Indonesia sebuah negara yang memiliki berbagai macam suku dan budaya yang melimpah, pada setiap suku yang ada di Indonesia memiliki jati diri dan makna-makna yang berbeda disetiap wilayahnya. Indonesia memiliki suku yang sudah tidak asing di dengar oleh setiap masyarakat yaitu suku Sunda. Filosofi mulih ka jati mulang ka asal dari suku Sunda mengajak kita untuk kembali pada jati diri dan asal usul, menekankan pentingnya introspeksi dan penghargaan terhadap warisan budaya. Dalam konteks Tugas Akhir ini, penulis berusaha mengeksplorasi tema tersebut melalui karya seni assembling menggunakan batu hebel. Melalui metode penelitian kualitatif, penulis ingin menggali makna mendalam dari pengalaman hidup dan kenangan, serta mendorong penikmat untuk merenungkan hubungan mereka dengan diri sendiri dan Sang Pencipta. Karya ini diharapkan dapat menjadi pengingat akan nilai-nilai identitas dan perjalanan hidup, serta pentingnya menghargai setiap momen yang telah dilalui.
Dengan demikian, mulih ka jati mulang ka asal bukan hanya sebuah ungkapan, tetapi juga panduan untuk memahami diri dan menghargai warisan budaya yang membentuk kita sebagai individu. Penulis memvisualisasikan kepada sebuah karya yang mengangkat tentang memori atau mengenang masa yang sudah lalu.
Film Silence Art Stories terinspirasi dari kisah nyata Gebar Sasmita, seorang tahanan politik yang dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September 1965 dan ditahan tanpa proses peradilan dari tahun 1965 hingga 1979. Dengan pendekatan neorealisme, film ini menggambarkan realitas keras kehidupan para tahanan politik dan dampaknya terhadap masyarakat kelas bawah. Tema ini menarik karena mengangkat isu sejarah yang jarang dieksplorasi, sekaligus memadukan elemen naratif dan sinematik untuk merekonstruksi suasana era Orde Baru. Konsep penciptaan berfokus pada tiga aspek utama: Bagaimana cara penggambaran Gebar Sasmita dalam komposisi frame within frame yang memperlihatkan keterbatasan masyarakat kelas bawah? Bagaimana membangun Mise en Scene dalam Film Silence Art Stories agar sesuai dengan realitas kehidpuan masyarakat kelas bawah dan Bagaimana penerapan CGI dalam film Silence Art Stories digunakan untuk membangun setting kehidupan masyarakat yang terpenjara dan realitas masyarakat kelas bawah? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, seperti wawancara, studi pustaka, dan kajian media, sementara metode penciptaan mencakup empat tahap: riset dan pengembangan, pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Hasilnya, film ini berhasil merekonstruksi kondisi sosial dan psikologis tahanan politik melalui estetika visual yang mendalam. Teknik sinematik, seperti tata cahaya, pemilihan shot, dan mise en scene, digunakan untuk menciptakan atmosfer autentik yang memperkuat narasi emosional dan pesan sejarah kepada penonton.
Perubahan nilai budaya pada tari Bedhaya Ketawang masih banyak yang belum memahaminya. Akibat kurangnya pemahaman perubahan nilai tersebut, munculah stereotip dan stigma negatif dari masyarakat pada penari khususnya Bedhaya Ketawang ini. Tujuannya adalah untuk mengedukasi masyarakat mengenai perubahan nilai budaya pada tari Bedhaya Ketawang dan meminimalisir adanya stereotip dan stigma terhadap penari. Mengunakaan metode kualitatif berupa wawancara, riset online, dan obervasi langsung ke Keraton Surakarta Hadiningrat. Serta menggunakan struktur berupa Freytag’s Pyramid untuk struktur dramatik. Dengan menggunakan aplikasi scenarist, menghasilkan sebuah skenario dengan genre drama, berdurasi kurang lebih 48 menit dengan total 42 scene.
Kegagalan dalam mencapai tujuan merupakan bagian tak terhindarkan dalam perjalanan hidup manusia, ia dapat menjadi titik balik kemajuan positif atau justru menghambat perkembangan diri. Sebagai respon alami pertahanan diri manusia, hal tersebut memberi dampak seperti rasa takut, kecemasan, dan sikap pesimis. Jika dibiarkan dalam jangka panjang, pesimisme dapat menimbulkan kerusakan pada diri dan jiwa. Dengan tekad kuat, pesimismedapat diubah dan dikelola dengan mengembangkan ekspektasi positif atau optimisme. Salah satunya melalui ekspresi diri yang positif. Fotografi, khususnya dalam fotografi ekspresi atau fine art photography, dapat menjadi media pengungkapan yang efektif untuk menyalurkan ekspresi tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode penciptaan karya practice-led research.Karya fotografi yang dihasilkan memakai teknik eksperimen merobek dan menjahit foto gabungan dari fotografi dengan media benang rajut.Warna gambar hitam-putih menampilkan manusia dengan ekspresi, gestur, properti, dan tekstur dipadukan cahaya kontras yang dramatis menggambarkan perasaan getirnya memori dan keputusasaan. Eksperimen pada foto menciptakan pola acak yang merepresentasikan amarah, ketidakberdayaan, pemberontakan, dan penerimaan diri . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fotografi tidak hanya sebagai media dokumentasi, tetapi juga sebagai sarana ekspresi yang mampu menyampaikan emosi, refleksi diri, dengan caran menghadirkan keterbukaan atas ketidaksempurnaan dan luka.
Sinematografi Naturalis merupakan teknik pengambilan gambar dengan pendekatan visual yang bertujuan menciptakan kesan realistis dalam film, seperti pencahayaan alami, komposisi sederhana dan sudut pandang yang tidak mencolok. Karya ini bertujuan untuk mengekplorasi penerapan sinematografi naturalis sebagai pendekatan visual dalam memperkuat narasi film ”Lunas Nepi Ka Modyar”. Karya penata kamera ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, studi media dan studi pustaka. Dengan metode penciptaan melalui proses pra produksi, produksi dan pasca produksi Sinematografi naturalis yang diterapkan pada film “Lunas Nepi Ka Modyar” menggunakan pencahayaan natural dengan menciptakan pencahayaan buatan menyerupai pencahayaan alami seperti matahari, serta type of shot yang sederhana seperti Medium close-up, Medium shot, dan Long shot. Berbagai teknik yang diaplikasikan tersebut menciptakan kesan memperkuat narasi dalam film sehingga dapat dirasakan oleh penonton dan merasa seolah-olah sedang menyaksikan kejadian nyata, serta meningkatkan keterlibatan dan empati penonton.
Kematian merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia. Kehilangan ibu akibat Covid-19 memunculkan berbagai emosi kompleks, termasuk rasa kehilangan, rasa bersalah, kemarahan, dan kesedihan. Tidak ada persiapan yang benar-benar dapat mempersiapkan seseorang untuk pengalaman kehilangan seorang ibu yang dicintai. Untuk mengatasi perasaan kehilangan tersebut, mengenang momen-momen bersama ibu menjadi cara untuk terhubung kembali dengan kerinduan yang mendalam dan ikatan emosional.
Karya Tugas Akhir ini, berjudul Visualisasi Rindu kepada Ibu melalui Fotografi Ekspresi "Ruang Rindu", bertujuan merepresentasikan kerinduan tersebut melalui media fotografi. Karya ini menangkap kenangan tentang interaksi sehari-hari dengan ibu, seperti memasak di dapur dan bersantai di ruang keluarga, yang menciptakan ikatan emosional yang mendalam.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan deskriptif, yang bertujuan mengeksplorasi pengalaman personal secara detail. Selain itu, metode Practice-led Research diterapkan dalam proses penciptaan karya ini, yang menghubungkan proses kreatif langsung dengan praktik fotografi.
Dalam karya ini, ibu ditempatkan sebagai fokus perhatian, kehadirannya disiratkan melalui barang-barang pribadinya. Kehadirannya tidak terlihat tetapi dapat dirasakan, menciptakan representasi sosok ibu yang tetap hidup melalui kenangan dan objek sehari-hari. Karya ini tidak hanya memiliki makna personal tetapi juga membahas tema universal tentang kehilangan, kerinduan, dan ikatan ibu-anak.
Tesis ini mengkaji proses pemeranan tokoh Abbie Putnam dalam Desire Under The Elms karya Eugene O’Neill, versi terjemahan Toto Sudarto Bachtiar. Tokoh Abbie dipilih karena kompleksitas emosional dan konfliknya yang kuat dalam konteks drama realis. Metode Stanislavski digunakan dengan menekankan given circumstances, magic if, dan memori emosional. Pemeranan dikembangkan melalui latihan terstruktur seperti observasi, analisis naskah, improvisasi, dan eksplorasi fisik. Hasilnya menunjukkan pentingnya pendekatan emosional dan kerja tim dalam menciptakan karakter tragis secara autentik di atas panggung.
Skripsi ini memuat beberapa topik dalam landasan
penulis/penggarap pada proses penyutradaraan naskah Pertja karya Benny
Yohanes yang menggambarkan fenomena Mental Illness pada setiap tokoh.
Penyutradaraan dilakukan dengan penerapan metode Suyatna Anirun
yang tercantum dalam buku ‘Menjadi Sutaradara’. Kemudian
penulis/penggarap melakukan pembacaan psikologis dari tokoh dengan
teori psikologi dari buku “Psikoanalisis Sigmund Freud” yang ditulis oleh
K. Bertens 2006. Analisis menunjukkan bahwa fenomena tentang Mental
Illness menjadi latar psikologi dari setiap permasalahan yang dialami oleh
seseorang dan sebagai akar dari sifat seseorang. Melalui penyutradaraan
ini, diharapkan pertunjukan tidak hanya menjadi hiburan tetapi juga media
refleksi dan pembelajaran terhadap isu-isu psikologi yang relevan.
Naskah Nano Riantiarno "Rumah Kertas" (1977) mengkritik sistem
pemerintahan yang kejam dan tidak berpihak pada kemanusiaan. Dalam
teori penyutradaraan, naskah ini ditafsirkan dengan menggunakan
pendekatan simbolik dan ekspresionistik untuk memperkuat pesan bahwa
kekuasaan adalah sesuatu yang absurd yang menyebabkan keterasingan
manusia. Tokoh-tokoh digambarkan sebagai korban dari sistem
pemerintahan yang tidak masuk akal, dan manipulatif. Tata artistik
dimaksudkan untuk mendukung suasana tekanan psikologis dan tata
cahaya dramatis yang menggambarkan kesedihan dan kehilangan
identitas dalam diri seseorang. Selain itu, sebagai cara untuk menegakkan
sistem yang membatasi kebebasan individu, penekanan diberikan pada
pola gerak mekanis dan diskusi yang terorganisir. Konsep penyutradaraan
ini tidak hanya bertujuan untuk menyampaikan kritik sosial-politik terhadap
masa Orde Baru, tetapi juga untuk membuka ruang berpikir tentang sistem
pemerintahan kontemporer yang terus bertahan hingga saat ini. Oleh
karena itu, "Rumah Kertas" sebagai alat teater menunjukkan pentingnya
mempertahankan kemanusiaan di tengah sistem pemerintahan.
Magdan menjadi tokoh yang dipilih untuk diperankan dalam naskah “Jam Dinding Yang Berdetak” karya Nano Riantiarno. Tokoh Magda merupakan seorang anak pertama yang menggambarkan bagaimana seorang kakak menghadapi berbagai konflik yang ada dalam keluarganya yang sedang mengalami krisis ekonomi. Bagaimana Magda harus tetap bertahan hidup dengan keluarganya, tokoh Magda harus bekerja untuk membantu ekonomi keluarga dan membiayai kuliah adiknya yaitu Benny. Seni peran yang mengemas karakter Magda dibangun melalui perasaan, gerak tubuh, gaya bicara, dan kesadaran Magda membangun ruang imajinatif.
Buku yang menjadi rujukan dalam proses membangun tokoh Magda yaitu menggunakan buku “Menjadi Aktor” karya Suyatna Anirun. Buku tersebut menjadi panduan dasar penulis selama proses pertunjukan dan membantu aktor dalam wilayah kesadaran sebagai aktor dengan tubuhnya, vokalnya, sukmanya, lalu membantu aktor dalam membangun ruang dan mencari ruang.Tokoh Magda di perankan oleh Penulis pada naskah “Jam Dinding Yang Berdetak” dipentaskan di Gedung Kesenian Sunan Ambu ISBI Bandung secara langsung.
Krisis identitas di era modern semakin kompleks akibat globalisasi, perubahan sosial, dan dominasi teknologi yang mengaburkan autentisitas individu. Terjebak antara tradisi dan modernitas, manusia sering membentuk citra diri berdasarkan ekspektasi sosial. Karya ini mengeksplorasi ambiguitas eksistensial melalui realisme simbolik, menghadirkan dialog reflektif dan konflik batin dalam pencarian makna, serta mengajak penonton merenungkan bagaimana zaman membentuk pemahaman tentang eksistensi.
Skripsi ini membahas proses pemeranan tokoh Raja dalam lakon Prabu Maha Anu karya Robert Pinget yang diterjemahkan oleh Saini KM. Naskah ini merupakan karya teater absurd yang sarat akan nilai-nilai filsafat eksistensialisme, terutama terkait keterasingan, kebosanan, dan kesia-siaan hidup. Skripsi ini bertujuan untuk mengeksplorasi metode pemeranan yang tepat dalam merepresentasikan karakter Raja yang kompleks, absurd, dan pesimistis. Pendekatan yang digunakan adalah konvensi akting presentasi dengan penerapan metode Stanislavski, seperti observasi, imajinasi, konsentrasi, dan ingatan emosi. Proses kreatif dilakukan secara mendalam dengan landasan teori akting dari Stanislavski serta literatur pendukung lainnya. Tantangan utama dalam pemeranan tokoh ini adalah menafsirkan absurditas dan menggambarkan emosi yang tidak eksplisit secara empatik kepada penonton. Skripsi ini juga menawarkan pendekatan artistik baru sebagai pembeda dari pementasan Prabu Maha Anu sebelumnya. Hasil akhir dari penciptaan tokoh ini diharapkan dapat menyampaikan gagasan filosofis eksistensialisme dan absurditas secara efektif kepada apresiator serta memberikan kontribusi dalam pengembangan seni pemeranan teater modern di Indonesia.
Skripsi ini membahas pengembangan konsep dan peran tokoh ‘Marie Pattiwael’ dalam naskah ‘Jam Dinding Yang Berdetak’ Karya Nano Riantiarno, skripsi ini bertujuan untuk mengkaji proses penciptaan karakter secara mendalam dengan fokus pada metode dan teknik pemeranan yang digunakan untuk menghidupkan tokoh Marie di atas panggung. Proses yang dilalui mencakup tahap eksplorasi, persiapan diri, pendalam karakter, pengembangan klimaks, dan tempo dramatik. Pertunjukan ini diawali dengan analisis naskah, dilanjutkan dengan proses latihan seperti olah tubuh, olah vocal, ekspresi.
Lakon Tuhan Tak Pernah Salah mengisahkan Khansa, seorang perempuan
muda dari keluarga miskin yang berjuang melawan isolasi sosial, stigma, dan
tekanan hidup di tengah pandemi COVID-19. Lakon ini mengeksplorasi
kekuatan batin Khansa dalam menghadapi keterpurukan serta pencariannya
akan makna dan pemulihan diri. Dengan mengaplikasikan prinsip Well-Made
Play, naskah ini disusun dengan alur yang terstruktur, konflik yang intens, dan
penyelesaian yang menyentuh. Visualisasi yang kuat serta dialog yang natural
memperkuat gambaran dampak pandemi terhadap individu, khususnya
perempuan dari kelas sosial bawah. Lakon ini tidak hanya menyajikan cerita
dramatik, tetapi juga menjadi refleksi tentang ketahanan jiwa dan pentingnya
harapan di tengah krisis kemanusiaan.
Konsep garap tata artistik dalam naskah A Streetcar Named Desire karya Tennessee Williams difokuskan pada penciptaan suasana visual yang mampu merefleksikan konflik psikologis dan moral antar tokohnya. Dengan pendekatan realisme, elemen tata panggung, rias, kostum, pencahayaan, dan musik dirancang untuk memperkuat dramatika naskah secara estetis. Penata artistik bertindak sebagai jembatan interpretatif antara teks dan pentas, membentuk ruang visual yang selaras dengan konteks sosial dan emosional dalam cerita.
Penelitian ini menggunakan jenis metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Objek penelitian merupakan pengalaman penonton dengan subjek penelitian yang akan diamati adalah penonton pertunjukan teater yang telah menyaksikan pertunjukan teater dikota bandung melalui teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif secara langsung, wawancara, serta studi dokumentasi. Adapun penelitian ini dilakukan diruang-ruang pertunjukan terpilih Kota Bandung, yakni Gedung Kesenian Rumentang Siang, Taman Budaya Jawa Barat, Celah-Celah Langit, dan ISBI Bandung. Hasil penelitian mengenai pengalaman penonton tentang tentang isu-isu yang diangkat setelah menyaksikan pertunjukan teater di Kota Bandung serta mendeskripsikan komunikasi antara penonton dengan pertunjukan teater di Kota Bandung sehingga didapat dampak pengalaman penonton terhadap keberlanjutan teater serta implikasinya terhadap seniman, penyelenggara pertunjukan, dan pengelola ruang pertunjukan.
Naskah lakon Rumah Kita adalah naskah yang diciptakan oleh penulis melalui keresahan yang melihat peristiwa yang marak terjadi pada siswa-siswi sekolah menengah atas, yang melakukan aksi bullying terhadap teman sekolah. Pelaku bullying adalah orang-orang broken home, anak broken home sering meniru perilaku kekerasan yang mereka alami atau disiksa di rumah, sehingga mereka melakukan kekerasan kepada orang lain, termasuk bullying. Dengan teater menjadi rumah kedua bagi korban dan pelaku untuk bisa menemukan rumah bersama, agar bisa meluapkan emosi secara positif, melalui seni teater menjadi ruang aman, menciptakan aktivitas kreatif untuk siswa-siswi sekolah melalui teater.
Penulisan lakon berjudul “Havoc” mengangkat tema dampak perceraian pada anak. Naskah lakon ini menggambarkan bagaimana perceraian dapat memengaruhi perubahan karakter anak. Penulisan lakon ini berangkat dari keresahan saya yang melihat maraknya perceraian. Pada akhirnya ada banyak anak yang memiliki rasa trauma akibat perceraian orangtua. Keutuhan keluarga sangat dibutuhkan perannya dalam membangun kepribadian yang positif untuk anak. Kondisi keluarga yang tidak harmonis bahkan hingga berujung pada perceraian akan membuat anak menjadi kehilangan arah, terlebih jika anak tersebut sedang memasuki fase remaja. Penulisan lakon ini menerapkan Inner-Play, metode kreatif dalam menulis lakon. Proses yang dilakukan sebelum penulisan lakon ini penulis melakukan studi literatur dan observasi lapangan berdasarkan lingkungan pertemanan penulis. Hasil dari penulisan lakon ini diharapkan dapat menjadi teman bagi siapa pun yang diam-diam merasa sendiri akibat perceraian.
Skripsi ini berjudul “Pertunjukan Jurus Kujang di Perguruan Silat Tadjimalela SMAN 17 Kota Bandung dalam Tinjauan Performance Studies”. Seni pertunjukan seperti halnya teater, merupakan seni yang bersifat kolektif karena dapat mencakup berbagai disiplin ilmu seperti seni tari, seni musik, seni peran, dan seni bela diri. Seni pertunjukan "Jurus Kujang” 1, 2, dan 5 dapat menjadi bagian dari pertunjukan teater karena memiliki aspek dramatis serta ekspresi tubuh. Tujuan penelitian ini untuk memahami Jurus Kujang dikategorikan sebagai performance yang dianalisis berdasarkan perspektif performance studies. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan Teori Performance dari Richard Schechner yang berfokus pada Being, Doing, Showing Doing, Explaining Showing Doing, teks/aksi, pemain, sutradara, ruang, waktu, dan penonton. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Jurus Kujang yang diajarkan pada ekstrakurikuler Perguruan Silat Tadjimalela SMAN 17 Kota Bandung dapat dikategorikan performance karena melibatkan olah rasa, olah pikir, dan olah gerak. Akan tetapi, elemen penonton hanya dibahas secara sekilas dan disarankan untuk membahasnya secara mendalam.
Naskah lakon "Nafsu Di bawah Pohon Elm" karya Eugene O’Neill
mengangkat tema tentang nafsu manusia yang tak terkendali, serta
dampaknya terhadap nilai moral, keharmonisan keluarga, dan kehancuran
eksistensial. Cerita ini berlatar keluarga petani di New England pada tahun
1850, dan menampilkan perjuangan melawan dominasi demi mendapatkan
cinta, warisan, dan kebebasan. Naskah ini merefleksikan pemikiran filsafat
Nietzsche tentang keberanian menggugat nilai-nilai lama demi kebebasan
individu.
penulis menggunakan metode Suyatna Anirun yang berlandaskan
prinsip-prinsip pemeranan Stanislavski. Metode ini dipilih karena
memberikan pendekatan teoritis yang sistematis serta mampu
mengarahkan latihan secara berkelanjutan dalam membangun karakter.
Perwujudan tokoh eben Dalam membangun karakter Eben Cabot,
penulis menerapkan metode Suyatna Anirun dengan menekankan
eksplorasi fisik dan mental untuk mencerminkan sifat sombong, gelisah,
dan menantang dari tokoh tersebut. Gestur tubuh, dinamika, serta tempo
dialog disesuaikan dengan kepribadian karakter. Melalui pendekatan ini,
penulis berupaya menghadirkan pemeranan yang kuat dan meyakinkan
melalui proses latihan dan eksplorasi yang berkelanjutan.
Skripsi penulisan lakon ini berjudul ‚Roti Lapis‛, dengan mengangkat tema dari kasus diskriminasi usia dalam pola rekrutmen di dunia kerja yang dialami oleh generasi Z dan dibuat dalam bentuk komedi satir. Tema diskriminasi usia dalam dunia kerja diangkat menjadi sebuah naskah lakon berbentuk komedi satir menggunakan metode penulisan berdasarkan struktur Gustave Freytag. Gaya komedi satir diterapkan dalam dialog, latar peristiwa, karakter tokoh dan konflik dalam naskah lakon ‚Roti Lapis‛. Tema diskriminasi usia dalam dunia kerja ini dapat dieksplorasi kembali menjadi bentuk naskah lakon yang lain selain komedi satir, serta dapat dikembangkan juga menjadi bentuk karya-karya seni lain untuk tetap menyuarakan kegelisahan terhadap kasus tersebut. Komedi satir dapat digunakan untuk bentuk mengeritik sesuatu hal, selain tema yang penulis bawakan. Untuk itu sangat penting juga membaca banyak referensi entah itu buku, pertunjukan teater ataupun karya lain yang berkaitan dengan komedi satir.
Skripsi ini memuat konsep penyutradaraan naskah “Syair Ikan Tongkol” karya Arthur S. Nalan yang akan diwujudkan menjadi sebuah teater pertunjukan. Proses penyutradaraan yang bertitik-tolak dari 3 (tiga) pernyataan sebagai rumusan masalah, yaitu: (1) Bagaimana makna yang terkandung dalam naskah “Syair Ikan Tongkol” tersampaikan untuk kepentingan pertunjukan teater?. (2) Bagaimana naskah “Syair Ikan Tongkol” dibentuk menjadi pertunjukan teater. (3) Bagaimana menyatukan komponen-komponen pertunjukan teater “Syair Ikan Tongkol” agar menjadi satu kesatuan yang utuh?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, digunakan metode kualitatif dengan diawali pemilihan naskah, studi kepustakaan untuk menguatkan konsep naskah dengan aliran surealis dan pemilihan aktor menggunakan metode yang disesuaikan dengan fisik dan emosi tokoh. Hasil dari proses penyutradaraan adalah mendeskripsikan makna naskah serta mengimplementasikan sebuah teks menjadi bentuk pertunjukan teater surealis memerlukan kerja sama pada setiap komponen pertunjukan. Oleh karena itu, diharapkan untuk para sutradara apabila melakukan sebuah proses kreatif pertunjukan teater agar lebih mematangkan konsep serta perencanaan produksi dan awak pentas dengan tujuan meminimalisir segala persoalan yang berkaitan dengan produksi atau awak pentas harus dapat menyatukan seluruh aspek pertunjukan dan menerjemahkan naskah menjadi bentuk pertunjukan.
Hoax atau berita palsu merupakan fenomena sosial yang terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Dalam menghadapi situasi ini, masyarakat sering kali dihadapkan pada tantangan untuk menyaring informasi yang diterima. Tujuan penulis adalah untuk menggambarkan bagaimana hoax berdampak pada pengambilan keputusan di masyarakat. Penulis melakukan pengumpulan data menggunakan studi literatur dan dieksplorasi menggunakan teori representatif untuk memudahkan penulis dalam menerjemahkan realita kasus ke dalam naskah lakon yang berjudul “PEGAWAI HOTEL KOPLAK”. Dalam penyusunannya, penulis menggunakan metode Well Made-Play. Naskah ini menceritakan tentang 4 pegawai hotel yang sudah bekerja selama 5 tahun bersama. Pada suatu hari ada sebuah rumor beredar mengenai salah satu rekannya yang membuat para pegawai hotel membicarakan hal tersebut secara terus-menerus sampai menyebabkan situasi tidak terkendali. Dalam penyelesaiannya, 4 rekan ini terus berusaha mempercayai satu sama lain dan mencari kebenarannya.
Dalam era digital yang berkembang pesat, penggunaan media sosial oleh Gen Z
khususnya mahasiswa semakin meningkat pesat. Penggunaan yang tidak terkontrol
ini berpotensi menyebabkan adiksi yang memicu dampak negatif seperti
perbandingan sosial dan kecemasan. Fenomena ini mendorong penciptaan naskah
skenario berjudul “Menggenggam Cemas” untuk meningkatkan kesadaran Gen Z
tentang dampak adiksi media sosial melalui struktur dramatik tiga babak. Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data
berdasarkan survey terbuka terhadap Gen Z di Jawa Barat dan Jakarta serta
wawancara mendalam bersama dua narasumber Gen Z dari responden survey dan
seorang psikolog. Proses penciptaan naskah melibatkan eksplorasi ide dari hasil
riset, pengolahan data menjadi unsur naratif, dan perwujudan penulisan naskah.
Naskah ini menggunakan struktur tiga babak untuk menggambarkan konflik
psikologis seorang karakter Gen Z dalam menghadapi kecemasan akibat adiksi
media sosial untuk mengedukasi penonton. Melalui karya ini, diharapkan dapat
mendorong Gen Z agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial.