Items
-
MONORAGAMRepetisi atau pengulangan dalam komposisi musik bagi sebagian orang kerap dianggap sebagai sesuatu yang kurang berbobot, mudah ditebak, dan membosankan. Meskipun diketahui dalam satuan yang sama, pengulangan selalu menyimpan keberagaman yang tersembunyi dan terkadang hanya bisa dirasakan oleh kepekaan seseorang pada tingkat tertentu. Sebagaimana fenomena waktu yang terus hadir dalam satuan yang sama (jam, menit, detik), namun senantiasa memperlihatkan ragam peristiwa di setiap siklusnya. Penulis menjadikan waktu sebagai ide penciptaan komposisi musik dengan tujuan mengelaborasi ragam pola dan teknik komposisi pada rangkaian melodi datar dan berulang, serta mengeksplorasi potensi musik bambu dengan perspektif garap komposisi yang tidak umum. Adapun metode penciptaan yang digunakan di antaranya, mencari konsep ide gagasan, menganalisis audio-visual, studi pustaka, eksplorasi dan penyusunan bentuk komposisi karya untuk di aplikasikan ke dalam alat musik bambu. Sebagai media ungkap karya penulis menggunakan tiga intrumen carumba yang dimainkan oleh tiga orang dengan posisi penyajian membentuk segitiga. Untuk menghadirkan keragaman dalam alur melodi yang monoton, penulis menerapkan teori dinamika dengan nada dasar DO=C, A, E dengan Time Signature 4/4 dan 16/8. Selain itu penulis juga mengaplikasikan teknik permainan interlocking untuk membentuk tekstur komposisi yang terkesan kaya akan pola ritmis. Hasilnya adalah (1) sebuah bentuk komposisi instrumental yang diberi judul Monoragam dengan tiga bagian struktur di dalamnya. Pada struktur pertama penulis merangkai pola permainan solo carumba dengan tempo 60 bpm yang menghasilkan tekstur monophonic. Pada bagian kedua penulis menonjolkan permainan interlocking pada carumba High dan Low untuk menghasilkan bentuk pola ritmis. Bagian ke tiga penulis menonjolkan pengulangan dengan tempo cepat dan dinamika yang sangat keras untuk membentuk klimaks pada komposisi karya. (2) lewat karya Monoragam terbagun sebuah kesadaran bahwa repetisi yang monoton mempunyai ragam ekspresi dan kesan emosional jika di tangani serta di pahami oleh kepekaan musikal yang baik.
-
KUCING HOKIKarya berjudul Kucing Hoki, memiliki genre musik pop yang menggunakan tangga nada diatonis dan tangga nada pentatonis hirajoshi. Karya musik ini terinspirasi dari alur legenda kucing hoki di Jepang, kemudian dikembangkan menjadi musik instrumental dan dituangkan menjadi empat bagian. Legenda kucing hoki menceritakan tentang seorang prajurit bernama Li Naotaka yang berhasil selamat dari pohon tumbang yang tersambar oleh petir karena dipanggil oleh seekor kucing di kuil Budha yaitu kuil Gotokuji. Legenda kucing hoki ini sebagai asal muasal terbentuknya kebudayaan memajang kucing hoki di tempat usaha yang dipercaya bisa membawa keberuntungan bagi pemiliknya. Teknik musikal yang digunakan yaitu repetisi, imitasi, modulasi, perubahan dinamika dan tempo. Karya ini juga menggunakan tambahan sound effect yaitu suara kucing dan suara petir. Media atau instrumen yang digunakan yaitu carumba melodi, carumba bas dua buah, bas elektrik, floor drum dan cymbal crash.
-
WAJAH-WAJAH BERKABUNG SEBAGAI INSPIRASI BERKARYA SENI LUKIS Pengolahan Teknik dan Media ArtistikWajah atau muka adalah bagian depan dari kepala pada manusia yangmeliputi wilayah dari dahi hingga dagu. Wajah terutama digunakan untuk ekspresi wajah, penampilan serta identitas. Wajah merupakan salah satu bagian terpentingpada tubuh manusia dan merupakan objek identifikasi yang paling mudah. Disetiap kartu tanda penduduk (KTP) atau tanda pengenal, terpajang foto wajahdari pemiliknya tersebut. Foto tersebut tervisualisasikan sangat dominan denganbeberapa keterangan yang menguatkan identitas tersebut. Foto wajah di KTPadalah salah satu contoh objek identifikasi sedangkan contoh lainnya padapengumuman atau informasi orang hilang. Keluarga atau kerabat yang kehilangananggotanya akan menginformasikan kepada orang-orang dengan membuat iklan. Dalam iklan yang disebar memuat informasi dengan menampilkan wajah oranghilang beserta identitas lainnya.
-
Ludira Seta: Alih Wahana Garap Musik WayangLudira Seta: alih wahana garap musik wayang merupakan konstruksi karawitan dan musik yang diwujudkan melalui pemikiran teoritik kreativitas yang digagas Margaret.A Boden (2010). Substansi garap yang terdapat pada seluruh kompositoris musikal mengikuti alur skematik cerita. Implementasi dari proses garap secara metodik tidak bersifat parsial melainkan diformulasi melalui konsep kolaboratif dengan menyertakan varian dimensi pertunjukan (multidimensi). Metode pembentukan komposisi musikal mengacu pada konsep garap Rahayu Supanggah mengenai: (1) Materi garap; (2) Penggarap; (3) Sarana garap; (4) Prabot/Piranti garap; (5) Penentu garap; (6) Pertimbangan garap. Kedua konsep Kreativitas (Boden, 2010 dan Supanggah, 2011) menghasilkan bingkai keutuhan artistik yang divisualisasi mengabstraksi cerita yang diformat melalui format pertunjukan virtual. Kompleksitas garap musik secara substansial dihadirkan dari 2 sumber dan latar belakang tradisi yang berbeda, yaitu tradisi musik yang berlatar belakang konvensi karawitan Sunda serta tradisi musik yang berlatar belakang musik klasik barat. Kedua latar belakang musik tersebut sebagian besar diproses melalui sistem Digital Audio Workstation (DAW) serta mengacu pada referensi Electronic Dance Music (EDM). Temuan dari penciptaan karya ini di samping secara pengerjaan memiliki metodologi yang khas tetapi sekaligus menghasilkan varian baru tentang karakter bunyi pada karawitan Sunda dapat dijadikan sebagai opsi kreatif musik pertunjukan wayang golek. Keywords: Kreativitas, Garap, Wayang Golek, DAW.
-
FENOMENA PERUBAHAN BENTUK HIASAN TUTUP LAMPU BERBAHAN DASAR BAMBU (Studi Kasus: Selaawi, Garut)Kerajinan bambu di daerah Garut, lebih tepatnya di Kecamatan Selaawi merupakan gambaran pemberdayaan hasil alam yang ada di sekitar menjadi sesuatu yang sangat berperan penting untuk masyarakat Selaawi, bambu selain dimanfaatkan untuk keperluan pribadi juga menjadi salah satu mata pencaharian bagi masyarakat sekitar. Kerajinan bambu yang menjadi suatu kebanggaan masyarakat Selaawi ialah sangkar burung yang berukuran besar. Beberapa hal yang menjadi masalah pada kajian ini adalah seberapa besar pengaruh terhadap pengembangan bentuk dan ragam hiasan tutup lampu, baik dari masyarakat luar maupun dari masyarakat Daerah Selaawi itu sendiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi, yakni pendekatan untuk menggali dan mengungkap kesamaan makna dari sebuah konsep atau fenomena yang menjadi pengalaman hidup kelompok atau individu pada masyarakat lokal Selaawi dalam pemanfaatan alam sekitar. Metode yang digunakan adalah Metode kualitatif dimana sebuah pandangan yang diperoleh untuk menemukan hasil dari pemahaman yang beragam. Sedangkan hasil yang diharapkan pada kajian ini ialah kesadaran para pengrajin yang dirasa sangat penting dalam setiap perubahan pada setiap kerajinan yang dihasilkan. Kreativitas para pengrajin ini menjadi modal utama dalam menciptakan suatu kerajinan bentuk baru dan beragam sekaligus memperkenalkan kerajinan bambu ke masyarakat luas sebagai ciri khas atau identitas yang berasal dari Daerah Kecamatan Selaawi.
-
SEJARAH TARI BADAYA WIRAHMASARI RANCAEKEKTari Badaya Wirahmasari Rancaekek diciptakan oleh Rd. Sambas Wirakoesoemah pada tahun 1930, bersumber dari Tari Karawitan Istri yang telah dibuat sebelumnya pada tahun 1924/1925. Dalam perkembangannya, Tari Badaya ini telah melewati tiga regenerasi yang kemudian mengembangkan tarian ini. Penelitian ini akan menjawab tentang bagaimana sejarah perkembangan Tari Badaya di Priangan, khususnya perkembangan Tari Badaya Wirahmasari Rancaekek sebagai satu-satunya artefak Tari Badaya dari masa kolonial. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teori strukturasi Anthonny Giddens. Adapun metode yang digunakan ialah metode sejarah yang memiliki tahapan yakni heuristik, kritik, interpretasi, serta historiografi. Dalam sejarah perkembangannya, Tari Badaya Wirahmasari Rancaekek yang diciptakan oleh Rd. Sambas Wirakoesoemah sekitar tahun 1925-1930 sebagai agen pertama, telah dua kali diregenerasikan yakni kepada Rd. Nugraha Sudiredja pada tahun 1950-an yang kemudian diajarkan kepada Irawati sekitar tahun 1980-an. Ditangan mereka Tari Badaya kemudian direpresentasikan kembali sesuai dengan pengalaman estetis serta interpretasi masing masing
-
TRANSFORMASI KESENIAN GENYE DALAM BENTUK PERTUNJUKAN HELARAN DI KABUPATEN PURWAKARTA TAHUN 2009-2019Transformasi Kesenian Genye dari tahun 2009-2019 ini, diangkat sebagai judul tesis karena memiliki keunikan, terutama adanya perubahan bentuk pertunjukan di setiap tahunnya. Fenomena yang terjadi pada saat ini, Kesenian Genye sudah diakui sebagai kesenian khas Purwakarta, namun ciri khasnya masih belum ditemukan sehingga masih perlu di gali kembali untuk mendapatkan khas dari Kesenian Genye tersebut. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui awal terbentuknya kesenian Genye dan perkembangannya. Teori yang digunakan yaitu menurut Michael Krauzs transformasi adalah transformasi terjadi karena adanya penafsirkan yang mengubah pertunjkan baik dilakukan oleh inisiator, kreator, penata musik, penata tari dalam Kesenian Genye. Anthony Antoniades transformasi adalah perubahan di pengaruhi faktor eksternal dan internal. Metode yang digunakan, adalah metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskripsi analisis, serta melibatkan penulis sebagai bagian dalam penelitian atau insider, sehingga dapat mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi dalam seni Genye dari tahun 2009-2019. Hasil yang diperoleh, terjadi adanya transformasi pada Kesenian Genye, terutama dari bentuk pertunjukan, baik dari gerak tari, iringan musik, serta properti yang digunakan pada setiap tahunnya. Namun demikian, perubahan-perubahan tersebut menjadikan adanya ciri khas dan jatidiri, antara lain lagu khas yang berjudul Sate Maranggi, gerakan tari, ayun nyere, kosrek nyere, dan laga nyere, serta properti badawang topeng yang bahan dasarnya dibuat dari ayakan bambu dan nyere (lidi).
-
IDENTITAS BUDAYA DALAM FILM INDEPENDEN BANDUNG BERTEMA KELUARGA TAHUN 2006-2014Tulisan dalam bentuk tesis hasil penelitian yang penulis lakukan ini mengkaji persoalan identitas budaya dalam film independen Bandung yang bertema keluarga dalam kurun tahun 2006-2014. penelitian ini menggunakan teori identitas budaya Stuart Hall dengan pendekatan gaya dan bentuk film Bordwell. Dari sisi identitas budaya, maka film-film independen memiliki nuansa khusus dibanding film-film yang dibuat dengan paradigma pasar. Film independen mempunyai ciri khusus yang menjunjung tinggi kebebasan ekspresi dan nilai-nilai seni. Cara-cara produksi film independen juga tidak luput dari perkembangan teknologi dari kamera dan alat-alat penunjang lainnya seperti sound, dan lampulampu. Disamping itu film-film independen juga memiliki keunggulan sendiri pada sisi distribusi dan eksibisi. Festival film dan ruang-ruang putar alternatif merupakan tempat menampilkan filmnya dan hanya di sana penonton dapat mengakses film-filmnya, termasuk film independen yang berasal dari Bandung. Dari sekian banyak sample film-film independen Bandung tahun 2006-2014 yang dikumpulkan peneliti mengerucutkan sample tersebut dengan metode purposive sampling dan mendapatkan bahwa sineas-sineas independen Bandung memiliki kecenderungan untuk membuat film-film bertema keluarga. Terdapat empat film independen yang dikaji yaitu, The Anniversaries karya Ariani Darmawan, Paranoia karya Ary M. Subarkah, It’s Your Wedding Day karya Lulu Fahrullah, Sofyana Ali Bindiar, dan Penghulu karya Destri Tsurayya Istiqomah. Beberapa data dengan data yang lainnya diolah sedemikian rupa dengan metode kualitatif yang disandingkan dengan teori Cultural Identity and Diaspora Stuart Hall dan film style and film form David Bordwell. Berdasarkan penelitian tersebut didapatkan bahwa identitas budaya dalam film-film independen Bandung bertema keluarga menunjukkan bahasa yang digunakan dalam film-film yang diteliti ini dominan menggunakan bahasa urban perkotaan dan hanya satu yang menggunakan bahasa Sunda. Sedangkan identitas budaya yaitu pakaian hanya dominan memakai pakaian urban serta sedikit menampilkan identitas Sunda pada gaun pernikahan.
