Items
-
PEWARISAN BUDAYA DAN STRATEGI MASYARAKAT KAMPUNG DUKUH DI KABUPATEN GARUT DALAM MENJAGA KEBERLANJUTAN RUMAH ADAT SUNDAPenelitian ini bertujuan untuk memahami proses pewarisan budaya yang dilakukan masyarakat Kampung Dukuh dalam membangun rumah adat Sunda serta mengidentifikasi strategi pelestarian yang diterapkan di tengah tantangan modernisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, menggali data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap kehidupan masyarakat di Kampung Dukuh, khususnya di wilayah Dukuh Dalam yang masih memegang teguh aturan adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pewarisan budaya dalam pembangunan rumah adat Sunda dilakukan melalui proses internalisasi, enkulturasi, dan sosialisasi. Nilai-nilai seperti kesederhanaan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap leluhur diwariskan sejak dini dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Strategi pelestarian dilakukan dengan mempertahankan bentuk rumah panggung tradisional, penggunaan bahan alami, serta pelaksanaan ritual adat yang menyertai proses pembangunan rumah adat Sunda. Peran tokoh adat, praktik gotong royong, dan kesadaran masyarakat Kampung Dukuh dalam menjaga warisan budaya menjadi elemen dalam menjaga keberlangsungan tersebut. Selain itu, dukungan pemerintah melalui program Sekolah Lapang Kearifan Lokal (SLKL) turut memperkuat upaya pelestarian.
-
UPAYA PELESTARIAN RITUAL NGAHUMA DALAM TRADISI MENANAM PADI HUMA DI KAMPUNG SUKAPURA, DESA MALANGNENGAH, KECAMATAN CIBITUNG, KABUPATEN PANDEGLANGPenelitian ini mengkaji keberlanjutan Ritual Ngahuma, sebuah praktik tradisional penanaman padi huma yang masih dijalankan oleh keluarga Abah Kalimi di Kampung Sukapura, Desa Malangnengah, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Pandeglang. Ritual ini tidak hanya merepresentasikan aktivitas pertanian lokal, namun juga sarat dengan makna budaya, nilai spiritual, dan kearifan ekologis yang diwariskan antar generasi. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif berbasis studi lapangan dengan teknik observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Fokus utama penelitian ini adalah untuk menggambarkan urutan prosesi Ritual Ngahuma, mengidentifikasi nilai-nilai budaya yang dikandungnya, serta memahami motivasi dan strategi keluarga Abah Kalimi dalam mempertahankan praktik tersebut. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terdapat 13 tahapan dalam Ritual Ngahuma, yang mencerminkan keharmonisan antara manusia, alam, dan aspek spiritual, dengan simbol utama berupa figur Nyi Sri sebagai lambang kesuburan. Keberlangsungan ritual ini dijaga sebagai bentuk penghormatan terhadap amanat leluhur dan dijadikan pedoman etis dalam menjalani kehidupan. Strategi pelestarian dilakukan melalui pewarisan nilai-nilai di lingkungan keluarga serta komunitas petani lokal, meskipun terdapat tantangan seperti anggapan bahwa ritual tersebut usang, bertentangan dengan ajaran agama, dan minimnya ketertarikan generasi muda terhadap dunia pertanian. Studi ini menekankan pentingnya Ritual Ngahuma sebagai bagian dari warisan budaya takbenda yang berperan dalam memperkuat identitas lokal dan mendukung keberlanjutan ekologi dan sosial masyarakat agraris. Pelestarian ritual ini memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak agar tetap eksis di tengah arus perubahan zaman.
-
PERKAWINAN ANAK DI DESA CIPTAHARJA KECAMATAN CIPATAT KABUPATEN BANDUNG BARAT: LIFE HISTORY DAN NARRATIVE PERSONAL PADA LIMA PEREMPUAN MENIKAH USIA ANAKPenelitian ini membahas mengenai fenomena perkawinan anak di Desa Ciptaharja yang masih berlangsung hingga saat ini. Perkawinan anak menjadi isu penting karena berdampak pada kehidupan remaja perempuan, terutama dalam hal pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman perempuan yang melakukan perkawinan anak, faktor penyebab perkawinan anak, dan dampak yang terjadi dalam menjalani perkawinan anak. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, teknik pengumpulan yang dilakukan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan utama dalam penelitian ini adalah lima perempuan yang melakukan perkawinan anak, serta beberapa informan tambahan seperti penghulu, staf desa, bidan desa, orang tua dalam konteks masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena perkawinan anak dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kondisi dorongan orang tua, norma agama, norma budaya, dan pergaulan bebas. Selain itu, terdapat dinamika dalam menjalani kehidupan rumah tangga yang mereka alami termasuk persoalan kesehatan, beban ganda, keterbatasan akses pekerjaan. Penelitian ini juga menemukan bahwa sebagian informan mengalami tekanan psikologis akibat transisi peran yang terlalu cepat dari anak menjadi istri dan ibu. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dalam memahami realita dari praktik perkawinan anak, serta menjadi bahan pertimbangan dalam memutuskan melakukan perkawinan anak, dan upaya intervensi sosial.
-
FENOMENA LIMINALITAS MASYARAKAT PADA RITUAL LARUNG DI JATIGEDE KABUPATEN SUMEDANGPenelitian ini mengkaji fenomena liminalitas yang dialami oleh masyarakat Jatigede, Kabupaten Sumedang, melalui ritual Larung yang muncul sebagai respons budaya terhadap perubahan sosial dan lingkungan besar akibat pembangunan Waduk Jatigede. Waduk yang dikategorikan sebagai proyek strategis nasional ini menyebabkan terendamnya puluhan desa, lahan pertanian, makam leluhur, dan ruang hidup masyarakat adat, sehingga memaksa ribuan penduduk untuk berpindah dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Ritual Larung yang awalnya hanya dimaknai sebagai bentuk mengenang, kini berkembang menjadi ruang budaya simbolik yang mencerminkan usaha masyarakat dalam menjaga memori kolektif, merekonstruksi identitas, dan melanjutkan keberlangsungan budaya di tengah keterputusan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi literatur. Data diperoleh dari tokoh adat, warga terdampak, seniman, akademisi, dan perwakilan pemerintah daerah. Analisis menggunakan teori liminalitas dari Victor Turner yang membagi proses perubahan menjadi tiga tahap utama: separation, liminality, dan incorporation. Ketiga tahapan ini menunjukkan dimensi transisi dan transformasi yang dialami masyarakat Jatigede. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap separation, masyarakat mengalami keterputusan dari tanah kelahiran dan akar budayanya, disertai rasa kehilangan dan keterasingan. Tahap liminality menjadi fase yang paling kompleks, di mana masyarakat berada dalam kondisi “mengambang” antara kehilangan dan harapan. Di fase ini, ritual Larung menjadi media penting untuk mengolah trauma, mempererat solidaritas, dan merawat hubungan spiritual melalui prosesi ziarah, sesajen, tarian Umbul, pelarungan, dan diskusi budaya. Pada tahap incorporation, masyarakat mulai menerima keadaan baru dan menjadikan ritual Larung sebagai sarana penyembuhan, penguatan identitas, dan pelestarian budaya secara kolektif. Dengan demikian, ritual Larung Jatigede bukan sekadar upacara adat, melainkan wujud nyata dari liminalitas budaya masyarakat yang menghadapi transformasi besar. Larung menjadi ruang reflektif atas pengalaman kehilangan dan harapan, sekaligus menjadi strategi budaya untuk bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan.
-
KONSUMERISME MELALUI MEDIA E-COMMERCE PADA KALANGAN GENERASI Z DI KOMPLEKS GRIYA BANDUNG ASRI II BANDUNGHadirnya e-commerce atau platform belanja digital memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk dapat berbelanja kebutuhannya tanpa dibatasi waktu dan tempat. Namun, di sisi lain, hal ini telah mendorong terjadinya perilaku konsumtif, khususnya di kalangan Generasi Z yang memiliki keterikatan kuat dengan teknologi atau sering disebut sebagai digital native. Penelitian ini mengkaji fenomena konsumerisme digital yang terjadi pada kalangan Generasi Z di Kompleks Griya Bandung Asri II, Kabupaten Bandung, dengan menggunakan kerangka teori Liquid Consumerism dari Bauman (2000). Fokus utama penelitian adalah bagaimana perilaku konsumtif melalui platform e-commerce membentuk identitas, gaya hidup, serta memengaruhi kesejahteraan individu dan keluarga. Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan material, tetapi juga sebagai sarana ekspresi diri dan komunikasi sosial yang terus berubah sesuai dinamika masyarakat yang bersifat cair. E-commerce berperan sebagai ruang sosial dan rekreasional yang mendorong perilaku konsumtif, yang berujung pada pengeluaran impulsif dan tekanan ekonomi, terutama bagi mereka yang masih bergantung pada pendapatan keluarga. Fenomena ini mencerminkan orientasi konsumsi jangka pendek yang menjadi ciri khas masyarakat konsumen cair, serta tantangan dalam mengelola keuangan pribadi dan keluarga.
-
SIMBOL DAN MAKNA ZIARAH BAGI PENGUNJUNG DI MAKAM SUNAN GUNUNG JATI DESA ASTANA KECAMATAN GUNUNGJATI KABUPATEN CIREBONTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui simbol dan makna ziarah bagi para pengunjung di makam Sunan Gunung Jati Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang dianalisis berdasarkan teori interpretatif simbolik dari Clifford Geertz. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam tradisi ziarah terdapat tahapan-tahapan yang dilakukan oleh para pengunjung. Tahapan-tahapan tersebut dilakukan karena pengunjung merasa harus menjaga adab ketika datang ke makam Sunan Gunung Jati. Selain itu, dalam tradisi ziarah ini terdapat simbol-simbol, baik itu simbol fisik merupakan simbol yang dapat diraba dan dilihat seperti arsitektur, barang-barang peninggalan dan sebagainya, dan simbol verbal merupakan simbol melalui ucapan seperti doa-doa. Selain itu, tradisi ziarah dimaknai sebagai sebuah harapan yang dititipkan kepada wali atau orang yang dekat dengan Allah swt dan harapan meminta barokah.
-
BENTUK DAN MAKNA PADA TRADISI MAPAG MENAK DI DESA NAGRAK KECAMATAN PACET KABUPATEN BANDUNGPenelitian ini membahas struktur dan makna simbolik dalam tradisi Mapag Menak yang berkembang di Desa Nagrak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Sebagai bagian dari budaya Sunda, Mapag Menak merupakan ritual penyambutan tamu kehormatan yang disajikan melalui arak-arakan budaya, pertunjukan dodombaan dan badawang, pencak silat, musik tradisional, serta sajian makanan khas hasil bumi lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, serta mengacu pada teori interpretasi simbol dari Clifford Geertz, Victor Turner, dan Arnold van Gennep. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Mapag Menak sarat dengan simbol budaya. Dodombaan mencerminkan penghormatan dan keramahtamahan, badawang mewakili semangat kolektif dan sukacita masyarakat, sementara sajian makanan mencerminkan rasa syukur dan kearifan lokal. Seluruh tahapan pelaksanaan mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga refleksi pasca acara—mengandung nilai-nilai kebersamaan, penghormatan terhadap tamu, serta pelestarian tradisi. Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa Mapag Menak bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan tradisi yang hidup dan terus diwariskan, yang memperkuat jalinan sosial dan identitas budaya masyarakat. Upaya pelestarian melalui pendidikan, dokumentasi, serta keterlibatan aktif masyarakat sangat diperlukan agar tradisi ini tetap relevan di tengah perubahan zaman.
-
KESENIAN SASAPIAN SEBAGAI IKON KABUPATEN BANDUNG BARATPenelitian ini berfokus pada pertanyaan penelitian mengenai bagaimana proses materi kesenian sasapian diubah menjadi ikon daerah dan bagaimana ikon kesenian sasapian ini dapat menunjang branding pariwisata daerah. Proses ikonisasi kesenian sasapian dianalisis menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan bagaimana proses ikonisasai kesenian sasapian dan menawarkan model city branding untuk pembentukan branding pariwisata daerah Kabupaten Bandung Barat yang diwakili oleh kesenian sasapian. Manfaat teoritisnya dapat menjadi bahan rujukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan antropologi, terutama yang berhubungan dengan pendekatan semiotika. Manfaat praktisnya memberikan masukan kepada pemangku kebijakan, terutama pemerintah Kabupaten Bandung Barat dalam pengembangan kesenian sasapian. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumen. Hasil penelitian menunjukan bahwa mitos yang berkembang mengenai kesenian sasapian di media pemberitaan dan platform digital adalah kesenian sasapian sebagai ikon daerah. Selain itu, kesenian sasapian dapat menunjang branding pariwisata daerah berdasarkan analisis city branding.
-
PERAN KEAGENAN PADA PERUBAHAN TRADISI SEDEKAH BUMI DI KAMPUNG SAWAH KOTA BEKASI AKIBAT URBANISASIPenelitian ini membahas perubahan tradisi sedekah bumi di Kampung Sawah, Kota Bekasi akibat urbanisasi serta peran aktif agen budaya dalam mempertahankan dan menyesuaikannya. Dulu, tradisi sedekah bumi lekat dengan kehidupan agraris, namun kini mengalami perubahan yang signifikan akibat konversi lahan pertanian menjadi permukiman. Agen utama yang berperan dalam tradisi sedekah bumi adalah Jemaat Gereja Katolik Santo Servatius yang melakukan inkulturasi budaya lokal dalam tradisi gereja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teori strukturasi dari Anthony Giddens guna menganalisis interaksi antara agen dan struktur sosial dalam membentuk ulang tradisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun bentuk tradisi mengalami perubahan serta penyesuaian, namun makna spiritual dan sosial yang ada di dalamnya tetap terjaga. Jemaat Gereja Katolik berperan sebagai agen perubahan yang menghasilkan struktur tradisi melalui tindakan sosial, seperti pelibatan komunitas lintas agama, serta penyelenggaraan tahapan acara yang lebih terbuka dan modern. Tradisi Sedekah Bumi di Kampung Sawah menjadi media pelestarian identitas, solidaritas sosial, dan toleransi masyarakat. Urbanisasi tidak bersifat destruktif terhadap tradisi, melainkan berperan dalam pembentukan kembali makna dan praktik budaya yang relevan dengan zaman.
-
AKSI KOLEKTIF DALAM MEMBENTUK IDENTITAS BERSAMA PADA KOMUNITAS PENGGEMAR KLUB SEPAK BOLA CHELSEA DI BANDUNG (CISC)Suporter sepak bola memainkan peranan penting dalam membangun identitas bersama diantara para anggota komunitas penggemar klub mereka.Aksi kolektif merupakan kegiatan yang dilakukan di dalam komunitas untuk mempererat hubungan diantara sesama anggota sehingga dapat menciptakan identitas bersama yang dianut oleh para anggota komunitas. Komunitas CISC Bandung merupakan komunitas resmi regional Bandung yang dibentuk untuk mereka yang memiliki ketertarikan dengan klub Chelsea yang melaksanakan berbagai aksi kolektif dan partisipasi anggota komunitas sehingga pada akhirnya aksi-aksi kolektif seperti nonton bareng pertandingan Chelsea, futsal rutin, aksi kemanusiaan, perayaan hari jadi komunitas, dan acara malam keakraban pada akhirnya dapat membentuk identitas bersama dan menjadikan hubungan yang solid diantara anggota. Penelitian ini menggunakan teori identitas sosial Henri dan Turner untuk mengkaji bagaimana aksi kolektif dapat membentuk identitas bersama dalam konteks komunitas penggemar klub sepak bola. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan teknik observasi langsung, wawancara dan studi literatur untuk menambah referensi terkait dengan penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Hasil penelitian menunjukan bahwa aksi kolektif yang dilakukan memainkan peranan penting untuk keberlanjutan komunitas. Aksi tersebut antara lain nonton bareng guna mendukung klub kesayangan mereka, Chelsea dan sebagai sarana untuk memperkuat hubungan antara anggota komunitas serta partisipasi yang aktif akan menumbuhkan perasaan emosional dan simbolik baik kepada klub maupun komunitas. Lebih jauh lagi, aksi kolektif tersebut memberikan pengaruh terhadap identitas dari CISC Bandung tersebut dengan menumbuhkan silaturahmi antar sesama anggota, bahwa komunitas ini terbentuk menjadi sebuah keluarga bagi para anggota dan sebagai tempat untuk memperluas relasi. Hal ini menjadi bentuk nyata bahwa komunitas penggemar sepak bola dapat berarti lebih dari sekadar komunitas, melainkan melibatkan perasaan kuat yang tumbuh diantara sesama anggota sehingga menjadikan komunitas ini sebagai bagian dari keluarga mereka. Analisis teori identitas sosial Henri dan Turner menyoroti mengenai 3 tahapan pembetukan di dalam komunitas CISC Bandung, yaitu kategorisasi sosial, identifikasi sosial dan perbandingan sosial.
-
STRATEGI PENGELOLAAN MUSEUM KONPERENSI ASIA AFRIKA DALAM PENGEMBANGAN WISATA SEJARAH DI KOTA BANDUNGMinat terhadap wisata sejarah di Kota Bandung masih minim, oleh karena itu penelitian ini membahas mengenai strategi dan peran Museum KAA dalam peningkatan wisata sejarah di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, studi dokumentasi. untuk mengumpulkan data-data informan berupa anggota, karyawan serta pengunjung Museum KAA. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori Peran milik Soerjono Soekanto yang membagi peran menjadi tiga bagian yaitu: peran aktif, partisipatif dan pasif. Proses analisis datanya dimulai dengan pengumpulan data dilanjutkan dengan langkah-langkah khusus: pengurangan atau penambahan jumlah data, penyajian data, serta pengambilan kesimpulan (validasi). Hasil dari penelitian ini adalah analisis deskriptif yang mencakup: (1) Penjelasan tentang strategi pengelolaan dan program-program yang ditawarkan Museum KAA untuk menarik minat pengunjung, (2) Analisis peran Museum KAA dalam meningkatkan wisata sejarah di Kota Bandung.
-
PERAN DAN RELASI ANTARGENERASI PAGUYUBAN ULIN BARONG SEKELOA SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN DI KECAMATAN COBLONG, KOTA BANDUNGKesenian yang tumbuh dan berkembang ditengah Kota Bandung dari tahun 1885 hingga saat ini Ulin Barong Sekeloa merupakan kesenian lokal yang kaya akan nilai historis dan ritual yang berfungsi sebagai ekspresi budaya dan identitas kolektif masyarakat. Budaya lokal di Kecamatan Coblong ini mengalami tantangan dalam pelestariannya, terutama pada perubahan sosial dan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengungkap realitas budaya yang masih bertahan berdasarkan pengalaman dialami dari anggota paguyuban. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif untuk mengumpulkan data dari informan dari berbagai generasi yang merupakan anggota dari paguyuban, Teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi. Analisis penelitian menggunakan teori generasi Karl Mannheim dan teori pelestarian budaya Marget Mead untuk menjabarkan tentang peran dan relasi pada paguyuban Ulin Barong Sekeloa. Hasil dari penelitian ini adalah analisis deskriptif mengenai hubungan yang kuat setiap generasi dalam dalam pelestarian budaya, temuan penelitian mencakup; (1) perbedaan peran antara generasi tua, generasi muda, dan generasi anak-anak, (2) bentuk relasi yang pada paguyuban Ulin Barong Sekeloa, (3) strategi dalam melestarikan kesenian Ulin Barong Sekeloa.
-
REALITAS BUDAYA DALAM BENTUK SISTEM PEWARISAN SENI BELUK DI KAMPUNG ADAT CIKONDANG KABUPATEN BANDUNGPenelitian ini membahas mengenai realitas budaya yang berkaitan dengan sistem pewarisan seni Beluk di Kampung Adat Cikondang Kabupaten Bandung. Pembahasan penelitian ini mencakup bentuk sistem pewarisan seni Beluk serta kontribusi pewarisan seni Beluk terhadap masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bentuk, proses, dan faktor-faktor terkait dengan sistem pewarisan seni Beluk. Penelitian ini menggunakan teori pewarisan budaya Cavalli-Sforza dan Feldman dalam mengungkap sistem pewarisan seni Beluk sebagai pisau bedahnya. Novelty dari riset ini terungkap bahwa sistem pewarisan seni Beluk di Kampung Adat Cikondang dilakukan secara turun temurun menggunakan 2 konsep pewarisan budaya yaitu pewarisan tegak (vertical transmission) dan pewarisan mendatar (horizontal transmission). Dalam proses pewarisan seni Beluk di Kampung Adat Cikondang terdapat beberapa bentuk kontribusi terhadap masyarakat sekitar yaitu menciptakan rasa cinta, bangga dan peduli masyarakat terhadap kelestarian seni Beluk sebagai aset budaya dari leluhur, sistem pewarisan seni Beluk menjadi kontrol sosial bagi masyarakat, dan sistem pewarisan seni Beluk juga berkontribusi terhadap promosi desa Lamajang
-
KEBERTAHANAN INDUSTRI RUMAH GERABAH DI DESA ANJUN KECAMATAN PLERED KABUPATEN PURWAKARTAPenelitian ini mengkaji kebertahanan industri rumah gerabah di Desa Anjun, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta dengan fokus pada bagaimanapemilik industri rumah gerabah mampu bertahan dan beradaptasi dalam menghadapi tantangan. Lokus pada penelitian ini dipilih karena Desa Anjun merupakan salah satu sentra gerabah di Jawa Barat yang terus bertahan di tengah perunbahan zaman. Permaslahan yang dikaji adalah tantangan apa yang dihadapi oleh pemilik industri rumah gerabah serta bagaimana stratego reseiliensi yang diterapkan untuk mempertahankan usahanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Penelitian ini menggunakan teori resiliensi Reivich dan Shatte yang mencakup tujuh dimensi: control, komitmen, tantangan, percaya diri, koneksi, kompetensi dan kontribusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilik industri rumah gerabah memepertahankan usaanya melalui strategi adaptif dengan nilai tradisioal, inovasi desain, diversifikasi produk, serta menggunakan media sosial sebgai alat pemasaran. Komunitas dan dukungan keluarga berperan penting sebgai jaringan sosial yang menopang ketahanan usaha. Etos usaha yang kuat dan motivasi menjaga warisan budaya menjadi penggerak dalam keberlangsungan usaha. Pada penelitian ini menemukan bahwa kebertahanan industri rumah gerabah di Desa Anjun tidak hanya bergantung pada kapasitas ekonomi, tetapi juga pada dimensi sosial-budaya dan psikologis yang membentuk resiliensi kolektif. Pemilik industri rumah gerabah menunjukkan kemampuan bertahan yang tinggi melalui peran aktif dalam komunitas, adaptasi terhadap perubahan, dan pemanfaatan kekuatan lokal untuk menghadapi dinamika pasar.
-
PERAN PEREMPUAN KAMPUNG ADAT PULO KABUPATEN GARUT DALAM MEMPERTAHANKAN PEWARISAN IDENTITAS BUDAYADahulu, perempuan di Kampung Adat lebih banyak berperan dalam ranah domestik, mengurus rumah tangga dan menjaga tradisi keluarga sesuai dengan nilai-nilai adat yang berlaku. Namun seiring perkembangan zaman dan masuknya pariwisata, ruang gerak mereka pun meluas hingga ke ranah publik, memungkinkan perempuan untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi, pelestarian budaya, dan berbagai peran sosial lainnya di tengah masyarakat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana peran perempuan Kampung Adat Pulo dalam menjaga pewarisan identitas budaya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teori gender nature nurture dan Struktural Fungsional Talcott Parsons sebagai landasan teori. Hasil dari penelitian perempuan di Kampung Adat Pulo berperan di ranah domestik sebagai seorang istri dan ibu. Menjalankan peran sebagai istri, perempuan di Kampung Adat Pulo tetap membutuhkan peran atau kerjasama dari suami. Sebagai seorang ibu, perempuan Kampung Adat Pulo mengasuh dan memberikan pendidikan formal sembari tetap menanamkan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat Kampung Adat Pulo. Modernisasi dan masuknya sektor pariwisata telah membawa perubahan terhadap perempuan Kampung Adat Pulo sehingga mereka harus beradaptasi dan aktif di ranah publik sebagai pedagang dan juru pelihara rumah adat. Perempuan juga memiliki peranan penting dalam tradisi niisken pare dan kegiatan sosial karnaval sunatan massal.
-
BENTUK KEPEDULIAN DAN PARTISIPASI MASYARAKAT TENTANG MITIGASI BENCANA TSUNAMI DI DESA TELUK KECAMATAN LABUAN KABUPATEN PANDEGLANGIndonesia terletak di kawasan ring of fire Pasifik, yang membuatnya menjadi salah satu negara dengan potensi bencana alam terbesar di dunia, termasuk tsunami. Desa Teluk, yang terletak di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, merupakan daerah yang rawan terhadap bencana tsunami karena letaknya yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia juga adanya Gunung Anak Krakatau. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepedulian masyarakat Desa Teluk terhadap mitigasi bencana tsunami dan mengidentifikasi mekanisme penanggulangan mitigasi yang melibatkan pemerintah daerah, lembaga terkait, dan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Lokasi penelitian adalah Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, dipilih karena tingkat kerawanannya yang tinggi terhadap bencana tsunami. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi literatur. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pemahaman mendalam tentang kepedulian masyarakat terhadap mitigasi bencana tsunami di Desa Teluk, serta memberikan rekomendasi kepada pemerintah dan lembaga terkait dalam merancang program edukasi mitigasi bencana yang lebih efektif.
-
PERFORMATIVITAS GENDER DALAM KEBEBASAN BEREKPRESI MELALUI FESYEN ANDROGINI DI KALANGAN MAHASISWA FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNGPenelitian ini mengkaji praktik performativitas gender melalui fesyen androgini di kalangan mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB). Fesyen androgini dipahami sebagai medium representasi identitas gender non-biner yang mencerminkan ketidakterikatkan pada norma-norma gender biner konvensional. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana mahasiswa mempraktikkan fesyen androgini sebagai bentuk Tindakan performative serta mengidentifikasi pengaruh lingkungan sosial dan budaya kampus terhadap ekspresi gender tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi visual terhadap tiga informan yang secara konsisten mengadopsi gaya berpakaian androgini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi gender melalui fesyen androgini merupakan bantuk konstruksi sosial yang diproduksi secara berulang melalui Tindakan, penampilan, dan negosiasi dalam ruang sosial. Lingkungan FSRD ITB yang inklusif dan terbuka terhadap keragaman ekspresi artistic memberikan ruang aman bagi praktik performative tersebut, meskipun para pelaku tetap menghadapi tantangan dari norma sosial yang hegemonik di luar kampus.
-
PERAN IBU-IBU DALAM PROGRAM THE POWER OF EMAK-EMAK DI CIBOGO KOTA BANDUNGPenelitian ini membahas mengenai bagaimana peran ibu-ibu dalam program the power of emak-emak ini memelihara dan melestarikan lingkungan berdasar perspektif ekofeminisme. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan peran ibu-ibu dalam mengelola lingkungan. Metodologi yang dipilih untuk penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena secara mendalam. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi studi pustaka, wawancara, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Teori yang dijadikan landasan analisis adalah Teori Ekofeminisme Vandana Shiva, yang membantu dalam menganalisis bagaimana peran ibu-ibu yang terlibat dalam program the power of emak-emak memelihara dan melestarikan lingkungannya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat gerakan sosial yang muncul dari diri ibu-ibu untuk menjaga lingkungan. Gerakan yang mempengaruhi keadaan lingkungan menjadi lebih baik karena ibu-ibu terus bergerak untuk mengedukasi warga seberapa penting memelihara dan melestarikan lingkungan agar lingkungan tidak rusak dan tetap layak untuk dihuni.
-
REALITA FENOMENA BUDAYA PATRIARKI DALAM FILM “KIM JI YOUNG BORN 1982” YANG TERJADI PADA KELUARGA ETNIK JAWADalam film “Kim Ji Young, Born 1982”, budaya patriarki secara detail diungkapkan dengan segala konflik masalah. Karena fakta di lapangan masih menunjukkan para wanita masih banyak yang berhenti bekerja setelah menikah. Diantara etnik yang ada di Indonesia, etnik Jawa, masih memberlakukan budaya patriarki. Hal-hal yang ada dalam film Kim Ji Young Born 1982 merupakan sebuah representasi dari kehidupan sosial di lingkungan budaya yang patriarki. Kondisi budaya patrarki di Korea Selatan dan di desa Karangmalang cukup berbeda karena pola pikir masyarakat jawa saat ini lebih terbuka. Dalam budaya Jawa pun terdapat kelas sosial yang menormalisasikan adanya pembantu dalam sebuah rumah tangga, berbeda dengan Korea Selatan yang tidak mengenal pembantu. Secara pendidikan, perempuan di desa Karangmalang cukup setara dengan laki-laki, namun pola pikir yang sederhana sebagai masyarakat desa tidak merasa bahwa keterbatasan berkarir setelah menikah merupakan suatu kesenjangan gender. Menjadi istri harus mengurus anak dan rumah serta patuh pada suami.
-
KONSTRUKSI KECANTIKAN DAN PEMBENTUKAN CITRA DIRI SISWI SMAN 10 BANDUNG MELALUI FILTER AUGMENTED REALITY DI TIKTOKFenomena penggunaan filter kecantikan berbasis Augmented Reality (AR) di TikTok menunjukkan transformasi signifikan dalam konstruksi kecantikan dan pembentukan citra diri remaja perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana filter kecantikan TikTok membentuk citra diri siswi SMAN 10 Bandung, serta memahami peran media sosial dalam mengonstruksi standar kecantikan digital. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara mendalam terhadap enam informan, dan analisis dokumentasi konten TikTok. Analisis data didasarkan pada teori Konvergensi Media (Henry Jenkins) dan Konstruksi Realitas Sosial (Peter L. Berger & Thomas Luckmann). Hasil penelitian menunjukkan bahwa filter kecantikan TikTok tidak hanya digunakan untuk mempercantik wajah, tetapi juga sebagai strategi personal dan sosial dalam menyesuaikan diri terhadap standar kecantikan digital. Filter dipakai untuk menyempurnakan tampilan, memperoleh validasi sosial, dan meningkatkan rasa percaya diri, meskipun disadari sering kali menciptakan tampilan yang tidak realistis. Selain itu, penggunaan filter menjadi bagian dari strategi estetika produksi konten yang memperhatikan pencahayaan, sudut pengambilan gambar, serta kesan natural. Dengan demikian, filter berperan penting dalam membentuk identitas digital dan persepsi remaja tentang kecantikan dalam realitas sosial yang terus terhubung secara daring.
-
TRANSFORMASI LAGU BANGBUNG HIDEUNG DARI SAKRAL KE PROFAN DI SANGGAR REAK KABUPATEN BANDUNGLagu Bangbung Hideung adalah salah satu warisan budaya Sunda yang awalnya memiliki fungsi sakral sebagai bagian dari ritual adat dan upacara spiritual. Lagu ini mencerminkan nilai-nilai spiritual yang mendalam melalui melodi lambat dan meditatif, lirik penuh simbolisme, serta iringan alat musik tradisional seperti kecapi, suling, dan kendang. Lagu ini digunakan sebagai media penghormatan kepada leluhur dan penghubung dengan dunia spiritual. Namun, di Sanggar Reak Rajawali Sinar Pusaka Mekar Saluyu (SPMS), lagu Bangbung Hideung mengalami perubahan signifikan dalam makna dan fungsinya. Transformasi ini mencakup perubahan tempo lagu yang menjadi lebih dinamis, penambahan aransemen modern dengan alat musik kontemporer seperti gitar, drum, dan keyboard, serta pergeseran lokasi pertunjukan dari tempat sakral ke panggung-panggung umum, festival budaya, dan acara sosial lainnya. Akibatnya, lagu yang dulunya bersifat sakral kini diadaptasi sebagai bentuk hiburan yang dapat dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat. Faktor utama yang mendorong perubahan ini adalah kemajuan teknologi dan kehadiran media sosial yang memperluas aksesibilitas lagu ini. Platform digital memungkinkan masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengakses dan menikmati lagu Bangbung Hideung dalam berbagai situasi, bahkan di luar konteks tradisionalnya. Adaptasi gaya musik yang lebih populer, seperti pop atau jazz Sunda, juga berperan dalam membuat lagu ini tetap relevan dan menarik bagi khalayak modern. Melalui proses transformasi ini, Bangbung Hideung menunjukkan daya adaptasi seni tradisional dalam menghadapi perubahan zaman. Lagu ini menjadi contoh bagaimana warisan budaya dapat bertahan dan berkembang tanpa kehilangan identitas aslinya. Perpaduan antara elemen tradisi dan modernitas dalam lagu ini mencerminkan upaya untuk menjaga relevansi budaya sekaligus memperluas apresiasi terhadap keindahan budaya Sunda. Dengan demikian, Bangbung Hideung tetap menjadi simbol harmoni antara tradisi dan modernitas, mengajak pendengarnya untuk terus menghargai warisan budaya yang hidup.
-
DINAMIKA BEBAN GANDA PADA PENGALAMAN TIGA MAHASISWI YANG SUDAH MENIKAH DI KOTA BANDUNGFenomena beban ganda (double burden) pada perempuan saat ini dalam budaya Indonesia secara umum ialah beban kerja yang diterima oleh salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan dengan jenis kelamin lainnnya. Penelitian ini membahas mengenai beban ganda sebagai bentuk ketidakadilan gender yang dialami oleh mahasiswi yang sudah menikah di Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap realitas budaya berdasarkan pengalaman mahasiswi yang sudah menikah di Kota Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif untuk mengumpulkan data dari informan yang merupakan mahasiswi yang sudah menikah, teknik pengumpulan data dengan melalui studi literatur, obervasi nonpartisipatif, dan wawancara mendalam. Analisis penelitian menggunakan teori ketidakadilan gender Mansour Fakih dan melalui pendekatan feminisme liberal dalam menjabarkan konstruksi sosial yang ada di masyarakat terhadap peran gender. Hasil dari penelitian ini adalah analisis deskriptif mengenai beban ganda yang dialami oleh ketiga informan penelitian, temuan penelitian mencakup; (1) bentuk beban ganda yang dialami ketiga mahasiswi yang sudah menikah di Kota Bandung, (2) faktor beban ganda yang dialami ketiga mahasiswi yang sudah menikah di Kota Bandung, (3) dampak dari adanya beban ganda yang dialami ketiga mahasiswi yang sudah menikah di Kota Bandung.
-
SIMBOL DAN MAKNA PADA PAGELARAN BHINNEKA TUNGGAL IKA OLEH GATMADEVA ENTERTAINMENTPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji simbol dan makna yang terkandung dalam pagelaran Bhinneka Tunggal Ika oleh Gatmadeva Entertainment. Pertunjukan ini dianggap merepresentasikan nilai-nilai sosial, khususnya tentang persatuan dalam keberagaman, yang dikemas dalam bentuk seni kabaret. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana simbol-simbol visual, tokoh, properti, serta dialog dalam pertunjukan membentuk pesan sosial yang berkaitan dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara dengan pelaku pertunjukan, serta dokumentasi visual dan audio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol seperti tokoh Garuda, Naga, Ibu Pertiwi, anak-anak, dan dunia permainan memiliki makna mendalam terkait isu kepemimpinan, perpecahan sosial, pencarian jati diri, serta harapan terhadap persatuan. Analisis menggunakan teori semiotika Roland Barthes menunjukkan adanya makna denotasi dan konotasi yang menjadikan pertunjukan ini sebagai media reflektif dan edukatif yang menyuarakan nilai-nilai kebangsaan secara simbolik dan relevan dengan situasi sosial masa kini.
-
FUNGSI TARI PERANG CENTONG PADA TRADISI PERNIKAHAN JILU DI KAMPUNG BUDAYA JALAWASTU BREBESTari Perang Centong memiliki nilai simbolik yang kuat dalam tradisi pernikahan Jilu serta mencerminkan pandangan masyarakat Jalawastu. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fungsi Tari Perang Centong pada pernikahan jilu dan maknanya bagi masyarakat Kampung Budaya Jalawastu. Teori yang digunakan adalah teori fungsionalisme Bronisław Malinowski. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan data yang bersumber dari data primer dan data sekunder. Penelitian ini menunjukan bahwa Tari Perang Centong memiliki fungsi yang sangat vital dan multifungsi seperti ritual dan spiritual, sosial, kesejahteraan ekonomi, edukatif, dan pariwisata. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji peran Tari Perang Centong dalam konteks perubahan sosial dan dinamika keluarga modern di Jalawastu.
-
BURUH PETANI SEBAGAI PELAKU KESENIAN KUDA KEPANG NGESTI SETYA BUDAYA DI DUSUN SILANGIT, DESA WANADRI, KABUPATEN BANJARNEGARAPenelitian ini mengkaji transformasi kesenian sebagai pilar ekonomi penting bagi buruh tani di daerah dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK) yang rendah, yaitu Rp1.981.768 per bulan. Dalam konteks ekonomi yang penuh tantangan, kesenian telah menjadi alternatif pendapatan yang signifikan bagi masyarakat, khususnya buruh tani, untuk mengatasi keterbatasan finansial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumentasi untuk memahami dinamika transformasi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan buruh tani dalam kegiatan kesenian, baik sebagai pelaku maupun pendukung, tidak hanya memberikan dampak ekonomi langsung berupa peningkatan pendapatan, tetapi juga memperkuat solidaritas komunitas dan melestarikan warisan budaya lokal. Temuan ini menyoroti potensi kesenian sebagai strategi pemberdayaan ekonomi berbasis budaya yang relevan dan berkelanjutan, khususnya di wilayah pedesaan.
