Items
-
PERTUNJUKAN JURUS KUJANG DI PERGURUAN SILAT TADJIMALELA SMAN 17 KOTA BANDUNG DALAM TINJAUAN PERFORMANCE STUDIESSkripsi ini berjudul “Pertunjukan Jurus Kujang di Perguruan Silat Tadjimalela SMAN 17 Kota Bandung dalam Tinjauan Performance Studies”. Seni pertunjukan seperti halnya teater, merupakan seni yang bersifat kolektif karena dapat mencakup berbagai disiplin ilmu seperti seni tari, seni musik, seni peran, dan seni bela diri. Seni pertunjukan "Jurus Kujang” 1, 2, dan 5 dapat menjadi bagian dari pertunjukan teater karena memiliki aspek dramatis serta ekspresi tubuh. Tujuan penelitian ini untuk memahami Jurus Kujang dikategorikan sebagai performance yang dianalisis berdasarkan perspektif performance studies. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan Teori Performance dari Richard Schechner yang berfokus pada Being, Doing, Showing Doing, Explaining Showing Doing, teks/aksi, pemain, sutradara, ruang, waktu, dan penonton. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Jurus Kujang yang diajarkan pada ekstrakurikuler Perguruan Silat Tadjimalela SMAN 17 Kota Bandung dapat dikategorikan performance karena melibatkan olah rasa, olah pikir, dan olah gerak. Akan tetapi, elemen penonton hanya dibahas secara sekilas dan disarankan untuk membahasnya secara mendalam.
-
KONSEP PEMERANAN TOKOH EBEN CABOT DALAM NASKAH “NAFSU DI BAWAH POHON ELM” KARYA EUGENE O’NEILL BERDASARKAN TERJEMAHAN TOTO SUDARTO BACHTIARNaskah lakon "Nafsu Di bawah Pohon Elm" karya Eugene O’Neill mengangkat tema tentang nafsu manusia yang tak terkendali, serta dampaknya terhadap nilai moral, keharmonisan keluarga, dan kehancuran eksistensial. Cerita ini berlatar keluarga petani di New England pada tahun 1850, dan menampilkan perjuangan melawan dominasi demi mendapatkan cinta, warisan, dan kebebasan. Naskah ini merefleksikan pemikiran filsafat Nietzsche tentang keberanian menggugat nilai-nilai lama demi kebebasan individu. penulis menggunakan metode Suyatna Anirun yang berlandaskan prinsip-prinsip pemeranan Stanislavski. Metode ini dipilih karena memberikan pendekatan teoritis yang sistematis serta mampu mengarahkan latihan secara berkelanjutan dalam membangun karakter. Perwujudan tokoh eben Dalam membangun karakter Eben Cabot, penulis menerapkan metode Suyatna Anirun dengan menekankan eksplorasi fisik dan mental untuk mencerminkan sifat sombong, gelisah, dan menantang dari tokoh tersebut. Gestur tubuh, dinamika, serta tempo dialog disesuaikan dengan kepribadian karakter. Melalui pendekatan ini, penulis berupaya menghadirkan pemeranan yang kuat dan meyakinkan melalui proses latihan dan eksplorasi yang berkelanjutan.
-
PENCIPTAAN NASKAH LAKON ROTI LAPIS: KOMEDI SATIR TENTANG DISKRIMINASI USIA DALAM DUNIA KERJASkripsi penulisan lakon ini berjudul ‚Roti Lapis‛, dengan mengangkat tema dari kasus diskriminasi usia dalam pola rekrutmen di dunia kerja yang dialami oleh generasi Z dan dibuat dalam bentuk komedi satir. Tema diskriminasi usia dalam dunia kerja diangkat menjadi sebuah naskah lakon berbentuk komedi satir menggunakan metode penulisan berdasarkan struktur Gustave Freytag. Gaya komedi satir diterapkan dalam dialog, latar peristiwa, karakter tokoh dan konflik dalam naskah lakon ‚Roti Lapis‛. Tema diskriminasi usia dalam dunia kerja ini dapat dieksplorasi kembali menjadi bentuk naskah lakon yang lain selain komedi satir, serta dapat dikembangkan juga menjadi bentuk karya-karya seni lain untuk tetap menyuarakan kegelisahan terhadap kasus tersebut. Komedi satir dapat digunakan untuk bentuk mengeritik sesuatu hal, selain tema yang penulis bawakan. Untuk itu sangat penting juga membaca banyak referensi entah itu buku, pertunjukan teater ataupun karya lain yang berkaitan dengan komedi satir.
-
KONSEP PENYUTRADARAAN LAKON “SYAIR IKAN TONGKOL” KARYA ARTHUR S.NALANSkripsi ini memuat konsep penyutradaraan naskah “Syair Ikan Tongkol” karya Arthur S. Nalan yang akan diwujudkan menjadi sebuah teater pertunjukan. Proses penyutradaraan yang bertitik-tolak dari 3 (tiga) pernyataan sebagai rumusan masalah, yaitu: (1) Bagaimana makna yang terkandung dalam naskah “Syair Ikan Tongkol” tersampaikan untuk kepentingan pertunjukan teater?. (2) Bagaimana naskah “Syair Ikan Tongkol” dibentuk menjadi pertunjukan teater. (3) Bagaimana menyatukan komponen-komponen pertunjukan teater “Syair Ikan Tongkol” agar menjadi satu kesatuan yang utuh?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, digunakan metode kualitatif dengan diawali pemilihan naskah, studi kepustakaan untuk menguatkan konsep naskah dengan aliran surealis dan pemilihan aktor menggunakan metode yang disesuaikan dengan fisik dan emosi tokoh. Hasil dari proses penyutradaraan adalah mendeskripsikan makna naskah serta mengimplementasikan sebuah teks menjadi bentuk pertunjukan teater surealis memerlukan kerja sama pada setiap komponen pertunjukan. Oleh karena itu, diharapkan untuk para sutradara apabila melakukan sebuah proses kreatif pertunjukan teater agar lebih mematangkan konsep serta perencanaan produksi dan awak pentas dengan tujuan meminimalisir segala persoalan yang berkaitan dengan produksi atau awak pentas harus dapat menyatukan seluruh aspek pertunjukan dan menerjemahkan naskah menjadi bentuk pertunjukan.
-
“PEGAWAI HOTEL KOPLAK” EKSPLORASI DRAMATIS MENGENAI TANTANGAN MASYARAKAT DALAM MENGHADAPI DISINFORMASI ATAU HOAXHoax atau berita palsu merupakan fenomena sosial yang terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Dalam menghadapi situasi ini, masyarakat sering kali dihadapkan pada tantangan untuk menyaring informasi yang diterima. Tujuan penulis adalah untuk menggambarkan bagaimana hoax berdampak pada pengambilan keputusan di masyarakat. Penulis melakukan pengumpulan data menggunakan studi literatur dan dieksplorasi menggunakan teori representatif untuk memudahkan penulis dalam menerjemahkan realita kasus ke dalam naskah lakon yang berjudul “PEGAWAI HOTEL KOPLAK”. Dalam penyusunannya, penulis menggunakan metode Well Made-Play. Naskah ini menceritakan tentang 4 pegawai hotel yang sudah bekerja selama 5 tahun bersama. Pada suatu hari ada sebuah rumor beredar mengenai salah satu rekannya yang membuat para pegawai hotel membicarakan hal tersebut secara terus-menerus sampai menyebabkan situasi tidak terkendali. Dalam penyelesaiannya, 4 rekan ini terus berusaha mempercayai satu sama lain dan mencari kebenarannya.
-
ADIKSI MEDIA SOSIAL PADA GEN Z DALAM PENULISAN SKENARIO FILM FIKSI “MENGGENGGAM CEMAS”Dalam era digital yang berkembang pesat, penggunaan media sosial oleh Gen Z khususnya mahasiswa semakin meningkat pesat. Penggunaan yang tidak terkontrol ini berpotensi menyebabkan adiksi yang memicu dampak negatif seperti perbandingan sosial dan kecemasan. Fenomena ini mendorong penciptaan naskah skenario berjudul “Menggenggam Cemas” untuk meningkatkan kesadaran Gen Z tentang dampak adiksi media sosial melalui struktur dramatik tiga babak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data berdasarkan survey terbuka terhadap Gen Z di Jawa Barat dan Jakarta serta wawancara mendalam bersama dua narasumber Gen Z dari responden survey dan seorang psikolog. Proses penciptaan naskah melibatkan eksplorasi ide dari hasil riset, pengolahan data menjadi unsur naratif, dan perwujudan penulisan naskah. Naskah ini menggunakan struktur tiga babak untuk menggambarkan konflik psikologis seorang karakter Gen Z dalam menghadapi kecemasan akibat adiksi media sosial untuk mengedukasi penonton. Melalui karya ini, diharapkan dapat mendorong Gen Z agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial.
-
PENATAAN VISUAL REALIS DALAM FILM "MALAM BENCANA YANG TIDAK DIRENCANAKAN DARI PEMANGGUNGAN BENCANA YANG DIRENCANAKAN"Film “Malam Bencana yang Tidak Direncanakan dari Pemanggungan Bencana yang Direncanakan” adalah film fiksi yang membahas tentang seorang sutradara teater yang terobsesi dengan teater. Untuk mendukung konsep tersebut menggunakan penerapan teknik sinematografi long take sebagai pendukung dalam film ini. Film ini berupaya untuk mendorong fokus penonton secara maksimal sehingga penonton bisa merasakan apa yang karakter rasakan serta merasa ikut andil di dalam frame tersebut dan berusaha menciptakan atmosfer dramatis serta ketegangan yang mendalam. Camera movement merupakan teknis sinematografi yang mendukung long take sebagai acuan utama frame dengan fokus kamera mengikuti setiap pergerakan subject. Mood and look juga salah satu unsur pendukung emotional yang memiliki mood yang warm bisa menciptakan atmosfer yang intens, psikologis dan ketegangan. Penata kamera memiliki peran penting dalam pembuatan sebuah film, penata kamera juga memiliki tanggung jawab terhadap pengkonversian dari konsep naratif ke dalam konsep sinematik melalui unsur – unsur mise en scene seperti latar waktu dan tempat, pencahayaan, make up and wardrobe, properti, dll. Unsur sinematik juga menjadi acuan utama untuk pembuatan karya untuk mengkomunikasikan konsep naratif menjadi visual. Dengan adanya long take sebagai elemen estetika realitas penggambaran karakter obsesif dari gambar yang tidak terputus dan penonton dihadapkan pada realitas dalam temporalitas aktualnya.
-
HARMONISASI RITME EDITING UNTUK DRAMA CINTA FILM FIKSI HISTORICAL STORY PANON HIDEUNGPenelitian ini menganalisis harmonisasi ritme editing dalam film fiksi historical story berjudul Panon Hideung, dengan fokus pada unsur dramatis cinta sebagai elemen sentral dalam cerita. Panon Hideung merupakan film berlatar sejarah yang menampilkan konflik percintaan di tengah peristiwa bersejarah tertentu, sehingga menciptakan tantangan tersendiri dalam menata ritme editing agar sesuai dengan emosi dan intensitas cerita. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kualitatif, dengan mengamati berbagai teknik editing yang digunakan untuk mengatur ritme cerita, seperti pemilihan durasi shot, pemotongan adegan, dan transisi antar adegan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harmonisasi ritme editing dapat memperkuat unsur dramatis cinta dalam film, terutama ketika digunakan secara konsisten untuk membangun suasana emosional dan meningkatkan ketegangan cerita. Pengaturan ritme yang lambat pada momen-momen romantis, serta ritme yang cepat pada konflik, membantu menciptakan daya tarik visual dan memperdalam hubungan emosional antara karakter utama dan penonton. Dengan demikian, ritme editing yang tepat berperan penting dalam menyampaikan pesan emosional secara efektif, sekaligus mempertahankan konsistensi naratif dalam historical story ini. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami bagaimana harmonisasi ritme editing dapat digunakan sebagai alat untuk memperkuat unsur dramatis dalam film bergenre sejarah-romantis, dan diharapkan menjadi referensi bagi praktisi film dalam mengembangkan narasi visual yang efektif.
-
TATA PENGAMBILAN GAMBAR DI FILM BAYAR WARISLaporan tugas akhir ini berjudul “Tata Pengambilan Gambar di Film Bayar Waris” membahas konflik keluarga terkait pembagian harta warisan yang sering memicu perselisihan, keserakahan, dan kekerasan. Sebagai Director of Photography, fokus penelitian ini adalah visualisasi dinamika emosional dan ketegangan yang terjadi. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggabungkan studi film dan kajian literatur untuk menciptakan narasi visual yang menggambarkan konflik keluarga dalam warisan yang ternyata berupa utang, bukan kekayaan. Adapun harapan dari dibuatnya film ini adalah untuk menyampaikan dan menciptakan emosi maupun visual yang dapat dimengerti oleh audience. Dengan film berdurasi 24 menit ini tidak saja hanya mengangkat isu-isu sosial, tetapi juga adanya pengungkapan kenyataan pahit yang ternyata sering tersembunyi dalam drama keluarga.
-
PACING VARIABEL SEBAGAI PEMBANGUN UNSUR DRAMATIK DALAM EDITING FILM “JAJANG ON THE SHORE”editing film, JAJANG ON THE SHORE
-
PENERAPAN LINGKARAN CERITA “DAN HARMON” DALAM PENULISAN SKENARIO FILM FIKSI “SHOULD I OPEN THIS DOOR?”Penciptaan tugas akhir yang berjudul Penerapan Lingkaran Cerita “Dan Harmon” Dalam Penulisan Skenario Film Fiksi “Should I Open This Door?” merupakan karya skenario yang mengangkat tema kisah perjalanan seorang wanita yang mencari pria untuk meminta pertanggungjawaban atas kehamilannya. Cerita ini dilatarbelakangi atas isu sosial yang sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat yaitu aborsi. Skenario film fiksi Inspired by True Story “Should I Open This Door?”, diharapkan dapat menjadi sebuah edukasi dan sebuah pengalaman, terhadap bahayanya seks pranikah yang menyebabkan kehamilan tidak diinginkan. Hal tersebut memberikan dampak yang buruk untuk diri sendiri ataupun orang disekitar. Pengembangan cerita dalam skenario film ini dilakukan melalui berbagai riset dengan metode kualitatif, terkait dengan seks pranikah mengakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan, dan juga bahayanya aborsi. Dari hasil penelitian tersebut terbentuklah skenario cerita film fiksi Inspired by True Story “Should I Open This Door?”. Dalam proses pembuatan karya skenario film fiksi ini, menerapkan metode “Dan Harmon” Story Circle, yang dibagi menjadi 8 bagian sekuens diantaranya you, need, go, search, find, take, return, change. Dalam pembuatan karya skenario ini juga menggunakan penciptaan sebuah cerita metafora untuk menciptakan ruang dimensi yang berbeda dan adegan menegangkan yang membuat skenario film ini menjadi utuh sepenuhnya secara teratur dan terkonsep.
-
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DAN ANGGARAN PADA PRODUKSI FILM FIKSI BELENGGUManajemen film dalam proses pembuatan film memainkan peran yang sangat penting dalam memastikan kelancaran dan keberhasilan produksi sebuah film. Proses pembuatan film melibatkan berbagai tahap, mulai dari pra-produksi, produksi, hingga pasca-produksi, yang masing-masing memerlukan pengelolaan yang cermat terhadap sumber daya, anggaran, waktu, dan tim yang terlibat. Laporan ini bertujuan untuk menganalisis pentingnya manajemen film dalam setiap tahapan produksi dan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan efisiensi serta kualitas hasil akhir film. Penelitian ini mengidentifikasi berbagai elemen kunci dalam manajemen film, termasuk perencanaan anggaran dan jadwal yang matang, pengelolaan sumber daya manusia, koordinasi antar departemen teknis dan kreatif, serta penyelesaian masalah yang timbul selama produksi. Selain itu, laporan ini juga membahas pentingnya komunikasi yang efektif antara semua pihak yang terlibat dalam produksi film, mulai dari produser, sutradara, kru, hingga pemeran. Dalam aspek post-produksi, manajemen yang baik diperlukan untuk memastikan penyelesaian film sesuai dengan standar yang diinginkan dalam waktu dan anggaran yang telah disepakati. Dengan menggunakan metode deskriptif analitis dan studi kasus pada beberapa proyek film, laporan ini memberikan wawasan tentang tantangan yang dihadapi dalam manajemen produksi film, serta solusi-solusi yang dapat diterapkan untuk mengoptimalkan proses tersebut. Sebagai hasilnya, laporan ini menyarankan penerapan teknologi manajemen proyek, peningkatan kemampuan komunikasi antar tim, serta pengelolaan risiko yang lebih baik sebagai kunci sukses dalam manajemen produksi film.
-
PENERAPAN TEKNIK LOW KEY PADA KAMERA UNTUK MENDUKUNG METAFORA VISUAL DALAM FILM PENDEK SWITCHING SIDEFilm pendek Switching Side menggunakan teknik Low Key Lighting untuk menciptakan atmosfer horor yang mendalam. Teknik pencahayaan ini digunakan untuk menggambarkan ketegangan, konflik batin, dan metafora visual yang mengarah pada tema pengorbanan, penyesalan dan dilemma sosial. Penelitian ini mengaplikasikan metode sinematografi yang terdiri dari tiga tahap: persiapan produksi, perekaman, dan evaluasi. Dalam persiapan, konsep visual dirancang dengan fokus pada pemilihan pencahayaan dan komposisi yang mendukung cerita. Selama perekaman, pencahayaan rendah diterapkan untuk menciptakan bayangan tajam yang mengarah pada penekanan karakter dan elemen penting dalam adegan. Pada tahap evaluasi, hasil rekaman disempurnakan dalam proses pasca-produksi untuk menjaga atmosfer yang gelap dan misterius. didukung oleh mood and look dengan dominasi warna dingin bernuansa kehijauan yang memperkuat atmosfer suram dan penuh ketegangan. Komposisi dan pergerakan kamera dirancang untuk mempertegas konflik emosional, sementara elemen seperti pencahayaan, latar, properti, tata rias, dan kostum dirancang secara sinematik untuk merepresentasikan konsep naratif. Hasilnya menunjukkan bahwa Low Key Lighting efektif dalam memperkuat tema horor, memperdalam pengalaman emosional penonton, dan mendukung metafora visual yang tercipta melalui kontras cahaya dan bayangan.
-
PENCAK SILAT SEBAGAI KEBUDAYAAN DALAM BENTUK FOTOGRAFI DOKUMENTER GARUDA AMARTAPencak Silat, kerap menjadi perbincangan hangat dikarenakan beberapa oknum yang menyalah gunakan ilmu hasil pembelajaran yang telah dituai dari pencak silat. Hal tersebut memberi dampak buruk dan mengurangi kepercayaan kepada masyarakat umum, beberapa menganggap pencak silat hanya sebuah kegiatan yang membuang-buang tenagadan waktu. Namun, banyak orang tidak mengerti dan tidak memahami kedalaman atau nilai nilai positif yang ada pada pencak silat itu sendiri baik dalam bentuk keindahan secara gerakan, sifat ataupun pengaplikasian dari ilmu pencak silat itu sendiri. Pada karya fotografi ini menampilkan keindahan gerak serta memberikan pengetahuan melalui pencak silat garuda amarta, dengan tujuan untuk memberikan visualisasi pencak silat supaya tidak lagi adanya hal negatif yang berkeliling pada fikiran masyarakat umum. Pada karya foto “Garuda Amarta” telah terjadi berbagai riset yang menggunakan metode penelitian kualitatif dan visualisasikan pesilat dengan segala keindahan geraknya dalam bentuk jurus-jurus atau pun dalam bentuk perjalanan fisik yang telah ditempuh.
-
PENGUATAN TRAUMATIK PADA KARAKTER SKENARIO FIKSI “DI AMBANG PILU”Skenario fiksi berjudul Penguatan Traumatik Pada Karakter Dalam Skenario Fiksi “Di Ambang Pilu” mengangkat tema tentang kehidupan nyata seorang wanita bernama Talia, yang diolah menjadi karya fiksi. Skenario ini menceritakan perjuangan Talia yang bercita - cita menjadi guru, namun harus menghadapi tantangan berupa kondisi kelainan yang memaksanya mengorbankan impian tersebut. Untuk memperkuat narasi, penelitian ini melibatkan wawancara dengan beberapa masyarakat setempat serta penambahan unsur fiksi melalui karakter dan adegan tertentu. Penelitian ini menggunakan metode kualitat i f, yang bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami fenomena sentral melalui wawancara dengan partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penciptaan karakter traumatik Talia dilakukan dengan menghadirkan latar belakang trauma akibat pelecehan oleh ayah tirinya, yang menyebabkan gangguan hiperseksualitas. Pengembangan karakter tersebut digambarkan melalui perubahan emosional yang signifikan, di mana Talia berjuang mengatasi rasa malu, kesepian, dan ketidakberdayaan yang membayangi kehidupannya. Teknik flashback digunakan untuk mengungkap asal mula trauma Talia, memberikan kedalaman emosional dan memperkuat konflik internal yang ia hadapi. Penerapan struktur tiga babak pada skenario ini adalah cerita berkembang secara efektif. Skenario Film ini tidak hanya menampilkan sisi dramatis dari perjuangan seorang wanita dengan masa lalu yang kelam, tetapi juga menyentuh tema penyembuhan dan pemulihan dari trauma, dengan struktur tiga babak yang mendukung pengembangan karakter dan alur cerita secara efektif.
-
MEMBANGUN KEDEKATAN EMOSIONAL MELALUI TEKNIK HANDHELD CAMERA DAN POINT OF VIEW SHOT DALAM PENATAAN KAMERA FILM DOKUMENTER SECANGKIR LESTARIAlih fungsi lahan di kawasan Puncak, Bogor, untuk pariwisata dan komersial telah menyebabkan degradasi lingkungan serius, seperti deforestasi, penurunan resapan air, serta peningkatan banjir dan longsor. Sebagai solusi, Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibulao mengembangkan sistem agroforestri kopi yang mendukung restorasi ekosistem dan ketahanan ekonomi masyarakat lokal. Film dokumenter Secangkir Lestari bertujuan merekam dan menyuarakan upaya tersebut, serta meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya konservasi berbasis komunitas. Dalam produksi ini, peran yang diambil adalah sebagai Director of Photography (DoP), yang merancang dan mewujudkan konsep visual guna mendukung pesan naratif. Metode penciptaan menggunakan pendekatan partisipatif, dengan teknik handheld camera, point-of-view shot, dan komposisi visual yang merefleksikan keterhubungan manusia dan alam. Peran sinematografi menjadi media edukasi visual dalam Secangkir Lestari. Melalui metode kualitatif berupa observasi langsung dan wawancara mendalam, teknik handheld dan POV memperkuat keterlibatan emosional serta menciptakan pengalaman menonton yang imersif. Visual yang dihasilkan lebih dekat dan dinamis, menampilkan realitas keseharian masyarakat secara organik dan memperkuat ikatan antara subjek dan penonton. Dokumenter ini mengusung konsep visual storytelling sebagai alat komunikasi efektif untuk meningkatkan kesadaran publik tentang konservasi lingkungan dan mendorong kolaborasi dalam pengelolaan agroforestri kopi secara berkelanjutan
-
PERGERAKAN KAMERA DINAMIS UNTUK MEMPERKUAT DINAMIKA KARAKTER DALAM FILM “BENEATH THE SURFACE OF THE MIND’S EYE ”Beneath the Surface of the Mind’s Eye merupakan film fiksi pendek yang menyoroti isu kesehatan mental pada remaja melalui pendekatan visual yang kuat. Cerita berfokus pada seorang remaja yang mengalami tekanan emosional dan krisis identitas, yang divisualisasikan melalui teknik sinematografi dinamis dan ekspresif. Penggunaan gerakan slow track in/out memperkuat nuansa keterasingan dan pencarian jati diri, sementara teknik handheld camera menciptakan kesan labil dan cemas—merefleksikan gejolak batin yang tidak menentu. Transisi antara dunia nyata dan imajinasi diperkuat lewat gerakan pan horizontal, yang merepresentasikan pergeseran perspektif karakter terhadap realitas. Teknik Handheld juga dibeberapa scene digunakan untuk membawa penonton lebih dekat ke momen-momen emosional yang intens, sedangkan closeup menekankan ekspresi wajah yang menyiratkan konflik internal. Seluruh pendekatan visual ini tidak hanya membentuk estetika film, tetapi juga menjadi medium penceritaan tematik yang mendalam dan emosional. Secara visual, film ini memadukan nuansa warna hangat dan biru dingin sebagai simbol dari benturan antara kenyataan dan ilusi. Elemen seperti ruang kosong, pencahayaan dramatis, tata latar, serta properti dipilih secara cermat sebagai bagian dari mise-enscene untuk menciptakan atmosfer psikologis yang kuat. Melalui perpaduan visual dan narasi yang terarah, film ini berupaya menyuguhkan pengalaman sinematik yang menyentuh, reflektif, serta relevan dengan kondisi psikologis remaja masa kini.
-
OPTIMALISASI MANAJEMEN PADA TAHAPAN PRA-PRODUKSI “MALAM BENCANA YANG TIDAK DIRENCANAKAN DARI PEMANGGUNGAN BENCANA YANG DIRENCANAKAN”Manajemen produksi film merupakan salah satu aspek krusial dalam industri perfilman yang melibatkan berbagai elemen mulai dari perencanaan hingga eksekusi. Di tengah kompleksitas produksi, produser memainkan peran sentral dalam memastikan kelancaran jalannya proyek, baik dari sisi administratif, kreatif, maupun finansial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengoptimalkan peran produser dalam manajemen produksi film khusus nya pada Pra Produksi dengan fokus pada strategi pengelolaan sumber daya manusia, anggaran, serta timeline produksi yang efektif. Pra Produksi adalah langkah awal yang menjadi pondasi keberhasilan produksi dilm. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur yang mendalam, wawancara dengan praktisi industri, dan analisis kasus produksi film independen. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan rekomendasi praktis mengenai langkah-langkah yang perlu diambil oleh produser untuk meningkatkan efisiensi dan keberhasilan proyek film, serta mengidentifikasi tantangan-tantangan yang dihadapi produser dalam lingkungan industri yang terus berkembang. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan manajemen produksi film independent dan meningkatkan kualitas produksi film.
-
PENYUTRADARAAN DENGAN GAYA EKSPRESIONISME PADA FILM FIKSI PENDEK BENEATH THE SURFACE OF THE MIND’S EYEKesehatan mental merupakan aspek pokok dalam kesejahteraan individu yang mempengaruhi cara berpikir, merasa, dan bertindak. Gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, dan stres, dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan sehari-hari, produktivitas, serta hubungan sosial. Pendekatan yang digunakan dalam laporan ini adalah metode penelitian kualitatif studi kasus digunakan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan cerita yang disampaikan dan kebutuhan sutradara dalam menciptakan latar belakang tokoh. Analisis data terutama berasal dari wawancara dan catatan observasi. Tujuan dari laporan ini adalah membuat film dengan pendekatan gaya penyutradaraan ekspresionisme melalui isu kesehatan mental. Hal ini dilakukan karena film ini berfokuskan kepada sisi psikologis karakter utama. Selanjutnya, terwujudnya sebuah film dengan judul “btsotme” Oleh karena itu, pemahaman yang lebih dalam mengenai kesehatan mental dan upaya untuk mengurangi stigma terkait isu ini menjadi kunci dalam meningkatkan kesadaran dan memberikan dukungan yang diperlukan bagi individu yang mengalami gangguan mental. Laporan ini bertujuan untuk menggali lebih jauh dampak kesehatan mental terhadap individu dan masyarakat. Film ini bertujuan agar masyarakat mengetahui sudut pandang pengidap gangguan mental sehingga lebih aware terhadap psikologi orang terdekat dan orang lain
-
MEMBANGUN EMOSI KARAKTER DENGAN POLA PERPINDAHAN VISUAL DALAM EDITING FILM TAKE THE REINSFilm memiliki kekuatan untuk membangun dan menyampaikan emosi melalui berbagai elemen sinematik, salah satunya adalah editing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pola perpindahan visual dalam editing, khususnya melalui Pacing lambat dan transisi audio, dapat membangun intensitas emosi karakter dalam film “Take The Reins”. Film ini mengangkat tema pola asuh otoriter yang sering terjadi dalam hubungan orang tua dan anak, dengan pendekatan realisme untuk menciptakan kedalaman emosional yang lebih autentik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, kajian media, serta wawancara dengan editor film dan pakar psikologi. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan metode penciptaan berbasis practice-led research, di mana proses penyuntingan film menjadi bagian utama dalam pencarian dan pembentukan pengetahuan. Konsep editing yang diterapkan meliputi Pacing lambat untuk memperkuat intensitas emosional serta penggunaan transisi berbasis audio (J-Cut dan L-Cut) untuk menciptakan kesinambungan dan kedalaman suasana dalam cerita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pacing lambat efektif dalam membangun ketegangan emosional, memungkinkan penonton untuk lebih mendalami perasaan karakter. Selain itu, transisi audio memberikan koneksi yang lebih halus antara adegan, memperkuat nuansa emosional tanpa harus mengandalkan pemotongan visual yang eksplisit. Dengan demikian, teknik editing yang diterapkan dalam “Take The Reins” tidak hanya mendukung narasi, tetapi juga memperkuat dampak psikologis yang dirasakan penonton.
-
PENGEMASAN ISU KEKERASAN SEKSUAL DENGAN KARAKTER TWIST DALAM SKENARIO FILM FIKSI UNHEARDKekerasan seksual kerap terjadi dalam dunia pendidikan yang membuatnya prihatin dengan kasus yang terjadi. Kekerasan seksual dan pelecehan seksual merupakan fenomena yang kerap terjadi di dunia pendidikan di Indonesia yang dan berdasarkan kasus dilakukan oleh oknum guru kepada murid yang menimbulkan trauma dan menghancurkan mimpi korban. Dengan menggunakan metode kualitatif untuk mengumpulkan data secara mendalam dan menganalisis data yang didapat dari berita teks, video dan audio, adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung dan wawancara. Sedangkan untuk metode penulisan karya naskah yang digunakan dalam penciptaan ini menggunakan struktur tiga babak delapan sequence untuk memperlihatkan pengembangan emosional karakter dan membuat karakter twist. Hasil dari penciptaan ini adalah naskah drama fiksi Unheard. Ide karya naskah skenario fiksi ini mempunyai daya tariknya tersendiri diantaranya, untuk mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap korban pelecehan. Bagaimana pelecehan dan kekerasan seksual dapat terjadi di lingkungan pendidikan yang menjadi permasalahan dalam penulisan penelitian.
-
PENDEKATAN REALIS DALAM PENGGAMBARAN KARAKTER OBSESIF MALAM BENCANA YANG TIDAK DIRENCANAKAN DARI PEMANGGUNGAN BENCANA YANG DIRENCANAKANLaporan karya tugas akhir ini membahas pendekatan gaya realis dalam penggambaran karakter obsesif melalui film “Malam Bencana yang Tidak Direncanakan dari Pemanggungan Bencana yang Direncanakan”. Laporan ini adalah proses kreatif sebagai sutradara dalam menciptakan sebuah karya film fiksi pendek. Tujuan dari dibuatnya film ini adalah untuk merepresentasikan dinamika psikologis karakter obsesif secara autentik dan dekat dengan realitas, sekaligus menjadi refleksi terhadap dampak perfeksionisme dan otoritarianisme dalam dunia seni pertunjukan. Metode penyutradaraan yang digunakan adalah pendekatan realis berbasis eksplorasi psikologi karakter, dengan tahapan yang meliputi pra produksi, produksi, dan pascaproduksi. Proses ini mencakup riset lapangan, wawancara dengan praktisi seni dan ahli psikologi, observasi proses teater, pengembangan naskah, pengarahan akting dengan sistem Stanislavsky, serta penerapan teknik sinematik seperti long take, handheld, mise en scène repetitif, dan pencahayaan naturalistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan landasan teori psikologi, khususnya terkait obsesi dan perfeksionisme, sebagai dasar pengembangan narasi dan karakter. Hasil dari proses penciptaan ini adalah terciptanya film pendek berdurasi 24 menit yang mampu membangun karakter obsesif secara realistis dan menghadirkan pengalaman sinematik yang imersif dan reflektif. Karya ini diharapkan dapat memperluas wawasan tentang penyutradaraan berbasis psikologi karakter serta memperkaya praktik estetika realis dalam perfilman Indonesia
-
PENERAPAN METODE DAN HARMON’S STORY CIRCLE PADA PENULISAN SKENARIO “MARIGOLD” ( LIGAR KONENG UMYANG-UMYANGAN)Slow living sempat menjadi tren di kalangan generasi muda, fenomena ini muncul dari gaya hidup modern yang serba cepat. Melalui slow living, individu diajarkan melambatkan langkah dan lebih mengedepankan kualitas dibanding kuantitas. Fenomena tersebut menarik diangkat sebagai inspirasi tema sekaligus sebagai kritik terhadap kehidupan modern yang melelahkan. Dalam penulisan karya skenario berjudul”Marigold” tema diterapkan lewat alur cerita, setting dan penokohan. Permasalahan yang telah dijawab dalam penulisan skenario yaitu dengan menggunakan metode Dan Harmon’s Story Circle, melalui metode tersebut alur cerita dibuat dalam delapan tahapan untuk menciptakan struktur dramatik yang baik dan menarik. Penciptaan skenario bertema slow living dibagi kedalam tiga tahapan, pra-produksi yaitu tahap eksplorasi ide dan riset, dilakukan observasi dan wawancara pada subjek yang menerapkan gaya hidup slow living. Produksi berupa proses penulisan draft satu skenario. Pasca-produksi merupakan tahap evaluasi draft satu untuk mencapai final draft.
-
REPRESENTASI BEAUTY PRIVILEGE DALAM PERKEMBANGAN KARAKTER PADA SKENARIO “LANGKAH TANPA RAGU”Laporan ini membahas mengenai isu beauty privilege yang saat ini dijunjung tinggi oleh masyarakat, terutama dalam segi fisik. Hal tersebut secara tidak langsung membuat para perempuan dituntut menjadi sempurna agar bisa mendapatkan privilege tersebut. Laporan ini berfokus pada dampak seseorang yang merasa dirugikan dalam beauty privilege namun ia mempunyai kemampuan dibidang musik. Sehingga muncul konsep Representasi Beauty Privilege dalam Perkembangan Karakter pada Skenario “Langkah Tanpa Ragu”. Ide ini sangat menarik untuk diangkat dan dijadikan sebagai sebuah karya naskah film karena isu beauty privilege sedang marak terjadi dikehidupan sehari-hari. Ide penciptaan ini bertujuan untuk menggambarkan bahwa perempuan yang merasa dirugikan bisa membuktikan bahwa setiap orang mempunyai privilege-nya sendiri, bukan hanya bergantung pada kecantikan. Untuk mengumpulkan data terkait isu tersebut, penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan character-driven untuk menggali perkembangan karakter secara mendalam. Hasilnya menunjukan melalui kerja keras dan pencapaian karakter tersebut sehingga bisa meminimalisir pandangan masyarakat terhadap beauty privilege. Penciptaan karya mengacu pada tahapan pengembangan ide, cerita, karakter, dan penulisan naskah hingga final draft.
