Items
-
PENGGUNAAN RITME EDITING PADA METAFORA VISUAL FILM SWITCHING SIDEFilm Switching Side mengangkat isu aborsi yang dilakukan oleh sepasang remaja dengan menggunakan ritme editing melalui teknik jump cut untuk membangun metafora visual yang mendalam. Teknik ini berfungsi untuk mempercepat alur cerita dan menggambarkan perubahan emosional karakter secara dramatis. Dengan lompatan adegan yang tajam, film ini menciptakan transisi yang jelas antara momen-momen penting, menjaga fokus penonton pada inti cerita tanpa terjebak dalam detail emosional yang berlebihan. Penggunaan jump cut juga membantu menggambarkan dilema moral yang dihadapi oleh karakter dan memperkuat tema edukasi seksual dan norma sosial, memberikan ruang untuk interpretasi yang lebih dalam. Melalui pendekatan visual yang kreatif, Switching Side berhasil mengedukasi penonton sekaligus menggerakkan emosi melalui teknik editing yang memadukan ritme dan metafora visual.
-
PRINSIP REALIS STANISLAVSKI DALAM PENYUTRADARAAN FILM FIKSI TAKE THE REINSPermasalahan dalam hubungan keluarga sering kali muncul akibat pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Take The Reins merupakan film fiksi yang mengangkat permasalahan hubungan ayah dan anak yang terjebak dalam komunikasi yang kaku akibat pola asuh otoriter. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan wawancara, kajian media serta studi pustaka guna memahami karakter serta isu yang diangkat. Dalam film, karakter yang kuat sering kali menjadi daya tarik utama bagi penonton dan mempengaruhi cara mereka merasakan cerita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana membentuk karakter tokoh yang kuat melalui pendekatan realisme Konstantin Stanislavski. Proses penciptaan karya ini menggunakan metode Practice-led research di mana praktik penyutradaraan menjadi bagian dari proses penelitian itu sendiri. Melalui penerapan prinsip realis Stanislavski karakter dibentuk dengan memperhatikan latar belakang psikologis, emosi, motivasi, serta konflik internal yang dimiliki tokoh dengan tujuan membantu aktor memahami dan menjiwai peran secara mendalam. Proses penciptaan dilakukan melalui tahapan pra-produksi (perancangan), produksi (pengeksekusian), dan pasca-produksi (penyempurnaan) dengan fokus utama pada pengarahan aktor serta penguatan dinamika emosional dalam adegan. Hasilnya karakter dalam film mampu tampil dengan emosi yang mendalam dan menciptakan kejujuran dalam penampilan, di mana aktor benar-benar menghidupi peran yang dimainkan, bukan sekadar menirunya.
-
REPRESENTASI BUDAYA DAN VISUAL STORYTELLING DALAM FILM FIKSI BASED ON TRUE STORY KAMPUNG LEGENDAFilm Kampung Legenda merupakan karya tugas akhir yang mengangkat isu hilangnya budaya lokal dan menurunnya kesadaran terhadap pendidikan di tengah masyarakat desa akibat urbanisasi. Judul ini dipilih untuk merepresentasikan perjuangan seorang tokoh budaya Nohan dalam melestarikan seni dan tradisi kampung halamannya yang perlahan mulai dilupakan. Riset ini menggunakan metode campuran (mixed methods) yaitu metode penelitian kualitatif dan kuantitatif, riset kualitatif diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi. Metode kuantitatif dilakukan dengan penyebaran kuesioner. Narasumber utama adalah Warni (istri Nohan) dan Pepep (seniman lokal), yang memberikan data otentik mengenai sosok Nohan dan kondisi budaya di Luragung, Kuningan, Jawa Barat. Rumusan ide penciptaan mengkaji strategi penyutradaraan, visual storytelling, dan montase dalam merepresentasikan identitas budaya, isu pendidikan, dan perjalanan tokoh utama dalam film. Metode penciptaan dilakukan menggunakan pendekatan practice-led research, penelitian dilakukan ke dalam tiga tahap: pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Film Kampung Legenda menyajikan estetika visual bergaya Korean look, tone warna hangat dan pencahayaan natural untuk menciptakan kedekatan emosional dengan penonton. Teknik montase digunakan untuk mempercepat alur tanpa menghilangkan substansi cerita. Hasil dari proyek ini membuktikan bahwa film fiksi berbasis kisah nyata dapat menjadi media efektif dalam menyampaikan nilai budaya sekaligus membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga identitas lokal di tengah tantangan zaman.
-
MEMBANGUNMETAFORA VISUAL PADA PENYUTRADARAAN FILM HOROR SWITCHING SIDELaporan tugas akhir ini membahas peran metafora visual dalam penyutradaraan film horor berjudul Switching Side yang mengangkat isu aborsi remaja. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, proses kreatif penyutradaraan dianalisis melalui observasi produksi dan wawancara dengan narasumber kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metafora visual tidak hanya memperkuat nuansa horor, tetapi juga menyampaikan pesan moral dan psikologis yang mendalam kepada penonton. Metafora digunakan sebagai simbol atas konflik batin, ketakutan, dan konsekuensi dari keputusan impulsif tokoh utama. Film ini tidak hanya menawarkan pengalaman menegangkan secara visual, tetapi juga mengundang penonton untuk merefleksikan isu-isu sosial dan kemanusiaan yang kompleks. Dengan penyutradaraan yang mengutamakan simbolisme, sinematografi ekspresif, serta atmosfer yang mencekam, film ini berhasil menciptakan daya tarik estetis dan emosional yang kuat.
-
TUBUH ANTUI: PROSES TUMBUH DAN PERJUANGAN DALAM PENCAPAIAN PENDEWASAAN DIRI MASYARAKAT SUKU ANAK DALAMTubuh Antui merupakan karya tari kontemporer dari hasil rekacipta yang terinspirasi oleh nilai-nilai filosofis dalam Upacara Niti Antui, sebuah ritual tradisional yang ada pada masyarakat Suku Anak Dalam. Karya ini merepresentasikan pendewasaan diri, yang digambarkan melalui gerak tari simbolik sebagai manifestasi dari proses kedewasaan dalam kehidupan manusia. Proses ini dijadikan sebagai solusi atas tantangan yang dihadapi individu, sekaligus sebuah inovasi dalam bentuk ekspresi artistik. Penciptaan koreografi tari ini mengacu pada model proses kreatif yang dikembangkan oleh Zeng dalam General Model of the Creative Process, yang terdiri dari empat tahap utama: analisis, pencetusan ide, evaluasi, dan penerapan. Setiap tahap digunakan untuk mengembangkan gagasan secara terstruktur dan mendalam. Teknik komposisi tari yang diterapkan dalam karya ini merujuk pada panduan Smith-Autard dalam Dance Composition: A Practical Guide to Creative Success in Dance Making, yang memberikan arahan dalam penciptaan karya tari yang dinamis dan bermakna. Dalam penciptaannya, karya tari Tubuh Antui juga mengadopsi pendekatan interpretatif dalam mengolah gerak, di mana tari ini menyampaikan nilai pengendalian diri dan nilai pendewasaan yang terkandung dalam Upacara Niti Antui. Repertoar tari Tubuh Antui menjadi simbol perjuangan dalam mencapai kedewasaan, serta sarana untuk menggali dan mempertahankan kearifan lokal. Sebagai karya seni nonverbal, tari ini tidak hanya mengkomunikasikan pesan tentang pentingnya pendewasaan diri, tetapi juga mengajak audiens untuk terus menjaga dan mewariskan nilai-nilai luhur ini dalam kehidupan sehari-hari.
-
LIMBOSIS: RUANG SENI INSTALASI QUARTER-LIFE CRISISKategori penelitian seni ini adalah Practice-Led Research, dengan objek kajian fenomena psikologis pada kelompok orang dewasa awal, termasuk juga diri pengkarya. Transformasi gagasan dan implementasi konsep penelitian ini, diwujudkan dalam karya seni patung instalasi yang terinspirasi dari tekanan psikologis yang pada umumnya dialami oleh individu berusia 20-30 tahun. Fase ini sering ditandai dengan ketidakpastian arah hidup, tekanan sosial, ekspektasi karier, dan pencarian identitas yang dapat menimbulkan kecemasan serta perasaan terjebak. Metode pendekatan yang digunakan yaitu dengan teknik Encaustic - memadukan material yang bervariasi. Hal ini dilakukan untuk memperkuat bentuk yang merepresentasi nilai yang ada di dalam konsep. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teori Perkembangan Psikoanalisis dan teori Morfologi Estetik. Dari hasil proses pengalaman estetik peneliti, menegaskan bahwa seni instalasi ini tidak hanya mengekspresikan kompleksitas emosional dan psikologis dari Quarter-life crisis, tetapi juga mengajak apresian untuk merenung dan menemukan hubungan dengan pengalaman objek penderita Quarter-life crisis. Hasil penelitian ini berjumlah 35 karya seni patung instalasi dengan bahan dasar lilin dan polyuretan. Bentuk karya patung tersebut berupa figur manusia dengan bentuk visual yang merepresentasikan symbol keletihan fisik dan mental serta perasaan hilangnya kontrol atas kehidupan. Figur lain digambarkan dalam posisi duduk bersila tanpa tangan, mengekspresikan perasaan keterbatasan, introspeksi, dan kehilangan identitas. Hasil Karya patung instalasi ini disajikan dalam bentuk pameran dengan ditunjang oleh elemen audio digital untuk menambah kedalaman makna pada karakter visual (bentuk dan tekstru, serta display pameran) sehingga meningkatkan resonansi emosional suasana pada karya.
-
ANALISIS TEKSTUAL PADA LAGU GIRIMIS KASORÉNAKEUN KARYA MANG KOKO DAN DEDY WINDYAGIRIPenelitian ini menganalisis lagu Girimis Kasorénakeun yang merupakan hasil kolaborasi antara komponis Mang Koko dan sastrawan Dedy Windyagiri. Penelitian difokuskan pada dua aspek utama, yaitu analisis makna lirik menggunakan pendekatan Hermeneutika Schleiermacher dan Analisis Gramatika musikal berdasarkan Teori Ilmu Bentuk Musik karya Karl Edmund Prier. Tujuan dari penelitian ini untuk mengungkap makna dari lirik lagu serta mengkaji keterkaitan antara hubungan musik dan makna yang dikandungnya. Penelitian dilakukan melalui metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data mencakup observasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil analisis menunjukkan bahwa lagu ini merepresentasikan perenungan spiritual seseorang yang telah memasuki usia senja yang merasa kehidupannya akan segera usai, yang disampaikan secara implisit melalui lirik yang simbolis dan musikalitas yang sederhana namun dalam. Penelitian ini menemukan bahwa hubungan antara musik dan lirik dalam lagu ini ditampilkan secara eksplisit dan implisit, aspek eksplisit terlihat pada melodi, laras dan tempo di akhir lagu sedangkan aspek implisit terlihat dari tempo di awal lagu. Lagu Girimis Kasorénakeun bukan hanya karya musik biasa, tetapi juga karya yang mampu memunculkan berbagai interpretasi mendalam dari para pendengarnya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengkaji seni, khususnya dalam mengembangkan pemahaman mendalam terhadap lagu-lagu dalam tradisi Karawitan Sunda.
-
TULOPAGASI: INTERPRETASI DAN IMPLEMENTASI TEORI RARAS 15 NADA R.M.A. KOESOEMADINATATulopagasi merupakan karya musik yang mencoba menawarkan kemungkinan harmoni yang berpangkal pada teori 15 nada R.M.A. Koesoemadinata. Secara keseluruhan, karya ini berupaya mengartikulasikan elemen-elemen agar menjadi bagian penting dalam peristiwa musik yang terjadi pada setiap bunyi yang dihasilkan. Konsep gagasan dalam konteks karya ini yaitu menginterpretasikan ulang penyusunan 15 nada melalui beberapa tahapan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk mengeksplorasi kembali potensi teori 15 nada yang relatif jarang diaplikasikan dalam praktik komposisi. Tujuan utama penelitian ini adalah menginterpretasikan ulang penyusunan 15 nada melalui beberapa tahapan kreatif, yang meliputi eksplorasi, penyusunan, pengembangan, serta pengujian dalam konteks musikal. Pendekatan yang digunakan dalam karya ini bertujuan untuk menelaah ulang struktur dan hubungan antar nada dengan mempertimbangkan berbagai aspek musikal seperti harmoni, interval, serta karakter warna suara yang muncul dari nada-nada tersebut. Dalam proses ini, dilakukan berbagai eksperimen untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan yang dapat memperkaya sekaligus menawarkan sistem harmoni dalam konteks 15 nada. Setiap tahapan dalam karya Tulopagasi dirancang agar mampu memberikan perspektif dalam bagaimana suatu sistem nada dapat diadaptasi, dikembangkan, dan dikontekstualisasikan sesuai dengan kebutuhan kompositoris.
-
SAKRALITAS TARI DADUNG DALAM PESTA DADUNG DI LEGOKHERANG KABUPATEN KUNINGANPesta Dadung merupakan tradisi Masyarakat Legokherang yang rutin dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Tradisi ini mengandung nilai simbolisme kehidupan masyarakat Legokherang yang tercermin dalam gerakan tari dadung. Warisan budaya ini diturunkan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik dan nilai kesakralan yang terkandung dalam gerakan tari pada Pesta Dadung. Untuk menggali tradisi tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui teknik wawancara, observasi partisipatif, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan-gerakan dalam Tari dadung memiliki makna simbolik yang mendalam, melambangkan penghormatan terhadap alam, leluhur, dan kekuatan kosmik. Gerakan berulang dalam lingkaran sambil memegang dadung mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam semesta. Teori konstruksi sosial budaya Clifford Geertz dan teori paradoks Jacob Sumardjo digunakan untuk menganalisis data, mengungkapkan bahwa gerakan tari ini menjadi media komunikasi simbolik yang menghubungkan individu dengan masyarakat dan alam semesta. Pesta Dadung dilakukan melalui pelaksanaan upacara yang berkesinambungan setiap tiga tahun sekali, melibatkan seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda. Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa Pesta Dadung tidak hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga manifestasi nilai-nilai spiritual dan sosial yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Desa Legokherang.
-
NYETREET: THE PRESENTATION OF SELF FOTOGRAFI JALANAN SEBAGAI EKSISTENSI MASYARAKAT URBAN DI KOTA BANDUNGProyek fotografi NYETREET berfokus pada eksplorasi kehidupan masyarakat Kota Bandung melalui medium fotografi jalanan. Kota Bandung, dengan sejarahnya yang kaya dan dinamika sosial yang terus berkembang, menjadi latar belakang utama untuk menggali eksistensi dan identitas warganya. NYETREET, sebuah istilah yang lahir dari penggabungan kata "nyet" (dari bahasa Sunda, yang berarti 'melihat') dan "street" (jalan), menggambarkan aktivitas mengamati dan mengabadikan momen sehari-hari di ruang publik. Menggunakan pendekatan fotografi jalanan, karya ini bertujuan menangkap interaksi masyarakat di jalanan yang tidak hanya memproyeksikan identitas individu, tetapi juga mencerminkan proses menuju aktualisasi diri, sesuai dengan teori presentasi diri Erving Goffman dan hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Fotografi dalam proyek ini tidak sekadar menjadi sarana dokumentasi, melainkan juga medium artistik yang menampilkan estetika sederhana namun bermakna dari kehidupan sehari-hari. NYETREET menghadirkan narasi visual tentang keindahan yang sering terabaikan, menyoroti dinamika sosial, budaya, dan ekonomi yang tercermin dalam interaksi warga Bandung. Karya ini merangkai esensi masa lalu, masa kini, dan masa depan, menjadikan jalanan sebagai panggung tempat masyarakat mengekspresikan eksistensi mereka, di tengah kompleksitas kota metropolitan yang terus berkembang.
-
KREATIVITAS DOEL SUMBANG DALAM LAGU-LAGU POP SUNDAThis research focuses on analyzing Doel Sumbang's creativity in creating Sundanese Pop music using the 4P creativity framework (Person, Process, Press, and Product). The study is directed towards four main aspects: the artist's personality, the mechanism of the creative process, the influence of internal and external factors, and the resulting musical product as an original work rich in meaning. The analysis was conducted on three songs, namely Somse, Ai, and Runtah, through a descriptive study of the lyrics, melody transcription, and instrumental playing patterns as musical representations. This research uses a qualitative method with a phenomenological and narrative approach. Data was obtained through observation, literature review, interviews, and documentation. The research findings indicate that Doel Sumbang's creativity is formed through a dynamic interaction between socio-cultural sensitivity (Person), a reflective and adaptive creative process (Process), environmental influences (Press), and original and communicative musical products (Product). The widespread reception and viral phenomenon of his songs are not only determined by the power of his critically and socially contextual lyrics, but also by fresh and easily accessible musical innovations.
-
PENERAPAN INSTRUMEN MUSIK BAMBU RAHAIDI SEBAGAI MEDIA TERAPEUTIK UNTUK AUTISMEPenelitian ini bertujuan untuk menilai efek dari penggunaan instrumen musik bambu Rahaidi dalam meningkatkan konsentrasi pada individu autisme dewasa di Yayasan Budaya Individu Spesial (YBUIS) Bandung. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan action research berdasarkan model Lin S. Norton. Teknik yang diterapkan meliputi observasi, wawancara, studi pustaka, serta lima langkah penelitian: identifikasi masalah, solusi, pelaksanaan, evaluasi, dan modifikasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan organologi (Sue Carole DeVale) dan teori konsentrasi (Santrock). Dalam menganalisis data, digunakan model ITDEM yang melibatkan triangulasi dan reduksi data untuk memastikan validitas hasil penelitian. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan instrumen musik bambu Rahaidi dapat meningkatkan konsentrasi pada individu autisme dewasa, dengan pengukuran dilakukan pada empat jenis perhatian: Selective Attention (kemampuan fokus pada informasi tertentu sambil mengabaikan yang lain), Sustained Attention (kemampuan mempertahankan fokus untuk waktu lama), Executive Attention (kemampuan merencanakan, mengarahkan konsentrasi pada tujuan, memantau perubahan tugas, dan menyesuaikan tugas baru), serta Divided Attention (kemampuan untuk memfokuskan diri pada beberapa aktivitas sekaligus). Proses terapeutik dibagi menjadi tiga tahap: pemula, menengah, dan mahir, yang mencakup asesmen, perancangan, penerapan terapi, pencatatan, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen musik bambu Rahaidi berdampak positif pada perkembangan rentang konsentrasi individu autisme dewasa, dengan perbaikan yang signifikan dalam semua aspek perhatian yang diukur tingkat dasar. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan yang disesuaikan dan penggunaan instrumen musik sebagai alat terapeutik efektif untuk meningkatkan konsentrasi.
-
PERKEMBANGAN TREND SIGER PENGANTIN SUNDA DI JAWA BARAT TAHUN 1980-2024Siger di Jawa Barat merupakan elemen aksesoris yang dikenakan oleh pengantin perempuan Sunda. Siger terdiri atas dua jenis karakter dan bentuk yakni Siger klasik dan Siger kontemporer. Dalam kehidupan masyarakat, Siger menunjukkan ragam jenis yang terus berkembang dan menjadi trend yang beradaptasi terhadap kemajuan zaman. Hal ini menimbulkan berbagai ragam perubahan jenis dan bentuk yang terkait dengan perkembangan trend Siger pada pengantin Sunda di Jawa Barat. Penelitian ini membahas mengenai trend Siger pengantin Sunda di Jawa Barat dengan menggunakan tiga teori, yakni: Teori Sejarah Charles Firh dan Sartono Kartodirdjo, Teori Perubahan Sosial John Lewis Gillin dan John Philip Gillin, serta Teori Transformasi D’Arcy Thompson. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang menerapkan empat tahapan analisis sejarah meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Penelitian terhadap perkembangan trend Siger pada pengantin Sunda di Jawa Barat dalam rentang waktu tahun 1980 hingga 2024 menghasilkan temuan yang menunjukkan perubahan trend pada Siger dari masa ke masa. Hal tersebut ditandai dengan perubahan bentuk dan gaya, serta munculnya ragam variasi model, hingga penamaan bentuk pada ragam Siger yang merujuk pada tokoh panutan (role model) pada suatu trend, yakni Raja dan Ratu Pasundan, kalangan aristokrat lokal (kaum ménak), hingga tokoh publik modern seperti selebriti. Penelitian ini berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan tentang Siger khususnya dari sisi perubahan bentuk, model, dan trend Siger dalam perkembangan zaman.
-
KARUSAKANG : FENOMENA KERUSAKAN ALAM DALAM PENCIPTAAN MUSIK BERGENRE JAZZ FUSIONKarya musik Karusakang merupakan sebuah karya penciptaan seni pertunjukan musik yang bermula dari kegelisahan atas fenomena deteriorasi atau penurunan mutu lingkungan akibat dari kehidupan modern yang mengubah lanskap alami yang telah dirawat oleh masyarakat adat dan diekspresikan ke dalam bentuk karya seni. Transformasi atas fenomena kerusakan alam ke dalam komposisi musik Karusakang melibatkan dua estetika musik, yakni musik tradisional Bali sebagai representasi musik etnik dan jazz fusion sebagai representasi musik modern. Konsep dasar Karusakang berlandaskan pada gagasan memadukan jazz fusion dengan pola permainan interlocking atau kotekan yang menjadi elemen penting pada beragam jenis musik tradisional Bali. Struktur karya Karusakang menggunakan alur tiga babak yang mempertunjukkan suasana dramatik atas fenomena kerusakan alam yang tengah terjadi. Perpaduan antara permainan komunal pada kotekan dengan permainan individual pada jazz fusion mengantar pada situasi disharmonis sebagai suatu metafor dari fenomena deteriorasi alam beserta dampaknya pada pola kehidupan manusia. Ekspresi musikal yang suram pada babak terakhir dari komposisi ini menjadi sintesa atas fenomena kerusakan alam yang telah terjadi sebagai hasil dari implementasi suatu fenomena kerusakan alam di Bali, yang bertujuan untuk menimbulkan kesadaran pendengarnya akan kepedulian terhadap lingkungan.
-
STUDI INTERTEKSTUAL DALAM PERTUNJUKAN GENDING KARESMÉN SI KABAYAN JEUNG RAJA JIMBULPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur musik dan dramatik dalam pertunjukan Gending Karesmén Si Kabayan Jeung Raja Jimbul, serta menganalisis korelasi antara Karawitan Sunda, drama, dan tata rupa sebagai elemen utama pembentuk pertunjukan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk mengungkap makna yang terkandung dalam relasi antarunsur pertunjukan. Teknik pengumpulan data meliputi studi literatur, studi dokumentasi terhadap naskah dan rekaman pertunjukan, wawancara dengan pelaku seni terkait, serta refleksi kritis terhadap proses analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Karawitan Sunda menempati posisi sentral dalam struktur dramatik pertunjukan. Musik tidak hanya mengiringi, tetapi juga menandai transisi, memperkuat emosi tokoh, dan memandu ritme aksi panggung. Drama berperan sebagai narasi utama, sementara tata rupa memperkuat aspek visual yang kontekstual dengan Budaya Sunda. Ketiganya membentuk sistem multi-teks yang menciptakan komunikasi estetik terpadu, menjadikan pertunjukan ini sebagai media ekspresi budaya dan sarana pendidikan karakter berbasis tradisi.
-
LUKA TAK TERUCAPLuka Tak Terucap bertujuan untuk merepresentasikan kondisi kesehatan mental seorang ibu yang mengalami baby blues pasca melahirkan. Baby blues terjadi karena faktor lingkungan dan pengalaman hidup, namun seringkali diabaikan meski membawa dampak serius seperti kesulitan dalam merawat bayi dan hilang nya rasa percaya diri. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif melalui studi kasus, wawancara, serta dokumentasi. Selain itu, metode analogi juga digunakan untuk membangun konflik dan karakter berdasarkan kisah nyata yang diadaptasi secara dramatik. Naskah yang berjudul Luka Tak Terucap terdiri atas 3 babak dengan total 37 adegan dan mengusung genre tragedi. Struktur dramatik nya mengacu pada Aristoteles, serta menerapkan gaya realisme psikologis dengan sentuhan surealisme. Tokoh utama yang bernama Rana adalah seorang ibu muda yang membawa luka masa lalu nya ke dalam kehidupan rumah tangga dan peran nya sebagai ibu, hingga memengaruhi kestabilan mental nya setelah melahirkan. Naskah ini menggambarkan perjalanan emosional tokoh dalam menghadapi tekanan sosial, trauma batin, hingga upaya penyembuhan diri. Naskah ini mengandung unsur dramatik seperti konflik, suspense, curiosity, dan surprise untuk memangun intensitas cerita. Karya ini diharapkan dapat menghadirkan ruang refleksi sekaligus edukasi bagi masyarakat tentang penting nya kesehatan mental ibu pasca melahirkan, serta mengurangi stigma terhadap ibu yang mengalami baby blues. Naskah ini juga menjadi bentuk ekspresi yang membuka dialog empati mengenai pentingnya dukungan emosional bagi para ibu.
-
KONSEP TOKOH THOMAS PATTIWAEL DALAM NASKAH JAM DINDING YANG BERDETAK KARYA NANO RIANTIARNOTugas Akhir ini mengkaji proses pemeranan tokoh Thomas Pattiwael, seorang kepala keluarga berdarah Ambon, dalam naskah Jam Dinding yang Berdetak karya Nano Riantiarno. Naskah ini menggambarkan realitas kemiskinan, keterpinggiran, dan tekanan sosial yang dialami satu keluarga Ambon di tengah kondisi yang tidak adil. Thomas, sebagai tokoh Ayah digambarkan mengalami krisis moral dan batin dalam menghadapi tekanan hidup yang keras. Pemeranan dilakukan dengan menggunakan metode akting dari Suyatna Anirun, melalui olah tubuh, rasa, dan olah vokal, yang menekankan kejujuran ekspresi dan kedalaman emosi. Hasil akhir menampilkan sosok Thomas secara utuh dan menyentuh, sebagai cerminan perjuangan hidup kelompok yang termarjinalkan. Karya ini menjadi kontribusi dalam pengembangan praktik pemeranan berbasis pengalaman sosial dan identitas kultural.
-
PENCIPTAAN BUSANA READY TO WEAR DELUXE STYLE FEMININE ROMANTIC BERKONSEP ZERO WASTE DENGAN TEKNIK PLEATS DAN EMBELLISHMENT BUNGAIndustri fashion merupakan salah satu sektor yang berkontribusi besar terhadap limbah tekstil, sehingga dibutuhkan solusi inovatif yaitu proses penciptaan busana yang ramah lingkungan. Konsep zero waste hadir sebagai metode pada pemanfaatan sisa bahan kain agar tidak terbuang sia-sia. Penerapan teknik embellishment berbasis zero waste ini mampu menjadi salah satu solusi inovatif dalam memanfaatkan sisa bahan menjadi elemen dekoratif untuk busana dengan gaya feminine romantic dan menambahkan teknik pleats pada karya busananya. Metode penciptaan karya ini menggunakan teori Practice-Ied Research yang terdiri dari tahap pra-perancangan (pencarian sumber ide, konsep dan tujuan penciptaan), perancangan (rancangan desain karya), perwujudan (mewujudkan karya) dan penyajian. Karya yang ditampilkan berupa lima karya busana ready to wear deluxe yang disajikan dalam bentuk fashion show.
-
PENCIPTAAN MOTIF ORNAMEN ARSITEKTUR MELAYU DI RIAU DENGAN TEKNIK BORDIR PADA READY TO WEAR DELUXEPenciptaan ready to wear deluxe ini terinspirasi dari warisan budaya motif ornamen rumah Melayu di Riau khususnya pucuk rebung dan selembayung yang wujudnya mengalami transformasi ke dalam motif utama dengan teknik bordir. Penciptaan ini berkiblat pada trend fashion 24/25 New Spirit sub Soulful. Penciptaan ini menggunakan metode penciptaan yang meliputi eksplorasi, perancangan, dan perwujudan yang menghasilkan enam looks karya busana ready to wear deluxe yang disajikan pada perhelatan fashion show di Jogja Fashion Parade (JFP) 2025 dengan tema besar Parallel Aesthetic. Harapannya hasil pengkaryaan ini bisa menambah keberagaman motif teknik bordir dan busana ready to wear deluxe juga kecintaan masyarakat pada warisan budaya khususnya generasi muda.
-
PENCIPTAAN BATIK TULIS MOTIF SEUNGIT DAUN TEH DAN PENGAPLIKASIAN PADA READY TO WEAR DELUXE DENGAN EDGY STYLEPenciptaan batik tulis motif seungit daun teh bertujuan mengembangkan batik dengan inspirasi keindahan alam hamparan kebun teh di Ciwidey. Motif dirancang menggunakan elemen meliputi pohon, daun, bunga, dan buah teh. Proses ini juga memanfaatkan teknik celup dengan pewarnaan alami yang dibuat dari daun teh. Penciptaan ini menggunakan metode Sukaya, meliputi pencarian ide dan gagasan, pendalaman dan pengembangan, berkarya dan perwujudan. Koleksi ini dirancang mengikuti tren indie rebellion dengan subtema Edgy Autentik, menampilkan potongan sruktural dan detail asimetris. Karya ini memadukan tradisi inovasi modern untuk memperluas apresiasi batik di pasar global, serta menunjukan bagaimana budaya lokal dan global dapat bersinergi. Diharapkan dapat menghasilkan fashion yang unik dan memiliki tren di masa depan. Hasil pengkaryaan ini disajikan dalam bentuk fashion show di Bandung Fashion Runway (BFR) dengan lima look ready to wear deluxe, yang harmoni antara elemen budaya lokal dan desain modern.
-
PENERAPAN CONVERTIBLE FASHION PADA READY TO WEAR DELUXE APLIKASI EMBELLISHMENT RESIN DAN FABRIC PAINTING INSPIRASI SPIDER LILYIndustri mode berinovasi dengan konsep convertible fashion untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan fleksibilitas dan keberlanjutan. Penciptaan karya ini mengeksplorasi penerapan konsep tersebut pada koleksi ready to wear deluxe melalui aplikasi embellishment resin dan fabric painting yang terinspirasi spider lily. Urgensi penciptaan karya ini terletak pada potensi peningkatan efisiensi konsumsi, perpanjangan siklus hidup pakaian, serta penawaran nilai fungsional dan estetika yang lebih tinggi. Adapun tujuannya adalah untuk menghasilkan koleksi busana inovatif, serbaguna, dan artistik melalui penggabungan convertible fashion dengan teknik embellishment resin dan fabric painting inspirasi spider lily . Untuk mencapai tujuan tersebut, penciptaan karya ini menggunakan pendekatan design thinking yang terdiri dari lima tahap, yakni: empathize, define, ideate, prototype, dan test. Pendekatan ini kemudian diadaptasi menjadi enam tahap dengan menambah tahap forming, sehingga bisa disebut design thinking plus. Hasilnya adalah tiga look karya busana utama yang dapat dipadupadankan menjadi sembilan tampilan berbeda yang menawarkan fleksibilitas gaya bagi pemakainya.
-
PENCIPTAAN READY TO WEAR INSPIRASI TERUMBU KARANG INDOPHYLLIA MACASSARENSIS DENGAN TEKNIK DIGITAL PRINTING DAN PLEATSIndustri fashion merupakan salah satu sektor yang senantiasa mengalami perkembangan. Inovasi dan kreativitas sumber ide berperan penting dalam menghasilkan karya yang menarik dan inovatif di dunia fashion yang semakin bersaing. Pada penciptaan ini, sumber ide terinspirasi dari salah satu terumbu karang yang tumbuh di perairan Indonesia Indophyllia macassarensis, yakni terumbu karang yang terancam punah yang memiliki keunikan visual dan lokasi geografisnya memberikan potensi untuk dieksplorasi sebagai sumber inspirasi motif. Tujuan penciptaan karya ini adalah menambah keberagaman bentuk koleksi ready to wear dengan teknik digital printing dan pleats. Digital printing dipilih karena dapat memvisualisasikan motif Indophyllia macassarensis lebih jelas. Pleats dipilih untuk memberikan kesan dimensi dan tekstur menarik pada busana. Adapun metode penciptaan memiliki lima tahapan yaitu gagasan, konsep, rancangan, prototipe, dan eksekusi. Hasil proses penciptaan karya ini berupa lima tampilan busana ready to wear yang disajikan dalam bentuk fashion show di Bandung Fashion Runway 2025, TVRI Jawa Barat.
-
Siti Hasunah SaniahPenciptaan karya tugas akhir ini dilatarbelakangi oleh fenomena penangkapan ikan ilegal menggunakan kapal pukat harimau (trawl) di perairan Pulau Sebira, Kelurahan Pulau Harapan, Kepulauan Seribu. Aktivitas ilegal ini dilakukan oleh nelayan dari luar daerah tanpa izin resmi, yang berdampak merusak habitat biota laut, terumbu karang, serta mengganggu keseimbangan ekosistem laut di wilayah tersebut. Karya ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran terhadap isu lingkungan tersebut melalui media fashion yang berkelanjutan dan artistik, dengan menyasar segmen pasar yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian lingkungan. Teknik nui shibori yang merupakan metode pewarnaan kain dengan cara dijahit dan diikat sebelum dicelup, dipilih karena mampu menghasilkan motif alami yang estetis. Teknik macrame ditambahkan untuk memperkaya tekstur dan memberikan nilai dekoratif yang khas. Inspirasi visual diperoleh dari bentuk, warna, dan biota laut seperti penyu, ikan, dan rumput laut. Metode penciptaan dilakukan melalui tahapan pra-perancangan, perancangan, perwujudan dan penyajian.Karya ini menghasilkan empat busana ready to wear deluxe yang merepresentasikan eksplorasi teknik tekstil tradisional dalam pendekatan desain modern dan ramah lingkungan. Pembuatan karya ini tidak hanya menawarkan inovasi visual dan teknis dalam dunia fashion, tetapi juga berfungsi sebagai media kampanye isu lingkungan maritim.
-
KONSEP RECYCLE DAN UPCYCLE DENIM PADA READY TO WEAR DELUXE EDGY STYLE APLIKASI HANDPAINTING INSPIRASI MAWAR BIRUPenelitian ini didasarkan pada pengembangan kreativitas dan inovasi yang berfokus penerapan konsep recycle dan upcycle denim pada busana edgy style aplikasi teknik handpainting inspirasi mawar biru. Konsep recycle dan upcycle pada perancangan busana dapat menjadi upaya untuk mendukung industri busana yang berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan nilai fungsi dan ekonomi dari limbah denim. Material denim memiliki estetika warna yang dapat direpresentasikan melalui bentuk visual dari bunga mawar biru. Tujuan penelitian ini adalah menambah inovasi dan estetika bentuk visual pada koleksi busana edgy style yang dapat meningkatkan nilai fungsi berkelanjutan dan ekonomi dari limbah pakaian. Penelitian ini menggunakan metode double diamond atau model berlian ganda, yaitu kerangka kerja desain yang membagi proses kreatif menjadi empat tahap: discover (menemukan), define (mendefinisikan), develop (mengembangkan), dan deliver (menyampaikan). Hasil proses penciptaan ini berupa empat busana ready to wear deluxe disajikan pada event Bandung Fashion Runway tanggal 30 April 2025 di Studio 1 TVRI Jawa Barat.
-
APLIKASI BATIK, BUNGA TULIP, DAN SHIBORI PADA READY TO WEAR DELUXEPenciptaan ready to wear deluxe ini didasari oleh fakta empirik, bahwa koleksi ready to wear deluxe yang secara harmonis menggabungkan unsur budaya Jepang (shibori), warisan budaya Indonesia (batik), dan representasi visual tanaman ikonik Belanda (bunga tulip) belum ada. Oleh sebab itu, riset penciptaan ini bertujuan untuk menghdirkan inovasi pada ready to wear deluxe dengan mengeksplorasi potensi sinergis dari ketiga elemen di atas melalui teknik embellishment. Urgensinya adalah selain bisa menjadi media diplomasi budaya melalui fesyen, riset ini dapat memperkaya khazanah desain fesyen dengan perspektif global yang unik, sekaligus melestarikan dan mengaplikasikan teknik tradisional dalam konteks kontemporer. Metode penciptaan yang digunakan adalah Double Diamond Model, yang meliputi tahap discover, define, develop, dan deliver. Hasil dari riset penciptaan ini adalah terciptanya empat ready to wear deluxe yang inovatif dan relevan dengan pasar fesyen mewah saat ini. Koleksi ini disajikan pada even Indonesia Internasional Muslim Fashion Festival (IN2MF) 2024 di Jakarta Convention Centre.
