur – unsur mise en scene seperti latar waktu dan tempat, pencahayaan, make up and wardrobe, properti, dll. Unsur sinematik juga menjadi acuan utama untuk pembuatan karya untuk mengkomunikasikan konsep naratif menjadi visual. Dengan adanya long take sebagai elemen estetika realitas penggambaran karakter obsesif dari gambar yang tidak terputus dan penonton dihadapkan pada realitas dalam temporalitas aktualnya.
-
HARMONISASI RITME EDITING UNTUK DRAMA CINTA FILM FIKSI HISTORICAL STORY PANON HIDEUNGPenelitian ini menganalisis harmonisasi ritme editing dalam film fiksi historical story berjudul Panon Hideung, dengan fokus pada unsur dramatis cinta sebagai elemen sentral dalam cerita. Panon Hideung merupakan film berlatar sejarah yang menampilkan konflik percintaan di tengah peristiwa bersejarah tertentu, sehingga menciptakan tantangan tersendiri dalam menata ritme editing agar sesuai dengan emosi dan intensitas cerita. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kualitatif, dengan mengamati berbagai teknik editing yang digunakan untuk mengatur ritme cerita, seperti pemilihan durasi shot, pemotongan adegan, dan transisi antar adegan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harmonisasi ritme editing dapat memperkuat unsur dramatis cinta dalam film, terutama ketika digunakan secara konsisten untuk membangun suasana emosional dan meningkatkan ketegangan cerita. Pengaturan ritme yang lambat pada momen-momen romantis, serta ritme yang cepat pada konflik, membantu menciptakan daya tarik visual dan memperdalam hubungan emosional antara karakter utama dan penonton. Dengan demikian, ritme editing yang tepat berperan penting dalam menyampaikan pesan emosional secara efektif, sekaligus mempertahankan konsistensi naratif dalam historical story ini. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami bagaimana harmonisasi ritme editing dapat digunakan sebagai alat untuk memperkuat unsur dramatis dalam film bergenre sejarah-romantis, dan diharapkan menjadi referensi bagi praktisi film dalam mengembangkan narasi visual yang efektif.
-
TATA PENGAMBILAN GAMBAR DI FILM BAYAR WARISLaporan tugas akhir ini berjudul “Tata Pengambilan Gambar di Film Bayar Waris” membahas konflik keluarga terkait pembagian harta warisan yang sering memicu perselisihan, keserakahan, dan kekerasan. Sebagai Director of Photography, fokus penelitian ini adalah visualisasi dinamika emosional dan ketegangan yang terjadi. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggabungkan studi film dan kajian literatur untuk menciptakan narasi visual yang menggambarkan konflik keluarga dalam warisan yang ternyata berupa utang, bukan kekayaan. Adapun harapan dari dibuatnya film ini adalah untuk menyampaikan dan menciptakan emosi maupun visual yang dapat dimengerti oleh audience. Dengan film berdurasi 24 menit ini tidak saja hanya mengangkat isu-isu sosial, tetapi juga adanya pengungkapan kenyataan pahit yang ternyata sering tersembunyi dalam drama keluarga.
-
PACING VARIABEL SEBAGAI PEMBANGUN UNSUR DRAMATIK DALAM EDITING FILM “JAJANG ON THE SHORE”editing film, JAJANG ON THE SHORE
-
PENERAPAN LINGKARAN CERITA “DAN HARMON” DALAM PENULISAN SKENARIO FILM FIKSI “SHOULD I OPEN THIS DOOR?”Penciptaan tugas akhir yang berjudul Penerapan Lingkaran Cerita “Dan Harmon” Dalam Penulisan Skenario Film Fiksi “Should I Open This Door?” merupakan karya skenario yang mengangkat tema kisah perjalanan seorang wanita yang mencari pria untuk meminta pertanggungjawaban atas kehamilannya. Cerita ini dilatarbelakangi atas isu sosial yang sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat yaitu aborsi. Skenario film fiksi Inspired by True Story “Should I Open This Door?”, diharapkan dapat menjadi sebuah edukasi dan sebuah pengalaman, terhadap bahayanya seks pranikah yang menyebabkan kehamilan tidak diinginkan. Hal tersebut memberikan dampak yang buruk untuk diri sendiri ataupun orang disekitar. Pengembangan cerita dalam skenario film ini dilakukan melalui berbagai riset dengan metode kualitatif, terkait dengan seks pranikah mengakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan, dan juga bahayanya aborsi. Dari hasil penelitian tersebut terbentuklah skenario cerita film fiksi Inspired by True Story “Should I Open This Door?”. Dalam proses pembuatan karya skenario film fiksi ini, menerapkan metode “Dan Harmon” Story Circle, yang dibagi menjadi 8 bagian sekuens diantaranya you, need, go, search, find, take, return, change. Dalam pembuatan karya skenario ini juga menggunakan penciptaan sebuah cerita metafora untuk menciptakan ruang dimensi yang berbeda dan adegan menegangkan yang membuat skenario film ini menjadi utuh sepenuhnya secara teratur dan terkonsep.
-
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DAN ANGGARAN PADA PRODUKSI FILM FIKSI BELENGGUManajemen film dalam proses pembuatan film memainkan peran yang sangat penting dalam memastikan kelancaran dan keberhasilan produksi sebuah film. Proses pembuatan film melibatkan berbagai tahap, mulai dari pra-produksi, produksi, hingga pasca-produksi, yang masing-masing memerlukan pengelolaan yang cermat terhadap sumber daya, anggaran, waktu, dan tim yang terlibat. Laporan ini bertujuan untuk menganalisis pentingnya manajemen film dalam setiap tahapan produksi dan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan efisiensi serta kualitas hasil akhir film. Penelitian ini mengidentifikasi berbagai elemen kunci dalam manajemen film, termasuk perencanaan anggaran dan jadwal yang matang, pengelolaan sumber daya manusia, koordinasi antar departemen teknis dan kreatif, serta penyelesaian masalah yang timbul selama produksi. Selain itu, laporan ini juga membahas pentingnya komunikasi yang efektif antara semua pihak yang terlibat dalam produksi film, mulai dari produser, sutradara, kru, hingga pemeran. Dalam aspek post-produksi, manajemen yang baik diperlukan untuk memastikan penyelesaian film sesuai dengan standar yang diinginkan dalam waktu dan anggaran yang telah disepakati. Dengan menggunakan metode deskriptif analitis dan studi kasus pada beberapa proyek film, laporan ini memberikan wawasan tentang tantangan yang dihadapi dalam manajemen produksi film, serta solusi-solusi yang dapat diterapkan untuk mengoptimalkan proses tersebut. Sebagai hasilnya, laporan ini menyarankan penerapan teknologi manajemen proyek, peningkatan kemampuan komunikasi antar tim, serta pengelolaan risiko yang lebih baik sebagai kunci sukses dalam manajemen produksi film.
-
PENERAPAN TEKNIK LOW KEY PADA KAMERA UNTUK MENDUKUNG METAFORA VISUAL DALAM FILM PENDEK SWITCHING SIDEFilm pendek Switching Side menggunakan teknik Low Key Lighting untuk menciptakan atmosfer horor yang mendalam. Teknik pencahayaan ini digunakan untuk menggambarkan ketegangan, konflik batin, dan metafora visual yang mengarah pada tema pengorbanan, penyesalan dan dilemma sosial. Penelitian ini mengaplikasikan metode sinematografi yang terdiri dari tiga tahap: persiapan produksi, perekaman, dan evaluasi. Dalam persiapan, konsep visual dirancang dengan fokus pada pemilihan pencahayaan dan komposisi yang mendukung cerita. Selama perekaman, pencahayaan rendah diterapkan untuk menciptakan bayangan tajam yang mengarah pada penekanan karakter dan elemen penting dalam adegan. Pada tahap evaluasi, hasil rekaman disempurnakan dalam proses pasca-produksi untuk menjaga atmosfer yang gelap dan misterius. didukung oleh mood and look dengan dominasi warna dingin bernuansa kehijauan yang memperkuat atmosfer suram dan penuh ketegangan. Komposisi dan pergerakan kamera dirancang untuk mempertegas konflik emosional, sementara elemen seperti pencahayaan, latar, properti, tata rias, dan kostum dirancang secara sinematik untuk merepresentasikan konsep naratif. Hasilnya menunjukkan bahwa Low Key Lighting efektif dalam memperkuat tema horor, memperdalam pengalaman emosional penonton, dan mendukung metafora visual yang tercipta melalui kontras cahaya dan bayangan.
-
PENCAK SILAT SEBAGAI KEBUDAYAAN DALAM BENTUK FOTOGRAFI DOKUMENTER GARUDA AMARTAPencak Silat, kerap menjadi perbincangan hangat dikarenakan beberapa oknum yang menyalah gunakan ilmu hasil pembelajaran yang telah dituai dari pencak silat. Hal tersebut memberi dampak buruk dan mengurangi kepercayaan kepada masyarakat umum, beberapa menganggap pencak silat hanya sebuah kegiatan yang membuang-buang tenagadan waktu. Namun, banyak orang tidak mengerti dan tidak memahami kedalaman atau nilai nilai positif yang ada pada pencak silat itu sendiri baik dalam bentuk keindahan secara gerakan, sifat ataupun pengaplikasian dari ilmu pencak silat itu sendiri. Pada karya fotografi ini menampilkan keindahan gerak serta memberikan pengetahuan melalui pencak silat garuda amarta, dengan tujuan untuk memberikan visualisasi pencak silat supaya tidak lagi adanya hal negatif yang berkeliling pada fikiran masyarakat umum. Pada karya foto “Garuda Amarta” telah terjadi berbagai riset yang menggunakan metode penelitian kualitatif dan visualisasikan pesilat dengan segala keindahan geraknya dalam bentuk jurus-jurus atau pun dalam bentuk perjalanan fisik yang telah ditempuh.
-
PENGUATAN TRAUMATIK PADA KARAKTER SKENARIO FIKSI “DI AMBANG PILU”Skenario fiksi berjudul Penguatan Traumatik Pada Karakter Dalam Skenario Fiksi “Di Ambang Pilu” mengangkat tema tentang kehidupan nyata seorang wanita bernama Talia, yang diolah menjadi karya fiksi. Skenario ini menceritakan perjuangan Talia yang bercita - cita menjadi guru, namun harus menghadapi tantangan berupa kondisi kelainan yang memaksanya mengorbankan impian tersebut. Untuk memperkuat narasi, penelitian ini melibatkan wawancara dengan beberapa masyarakat setempat serta penambahan unsur fiksi melalui karakter dan adegan tertentu. Penelitian ini menggunakan metode kualitat i f, yang bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami fenomena sentral melalui wawancara dengan partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penciptaan karakter traumatik Talia dilakukan dengan menghadirkan latar belakang trauma akibat pelecehan oleh ayah tirinya, yang menyebabkan gangguan hiperseksualitas. Pengembangan karakter tersebut digambarkan melalui perubahan emosional yang signifikan, di mana Talia berjuang mengatasi rasa malu, kesepian, dan ketidakberdayaan yang membayangi kehidupannya. Teknik flashback digunakan untuk mengungkap asal mula trauma Talia, memberikan kedalaman emosional dan memperkuat konflik internal yang ia hadapi. Penerapan struktur tiga babak pada skenario ini adalah cerita berkembang secara efektif. Skenario Film ini tidak hanya menampilkan sisi dramatis dari perjuangan seorang wanita dengan masa lalu yang kelam, tetapi juga menyentuh tema penyembuhan dan pemulihan dari trauma, dengan struktur tiga babak yang mendukung pengembangan karakter dan alur cerita secara efektif.
-
MEMBANGUN KEDEKATAN EMOSIONAL MELALUI TEKNIK HANDHELD CAMERA DAN POINT OF VIEW SHOT DALAM PENATAAN KAMERA FILM DOKUMENTER SECANGKIR LESTARIAlih fungsi lahan di kawasan Puncak, Bogor, untuk pariwisata dan komersial telah menyebabkan degradasi lingkungan serius, seperti deforestasi, penurunan resapan air, serta peningkatan banjir dan longsor. Sebagai solusi, Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibulao mengembangkan sistem agroforestri kopi yang mendukung restorasi ekosistem dan ketahanan ekonomi masyarakat lokal. Film dokumenter Secangkir Lestari bertujuan merekam dan menyuarakan upaya tersebut, serta meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya konservasi berbasis komunitas. Dalam produksi ini, peran yang diambil adalah sebagai Director of Photography (DoP), yang merancang dan mewujudkan konsep visual guna mendukung pesan naratif. Metode penciptaan menggunakan pendekatan partisipatif, dengan teknik handheld camera, point-of-view shot, dan komposisi visual yang merefleksikan keterhubungan manusia dan alam. Peran sinematografi menjadi media edukasi visual dalam Secangkir Lestari. Melalui metode kualitatif berupa observasi langsung dan wawancara mendalam, teknik handheld dan POV memperkuat keterlibatan emosional serta menciptakan pengalaman menonton yang imersif. Visual yang dihasilkan lebih dekat dan dinamis, menampilkan realitas keseharian masyarakat secara organik dan memperkuat ikatan antara subjek dan penonton. Dokumenter ini mengusung konsep visual storytelling sebagai alat komunikasi efektif untuk meningkatkan kesadaran publik tentang konservasi lingkungan dan mendorong kolaborasi dalam pengelolaan agroforestri kopi secara berkelanjutan
-
PERGERAKAN KAMERA DINAMIS UNTUK MEMPERKUAT DINAMIKA KARAKTER DALAM FILM “BENEATH THE SURFACE OF THE MIND’S EYE ”Beneath the Surface of the Mind’s Eye merupakan film fiksi pendek yang menyoroti isu kesehatan mental pada remaja melalui pendekatan visual yang kuat. Cerita berfokus pada seorang remaja yang mengalami tekanan emosional dan krisis identitas, yang divisualisasikan melalui teknik sinematografi dinamis dan ekspresif. Penggunaan gerakan slow track in/out memperkuat nuansa keterasingan dan pencarian jati diri, sementara teknik handheld camera menciptakan kesan labil dan cemas—merefleksikan gejolak batin yang tidak menentu. Transisi antara dunia nyata dan imajinasi diperkuat lewat gerakan pan horizontal, yang merepresentasikan pergeseran perspektif karakter terhadap realitas. Teknik Handheld juga dibeberapa scene digunakan untuk membawa penonton lebih dekat ke momen-momen emosional yang intens, sedangkan closeup menekankan ekspresi wajah yang menyiratkan konflik internal. Seluruh pendekatan visual ini tidak hanya membentuk estetika film, tetapi juga menjadi medium penceritaan tematik yang mendalam dan emosional. Secara visual, film ini memadukan nuansa warna hangat dan biru dingin sebagai simbol dari benturan antara kenyataan dan ilusi. Elemen seperti ruang kosong, pencahayaan dramatis, tata latar, serta properti dipilih secara cermat sebagai bagian dari mise-enscene untuk menciptakan atmosfer psikologis yang kuat. Melalui perpaduan visual dan narasi yang terarah, film ini berupaya menyuguhkan pengalaman sinematik yang menyentuh, reflektif, serta relevan dengan kondisi psikologis remaja masa kini.
-
OPTIMALISASI MANAJEMEN PADA TAHAPAN PRA-PRODUKSI “MALAM BENCANA YANG TIDAK DIRENCANAKAN DARI PEMANGGUNGAN BENCANA YANG DIRENCANAKAN”Manajemen produksi film merupakan salah satu aspek krusial dalam industri perfilman yang melibatkan berbagai elemen mulai dari perencanaan hingga eksekusi. Di tengah kompleksitas produksi, produser memainkan peran sentral dalam memastikan kelancaran jalannya proyek, baik dari sisi administratif, kreatif, maupun finansial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengoptimalkan peran produser dalam manajemen produksi film khusus nya pada Pra Produksi dengan fokus pada strategi pengelolaan sumber daya manusia, anggaran, serta timeline produksi yang efektif. Pra Produksi adalah langkah awal yang menjadi pondasi keberhasilan produksi dilm. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur yang mendalam, wawancara dengan praktisi industri, dan analisis kasus produksi film independen. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan rekomendasi praktis mengenai langkah-langkah yang perlu diambil oleh produser untuk meningkatkan efisiensi dan keberhasilan proyek film, serta mengidentifikasi tantangan-tantangan yang dihadapi produser dalam lingkungan industri yang terus berkembang. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan manajemen produksi film independent dan meningkatkan kualitas produksi film.
-
PENYUTRADARAAN DENGAN GAYA EKSPRESIONISME PADA FILM FIKSI PENDEK BENEATH THE SURFACE OF THE MIND’S EYEKesehatan mental merupakan aspek pokok dalam kesejahteraan individu yang mempengaruhi cara berpikir, merasa, dan bertindak. Gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, dan stres, dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan sehari-hari, produktivitas, serta hubungan sosial. Pendekatan yang digunakan dalam laporan ini adalah metode penelitian kualitatif studi kasus digunakan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan cerita yang disampaikan dan kebutuhan sutradara dalam menciptakan latar belakang tokoh. Analisis data terutama berasal dari wawancara dan catatan observasi. Tujuan dari laporan ini adalah membuat film dengan pendekatan gaya penyutradaraan ekspresionisme melalui isu kesehatan mental. Hal ini dilakukan karena film ini berfokuskan kepada sisi psikologis karakter utama. Selanjutnya, terwujudnya sebuah film dengan judul “btsotme” Oleh karena itu, pemahaman yang lebih dalam mengenai kesehatan mental dan upaya untuk mengurangi stigma terkait isu ini menjadi kunci dalam meningkatkan kesadaran dan memberikan dukungan yang diperlukan bagi individu yang mengalami gangguan mental. Laporan ini bertujuan untuk menggali lebih jauh dampak kesehatan mental terhadap individu dan masyarakat. Film ini bertujuan agar masyarakat mengetahui sudut pandang pengidap gangguan mental sehingga lebih aware terhadap psikologi orang terdekat dan orang lain
-
MEMBANGUN EMOSI KARAKTER DENGAN POLA PERPINDAHAN VISUAL DALAM EDITING FILM TAKE THE REINSFilm memiliki kekuatan untuk membangun dan menyampaikan emosi melalui berbagai elemen sinematik, salah satunya adalah editing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pola perpindahan visual dalam editing, khususnya melalui Pacing lambat dan transisi audio, dapat membangun intensitas emosi karakter dalam film “Take The Reins”. Film ini mengangkat tema pola asuh otoriter yang sering terjadi dalam hubungan orang tua dan anak, dengan pendekatan realisme untuk menciptakan kedalaman emosional yang lebih autentik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, kajian media, serta wawancara dengan editor film dan pakar psikologi. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan metode penciptaan berbasis practice-led research, di mana proses penyuntingan film menjadi bagian utama dalam pencarian dan pembentukan pengetahuan. Konsep editing yang diterapkan meliputi Pacing lambat untuk memperkuat intensitas emosional serta penggunaan transisi berbasis audio (J-Cut dan L-Cut) untuk menciptakan kesinambungan dan kedalaman suasana dalam cerita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pacing lambat efektif dalam membangun ketegangan emosional, memungkinkan penonton untuk lebih mendalami perasaan karakter. Selain itu, transisi audio memberikan koneksi yang lebih halus antara adegan, memperkuat nuansa emosional tanpa harus mengandalkan pemotongan visual yang eksplisit. Dengan demikian, teknik editing yang diterapkan dalam “Take The Reins” tidak hanya mendukung narasi, tetapi juga memperkuat dampak psikologis yang dirasakan penonton.
-
PENGEMASAN ISU KEKERASAN SEKSUAL DENGAN KARAKTER TWIST DALAM SKENARIO FILM FIKSI UNHEARDKekerasan seksual kerap terjadi dalam dunia pendidikan yang membuatnya prihatin dengan kasus yang terjadi. Kekerasan seksual dan pelecehan seksual merupakan fenomena yang kerap terjadi di dunia pendidikan di Indonesia yang dan berdasarkan kasus dilakukan oleh oknum guru kepada murid yang menimbulkan trauma dan menghancurkan mimpi korban. Dengan menggunakan metode kualitatif untuk mengumpulkan data secara mendalam dan menganalisis data yang didapat dari berita teks, video dan audio, adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung dan wawancara. Sedangkan untuk metode penulisan karya naskah yang digunakan dalam penciptaan ini menggunakan struktur tiga babak delapan sequence untuk memperlihatkan pengembangan emosional karakter dan membuat karakter twist. Hasil dari penciptaan ini adalah naskah drama fiksi Unheard. Ide karya naskah skenario fiksi ini mempunyai daya tariknya tersendiri diantaranya, untuk mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap korban pelecehan. Bagaimana pelecehan dan kekerasan seksual dapat terjadi di lingkungan pendidikan yang menjadi permasalahan dalam penulisan penelitian.
-
PENDEKATAN REALIS DALAM PENGGAMBARAN KARAKTER OBSESIF MALAM BENCANA YANG TIDAK DIRENCANAKAN DARI PEMANGGUNGAN BENCANA YANG DIRENCANAKANLaporan karya tugas akhir ini membahas pendekatan gaya realis dalam penggambaran karakter obsesif melalui film “Malam Bencana yang Tidak Direncanakan dari Pemanggungan Bencana yang Direncanakan”. Laporan ini adalah proses kreatif sebagai sutradara dalam menciptakan sebuah karya film fiksi pendek. Tujuan dari dibuatnya film ini adalah untuk merepresentasikan dinamika psikologis karakter obsesif secara autentik dan dekat dengan realitas, sekaligus menjadi refleksi terhadap dampak perfeksionisme dan otoritarianisme dalam dunia seni pertunjukan. Metode penyutradaraan yang digunakan adalah pendekatan realis berbasis eksplorasi psikologi karakter, dengan tahapan yang meliputi pra produksi, produksi, dan pascaproduksi. Proses ini mencakup riset lapangan, wawancara dengan praktisi seni dan ahli psikologi, observasi proses teater, pengembangan naskah, pengarahan akting dengan sistem Stanislavsky, serta penerapan teknik sinematik seperti long take, handheld, mise en scène repetitif, dan pencahayaan naturalistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan landasan teori psikologi, khususnya terkait obsesi dan perfeksionisme, sebagai dasar pengembangan narasi dan karakter. Hasil dari proses penciptaan ini adalah terciptanya film pendek berdurasi 24 menit yang mampu membangun karakter obsesif secara realistis dan menghadirkan pengalaman sinematik yang imersif dan reflektif. Karya ini diharapkan dapat memperluas wawasan tentang penyutradaraan berbasis psikologi karakter serta memperkaya praktik estetika realis dalam perfilman Indonesia
-
PENERAPAN METODE DAN HARMON’S STORY CIRCLE PADA PENULISAN SKENARIO “MARIGOLD” ( LIGAR KONENG UMYANG-UMYANGAN)Slow living sempat menjadi tren di kalangan generasi muda, fenomena ini muncul dari gaya hidup modern yang serba cepat. Melalui slow living, individu diajarkan melambatkan langkah dan lebih mengedepankan kualitas dibanding kuantitas. Fenomena tersebut menarik diangkat sebagai inspirasi tema sekaligus sebagai kritik terhadap kehidupan modern yang melelahkan. Dalam penulisan karya skenario berjudul”Marigold” tema diterapkan lewat alur cerita, setting dan penokohan. Permasalahan yang telah dijawab dalam penulisan skenario yaitu dengan menggunakan metode Dan Harmon’s Story Circle, melalui metode tersebut alur cerita dibuat dalam delapan tahapan untuk menciptakan struktur dramatik yang baik dan menarik. Penciptaan skenario bertema slow living dibagi kedalam tiga tahapan, pra-produksi yaitu tahap eksplorasi ide dan riset, dilakukan observasi dan wawancara pada subjek yang menerapkan gaya hidup slow living. Produksi berupa proses penulisan draft satu skenario. Pasca-produksi merupakan tahap evaluasi draft satu untuk mencapai final draft.
-
REPRESENTASI BEAUTY PRIVILEGE DALAM PERKEMBANGAN KARAKTER PADA SKENARIO “LANGKAH TANPA RAGU”Laporan ini membahas mengenai isu beauty privilege yang saat ini dijunjung tinggi oleh masyarakat, terutama dalam segi fisik. Hal tersebut secara tidak langsung membuat para perempuan dituntut menjadi sempurna agar bisa mendapatkan privilege tersebut. Laporan ini berfokus pada dampak seseorang yang merasa dirugikan dalam beauty privilege namun ia mempunyai kemampuan dibidang musik. Sehingga muncul konsep Representasi Beauty Privilege dalam Perkembangan Karakter pada Skenario “Langkah Tanpa Ragu”. Ide ini sangat menarik untuk diangkat dan dijadikan sebagai sebuah karya naskah film karena isu beauty privilege sedang marak terjadi dikehidupan sehari-hari. Ide penciptaan ini bertujuan untuk menggambarkan bahwa perempuan yang merasa dirugikan bisa membuktikan bahwa setiap orang mempunyai privilege-nya sendiri, bukan hanya bergantung pada kecantikan. Untuk mengumpulkan data terkait isu tersebut, penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan character-driven untuk menggali perkembangan karakter secara mendalam. Hasilnya menunjukan melalui kerja keras dan pencapaian karakter tersebut sehingga bisa meminimalisir pandangan masyarakat terhadap beauty privilege. Penciptaan karya mengacu pada tahapan pengembangan ide, cerita, karakter, dan penulisan naskah hingga final draft.
-
IMPLEMENTASI GAYA PENYUTRADARAAN DAVID FINCHER DALAM FILM FIKSI DREAM OF THE TRUTHFilm pendek Dream of the Truth merupakan karya yang bertujuan untuk menyuarakan perspektif korban terhadap kasus pelanggaran hak asasi manusia, khususnya salah tangkap dan kekerasan oleh aparat negara. Dalam masyarakat, peristiwa-peristiwa tersebut kerap disikapi secara sepihak tanpa mempertimbangkan pengalaman traumatis dan dampak psikologis yang ditinggalkan pada para korban. Film ini dirancang untuk menyampaikan pengalaman emosional dari sudut pandang korban, terutama seorang anak laki-laki yang hidupnya berubah akibat sistem hukum yang represif dan penuh kekerasan. Pendekatan penyutradaraan yang digunakan mengacu pada gaya David Fincher, terutama dalam penerapan struktur naratif non-linear, pencahayaan gelap, serta visual yang intens dan penuh tekanan emosional. Pendekatan ini dipilih untuk menciptakan ketegangan psikologis yang kompleks terhadap penonton. Metode pembuatan film ini mencakup tahapan praproduksi, produksi, dan pascaproduksi yang berbasis pada riset kualitatif. Tahap praproduksi melibatkan observasi lapangan, wawancara dengan narasumber kunci, serta pengembangan karakter dan skenario berdasarkan kasus nyata. Produksi dilakukan dengan pendekatan visual yang menekankan atmosfer realis dan emosional, sementara pascaproduksi berfokus pada penyuntingan ritmis dan transisi waktu yang mendukung alur non-linear. Film ini diproduksi sebagai bentuk implementasi gagasan sutradara dan penulis terhadap film sebagai media kritik sosial. Dream of the Truth diharapkan mampu membangkitkan empati dan kesadaran sosial, serta membuka ruang diskusi mengenai pelanggaran HAM yang sering kali terpinggirkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
-
KONSEP DIRI TERHADAP PERAWATAN TALI PUSAT PADA PENULISAN SKENARIO FILM FIKSI “SUKMA”“Sukma” merupakan skenario film fiksi berbasis cerita budaya yang mengangkat konsep diri terhadap perawatan tali pusat. Skenario ini menceritakan sebuah tradisi yang muncul di daerah Kebumen, Jawa Tengah dimana orangtua memakan tali pusat anaknya setelah peristiwa puput puser. Dalam bahasa Jawa, “Sukma” memiliki arti jiwa sehingga judul tersebut merepresentasikan keseluruhan isi cerita yang berbicara mengenai ketakutan seorang ayah terhadap keselamatan jiwa anaknya. Skenario film fiksi “Sukma” diangkat sebagai upaya pelestarian budaya karena adat dan tradisi perawatan tali pusat sudah mulai ditinggalkan. Pada skenario film fiksi “Sukma” digunakan metode penelitian berupa studi pustaka, wawancara, dan observasi dan melalui tiga metode penciptaan, yaitu tahap eksplorasi, tahap perancangan, dan tahap perwujudan. “Sukma” kemudian menjadi sebuah skenario film fiksi yang berisi mengenai gambaran kehiduan masyarakat berlatar budaya Jawa di Kebumen serta karakter yang merepresentasikan konsep diri masyarakat Jawa yang hidup diantara adat Jawa dan ajaran Islam.
-
STRATEGI IMPACT PRODUCING DALAM FILM Dudung & Maman Just Being a ManPeran produser dalam produksi film mencakup pengelolaan manajemen yang efektif agar film dapat diproduksi secara optimal dan menyampaikan pesan yang berdampak. Film “Dudung & Maman Just Being a Man” merupakan film pendek berbasis kisah nyata yang mengisahkan persahabatan dua lansia penyandang disabilitas intelektual di panti jompo. Film ini tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai alat edukasi isu Disabilitas Intelektual. Penelitian ini berfokus pada strategi impact producing dalam memastikan bahwa film dapat memberikan dampak sosial yang maksimal bagi audiens. Permasalahan yang diselesaikan, terfokus pada bagaimana menerapkan prinsip POAC dalam proses produksi film dan penerapan strategi impact producing untuk menciptakan dampak sosial terhadap isu disabilitas intelektual. Metode penelitian yang digunakan adalah mixed method, yang menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif sebagai data tambahan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, studi pustaka, kajian karya terdahulu serta analisis respons audiens dengan penyebaran angket. Metode penciptaan didasarkan pada prinsip manajemen George Terry yaitu POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) secara sistematis dalam produksi film yang bertujuan untuk mengoptimalkan sumber daya, meningkatkan efektivitas kampanye dampak, serta memastikan pesan film tersampaikan dengan baik. Dengan strategi impact producing yang tepat, film ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu disabilitas intelektual. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang terstruktur dan pendekatan manajerial yang matang, film berbasis kisah nyata dengan isu social ini dapat memiliki nilai kebermanfaatan sosial yang kuat.
-
PENERAPAN TEKNIK CROSS CUTTING UNTUK MEMPERKUAT EMOSI DALAM FILM FIKSI DREAM OF THE TRUTHFilm Dream of The Truth mengangkat isu pelanggaran hak asasi manusia melalui pendekatan penyuntingan non-linear. Penelitian ini membahas penerapan teknik cross cutting sebagai alat untuk memperkuat emosi dan pendalaman karakter. Metode yang digunakan adalah kualitatif, melalui wawancara, observasi, dan studi literatur. Teknik cross cutting memungkinkan peralihan antar waktu dan ruang secara dinamis, sehingga penonton dapat merasakan keterhubungan emosional antar adegan. Didukung dengan penggunaan ritme cepat-lambat, dreamy look, color grading, serta sound design, teknik ini membentuk atmosfer yang imersif dan menggugah empati penonton. Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi teknik editing ini efektif dalam membangun narasi kompleks yang tetap kohesif dan menyentuh. Film ini tidak hanya menjadi karya artistik, tetapi juga sarana untuk menyampaikan pesan sosial yang kuat.
-
EKSPLORASI GANGGUAN KECEMASAN DALAM MEMBANGUN TOKOH UTAMA PADA NASKAH FILM FIKSI “JALAN CAHAYA”“Jalan Cahaya” merupakan sebuah judul skenario film yang mengangkat isu gangguan kecemasan pada kalangan pekerja di industri media tepatnya dunia pertelevisian. Pada dunia kerja, masalah kesehatan mental selalu terabaikan, dianggap hal yang sepele bahkan stigma buruk kepada generasi Milenial dan Z. Mengangkat kisah protagonis bernama Helia seorang karyawan media yang berjuang untuk menyeimbangkan dari tekanan kerja, kesehatan mental serta kehidupan pribadinya. Melalui perjalanan penulisan skenario ini, berfokus pada pentingnya berdamai dengan diri serta memahami bahwa suatu kesuksesan karier tidak selalu harus dicapai dengan mengorbankan diri. Penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan wawancara serta observasi partisipan sebagai teknik pengumpulan data, untuk menggali pengalaman dan wawasan yang dialami narasumber. Dalam wawancaranya memberi gambaran mengenai tantangan yang dihadapi pekerja media, termasuk jam kerja yang melelahkan serta tekanan yang dapat memicu gangguan kecemasan. Pengembangan skenario berfokus pada perjalanan emosional Helia melalui konflik internal dan eksternal yang berusaha untuk menemukan keseimbangan antara pekerjaan dengan kesehasan mental. Visual menonjolkan ketegangan emosional melalui voice over dan perubahan tempo serta warna visual. Dengan mengangkat tema ini diharapkan dapat memberi kontribusi untuk meningkatkan pentingnya kesehatan mental juga memberi pesan bahwa kesuksesan dalam karier tidak harus mengorbankan kewarasan mental.
-
MEMBANGUN RUANG REFLEKTIF MELALUI RITME EDITING FILM MALAM BENCANA YANG TIDAK DIRENCANAKAN DARI PEMANGGUNGAN BENCANA YANG DIRENCANAKANMembangun ketegangan dalam editing menjadi fokus penting pada naskah yang berlatar persiapan pementasan teater. Maka dari itu, tulisan berfokus lebih dalam pada bagaimana konsep ritme editing lamban menciptakan ketegangan subjek dan juga ruang reflektif. Penulisan bertujuan agar mengetahui bagaimana cara merumuskan konsep editing melalui ritme, color grading dan design audio, menjadi kesatuan untuk mengikat naratif dan konsep film. Melalui tahap penelitian kualitatif untuk merangkum data agar pada tahap penciptaan karya berjalan lancar, baik dari pra produksi, produksi, hingga permainan editor pada tahap pasca produksi. Dengan permasalahan yang telah terangkai, penggunaan ritme editing lamban memberikan efek ruang reflektif baik bagi karakter film dan pada hasil akhir film. Namun, sebagai editor selain menggunakan perasaan ketika berkarya perlunya mengantisipasi dari tahap pra produksi agar film sejalan dengan visi artistik sutradara.
-
PENERAPAN TEKNIK DISTORSI BARREL UNTUK MEMBANGUN KEDALAMAN EMOSIONAL PADA FILM BASED ON STORY DUDUNG & MAMAN JUST BEING A MANFilm Dudung & Maman Just Being a Man merupakan film fiksi pendek yang mengangkat isu disabilitas intelektual pada lansia dengan pendekatan realisme dan genre drama. Latar belakang penciptaan film ini didasari oleh kondisi sosial masyarakat yang sering mengabaikan lansia, terutama yang mengalami keterbatasan mental. Ide utama dari penciptaan karya ini adalah bagaimana teknik sinematografi berupa distorsi barrel dan pergerakan kamera dinamis dapat digunakan untuk membangun kedalaman emosional karakter. Rumusan ide penciptaan berfokus pada cara visual memperkuat pesan emosional dalam cerita film. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif, yaitu melalui observasi langsung di panti jompo dan wawancara dengan narasumber yang berkaitan, termasuk para profesional di bidang sinematografi. Metode penciptaan yang digunakan adalah riset berbasis praktik, yang dilakukan dalam tiga tahap: pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Hasil dari proses penciptaan ini menunjukkan bahwa penerapan teknik distorsi barrel dan gerak kamera yang dinamis mampu memperkuat keterhubungan emosional antara penonton dan karakter. Film ini tidak hanya bertujuan untuk menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan sosial secara ringan dan menyentuh.
