Items
-
TATA KELOLA PRODUKSI DAN PROMOSI DALAM FILM FIKSI TAKE THE REINSTata kelola proses produksi harus dipersiapkan dengan efektif, dan era ini media sosial kerap menjadi aspek utama yang banyak orang miliki dan sering kunjungi, maka produser perlu paham teknologi dan memanfaatkannya sebagai media promosi yang dapat menyebar secara luas dalam waktu terbatas. Karya tulis tugas akhir ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang didukung dengan fakta lapangan wawancara guna memperkuat aspek cerita dalam film. Dalam proses produksi, produser memiliki peran penting dalam segala aspek, produser merupakan seseorang yang bertanggung jawab dalam hal administratif, dan mengatur jalannya produksi. Seperti mengelola produksi agar berjalan dengan efektif yaitu dengan cara merancang jadwal, mengatur keuangan, serta tentunya didukung oleh metode penciptaan POAC yang dikemukakan oleh George R. Terry, meliputi Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Hal tersebut diterapkan di seluruh tahap kerja produser, seperti di pra produksi merencanakan tahap jadwal dan keuangan, saat produksi mengatur kinerja tim, pasca produksi memantau karya film agar sesuai perencanaan, serta promosi dan distribusi. Promosi film merupakan salah satu proses yang sulit dilakukan maka dari itu produser perlu menyusun strategi secara mandiri guna menciptakan alur yang sesuai dan dapat menarik perhatian penonton, baik melalui media sosial maupun konvensional. Begitupun dengan pendistribusian film yang mencakup penentuan saluran distribusi yang tepat agar dapat menjangkau audiens secara maksimal di ranah pasar domestik maupun internasional. Dari ketiga hal tersebut yakni produksi, promosi, dan distribusi, produser berperan dalam memastikan kelancaran pembuatan karya dan suksesnya pasar. Maka dari itu, karya tulis ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam tentang apa saja yang produser lakukan dalam mengelola tahapan-tahapan tersebut.
-
PENERAPAN TEKNIK EDITING CROSS-CUTTING UNTUK MENUNJANG SITUASI KONFLIK PADA FILM FIKSI DUDUNG & MAMAN JUST BEING AMANEditor merupakan elemen penting dalam produksi film yang berperan menyusun narasi visual dari hasil pengambilan gambar. Melalui proses editing, editor tidak hanya merangkai cerita, tetapi juga membangun ritme dan emosi yang memengaruhi pengalaman menonton. Salah satu teknik yang digunakan untuk menciptakan ketegangan emosional adalah cross-cutting, yakni teknik pemotongan adegan secara bergantian antara dua peristiwa yang terjadi di tempat berbeda namun saling berkaitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana penerapan teknik cross-cutting oleh editor dapat mendukung penyampaian konflik dalam film fiksi pendek. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik observasi dan wawancara terhadap proses penyuntingan gambar. Sedangkan metode penciptaan dilakukan melalui proses kerja kolaboratif lintas divisi produksi film, dengan fokus pada penyusunan struktur cerita berdasarkan data gambar yang telah diambil selama produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa editor berhasil menyusun cerita dengan menambahkan teknik cross-cutting untuk membangun emosi penonton. Teknik ini efektif menciptakan ketegangan melalui perbedaan pengetahuan antara karakter dan penonton, sehingga memperkuat dampak emosional dari konflik yang disajikan. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metode penelitian dan penciptaan yang sesuai dengan rumusan masalah mampu menjawab bagaimana teknik cross-cutting digunakan dalam film. Penerapannya terbukti mendukung penyampaian konflik dan memperkuat pengalaman sinematik yang dihadirkan kepada penonton..
-
PENGGUNAAN PERGERAKAN KAMERA UNTUK MEMBANGUN EMOSI DALAM FILM FIKSI DREAM OF THE TRUTHMemanfaatkan berbagai teknik dalam mevisualisasikan film memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menyampaikan pesan secara mendalam melalui kombinasi elemen visual, audio, dan narasi, menjadikannya sarana yang efektif untuk mengangkat isu sosial, termasuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Di Indonesia, kasus pelanggaran HAM seperti salah tangkap dan kekerasan oleh aparat mencerminkan kelemahan perlindungan hukum dan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap sistem keadilan. Proposal karya tugas akhir yang berjudul, penggunaan pergerakan kamera untuk membangun emosi dalam film “Dream of The Truth” mengangkat fenomena ini dengan pendekatan sinematik, memanfaatkan Teknik seperti pergerakan kamera dinamis, penggunaan depth of field, dan pencahayaan kontras digunakan untuk menciptakan pengalaman visual yang intens dan emosi. Melalui metode penelitian kualitatif, termasuk wawancara, observasi, dan studi literatur, film ini menghadirkan interpretasi visual yang mendalam terkait isu pelanggaran HAM. Karya ini diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tetapi juga mendorong reformasi dalam penegakan hukum dan perlindungan HAM di Indonesia.
-
KONFLIK IDEALISME TOKOH PROTAGONIS UTAMA DALAM PENULISAN SKENARIO THE ART OF LETTING GOMinimalisme semakin populer seiring kesadaran untuk mengurangi barang. Meskipun tren minimalisme menawarkan solusi untuk menciptakan ruang yang lebih tenang dan fungsional, tantangan untuk melepaskan barang dengan nilai sentimental tetap menjadi hambatan. Penelitian ini berfokus pada konflik idealisme seorang anak dalam mengubah pandangan ibunya terhadap gaya hidup minimalisme. Judul naskah , The Art of Letting Go, menggambarkan proses melepaskan yang berkaitan dengan kenangan sentimental yang sulit dihapus. Cerita ini relevan dengan kehidupan modern, mengangkat konflik emosional antara keterikatan sentimental pada barang dan filosofi minimalisme. Daya tarik utama terletak pada perjalanan transformasi karakter, penyampaian pesan solutif, serta visualisasi kontras antara kekacauan akibat penumpukan barang dan kedamaian yang tercapai melalui penerapan prinsip minimalisme. Penciptaan karya naskah ini mencakup perumusan konsep cerita dan menerapkan struktur 3 babak. Menggunakan metode penelitian kulitatif dengan observasi dan wawancara. Melalui tahap pra produksi dengan mencari ide dan konsep, menentukan konflik cerita, membuat struktur dramatik, development karakter, dan membuat treatment. Hasilnya adalah naskah yang menggambarkan konflik idealisme tokoh utama dalam merenovasi rumah keluarga dengan konsep minimalisme, namun terhalang oleh ibunya yang enggan melepaskan barang kenangan almarhum bapak. Melalui perjalanan emosionalnya, tokoh utama berusaha menjembatani perbedaan pandangan tersebut, yang menjadi inti dari naskah The Art of Letting Go.
-
PENGGAMBARAN EKSPRESI TERHADAP HUBUNGAN TIGA PERAN ANGGOTA KELUARGA DALAM FILM TAKE THE REINSPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi cara ekspresi dalam hubungan tiga peran anggota keluarga yang dihadirkan dalam film Take The Reins. Fokus utama dari studi ini adalah pada penerapan teknik sinematografi, yang mencakup pergerakan kamera yang dinamis, penerapan prinsip rule of thirds, serta penggunaan pencahayaan low key, untuk menggambarkan dinamika emosional antara karakter-karakter utama. Film ini mengangkat tema hubungan sosial dalam keluarga, dengan penekanan pada ketegangan yang muncul antara ayah, anak, dan kakek, yang disebabkan oleh pola asuh otoriter yang diterapkan oleh Hendra, sang ayah, terhadap anaknya, Damar. Dengan mengadopsi pendekatan kualitatif dan metode penciptaan practice-led research, penelitian ini tidak hanya menganalisis elemen-elemen visual seperti komposisi gambar, pergerakan kamera, dan pencahayaan, tetapi juga melibatkan proses kreatif dalam penciptaan adegan-adegan yang merefleksikan emosi tersebut. Melalui pendekatan ini, peneliti berupaya memahami bagaimana teknik sinematografi dapat memengaruhi persepsi penonton terhadap karakter dan pengalaman emosional yang berkembang sepanjang narasi. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pemahaman mengenai bagaimana teknik sinematografi dapat memperdalam pengalaman emosional penonton serta meningkatkan dampak visual terhadap narasi film. Secara keseluruhan, penelitian ini tidak hanya memperluas wawasan dalam bidang sinematografi, tetapi juga berpotensi menjadi referensi berharga bagi pembuat film dalam menciptakan karya yang lebih bermakna dan efektif, serta memberikan inspirasi untuk penelitian lebih lanjut di bidang ini.
-
PENGUATAN KARAKTER DISABILITAS INTELEKTUAL MELALUI PENDEKATAN REALISME PADA FILM BASED ON TRUE STORY DUDUNG & MAMAN JUST BEING A MANDisabilitas intelektual adalah suatu disfungsi atau keterbatasan baik secara intelektual maupun perilaku adaptif yang dapat diukur atau dilihat yang menimbulkan berkurangnya kapasitas untuk beraksi dalam cara tertentu. yang sering terjadi di masyarakat Indonesia, dipengaruhi oleh kelainan genetik yang bersifat kausatif, infeksi, trauma, komplikasi, prematuritas dan berbagai paparan lingkungan dan bahan kimia. Isu ini menjadi latar belakang utama dalam penciptaan film fiksi “Dudung dan Maman Just Being a Man”, yang mengangkat tema persahabatan dengan pendekatan realisme. Berfokus pada eksplorasi teknik penguatan karakter disabilitas intelektual melalui elemen komedi dalam konteks budaya lokal. Ide ini memiliki daya tarik unik karena menggabungkan realitas kehidupan sosial lansia dengan menciptakan pengalaman emosional yang mendalam bagi penonton. Permasalahan yang diselesaikan, lebih terfokus bagaimana penguatan karakter disabilitas intelektual dapat menyampaikan pesan yang efektif dengan pendekatan realisme. Metode penelitian menggunakan teknik kualitatif, mencakup observasi kehidupan lansia di panti sosial, wawancara dengan para penghuni dan staf panti, serta kajian pustaka terhadap literatur dan film-film sejenis. Metode penciptaan Practice Led Research yang terdiri dari tiga tahapan kerja: pra-produksi (riset dan pengembangan konsep), produksi (pengarahan aktor dan sinematografi natural), serta pasca-produksi (penyuntingan adegan dengan fokus emosi). Film ini akan menghadirkan penguatan karakter disabilitas intelektual dengan pendekatan realisme yang memperkuat kedekatan cerita dengan realitas sosial. Kombinasi tema sosial, budaya lokal, serta humor ringan, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesejahteraan lansia serta menciptakan pengalaman menonton yang menyentuh dan menghibur.
-
MEMBANGUNUNSUR DRAMATIKDENGAN CUTTINGRHYTHMPADA EDITING FILM WHAT THEY DON’T KNOWABOUT MEKekerasan seksual inses merupakan kejahatan serius yang dapat menimbulkan trauma mendalam dan berdampak jangka panjang pada korban. Korban inses mengalami Rape Trauma Syndrome, Traumatic sexualization, dan stigmasisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan cutting rhythm dalam representasi sinematik trauma inses dengan gaya penyutradaraan realis. Metode Penelitian yang digunakan adalah kualitatif, meliputi wawancara bersama dengan Narasumber yang kompeten di bidangnya, studi pustaka, dan observasi. Proses penciptaan dilakukan melalui kolaborasi kreatif antara sutradara, penata kamera, dan penyunting gambar, memastikan visi naratif dan sinematik yang selaras. Penerapan cutting rhythm difokuskan untuk memperkuat gaya realism melalui tiga aspek utama, pacing lambat, rate of cutting, dan penggunaan diegetic sound. Pacing lambat memberikan ruang bagi penonton untuk merasakan emosi tokoh secara mendalam dan merefleksikan dampak psikologis inses. Rate of Cutting yang lambat menghindari distraksi visual berlebihan, memperkuat gaya sinematografi long take dengan meminimalisir pemilihan shot. Penggunaan diegetic sound menciptakan suasana yang natural dan imersif, meningkatkan realisme adegan. Diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pemahaman bagaimana cutting rhythm dapat digunakan secara efektif untuk memperkuat gaya penyutradaraan realism dalam film yang mengangkat isu-isu sensitive seperti kekerasan seksual inses, sehingga bisa meningkatkan kesadaran public dan dukungan bagi para penyintas dan korban.
-
PENULISAN SKENARIO “WHEN WE WERE IN THE 60’S” TENTANG REGULASI PEMERINTAH MENGENAI BAND DITAHUN 1960-ANTugas akhir ini berupa penulisan skenario film pendek berjudul When We Were in the 60’s yang mengangkat tema regulasi pemerintah terhadap perkembangan musik band di Indonesia pada era 1960-an. Ketika pengaruh budaya populer Barat melalui musik band mendapat sorotan dan pembatasan dari pemerintah yang tengah mengedepankan nilai-nilai nasionalisme dan anti-imperialisme. Penulisan skenario ini dilakukan melalui riset historis terhadap kondisi sosial-politik Indonesia tahun 1960-an, khususnya kebijakan budaya yang berdampak pada dunia musik. Hasil dari proses ini adalah skenario film pendek yang merepresentasikan perjuangan para musisi muda dalam menghadapi tekanan sosial dan politik saat mengekspresikan diri melalui musik. Cerita menyoroti konflik antara seni dan kekuasaan, serta menggambarkan nilai-nilai perlawanan, persahabatan, dan pencarian identitas budaya dalam situasi represif. sebagai sarana penyampaian pesan secara mendalam dan kontekstual.
-
PENGUATAN INNER CONFLICT PADA KARAKTER UTAMA DALAM SKENARIO FILM “WHISPERS OF RED”Menstruasi pertama atau menarche merupakan salah satu fase penting dalam perkembangan remaja perempuan yang sering kali diiringi dengan perasaan canggung, malu, dan kebingungan. Naskah film ini mengangkat kisah seorang remaja perempuan yang mengalami menstruasi pertamanya dan harus menghadapi tantangan untuk membeli pembalut di warung, di tengah rasa malu dan ketidaknyamanannya. Dengan pendekatan drama ringan yang dipadukan dengan sedikit unsur komedi, film ini bertujuan untuk merepresentasikan pengalaman nyata banyak remaja perempuan sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya keterbukaan terhadap kesehatan reproduksi. Proses penciptaan naskah ini dilakukan melalui studi literatur, wawancara, observasi, dan analisis berbagai referensi, baik dari buku akademik, jurnal ilmiah, maupun film dengan tema serupa. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan sebuah naskah film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan wawasan baru mengenai pubertas dan menstruasi sebagai bagian alami dari kehidupan seorang perempuan.
-
EKSPLORASI VISUAL UNTUK MENGILUSTRASIKAN TRAUMATIK PADA KARAKTER DALAM FILM BELENGGUFilm ini menghadirkan gambaran kondisi traumatik tokoh utamanya melalui pendekatan visual yang kuat. Sinematografi memainkan peran penting dalam menciptakan elemen visual yang mencerminkan perubahan emosi dan dinamika batin karakter. Dengan memanfaatkan komposisi visual, seperti penempatan subjek dalam frame, ruang kosong, dan penggunaan warna, film ini berhasil menghadirkan suasana menekan yang menggambarkan konflik psikologis secara mendalam. Selain itu, penentuan sudut kamera, seperti sudut rendah untuk dominasi rasa takut dan sudut tinggi untuk ketidakberdayaan, memperkaya penyampaian narasi emosional. Teknik pengambilan gambar, termasuk close-up untuk detail ekspresi dan long shot untuk isolasi, semakin memperkuat pengalaman emosional penonton. Pendekatan ini menjadikan Film Belenggu sebagai film yang efektif dalam memvisualisasikan psikologi karakter melalui sinematografi.
-
MITOS IBU HAMIL KETIKA TERJADI GERHANA MATAHARI DALAM SKENARIO FILM FIKSI “KALA PETENG”Dewasa ini, mitos masih terus berkembang dari mulut ke mulut. Salah satu mitos yang masih berkembang adalah mitos ibu hamil. Mitos ini berupa perintah dan larangan yang harus dilakukan oleh ibu hamil, contohnya ibu hamil diperintahkan untuk memakai bawang putih dan peniti di balik baju mereka, ibu hamil dilarang menyembelih hewan yang masih hidup, ibu hamil dilarang keluar rumah saat malam hari, dan ketika terjadi gerhana ibu hamil dianjurkan untuk bersembunyi. Kepercayaan terhadap mitos tersebut menimbulkan berbagai macam perbedaan pandangan antar generasi. Hal ini menarik untuk diangkat menjadi sebuah skenario film dengan tujuan memberikan informasi serta edukasi kepada masyarakat mengenai kepercayaan yang ada di Indonesia, agar bisa lebih toleransi dan terbuka terhadap perbedaan pandangan dan kepercayaan. Ini menjadi tantangan tersendiri karena jurnal dan buku terkait mitos ibu hamil masih terbatas, maka dilakukan pengumpulan data dengan metode kualitatif melalui sesi observasi serta wawancara bersama informan dan narasumber. Data-data yang didapatkan, kemudian dikembangkan menjadi skenario berjudul “Kala Peteng” dengan menerapkan struktur tiga babak untuk menciptakan unsur dramatik serta penguatan hubungan sebab akibat antar karakter.
-
STRATEGI TATA KELOLA PRODUKSI DALAM FILM PENDEK “Beneath The Surface Of The Mind’s Eye ”Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menerapkan strategi Tata Kelola yang efektif dalam pengelolaan produksi dan distribusi dalam sebuah film pendek berjudul “Beneath The Surface Of The Mind’s Eye”. Film tersebut memiliki genre Horor Psikolog yang mengangkat perjalanan seorang wanita yang terperangkap dalam kesendirian emosionalnya, mencari kedamaian dan mengusir kesepian dengan mengkoleksi foto wajah-wajah orang mati. Dan pada film mengandung isu mengenai Kesehatan mental yang memiliki bagian penting dari kesejahteraan individu dan masyarakat yang tidak bisa diabaikan.Produser dalam penelitian tersebut melakukan berbagai rangkaian tugas yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, dan pengkontrolan seluruh aspek produksi dan distribusi film. Proses produksi dilakukan melalui tahapan pra produksi, produksi, dan pasca produksi yang masing-masing membutuhkan pengelolaan waktu, anggaran, dan sumber daya manusia yang optimal. Selain itu, distribusi film pendek ini direncanakan secara strategis dan terstruktur agar dapat menjangkau target penonton yang lebih luas baik melalui platform digital maupun konvensional.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pengendalian yang tepat dalam setiap tahapan produksi sangat berperan dalam memastikan kelancaran dan kesesuaian hasil akhir dengan visi kreatif film. Selain itu strategi distribusi yang terencana juga membantu film pendek “Beneath The Surface Of The Mind’s Eye” mencapai target penonton yang lebih luas serta mendukung upaya pelestarian budaya melalui karya audio visual. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa peran Produser dalam strategi pengendalian produksi dan distribusi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan film tersebut.
-
PENGGUNAAN RITME EDITING PADA METAFORA VISUAL FILM SWITCHING SIDEFilm Switching Side mengangkat isu aborsi yang dilakukan oleh sepasang remaja dengan menggunakan ritme editing melalui teknik jump cut untuk membangun metafora visual yang mendalam. Teknik ini berfungsi untuk mempercepat alur cerita dan menggambarkan perubahan emosional karakter secara dramatis. Dengan lompatan adegan yang tajam, film ini menciptakan transisi yang jelas antara momen-momen penting, menjaga fokus penonton pada inti cerita tanpa terjebak dalam detail emosional yang berlebihan. Penggunaan jump cut juga membantu menggambarkan dilema moral yang dihadapi oleh karakter dan memperkuat tema edukasi seksual dan norma sosial, memberikan ruang untuk interpretasi yang lebih dalam. Melalui pendekatan visual yang kreatif, Switching Side berhasil mengedukasi penonton sekaligus menggerakkan emosi melalui teknik editing yang memadukan ritme dan metafora visual.
-
PRINSIP REALIS STANISLAVSKI DALAM PENYUTRADARAAN FILM FIKSI TAKE THE REINSPermasalahan dalam hubungan keluarga sering kali muncul akibat pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Take The Reins merupakan film fiksi yang mengangkat permasalahan hubungan ayah dan anak yang terjebak dalam komunikasi yang kaku akibat pola asuh otoriter. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan wawancara, kajian media serta studi pustaka guna memahami karakter serta isu yang diangkat. Dalam film, karakter yang kuat sering kali menjadi daya tarik utama bagi penonton dan mempengaruhi cara mereka merasakan cerita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana membentuk karakter tokoh yang kuat melalui pendekatan realisme Konstantin Stanislavski. Proses penciptaan karya ini menggunakan metode Practice-led research di mana praktik penyutradaraan menjadi bagian dari proses penelitian itu sendiri. Melalui penerapan prinsip realis Stanislavski karakter dibentuk dengan memperhatikan latar belakang psikologis, emosi, motivasi, serta konflik internal yang dimiliki tokoh dengan tujuan membantu aktor memahami dan menjiwai peran secara mendalam. Proses penciptaan dilakukan melalui tahapan pra-produksi (perancangan), produksi (pengeksekusian), dan pasca-produksi (penyempurnaan) dengan fokus utama pada pengarahan aktor serta penguatan dinamika emosional dalam adegan. Hasilnya karakter dalam film mampu tampil dengan emosi yang mendalam dan menciptakan kejujuran dalam penampilan, di mana aktor benar-benar menghidupi peran yang dimainkan, bukan sekadar menirunya.
-
REPRESENTASI BUDAYA DAN VISUAL STORYTELLING DALAM FILM FIKSI BASED ON TRUE STORY KAMPUNG LEGENDAFilm Kampung Legenda merupakan karya tugas akhir yang mengangkat isu hilangnya budaya lokal dan menurunnya kesadaran terhadap pendidikan di tengah masyarakat desa akibat urbanisasi. Judul ini dipilih untuk merepresentasikan perjuangan seorang tokoh budaya Nohan dalam melestarikan seni dan tradisi kampung halamannya yang perlahan mulai dilupakan. Riset ini menggunakan metode campuran (mixed methods) yaitu metode penelitian kualitatif dan kuantitatif, riset kualitatif diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi. Metode kuantitatif dilakukan dengan penyebaran kuesioner. Narasumber utama adalah Warni (istri Nohan) dan Pepep (seniman lokal), yang memberikan data otentik mengenai sosok Nohan dan kondisi budaya di Luragung, Kuningan, Jawa Barat. Rumusan ide penciptaan mengkaji strategi penyutradaraan, visual storytelling, dan montase dalam merepresentasikan identitas budaya, isu pendidikan, dan perjalanan tokoh utama dalam film. Metode penciptaan dilakukan menggunakan pendekatan practice-led research, penelitian dilakukan ke dalam tiga tahap: pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Film Kampung Legenda menyajikan estetika visual bergaya Korean look, tone warna hangat dan pencahayaan natural untuk menciptakan kedekatan emosional dengan penonton. Teknik montase digunakan untuk mempercepat alur tanpa menghilangkan substansi cerita. Hasil dari proyek ini membuktikan bahwa film fiksi berbasis kisah nyata dapat menjadi media efektif dalam menyampaikan nilai budaya sekaligus membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga identitas lokal di tengah tantangan zaman.
-
MEMBANGUNMETAFORA VISUAL PADA PENYUTRADARAAN FILM HOROR SWITCHING SIDELaporan tugas akhir ini membahas peran metafora visual dalam penyutradaraan film horor berjudul Switching Side yang mengangkat isu aborsi remaja. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, proses kreatif penyutradaraan dianalisis melalui observasi produksi dan wawancara dengan narasumber kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metafora visual tidak hanya memperkuat nuansa horor, tetapi juga menyampaikan pesan moral dan psikologis yang mendalam kepada penonton. Metafora digunakan sebagai simbol atas konflik batin, ketakutan, dan konsekuensi dari keputusan impulsif tokoh utama. Film ini tidak hanya menawarkan pengalaman menegangkan secara visual, tetapi juga mengundang penonton untuk merefleksikan isu-isu sosial dan kemanusiaan yang kompleks. Dengan penyutradaraan yang mengutamakan simbolisme, sinematografi ekspresif, serta atmosfer yang mencekam, film ini berhasil menciptakan daya tarik estetis dan emosional yang kuat.
-
TUBUH ANTUI: PROSES TUMBUH DAN PERJUANGAN DALAM PENCAPAIAN PENDEWASAAN DIRI MASYARAKAT SUKU ANAK DALAMTubuh Antui merupakan karya tari kontemporer dari hasil rekacipta yang terinspirasi oleh nilai-nilai filosofis dalam Upacara Niti Antui, sebuah ritual tradisional yang ada pada masyarakat Suku Anak Dalam. Karya ini merepresentasikan pendewasaan diri, yang digambarkan melalui gerak tari simbolik sebagai manifestasi dari proses kedewasaan dalam kehidupan manusia. Proses ini dijadikan sebagai solusi atas tantangan yang dihadapi individu, sekaligus sebuah inovasi dalam bentuk ekspresi artistik. Penciptaan koreografi tari ini mengacu pada model proses kreatif yang dikembangkan oleh Zeng dalam General Model of the Creative Process, yang terdiri dari empat tahap utama: analisis, pencetusan ide, evaluasi, dan penerapan. Setiap tahap digunakan untuk mengembangkan gagasan secara terstruktur dan mendalam. Teknik komposisi tari yang diterapkan dalam karya ini merujuk pada panduan Smith-Autard dalam Dance Composition: A Practical Guide to Creative Success in Dance Making, yang memberikan arahan dalam penciptaan karya tari yang dinamis dan bermakna. Dalam penciptaannya, karya tari Tubuh Antui juga mengadopsi pendekatan interpretatif dalam mengolah gerak, di mana tari ini menyampaikan nilai pengendalian diri dan nilai pendewasaan yang terkandung dalam Upacara Niti Antui. Repertoar tari Tubuh Antui menjadi simbol perjuangan dalam mencapai kedewasaan, serta sarana untuk menggali dan mempertahankan kearifan lokal. Sebagai karya seni nonverbal, tari ini tidak hanya mengkomunikasikan pesan tentang pentingnya pendewasaan diri, tetapi juga mengajak audiens untuk terus menjaga dan mewariskan nilai-nilai luhur ini dalam kehidupan sehari-hari.
-
LIMBOSIS: RUANG SENI INSTALASI QUARTER-LIFE CRISISKategori penelitian seni ini adalah Practice-Led Research, dengan objek kajian fenomena psikologis pada kelompok orang dewasa awal, termasuk juga diri pengkarya. Transformasi gagasan dan implementasi konsep penelitian ini, diwujudkan dalam karya seni patung instalasi yang terinspirasi dari tekanan psikologis yang pada umumnya dialami oleh individu berusia 20-30 tahun. Fase ini sering ditandai dengan ketidakpastian arah hidup, tekanan sosial, ekspektasi karier, dan pencarian identitas yang dapat menimbulkan kecemasan serta perasaan terjebak. Metode pendekatan yang digunakan yaitu dengan teknik Encaustic - memadukan material yang bervariasi. Hal ini dilakukan untuk memperkuat bentuk yang merepresentasi nilai yang ada di dalam konsep. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teori Perkembangan Psikoanalisis dan teori Morfologi Estetik. Dari hasil proses pengalaman estetik peneliti, menegaskan bahwa seni instalasi ini tidak hanya mengekspresikan kompleksitas emosional dan psikologis dari Quarter-life crisis, tetapi juga mengajak apresian untuk merenung dan menemukan hubungan dengan pengalaman objek penderita Quarter-life crisis. Hasil penelitian ini berjumlah 35 karya seni patung instalasi dengan bahan dasar lilin dan polyuretan. Bentuk karya patung tersebut berupa figur manusia dengan bentuk visual yang merepresentasikan symbol keletihan fisik dan mental serta perasaan hilangnya kontrol atas kehidupan. Figur lain digambarkan dalam posisi duduk bersila tanpa tangan, mengekspresikan perasaan keterbatasan, introspeksi, dan kehilangan identitas. Hasil Karya patung instalasi ini disajikan dalam bentuk pameran dengan ditunjang oleh elemen audio digital untuk menambah kedalaman makna pada karakter visual (bentuk dan tekstru, serta display pameran) sehingga meningkatkan resonansi emosional suasana pada karya.
-
ANALISIS TEKSTUAL PADA LAGU GIRIMIS KASORÉNAKEUN KARYA MANG KOKO DAN DEDY WINDYAGIRIPenelitian ini menganalisis lagu Girimis Kasorénakeun yang merupakan hasil kolaborasi antara komponis Mang Koko dan sastrawan Dedy Windyagiri. Penelitian difokuskan pada dua aspek utama, yaitu analisis makna lirik menggunakan pendekatan Hermeneutika Schleiermacher dan Analisis Gramatika musikal berdasarkan Teori Ilmu Bentuk Musik karya Karl Edmund Prier. Tujuan dari penelitian ini untuk mengungkap makna dari lirik lagu serta mengkaji keterkaitan antara hubungan musik dan makna yang dikandungnya. Penelitian dilakukan melalui metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data mencakup observasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil analisis menunjukkan bahwa lagu ini merepresentasikan perenungan spiritual seseorang yang telah memasuki usia senja yang merasa kehidupannya akan segera usai, yang disampaikan secara implisit melalui lirik yang simbolis dan musikalitas yang sederhana namun dalam. Penelitian ini menemukan bahwa hubungan antara musik dan lirik dalam lagu ini ditampilkan secara eksplisit dan implisit, aspek eksplisit terlihat pada melodi, laras dan tempo di akhir lagu sedangkan aspek implisit terlihat dari tempo di awal lagu. Lagu Girimis Kasorénakeun bukan hanya karya musik biasa, tetapi juga karya yang mampu memunculkan berbagai interpretasi mendalam dari para pendengarnya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengkaji seni, khususnya dalam mengembangkan pemahaman mendalam terhadap lagu-lagu dalam tradisi Karawitan Sunda.
-
TULOPAGASI: INTERPRETASI DAN IMPLEMENTASI TEORI RARAS 15 NADA R.M.A. KOESOEMADINATATulopagasi merupakan karya musik yang mencoba menawarkan kemungkinan harmoni yang berpangkal pada teori 15 nada R.M.A. Koesoemadinata. Secara keseluruhan, karya ini berupaya mengartikulasikan elemen-elemen agar menjadi bagian penting dalam peristiwa musik yang terjadi pada setiap bunyi yang dihasilkan. Konsep gagasan dalam konteks karya ini yaitu menginterpretasikan ulang penyusunan 15 nada melalui beberapa tahapan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk mengeksplorasi kembali potensi teori 15 nada yang relatif jarang diaplikasikan dalam praktik komposisi. Tujuan utama penelitian ini adalah menginterpretasikan ulang penyusunan 15 nada melalui beberapa tahapan kreatif, yang meliputi eksplorasi, penyusunan, pengembangan, serta pengujian dalam konteks musikal. Pendekatan yang digunakan dalam karya ini bertujuan untuk menelaah ulang struktur dan hubungan antar nada dengan mempertimbangkan berbagai aspek musikal seperti harmoni, interval, serta karakter warna suara yang muncul dari nada-nada tersebut. Dalam proses ini, dilakukan berbagai eksperimen untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan yang dapat memperkaya sekaligus menawarkan sistem harmoni dalam konteks 15 nada. Setiap tahapan dalam karya Tulopagasi dirancang agar mampu memberikan perspektif dalam bagaimana suatu sistem nada dapat diadaptasi, dikembangkan, dan dikontekstualisasikan sesuai dengan kebutuhan kompositoris.
-
SAKRALITAS TARI DADUNG DALAM PESTA DADUNG DI LEGOKHERANG KABUPATEN KUNINGANPesta Dadung merupakan tradisi Masyarakat Legokherang yang rutin dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Tradisi ini mengandung nilai simbolisme kehidupan masyarakat Legokherang yang tercermin dalam gerakan tari dadung. Warisan budaya ini diturunkan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik dan nilai kesakralan yang terkandung dalam gerakan tari pada Pesta Dadung. Untuk menggali tradisi tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui teknik wawancara, observasi partisipatif, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan-gerakan dalam Tari dadung memiliki makna simbolik yang mendalam, melambangkan penghormatan terhadap alam, leluhur, dan kekuatan kosmik. Gerakan berulang dalam lingkaran sambil memegang dadung mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam semesta. Teori konstruksi sosial budaya Clifford Geertz dan teori paradoks Jacob Sumardjo digunakan untuk menganalisis data, mengungkapkan bahwa gerakan tari ini menjadi media komunikasi simbolik yang menghubungkan individu dengan masyarakat dan alam semesta. Pesta Dadung dilakukan melalui pelaksanaan upacara yang berkesinambungan setiap tiga tahun sekali, melibatkan seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda. Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa Pesta Dadung tidak hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga manifestasi nilai-nilai spiritual dan sosial yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Desa Legokherang.
-
NYETREET: THE PRESENTATION OF SELF FOTOGRAFI JALANAN SEBAGAI EKSISTENSI MASYARAKAT URBAN DI KOTA BANDUNGProyek fotografi NYETREET berfokus pada eksplorasi kehidupan masyarakat Kota Bandung melalui medium fotografi jalanan. Kota Bandung, dengan sejarahnya yang kaya dan dinamika sosial yang terus berkembang, menjadi latar belakang utama untuk menggali eksistensi dan identitas warganya. NYETREET, sebuah istilah yang lahir dari penggabungan kata "nyet" (dari bahasa Sunda, yang berarti 'melihat') dan "street" (jalan), menggambarkan aktivitas mengamati dan mengabadikan momen sehari-hari di ruang publik. Menggunakan pendekatan fotografi jalanan, karya ini bertujuan menangkap interaksi masyarakat di jalanan yang tidak hanya memproyeksikan identitas individu, tetapi juga mencerminkan proses menuju aktualisasi diri, sesuai dengan teori presentasi diri Erving Goffman dan hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Fotografi dalam proyek ini tidak sekadar menjadi sarana dokumentasi, melainkan juga medium artistik yang menampilkan estetika sederhana namun bermakna dari kehidupan sehari-hari. NYETREET menghadirkan narasi visual tentang keindahan yang sering terabaikan, menyoroti dinamika sosial, budaya, dan ekonomi yang tercermin dalam interaksi warga Bandung. Karya ini merangkai esensi masa lalu, masa kini, dan masa depan, menjadikan jalanan sebagai panggung tempat masyarakat mengekspresikan eksistensi mereka, di tengah kompleksitas kota metropolitan yang terus berkembang.
-
KREATIVITAS DOEL SUMBANG DALAM LAGU-LAGU POP SUNDAThis research focuses on analyzing Doel Sumbang's creativity in creating Sundanese Pop music using the 4P creativity framework (Person, Process, Press, and Product). The study is directed towards four main aspects: the artist's personality, the mechanism of the creative process, the influence of internal and external factors, and the resulting musical product as an original work rich in meaning. The analysis was conducted on three songs, namely Somse, Ai, and Runtah, through a descriptive study of the lyrics, melody transcription, and instrumental playing patterns as musical representations. This research uses a qualitative method with a phenomenological and narrative approach. Data was obtained through observation, literature review, interviews, and documentation. The research findings indicate that Doel Sumbang's creativity is formed through a dynamic interaction between socio-cultural sensitivity (Person), a reflective and adaptive creative process (Process), environmental influences (Press), and original and communicative musical products (Product). The widespread reception and viral phenomenon of his songs are not only determined by the power of his critically and socially contextual lyrics, but also by fresh and easily accessible musical innovations.
-
PENERAPAN INSTRUMEN MUSIK BAMBU RAHAIDI SEBAGAI MEDIA TERAPEUTIK UNTUK AUTISMEPenelitian ini bertujuan untuk menilai efek dari penggunaan instrumen musik bambu Rahaidi dalam meningkatkan konsentrasi pada individu autisme dewasa di Yayasan Budaya Individu Spesial (YBUIS) Bandung. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan action research berdasarkan model Lin S. Norton. Teknik yang diterapkan meliputi observasi, wawancara, studi pustaka, serta lima langkah penelitian: identifikasi masalah, solusi, pelaksanaan, evaluasi, dan modifikasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan organologi (Sue Carole DeVale) dan teori konsentrasi (Santrock). Dalam menganalisis data, digunakan model ITDEM yang melibatkan triangulasi dan reduksi data untuk memastikan validitas hasil penelitian. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan instrumen musik bambu Rahaidi dapat meningkatkan konsentrasi pada individu autisme dewasa, dengan pengukuran dilakukan pada empat jenis perhatian: Selective Attention (kemampuan fokus pada informasi tertentu sambil mengabaikan yang lain), Sustained Attention (kemampuan mempertahankan fokus untuk waktu lama), Executive Attention (kemampuan merencanakan, mengarahkan konsentrasi pada tujuan, memantau perubahan tugas, dan menyesuaikan tugas baru), serta Divided Attention (kemampuan untuk memfokuskan diri pada beberapa aktivitas sekaligus). Proses terapeutik dibagi menjadi tiga tahap: pemula, menengah, dan mahir, yang mencakup asesmen, perancangan, penerapan terapi, pencatatan, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen musik bambu Rahaidi berdampak positif pada perkembangan rentang konsentrasi individu autisme dewasa, dengan perbaikan yang signifikan dalam semua aspek perhatian yang diukur tingkat dasar. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan yang disesuaikan dan penggunaan instrumen musik sebagai alat terapeutik efektif untuk meningkatkan konsentrasi.
-
PERKEMBANGAN TREND SIGER PENGANTIN SUNDA DI JAWA BARAT TAHUN 1980-2024Siger di Jawa Barat merupakan elemen aksesoris yang dikenakan oleh pengantin perempuan Sunda. Siger terdiri atas dua jenis karakter dan bentuk yakni Siger klasik dan Siger kontemporer. Dalam kehidupan masyarakat, Siger menunjukkan ragam jenis yang terus berkembang dan menjadi trend yang beradaptasi terhadap kemajuan zaman. Hal ini menimbulkan berbagai ragam perubahan jenis dan bentuk yang terkait dengan perkembangan trend Siger pada pengantin Sunda di Jawa Barat. Penelitian ini membahas mengenai trend Siger pengantin Sunda di Jawa Barat dengan menggunakan tiga teori, yakni: Teori Sejarah Charles Firh dan Sartono Kartodirdjo, Teori Perubahan Sosial John Lewis Gillin dan John Philip Gillin, serta Teori Transformasi D’Arcy Thompson. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang menerapkan empat tahapan analisis sejarah meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Penelitian terhadap perkembangan trend Siger pada pengantin Sunda di Jawa Barat dalam rentang waktu tahun 1980 hingga 2024 menghasilkan temuan yang menunjukkan perubahan trend pada Siger dari masa ke masa. Hal tersebut ditandai dengan perubahan bentuk dan gaya, serta munculnya ragam variasi model, hingga penamaan bentuk pada ragam Siger yang merujuk pada tokoh panutan (role model) pada suatu trend, yakni Raja dan Ratu Pasundan, kalangan aristokrat lokal (kaum ménak), hingga tokoh publik modern seperti selebriti. Penelitian ini berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan tentang Siger khususnya dari sisi perubahan bentuk, model, dan trend Siger dalam perkembangan zaman.
