Items
-
TRADISI SOSIAL DAN BUDAYA MASYARAKAT KLATEN JAWA TENGAH DALAM PENULISAN SKENARIO “REWANG RAHASIA DI BALIK DAPUR”Tradisi rewang merupakan kegiatan gotong royong yang sudah lama dikenal dalam masyarakat Jawa. Dalam pelaksanannya rewang diikuti oleh sekelompok orang yang bekerjasama untuk membantu acara atau pekerjaan besar seperti pernikahan, lamaran atau upacara adat. Tradisi ini menggambarkan nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan saling membantu dan sangat dijunjung tinggi dalam kehidupan sosial masyarakat Desa Bunder. Penulisan skenario film bertemakan rewang bertujuan menggali kembali nilai-nilai tersebut dalam konteks kekinian serta mengangkat relevansi tradisi gotong royong dalam kehidupan modern. Adapun pembuatan skenario ini dengan tujuan untuk menyajikan sebuah cerita yang menggambarkan pentingnya kerjasama dalam masyarakat serta bagaimana rewang dapat menjadi solusi dalam menghadapi tantangan bersama. Skenario ini berupaya memperkenalkan tradisi rewang kepada generasi muda melalui media film yang menarik dan mudah dipahami. Metode yang digunakan dalam pembuatan skenario ini adalah pendekatan kualitatif dengan studi literatur dan observasi terhadap pelaksanaan tradisi rewang di beberapa komunitas. Penulis juga melakukan wawancara dengan tokoh masyarakat yang masih melestarikan tradisi ini. Konsep skenario film ini mengusung tema sosial dengan latar belakang budaya Jawa, menggabungkan elemen-elemen tradisional dan modern. Cerita berfokus pada hubungan antar karakter yang terjalin dalam kegiatan rewang, serta konflik-konflik yang muncul dalam proses kerjasama. Dengan menggunakan narasi yang kuat dan karakter yang mendalam, diharapkan media ini dapat memberikan pesan moral tentang pentingnya kebersamaan dalam membangun masyarakat yang harmonis.
-
PENERAPAN PROMOSI DAN DISTRIBUSI FILM PENDEK What They Don't Know About MeFilm pendek memiliki peran penting dalam dunia perfilman sebagai medium ekspresi kreatif, film pendek mampu menyampaikan gagasan kompleks, kritik sosial, serta pesan-pesan emosional secara efektif dan efisien. Penelitian ini mengangkat film pendek What They Don’t Know About Me yang mengusung isu pelecehan seksual sebagai bentuk kampanye sosial. Melalui pendekatan naratif yang emosional dan sinematografi yang kuat, film ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak psikologis, sosial, dan hukum yang dialami korban. Hasil penelitian ini mengkaji bagaimana strategi co- production, promosi, dan distribusi berkontribusi terhadap kesuksesan film pendek di tengah persaingan industri film yang kian ketat. Co-production, atau kerja sama dalam produksi, menjadi salah satu strategi utama yang memungkinkan produser untuk menggabungkan sumber daya, jaringan, dan keahlian sehingga meningkatkan kualitas produksi tanpa membebani biaya secara sepihak. Penelitian ini mengidentifikasi tantangan dan peluang yang dihadapi produser. Produser film pendek menghadapi keterbatasan dana dan visibilitas, namun memiliki peluang besar untuk menyampaikan pesan kuat dan menjangkau publik global melalui strategi produksi kolaboratif dan distribusi adaptif. Kesimpulannya, promosi yang kreatif, terutama melalui media sosial dan festival film, mampu meningkatkan eksposur dan daya tarik film pendek di mata publik. Distribusi digital membuka peluang luas bagi film pendek untuk menjangkau audiens global, meskipun produser tetap menghadapi tantangan dalam hal pendanaan, persaingan konten, dan akses jaringan distribusi.
-
VISUALISASI PEKERJA LANSIA DI KOTA BANDUNG MELALUI FOTOGRAFI HUMAN INTEREST RENTANPenelitian pembuatan karya fotografi “rentan” dengan gaya human interest ini mengungkap potret kehidupan sehari-hari para lansia di tengah kota bandung yang masih aktif bekerja, sekaligus memberikan contoh positif bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Karya ini tidak hanya bersifat dokumentasi, namun juga bertujuan untuk menghargai pengalaman dan kontribusi para pekerja lansia, serta mengajak masyarakat untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas. Konsep visual yang terstruktur dengan baik menjadi pedoman, dengan penerapan komposisi yang tepat, pencahayaan alami dari matahari, dan pemilihan sudut pandang yang strategis untuk menyampaikan emosi yang tersirat dalam karya. Proses penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang mencakup observasi, studi pustaka, studi media, dan wawancara, serta mengacu pada metode penciptaan karya seni menurut S.P. Gustami, yang terdiri dari tiga tahap: eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Melalui pendekatan tersebut, diharapkan karya fotografi ini tidak hanya mendokumentasikan pekerja lansia, tetapi juga menyampaikan pesan tentang tantangan yang mereka hadapi, sehingga menumbuhkan simpati dan kesadaran akan pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan lansia.
-
PENERAPAN GAYA PENYUTRADARAAN REALISME PADA FILM FIKSI “LUNAS NEPI KA MODYAR”Fenomena pinjaman online (pinjol) yang semakin marak di masyarakat, terutama di kalangan generasi muda, menjadi latar belakang penting dalam pengembangan film “Lunas Nepi Ka Modyar”. Film ini mengangkat kisah seorang mahasiswa yang terjerat dalam tren dan gaya hidup modern, yang akhirnya membuatnya terperangkap dalam pinjaman online. Dengan pengemasan yang menggabungkan gaya realisme dan komedi, film ini bertujuan untuk memvisualisasikan realitas kehidupan sehari-hari dan menyampaikan pesan moral melalui pendekatan yang ringan dan menghibur. Dengan menggunakan komedi sebagai alat untuk menyampaikan isu serius, diharapkan penonton dapat lebih mudah meresapi pesan yang ingin disampaikan. Maka dari itu terbentuklah rumusan ide penciptaan film ini di antaranya: bagaimana menginterpretasikan naskah “Lunas Nepi Ka Modyar” ke dalam struktur dramatika dalam film fiksi, bagaimana penerapan karakter terhadap pemeran dapat mendukung gaya realisme dalam film, serta bagaimana ekspresi dan gestur dalam film dapat menyampaikan emosi secara efektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka. Selain itu, metode penciptaan yang digunakan mencakup tahapan pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Hasil penelitian menciptakan interpretasi naskah yang dikembangkan menjadi master breakdown, callsheet, dan karya film yang sesuai dengan visi dan misi sutradara. Dengan penerapan gaya realisme dan komedi, visi dan misi sutradara dalam “Lunas Nepi Ka Modyar” dapat diwujudkan secara optimal dan menghasilkan visualisasi film yang sesuai dengan harapan serta penyampaian pesan film yang tepat.
-
STRATEGI PENGENDALIAN PRODUKSI DAN DISTRIBUSI FILM PENDEK FIKSI HISTORICAL STORY “PANON HIDEUNG”Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menerapkan strategi yang efektif dalam pengelolaan produksi dan distribusi dalam sebuah film pendek historical story berjudul “Panon Hideung”. Film tersebut memiliki genre drama– romansa yang mengangkat kisah cinta antara Ismail Marzuki dan Eulis Andjung yang diceritakan dari sudut pandang istrinya. Film ini tidak hanya menghadirkan narasi sejarah tetapi juga berupaya menghubungkan penonton modern dengan kisah cinta penuh nilai budaya Indonesia melalui lagu karya Ismail Marzuki dengan judul yang sama yaitu “Panon Hideung”. Produser dalam penelitian tersebut melakukan berbagai rangkaian tugas yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, dan pengkontrolan seluruh aspek produksi dan distribusi film. Proses produksi dilakukan melalui tahapan pra produksi, produksi, dan pasca produksi yang masing-masing membutuhkan pengelolaan waktu, anggaran, dan sumber daya manusia yang optimal. Selain itu, distribusi film pendek ini direncanakan secara strategis dan terstruktur agar dapat menjangkau target penonton yang lebih luas baik melalui platform digital maupun konvensional. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pengendalian yang tepat dalam setiap tahapan produksi sangat berperan dalam memastikan kelancaran dan kesesuaian hasil akhir dengan visi kreatif film. Selain itu strategi distribusi yang terencana juga membantu film pendek “Panon Hideung” mencapai target penonton yang lebih luas serta mendukung upaya pelestarian budaya melalui karya audio visual. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa peran Produser dalam strategi pengendalian produksi dan distribusi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan film tersebut. Strategi ini dapat menjadi panduan bagi produksi film pendek lain yang bertujuan untuk memaksimalkan kinerja produksi dalam industri film di Indonesia.
-
MEMBANGUN NUANSA DRAMATIK MELALUI RITME EDITING DALAM FILM BELENGGUTragedi tahun 1965 di Indonesia merupakan kejadian masa lalu yang tidak dapat dilupakan oleh korban yang mengalami trauma mendalam yang bersifat fisik maupun mental, para korban di tahan tanpa ada proses hukum dan di siksa yang mengakibatkan gangguan mental PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) hingga beberapa orang dinyatakan hilang. Penyintas yang selamat menghadapi keadaan sosial dimana para korban menghadapi pengasingan, pembatasan gerak sehingga mereka semakin sulit bersosialisasi dari pengalaman trauma yang seharusnya mejadi bagian dari proses penyembuhan. Penyunting gambar atau Editor Film memiliki peran yang penting dalam sebuah proses produksi film. Tugas dari editor adalah menyusun dan mengolah hasil rekaman, ritme editing mengatur visual dan audio agar dapat membangun suasana dalam adegan dan emosi karakter dengan mengatur pacing, cutting, transisi, warna, dan audio. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode kualitatif yang melibatkan pencarian dan mengumpulkan jurnal, artikel, buku, dan wawancara dengan narasumber professional. Dalam konteks film ritme editing adalah mengatur tempo agar selaras dengan konsep transcendental yang merujuk pada pendalaman emosi dengan pengambilan gambar yang berdurasi lama atau slow pace dan memfokuskan pada karakter utama dalam adegan.
-
PENDEKATAN ISU ANOMIE SUICIDE DALAM BENTUK SLOW CINEMA “Blue, that we don’t know what blue is”Film pendek ini bertujuan untuk menghadirkan sudut pandang alternatif terhadap kasus bunuh diri yang melibatkan ibu dan anak. Masyarakat umumnya menilai tindakan tersebut dari perspektif etis tanpa mempertimbangkan faktor-faktor kompleks yang melatarbelakangi keputusan tersebut. Film ini dirancang untuk menyampaikan pengalaman emosional dan psikologis yang dialami oleh ibu, sehingga penonton dapat merasakan tekanan dan dilema moral yang dihadapinya. Konsep film menggunakan bentuk slow cinema, yang mempunyai tempo lambat, minim dialog, dan penggunaan longtake. Pendekatan ini dipilih untuk memberikan ruang bagi penonton untuk merenung dan meresapi setiap adegan. Metode pembuatan film meliputi tiga tahap: praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Tahap praproduksi mencakup riset, penyusunan naskah, serta perencanaan visual. Produksi berfokus pada pengambilan gambar yang menciptakan suasana reflektif, sementara pascaproduksi mencakup proses penyuntingan untuk mempertahankan konsistensi suasana dan pesan. Hasilnya, Film ini rampung dibuat dengan mengupayakan gagasan sutradara dan penulis naskah lewat film. Karya ini diharapkan dapat membangkitkan empati dan membuka diskusi lebih luas tentang bagaimana kita seharusnya secara etis memandang peristiwa bunuh diri yang melibatkan ibu dan anak. Yang pada akhirnya tidak mengabaikan sisi humanis dari peristiwa tersebut.
-
MEMORABLE Filosofi Mulih Ka Jati Mulang Ka Asal Sebagai Gagasan Karya AssemblingIndonesia sebuah negara yang memiliki berbagai macam suku dan budaya yang melimpah, pada setiap suku yang ada di Indonesia memiliki jati diri dan makna-makna yang berbeda disetiap wilayahnya. Indonesia memiliki suku yang sudah tidak asing di dengar oleh setiap masyarakat yaitu suku Sunda. Filosofi mulih ka jati mulang ka asal dari suku Sunda mengajak kita untuk kembali pada jati diri dan asal usul, menekankan pentingnya introspeksi dan penghargaan terhadap warisan budaya. Dalam konteks Tugas Akhir ini, penulis berusaha mengeksplorasi tema tersebut melalui karya seni assembling menggunakan batu hebel. Melalui metode penelitian kualitatif, penulis ingin menggali makna mendalam dari pengalaman hidup dan kenangan, serta mendorong penikmat untuk merenungkan hubungan mereka dengan diri sendiri dan Sang Pencipta. Karya ini diharapkan dapat menjadi pengingat akan nilai-nilai identitas dan perjalanan hidup, serta pentingnya menghargai setiap momen yang telah dilalui. Dengan demikian, mulih ka jati mulang ka asal bukan hanya sebuah ungkapan, tetapi juga panduan untuk memahami diri dan menghargai warisan budaya yang membentuk kita sebagai individu. Penulis memvisualisasikan kepada sebuah karya yang mengangkat tentang memori atau mengenang masa yang sudah lalu.
-
PENDEKATAN NEO-REALISME DALAM PENYUTRADARAAN FILM SILENCE ART STORIESFilm Silence Art Stories terinspirasi dari kisah nyata Gebar Sasmita, seorang tahanan politik yang dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September 1965 dan ditahan tanpa proses peradilan dari tahun 1965 hingga 1979. Dengan pendekatan neorealisme, film ini menggambarkan realitas keras kehidupan para tahanan politik dan dampaknya terhadap masyarakat kelas bawah. Tema ini menarik karena mengangkat isu sejarah yang jarang dieksplorasi, sekaligus memadukan elemen naratif dan sinematik untuk merekonstruksi suasana era Orde Baru. Konsep penciptaan berfokus pada tiga aspek utama: Bagaimana cara penggambaran Gebar Sasmita dalam komposisi frame within frame yang memperlihatkan keterbatasan masyarakat kelas bawah? Bagaimana membangun Mise en Scene dalam Film Silence Art Stories agar sesuai dengan realitas kehidpuan masyarakat kelas bawah dan Bagaimana penerapan CGI dalam film Silence Art Stories digunakan untuk membangun setting kehidupan masyarakat yang terpenjara dan realitas masyarakat kelas bawah? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, seperti wawancara, studi pustaka, dan kajian media, sementara metode penciptaan mencakup empat tahap: riset dan pengembangan, pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Hasilnya, film ini berhasil merekonstruksi kondisi sosial dan psikologis tahanan politik melalui estetika visual yang mendalam. Teknik sinematik, seperti tata cahaya, pemilihan shot, dan mise en scene, digunakan untuk menciptakan atmosfer autentik yang memperkuat narasi emosional dan pesan sejarah kepada penonton.
-
STEREOTIPMASYARAKAT TERHADAP SEORANGPENARI PADA PENULISAN SKENARIO “WANGSUL”Perubahan nilai budaya pada tari Bedhaya Ketawang masih banyak yang belum memahaminya. Akibat kurangnya pemahaman perubahan nilai tersebut, munculah stereotip dan stigma negatif dari masyarakat pada penari khususnya Bedhaya Ketawang ini. Tujuannya adalah untuk mengedukasi masyarakat mengenai perubahan nilai budaya pada tari Bedhaya Ketawang dan meminimalisir adanya stereotip dan stigma terhadap penari. Mengunakaan metode kualitatif berupa wawancara, riset online, dan obervasi langsung ke Keraton Surakarta Hadiningrat. Serta menggunakan struktur berupa Freytag’s Pyramid untuk struktur dramatik. Dengan menggunakan aplikasi scenarist, menghasilkan sebuah skenario dengan genre drama, berdurasi kurang lebih 48 menit dengan total 42 scene.
-
NARASI PEMBERONTAKAN PADA PESIMISME DALAM EKSPERIMENTASI PASCA FOTOGRAFIS PATAH RUNTUH TUMBUHKegagalan dalam mencapai tujuan merupakan bagian tak terhindarkan dalam perjalanan hidup manusia, ia dapat menjadi titik balik kemajuan positif atau justru menghambat perkembangan diri. Sebagai respon alami pertahanan diri manusia, hal tersebut memberi dampak seperti rasa takut, kecemasan, dan sikap pesimis. Jika dibiarkan dalam jangka panjang, pesimisme dapat menimbulkan kerusakan pada diri dan jiwa. Dengan tekad kuat, pesimismedapat diubah dan dikelola dengan mengembangkan ekspektasi positif atau optimisme. Salah satunya melalui ekspresi diri yang positif. Fotografi, khususnya dalam fotografi ekspresi atau fine art photography, dapat menjadi media pengungkapan yang efektif untuk menyalurkan ekspresi tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode penciptaan karya practice-led research.Karya fotografi yang dihasilkan memakai teknik eksperimen merobek dan menjahit foto gabungan dari fotografi dengan media benang rajut.Warna gambar hitam-putih menampilkan manusia dengan ekspresi, gestur, properti, dan tekstur dipadukan cahaya kontras yang dramatis menggambarkan perasaan getirnya memori dan keputusasaan. Eksperimen pada foto menciptakan pola acak yang merepresentasikan amarah, ketidakberdayaan, pemberontakan, dan penerimaan diri . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fotografi tidak hanya sebagai media dokumentasi, tetapi juga sebagai sarana ekspresi yang mampu menyampaikan emosi, refleksi diri, dengan caran menghadirkan keterbukaan atas ketidaksempurnaan dan luka.
-
PENERAPAN TEKNIK SINEMATOGRAFI NATURALIS UNTUK MEMPERKUAT NARASI DALAM FILM “LUNAS NEPI KA MODYAR”Sinematografi Naturalis merupakan teknik pengambilan gambar dengan pendekatan visual yang bertujuan menciptakan kesan realistis dalam film, seperti pencahayaan alami, komposisi sederhana dan sudut pandang yang tidak mencolok. Karya ini bertujuan untuk mengekplorasi penerapan sinematografi naturalis sebagai pendekatan visual dalam memperkuat narasi film ”Lunas Nepi Ka Modyar”. Karya penata kamera ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, studi media dan studi pustaka. Dengan metode penciptaan melalui proses pra produksi, produksi dan pasca produksi Sinematografi naturalis yang diterapkan pada film “Lunas Nepi Ka Modyar” menggunakan pencahayaan natural dengan menciptakan pencahayaan buatan menyerupai pencahayaan alami seperti matahari, serta type of shot yang sederhana seperti Medium close-up, Medium shot, dan Long shot. Berbagai teknik yang diaplikasikan tersebut menciptakan kesan memperkuat narasi dalam film sehingga dapat dirasakan oleh penonton dan merasa seolah-olah sedang menyaksikan kejadian nyata, serta meningkatkan keterlibatan dan empati penonton.
-
VISUALISASI RINDU KEPADA IBU MELALUI FOTOGRAFI EKSPRESI RUANG RINDUKematian merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia. Kehilangan ibu akibat Covid-19 memunculkan berbagai emosi kompleks, termasuk rasa kehilangan, rasa bersalah, kemarahan, dan kesedihan. Tidak ada persiapan yang benar-benar dapat mempersiapkan seseorang untuk pengalaman kehilangan seorang ibu yang dicintai. Untuk mengatasi perasaan kehilangan tersebut, mengenang momen-momen bersama ibu menjadi cara untuk terhubung kembali dengan kerinduan yang mendalam dan ikatan emosional. Karya Tugas Akhir ini, berjudul Visualisasi Rindu kepada Ibu melalui Fotografi Ekspresi "Ruang Rindu", bertujuan merepresentasikan kerinduan tersebut melalui media fotografi. Karya ini menangkap kenangan tentang interaksi sehari-hari dengan ibu, seperti memasak di dapur dan bersantai di ruang keluarga, yang menciptakan ikatan emosional yang mendalam. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan deskriptif, yang bertujuan mengeksplorasi pengalaman personal secara detail. Selain itu, metode Practice-led Research diterapkan dalam proses penciptaan karya ini, yang menghubungkan proses kreatif langsung dengan praktik fotografi. Dalam karya ini, ibu ditempatkan sebagai fokus perhatian, kehadirannya disiratkan melalui barang-barang pribadinya. Kehadirannya tidak terlihat tetapi dapat dirasakan, menciptakan representasi sosok ibu yang tetap hidup melalui kenangan dan objek sehari-hari. Karya ini tidak hanya memiliki makna personal tetapi juga membahas tema universal tentang kehilangan, kerinduan, dan ikatan ibu-anak.
-
KONSEP PEMERANAN TOKOH ABBIE PUTNAM DALAM NASKAH “NAFSU DI BAWAH POHON ELM” KARYA EUGENE O’NEILL TERJEMAHAN TOTO SUDARTO BACHTIARTesis ini mengkaji proses pemeranan tokoh Abbie Putnam dalam Desire Under The Elms karya Eugene O’Neill, versi terjemahan Toto Sudarto Bachtiar. Tokoh Abbie dipilih karena kompleksitas emosional dan konfliknya yang kuat dalam konteks drama realis. Metode Stanislavski digunakan dengan menekankan given circumstances, magic if, dan memori emosional. Pemeranan dikembangkan melalui latihan terstruktur seperti observasi, analisis naskah, improvisasi, dan eksplorasi fisik. Hasilnya menunjukkan pentingnya pendekatan emosional dan kerja tim dalam menciptakan karakter tragis secara autentik di atas panggung.
-
KONSEP PENYUTRADARAAN NASKAH ”PERTJA” KARYA BENNY YOHANESSkripsi ini memuat beberapa topik dalam landasan penulis/penggarap pada proses penyutradaraan naskah Pertja karya Benny Yohanes yang menggambarkan fenomena Mental Illness pada setiap tokoh. Penyutradaraan dilakukan dengan penerapan metode Suyatna Anirun yang tercantum dalam buku ‘Menjadi Sutaradara’. Kemudian penulis/penggarap melakukan pembacaan psikologis dari tokoh dengan teori psikologi dari buku “Psikoanalisis Sigmund Freud” yang ditulis oleh K. Bertens 2006. Analisis menunjukkan bahwa fenomena tentang Mental Illness menjadi latar psikologi dari setiap permasalahan yang dialami oleh seseorang dan sebagai akar dari sifat seseorang. Melalui penyutradaraan ini, diharapkan pertunjukan tidak hanya menjadi hiburan tetapi juga media refleksi dan pembelajaran terhadap isu-isu psikologi yang relevan.
-
KONSEP GARAP PENYUTRADARAAN NASKAH “RUMAH KERTAS” KARYA NANO RIANTIARNONaskah Nano Riantiarno "Rumah Kertas" (1977) mengkritik sistem pemerintahan yang kejam dan tidak berpihak pada kemanusiaan. Dalam teori penyutradaraan, naskah ini ditafsirkan dengan menggunakan pendekatan simbolik dan ekspresionistik untuk memperkuat pesan bahwa kekuasaan adalah sesuatu yang absurd yang menyebabkan keterasingan manusia. Tokoh-tokoh digambarkan sebagai korban dari sistem pemerintahan yang tidak masuk akal, dan manipulatif. Tata artistik dimaksudkan untuk mendukung suasana tekanan psikologis dan tata cahaya dramatis yang menggambarkan kesedihan dan kehilangan identitas dalam diri seseorang. Selain itu, sebagai cara untuk menegakkan sistem yang membatasi kebebasan individu, penekanan diberikan pada pola gerak mekanis dan diskusi yang terorganisir. Konsep penyutradaraan ini tidak hanya bertujuan untuk menyampaikan kritik sosial-politik terhadap masa Orde Baru, tetapi juga untuk membuka ruang berpikir tentang sistem pemerintahan kontemporer yang terus bertahan hingga saat ini. Oleh karena itu, "Rumah Kertas" sebagai alat teater menunjukkan pentingnya mempertahankan kemanusiaan di tengah sistem pemerintahan.
-
KONSEP PEMERANAN TOKOH MAGDA DALAM NASKAH “JAM DINDING YANG BERDETAK” KARYA NANO RIANTIARNOMagdan menjadi tokoh yang dipilih untuk diperankan dalam naskah “Jam Dinding Yang Berdetak” karya Nano Riantiarno. Tokoh Magda merupakan seorang anak pertama yang menggambarkan bagaimana seorang kakak menghadapi berbagai konflik yang ada dalam keluarganya yang sedang mengalami krisis ekonomi. Bagaimana Magda harus tetap bertahan hidup dengan keluarganya, tokoh Magda harus bekerja untuk membantu ekonomi keluarga dan membiayai kuliah adiknya yaitu Benny. Seni peran yang mengemas karakter Magda dibangun melalui perasaan, gerak tubuh, gaya bicara, dan kesadaran Magda membangun ruang imajinatif. Buku yang menjadi rujukan dalam proses membangun tokoh Magda yaitu menggunakan buku “Menjadi Aktor” karya Suyatna Anirun. Buku tersebut menjadi panduan dasar penulis selama proses pertunjukan dan membantu aktor dalam wilayah kesadaran sebagai aktor dengan tubuhnya, vokalnya, sukmanya, lalu membantu aktor dalam membangun ruang dan mencari ruang.Tokoh Magda di perankan oleh Penulis pada naskah “Jam Dinding Yang Berdetak” dipentaskan di Gedung Kesenian Sunan Ambu ISBI Bandung secara langsung.
-
LUKA TANPA OBAT: Eksplorasi Krisis Identitas akibat Ambiguitas Eksistensial Manusia dalam Penciptaan Naskah Lakon TeaterKrisis identitas di era modern semakin kompleks akibat globalisasi, perubahan sosial, dan dominasi teknologi yang mengaburkan autentisitas individu. Terjebak antara tradisi dan modernitas, manusia sering membentuk citra diri berdasarkan ekspektasi sosial. Karya ini mengeksplorasi ambiguitas eksistensial melalui realisme simbolik, menghadirkan dialog reflektif dan konflik batin dalam pencarian makna, serta mengajak penonton merenungkan bagaimana zaman membentuk pemahaman tentang eksistensi.
-
PEMERANAN TOKOH RAJA DALAM LAKON PRABU MAHA ANU KARYA ROBERT PINGET TERJEMAHAN SAINI KMSkripsi ini membahas proses pemeranan tokoh Raja dalam lakon Prabu Maha Anu karya Robert Pinget yang diterjemahkan oleh Saini KM. Naskah ini merupakan karya teater absurd yang sarat akan nilai-nilai filsafat eksistensialisme, terutama terkait keterasingan, kebosanan, dan kesia-siaan hidup. Skripsi ini bertujuan untuk mengeksplorasi metode pemeranan yang tepat dalam merepresentasikan karakter Raja yang kompleks, absurd, dan pesimistis. Pendekatan yang digunakan adalah konvensi akting presentasi dengan penerapan metode Stanislavski, seperti observasi, imajinasi, konsentrasi, dan ingatan emosi. Proses kreatif dilakukan secara mendalam dengan landasan teori akting dari Stanislavski serta literatur pendukung lainnya. Tantangan utama dalam pemeranan tokoh ini adalah menafsirkan absurditas dan menggambarkan emosi yang tidak eksplisit secara empatik kepada penonton. Skripsi ini juga menawarkan pendekatan artistik baru sebagai pembeda dari pementasan Prabu Maha Anu sebelumnya. Hasil akhir dari penciptaan tokoh ini diharapkan dapat menyampaikan gagasan filosofis eksistensialisme dan absurditas secara efektif kepada apresiator serta memberikan kontribusi dalam pengembangan seni pemeranan teater modern di Indonesia.
-
KONSEP PEMERANAN TOKOH ‘MARIE PATTIWAEL’ DALAM NASKAH ‘JAM DINDING YANG BERDETAK’ KARYA NANO RIANTIARNOSkripsi ini membahas pengembangan konsep dan peran tokoh ‘Marie Pattiwael’ dalam naskah ‘Jam Dinding Yang Berdetak’ Karya Nano Riantiarno, skripsi ini bertujuan untuk mengkaji proses penciptaan karakter secara mendalam dengan fokus pada metode dan teknik pemeranan yang digunakan untuk menghidupkan tokoh Marie di atas panggung. Proses yang dilalui mencakup tahap eksplorasi, persiapan diri, pendalam karakter, pengembangan klimaks, dan tempo dramatik. Pertunjukan ini diawali dengan analisis naskah, dilanjutkan dengan proses latihan seperti olah tubuh, olah vocal, ekspresi.
-
TUHAN TAK PERNAH SALAHLakon Tuhan Tak Pernah Salah mengisahkan Khansa, seorang perempuan muda dari keluarga miskin yang berjuang melawan isolasi sosial, stigma, dan tekanan hidup di tengah pandemi COVID-19. Lakon ini mengeksplorasi kekuatan batin Khansa dalam menghadapi keterpurukan serta pencariannya akan makna dan pemulihan diri. Dengan mengaplikasikan prinsip Well-Made Play, naskah ini disusun dengan alur yang terstruktur, konflik yang intens, dan penyelesaian yang menyentuh. Visualisasi yang kuat serta dialog yang natural memperkuat gambaran dampak pandemi terhadap individu, khususnya perempuan dari kelas sosial bawah. Lakon ini tidak hanya menyajikan cerita dramatik, tetapi juga menjadi refleksi tentang ketahanan jiwa dan pentingnya harapan di tengah krisis kemanusiaan.
-
PENATAAN ARTISTIK DALAM NASKAH “A STREETCAR NAMED DESIRE” KARYA TENNESSEE WILLIAMS TERJEMAHAN TOTO SUDARTO BACHTIARKonsep garap tata artistik dalam naskah A Streetcar Named Desire karya Tennessee Williams difokuskan pada penciptaan suasana visual yang mampu merefleksikan konflik psikologis dan moral antar tokohnya. Dengan pendekatan realisme, elemen tata panggung, rias, kostum, pencahayaan, dan musik dirancang untuk memperkuat dramatika naskah secara estetis. Penata artistik bertindak sebagai jembatan interpretatif antara teks dan pentas, membentuk ruang visual yang selaras dengan konteks sosial dan emosional dalam cerita.
-
EKSPLORASI PENGALAMAN PENONTON TEATER PASCAPERTUNJUKAN TEATER DI RUANG-RUANG PERTUNJUKAN KOTA BANDUNGPenelitian ini menggunakan jenis metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Objek penelitian merupakan pengalaman penonton dengan subjek penelitian yang akan diamati adalah penonton pertunjukan teater yang telah menyaksikan pertunjukan teater dikota bandung melalui teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif secara langsung, wawancara, serta studi dokumentasi. Adapun penelitian ini dilakukan diruang-ruang pertunjukan terpilih Kota Bandung, yakni Gedung Kesenian Rumentang Siang, Taman Budaya Jawa Barat, Celah-Celah Langit, dan ISBI Bandung. Hasil penelitian mengenai pengalaman penonton tentang tentang isu-isu yang diangkat setelah menyaksikan pertunjukan teater di Kota Bandung serta mendeskripsikan komunikasi antara penonton dengan pertunjukan teater di Kota Bandung sehingga didapat dampak pengalaman penonton terhadap keberlanjutan teater serta implikasinya terhadap seniman, penyelenggara pertunjukan, dan pengelola ruang pertunjukan.
-
“RUMAH KITA” TEATER SEBAGAI RUMAH KEDUANaskah lakon Rumah Kita adalah naskah yang diciptakan oleh penulis melalui keresahan yang melihat peristiwa yang marak terjadi pada siswa-siswi sekolah menengah atas, yang melakukan aksi bullying terhadap teman sekolah. Pelaku bullying adalah orang-orang broken home, anak broken home sering meniru perilaku kekerasan yang mereka alami atau disiksa di rumah, sehingga mereka melakukan kekerasan kepada orang lain, termasuk bullying. Dengan teater menjadi rumah kedua bagi korban dan pelaku untuk bisa menemukan rumah bersama, agar bisa meluapkan emosi secara positif, melalui seni teater menjadi ruang aman, menciptakan aktivitas kreatif untuk siswa-siswi sekolah melalui teater.
-
HAVOC: SEBUAH LAKON TENTANG DAMPAK PERCERAIAN PADA KARAKTER ANAKPenulisan lakon berjudul “Havoc” mengangkat tema dampak perceraian pada anak. Naskah lakon ini menggambarkan bagaimana perceraian dapat memengaruhi perubahan karakter anak. Penulisan lakon ini berangkat dari keresahan saya yang melihat maraknya perceraian. Pada akhirnya ada banyak anak yang memiliki rasa trauma akibat perceraian orangtua. Keutuhan keluarga sangat dibutuhkan perannya dalam membangun kepribadian yang positif untuk anak. Kondisi keluarga yang tidak harmonis bahkan hingga berujung pada perceraian akan membuat anak menjadi kehilangan arah, terlebih jika anak tersebut sedang memasuki fase remaja. Penulisan lakon ini menerapkan Inner-Play, metode kreatif dalam menulis lakon. Proses yang dilakukan sebelum penulisan lakon ini penulis melakukan studi literatur dan observasi lapangan berdasarkan lingkungan pertemanan penulis. Hasil dari penulisan lakon ini diharapkan dapat menjadi teman bagi siapa pun yang diam-diam merasa sendiri akibat perceraian.
