Items
Class
Thesis
-
ANURAGA SWARAKarya sajian dengan judul “Anuraga Swara” merupakan sajian vokal dalam kawih wanda anyar dengan tema asmara. “Anuraga Swara”, melalui judul tersebut, penyaji ingin menyampaikan romantika atau perasaan cinta yang mendalam melalui estetika vokal dalam kawih wanda anyar. Sehingga, penyaji memilih menggunakan teori Estetika dari Djelantik untuk diaplikasikan pada sajian ini, unsur-unsur estetika yang diaplikasikan yakni Keutuhan (Unity), Penonjolan (Dominance), dan Keseimbangan (Balance). Berdasarkan teori tersebut, penyaji memilih menyajikan secara konvensional dan berkolaborasi dengan musik barat sebagai pendukung musik. Materi lagu yang disajikan yaitu, Asa Cikeneh, Peuting Asih, Wuyung Gandrung dan Ngalagena, ini merupakan karya penerus Mang Koko.
-
KREATIVITAS SOFYAN TRIYANA DALAM ALBUM ROMANTIKA KELOMPOK SWARANTARAPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji kreativitas Sofyan Triyana dalam Album Romantika kelompok Swarantara. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang bertujuan untuk memahami aspek-aspek proses kreatif, inovasi karya, dan faktor pendukung yang mempengaruhi kreativitas tersebut. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sofyan Triyana mampu mengintegrasikan unsur-unsur musik tradisional Sunda, seperti karawitan, dengan genre kontemporer, pop, jazz, bosa nova, dangdut dan karakter-karakter musik yang lainya secara inovatif. Kreativitasnya dipengaruhi oleh faktor pribadi, lingkungan, dan sosial, yang memotivasi dirinya untuk berinovasi tanpa menghilangkan identitas budaya. Album Romantika yang terdiri dari sembilan lagu ini kaya akan makna dan emosi, serta menunjukkan keberanian dalam bereksperimen dengan aransemen dan penggunaan teknologi. Temuan ini menegaskan bahwa kreativitas dalam bermusik tidak hanya bersifat individual, tetapi juga dipengaruhi oleh proses kolaboratif dan faktor eksternal, yang secara bersama-sama mendukung terciptanya karya inovatif dan bermakna. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kreativitas di bidang seni musik tradisional yang relevan dengan perkembangan zaman.
-
IMPLEMENTASI INTERVAL LARAS SALÉNDRO DALAM KARAWITAN SUNDA: STUDI KASUS WADITRA KACAPI MANG AYI PANTUNPenelitian ini membahas tentang implementasi interval laras Saléndro dalam praktik karawitan Sunda, dengan fokus pada studi kasus waditra kacapi yang dimainkan oleh Mang Ayi Pantun, seorang praktisi seni pantun dari Subang. Laras saléndro secara teoretis dirumuskan oleh Raden Machyar Angga Koesoemadinata dengan pembagian interval merata sebesar 240 Cent. Namun dalam praktiknya, banyak seniman yang menggunakan intuisi dan pengalaman musikal sebagai dasar penyetelan, sehingga menghasilkan interval yang bervariasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi lapangan, wawancara mendalam, dan eksperimen penyetelan kacapi. Frekuensi nada pada kacapi yang disetel oleh Mang Ayi dianalisis dan dibandingkan dengan interval teoretis laras Saléndro rakitan 15 nada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interval yang dihasilkan oleh Mang Ayi memiliki tingkat kemiripan sebesar 84%–98% terhadap laras Saléndro teoretis. Variasi ini dipengaruhi oleh intuisi musikal, pengalaman pribadi, serta transmisi pengetahuan secara oral. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik pelarasan dalam karawitan Sunda tidak sematamata mengacu pada teori baku, melainkan merupakan hasil dari proses psikokultural yang kompleks. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang fleksibilitas sistem nada dalam musik tradisional Sunda dan pentingnya mempertimbangkan aspek budaya dalam studi etnomusikologi.
-
GAMBANG DWI SUKMA“GAMBANG DWI SUKMA” merupakan sajian tugas akhir yang berfokus pada eksplorasi dan penyajian pola tabuhan gambang dalam seni pertunjukan wayang golek, dengan mengadopsi serta mengadaptasi gaya permainan dua tokoh gambang terkemuka dari tradisi Giriharja, yaitu Arief Nugraha Rawanda dan Guna Ginanjar. Sajian ini menitikberatkan pada dua pola tabuhan utama, yakni cacagan dan carukan, yang masing-masing diangkat dari kekhasan teknik kedua tokoh tersebut. Pola tabuh cacagan yang diadaptasi dari Arief Nugraha Rawanda dikenal inovatif dan penuh variasi, sedangkan pola carukan dari Guna Ginanjar memiliki karakteristik stakato yang rapi dan harmonis. Melalui pendekatan teori garap sebagaimana dikemukakan oleh Rahayu Supanggah, penyaji mengembangkan konsep pertunjukan yang mencakup materi garap, penggarap, sarana garap, prabot garap, penentu garap, dan pertimbangan garap secara menyeluruh.
-
AQSHAL PRIOLANPenulisan skripsi ini berjudul “ASTA KALIH WIRAHMA NING WAYANG” dengan minat utama penyajian kendang dalam Wayang Golek. Tujuan dari skripsi ini adalah sebagai bukti intelektual penyaji selain bisa mereprentasikan tepak kendang dalam Wayang Golek, penyaji juga bisa membuat karya tulis ilmiah. Skripsi ini, mendeskripsikan tentang ragam tepak kendang Wayang Golek khususnya gaya Giri Harja 3 dengan konsep garap yang singkat dan padat tanpa mengurangi estetika musikal yang biasa disajikan dalam pertunjukan Wayang Golek. Landasan teori yang digunakan merupakan teori imitasi parsial yang menitik beratkan pengadopsian garap tepak kendang dalam Wayang Golek khususnya gaya Giri Harja 3 yang diselaraskan dengan kebutuhan visual serta aspek musikal yang biasa disajikan dalam pertunjukan Wayang Golek. Hasil yang diharapkan dari skripsi dan penyajian garapan ini adalah, setiap pengendang khususnya dalam kesenian Wayang Golek harus mampu memahami dan menguasai setiap aspek – aspek penting dalam pertunjukan Wayang Golek seperti, pemahaman terhadap ragam tepak pada ibingan Wayang, juga mampu mengungkap setiap karakter tokoh Wayang.
-
FENOMENA PERTUNJUKAN PUPUH RAÉHAN KARYA YUS WIRADIREDJAPenelitian ini mengkaji pupuh raéhan sebagai inovasi dalam seni pertunjukan Sunda modern yang diprakarsai oleh Yus Wiradiredja. Karya ini hadir sebagai respons atas menurunnya minat generasi muda terhadap pupuh tradisional dan sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan selera musikal di era digital. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi faktor-faktor pendorong lahirnya pupuh raéhan sebagai inovasi penyajian pupuh tradisional, dan (2) menganalisis pandangan pencipta, seniman, dan audiens terhadap pertunjukannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, teori fenomenologi sosial Alfred Schutz, dan metode analisis tematik Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuh raéhan merupakan bentuk pelestarian budaya melalui strategi penyajian kontemporer yang diterima secara cenderung positif, terutama dalam dunia pendidikan. Namun demikian, terdapat pula pandangan skeptis dari sebagian pihak, termasuk beberapa siswa yang tidak serta-merta memahami dan menerima inovasi ini, serta kekhawatiran terhadap potensi degradasi nilai simbolik pupuh tradisional. Hal ini menandakan adanya dinamika antara inovasi dan konservatisme dalam pelestarian seni. Kontribusi penelitian ini terletak pada pemahaman baru tentang strategi inovatif dalam pelestarian seni tradisi berbasis konteks sosial, serta menjadi referensi bagi seniman dan institusi pendidikan dalam mengembangkan model pembelajaran seni yang relevan dengan generasi muda.
-
TRILOKA (Penyajian Kendang dalam Topeng Cirebon, Kiliningan, dan Sisingaan)Penulisan skripsi ini berjudul “Triloka” dengan garap utama waditra kendang dalam Topeng Cirebon, Kiliningan, dan Sisingaan. Tujuan dari penulisan ini adalah membuktikan keberagaman jenis-jenis kendang yang ada di Jawa Barat. Landasan teori yang digunakan dalam penulisan ini adalah teori garap. Penulisan ini menyajikan tiga repertoar yakni Topeng Klana pada garap kendang Topeng Cirebon, lagu Goléwang naék Hayam Ngupuk pada garap kendang kiliingan, dan Sisingan Sadulur Group pada garap kendang sisingaan.
-
GULAK-GILEK LARAS DINA GELIK SULING (Penyajian Suling dalam Sekar Gending)Sajian yang berjudul ‘Gulak-Gilek Laras dina Gelik Suling’ merupakan karya seni yang menyajikan permainan suling liang salapan dalam dua genre seni yaitu tembang sunda cianjuran dan celempungan. Judul tersebut berasal dari kamus bahasa Sunda yang dimana judul tersebut memiliki arti tiap katanya, jika dirangkaikan yaitu permainan suling yang mengutamakan pengolahan laras melalui teknik penjarian dan ornamentasi. Sajian ini menggunakan pendekatan teori kreativitas yang dikemukakan oleh Conny R Semiawan dalam buku yang berjudul “Kreativitas: Sejarah, Teori dan Perkembangan” karya Nur Iswantara, dalam sajian ini teori tersebut diterapkan dalam pengolahan unsur musikal yang memodifkasi melodi-melodi lagu dari dua genre kesenian yang berbeda sehingga menghasilkan nuansa lagu yang syarat dengan penerapan berbagai laras. Dalam sajian ini laras yang digunakan terdiri dari laras saléndro, madenda dan degung. Sajian ini diharapkan bisa menjadi referensi mengenai teknik permainan suling liang salapan bagi para seniman terutama pemain suling dalam mengembangkan teknik permainan suling liang salapan yang lebih variatif dan kreatif.
-
FUNGSI KESENIAN GEMBYUNG GRUP DARSIM MUDA DALAM TRADISI HAJATAN DI KECAMATAN PAGADEN KABUPATEN SUBANGPenelitian ini berjudul Fungsi Kesenian Gembyung Grup Darsim Muda dalam Tradisi Hajatan di Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna dan peran strategis kesenian Gembyung sebagai manifestasi budaya yang hidup, dinamis, dan berakar kuat dalam struktur sosial masyarakat Sunda, khususnya dalam konteks hajatan. Gembyung bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana komunikasi simbolik, media spiritualitas, serta alat pelestarian identitas budaya lokal yang kaya dan kompleks. Grup Darsim Muda, sebagai salah satu kelompok Gembyung yang aktif dan berpengaruh di Kecamatan Pagaden, dipilih sebagai fokus kajian karena konsistensinya dalam menjaga dan mengembangkan tradisi di tengah tantangan modernisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan strategi etnografi, yang memungkinkan peneliti merekam pengalaman budaya secara holistik dan mendalam. Teknik pengumpulan data terdiri atas studi pustaka, observasi langsung dalam berbagai acara hajatan, serta wawancara mendalam dengan pelaku seni, tokoh adat, dan masyarakat setempat sebagai pemangku kepentingan budaya. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan kerangka teori fungsi musik Alan P. Merriam (1964), yang secara komprehensif mengidentifikasi fungsi-fungsi musik dalam konteks kebudayaan lintas wilayah dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenian Gembyung yang dibawakan oleh Grup Darsim Muda memiliki fungsi sosial, spiritual, edukatif, ekspresif, dan integratif yang sangat vital dalam kehidupan masyarakat Pagaden. Fungsi-fungsi tersebut menjadikan Gembyung sebagai jembatan penghubung antar generasi, memperkuat kohesi sosial, serta mempertegas dan melestarikan identitas budaya lokal. Eksistensi Grup Darsim Muda juga memperlihatkan bahwa seni tradisi bukanlah entitas statis, melainkan terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi dan nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam kajian etnomusikologi lokal dan menegaskan urgensi pelestarian seni tradisi sebagai warisan budaya takbenda yang bernilai luhur dan relevan untuk masa kini dan generasi mendatang.
-
PASIEUP PANGGUGAH RASA (Penyajian Kacapi dalam Tembang Sunda Cianjuran)“Pasieup Panggugah Rasa” merupakan judul sajian Tugas Akhir terhadap penyajian kacapi dalam Tembang Sunda Cianjuran. Makna yang terkandung dalam judul karya “Pasieup” merupakan pola tabuh instrumen kacapi indung, “Panggugah Rasa” merupakan arti dari kata menumbuhkan rasa. Artinya bahwa teknik permainan instrumen kacapi indung dapat menumbuhkan rasa terhadap pemain kacapi indung. Sajian yang berjudul “Pasieup Panggugah Rasa” merupakan judul sajian yang didalamnya terdapat konsep garap secara konvensional, yang didampingi dengan rawayan gending disusun secara terstruktur dimulai dengan Teknik landangan instrumen suling disajikan pada sajian pertama sebelum lagu dan termasuk kepada bubuka. Lagu yang dibawakan terdapat 3 laras yaitu laras degung, laras laras madenda, dan laras mandalungan. Adapun teori yang digunakan pada sajian kacapi dalam Tembang Sunda Cianjuran adalah teori dari Dr. Heri Herdini, M. Hum. Teori yang dikemukakan oleh beliau adalah teori komunikasi Non-Verbal bawasanya komunikasi Non-Verbal adalah “kacapi indung dalam Tembang Sunda Cianjuran sebagai induk pengiring jalannya sajian Tembang Sunda Cianjuran, dan merupakan patokan terhadap garap dari instrumen yang ada di dalam kesenian Tembang Sunda Cianjuran.” Hal tersebut mengartikan bahwa instrumen kacapi indung merupakan instrumen pokok yang dianalogikan sebagai induk dari sajian Tembang Sunda Cianjuran dan pemberi aba aba untuk penembang.
-
REALITAS DAYA TAFSIR KOMUNITAS KAIBUTSU TERHADAP PENGGAMBARAN HETERONORMATIVITAS DALAM FILM MONSTER KARYA HIROKAZU-KOREEDAPenelitian ini menganalisa pembingkaian norma gender dalam film Jepang berjudul Monster. Heteronormativitas sebagai konstruksi sosial sering kali direpresentasikan dalam film melalui narasi, karakter, dan konflik yang mengutamakan relasi heteroseksual sebagai norma utama. Monster adalah film yang menggambarkan kehidupan dua anak laki-laki, Minato Mugino dan Yori Hoshikawa, yang menghadapi kesulitan akibat tekanan heteronormativitas dari lingkungan mereka. Film ini memperlihatkan bentuk diskriminasi, kecurigaan, dan homofobia yang dihadapi keduanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi pembingkaian heteronormativitas dalam film serta memahami bagaimana audiens dari Komunitas Kaibutsu merespons pembingkaian tersebut. Analisis menggunakan teori analisis framing Murray Edelman. Data dikumpulkan melalui Google Form dan wawancara online serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Kaibutsu menafsirkan bahwa film Monster membingkaikan heteronormativitas yang berperan membentuk ekspektasi dan perilaku gender, tetapi juga menimbulkan tekanan sosial dan psikologis, terutama bagi individu yang menyimpang dari norma tersebut.
-
PERAN KOMUNITAS SKATEBOARD STREETWEAR DALAM INDUSTRI CLOTHING DI KOTA BANDUNG (Studi Pada Clothing UNKL347)Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pola budaya streetwear dalam perkembangan industri clothing, peran komunitas dalam membentuk dan menyebarluaskan budaya streetwear dan faktorfaktor yang mempengaruhi pertumbuhan budaya streetwear di Kota Bandung. Lokus penelitian dilakukan di Kota Bandung. Populasi penelitian ini adalah pelaku industri industri clothing dan komunitas streetwear yang terlibat secara lansung. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara dan studi pustaka. Partisipan penelitian adalah pendiri clothing UNKL347 dan Skateboarder. Berdasarkan hasil penelitian bahwa peran komunitas skateboard streetwear dalam industri clothing di Kota Bandung (studi pada clothing UNKL347) terdapat beberapa aspek utama. Aspek karakteristik pola budaya streetwear mencakup 1) pengaruh subkultur; 2) desain kasual dan eksklusivitas; dan 3) kolaborasi. Aspek peran komunitas mencakup 1) pembentuk kolaborasi kreatif; 2) pendorong brand lokal; dan 3) pembentuk identitas kolektif. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan budaya streetwear di Kota Bandung mencakup beberapa faktor pendukung diantaranya: 1) budaya kreatif lokal; 2) platform digital; 3) industri clothing; dan 4) event dan festival.
-
REPRESENTASI NILAI SINKRETISME DALAM PRAKTIK KEHIDUPAN DI NEGERI PELAUW KABUPATEN MALUKU TENGAHPenelitian ini membahas tentang representasi nilai sinkretisme dalam praktik kehidupan masyarakat di Negeri Pelauw, Kabupaten Maluku Tengah. Negeri Pelauw merupakan salah satu komunitas adat Islam di Pulau Haruku yang mempertahankan tradisi leluhur sambil mempraktikkan ajaran Islam secara bersamaan. Sinkretisme dalam konteks ini merujuk pada perpaduan nilai-nilai adat dan agama yang melebur secara harmonis dalam kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai sinkretisme tercermin dalam berbagai praktik kehidupan, antara lain ritual Ma’atenu, pelantikan raja dan kabaresi, ritual sasi, gotong royong (masohi), serta penggunaan pakaian dan simbol keagamaan. Sinkretisme ini terbentuk melalui tiga faktor utama: sejarah dan warisan budaya, peran tokoh adat dan agama, serta struktur sosial yang inklusif. Masyarakat Negeri Pelauw tidak memisahkan adat dari agama, melainkan memandang keduanya sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Ajaran Islam memberikan legitimasi spiritual atas praktik-praktik adat, sementara adat memperkuat identitas lokal dan solidaritas sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa sinkretisme bukan sekadar kompromi budaya, melainkan bentuk keberagamaan yang kontekstual dan berakar kuat pada nilai-nilai kearifan lokal.
-
PERAN PEREMPUAN PENGANYAM TOPI BAMBU TERHADAP PEMENUHAN EKONOMI RUMAH TANGGA DI DESA ANCOL PASIR KABUPATEN TANGERANGRealitas sosial kelompok masyarakat di pedesaan dihadapkan pada tantangan ekonomi akibat keterbatasan akses pekerjaan formal, rendahnya pendidikan, serta minimnya keterampilan produktif. Dalam kondisi di Desa Ancol Pasir, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, perempuan mengambil peran strategis sebagai agen ekonomi keluarga melalui kegiatan menganyam topi bambu yang merupakan keterampilan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana peran sosial perempuan terbentuk melalui proses interaksi sosial, kontribusi ekonomi mereka berdampak pada keberlangsungan rumah tangga, serta aspek gender dan pemberdayaan perempuan pada pekerjaan menganyam topi bambu. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi lapangan, dan studi literatur. Informan terdiri dari perempuan penganyam, pengrajin, ketua komunitas, dan pihak pemerintah daerah. Teori yang digunakan adalah teori pembentukan peran dari George Herbert Mead yang menekankan tahapan pembentukan peran melalui pengalaman sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran perempuan sebagai penganyam sudah terbentuk sejak dini melalui proses sosial dari Ibu dan menjadi bagian dari struktur sosial kelompok penganyam. Aktivitas menganyam, cenderung dikategorikan sebagai pekerjaan sampingan karena segi penghasilan yang relatif rendah. Namun, bagi perempuan di pedesaan dengan tingkat pendidikan yang rendah dan keterampilan yang terbatas, pekerjaan ini menjadi satu-satunya pilihan untuk menopang ekonomi rumah tangga. Analisis gender pada pekerjaan ini menggambarkan adanya ketimpangan gender dalam pembagian kerja, akses, dan upah. Hal ini mencerminkan relasi kuasa yang tidak seimbang dalam rantai produksi. Meski demikian, pekerjaan ini membuka ruang pemberdayaan perempuan dalam skala lokal. Diperlukan kebijakan afirmatif berbasis gender untuk memperkuat posisi, peran, dan kapasitas perempuan dalam struktur ekonomi lokal.
-
FESYEN AMERICAN 80’S STYLE DI KOMUNITAS GANIATI UPI BANDUNG SEBAGAI PEMBENTUK IDENTITAS DIRIPenelitian ini membahas bagaimana pengaruh fesyen American 80’s style terhadap dinamika kehidupan anggota komunitas Ganiati UPI Bandung dalam aktivitas sehari-hari dan apa makna serta nilai yang terkandung dalam penggunaan fesyen American 80’s style dikalangan anggota komunitas Ganiati UPI Bandung dalam pembentukan identitas diri. Proses pembentukan identitas diri melalui fesyen American 80’s style di komunitas Ganiati UPI Bandung dianalisis menggunakan teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan pengaruh, makna dan nilai fesyen American 80’s style terhadap dinamika kehidupan anggota komunitas Ganiati UPI Bandung dalam aktivitas sehari-hari. Penelitian ini memberikan manfaat untuk pengembangan ilmu Antropologi Budaya mengenai hubungan fesyen internasional dalam penggunaannya di kalangan masyarakat lokal dan pembentukan identitas diri melalui fesyen dalam anggota komunitas tertentu. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data studi literatur, observasi partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fesyen American 80’s style digunakan anggota komunitas Ganiati sebagai bagian dari pembentukan identitas diri. Pilihan gaya dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, lingkungan komunitas, serta nilai dan kesadaran yang dimiliki masing-masing individu. Fesyen tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetika tetapi juga mencerminkan sikap, prinsip dan posisi mereka dalam lingkungan sosial.
-
PERSEPSI PENGUNJUNG MENGENAI FENOMENA SELFIE DI MASJID RAYA AL-JABBAR KOTA BANDUNGPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pengunjung terhadap fenomena selfie yang dilakukan di lingkungan Masjid Raya Al-Jabbar, Kota Bandung. Selfie sebagai bagian dari budaya digital telah merambah berbagai ruang publik, termasuk ruang ibadah, sehingga menimbulkan respons sosial yang beragam. Masjid Raya Al-Jabbar dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki daya tarik arsitektural yang tinggi dan menjadi salah satu destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori persepsi yang dilengkapi dengan teori atribusi sosial, yang membantu menjelaskan bagaimana pengunjung membentuk pandangan dan penilaian terhadap aktivitas selfie di lingkungan masjid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pengunjung terhadap fenomena selfie di Masjid Raya Al-Jabbar terbagi menjadi tiga kategori: positif, netral, dan negatif. Persepsi positif umumnya dilandasi oleh anggapan bahwa selfie merupakan bentuk ekspresi kekaguman terhadap kemegahan masjid dan sebagai sarana dokumentasi pribadi. Sementara itu, persepsi negatif muncul dari pandangan bahwa selfie mengganggu kekhusyukan beribadah dan tidak sesuai dengan norma kesopanan di tempat suci.
-
JARINGAN SOSIAL PEDAGANG BAKSO PATROL DI KOTA BANDUNGPenelitian ini dilakukan untuk meneliti jaringan sosial pedagang bakso patrol di Kota Bandung serta menjelaskan aktor-aktor dan proses pembentukan jaringan sosial. Penelitian ini melibatkan manfaat dan relevansi dengan menggali potensi sistem sosial pedagang bakso patrol yang berasal dari Ciamis, Sumedang, dan Tasikmalaya dalam membangun keberlangsungan usaha mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah metodologi kualitatif dengan pendekatan etnografi yang menggunakan teori Jaringan Sosial Mark Granovetter. Populasi penelitian meliputi pedagang bakso patrol di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan sosial pedagang bakso patrol terdiri atas empat bentuk jaringan. Pertama, jaringan sosial paguyuban yang bersifat informal dan dilandasi kepentingan, dengan titik awal dari juragan HN yang merekrut pekerja berdasarkan kepercayaan dan kesamaan daerah asal. Kedua, jaringan sosial kesamaan daerah asal dari Dusun Bitungsari dan Samarang (Ciamis), Rancakalong (Sumedang), dan Singaparna (Tasikmalaya). Ketiga, jaringan sosial perkawinan dan kekerabatan dengan ikatan emosional yang lebih kuat. Keempat, jaringan sosial pertemanan melalui interaksi sehari-hari dengan bentuk expressive emotional friendship dan instrumental friendship. Proses pembentukan terjadi melalui transformasi ikatan lemah menjadi ikatan kuat, pembentukan norma vertikal dan horizontal, keterlekatan relasional melalui interaksi harian, serta kepercayaan askriptif dan prosesual yang mendorong solidaritas antarpedagang. Simpulan dari penelitian ini adalah jaringan sosial pedagang bakso patrol di Kota Bandung tidak hanya berorientasi pada aktivitas ekonomi semata, tetapi juga membangun sistem sosial yang mendukung keberlangsungan usaha. Jaringan didasari oleh ikatan kuat dan ikatan lemah yang terbentuk melalui interaksi sehari-hari. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat menjadi bentuk pertimbangan dalam memahami dinamika hubungan sosial, budaya dan ekonomi pedagang yang berkembang di kawasan perkotaan.
-
PERSEPSI PENGUNJUNG DAN PENGELOLA MUSEUM TERHADAP REVITALISASI TAMAN MUSEUM GEDUNG JUANG 45 DI KABUPATEN BEKASIMuseum Gedung Juang 45 Bekasi merupakan bangunan cagar budaya bersejarah yang terletak di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, yang berfungsi sebagai pusat edukasi sejarah perjuangan rakyat Bekasi serta pelestarian identitas budaya lokal. Penelitian ini membahas persepsi pengunjung dan pengelola terhadap revitalisasi Museum Gedung Juang 45 Bekasi sebagai upaya pelestarian cagar budaya sekaligus peningkatan fungsi edukasi dan rekreasi. Revitalisasi mencakup alih fungsi museum menjadi berbasis digital serta penataan ulang kawasan taman agar lebih menarik bagi masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan revitalisasi memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan jumlah kunjungan, khususnya dari kalangan pelajar dan generasi muda. Selain itu, revitalisasi berhasil menciptakan museum yang lebih interaktif, tidak hanya sebagai tempat menyimpan benda sejarah, tetapi juga menjadi ruang publik yang edukatif dan rekreatif. Persepsi positif dari pengelola dan pengunjung menunjukkan bahwa revitalisasi mampu mengembalikan fungsi museum sebagai media pembelajaran sejarah sekaligus tempat hiburan masyarakat Bekasi.
-
APLIKASI BUBBLE SEBAGAI MEDIUM ILUSI PARASOSIAL PADA PENGGEMAR K-POP LUCY BAND (WALWAL)Penelitian ini mengkaji peran aplikasi Bubble sebagai medium pembentuk ilusi parasosial antara penggemar Lucy Band (Walwal) dengan idolanya. Penelitian ini mengungkapkan fenomena hubungan parasosial di era digital yang semakin kompleks, di mana teknologi tidak hanya memediasi interaksi, tetapi juga membentuk persepsi dan realitas emosional penggemar. Kesenjangan penelitian ini muncul dari terbatasnya studi tentang aplikasi Bubble sebagai platform eksklusif yang menciptakan kedekatan semu, khususnya dalam konteks K-Band seperti Lucy Band, yang berbeda secara musikalitas dan interaksi dengan penggemar dibandingkan idola K-Pop pada umumnya. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis mekanisme ilusi parasosial yang terbentuk melalui Bubble serta pengaruhnya terhadap kehidupan nyata penggemar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, berlandaskan teori Ekologi Media McLuhan yang menekankan peran medium dalam membentuk persepsi dan realitas sosial. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan lima penggemar (Walwal), dan studi literatur. Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola interaksi dan dampak hubungan parasosial. Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa fitur-fitur Bubble seperti notifikasi real-time, konten eksklusif, dan simulasi interaksi personal (seperti fitur Your Name dan Birthday Greetings) berhasil menciptakan ilusi kedekatan emosional yang dalam. Hubungan parasosial ini memengaruhi perilaku penggemar, seperti perubahan gaya hidup, pembentukan emotional bonding, dan peningkatan standar hubungan ideal. Namun, di balik dampak positif seperti motivasi berolahraga atau belajar bahasa Korea, terdapat risiko ketergantungan emosional pada hubungan sepihak. Implikasi penelitian ini mencakup dua aspek: akademis dan praktis. Secara akademis, temuan ini memperkaya literatur tentang hubungan parasosial di era digital, khususnya dalam konteks K-Band. Secara praktis, penelitian ini memberikan wawasan bagi industri hiburan tentang dampak psikologis platform parasosial serta rekomendasi bagi penggemar untuk menjaga keseimbangan antara interaksi virtual dan kehidupan nyata.
-
REPRESENTASI PENGGUNAAN RUANG DAN INTERAKSI SOSIAL PENGUNJUNG DI TAMAN LITERASI MARTHA CHRISTINA TIAHAHU BLOK M JAKARTA SELATANPenelitian ini mengkaji representasi penggunaan ruang dan interaksi sosial pengunjung di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Blok M, Jakarta Selatan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teori produksi ruang Henri Lefebvre, penelitian bertujuan untuk memahami bagaimana ruang taman diproduksi secara sosial dan bagaimana pola interaksi sosial terbentuk di dalamnya. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan pengunjung, pengelola, dan komunitas penyelenggara kegiatan, serta dokumentasi aktivitas di taman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang taman tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai ruang sosial yang dinamis, tempat pertukaran ide dan pengembangan literasi masyarakat. Pengunjung dan komunitas secara aktif memaknai dan memanfaatkan ruang sesuai kebutuhan, sementara desain dan aktivitas yang ada mendorong terbentuknya interaksi sosial yang beragam. Penelitian ini merekomendasikan pengelolaan taman yang lebih partisipatif dan adaptif agar taman dapat terus berkembang sebagai ruang publik yang inklusif dan berkelanjutan di tengah masyarakat urban.
-
FENOMENA CANCEL CULTURE DI TWITTER/X: STUDI KASUS PLAGIARISME RICODWICHYPenelitian ini bertujuan untuk memahami fungsi cancel culture sebagai mekanisme kontrol sosial di media sosial Twitter/X serta menganalisis respons pengguna terhadap kasus plagiarisme Ricodwichy. Dengan pendekatan etnografi virtual dan teori intersubjektivitas Alfred Schutz, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana makna kolektif dibangun melalui interaksi digital. Data dikumpulkan melalui pengamatan konten digital, dokumentasi postingan, dan analisis interaksi, menggunakan kerangka analisis media siber pada level ruang media, dokumen media, objek media, dan pengalaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cancel culture menjadi alat yang efektif untuk menegakkan norma sosial di ruang digital, dengan engagement tinggi pada thread utama yang mengekspos kasus ini. Diskursus daring menciptakan dampak nyata di dunia offline, seperti sanksi akademik yang diterima Ricodwichy. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian budaya digital dengan menyoroti bagaimana ruang digital mendukung pembentukan dan penerapan norma sosial.
-
PERSEPSI WISATAWAN DOMESTIK PADA DESTINASI WISATA MUSEUM BATIK INDONESIA TMII JAKARTAMuseum Batik Indonesia yang terletak di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta merupakan destinasi wisata budaya yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik. Museum Batik Indonesia memiliki peran penting sebagai media edukasi serta upaya pelestarian batik sebagai warisan budaya takbenda Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana Museum Batik Indonesia mampu memenuhi ekspektasi dan kebutuhan wisatawan. Oleh karena itu penting untuk mempelajari persepsi wisatawan domestik terhadap empat komponen utama dalam pengelolaan destinasi wisata, yaitu atraksi, aksesibilitas, fasilitas, dan layanan tambahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan pengelola museum dan wisatawan domestik, serta studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Museum Batik Indonesia memiliki atraksi, aksesibilitas, fasilitas, dan layanan tambahan yang kuat sebagai destinasi wisata edukatif dan budaya. Museum ini sudah memberikan kepuasan serta respons yang positif kepada wisatawan domestik. Namun, terdapat beberapa catatan yang perlu diperhatikan untuk museum yaitu kurangnya penyampaian informasi mengenai kegiatan workshop kepada wisatawan, tidak adanya toko suvenir resmi, akses menuju pintu masuk yang belum ramah bagi penyandang disabilitas, tidak adanya petunjuk arah yang jelas menuju mushola, serta fasilitas media interaktif yang masih bersifat pasif. Selain itu, Museum Batik Indonesia juga menjalankan peran strategis dalam pelestarian warisan budaya batik melalui program-program yang edukatif, partisipatif, berkelanjutan, serta adaptif terhadap perkembangan zaman.
-
PENGARUH BUDAYA K-POP DANCE COVER TERHADAP GAYA HIDUP REMAJA KOMUNITAS THE NATION PROJECT KOTA BANDUNGPenelitian ini menjelaskan mengenai bagaimana pengaruh dari budaya K-Pop dance cover terhadap para remaja di komunitas The Nation Project Bandung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatis dengan pendekatan yang bersifat deskriptif, dengan menggunakan teknik pengambilan data melalui partisipasi peneliti, observasi, wawancara, kuesioner, dan studi pustaka. Teori yang digunakan untuk menganalisis penelitian ini adalah teori motivasi Abraham Maslow. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dorongan motivasi yang membuat mereka tertarik pada budaya K-Pop dance cover, yang meliputi (1) Adanya bentuk dorongan yang berasal dari dalam dirinya sendiri atau faktor internal dan dorongan dari lingkungan sosialnya atau faktor eksternal. (2) Budaya K-Pop dance cover memengaruhi gaya hidup para remaja yang didominasi oleh tiga pengaruh, yaitu meningkatnya kepercayaan diri, meningkatnya selera fashion atau representasi estetika fashion, dan eksistensi diri mereka di kehidupan sehari-hari maupun media sosial.
-
PROSES TAHAPAN RITUAL SEBELUM PAGELARAN KESENIAN RONGGENG GUNUNG DI DESA PANYUTRAN KECAMATAN PADAHERANG KABUPATEN PANGANDARANKesenian Ronggeng Gunung sebagai warisan budaya tradisional Indonesia memiliki nilai penting untuk dilestarikan karena mengandung kekayaan makna dan simbol yang merefleksikan kearifan lokal masyarakat, khususnya di Kabupaten Pangandaran. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya dokumentasi dan tulisan mendalam mengenai proses tahapan ritual sebelum pagelaran Ronggeng Gunung di Desa Panyutran, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, yang berpotensi mengancam keberlangsungan nilai-nilai sakral dalam kesenian tersebut. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan proses tahapan ritual yang harus dilakukan ronggeng sebelum pagelaran dan menganalisis konsep shamanisme dalam kesenian tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengaplikasikan teori liminalitas Victor Turner sebagai kerangka analisis. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai sumber primer, sedangkan sumber sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan. Analisis data meliputi tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses ritual yang dilakukan oleh calon ronggeng merupakan serangkaian prosesi sakral yang memiliki makna simbolik dan fungsi spiritual, terutama ritual pemandian di Kedung Nyi Samboja. Ronggeng dalam konteks ini berperan sebagai perantara komunikasi antara dunia manusia dan dimensi transendental, menegaskan posisinya sebagai seorang shaman yang mengalami transformasi spiritual setelah menjalani ritual pemandian tersebut. Implikasi dari temuan ini menyoroti pentingnya ritual ini untuk menjadi wahana transmisi pengetahuan dan nilai-nilai tradisional antar generasi, di mana narasi tentang sosok Samboja dan praktik-praktik ritual diwariskan kepada calon ronggeng, memastikan keberlangsungan tradisi lisan yang menjadi fondasi kesenian ini.
-
NARASI GENDER DAN DEKONSTRUKSI PATRIARKI DALAM DRAMA KOREA QUEENMAKERKorea Selatan merupakan negara dengan sistem budaya patriarki yang kuat. Dalam budaya mereka, laki-laki dianggap lebih utama dibandingkan perempuan. Ketidakadilan gender bagi perempuan Korea telah dialami sejak masa dinasti yang diperkuat dengan adanya ajaran Konfusianisme. Artinya, sistem patriarki ini telah menjadi logosentris atau memiliki bangunan yang kokoh di Korea. Oleh karena itu, untuk membongkar bangunan kokoh tersebut, Drama Korea Queenmaker memotret gambaran ketidakadilan gender itu, khususnya dalam dunia politik melalui sosok politikus wanita yang harus berhadapan dengan kerasnya ‘dunia laki-laki’. Penelitian ini membahas mengenai narasi gender dan dekonstruksi patriarki dalam drama Korea Queenmaker. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dekonstruksi patriarki yang ada dalam drama Korea Queenmaker. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan content analisys (Eryanto, 2011). Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, dokumentasi yang dilakukan dengan mengambil tangkapan layar dari sejumlah adegan drama Korea Queenmaker di situs layanan Netflix. Analisis penelitian menggunakan teori dekonstruksi Jaques Derrida yang memebahas narasi gender dan dekonstruksi patriarki yang ada dalam drama Korea Queenmaker. Hasil dari penelitian ini adalah drama Queenmaker telah mendekonstruksi narasi patriarki melalui dominasi suara-suara perempuan, kemampuannya menjadi pusat, dan menawarkan beragam pemaknaan dalam memperlihatkan kemampuan perempuan dalam menegosiasikan dirinya dengan memimpin di lingkungan yang dikuasai oleh laki-laki.
