Items
-
RONA: VISUALISASI EMOSI PADA EKSPRESI WAJAH SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA LUKISMigrasi merupakan fenomena yang telah lama menjadi bagian dari sejarah Indonesia dan terus berlangsung hingga kini. Indonesia yang kaya akan budaya menghadirkan tantangan tersendiri bagi para migran, salah satunya dalam hal komunikasi antarbudaya. Perbedaan bahasa, pola pikir, lingkungan sekitar, serta gaya hidup antara migran dan masyarakat lokal mengharuskan adanya proses adaptasi oleh migran. Selama proses adaptasi berlangsung, beragam emosi muncul. Emosi ini mencerminkan perjuangan dan upaya individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda. Tugas akhir ini diangkat dari pengalaman pribadi penulis yang melakukan migrasi dari kota Tangerang Selatan ke pedesaan Yogyakarta. Melalui media lukisan, penulis berupaya memvisualisasikan emosi-emosi yang muncul selama penulis mengalami proses adaptasi dengan lingkungan baru. Hasil dari keseluruhan proses ini adalah enam buah lukisan potret diri dengan gaya ekspresionistik yang menceritakan perubahan emosi yang muncul silih berganti.
-
“LAUT ADALAH IBU”: INTERPRETASI LAUT SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA LUKIS SUREALISPengkaryaan ini berangkat dari permasalahan tentang bagaimana laut dari berbagai budaya digambarkan sebagai sesuatu yang penuh dengan teka-teki, asal mula kehidupan, dan seringkali mengandung banyak cerita magis. Salah satunya adalah laut yang dianggap sebagai sosok ibu yang penuh kasih. Laut juga memiliki peran penting dalam menopang kehidupan dan kesejahteraan umat manusia. Laut tidak hanya menjadi elemen dalam narasi tetapi juga simbol penting dalam menggambarkan emosi dan harapan manusia. Hal ini menegaskan pandangan pengkarya bahwa laut memiliki interpretasi yang tidak hanya dipahami dari segi fisiknya sebagai bentang alam, tetapi juga dapat menciptakan ruang untuk mengekspresikan seni dan sebagai refleksi diri. Sehingga sering kali menggambarkan bagaimana laut dapat memengaruhi perasaan serta jiwa manusia. Dalam pengkaryaan ini, pengkarya menggunakaan metode penciptaan berdasarkan pandangan L.H. Chapman yang dikenal karena teorinya tentang proses penciptaan seni, dengan proses kreatifnya yang melibatkan tiga tahapan utama; eksplorasi, eksperimen, dan evaluasi untuk menghasilkan karya yang menggambarkan interpretasi laut adalah ibu dengan gaya lukis surealis. Hasil penelitian ini adalah serangkaian karya lukis dengan ukuran 60X80 cm sebanyak tiga buah dan 200x100 cm sebanyak satu buah karya. Pengkarya memanfaatkan elemen ombak, arus, dan kedalaman laut sebagai wujud interpretasi yang merefleksikan kasih ibu, sekaligus mencerminkan peran ganda seorang ibu sebagai pemberi kehidupan dan pelindung dari bahaya. Elemen-elemen simbolik ditambahkan untuk memperkuat pesan, seperti visualisasi karya dengan simbolisasi wanita seperti rambut dan perahu serta berbagai objek penghuni laut. Bentuk ombak yang melingkupi, serta kehadiran makhluk laut, turut melambangkan kehidupan yang terkait dengan peran ibu.
-
TRI TANGTU: REFLEKSI KESEIMBANGAN EGRANG SEBAGAI PENCIPTAAN KARYA SENI LUKISPermainan tradisional merupakan warisan budaya yang kaya akan nilai filosofis, sosial, dan kreatif. Namun, perkembangan zaman menyebabkan permainan tradisional menggeser minat masyarakat akan budaya daerah. Di Indonesia, terdapat sekitar 2.600 jenis permainan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk di Jawa Barat dengan istilah Kaulinan Barudak. Salah satu permainan khas Jawa Barat adalah Jajangkungan atau dikenal sebagai egrang, yang menggunakan dua batang bambu sebagai alat utama dan membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan sebagai metafora di tengah tantangan modernisasi yang kompleks, tumbuh dalam tekanan sosial dan ketidakpastian. Metode yang digunakan yaitu teori L.H. Chapman yaitu menemukan gagasan (inception of an idea), menyempurnakan, mengembangkan, dan memantapkan gagasan awal (elaboration and refinement), serta visualisasi ke dalam medium (heention in a medium). Dalam tugas akhir ini menciptakan karya seni lukis dengan eksplorasi gaya pop surealis menggunakan objek egrang sebagai representasi visual. Diharapkan dapat menarik perhatian melalui elemen visual yang unik dan memantik refleksi mengenai mengenai pentingnya keseimbangan, dan menjaga keberlanjutan budaya tradisional di tengah perubahan zaman.
-
“MASAGI” SIMBOLISME PERTAHANAN EGO SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS STILL LIFEPada kebudayaan Sunda terdapat filosofi masagi yang berfokus pada pencarian kesempurnaan dan integrasi pengalaman hidup, namun dengan adanya goncangan, kecemasan dan trauma, maka kesempurnaan tersebut sulit untuk diraih. Untuk melindungi ego dari perasaan cemas dan pengalaman traumatis yang dihadapi oleh manusia, maka muncul mekanisme pertahanan ego. Mekanisme pertahanan ego ini menjadi alat bagi manusia untuk mengelola emosi dan goncangan batin yang dirasakan ketika dipicu oleh satu dan lain hal. Dalam skripsi ini, penulis bertujuan untuk merepresentasikan mekanisme pertahanan ego Sigmund Freud melalui simbol yang digambarkan oleh benda-benda yang dekat dengan kehidupan sehari-hari manusia sebagai ajang perenungan akan identitas dan kepribadian diri. Metode penciptaan yang digunakan dalam karya ini diantaranya terdapat tahap pengumpulan data, inkubasi, eliminasi, dan verifikasi. Setiap karya yang diciptakan memuat objek topeng sebagai simbol ego. Lukisan ini disajikan dengan pendekatan seni lukis still life dengan gaya realis menggunakan cat minyak di atas kanvas.
-
SAREUPNA” REINTERPRETASI TRADISI PAMALI SEBAGAI PENCIPTAAN KARYA SENI LUKISPamali merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat Indonesia yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui praktiknya dalam masyarakat. Dalam masyarakat Sunda, pamali berperan sebagai bentuk pengendalian sosial yang memasukkan etika dan nilai melalui larangan atau tabu, terutama dalam konteks kehidupan sehari-hari anak-anak, kehidupan sosial, batasan waktu dan tempat. Penciptaan tugas akhir ini berangkat dari fenomena pudarnya nilai tradisi pamali, khususnya larangan aktivitas saat menjelang Maghrib pada generasi muda saat ini. Karya lukisan ini merupakan bentuk reinterpretasi terhadap tradisi pamali tersebut dengan menggunakan pendekatan parodi sebagai gaya visualnya. Visual lukisan ini menggabungkan unsur bernuansa horor dan kelucuan, serta memadukan simbol-simbol tradisi. Melalui eksplorasi visual yang lucu dan jenaka, pamali tidak lagi ditampilkan sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai dialog budaya yang reflektif serta terbuka untuk dimaknai ulang. Karya lukisan ini berjumlah 3 buah kanvas menggunakan cat akrilik, yang setiap karyanya mengilustrasikan ungkapan-ungkapan pamali waktu menjelang Maghrib.
-
PERUBAHAN VISUAL BARONGAN DALAM KESENIAN KUDA LUMPING DI DESA SUMBERSARI KABUPATEN BANDUNGKesenian Kuda lumping mengandung beberapa unsur seni, diantaranya yaitu seni musik, seni tari, serta seni rupa yang dipadukan menjadi sebuah seni pertunjukan. Kesenian Kuda lumping memiliki berbagai macam bentuk khas di setiap daerahnya masing-masing. Saat ini kesenian Kuda lumping yang berada di Desa Sumbersari Kabupaten Bandung telah menjadi kesenian yang berfungsi sebagai media perayaan atau hiburan masyarakat, meskipun tetap mempertahankan nilai-nilai sakral dan tradisi. Objek penelitian ini merujuk pada perubahan visual yang terdapat dalam salah satu instrumen kesenian Kuda lumping, yaitu Barongan, pada kelompok Kuda lumping yang terletak di Desa Sumbersari, Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan Trans-estetika, dalam memaparkan transformasi atau transisi pada visual Barongan dari bentuk asalnya. Transestetika pada Barongan di interpretasikan melalui berbagai perubahan dan percampuran kandungan estetik dan simboliknya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif. Hasil penelitian ini memaparkan data mengenai bagaimana Barongan dalam kesenian Kuda lumping di Desa Sumbersari Kabupaten Bandung, Mengalami transisi perubahan dari bentuk asalnya yang bersumber pada Bangbarongan Reak dan BengBerokan. Perubahan visual tersebut dilatar belakangi oleh adanya pergeseran fungsi sakral menjadi profan, serta tradisi yang digantikan oleh kreasi dan inovasi.
-
KARYA DIORAMA DALAM UPAYA REKONSTRUKTIF EKSPEDISI CARSTENSZ 1936 UNTUK MUSEUM PT.FREEPORT INDONESIAEkspedisi Carstensz 1936 merupakan ekspedisi sejarah yang sangat penting di Papua, Indonesia. Ekspedisi ini dilakukan oleh tokoh-tokoh penting pada masa itu diantaranya Jean Jacques Dozy, Anton Colijn, dan Frits Wissel. Sejarah ekspedisi ilmiah ini sayangnya belum terdokumentasi dengan baik secara visual, oleh karena itu, penelitian ini akan dilakukan dengan mengumpulkan data-data untuk merekonstruksi visual Ekspedisi Carstensz 1936 dengan pendekatan seni rupa pembuatan mini diorama. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk merekonstruksi visual Ekspedisi Carstensz 1936 dengan membuat maket diorama peristiwa Ekspedisi Carstensz 1936. Rangkaian penelitian ini mengumpulkan studi literatur sejarah, pengumpulan arsip foto, data antropologis, serta dalam eksekusi praktiknya menggunakan teknik modelling sculpture. Hasil penelitian ini merupakan satu buah maket skala 1:4 yang merepresentasikan kembali suasana ekspedisi Carstensz pada salah satu dokumentasi foto yang ada. Kesimpulannya bahwa sebuah sejarah dapat direkonstruksi melalui pendekatan seni yang menjadikan media edukatif untuk menghidupkan kembali suasana suatu peristiwa yang kurang terdokumentasi dengan baik secara visual.
-
BONEKA SEBAGAI INSPIRASI KARYA SENI LUKIS DENGAN PENDEKATAN SIMBOLIKKarya tugas akhir ini berangkat dari gagasan bahwa boneka bukan sekadar objek permainan. Sebaliknya, boneka berfungsi sebagai media dari berbagai aspek emosional, psikologis, dan sosial kehidupan terhadap manusia. Boneka dapat menggambarkan kenangan, masa kecil, isolasi, bahkan trauma psikologis yang tersimpan. Boneka digunakan dalam karya seni lukis ini sebagai media ekspresi untuk mengangkat tema-tema universal melalui pendekatan simbolik. Lukisan ini dimaksudkan untuk menciptakan suasana hati dan menciptakan cerita simbolik yang dapat dipahami oleh penonton melalui permainan warna, tekstur, komposisi, dan ekspresi boneka. Aspek estetika bukan satu-satunya tujuan dari pembuatan ini; itu juga berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi dengan emosi yang paling dalam dan sulit diungkapkan secara verbal. Diharapkan bahwa karya ini akan membantu perkembangan wacana seni lukis simbolik, memberi penonton lebih banyak opsi interpretasi, dan memperluas perspektif tentang objek boneka sebagai simbol kehidupan.
-
NAWANG WULAN SEBAGAI INSPIRASI KREATIF SENI LUKIS SIMBOLISMEPenciptaan karya seni lukis konseptual ini berfokus pada konsep yang terinspirasi dari cerita rakyat "Nawang Wulan," sebuah legenda yang mengangkat isu perempuan yang kemudian dikaitkan dengan budaya 3M (Macak, Masak, Manak) di pulau Jawa, sebuah norma sosial yang membatasi peran perempuan hanya pada peran domestik saja. Cerita Nawang Wulan ini mengisahkan seorang bidadari dari kayangan yang kehilangan selendangnya akibat dicuri oleh Jaka Tarub, sehingga membuatnya terikat pada kehidupan duniawi dan peran domestik. Selendang dalam cerita ini tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk kembali ke kayangan tetapi juga menjadi simbol identitas dan kebebasan Nawang Wulan. Melalui karya ini, seniman ingin memberikan respon positif terhadap perjuangan perempuan Jawa yang berhasil keluar dari tekanan budaya tersebut. Selendang menjadi simbol dari kebebasan, pilihan, dan jati diri. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dengan memperkaya kajian tentang perjuangan perempuan dalam cerita rakyat Indonesia, serta manfaat berupa edukasi mengenai isu kesetaraan gender dan pentingnya kesadaran akan peran perempuan dalam masyarakat.
-
SEMIOTIKA RELIEF MONUMEN RAWAGEDE: REPRESENTASI PERISTIWA SEJARAH DALAM TANDA DAN MAKNARelief Monumen Rawagede merupakan representasi visual peristiwa pembantaian oleh militer Belanda pada 9 Desember 1947 di Desa Rawagede. Namun, pemaknaan terhadap relief ini masih minim karena masyarakat belum banyak menggunakan pendekatan keilmuan seperti semiotika. Menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce, penelitian ini menganalisis tanda-tanda visual dalam relief—seperti ikon, indeks, dan simbol—untuk mengungkap makna yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan, studi pustaka, dan wawancara. Setiap elemen visual dalam relief berperan sebagai bentuk komunikasi visual yang memperkuat ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah bangsa. Penelitian menunjukkan bahwa relief tidak hanya menyampaikan narasi sejarah, tetapi juga memuat pesan simbolik tentang penderitaan dan perjuangan, serta berfungsi sebagai media komunikasi visual yang kuat. Selain itu, Penelitian ini juga menegaskan peran penting seni rupa dalam merekam dan menyampaikan narasi sejarah kepada generasi penerus.
-
INTERPRETASI PERSONA ARTISTIK PADA KARYA TUGAS AKHIR MAHASISWA DALAM PAMERAN GROUND:01Dalam proses pendidikan seni rupa, pameran tugas akhir tidak hanya menjadi bagian dari syarat kelulusan, tetapi juga menjadi ruang awal bagi mahasiswa seni untuk memperkenalkan karya dan identitas artistiknya kepada publik. Namun, persoalan yang muncul adalah bagaimana karya-karya tersebut sering kali hanya dipahami sebatas pencapaian teknis dan formal, tanpa membongkar lebih dalam narasi personal dan artistik yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana persona artistik seniman dibentuk dan direpresentasikan dalam karya tugas akhir pada pameran Ground:01. Fokus utama penelitian ini adalah pada bagaimana hubungan antara ekspresi visual dan latar belakang personal maupun sosial membentuk citra diri seniman sebagai individu kreatif dalam karya tugas akhir dalam sebuah pameran. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode deskriptif interpretatif menggunakan konsep dramaturgi Goffman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap seniman yang sedang melaksanakan atau telah melaksanakan tugas akhir memiliki persona artistik yang unik dalam karyanya, hal itu dipengaruhi oleh kombinasi dari pemilihan medium, tema, gaya visual, latar belakang personal dan sosial masingmasing seniman.
-
PERANCANGAN MEDIA EDUKASI BUKU ILUSTRASI FANTASI KOPI PUNTANGkopi puntang, media, buku ilustrasi
-
RAISTARA (Penyajian Sekar Kepesindenan dalam Wayang Golek)Penulisan Skripsi ini berjudul “RAISTARA” dalam cerita yang berjudul “ANGKARA SIRNA” dengan minat utama penyajian sekar kepesindenan dalam wayang golek. Skripsi ini berisi seluruh aspek yang berkaitan dengan garap pertunjukan wayang golek. Sajian pertunjukan wayang golek ini merajuk pada struktur sajian wayang golek konvensional yang digarap dengan singkat dan dipadatkan. Tujuan penyajian sekar kepesindenan dalam wayang golek ini untuk meningkatkan keterampilan penyaji mengenai seni tradisi khususnya sekar kepesindenan dan juga untuk regenerasi pesinden. Untuk menambah referensi rumpaka, lagu yang digunakan dalam sekar kepesindenan dalam wayang golek. Sajian pertunjukan wayang golek ini merujuk pada pendekatan teori Surupan Machyar Angga Koesoemadinata, yang dalam hal ini penyaji akan menambahkan sentuhan-sentuhan kreativitas terhadap pengolahan laras dan surupan. Mengingat, bahwa untuk menguji keterampilan dalam menyajikan sekar kepesindenan, dibutuhkan materi-materi yang memiliki keragaman bentuk, irama, dan laras, sebagai minat utama penyajian.
-
GALÉCOK (Penyajian Gambang dalam Gambangan)Penyajian karya seni berjudul “GALÉCOK” ini merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan eksistensi Gambangan yang kini semakin meredup dan kurang dikenal oleh masyarakat luas bahkan di kalangan seniman sekalipun. Gambangan merupakan salah satu genre dalam karawitan Sunda yang memperlakukan Gambang sebagai waditra utama dalam sajiannya. Melalui penyajian “GALÉCOK” ini penyaji mencoba untuk membangkitkan kembali genre Gambangan dengan pemikiran-pemikiran baru, dengan tujuan Gambangan dapat hidup dan eksis seperti kesenian karawitan Sunda lainnya. Judul “GALÉCOK” bukan hanya sekedar nama dari sebuah pertunjukan, melainkan menggambarkan bagaimana kerumitan ragam garap tabuh Gambang yang digambarkan melalui judul “GALÉCOK” yang berarti saling mengobrol atau saling bersautan. Untuk mencapai tujuan itu, Penyaji menggunakan pendekatan Teori Garap Rahayu Supanggah, yang membahas tentang segala unsur yang terdapat pada sebuah proses menyusun sebuah karya, yaitu Materi Garap, Penggarap, Sarana Garap, Prabot/Piranti Garap, Penentu Garap, dan Pertimbangan Garap. Melalui teori itu, pada penyajian karya “GALÉCOK” ini ditemukan bahwa waditra Gambang dapat berdiri sendiri menjadi waditra utama pembentuk genre.
-
NGAPING HARIRING KU RUPANING SULING (Penyajian Suling dalam Tembang Sunda Cianjuran)Karya “Ngaping Hariring ku Rupaning Suling” merupakan bentuk penyajian musik dalam Tembang Sunda Cianjuran yang menitikberatkan pada eksplorasi instrumen suling sebagai elemen utama. Latar belakang penyajian karya ini berangkat dari ketertarikan penyaji terhadap keberagaman jenis suling dalam Tembang Sunda Cianjuran seperti suling panjang liang tujuh, suling degung, suling mandalungan, suling wisaya, suling cirebonan, dan suling songsong, yang pada dasarnya memiliki ukuran dan karakteristik bunyi yang berbeda. Karya seni ini disajikan secara konvensional dengan menggunakan instrumen kacapi indung, kacapi rincik, dan ragam suling dengan surupan 60, serta dilengkapi oleh vokal yaitu panembang pria dan wanita. Untuk menonjolkan skill penyaji, lagu-lagu yang disajikan menggunakan laras degung, mandalungan, dan madenda. Permainan suling pun disesuaikan dengan konteks fungsionalnya, yakni suling berperan penting sebagai pamurba lagu dalam sajian instrumentalia, serta sebagai pengiring vokal dengan menerapkan konsepsi méréan, marengan, dan nungtungan. Tujuan dari penyajian karya ini adalah sebagai wujud penerapan hasil pembelajaran selama studi di Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, serta sebagai sarana apresiasi dan inspirasi bagi generasi berikutnya. Teori garap yang dikemukakan Rahayu Supanggah menjadi landasan pendekatan dalam pengembangan karya ini.
-
JENTRÉNG KACAPI MIRIG ATI (Penyajian Kacapi indung dalam Tembang Sunda Cianjuran)Jentréng Kacapi Mirig Ati merupakan salah satu bentuk ekspresi seni musik tradisional sunda yang mengandalkan alat musik kacapi indung sebagai instrumen utama yang dimaknai sebagai suara kacapi yang bisa mengiringi setiap suasana hati manusia, baik dalam suka maupun duka. Dalam penyajian ini lebih bersifat konvensional karena membawakan lagu-lagu tembang sunda cianjuran secara utuh. Dalam sajian ini kacapi indung merupakan pemimpin dalam pertunjukan kacapi tembang sunda cianjuran dengan berbagai laras yakni laras degung dan laras sorog. Selain itu penyajian kacapi indung dalam tembang sunda cianjuran ini yang diaktualisasikan dalam tugas akhir Jentréng Kacapi Mirig Ati. Dalam tulisan ini penyaji menggunakan teori garap yang dimana akan menitik beratkan ke dalam teknik dan pola permainan kacapi indung. Dalam sajian ini, terdapat garap, diantaranya: pada bagian menambahkan jembatan antara laras degung ke laras sorog. Oleh karena itu, penyaji memasukan parabot garap seperti teknik pasieupan. Kemprangan, dan kait yang dimana merujuk ke dalam estetika pemainan kacapi indung. Artinya garap sajian merupakan reinterpretasi garap penyajian Tembang Sunda Cianjuran yang dipertunjukan sebagai pertunjukan yang diapreasi oleh penonton.
-
ANALISIS TEKNIK PERMAINAN SULING SUNDA PADA SULING BANGSING DALAM GARAPAN GRUP MUSIK SWARANTARAPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis teknik permainan suling Sunda pada suling bangsing dalam garapan grup musik Swarantara. Teori yang digunakan adalah teori analisis musik Nettl dengan pendekatan selektif, yaitu mendeskripsikan dan menganalisis bagian tertentu dari musik, dalam hal ini teknik permainan yang berkaitan langsung dengan estetika musikal. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan secara kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, studi literatur, dan dokumantasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa grup Swarantara mengadaptasi teknik permainan suling Sunda pada suling bangsing dengan cara yang sangat kreatif dan inovatif. Teknik permainan suling Sunda yang digunakan pada suling bangsing Swarantara meliputi teknik ornamentasi, teknik tiupan, dan teknik penjarian. Penelitian ini memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi pengembangan musik tradisional Sunda. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan untuk pengembangan teknik permainan suling Sunda yang lebih kreatif dan inovatif.
-
KATRESNA LIGAR NA ATI (Penyajian Vokal dalam Kawih Wanda Anyar)Karya berjudul “Katresna Ligar Na Ati” merupakan sebuah sajian vokal (sekar) dalam bentuk wanda anyar yang mengusung tema asmara. Sajian ini menghadirkan rangkaian lagu yang merepresentasikan perjalanan emosional penyaji melalui lirik lagu, yang dikemas menjadi sebuah alur kisah cinta secara musikal. Latar belakang penciptaan karya ini berangkat dari keinginan penyaji untuk menampilkan bentuk vokal wanda anyar secara konvensional dalam aspek vokalnya, namun disajikan secara nonkonvensional dari sisi musikalitas. Dalam penyajiannya, karya ini menggabungkan vokal wanda anyar dengan iringan musik tradisional seperti kacapi siter, suling, rebab, kendang, dan goong, serta menambahan instrumen non tradisional seperti violin, viola, cello, flute, dan perkusi. Sajian ini juga diperkuat oleh kehadiran layeutan swara. Konsep garap yang digunakan berbentuk medley, di mana penyaji membawakan beberapa repertoar, antara lain Nano S, Hegar Parangina, dan Yus Wiradiredja. Adapun lagu-lagu yang disajikan meliputi: Kawaas dan Nineung karya Nano S, Liwat Ieu Hate karya Hegar Parangina, serta Rahwana Gandrung karya Yus Wiradiredja. Penggarapan karya ini merujuk pada teori garap yang dikemukakan oleh Rahayu Supanggah dalam buku Bothekan Karawitan II: Garap, yang dipandang relevan dalam mendukung konsep dan pendekatan penyajian yang diusung oleh penyaji. Dengan demikian, karya ini tidak hanya ditujukan sebagai pemenuhan salah satu syarat akademik untuk memperoleh gelar Sarjana (S-1), tetapi juga sebagai media untuk mengasah kompetensi penyaji selama masa perkuliahan, serta menjadi bentuk kontribusi terhadap ranah apresiasi seni, khususnya dalam pelestarian dan pengembangan bentuk-bentuk ekspresi musik Sunda.
-
NGARUCITA SORA (Penyajian Wiraswara dalam Wayang Golék)Penyajian garap karawitan fungsional dalam pertunjukan wayang golek ini menghadirkan sajian vokal alok yang berjudul “Ngarucita Sora.” Sesuai dengan judul yang diusung, sajian ini menitikberatkan pada pengolahan ornamentasi lagu hasil modifikasi dari berbagai tokoh wiraswara di Jawa Barat. Hal tersebut merepresentasikan kekayaan, keragaman, serta kreativitas para tokoh dan seniman wiraswara yang berkembang di wilayah tersebut. Sajian tugas akhir ini merupakan sajian tugas akhir kelompok dikarenakan melibatkan penyaji lain yang membawa minat utama sekar padalangan, sekar kepesindenan, kendang, dan gambang. Tujuan utama dari sajian ini adalah sebagai media penerapan garap vokal dengan ragam senggol hasil sintesis dari tiga tokoh wiraswara yang dijadikan narasumber. Selain itu, sajian ini juga bertujuan membuktikan bahwa sekar alok tidak bersifat kaku atau terikat pada satu versi tertentu, melainkan dapat diolah secara kreatif sesuai dengan kemampuan dan interpretasi masing-masing individu. Pendekatan teori yang digunakan dalam penyajian ini adalah garap. Garap merupakan kerja kreatif dari seorang atau sekelompok pengrawit dalam menyajikan sebuah gending atau komposisi karawitan untuk dapat menghasilkan wujud bunyi dengan kualitas atau hasil tertentu sesuai dengan maksud, keperluan, atau tujuan dari suatu kekaryaan atau penyajian karawitan yang dilakukan. Dalam sajian tugas akhir ini dipilih lakon “Karna Tanding” dengan judul “Asmara Laga.” Pemilihan lakon ini didasarkan pada makna cerita yang menggambarkan bahwa perang antara Pandawa dan Kurawa di Kurukshetra bukan sekadar peristiwa bela negara, melainkan juga dilatarbelakangi oleh cinta yang tak tersampaikan, yang pada akhirnya memicu terjadinya peperangan. Dalam lakon ini pula digambarkan perasaan Dewi Drupadi yang masih menyimpan rasa cinta serta rasa bersalah yang mendalam kepada Adipati Karna.
-
KAJIAN FUNGSIONALISME STRUKTURAL TALCOTT PARSONS DALAM PERMAINAN REBANA PADA KESENIAN HADRAHPenelitian ini mengkaji peran instrumen rebana dalam kesenian hadrah melalui pendekatan teori fungsionalisme struktural yang dikembangkan oleh Talcott Parsons, terutama melalui kerangka AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration, dan Latency). Hadrah merupakan kesenian bernuansa Islam yang masih dilestarikan oleh masyarakat Garut dan biasa dimainkan dalam kegiatan keagamaan maupun sosial. Instrumen rebana dalam konteks ini bukan hanya berfungsi sebagai pengiring musik, tetapi juga memiliki makna sosial dan budaya yang signifikan. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap pelaku seni hadrah di Desa Kersamenak Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut. Penelitian ini juga menganalisis struktur ritme rebana dalam lima lagu sholawat, yaitu: “Assalamualaik”, “Ya Asyiqol”, “Ya Thoybah”, “Busyrolana”, dan “Mahlul Qiyam”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi instrumen rebana dalam hadrah dapat dijelaskan melalui empat aspek AGIL: (1) Adaptation – kemampuan rebana menyesuaikan dengan gaya permainan hadrah juga suasana acara; (2) Goal Attainment – mendukung pencapaian tujuan dengan menjaga ritme dan menentukan tempo, yang merupakan elemen kunci dalam setiap pertunjukan musik; (3) Integration – sebagai penghubung yang menyatukan berbagai elemen musik dalam pertunjukan menciptakan keterpaduan sosial antara pemain dan audiens; dan (4) Latency – menjaga dan mewariskan nilai-nilai religius serta tradisi budaya. Dengan demikian, rebana dalam hadrah memiliki fungsi struktural dalam sistem hadrah.
-
HARIRING PANGRINGGITAN (Penyajian Sekar Kepesindenan dalam Wayang Golek)Skripsi berjudul “Hariring Pangringgitan” ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses kreatif sajian wayang golek dalam sebuah lakon pergelaran singkat berjudul Karna Tanding, yang di dalamnya memadukan lima penyajian minat utama, yakni pesinden, wiraswara, dalang, penabuh kendang dan penabuh gambang dalam konsep yang sama. Namun pada tulisan ini penyaji lebih memfokuskan diri pada minta utama penyajian sekar kepesindenannya saja. Sekar kepesindenan dalam wayang golek memiliki ciri khas tersendiri dalam garapnya, yaitu pesinden bukan hanya sekedar menyajikan lagu-lagu tetapi harus mendukung tematik dari lakon yang disajikan. Proses kreatif penyaji dalam karya ini terletak pada aspek penggunaan rumpaka, mengolah sénggol, penguasaan terhadap irama, tempo, laras, surupan dan dinamika. Kreatifitas garap yang menitikberatkan pada penggunaan alih laras di beberapa materi lagu tentu berpengaruh besar pada garapan aspek lainnya, hal ini dimaksudkan untuk memberi varian yang berbeda dan sajian yang menarik. Berpijak pada hal tersebut, maka dalam menyajikan karya seni ini penyaji menggunakan pendekatan teori laras Raden Machjar Angga Koesoemadinata. Walaupun terdapat proses kreatif di berbagai aspek, namun konsep garap dan struktur repertoar yang dibawakan tetap dalam bentuk pergelaran wayang golek konvensional.
-
NGAOS DINA MAMAOS (Penyajian Sekar dalam Tembang Sunda Cianjuran)Pertunjukkan karya seni berjudul “Ngaos dina Mamaos” merupakan pertunjukan Tembang Sunda Cianjuran dengan konsep konvensional dengan rumpaka yang memiliki makna kebaikan, seperti yang diajarkan oleh kitab suci Al-Quran sehingga disebut bermakna Islami. Rumpaka dalam Tembang Sunda Cianjuran pada dasarnya telah mengandung makna yang dimaksud di atas, namun beberapa di antaranya memerlukan tingkat pemahaman yang mendalam bagi pendengarnya sehingga terkadang sulit dipahami. “Ngaos dina mamaos” hadir sebagai alternatif pertunjukan yang mengedepankan penyajian lagu-lagu cianjuran dengan rumpaka islami, bersumber dari buku Nurhidayahan: Saritilawah Basa Sunda Winangun Pupuh yang mudah dipahami pendengar. Dengan menggunakan pendekatan teori estetika dari Djelantik (2004) penyajian karya seni dilakukan, sehingga terdapat termuan garap bahwa dalam menyanyikan lagu cianjuran dengan rumpaka yang relatif baru memerlukan tingkat pemahaman tentang makna rumpaka, pedotan, serta teknik menyanyikan secara komprehensif agar karakteristik lagu dan makna rumpaka tetap utuh.
-
KREATIVITAS YUS WIRADIREDJA DALAM MENCIPTAKAN LAGU UNTUK ANAK-ANAKPenelitian ini mengkaji kreativitas Yus Wiradiredja dalam menciptakan lagu anak-anak berbasis budaya Sunda dengan menggunakan teori kreativitas 4P yang dikemukakan oleh Mel Rhodes, yaitu person, press, process, dan product. Fokus penelitian ini adalah untuk memahami kreativitas Yus Wiradiredja dalam menciptakan lagu untuk anak-anak sekaligus kontribusinya sebagai seniman dan pendidik dalam menghadirkan karya-karya lagu untuk anak-anak yang sarat akan nilai edukatif, moral, religius, dan budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas Yus Wiradiredja dipengaruhi oleh latar belakang estetik sejak masa kecil, lingkungan keluarga dan sosial yang mendukung, serta pendidikan formal yang memperkuat kompetensinya sebagai seniman dan pendidik. Lagu-lagu untuk anak-anak seperti “Korupsi”, dan “Riksa Basa Sunda” merupakan contoh konkret dari produk kreatif yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Yus Wiradiredja telah berhasil memadukan unsur musik tradisional Sunda dengan pesan-pesan pendidikan dalam bentuk lagu anak-anak, yang berperan penting dalam penguatan karakter dan pelestarian budaya lokal di kalangan generasi muda.
-
STRUKTUR PERTUNJUKAN ANGKLUNG BUNCIS BUHUN “MITRA MUSTIKA” DALAM RITUAL SIRAM KEMBANG DI NANGGERANG, CILILIN, BANDUNG BARATSkripsi dengan judul ‚Struktur Pertunjukan Angklung Buncis Buhun ‚Mitra Mustika‛ dalam Ritual Siram Kembang di Nanggerang, Cililin, Bandung Barat‛ ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur pertunjukan angklung buncis dalam ritual siram kembang. Dengan pendekatan teori pertunjukan dari Sal Murgiyanto dan metode penelitian kualitatif deskriptif, penelitian ini untuk memperoleh data dari hasil observasi, studi literatur, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertunjukan angklung buncis buhun dalam ritual siram kembang memiliki tiga tahapan persiapan (preparation), pementasan (performance) dan akhir pertunjukan (affermath). Tahap persiapan pertunjukan mencakup segala bentuk persiapan antara lain yaitu penyediaan sesajen, pakaian ganti anak yang akan mengikuti ritual, peralatan tata rias dan mempersiapkan alat musik angklung buncis. Tahap pementasan merupakan inti dari keseluruhan rangkaian, pementasan diawali dengan arak-arakan menuju tempat sumber mata air (huluwotan), dilanjutkan dengan prosesi pemandiannya (ngamandian), merias anak yang telah dimandikan (ngadangdanan), arak-arakan kembali ke tempat tinggal, serta ditutup dengan prosesi sawer. Tahap akhir pertunjukan ditandai dengan pembacaan doa, pengemasan kembali alat musik angklung buncis buhun, serta kegiatan makan bersama sebagai bentuk syukur dan kebersamaan antara pemangku hajat dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan ritual.
