Items
-
MAKNA SIMBOLIK DAN NILAI SPIRITUAL DALAM UPACARA PITUTUR JUMAT KLIWON PADA PENGANUT ALIRAN KEBATINAN “PERJALANAN” DI CIBABAT, KOTA CIMAHIUpacara Pitutur Jumat Kliwon adalah ritual dakwah yang bertujuan menyampaikan nilai-nilai Aliran Kebatinan "PERJALANAN" kepada penghayatnya, serta mewariskan pengetahuan kepada generasi mendatang. Penelitian ini berfokus pada makna simbolik dan nilai spiritual dalam upacara tersebut di Cibabat, Kota Cimahi, dengan menggunakan teori interpretatif simbolik dari Clifford Geertz. Metode yang diterapkan adalah pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipasi, wawancara tidak terstruktur, serta studi literatur dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna simbolik dalam upacara ini sangat terkait dengan kehidupan manusia dan sejarah diri. Peneliti menemukan berbagai makna simbolik, termasuk simbol benda pada sesajen, simbol tindakan dalam tata cara ritual, dan simbol peristiwa yang menggambarkan hari Jumat Kliwon. Melalui analisis menggunakan teori Notonegoro, ditemukan nilai-nilai spiritual seperti religius, estetika, moral, dan kebenaran. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman yang lebih dalam mengenai keragaman spiritualitas di Indonesia, serta memperkaya kajian antropologi dan studi kebudayaan.
-
STIGMA SOSIAL TERHADAP PEKERJA SEKS KOMERSIAL REMAJA: PERSPEKTIF MASYARAKAT KOTA BANDUNGPenelitian ini membahas stigma sosial terhadap pekerja seks komersial (PSK) remaja dari berbagai perspektif masyarakat Kota Bandung, dengan fokus wilayah di kawasan Saritem, Kecamatan Andir. Tiga pertanyaan utama yang diangkat meliputi: bagaimana pandangan masyarakat terhadap PSK remaja, faktor apa saja yang menyebabkan keterlibatan remaja dalam pekerjaan seks komersial, dan strategi pencegahan apa yang dapat diterapkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan teori stigma dari Erving Goffman sebagai kerangka analisis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap masyarakat sekitar, aparat, akademisi, tokoh agama, tenaga kesehatan, dan remaja yang terlibat dalam pekerjaan seks Hasil penelitian menunjukan bahwa stigma terbentuk dan dipertahankan melalui perspektif sosio-ekonomi, hukum, budaya, agama, dan kesehatan, PSK remaja dilabeli sebagai individu yang menyimpang dan meresahkan, tanpa mempertimbangkan latar belakang structural yang memaksa mereka masuk ke dalam pekerjaan tersebut. Faktor utama yang mendorong keterlibatan remaja adalah kemiskinan dan keretakan keluarga. Sementara itu, strategi pencegahan yang bersifat represif terbukti tidak efektif dan justru memperkuat stigma. Pendekatan berbasis edukasi, empati, dan pemberdayaan remaja dinilai lebih berdampak. Penelitian ini menegaskan perlu perubahan paradigma masyarakat serta kebijakan yang lebih inklusif dan berpihak pada perlindungan remaja dalam konteks sosial-budaya.
-
PROSES ADAPTASI MAHASISWA PERANTAUAN MINANG DALAM KEHIDUPAN SOSIAL DI KOTA BANDUNGPenelitian ini mengkaji adaptasi budaya mahasiswa perantauan asal Minang di Kota Bandung. Permasalahan penelitian berfokus pada kompleksitas adaptasi psikologis dan sosiokultural yang dialami mahasiswa Minang sebagai perantau di lingkungan budaya yang berbeda. Landasan teoretis menggunakan teori adaptasi budaya dari John W. Berry tentang strategi adaptasi akulturasi (integrasi, asimilasi, separasi, dan marginalisasi) dan teori adaptasi antarbudaya Ward yang menekankan dimensi psikologis dan sosiokultural. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif varian studi kasus terhadap lima mahasiswa Minang yang tergabung dalam Badan Kesatuan Mahasiswa Minang (BKMM) Jawa Barat melalui wawancara mendalam, observasi non-parsipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi budaya mahasiswa Minang berlangsung dalam dua dimensi yang saling berkaitan (psikologis dan sosiokultural), dipengaruhi oleh faktor determinan berupa dukungan sosial, pengalaman pribadi, keterbukaan terhadap budaya baru, dan stabilitas emosional. Temuan lainnya mengidentifikasi variasi strategi adaptasi berdasarkan tipologi Berry: dua informan menerapkan strategi adaptasi, satu informan menunjukkan kecenderungan asimilasi, dan dua informan lainnya cenderung pada strategi separasi, dengan fenomena marginalisasi hanya bersifat temporer pada fase awal adaptasi. Temuan ini mengimplikasikan bahwa adaptasi budaya bukanlah proses yang seragam, melainkan dinamis dan kontekstual.
-
KOMODIFIKASI TAWUH AIR BEJI PADA TRADISI RUWAHAN DI DESA CANDINGASINAN,KABUPATEN PURWOREJOPenelitian ini membaha tentang komodifikasi tawuh air beji pada tradisi ruwahan di Desa Candingasinan, Kabupaten purworejo. Tradisi Ruwahan adalah kebiasaan dari masyarakat Dusun Candi yang rutin dilaksanakan. Terdapat 3 Beji di Dusun Candi, yang dipakai Hanya dua yaitu Beji untuk lanang (laki-laki) dan wedok (perempuan) karena satu lagi mata air yang dipercaya untuk pengobatan. Landasan teori yang digunakan adalah teori komodifikasi Karl Marx dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dan Teknik pengumpulan data melalui studi Pustaka, observasi, wawancara dan dokumendasi. Hasil penelitian mengemukakan bahwa sesepuh dan juru kunci berkolaborasi dengan RT, Rw karang taruna dan masyarakat setempat untuk terlibat dalan proses komodifikasi. komodifikasi yang dilaksanakan bertujuan agar masyarakat terhindar dari mara bahaya dan untuk pelestarian budaya serta beradaptasi dengan perkembangan zaman. Strategi yang harus dilakukan dalam bentuk komodifikasi adalah menjadikan wisata religi dan berpotensi besar untuk kebutuhan finansial.
-
FENOMENA CULTURE LAG MAHASISWA BUNGBULANG GARUT TERHADAP PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DIGITALPerkembangan teknologi yang pesat sering kali diikuti oleh keterlambatan penerimaan kemajuan tersebut oleh masyarakat. Fenomena ini dapat dijelaskan dengan konsep culture lag, di mana aspek-aspek kebudayaan dari perkembangan teknologi terlambat diadaptasi oleh penggunanya baik individu maupun masyarakat. Sebagai dampaknya, masyarakat yang mengalami fenomena culture lag ini akan terlambat dalam beradaptasi terhadap kemajuan teknologi. Hal ini terjadi karena banyak faktor, terutama kendala akses informasi dan komunikasi yang terbatas dalam inovasi teknologi, sehingga pengetahuan tentang teknologi baru tidak segera tersampaikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode kualitatif merupakan metode yang fokus pada pengamatan yang mendalam. Oleh karenanya, penggunaan metode kualitatif dalam penelitian dapat menghasilkan kajian atas suatu fenomena yang lebih komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa culture lag yang melanda mahasiswa Bungbulang Garut dari teknologi digital terjadi diakibatkan oleh gagap teknologi, kondisi ekonomi, frekuensi mengakses internet, tingkat keahlian, kurangnya relasi sosial dengan pengguna teknologi dan menambah pengetahuan tentang teknologi (pendidikan non formal). Adapun kendala kendala yang menjadi latar belakang mereka mengalami culture lag sebagai mahasiswa di perguruan tinggi meliputi kendala fasilitas piranti digital, kendala jaringan, kendala dalam akses dan upload data. Hasil temuan terakhir ditemukan kondisi yang berbeda diantara mahasiswa Bungbulang dalam kecepatan pemahaman teknologi digital yaitu ada yang cepat paham, ada yang bisa paham melalui relasi sosial dan ada yang sulit paham karena terlalu banyak kendala yang dialaminya. Adapun dalam tingkat keahlian menggunakan teknologi digital perbedaan yang tampak adalah mahasiswa yang sering menggunakan teknologi digital (mengetik, membuat powerpoint, game, konten kreator dan edit video, livestreaming) lebih tinggi keahliannya dibandingkan dengan mahasiswa yang hanya menggunakan teknologi digital untuk kebutuhan primer saja (mengetik, membuat powerpoint dan mengirim email atau Whatssapp)
-
MODEL BUDAYA PEMBAGIAN PERAN PENGASUHAN ANAK PADA POLA ASUH ANAK DUAL CAREER FAMILY DI DESA BANJARAN, KECAMATAN BANJARAN (STUDI PADA DUA KELUARGA INTI)Pola asuh anak dan peran pengasuhan dari orang tua merupakan dua hal yang saling berkaitan. Namun, hal tersebut dapat menjadi sesuatu yang kompleks jika tidak berjalan secara optimal dari kedua orang tua kepada anaknya, terlebih jika kedua orang tua disibukan dengan pekerjaan mereka yang pada fenomenanya dikenal dengan istilah Dual Career Family, dimana pada model ini pasangan suami istri yang juga merupakan orang tua sama-sama menjalankan karir. Pada sejumlah keluarga dengan model tersebut mensiasati pengasuhan anak lewat pengasuhan alternatif dimana pada waktu bekerja, peran pengasuhan diambil alih oleh pengasuh. Kebiasaan tersebut juga berlaku pada sejumlah keluarga di desa Banjaran. Pada penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif dimana penulis melakukan pengumpalan data dengan observasi serta mendatangi langsung lokasi penelitian yaitu di desa Banjaran. Pada dua keluarga inti yang menjadi sampel pada penelitian ini, dihasilkan data dimana orang tua biologis menjalankan model budaya pengasuhan anak yang diperankan oleh kerabat dan orang tua ketika saat bekerja, namun tidak menghilangkan peran mereka sebagai orang tua biologis dalam pengasuhan yang dilakukan ketika waktu libur bekerja. Selain itu, terdapat nilai budaya yang ditanamkan kepada anak sesuai dengan nilai-nilai pengajaran dan kebiasaan keluarga dan masyarakat pada proses pengasuhan anak. Merunut pada hasil data yang diperoleh penulis di lapangan, pada dua keluarga inti tersebut tetap menjalankan peran mereka sebagai orang tua dengan baik, meskipun disibukan dengan pekerjaan tetapi selaku orang tua mereka tetap memerhatikan anak dan mengurus anak dengan baik di samping peran pengasuh yang juga berperan pada pola pengasuhan pan pengajaran nilai budaya yang berlaku kepada anak.
-
MASKULINITAS BARU: PENGGUNAAN SKINCARE OLEH PEKERJA PRIA DI INDUSTRI KECANTIKAN PADA TIM PRODUKSI PT TASYA FARASYA JAYA ABADIPenelitian ini berangkat dari norma maskulinitas tradisional yang membatasi laki-laki untuk menggunakan skincare karena kerap dikaitkan dengan feminitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi praktik penggunaan skincare oleh pekerja pria di tim produksi Tasya Farasya baik dalam konteks profesional maupun kehidupan sehari-hari serta menangkap bagaimana maskulinitas dinegosiasikan dalam lingkungan kerja Tasya Farasya. Penelitian ini mengamati dinamika kerja tim produksi Tasya Farasya dan melakukan wawancara semi-terstruktur guna memperoleh pandangan pekerja pria. Penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif deskriptif dan menganalisis data melalui lensa teori performativitas gender. Temuan penelitian ini menunjukkan praktik penggunaan skincare pada pria yang dinormalisasi dan adanya ruang negosiasi norma maskulinitas tradisional. Tidak hanya dalam konteks tuntutan pekerjaan, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan kerja Tasya Farasya menjadi wadah untuk pekerja pria melakukan upaya subversif terhadap norma gender tradisional melalui praktik penggunaan skincare. Dengan demikian, penelitian ini memberikan wawasan terkait pengaruh lingkungan kerja terhadap pandangan mengenai maskulinitas dan penggunaan skincare oleh pria di tim produksi Tasya Farasya.
-
MITOS PEREMPUAN MANDIRI DALAM FILM ENOLA HOLMES DAN RESEPSI PENONTON PRIA DI ISBI BANDUNGPenelitian ini mengkaji resepsi penonton pria (mahasiswa) ISBI Bandung terhadap mitos perempuan mandiri dalam film Enola Holmes yang menghadapi budaya patriarki. Film luar yang dirilis tahun 2020 ini memiliki relevansi dengan fenomena yang terjadi di Indonesia dan berpotensi menjadi penghubung dialog terkait kesetaraan gender dalam masyarakat yang masih dipengaruhi oleh budaya patriarki. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini menganalisis mitos perempuan mandiri yang digambarkan oleh karakter Enola Holmes dalam film menggunakan semiotika Roland Barthes dan melakukan wawancara mendalam bersama sepuluh penonton pria (mahasiswa) dengan menggunakan teori Resepsi Stuart Hall untuk mengidentifikasi posisi penonton dalam memaknai pesan media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Enola Holmes yang berada dalam posisi subaltern secara aktif melawan batasan patriarki melalui penggambaran karakter pemeran tokoh utama sebagai perempuan mandiri melalui elemen semiotika dalam film. Resepsi penonton pria terhadap mitos perempuan mandiri terbagi menjadi tiga posisi, yaitu 4 menempati posisi dominan, 4 berada di posisi negosiasi, dan 2 memilih dalam posisi oposisi. Resepsi dipengaruhi oleh latar belakang sosial budaya, nilai keluarga, pengalaman pribadi, dan kesadaran terhadap isu kesetaraan gender.
-
STRATEGI ADAPTASI SOSIAL ANAK KELOMPOK USIA REMAJA DI LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK KELAS II BANDUNGLembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) merupakan institusi yang berfungsi memberikan pembinaan, perlindungan, dan rehabilitasi kepada anak yang berhadapan dengan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi adaptasi sosial yang dilakukan oleh anak binaan di LPKA Kelas II Bandung serta mengevaluasi efektivitas adaptasi tersebut terhadap keberhasilan program pembinaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi dan wawancara terhadap delapan anak binaan dari kelompok usia remaja awal (14–15 tahun) dan remaja pertengahan (16–17 tahun), serta petugas pembina. Teori adaptasi John William Bennett digunakan untuk menganalisis perilaku, strategi, dan proses adaptasi sosial anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak remaja awal lebih mengandalkan pendekatan emosional, sedangkan anak remaja pertengahan lebih aktif dan rasional dalam menyesuaikan diri melalui keterlibatan dalam program pendidikan, keagamaan, pramuka, keterampilan, dan olahraga. Efektivitas adaptasi sosial anak dipengaruhi oleh dukungan teman sebaya dan pembinaan yang ramah anak, serta berdampak positif terhadap kedisiplinan, keterlibatan dalam program, dan kesiapan reintegrasi sosial. Temuan ini membuktikan bahwa program pembinaan di LPKA Kelas II Bandung telah sejalan dengan moto dan slogan lembaga yang mengutamakan pelayanan ramah anak, nilai budi pekerti, serta prinsip Bersih, Inovatif, Sinergi, dan Agamis.
-
PENGARUH BUDAYA SOSIAL TERHADAP KARAKTER MUSIKAL HOUSE DJ GENERASI Z DI KOTA BANDUNGPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh budaya sosial terhadap pembentukan karakter musikal House DJ dari Generasi Z di Kota Bandung. Generasi ini tumbuh dalam lanskap budaya yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi digital, media sosial, serta dinamika komunitas lokal. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap beberapa DJ muda yang aktif dalam skena musik elektronik Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter musikal para DJ Generasi Z dibentuk melalui interaksi kompleks antara budaya global seperti tren musik dari platform digital (YouTube, SoundCloud, TikTok) dan budaya lokal yang hadir dalam komunitas, kolektif musik, serta ruangruang pertunjukan independen. Para DJ ini tidak hanya meniru tren global, tetapi juga melakukan proses adaptasi, hibridisasi, dan reinterpretasi gaya musikal agar relevan dengan identitas mereka dan konteks lokal. Budaya sosial memainkan peran penting sebagai medan representasi dan negosiasi identitas musikal mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa karakter musikal House DJ Generasi Z tidak dapat dilepaskan dari konstruksi sosial-budaya yang membentuk habitus mereka. Temuan ini diharapkan dapat memperkaya studi tentang musik populer, generasi muda, dan dinamika budaya di era digital.
-
POLA ADAPTASI PARA PEKERJA KREATIF RANTAU DI DAERAH KHUSUS JAKARTAPenelitian ini mengkaji pola adaptasi pekerja kreatif rantau di Daerah Khusus Jakarta pada 2025, dengan fokus pada pola adaptasi dan interaksi sosial dalam menghadapi budaya baru. Informan dikategorikan menurut Trisula Kreatif (Higgs & Cunningham, 2008): Spesialis Kreatif, Pekerja Tertaut, dan Pekerja Pendukung. Menggunakan teori adaptasi Bennett (1979) dan metode life history, temuan menunjukkan bahwa proses adaptasi diawali dengan pemenuhan kebutuhan dasar, lalu diikuti strategi adaptasi seperti peniruan, penyesuaian diri, interaksi sosial serta pemanfaatan modal yang dimiliki.
-
MODAL SOSIAL KOMUNITAS “ONTHEL TEGALEGA EKSIS” KOTA BANDUNGPenelitian ini menganalisis peran modal sosial dalam menjaga eksistensi Komunitas Onthel Tegalega Eksis (OTG Eksis) di Kota Bandung. Komunitas ini terbentuk pada tahun 2021 dan beranggotakan pecinta sepeda onthel yang berupaya melestarikan nilai budaya serta eksistensi sepeda onthel di tengah modernisasi dan menurunnya minat masyarakat perkotaan terhadap onthel. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teori modal sosial milik Robert Putnam untuk mengidentifikasi unsur-unsur modal sosial seperti kepercayaan, jaringan sosial, dan norma yang berkembang di dalam komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial berperan penting dalam membangun solidaritas, memperkuat relasi antaranggota, serta menjadi strategi utama dalam mempertahankan eksistensi komunitas dan sepeda onthel sebagai warisan budaya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu sosial, khususnya terkait aksi kolektif dan pelestarian komunitas berbasis hobi tradisional.
-
BENTUK KEPEDULIAN ORGANISASI KEPEMUDAAN “EXALT TO CREATIVITY” DALAM PELESTARIAN SENI REAK DI CICALENGKA KABUPATEN BANDUNGPenelitian ini mengkaji peran aktif organisasi kepemudaan Exalt to Creativity dalam pelestarian seni reak di Cicalengka, Kabupaten Bandung. Studi ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana sebuah kelompok pemuda yang kerap distigmatisasi sebagai "gengster" dapat menjadi salah satu aktor penting dalam menjaga kelestarian warisan budaya lokal. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini mengungkapkan bagaimana upaya Exalt to Creativity telah memberikan bentuk kepeduliannya terhadap pelestarian seni reak. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan, seperti pelatihan, pertunjukan, dan dokumentasi, tidak hanya melestarikan teknik dan estetika seni reak, tetapi juga memperkuat identitas lokal dan nilai-nilai budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa organisasi kepemudaan, bahkan yang kerap dilabel negatif, memiliki potensi besar dalam menjadi agen perubahan dan pelestarian budaya.
-
PARTISIPASI KAUM MUDA KOTA BANDUNG TERHADAP EKSISTENSI MUSEUM KONPERENSI ASIA AFRIKA STUDI KASUS KOMUNITAS SMKAAPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji partisipasi kaum muda di Kota Bandung dalam meningkatkan eksistensi Museum Konperensi Asia Afrika melalui keterlibatan mereka dalam program Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, studi pustaka, dan dokumentasi. Teori Partisipasi Generasi Muda Pelestarian Budaya yang dikembangkan oleh antropolog David Harvey digunakan sebagai kerangka analisis dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi aktif kaum muda dalam program tersebut telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pelestarian dan peningkatan eksistensi Museum Konperensi Asia Afrika, dengan berbagai kegiatan yang melibatkan penyebaran informasi dan peningkatan kesadaran budaya di kalangan generasi muda.
-
THE SOUND OF FATHKarya musik berjudul The Sound of Fath merupakan interpretasi musikal terhadap peristiwa Fathu Makkah, yaitu penaklukan Kota Makkah oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun ke-8 Hijriah. Karya ini berangkat dari analisis film Fathu Makkah, yang menampilkan unsur auditif seperti takbir, bunyi bedug, dan langkah kaki pasukan yang menghadirkan nuansa emosional. Penulis mengembangkan komposisi dengan pendekatan musikal berupa penggunaan tangga nada Hijaz, teknik interlocking, multimeter, perubahan tempo, dan perubahan birama. Instrumen yang digunakan meliputi Vokal, Suling Tanji, Carumba, Bass Elektrik, Sequencer, Bedug, Darbuka, dan perangkat Perkusi. Karya ini bertujuan sebagai bagian dari Tugas Akhir Program Studi Angklung dan Musik Bambu, serta diharapkan dapat menambah referensi dan repertoar musik interpretasi berbasis musik bambu.
-
WUNYUKekhawatiran akan hilangnya spirit, kreativitas, dan inovasi seniman atau komposer dalam menciptakan komposisi baru bersamaan dengan media ekspresi baru khususnya di wilayah musik bambu, telah mendorong penulis untuk melakukan proses kreatif. Selain untuk memperkaya wahana musik bambu di Jawa Barat, tujuan lainnya adalah mengelaborasi kemampuan teknis, pengalaman emosional, dan keberanian diri untuk menciptakan bentuk komposisi baru yang belum pernah didengar sebelumnya. Adapun metode yang ditempuh antara lain: apresiasi, kajian pustaka, observasi, eksplorasi, eksprerimen, pembentukan dan evaluasi, Pendekatan teori organologi digunakan sebagai panduan untuk memahami sifat dan karakter bahan material bambu dan air. Sedangkan teori komposisi digunakan sebagai pendekatan dalam menyusun komposisi baru yang mengolah unsur-unsur musikal seperti call and response, canon, polyrhythm, interlocking, dan polymeter pada medium ekspresi drone flute, lodang, kohkol, krincing bel, botol drum serta medium ekspresi pokok dalam karya ini yaitu Wunyu. Hasil akhirnya adalah (1) perwujudan sebuah instrumen baru dengan karakter suara lembut (soft) yang terinspirasi dari instrument Citok karya Randhy serta memanfaatkan potensi rambatan getaran air dan material bambu Surat: (2) Komposisi ini memiliki tiga bagian struktur. Pada struktur pertama, lebih dominan menggunakan teknik permainan interlocking, struktur kedua terdapat teknik permainan call and response, canon dan polyrhythm, struktur ketiga terdapat teknik permainan polymeter. Dalam komposisi ini lebih menekankan pada pengolahan ritmik, menyesuaikan dengan karakter instrument Wunyu.
-
TAFAKURKarya musik Tafakur diciptakan sebagai langkah pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional Terbang Buhun dalam konteks dakwah Islam. Latar belakang penciptaannya berangkat dari kekhawatiran atas melemahnya eksistensi Terbang Buhun akibat minimnya regenerasi dan ruang ekspresi seni yang ada. Tujuan utama penciptaan ini adalah mengembangkan pola-pola permainan Terbang Buhun dengan perspektif garap kekinian dalam format sajian musik vokal-instrumental. Metode pengumpulan data material musik yang digunakan meliputi observasi, wawancara, studi pustaka dan analisis audio-visual baik dari dokumentasi pertunjukan milik pribadi maupun sumber-sumber digital. Adapun pendekatan teori penciptaan yang digunakan dalam penyusunan komposisi Tafakur ini yakni teori kreativitas dalam karawitan Sunda yang berfokus pada kemampuan seniman untuk melahirkan karya baru baik dalam bentuk komposisi maupun gaya permainan. Hasil akhirnya adalah; (1) komposisi Tafakur mempunyai tiga bagian struktur yang diberi nama Ma, Nu, dan Sa. Ketiganya merepresentasikan tentang nilai-nilai spiritual serta menggambarkan perjalanan manusia. Pada bagian Ma terdapat penonjolan vokal tunggal dengan naskah yang dibuat untuk pembukaan pertunjukan karya Tafakur, berikut olahan komposisi instrumen bambu dengan memainkan nada La dan Ti yang terdengar harmonis satu sama lain. Pada bagian Nu ditonjolkan permainan Terbang Buhun yang telah dikembangkan sebagai penggambaran dari manusia yang merasa dirinya tidak tenang dan mulai mencoba untuk eksplor diri. Pada bagian Sa ditonjolkan permainan vokal tunggal dan diiringi gambang dengan teknik cacagan sebagai gambaran tentang manusia itu kembali dituntun oleh alunan musik dan diingatkan dengan vokal. (2) aspek musikalitas Terbang Buhun dalam karya Tafakur dapat dikembangkan secara efektif dengan menggunakan teknik interlocking, call and response, repetisi, dan transfer oktaf. (3) melalui penciptaan karya Tafakur, kesenian Terbang Buhun membangkitkan potensinya kembali sebagai media pendukung dakwah Islam dan terbuka untuk langkah-langkah pengembangan lainnya.
-
KATAWARE DOKIKataware Doki merupakan karya aransemen yang berawal dari ketertarikan akan menonton anime Jepang dan mengadopsi lagunya sebagai subjek aransemen. Kataware Doki sendiri menjadi pengenalan untuk para pecinta budaya populer Jepang, bahwasannya budaya luar dapat disajikan dengan budaya lokal. Sajian aransemen ini berfokus pada pengembangan motif melodi, akor, dan pola ritmis. Teori musik dalam pengolahan akor menggunakan borrowed chord dan negative harmony. Pengembangan motif menggunakan retrograsi, inversi, diminusi, imitasi. Pengolahan ritmis teknik permainan multimeter dan perubahan tempo. Alat musik pada aransemen ini adalah carumba, gitar akustik, gitar bass elektrik, kajon, hi-hat. Karya ini bertujuan sebagai bagian dari Tugas Akhir Program Studi Angklung dan Musik Bambu, serta diharapkan dapat menambah referensi dan repertoar aransemen berbasis musik bambu.
-
RINGRETKarya musik ini merupakan hasil penciptaan yang mengangkat motif tonggeret dari instrumen karinding sebagai ide utama dalam pengembangan komposisi untuk ansambel suling kuartet. Motif tonggeret yang dikenal melalui pola ritmis khas dan tekstur bunyi alamiah, diolah menjadi struktur musikal baru melalui pendekatan eksploratif dan kreatif. Proses penciptaan dilakukan dengan menggali karakteristik bunyi tonggeret, lalu mentransformasikannya ke dalam idiom permainan suling. Teknik pengembangan seperti repetisi, fragmentasi, modifikasi ritme, serta eksplorasi dinamika dan artikulasi digunakan untuk memperkaya nuansa musikal dalam format kuartet. Hasil karya ini menampilkan perpaduan antara kekayaan motif tradisional dengan bentuk penyajian kontemporer, sehingga menghadirkan pengalaman musikal yang segar namun tetap berakar pada tradisi lokal. Penciptaan ini diharapkan dapat menjadi kontribusi terhadap upaya pelestarian dan pengembangan musik tradisional melalui medium ekspresi musik baru.
-
BUNGONG JEUMPAAceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di ujung utara Pulau Sumatra dan dikenal memiliki kekayaan budaya yang khas, termasuk dalam bidang seni musik. Salah satu bentuk warisan budaya tersebut tercermin melalui lagu daerah Bungong Jeumpa, yang bukan hanya dikenal sebagai lagu tradisional, tetapi juga menjadi simbol identitas masyarakat Aceh. Seiring perkembangan zaman, lagu ini telah mengalami berbagai proses aransemen, baik dalam bentuk tradisional maupun modern. Dalam karya ini, penulis menyusun aransemen Bungong Jeumpa dengan pendekatan musikal yang mengutamakan penggunaan nada minor dan dinamika bertahap untuk membangun suasana emosional. Beberapa elemen seperti pola repetitif pada melodi, ritme pengiring, serta penggunaan modulasi diterapkan secara halus untuk memperkuat karakter lagu daerah. Dinamika musik juga dimanfaatkan sebagai elemen penting dalam membentuk alur emosi, dimulai dari bagian pembuka yang tenang hingga mencapai klimaks. Penggunaan instrumen tradisional seperti angklung toel, carumba, dan seruling bambu dipadukan dengan instrumen modern seperti drum akustik; gitar bass elektrik, dan gitar elektrik untuk menciptakan warna musikal yang berlapis. Aransemen ini diharapkan dapat menjadi bentuk karya musik yang tidak hanya melestarikan nilai-nilai budaya lokal, tetapi juga relevan dalam konteks musik masa kini.
-
MONORAGAMRepetisi atau pengulangan dalam komposisi musik bagi sebagian orang kerap dianggap sebagai sesuatu yang kurang berbobot, mudah ditebak, dan membosankan. Meskipun diketahui dalam satuan yang sama, pengulangan selalu menyimpan keberagaman yang tersembunyi dan terkadang hanya bisa dirasakan oleh kepekaan seseorang pada tingkat tertentu. Sebagaimana fenomena waktu yang terus hadir dalam satuan yang sama (jam, menit, detik), namun senantiasa memperlihatkan ragam peristiwa di setiap siklusnya. Penulis menjadikan waktu sebagai ide penciptaan komposisi musik dengan tujuan mengelaborasi ragam pola dan teknik komposisi pada rangkaian melodi datar dan berulang, serta mengeksplorasi potensi musik bambu dengan perspektif garap komposisi yang tidak umum. Adapun metode penciptaan yang digunakan di antaranya, mencari konsep ide gagasan, menganalisis audio-visual, studi pustaka, eksplorasi dan penyusunan bentuk komposisi karya untuk di aplikasikan ke dalam alat musik bambu. Sebagai media ungkap karya penulis menggunakan tiga intrumen carumba yang dimainkan oleh tiga orang dengan posisi penyajian membentuk segitiga. Untuk menghadirkan keragaman dalam alur melodi yang monoton, penulis menerapkan teori dinamika dengan nada dasar DO=C, A, E dengan Time Signature 4/4 dan 16/8. Selain itu penulis juga mengaplikasikan teknik permainan interlocking untuk membentuk tekstur komposisi yang terkesan kaya akan pola ritmis. Hasilnya adalah (1) sebuah bentuk komposisi instrumental yang diberi judul Monoragam dengan tiga bagian struktur di dalamnya. Pada struktur pertama penulis merangkai pola permainan solo carumba dengan tempo 60 bpm yang menghasilkan tekstur monophonic. Pada bagian kedua penulis menonjolkan permainan interlocking pada carumba High dan Low untuk menghasilkan bentuk pola ritmis. Bagian ke tiga penulis menonjolkan pengulangan dengan tempo cepat dan dinamika yang sangat keras untuk membentuk klimaks pada komposisi karya. (2) lewat karya Monoragam terbagun sebuah kesadaran bahwa repetisi yang monoton mempunyai ragam ekspresi dan kesan emosional jika di tangani serta di pahami oleh kepekaan musikal yang baik.
-
KUCING HOKIKarya berjudul Kucing Hoki, memiliki genre musik pop yang menggunakan tangga nada diatonis dan tangga nada pentatonis hirajoshi. Karya musik ini terinspirasi dari alur legenda kucing hoki di Jepang, kemudian dikembangkan menjadi musik instrumental dan dituangkan menjadi empat bagian. Legenda kucing hoki menceritakan tentang seorang prajurit bernama Li Naotaka yang berhasil selamat dari pohon tumbang yang tersambar oleh petir karena dipanggil oleh seekor kucing di kuil Budha yaitu kuil Gotokuji. Legenda kucing hoki ini sebagai asal muasal terbentuknya kebudayaan memajang kucing hoki di tempat usaha yang dipercaya bisa membawa keberuntungan bagi pemiliknya. Teknik musikal yang digunakan yaitu repetisi, imitasi, modulasi, perubahan dinamika dan tempo. Karya ini juga menggunakan tambahan sound effect yaitu suara kucing dan suara petir. Media atau instrumen yang digunakan yaitu carumba melodi, carumba bas dua buah, bas elektrik, floor drum dan cymbal crash.
-
WAJAH-WAJAH BERKABUNG SEBAGAI INSPIRASI BERKARYA SENI LUKIS Pengolahan Teknik dan Media ArtistikWajah atau muka adalah bagian depan dari kepala pada manusia yangmeliputi wilayah dari dahi hingga dagu. Wajah terutama digunakan untuk ekspresi wajah, penampilan serta identitas. Wajah merupakan salah satu bagian terpentingpada tubuh manusia dan merupakan objek identifikasi yang paling mudah. Disetiap kartu tanda penduduk (KTP) atau tanda pengenal, terpajang foto wajahdari pemiliknya tersebut. Foto tersebut tervisualisasikan sangat dominan denganbeberapa keterangan yang menguatkan identitas tersebut. Foto wajah di KTPadalah salah satu contoh objek identifikasi sedangkan contoh lainnya padapengumuman atau informasi orang hilang. Keluarga atau kerabat yang kehilangananggotanya akan menginformasikan kepada orang-orang dengan membuat iklan. Dalam iklan yang disebar memuat informasi dengan menampilkan wajah oranghilang beserta identitas lainnya.
-
Ludira Seta: Alih Wahana Garap Musik WayangLudira Seta: alih wahana garap musik wayang merupakan konstruksi karawitan dan musik yang diwujudkan melalui pemikiran teoritik kreativitas yang digagas Margaret.A Boden (2010). Substansi garap yang terdapat pada seluruh kompositoris musikal mengikuti alur skematik cerita. Implementasi dari proses garap secara metodik tidak bersifat parsial melainkan diformulasi melalui konsep kolaboratif dengan menyertakan varian dimensi pertunjukan (multidimensi). Metode pembentukan komposisi musikal mengacu pada konsep garap Rahayu Supanggah mengenai: (1) Materi garap; (2) Penggarap; (3) Sarana garap; (4) Prabot/Piranti garap; (5) Penentu garap; (6) Pertimbangan garap. Kedua konsep Kreativitas (Boden, 2010 dan Supanggah, 2011) menghasilkan bingkai keutuhan artistik yang divisualisasi mengabstraksi cerita yang diformat melalui format pertunjukan virtual. Kompleksitas garap musik secara substansial dihadirkan dari 2 sumber dan latar belakang tradisi yang berbeda, yaitu tradisi musik yang berlatar belakang konvensi karawitan Sunda serta tradisi musik yang berlatar belakang musik klasik barat. Kedua latar belakang musik tersebut sebagian besar diproses melalui sistem Digital Audio Workstation (DAW) serta mengacu pada referensi Electronic Dance Music (EDM). Temuan dari penciptaan karya ini di samping secara pengerjaan memiliki metodologi yang khas tetapi sekaligus menghasilkan varian baru tentang karakter bunyi pada karawitan Sunda dapat dijadikan sebagai opsi kreatif musik pertunjukan wayang golek. Keywords: Kreativitas, Garap, Wayang Golek, DAW.
-
FENOMENA PERUBAHAN BENTUK HIASAN TUTUP LAMPU BERBAHAN DASAR BAMBU (Studi Kasus: Selaawi, Garut)Kerajinan bambu di daerah Garut, lebih tepatnya di Kecamatan Selaawi merupakan gambaran pemberdayaan hasil alam yang ada di sekitar menjadi sesuatu yang sangat berperan penting untuk masyarakat Selaawi, bambu selain dimanfaatkan untuk keperluan pribadi juga menjadi salah satu mata pencaharian bagi masyarakat sekitar. Kerajinan bambu yang menjadi suatu kebanggaan masyarakat Selaawi ialah sangkar burung yang berukuran besar. Beberapa hal yang menjadi masalah pada kajian ini adalah seberapa besar pengaruh terhadap pengembangan bentuk dan ragam hiasan tutup lampu, baik dari masyarakat luar maupun dari masyarakat Daerah Selaawi itu sendiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi, yakni pendekatan untuk menggali dan mengungkap kesamaan makna dari sebuah konsep atau fenomena yang menjadi pengalaman hidup kelompok atau individu pada masyarakat lokal Selaawi dalam pemanfaatan alam sekitar. Metode yang digunakan adalah Metode kualitatif dimana sebuah pandangan yang diperoleh untuk menemukan hasil dari pemahaman yang beragam. Sedangkan hasil yang diharapkan pada kajian ini ialah kesadaran para pengrajin yang dirasa sangat penting dalam setiap perubahan pada setiap kerajinan yang dihasilkan. Kreativitas para pengrajin ini menjadi modal utama dalam menciptakan suatu kerajinan bentuk baru dan beragam sekaligus memperkenalkan kerajinan bambu ke masyarakat luas sebagai ciri khas atau identitas yang berasal dari Daerah Kecamatan Selaawi.
