Items
-
IMPLEMENTASI GAYA PENYUTRADARAAN DAVID FINCHER DALAM FILM FIKSI DREAM OF THE TRUTHFilm pendek Dream of the Truth merupakan karya yang bertujuan untuk menyuarakan perspektif korban terhadap kasus pelanggaran hak asasi manusia, khususnya salah tangkap dan kekerasan oleh aparat negara. Dalam masyarakat, peristiwa-peristiwa tersebut kerap disikapi secara sepihak tanpa mempertimbangkan pengalaman traumatis dan dampak psikologis yang ditinggalkan pada para korban. Film ini dirancang untuk menyampaikan pengalaman emosional dari sudut pandang korban, terutama seorang anak laki-laki yang hidupnya berubah akibat sistem hukum yang represif dan penuh kekerasan. Pendekatan penyutradaraan yang digunakan mengacu pada gaya David Fincher, terutama dalam penerapan struktur naratif non-linear, pencahayaan gelap, serta visual yang intens dan penuh tekanan emosional. Pendekatan ini dipilih untuk menciptakan ketegangan psikologis yang kompleks terhadap penonton. Metode pembuatan film ini mencakup tahapan praproduksi, produksi, dan pascaproduksi yang berbasis pada riset kualitatif. Tahap praproduksi melibatkan observasi lapangan, wawancara dengan narasumber kunci, serta pengembangan karakter dan skenario berdasarkan kasus nyata. Produksi dilakukan dengan pendekatan visual yang menekankan atmosfer realis dan emosional, sementara pascaproduksi berfokus pada penyuntingan ritmis dan transisi waktu yang mendukung alur non-linear. Film ini diproduksi sebagai bentuk implementasi gagasan sutradara dan penulis terhadap film sebagai media kritik sosial. Dream of the Truth diharapkan mampu membangkitkan empati dan kesadaran sosial, serta membuka ruang diskusi mengenai pelanggaran HAM yang sering kali terpinggirkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
-
KONSEP DIRI TERHADAP PERAWATAN TALI PUSAT PADA PENULISAN SKENARIO FILM FIKSI “SUKMA”“Sukma” merupakan skenario film fiksi berbasis cerita budaya yang mengangkat konsep diri terhadap perawatan tali pusat. Skenario ini menceritakan sebuah tradisi yang muncul di daerah Kebumen, Jawa Tengah dimana orangtua memakan tali pusat anaknya setelah peristiwa puput puser. Dalam bahasa Jawa, “Sukma” memiliki arti jiwa sehingga judul tersebut merepresentasikan keseluruhan isi cerita yang berbicara mengenai ketakutan seorang ayah terhadap keselamatan jiwa anaknya. Skenario film fiksi “Sukma” diangkat sebagai upaya pelestarian budaya karena adat dan tradisi perawatan tali pusat sudah mulai ditinggalkan. Pada skenario film fiksi “Sukma” digunakan metode penelitian berupa studi pustaka, wawancara, dan observasi dan melalui tiga metode penciptaan, yaitu tahap eksplorasi, tahap perancangan, dan tahap perwujudan. “Sukma” kemudian menjadi sebuah skenario film fiksi yang berisi mengenai gambaran kehiduan masyarakat berlatar budaya Jawa di Kebumen serta karakter yang merepresentasikan konsep diri masyarakat Jawa yang hidup diantara adat Jawa dan ajaran Islam.
-
STRATEGI IMPACT PRODUCING DALAM FILM Dudung & Maman Just Being a ManPeran produser dalam produksi film mencakup pengelolaan manajemen yang efektif agar film dapat diproduksi secara optimal dan menyampaikan pesan yang berdampak. Film “Dudung & Maman Just Being a Man” merupakan film pendek berbasis kisah nyata yang mengisahkan persahabatan dua lansia penyandang disabilitas intelektual di panti jompo. Film ini tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai alat edukasi isu Disabilitas Intelektual. Penelitian ini berfokus pada strategi impact producing dalam memastikan bahwa film dapat memberikan dampak sosial yang maksimal bagi audiens. Permasalahan yang diselesaikan, terfokus pada bagaimana menerapkan prinsip POAC dalam proses produksi film dan penerapan strategi impact producing untuk menciptakan dampak sosial terhadap isu disabilitas intelektual. Metode penelitian yang digunakan adalah mixed method, yang menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif sebagai data tambahan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, studi pustaka, kajian karya terdahulu serta analisis respons audiens dengan penyebaran angket. Metode penciptaan didasarkan pada prinsip manajemen George Terry yaitu POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) secara sistematis dalam produksi film yang bertujuan untuk mengoptimalkan sumber daya, meningkatkan efektivitas kampanye dampak, serta memastikan pesan film tersampaikan dengan baik. Dengan strategi impact producing yang tepat, film ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu disabilitas intelektual. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang terstruktur dan pendekatan manajerial yang matang, film berbasis kisah nyata dengan isu social ini dapat memiliki nilai kebermanfaatan sosial yang kuat.
-
PENERAPAN TEKNIK CROSS CUTTING UNTUK MEMPERKUAT EMOSI DALAM FILM FIKSI DREAM OF THE TRUTHFilm Dream of The Truth mengangkat isu pelanggaran hak asasi manusia melalui pendekatan penyuntingan non-linear. Penelitian ini membahas penerapan teknik cross cutting sebagai alat untuk memperkuat emosi dan pendalaman karakter. Metode yang digunakan adalah kualitatif, melalui wawancara, observasi, dan studi literatur. Teknik cross cutting memungkinkan peralihan antar waktu dan ruang secara dinamis, sehingga penonton dapat merasakan keterhubungan emosional antar adegan. Didukung dengan penggunaan ritme cepat-lambat, dreamy look, color grading, serta sound design, teknik ini membentuk atmosfer yang imersif dan menggugah empati penonton. Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi teknik editing ini efektif dalam membangun narasi kompleks yang tetap kohesif dan menyentuh. Film ini tidak hanya menjadi karya artistik, tetapi juga sarana untuk menyampaikan pesan sosial yang kuat.
-
EKSPLORASI GANGGUAN KECEMASAN DALAM MEMBANGUN TOKOH UTAMA PADA NASKAH FILM FIKSI “JALAN CAHAYA”“Jalan Cahaya” merupakan sebuah judul skenario film yang mengangkat isu gangguan kecemasan pada kalangan pekerja di industri media tepatnya dunia pertelevisian. Pada dunia kerja, masalah kesehatan mental selalu terabaikan, dianggap hal yang sepele bahkan stigma buruk kepada generasi Milenial dan Z. Mengangkat kisah protagonis bernama Helia seorang karyawan media yang berjuang untuk menyeimbangkan dari tekanan kerja, kesehatan mental serta kehidupan pribadinya. Melalui perjalanan penulisan skenario ini, berfokus pada pentingnya berdamai dengan diri serta memahami bahwa suatu kesuksesan karier tidak selalu harus dicapai dengan mengorbankan diri. Penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan wawancara serta observasi partisipan sebagai teknik pengumpulan data, untuk menggali pengalaman dan wawasan yang dialami narasumber. Dalam wawancaranya memberi gambaran mengenai tantangan yang dihadapi pekerja media, termasuk jam kerja yang melelahkan serta tekanan yang dapat memicu gangguan kecemasan. Pengembangan skenario berfokus pada perjalanan emosional Helia melalui konflik internal dan eksternal yang berusaha untuk menemukan keseimbangan antara pekerjaan dengan kesehasan mental. Visual menonjolkan ketegangan emosional melalui voice over dan perubahan tempo serta warna visual. Dengan mengangkat tema ini diharapkan dapat memberi kontribusi untuk meningkatkan pentingnya kesehatan mental juga memberi pesan bahwa kesuksesan dalam karier tidak harus mengorbankan kewarasan mental.
-
MEMBANGUN RUANG REFLEKTIF MELALUI RITME EDITING FILM MALAM BENCANA YANG TIDAK DIRENCANAKAN DARI PEMANGGUNGAN BENCANA YANG DIRENCANAKANMembangun ketegangan dalam editing menjadi fokus penting pada naskah yang berlatar persiapan pementasan teater. Maka dari itu, tulisan berfokus lebih dalam pada bagaimana konsep ritme editing lamban menciptakan ketegangan subjek dan juga ruang reflektif. Penulisan bertujuan agar mengetahui bagaimana cara merumuskan konsep editing melalui ritme, color grading dan design audio, menjadi kesatuan untuk mengikat naratif dan konsep film. Melalui tahap penelitian kualitatif untuk merangkum data agar pada tahap penciptaan karya berjalan lancar, baik dari pra produksi, produksi, hingga permainan editor pada tahap pasca produksi. Dengan permasalahan yang telah terangkai, penggunaan ritme editing lamban memberikan efek ruang reflektif baik bagi karakter film dan pada hasil akhir film. Namun, sebagai editor selain menggunakan perasaan ketika berkarya perlunya mengantisipasi dari tahap pra produksi agar film sejalan dengan visi artistik sutradara.
-
PENERAPAN TEKNIK DISTORSI BARREL UNTUK MEMBANGUN KEDALAMAN EMOSIONAL PADA FILM BASED ON STORY DUDUNG & MAMAN JUST BEING A MANFilm Dudung & Maman Just Being a Man merupakan film fiksi pendek yang mengangkat isu disabilitas intelektual pada lansia dengan pendekatan realisme dan genre drama. Latar belakang penciptaan film ini didasari oleh kondisi sosial masyarakat yang sering mengabaikan lansia, terutama yang mengalami keterbatasan mental. Ide utama dari penciptaan karya ini adalah bagaimana teknik sinematografi berupa distorsi barrel dan pergerakan kamera dinamis dapat digunakan untuk membangun kedalaman emosional karakter. Rumusan ide penciptaan berfokus pada cara visual memperkuat pesan emosional dalam cerita film. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif, yaitu melalui observasi langsung di panti jompo dan wawancara dengan narasumber yang berkaitan, termasuk para profesional di bidang sinematografi. Metode penciptaan yang digunakan adalah riset berbasis praktik, yang dilakukan dalam tiga tahap: pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Hasil dari proses penciptaan ini menunjukkan bahwa penerapan teknik distorsi barrel dan gerak kamera yang dinamis mampu memperkuat keterhubungan emosional antara penonton dan karakter. Film ini tidak hanya bertujuan untuk menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan sosial secara ringan dan menyentuh.
-
MEMBANGUN KEDEKATAN EMOSIONAL SUBJEK FILM PADA PENYUTRADARAAN FILM DOKUMENTER PARTISIPATORIS SECANGKIR LESTARIKerusakan lingkungan di kawasan Puncak Bogor semakin mengkhawatirkan dan meningkatkan risiko bencana tahunan seperti longsor. Oleh karena itu, keberadaan Kampung Cibulao sebagai wilayah resapan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Menyadari hal tersebut, Kiryono, seorang petani di Kampung Cibulao, melakukan konservasi dengan menanam pohon kopi dan pohon endemik di lahan kritis sebagai upaya pemulihan hutan. Fenomena ini kemudian menjadi ide dasar penciptaan karya dokumenter berjudul “Secangkir Lestari” yang mengangkat upaya masyarakat dalam menjaga kelestarian alam, sebagai respons atas keresahan terhadap kerusakan lingkungan yang memerlukan perhatian khusus dari seluruh elemen masyarakat. Proses penciptaan karya dilakukan melalui tiga tahapan seni: eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Tahap eksplorasi menggunakan metode kualitatif dengan riset dan pengumpulan data dari berbagai sumber relevan. Hasil riset dikembangkan dalam tahap perancangan menjadi konsep visual dan teknis, yang kemudian direalisasikan pada tahap perwujudan melalui produksi dan pascaproduksi. Melalui pendekatan partisipatoris, film ini memvisualisasikan hubungan erat antara manusia dan alam serta menunjukkan bagaimana kopi dapat menjadi medium konservasi berkelanjutan yang membawa harapan bagi kelestarian lingkungan.
-
EFISIENSI PADA TATA KELOLA PRODUKSI FILM “SWITCHING SIDE”Penelitian ini membahas strategi efisiensi dalam tata kelola produksi film pendek Switching Side, yang mengangkat isu aborsi dalam bingkai budaya lokal melalui genre horor. Pendekatan kualitatif digunakan dengan metode wawancara, observasi, dan studi pustaka untuk memahami penerapan manajemen produksi secara efektif. Proses produksi dilakukan secara terstruktur mulai dari pra-produksi hingga distribusi, dengan menekankan pengelolaan waktu, anggaran, dan sumber daya secara optimal. Kolaborasi dengan komunitas perfilman dan mitra eksternal menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan alat dan biaya. Hasilnya menunjukkan bahwa efisiensi dapat dicapai melalui penjadwalan fleksibel, pembagian peran yang jelas, dan koordinasi antardepartemen yang solid. Strategi distribusi dilakukan melalui festival dan platform OTT, didukung promosi media sosial. Studi ini menegaskan bahwa efisiensi bukan sekedar upaya penghematan, melainkan kunci keberhasilan produksi film yang berkualitas dalam kondisi terbatas.
-
PENYUTRADARAAN TRANSCENDENTAL FILM BELENGGUPeristiwa pasca G30S 1965 menyisakan dampak psikologis mendalam bagi para korban, termasuk seniman yang dituduh tanpa keterlibatan langsung. Berdasarkan konteks tersebut, karya tugas kahir berjudul Belenggu diangkat sebagai film fiksi yang mengisahkan seorang mantan tahanan politik yang hidup dalam keterasingan akibat trauma masa lalu. Ide penciptaan ini menarik karena menyoroti sisi kemanusiaan dari sudut pandang korban yang jarang ditampilkan dalam karya film, serta menggunakan pendekataan gaya film Transcendental yang menekankan pada tempo lambat, visual statis, dan kesan hening untuk membangun suasana emosional. Rumusan ide berfokus pada representasi psikologis korban, penerapan gaya penyutradaraan laissez-faire, dan eksplorasi bentuk sinema non-konvensional. Penelitian dilakukan secara kualitatif melalui observasi lapangan, wawncara dengan narasumber terkait, serta studi literatur untuk mendukung akurasi penceritaan. Metode penciptaan meliputi tahapan pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi dengan pendekatan kolaboratif antara sutradara dan kru. Hasil akhirnya adalah sebuah film pendek berdurasi 25 menit yang tidak hanya merepresentasikan trauma sejarah, tetapi juga menjadi media reflektif atas peristiwa pelanggaran HAM serta eksplorasi bentuk penyutradaraan yang lebih personal.
-
PENDEKATAN REALIS UNTUK PENGUATAN KARAKTER TOKOH DALAM PENYUTRADARAAN FILM NARATIF WHAT THEY DON’T KNOW ABOUT MEPelecehan seksual inses merupakan kekerasan seksual yang ada pada ruang lingkup keluarga. Secara umum, inses dikategorikan menjadi dua kategori yaitu parental inses yang diartikan hubungan seksual orang tua dan anak, sedangkan sibling inses yaitu hubungan antara saudara kandung. Kategori parental inces merupakan perbuatan yang berat dikarenakan danya kekuasan dari orang tua yang kuat. Dampak pelecehan seksual inses sangat berdampak berbahaya bagi korban, dimana seorang anak akan merasa tidak berharga, menciptakan rasa marah dan benci terhadap pelaku, merasakan kecemasan atau ketidakamanan di rumah bahkan hingga trauma yang berkelanjutan dengan bahasa ilmiah rape trauma syndrome (RTS). Fenomana kasus pelecehan seksual inses ini akan menjadi isu yang melatarbelakangi terciptanya karya film naratif berjudul "What They Dont Know About Me". Dengan mengambil penceritaan dari sudut pandang karakter utama yang bercerita tentang perjuangan seorang remaja perempuan melawan ketakutan dan traumanya. Film ini akan menggunakan pendekaan realis untuk menggambarkan secara nyata terhadap isu yang diangkat dan tema sosial serta perjuangan. Ide ini memiliki kekuatan dengan menitikberatkan karakter kepada aktor untuk menghadirkan realitas dari isu tersebut sehingga menciptakan emosional dan pesan efektif kepada penonton. Metode penelitian ini dilakukan metode kualitatif melalui pendekatan wawancara terhadap yang mengetahui dan dekat dengan isu inses. Selain itu, proses penelitian dibantu dengan studi pustaka dan kajian karya dari materi buku, jurnal dan film yang mendekati isu maupun tema yang sama. Metode penciptaan yang dipakai terdiri dari empat tahapan: Pengembangan Ide dan riset, pra produksi, produksi hingga pasca produksi. Film ini mencoba menerapkan pendekatan realis untuk menguatkan karakter, sehingga pesan sosial dan perjuangan karakter bisa sampai kepada penonton. Dengan menggunakan naratif yang mendekati realitas dengan menghadirkan aspek sinematik yang mendekati realis seperti pengambilan gambar longtake membuat adegan yang karakter mainkan terasa nyata dan penonton merasa masuk ke dalam penceritaan dan mengikuti setiap pergerakan karakter
-
Penggambaran Kehidupan Kurir Melalui Meta Film Dalam Penulisan Naskah Film Fiksi Komedi “CAMERA, ROLL, AND... PAKET!!!”Saat ini sikap kurang menghargai / unrespect sesama manusia sudah mulai menipis. Profesi kurir seringkali kurang mendapatkan apresiasi yang layak meskipun peran mereka penting di era digital saat ini. Bertemu dengan banyak orang setiap harinya, dengan beragam sikap manusia. Laporan yang berjudul “Penggambaran Hidup Kurir Melalui Teknik Meta Film dalam Penulisan Naskah Film Komedi Camera, roll, and paket!!!” yaitu bertujuan mengetahui fenomena kurangnya rasa hormat pelanggan terhadap kurir ke dalam skenario film fiksi komedi melalui teknik mise end abyme .Ide ini menarik karena mengangkat beratnya dinamika kehidupan seorang kurir namun tetap dibalut dengan humor yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Laporan ini juga bertujuan untuk menjawab bagaimana konsep Meta Film dan komedi dalam film dapat digunakan untuk menggambarkan peran kurir yang menghadapi dinamika pekerjaan namun memiliki impian untuk menjadi Sutradara. Untuk mengumpulkan data terkait isu pekerja kurir, dilakukannya penelitian kualitatif dengan pendekatan observasi partisipatif, wawancara, dan studi literatur. Melalui tahapan imajinasi, riset, penulisan draft naskah, menunjukan bahwa konsep Meta Film sangat efektif untuk memberikan pendalaman pada kehidupan pekerja kurir, sekaligus dapat menyampaikan kritik sosial yang ringan dan mudah dimengerti karena dibalut dengan komedi yang menghibur.
-
PENERAPAN CHARACTER DRIVEN PADA TOKOH UTAMA DI DALAM PENULISAN SKENARIO FILM FIKSI “MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA”Isu kesejahteraan guru, terutama guru honorer di Indonesia, seringkali menjadi cerita menyedihkan yang kita temui di berbagai media. Kondisi ini seakan terabaikan oleh pemerintah dan masyarakat. Keprihatinan mendalam terhadap kesejahteraan guru honorer inilah yang melatarbelakangi penulisan skenario "Mencerdaskan Kehidupan Bangsa". Skenario ini bertujuan menggambarkan realita kesejahteraan guru honorer di sekolah dasar serta menyuarakan hak-hak mereka dalam memperjuangkan kondisi yang diperparah oleh kemiskinan struktural, yaitu kemiskinan akibat sistem dan kebijakan yang tidak adil. Penelitian ini menggunakan metode concurrent mixed method melalui studi literatur, observasi, wawancara, dan kuesioner terhadap guru sekolah dasar. Temuan utama menunjukkan bahwa rata-rata gaji guru sekolah dasar berada di bawah UMR, sehingga mereka harus berjuang keras dengan beban kerja yang tidak sebanding dengan upah. Diharapkan, penulisan skenario ini dapat menumbuhkan kepedulian, empati, dan menyuarakan hak-hak guru. Dalam proses penulisan skenario ini juga, mengedepankan pendekatan character-driven untuk menunjang perkembangan alur cerita melalui motivasi dan konflik internal dari tokoh utama.
-
TATA KELOLA PRODUKSI DAN PROMOSI DALAM FILM FIKSI TAKE THE REINSTata kelola proses produksi harus dipersiapkan dengan efektif, dan era ini media sosial kerap menjadi aspek utama yang banyak orang miliki dan sering kunjungi, maka produser perlu paham teknologi dan memanfaatkannya sebagai media promosi yang dapat menyebar secara luas dalam waktu terbatas. Karya tulis tugas akhir ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang didukung dengan fakta lapangan wawancara guna memperkuat aspek cerita dalam film. Dalam proses produksi, produser memiliki peran penting dalam segala aspek, produser merupakan seseorang yang bertanggung jawab dalam hal administratif, dan mengatur jalannya produksi. Seperti mengelola produksi agar berjalan dengan efektif yaitu dengan cara merancang jadwal, mengatur keuangan, serta tentunya didukung oleh metode penciptaan POAC yang dikemukakan oleh George R. Terry, meliputi Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Hal tersebut diterapkan di seluruh tahap kerja produser, seperti di pra produksi merencanakan tahap jadwal dan keuangan, saat produksi mengatur kinerja tim, pasca produksi memantau karya film agar sesuai perencanaan, serta promosi dan distribusi. Promosi film merupakan salah satu proses yang sulit dilakukan maka dari itu produser perlu menyusun strategi secara mandiri guna menciptakan alur yang sesuai dan dapat menarik perhatian penonton, baik melalui media sosial maupun konvensional. Begitupun dengan pendistribusian film yang mencakup penentuan saluran distribusi yang tepat agar dapat menjangkau audiens secara maksimal di ranah pasar domestik maupun internasional. Dari ketiga hal tersebut yakni produksi, promosi, dan distribusi, produser berperan dalam memastikan kelancaran pembuatan karya dan suksesnya pasar. Maka dari itu, karya tulis ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam tentang apa saja yang produser lakukan dalam mengelola tahapan-tahapan tersebut.
-
PENERAPAN TEKNIK EDITING CROSS-CUTTING UNTUK MENUNJANG SITUASI KONFLIK PADA FILM FIKSI DUDUNG & MAMAN JUST BEING AMANEditor merupakan elemen penting dalam produksi film yang berperan menyusun narasi visual dari hasil pengambilan gambar. Melalui proses editing, editor tidak hanya merangkai cerita, tetapi juga membangun ritme dan emosi yang memengaruhi pengalaman menonton. Salah satu teknik yang digunakan untuk menciptakan ketegangan emosional adalah cross-cutting, yakni teknik pemotongan adegan secara bergantian antara dua peristiwa yang terjadi di tempat berbeda namun saling berkaitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana penerapan teknik cross-cutting oleh editor dapat mendukung penyampaian konflik dalam film fiksi pendek. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik observasi dan wawancara terhadap proses penyuntingan gambar. Sedangkan metode penciptaan dilakukan melalui proses kerja kolaboratif lintas divisi produksi film, dengan fokus pada penyusunan struktur cerita berdasarkan data gambar yang telah diambil selama produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa editor berhasil menyusun cerita dengan menambahkan teknik cross-cutting untuk membangun emosi penonton. Teknik ini efektif menciptakan ketegangan melalui perbedaan pengetahuan antara karakter dan penonton, sehingga memperkuat dampak emosional dari konflik yang disajikan. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metode penelitian dan penciptaan yang sesuai dengan rumusan masalah mampu menjawab bagaimana teknik cross-cutting digunakan dalam film. Penerapannya terbukti mendukung penyampaian konflik dan memperkuat pengalaman sinematik yang dihadirkan kepada penonton..
-
PENGGUNAAN PERGERAKAN KAMERA UNTUK MEMBANGUN EMOSI DALAM FILM FIKSI DREAM OF THE TRUTHMemanfaatkan berbagai teknik dalam mevisualisasikan film memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menyampaikan pesan secara mendalam melalui kombinasi elemen visual, audio, dan narasi, menjadikannya sarana yang efektif untuk mengangkat isu sosial, termasuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Di Indonesia, kasus pelanggaran HAM seperti salah tangkap dan kekerasan oleh aparat mencerminkan kelemahan perlindungan hukum dan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap sistem keadilan. Proposal karya tugas akhir yang berjudul, penggunaan pergerakan kamera untuk membangun emosi dalam film “Dream of The Truth” mengangkat fenomena ini dengan pendekatan sinematik, memanfaatkan Teknik seperti pergerakan kamera dinamis, penggunaan depth of field, dan pencahayaan kontras digunakan untuk menciptakan pengalaman visual yang intens dan emosi. Melalui metode penelitian kualitatif, termasuk wawancara, observasi, dan studi literatur, film ini menghadirkan interpretasi visual yang mendalam terkait isu pelanggaran HAM. Karya ini diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tetapi juga mendorong reformasi dalam penegakan hukum dan perlindungan HAM di Indonesia.
-
KONFLIK IDEALISME TOKOH PROTAGONIS UTAMA DALAM PENULISAN SKENARIO THE ART OF LETTING GOMinimalisme semakin populer seiring kesadaran untuk mengurangi barang. Meskipun tren minimalisme menawarkan solusi untuk menciptakan ruang yang lebih tenang dan fungsional, tantangan untuk melepaskan barang dengan nilai sentimental tetap menjadi hambatan. Penelitian ini berfokus pada konflik idealisme seorang anak dalam mengubah pandangan ibunya terhadap gaya hidup minimalisme. Judul naskah , The Art of Letting Go, menggambarkan proses melepaskan yang berkaitan dengan kenangan sentimental yang sulit dihapus. Cerita ini relevan dengan kehidupan modern, mengangkat konflik emosional antara keterikatan sentimental pada barang dan filosofi minimalisme. Daya tarik utama terletak pada perjalanan transformasi karakter, penyampaian pesan solutif, serta visualisasi kontras antara kekacauan akibat penumpukan barang dan kedamaian yang tercapai melalui penerapan prinsip minimalisme. Penciptaan karya naskah ini mencakup perumusan konsep cerita dan menerapkan struktur 3 babak. Menggunakan metode penelitian kulitatif dengan observasi dan wawancara. Melalui tahap pra produksi dengan mencari ide dan konsep, menentukan konflik cerita, membuat struktur dramatik, development karakter, dan membuat treatment. Hasilnya adalah naskah yang menggambarkan konflik idealisme tokoh utama dalam merenovasi rumah keluarga dengan konsep minimalisme, namun terhalang oleh ibunya yang enggan melepaskan barang kenangan almarhum bapak. Melalui perjalanan emosionalnya, tokoh utama berusaha menjembatani perbedaan pandangan tersebut, yang menjadi inti dari naskah The Art of Letting Go.
-
PENGGAMBARAN EKSPRESI TERHADAP HUBUNGAN TIGA PERAN ANGGOTA KELUARGA DALAM FILM TAKE THE REINSPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi cara ekspresi dalam hubungan tiga peran anggota keluarga yang dihadirkan dalam film Take The Reins. Fokus utama dari studi ini adalah pada penerapan teknik sinematografi, yang mencakup pergerakan kamera yang dinamis, penerapan prinsip rule of thirds, serta penggunaan pencahayaan low key, untuk menggambarkan dinamika emosional antara karakter-karakter utama. Film ini mengangkat tema hubungan sosial dalam keluarga, dengan penekanan pada ketegangan yang muncul antara ayah, anak, dan kakek, yang disebabkan oleh pola asuh otoriter yang diterapkan oleh Hendra, sang ayah, terhadap anaknya, Damar. Dengan mengadopsi pendekatan kualitatif dan metode penciptaan practice-led research, penelitian ini tidak hanya menganalisis elemen-elemen visual seperti komposisi gambar, pergerakan kamera, dan pencahayaan, tetapi juga melibatkan proses kreatif dalam penciptaan adegan-adegan yang merefleksikan emosi tersebut. Melalui pendekatan ini, peneliti berupaya memahami bagaimana teknik sinematografi dapat memengaruhi persepsi penonton terhadap karakter dan pengalaman emosional yang berkembang sepanjang narasi. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pemahaman mengenai bagaimana teknik sinematografi dapat memperdalam pengalaman emosional penonton serta meningkatkan dampak visual terhadap narasi film. Secara keseluruhan, penelitian ini tidak hanya memperluas wawasan dalam bidang sinematografi, tetapi juga berpotensi menjadi referensi berharga bagi pembuat film dalam menciptakan karya yang lebih bermakna dan efektif, serta memberikan inspirasi untuk penelitian lebih lanjut di bidang ini.
-
PENGUATAN KARAKTER DISABILITAS INTELEKTUAL MELALUI PENDEKATAN REALISME PADA FILM BASED ON TRUE STORY DUDUNG & MAMAN JUST BEING A MANDisabilitas intelektual adalah suatu disfungsi atau keterbatasan baik secara intelektual maupun perilaku adaptif yang dapat diukur atau dilihat yang menimbulkan berkurangnya kapasitas untuk beraksi dalam cara tertentu. yang sering terjadi di masyarakat Indonesia, dipengaruhi oleh kelainan genetik yang bersifat kausatif, infeksi, trauma, komplikasi, prematuritas dan berbagai paparan lingkungan dan bahan kimia. Isu ini menjadi latar belakang utama dalam penciptaan film fiksi “Dudung dan Maman Just Being a Man”, yang mengangkat tema persahabatan dengan pendekatan realisme. Berfokus pada eksplorasi teknik penguatan karakter disabilitas intelektual melalui elemen komedi dalam konteks budaya lokal. Ide ini memiliki daya tarik unik karena menggabungkan realitas kehidupan sosial lansia dengan menciptakan pengalaman emosional yang mendalam bagi penonton. Permasalahan yang diselesaikan, lebih terfokus bagaimana penguatan karakter disabilitas intelektual dapat menyampaikan pesan yang efektif dengan pendekatan realisme. Metode penelitian menggunakan teknik kualitatif, mencakup observasi kehidupan lansia di panti sosial, wawancara dengan para penghuni dan staf panti, serta kajian pustaka terhadap literatur dan film-film sejenis. Metode penciptaan Practice Led Research yang terdiri dari tiga tahapan kerja: pra-produksi (riset dan pengembangan konsep), produksi (pengarahan aktor dan sinematografi natural), serta pasca-produksi (penyuntingan adegan dengan fokus emosi). Film ini akan menghadirkan penguatan karakter disabilitas intelektual dengan pendekatan realisme yang memperkuat kedekatan cerita dengan realitas sosial. Kombinasi tema sosial, budaya lokal, serta humor ringan, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesejahteraan lansia serta menciptakan pengalaman menonton yang menyentuh dan menghibur.
-
MEMBANGUNUNSUR DRAMATIKDENGAN CUTTINGRHYTHMPADA EDITING FILM WHAT THEY DON’T KNOWABOUT MEKekerasan seksual inses merupakan kejahatan serius yang dapat menimbulkan trauma mendalam dan berdampak jangka panjang pada korban. Korban inses mengalami Rape Trauma Syndrome, Traumatic sexualization, dan stigmasisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan cutting rhythm dalam representasi sinematik trauma inses dengan gaya penyutradaraan realis. Metode Penelitian yang digunakan adalah kualitatif, meliputi wawancara bersama dengan Narasumber yang kompeten di bidangnya, studi pustaka, dan observasi. Proses penciptaan dilakukan melalui kolaborasi kreatif antara sutradara, penata kamera, dan penyunting gambar, memastikan visi naratif dan sinematik yang selaras. Penerapan cutting rhythm difokuskan untuk memperkuat gaya realism melalui tiga aspek utama, pacing lambat, rate of cutting, dan penggunaan diegetic sound. Pacing lambat memberikan ruang bagi penonton untuk merasakan emosi tokoh secara mendalam dan merefleksikan dampak psikologis inses. Rate of Cutting yang lambat menghindari distraksi visual berlebihan, memperkuat gaya sinematografi long take dengan meminimalisir pemilihan shot. Penggunaan diegetic sound menciptakan suasana yang natural dan imersif, meningkatkan realisme adegan. Diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pemahaman bagaimana cutting rhythm dapat digunakan secara efektif untuk memperkuat gaya penyutradaraan realism dalam film yang mengangkat isu-isu sensitive seperti kekerasan seksual inses, sehingga bisa meningkatkan kesadaran public dan dukungan bagi para penyintas dan korban.
-
PENULISAN SKENARIO “WHEN WE WERE IN THE 60’S” TENTANG REGULASI PEMERINTAH MENGENAI BAND DITAHUN 1960-ANTugas akhir ini berupa penulisan skenario film pendek berjudul When We Were in the 60’s yang mengangkat tema regulasi pemerintah terhadap perkembangan musik band di Indonesia pada era 1960-an. Ketika pengaruh budaya populer Barat melalui musik band mendapat sorotan dan pembatasan dari pemerintah yang tengah mengedepankan nilai-nilai nasionalisme dan anti-imperialisme. Penulisan skenario ini dilakukan melalui riset historis terhadap kondisi sosial-politik Indonesia tahun 1960-an, khususnya kebijakan budaya yang berdampak pada dunia musik. Hasil dari proses ini adalah skenario film pendek yang merepresentasikan perjuangan para musisi muda dalam menghadapi tekanan sosial dan politik saat mengekspresikan diri melalui musik. Cerita menyoroti konflik antara seni dan kekuasaan, serta menggambarkan nilai-nilai perlawanan, persahabatan, dan pencarian identitas budaya dalam situasi represif. sebagai sarana penyampaian pesan secara mendalam dan kontekstual.
-
PENGUATAN INNER CONFLICT PADA KARAKTER UTAMA DALAM SKENARIO FILM “WHISPERS OF RED”Menstruasi pertama atau menarche merupakan salah satu fase penting dalam perkembangan remaja perempuan yang sering kali diiringi dengan perasaan canggung, malu, dan kebingungan. Naskah film ini mengangkat kisah seorang remaja perempuan yang mengalami menstruasi pertamanya dan harus menghadapi tantangan untuk membeli pembalut di warung, di tengah rasa malu dan ketidaknyamanannya. Dengan pendekatan drama ringan yang dipadukan dengan sedikit unsur komedi, film ini bertujuan untuk merepresentasikan pengalaman nyata banyak remaja perempuan sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya keterbukaan terhadap kesehatan reproduksi. Proses penciptaan naskah ini dilakukan melalui studi literatur, wawancara, observasi, dan analisis berbagai referensi, baik dari buku akademik, jurnal ilmiah, maupun film dengan tema serupa. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan sebuah naskah film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan wawasan baru mengenai pubertas dan menstruasi sebagai bagian alami dari kehidupan seorang perempuan.
-
EKSPLORASI VISUAL UNTUK MENGILUSTRASIKAN TRAUMATIK PADA KARAKTER DALAM FILM BELENGGUFilm ini menghadirkan gambaran kondisi traumatik tokoh utamanya melalui pendekatan visual yang kuat. Sinematografi memainkan peran penting dalam menciptakan elemen visual yang mencerminkan perubahan emosi dan dinamika batin karakter. Dengan memanfaatkan komposisi visual, seperti penempatan subjek dalam frame, ruang kosong, dan penggunaan warna, film ini berhasil menghadirkan suasana menekan yang menggambarkan konflik psikologis secara mendalam. Selain itu, penentuan sudut kamera, seperti sudut rendah untuk dominasi rasa takut dan sudut tinggi untuk ketidakberdayaan, memperkaya penyampaian narasi emosional. Teknik pengambilan gambar, termasuk close-up untuk detail ekspresi dan long shot untuk isolasi, semakin memperkuat pengalaman emosional penonton. Pendekatan ini menjadikan Film Belenggu sebagai film yang efektif dalam memvisualisasikan psikologi karakter melalui sinematografi.
-
MITOS IBU HAMIL KETIKA TERJADI GERHANA MATAHARI DALAM SKENARIO FILM FIKSI “KALA PETENG”Dewasa ini, mitos masih terus berkembang dari mulut ke mulut. Salah satu mitos yang masih berkembang adalah mitos ibu hamil. Mitos ini berupa perintah dan larangan yang harus dilakukan oleh ibu hamil, contohnya ibu hamil diperintahkan untuk memakai bawang putih dan peniti di balik baju mereka, ibu hamil dilarang menyembelih hewan yang masih hidup, ibu hamil dilarang keluar rumah saat malam hari, dan ketika terjadi gerhana ibu hamil dianjurkan untuk bersembunyi. Kepercayaan terhadap mitos tersebut menimbulkan berbagai macam perbedaan pandangan antar generasi. Hal ini menarik untuk diangkat menjadi sebuah skenario film dengan tujuan memberikan informasi serta edukasi kepada masyarakat mengenai kepercayaan yang ada di Indonesia, agar bisa lebih toleransi dan terbuka terhadap perbedaan pandangan dan kepercayaan. Ini menjadi tantangan tersendiri karena jurnal dan buku terkait mitos ibu hamil masih terbatas, maka dilakukan pengumpulan data dengan metode kualitatif melalui sesi observasi serta wawancara bersama informan dan narasumber. Data-data yang didapatkan, kemudian dikembangkan menjadi skenario berjudul “Kala Peteng” dengan menerapkan struktur tiga babak untuk menciptakan unsur dramatik serta penguatan hubungan sebab akibat antar karakter.
-
STRATEGI TATA KELOLA PRODUKSI DALAM FILM PENDEK “Beneath The Surface Of The Mind’s Eye ”Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menerapkan strategi Tata Kelola yang efektif dalam pengelolaan produksi dan distribusi dalam sebuah film pendek berjudul “Beneath The Surface Of The Mind’s Eye”. Film tersebut memiliki genre Horor Psikolog yang mengangkat perjalanan seorang wanita yang terperangkap dalam kesendirian emosionalnya, mencari kedamaian dan mengusir kesepian dengan mengkoleksi foto wajah-wajah orang mati. Dan pada film mengandung isu mengenai Kesehatan mental yang memiliki bagian penting dari kesejahteraan individu dan masyarakat yang tidak bisa diabaikan.Produser dalam penelitian tersebut melakukan berbagai rangkaian tugas yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, dan pengkontrolan seluruh aspek produksi dan distribusi film. Proses produksi dilakukan melalui tahapan pra produksi, produksi, dan pasca produksi yang masing-masing membutuhkan pengelolaan waktu, anggaran, dan sumber daya manusia yang optimal. Selain itu, distribusi film pendek ini direncanakan secara strategis dan terstruktur agar dapat menjangkau target penonton yang lebih luas baik melalui platform digital maupun konvensional.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pengendalian yang tepat dalam setiap tahapan produksi sangat berperan dalam memastikan kelancaran dan kesesuaian hasil akhir dengan visi kreatif film. Selain itu strategi distribusi yang terencana juga membantu film pendek “Beneath The Surface Of The Mind’s Eye” mencapai target penonton yang lebih luas serta mendukung upaya pelestarian budaya melalui karya audio visual. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa peran Produser dalam strategi pengendalian produksi dan distribusi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan film tersebut.
