Items
-
REALITA FENOMENA BUDAYA PATRIARKI DALAM FILM “KIM JI YOUNG BORN 1982” YANG TERJADI PADA KELUARGA ETNIK JAWADalam film “Kim Ji Young, Born 1982”, budaya patriarki secara detail diungkapkan dengan segala konflik masalah. Karena fakta di lapangan masih menunjukkan para wanita masih banyak yang berhenti bekerja setelah menikah. Diantara etnik yang ada di Indonesia, etnik Jawa, masih memberlakukan budaya patriarki. Hal-hal yang ada dalam film Kim Ji Young Born 1982 merupakan sebuah representasi dari kehidupan sosial di lingkungan budaya yang patriarki. Kondisi budaya patrarki di Korea Selatan dan di desa Karangmalang cukup berbeda karena pola pikir masyarakat jawa saat ini lebih terbuka. Dalam budaya Jawa pun terdapat kelas sosial yang menormalisasikan adanya pembantu dalam sebuah rumah tangga, berbeda dengan Korea Selatan yang tidak mengenal pembantu. Secara pendidikan, perempuan di desa Karangmalang cukup setara dengan laki-laki, namun pola pikir yang sederhana sebagai masyarakat desa tidak merasa bahwa keterbatasan berkarir setelah menikah merupakan suatu kesenjangan gender. Menjadi istri harus mengurus anak dan rumah serta patuh pada suami.
-
KONSTRUKSI KECANTIKAN DAN PEMBENTUKAN CITRA DIRI SISWI SMAN 10 BANDUNG MELALUI FILTER AUGMENTED REALITY DI TIKTOKFenomena penggunaan filter kecantikan berbasis Augmented Reality (AR) di TikTok menunjukkan transformasi signifikan dalam konstruksi kecantikan dan pembentukan citra diri remaja perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana filter kecantikan TikTok membentuk citra diri siswi SMAN 10 Bandung, serta memahami peran media sosial dalam mengonstruksi standar kecantikan digital. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara mendalam terhadap enam informan, dan analisis dokumentasi konten TikTok. Analisis data didasarkan pada teori Konvergensi Media (Henry Jenkins) dan Konstruksi Realitas Sosial (Peter L. Berger & Thomas Luckmann). Hasil penelitian menunjukkan bahwa filter kecantikan TikTok tidak hanya digunakan untuk mempercantik wajah, tetapi juga sebagai strategi personal dan sosial dalam menyesuaikan diri terhadap standar kecantikan digital. Filter dipakai untuk menyempurnakan tampilan, memperoleh validasi sosial, dan meningkatkan rasa percaya diri, meskipun disadari sering kali menciptakan tampilan yang tidak realistis. Selain itu, penggunaan filter menjadi bagian dari strategi estetika produksi konten yang memperhatikan pencahayaan, sudut pengambilan gambar, serta kesan natural. Dengan demikian, filter berperan penting dalam membentuk identitas digital dan persepsi remaja tentang kecantikan dalam realitas sosial yang terus terhubung secara daring.
-
TRANSFORMASI LAGU BANGBUNG HIDEUNG DARI SAKRAL KE PROFAN DI SANGGAR REAK KABUPATEN BANDUNGLagu Bangbung Hideung adalah salah satu warisan budaya Sunda yang awalnya memiliki fungsi sakral sebagai bagian dari ritual adat dan upacara spiritual. Lagu ini mencerminkan nilai-nilai spiritual yang mendalam melalui melodi lambat dan meditatif, lirik penuh simbolisme, serta iringan alat musik tradisional seperti kecapi, suling, dan kendang. Lagu ini digunakan sebagai media penghormatan kepada leluhur dan penghubung dengan dunia spiritual. Namun, di Sanggar Reak Rajawali Sinar Pusaka Mekar Saluyu (SPMS), lagu Bangbung Hideung mengalami perubahan signifikan dalam makna dan fungsinya. Transformasi ini mencakup perubahan tempo lagu yang menjadi lebih dinamis, penambahan aransemen modern dengan alat musik kontemporer seperti gitar, drum, dan keyboard, serta pergeseran lokasi pertunjukan dari tempat sakral ke panggung-panggung umum, festival budaya, dan acara sosial lainnya. Akibatnya, lagu yang dulunya bersifat sakral kini diadaptasi sebagai bentuk hiburan yang dapat dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat. Faktor utama yang mendorong perubahan ini adalah kemajuan teknologi dan kehadiran media sosial yang memperluas aksesibilitas lagu ini. Platform digital memungkinkan masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengakses dan menikmati lagu Bangbung Hideung dalam berbagai situasi, bahkan di luar konteks tradisionalnya. Adaptasi gaya musik yang lebih populer, seperti pop atau jazz Sunda, juga berperan dalam membuat lagu ini tetap relevan dan menarik bagi khalayak modern. Melalui proses transformasi ini, Bangbung Hideung menunjukkan daya adaptasi seni tradisional dalam menghadapi perubahan zaman. Lagu ini menjadi contoh bagaimana warisan budaya dapat bertahan dan berkembang tanpa kehilangan identitas aslinya. Perpaduan antara elemen tradisi dan modernitas dalam lagu ini mencerminkan upaya untuk menjaga relevansi budaya sekaligus memperluas apresiasi terhadap keindahan budaya Sunda. Dengan demikian, Bangbung Hideung tetap menjadi simbol harmoni antara tradisi dan modernitas, mengajak pendengarnya untuk terus menghargai warisan budaya yang hidup.
-
DINAMIKA BEBAN GANDA PADA PENGALAMAN TIGA MAHASISWI YANG SUDAH MENIKAH DI KOTA BANDUNGFenomena beban ganda (double burden) pada perempuan saat ini dalam budaya Indonesia secara umum ialah beban kerja yang diterima oleh salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan dengan jenis kelamin lainnnya. Penelitian ini membahas mengenai beban ganda sebagai bentuk ketidakadilan gender yang dialami oleh mahasiswi yang sudah menikah di Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap realitas budaya berdasarkan pengalaman mahasiswi yang sudah menikah di Kota Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif untuk mengumpulkan data dari informan yang merupakan mahasiswi yang sudah menikah, teknik pengumpulan data dengan melalui studi literatur, obervasi nonpartisipatif, dan wawancara mendalam. Analisis penelitian menggunakan teori ketidakadilan gender Mansour Fakih dan melalui pendekatan feminisme liberal dalam menjabarkan konstruksi sosial yang ada di masyarakat terhadap peran gender. Hasil dari penelitian ini adalah analisis deskriptif mengenai beban ganda yang dialami oleh ketiga informan penelitian, temuan penelitian mencakup; (1) bentuk beban ganda yang dialami ketiga mahasiswi yang sudah menikah di Kota Bandung, (2) faktor beban ganda yang dialami ketiga mahasiswi yang sudah menikah di Kota Bandung, (3) dampak dari adanya beban ganda yang dialami ketiga mahasiswi yang sudah menikah di Kota Bandung.
-
SIMBOL DAN MAKNA PADA PAGELARAN BHINNEKA TUNGGAL IKA OLEH GATMADEVA ENTERTAINMENTPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji simbol dan makna yang terkandung dalam pagelaran Bhinneka Tunggal Ika oleh Gatmadeva Entertainment. Pertunjukan ini dianggap merepresentasikan nilai-nilai sosial, khususnya tentang persatuan dalam keberagaman, yang dikemas dalam bentuk seni kabaret. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana simbol-simbol visual, tokoh, properti, serta dialog dalam pertunjukan membentuk pesan sosial yang berkaitan dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara dengan pelaku pertunjukan, serta dokumentasi visual dan audio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol seperti tokoh Garuda, Naga, Ibu Pertiwi, anak-anak, dan dunia permainan memiliki makna mendalam terkait isu kepemimpinan, perpecahan sosial, pencarian jati diri, serta harapan terhadap persatuan. Analisis menggunakan teori semiotika Roland Barthes menunjukkan adanya makna denotasi dan konotasi yang menjadikan pertunjukan ini sebagai media reflektif dan edukatif yang menyuarakan nilai-nilai kebangsaan secara simbolik dan relevan dengan situasi sosial masa kini.
-
FUNGSI TARI PERANG CENTONG PADA TRADISI PERNIKAHAN JILU DI KAMPUNG BUDAYA JALAWASTU BREBESTari Perang Centong memiliki nilai simbolik yang kuat dalam tradisi pernikahan Jilu serta mencerminkan pandangan masyarakat Jalawastu. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fungsi Tari Perang Centong pada pernikahan jilu dan maknanya bagi masyarakat Kampung Budaya Jalawastu. Teori yang digunakan adalah teori fungsionalisme Bronisław Malinowski. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan data yang bersumber dari data primer dan data sekunder. Penelitian ini menunjukan bahwa Tari Perang Centong memiliki fungsi yang sangat vital dan multifungsi seperti ritual dan spiritual, sosial, kesejahteraan ekonomi, edukatif, dan pariwisata. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji peran Tari Perang Centong dalam konteks perubahan sosial dan dinamika keluarga modern di Jalawastu.
-
BURUH PETANI SEBAGAI PELAKU KESENIAN KUDA KEPANG NGESTI SETYA BUDAYA DI DUSUN SILANGIT, DESA WANADRI, KABUPATEN BANJARNEGARAPenelitian ini mengkaji transformasi kesenian sebagai pilar ekonomi penting bagi buruh tani di daerah dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK) yang rendah, yaitu Rp1.981.768 per bulan. Dalam konteks ekonomi yang penuh tantangan, kesenian telah menjadi alternatif pendapatan yang signifikan bagi masyarakat, khususnya buruh tani, untuk mengatasi keterbatasan finansial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumentasi untuk memahami dinamika transformasi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan buruh tani dalam kegiatan kesenian, baik sebagai pelaku maupun pendukung, tidak hanya memberikan dampak ekonomi langsung berupa peningkatan pendapatan, tetapi juga memperkuat solidaritas komunitas dan melestarikan warisan budaya lokal. Temuan ini menyoroti potensi kesenian sebagai strategi pemberdayaan ekonomi berbasis budaya yang relevan dan berkelanjutan, khususnya di wilayah pedesaan.
-
JUNGKIR BALIK WACANA KAWASAN CICADAS KOTA BANDUNGJulukan “Negara Beling” pada kawasan Cicadas di Kota Bandung tidak hadir sebagai label yang netral. Ia adalah wacana yang terus-menerus dibentuk, dipertahankan, dan dinegosiasikan dalam interaksi sosial dan bahasa. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana label tersebut bekerja sebagai bagian dari mekanisme pembentukan makna ruang: siapa yang menggunakannya, dalam konteks apa, dan untuk tujuan apa. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough. Data diperoleh dari dokumentasi media daring, blog warga, observasi lapangan, dan wawancara dengan warga lokal. Analisis dilakukan pada tiga level: representasi teks, praktik diskursif, dan praktik sosial. Temuan menunjukkan bahwa wacana tentang “Cicadas” sebagai kawasan dengan citranya sendiri diproduksi melalui pertemuan berbagai arah wacana dominan yang saling berkelindan: wacana teknokratis (yang melihat kawasan sebagai objek tata kelola), wacana moral (yang menilai kawasan melalui standar sosial), dan wacana resistensi (yang muncul dari warga dan narasi informal). Makna kawasan tidak dibentuk oleh satu narasi tunggal, melainkan dari silang teks dan pengalaman yang berlapis—baik sebagai ruang geografis, simbol sosial, maupun pengalaman hidup. Penamaan seperti “Negara Beling” tidak bekerja sebagai stereotip yang tetap, melainkan terus diproduksi melalui proses pengolahan makna yang halus dan bertahap dalam bahasa dan relasi sosial. Dengan demikian, makna kawasan Cicadas merupakan hasil negosiasi yang terus berlangsung antara wacana dominan dan pengalaman hidup warga.
-
CYBERBULLYING DALAM PANDANGAN PENONTON FILM BUDI PEKERTI MELALUI MEDIA SOSIAL XPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap cara film Budi Pekerti menggambarkan fenomena cyberbullying dan bagaimana penonton memahami serta menafsirkan isu tersebut melalui teori resepsi Stuart Hall, terutama dalam aspek encoding dan decoding. Dalam penelitian ini, pendekatan kualitatif diterapkan melalui etnografi virtual, yang memungkinkan peneliti untuk menjelajahi respons penonton di media sosial, khususnya di platform X (@WatchmenID). Wawancara mendalam dilakukan untuk menggali pemahaman lebih dalam tentang bagaimana penonton menanggapi penggambaran film tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons penonton terbagi menjadi tiga kategori utama: dominant reading, negotiated reading, dan oppositional reading. Temuan ini menunjukkan bahwa cyberbullying dalam Budi Pekerti tidak hanya dipahami sebagai isu sosial, tetapi juga sebagai refleksi pengalaman pribadi bagi sebagian penonton. Media sosial memainkan peran penting dalam membentuk dialog dan memperluas diskusi terkait topik ini.
-
PEER SUPPORT SEBAGAI STRATEGI DUKUNGAN SOSIAL BAGI PENYANDANG DISABILITAS TUNADAKSA DI RANCAEKEK KABUPATEN BANDUNGPenelitian ini membahas implementasi program Peer Support “Berkah Sauyunan Rancaekek” sebagai bentuk dukungan sosial bagi penyandang disabilitas tunadaksa di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Fokus utama penelitian ini adalah memahami bagaimana dukungan teman sebaya dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas tunadaksa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teori dukungan sosial dari Sarafino menjadi landasan utama dalam menganalisis lima bentuk dukungan, yaitu Dukungan Instrumental, Emosional, Informasi, Penilaian, dan Jaringan Sosial. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, wawancara mendalam dengan narasumber utama dan anggota komunitas, observasi partisipatif dalam berbagai kegiatan komunitas, serta dokumentasi visual dan tertulis. Dalam pelaksanaannya, BILIC Indonesia turut berperan sebagai mitra pendamping yang memberikan penguatan kapasitas, advokasi, dan fasilitasi dalam pembentukan kelompok dukungan sebaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program Peer Support di komunitas Berkah Sauyunan Rancaekek, yang terbagi dalam divisi pemberdayaan, advokasi, minat dan bakat, serta kaderisasi, dapat meningkatkan kemandirian individu serta memperluas ruang partisipasi sosial para anggotanya. Penelitian ini menegaskan bahwa Peer Support bukan hanya sebagai strategi sosial, tetapi juga sebagai ruang penguatan identitas dan pemberdayaan disabilitas yang berkelanjutan.
-
PERGESERAN PENGETAHUAN TENTANG TANAMAN OBAT PADA MASYARAKAT ADAT MIDUANA DESA BALEGEDE KECAMATAN NARINGGUL KABUPATEN CIANJUR SELATAN JAWA BARATMasyarakat Miduana merupakan masyarakat adat yang hidupnya sudah terlihat maju dan berkembang dalam lingkup kebudayaan. Namun, identitas masyarakat adat itu tetap terikat karena adanya hukum adat. Hal ini ada untuk menjaga keseimbangan. Peran pengetahuan memberikan peniliain mengenai seberapa kuat hal ini menjaga keseimbangan dalam masyarakat adat Miduana. Namun, tetap ditemukan pergeseran, yaitu pergeseran pengetahuan tentang peran, fungsi hingga pemanfaatan tanaman obat. Pergeseran ini dianalisis menggunakan teori etnosains, untuk mendapatkan informasi mengenai pandangan masyarakat tentang pergeseran dan pendekatan etnografi untuk menjadi metode dalam mengkaji pergeseran pengetahuan masyarakat adat Miduana. Pengetahuan tanaman obat merupakan salah satu bagian yang cukup dominan. salah satunya. sebagai identitas budaya bagi masyarakat adat Miduana. Namun, banyak perkembangan dan adanya sebuah perubahan, dan hal ini memberikan dampak terhadap perubahan fungsi dan peran pengetahuan tanaman obat. Meskipun demikian masih ditemukan keutuhan dan indetitas adat istiadat pun masih terjaga, hal ini menjadi ketertarikan terhadap pola berpikin dan cara mengelolah pembaharuan.
-
STRATEGI PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN SENI ANGKLUNG SAUNG UDJO DI KOTA BANDUNGSaung Angklung Udjo (SAU) merupakan destinasi wisata terkenal di Bandung yang melestarikan dan mengembangan seni angklung menjadi nilai ekonomis. Hal tersebut dikembangkan melalui komodifikasi budaya. Masa pandemi Covid-19 mengharuskan Saung Angklung Udjo (SAU) untuk tetap relevan di tengah perubahan zaman, namun tantangan tersebut tidak menjadikan Saung Angklung Udjo (SAU) berhenti dalam melestarikan dan mengembangkan seni angklung. Berdirinya Saung Angklung Udjo (SAU) menjadi wadah pembelajaran untuk mewariskan budaya lokal, khususnya seni angklung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teori Pengembangan berbasis budaya David Thosby (2001). Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan studi literatur. Hasil penelitian ini mengungkapkan komodifikasi budaya melalui transformasi digital memiliki dampak pada kenaikan kunjungan wisatawan.
-
MAKNA SIMBOLIK DAN NILAI SPIRITUAL DALAM UPACARA PITUTUR JUMAT KLIWON PADA PENGANUT ALIRAN KEBATINAN “PERJALANAN” DI CIBABAT, KOTA CIMAHIUpacara Pitutur Jumat Kliwon adalah ritual dakwah yang bertujuan menyampaikan nilai-nilai Aliran Kebatinan "PERJALANAN" kepada penghayatnya, serta mewariskan pengetahuan kepada generasi mendatang. Penelitian ini berfokus pada makna simbolik dan nilai spiritual dalam upacara tersebut di Cibabat, Kota Cimahi, dengan menggunakan teori interpretatif simbolik dari Clifford Geertz. Metode yang diterapkan adalah pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipasi, wawancara tidak terstruktur, serta studi literatur dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna simbolik dalam upacara ini sangat terkait dengan kehidupan manusia dan sejarah diri. Peneliti menemukan berbagai makna simbolik, termasuk simbol benda pada sesajen, simbol tindakan dalam tata cara ritual, dan simbol peristiwa yang menggambarkan hari Jumat Kliwon. Melalui analisis menggunakan teori Notonegoro, ditemukan nilai-nilai spiritual seperti religius, estetika, moral, dan kebenaran. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman yang lebih dalam mengenai keragaman spiritualitas di Indonesia, serta memperkaya kajian antropologi dan studi kebudayaan.
-
STIGMA SOSIAL TERHADAP PEKERJA SEKS KOMERSIAL REMAJA: PERSPEKTIF MASYARAKAT KOTA BANDUNGPenelitian ini membahas stigma sosial terhadap pekerja seks komersial (PSK) remaja dari berbagai perspektif masyarakat Kota Bandung, dengan fokus wilayah di kawasan Saritem, Kecamatan Andir. Tiga pertanyaan utama yang diangkat meliputi: bagaimana pandangan masyarakat terhadap PSK remaja, faktor apa saja yang menyebabkan keterlibatan remaja dalam pekerjaan seks komersial, dan strategi pencegahan apa yang dapat diterapkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan teori stigma dari Erving Goffman sebagai kerangka analisis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap masyarakat sekitar, aparat, akademisi, tokoh agama, tenaga kesehatan, dan remaja yang terlibat dalam pekerjaan seks Hasil penelitian menunjukan bahwa stigma terbentuk dan dipertahankan melalui perspektif sosio-ekonomi, hukum, budaya, agama, dan kesehatan, PSK remaja dilabeli sebagai individu yang menyimpang dan meresahkan, tanpa mempertimbangkan latar belakang structural yang memaksa mereka masuk ke dalam pekerjaan tersebut. Faktor utama yang mendorong keterlibatan remaja adalah kemiskinan dan keretakan keluarga. Sementara itu, strategi pencegahan yang bersifat represif terbukti tidak efektif dan justru memperkuat stigma. Pendekatan berbasis edukasi, empati, dan pemberdayaan remaja dinilai lebih berdampak. Penelitian ini menegaskan perlu perubahan paradigma masyarakat serta kebijakan yang lebih inklusif dan berpihak pada perlindungan remaja dalam konteks sosial-budaya.
-
PROSES ADAPTASI MAHASISWA PERANTAUAN MINANG DALAM KEHIDUPAN SOSIAL DI KOTA BANDUNGPenelitian ini mengkaji adaptasi budaya mahasiswa perantauan asal Minang di Kota Bandung. Permasalahan penelitian berfokus pada kompleksitas adaptasi psikologis dan sosiokultural yang dialami mahasiswa Minang sebagai perantau di lingkungan budaya yang berbeda. Landasan teoretis menggunakan teori adaptasi budaya dari John W. Berry tentang strategi adaptasi akulturasi (integrasi, asimilasi, separasi, dan marginalisasi) dan teori adaptasi antarbudaya Ward yang menekankan dimensi psikologis dan sosiokultural. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif varian studi kasus terhadap lima mahasiswa Minang yang tergabung dalam Badan Kesatuan Mahasiswa Minang (BKMM) Jawa Barat melalui wawancara mendalam, observasi non-parsipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi budaya mahasiswa Minang berlangsung dalam dua dimensi yang saling berkaitan (psikologis dan sosiokultural), dipengaruhi oleh faktor determinan berupa dukungan sosial, pengalaman pribadi, keterbukaan terhadap budaya baru, dan stabilitas emosional. Temuan lainnya mengidentifikasi variasi strategi adaptasi berdasarkan tipologi Berry: dua informan menerapkan strategi adaptasi, satu informan menunjukkan kecenderungan asimilasi, dan dua informan lainnya cenderung pada strategi separasi, dengan fenomena marginalisasi hanya bersifat temporer pada fase awal adaptasi. Temuan ini mengimplikasikan bahwa adaptasi budaya bukanlah proses yang seragam, melainkan dinamis dan kontekstual.
-
KOMODIFIKASI TAWUH AIR BEJI PADA TRADISI RUWAHAN DI DESA CANDINGASINAN,KABUPATEN PURWOREJOPenelitian ini membaha tentang komodifikasi tawuh air beji pada tradisi ruwahan di Desa Candingasinan, Kabupaten purworejo. Tradisi Ruwahan adalah kebiasaan dari masyarakat Dusun Candi yang rutin dilaksanakan. Terdapat 3 Beji di Dusun Candi, yang dipakai Hanya dua yaitu Beji untuk lanang (laki-laki) dan wedok (perempuan) karena satu lagi mata air yang dipercaya untuk pengobatan. Landasan teori yang digunakan adalah teori komodifikasi Karl Marx dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dan Teknik pengumpulan data melalui studi Pustaka, observasi, wawancara dan dokumendasi. Hasil penelitian mengemukakan bahwa sesepuh dan juru kunci berkolaborasi dengan RT, Rw karang taruna dan masyarakat setempat untuk terlibat dalan proses komodifikasi. komodifikasi yang dilaksanakan bertujuan agar masyarakat terhindar dari mara bahaya dan untuk pelestarian budaya serta beradaptasi dengan perkembangan zaman. Strategi yang harus dilakukan dalam bentuk komodifikasi adalah menjadikan wisata religi dan berpotensi besar untuk kebutuhan finansial.
-
FENOMENA CULTURE LAG MAHASISWA BUNGBULANG GARUT TERHADAP PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DIGITALPerkembangan teknologi yang pesat sering kali diikuti oleh keterlambatan penerimaan kemajuan tersebut oleh masyarakat. Fenomena ini dapat dijelaskan dengan konsep culture lag, di mana aspek-aspek kebudayaan dari perkembangan teknologi terlambat diadaptasi oleh penggunanya baik individu maupun masyarakat. Sebagai dampaknya, masyarakat yang mengalami fenomena culture lag ini akan terlambat dalam beradaptasi terhadap kemajuan teknologi. Hal ini terjadi karena banyak faktor, terutama kendala akses informasi dan komunikasi yang terbatas dalam inovasi teknologi, sehingga pengetahuan tentang teknologi baru tidak segera tersampaikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode kualitatif merupakan metode yang fokus pada pengamatan yang mendalam. Oleh karenanya, penggunaan metode kualitatif dalam penelitian dapat menghasilkan kajian atas suatu fenomena yang lebih komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa culture lag yang melanda mahasiswa Bungbulang Garut dari teknologi digital terjadi diakibatkan oleh gagap teknologi, kondisi ekonomi, frekuensi mengakses internet, tingkat keahlian, kurangnya relasi sosial dengan pengguna teknologi dan menambah pengetahuan tentang teknologi (pendidikan non formal). Adapun kendala kendala yang menjadi latar belakang mereka mengalami culture lag sebagai mahasiswa di perguruan tinggi meliputi kendala fasilitas piranti digital, kendala jaringan, kendala dalam akses dan upload data. Hasil temuan terakhir ditemukan kondisi yang berbeda diantara mahasiswa Bungbulang dalam kecepatan pemahaman teknologi digital yaitu ada yang cepat paham, ada yang bisa paham melalui relasi sosial dan ada yang sulit paham karena terlalu banyak kendala yang dialaminya. Adapun dalam tingkat keahlian menggunakan teknologi digital perbedaan yang tampak adalah mahasiswa yang sering menggunakan teknologi digital (mengetik, membuat powerpoint, game, konten kreator dan edit video, livestreaming) lebih tinggi keahliannya dibandingkan dengan mahasiswa yang hanya menggunakan teknologi digital untuk kebutuhan primer saja (mengetik, membuat powerpoint dan mengirim email atau Whatssapp)
-
MODEL BUDAYA PEMBAGIAN PERAN PENGASUHAN ANAK PADA POLA ASUH ANAK DUAL CAREER FAMILY DI DESA BANJARAN, KECAMATAN BANJARAN (STUDI PADA DUA KELUARGA INTI)Pola asuh anak dan peran pengasuhan dari orang tua merupakan dua hal yang saling berkaitan. Namun, hal tersebut dapat menjadi sesuatu yang kompleks jika tidak berjalan secara optimal dari kedua orang tua kepada anaknya, terlebih jika kedua orang tua disibukan dengan pekerjaan mereka yang pada fenomenanya dikenal dengan istilah Dual Career Family, dimana pada model ini pasangan suami istri yang juga merupakan orang tua sama-sama menjalankan karir. Pada sejumlah keluarga dengan model tersebut mensiasati pengasuhan anak lewat pengasuhan alternatif dimana pada waktu bekerja, peran pengasuhan diambil alih oleh pengasuh. Kebiasaan tersebut juga berlaku pada sejumlah keluarga di desa Banjaran. Pada penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif dimana penulis melakukan pengumpalan data dengan observasi serta mendatangi langsung lokasi penelitian yaitu di desa Banjaran. Pada dua keluarga inti yang menjadi sampel pada penelitian ini, dihasilkan data dimana orang tua biologis menjalankan model budaya pengasuhan anak yang diperankan oleh kerabat dan orang tua ketika saat bekerja, namun tidak menghilangkan peran mereka sebagai orang tua biologis dalam pengasuhan yang dilakukan ketika waktu libur bekerja. Selain itu, terdapat nilai budaya yang ditanamkan kepada anak sesuai dengan nilai-nilai pengajaran dan kebiasaan keluarga dan masyarakat pada proses pengasuhan anak. Merunut pada hasil data yang diperoleh penulis di lapangan, pada dua keluarga inti tersebut tetap menjalankan peran mereka sebagai orang tua dengan baik, meskipun disibukan dengan pekerjaan tetapi selaku orang tua mereka tetap memerhatikan anak dan mengurus anak dengan baik di samping peran pengasuh yang juga berperan pada pola pengasuhan pan pengajaran nilai budaya yang berlaku kepada anak.
-
MASKULINITAS BARU: PENGGUNAAN SKINCARE OLEH PEKERJA PRIA DI INDUSTRI KECANTIKAN PADA TIM PRODUKSI PT TASYA FARASYA JAYA ABADIPenelitian ini berangkat dari norma maskulinitas tradisional yang membatasi laki-laki untuk menggunakan skincare karena kerap dikaitkan dengan feminitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi praktik penggunaan skincare oleh pekerja pria di tim produksi Tasya Farasya baik dalam konteks profesional maupun kehidupan sehari-hari serta menangkap bagaimana maskulinitas dinegosiasikan dalam lingkungan kerja Tasya Farasya. Penelitian ini mengamati dinamika kerja tim produksi Tasya Farasya dan melakukan wawancara semi-terstruktur guna memperoleh pandangan pekerja pria. Penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif deskriptif dan menganalisis data melalui lensa teori performativitas gender. Temuan penelitian ini menunjukkan praktik penggunaan skincare pada pria yang dinormalisasi dan adanya ruang negosiasi norma maskulinitas tradisional. Tidak hanya dalam konteks tuntutan pekerjaan, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan kerja Tasya Farasya menjadi wadah untuk pekerja pria melakukan upaya subversif terhadap norma gender tradisional melalui praktik penggunaan skincare. Dengan demikian, penelitian ini memberikan wawasan terkait pengaruh lingkungan kerja terhadap pandangan mengenai maskulinitas dan penggunaan skincare oleh pria di tim produksi Tasya Farasya.
-
MITOS PEREMPUAN MANDIRI DALAM FILM ENOLA HOLMES DAN RESEPSI PENONTON PRIA DI ISBI BANDUNGPenelitian ini mengkaji resepsi penonton pria (mahasiswa) ISBI Bandung terhadap mitos perempuan mandiri dalam film Enola Holmes yang menghadapi budaya patriarki. Film luar yang dirilis tahun 2020 ini memiliki relevansi dengan fenomena yang terjadi di Indonesia dan berpotensi menjadi penghubung dialog terkait kesetaraan gender dalam masyarakat yang masih dipengaruhi oleh budaya patriarki. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini menganalisis mitos perempuan mandiri yang digambarkan oleh karakter Enola Holmes dalam film menggunakan semiotika Roland Barthes dan melakukan wawancara mendalam bersama sepuluh penonton pria (mahasiswa) dengan menggunakan teori Resepsi Stuart Hall untuk mengidentifikasi posisi penonton dalam memaknai pesan media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Enola Holmes yang berada dalam posisi subaltern secara aktif melawan batasan patriarki melalui penggambaran karakter pemeran tokoh utama sebagai perempuan mandiri melalui elemen semiotika dalam film. Resepsi penonton pria terhadap mitos perempuan mandiri terbagi menjadi tiga posisi, yaitu 4 menempati posisi dominan, 4 berada di posisi negosiasi, dan 2 memilih dalam posisi oposisi. Resepsi dipengaruhi oleh latar belakang sosial budaya, nilai keluarga, pengalaman pribadi, dan kesadaran terhadap isu kesetaraan gender.
-
STRATEGI ADAPTASI SOSIAL ANAK KELOMPOK USIA REMAJA DI LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK KELAS II BANDUNGLembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) merupakan institusi yang berfungsi memberikan pembinaan, perlindungan, dan rehabilitasi kepada anak yang berhadapan dengan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi adaptasi sosial yang dilakukan oleh anak binaan di LPKA Kelas II Bandung serta mengevaluasi efektivitas adaptasi tersebut terhadap keberhasilan program pembinaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi dan wawancara terhadap delapan anak binaan dari kelompok usia remaja awal (14–15 tahun) dan remaja pertengahan (16–17 tahun), serta petugas pembina. Teori adaptasi John William Bennett digunakan untuk menganalisis perilaku, strategi, dan proses adaptasi sosial anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak remaja awal lebih mengandalkan pendekatan emosional, sedangkan anak remaja pertengahan lebih aktif dan rasional dalam menyesuaikan diri melalui keterlibatan dalam program pendidikan, keagamaan, pramuka, keterampilan, dan olahraga. Efektivitas adaptasi sosial anak dipengaruhi oleh dukungan teman sebaya dan pembinaan yang ramah anak, serta berdampak positif terhadap kedisiplinan, keterlibatan dalam program, dan kesiapan reintegrasi sosial. Temuan ini membuktikan bahwa program pembinaan di LPKA Kelas II Bandung telah sejalan dengan moto dan slogan lembaga yang mengutamakan pelayanan ramah anak, nilai budi pekerti, serta prinsip Bersih, Inovatif, Sinergi, dan Agamis.
-
PENGARUH BUDAYA SOSIAL TERHADAP KARAKTER MUSIKAL HOUSE DJ GENERASI Z DI KOTA BANDUNGPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh budaya sosial terhadap pembentukan karakter musikal House DJ dari Generasi Z di Kota Bandung. Generasi ini tumbuh dalam lanskap budaya yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi digital, media sosial, serta dinamika komunitas lokal. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap beberapa DJ muda yang aktif dalam skena musik elektronik Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter musikal para DJ Generasi Z dibentuk melalui interaksi kompleks antara budaya global seperti tren musik dari platform digital (YouTube, SoundCloud, TikTok) dan budaya lokal yang hadir dalam komunitas, kolektif musik, serta ruangruang pertunjukan independen. Para DJ ini tidak hanya meniru tren global, tetapi juga melakukan proses adaptasi, hibridisasi, dan reinterpretasi gaya musikal agar relevan dengan identitas mereka dan konteks lokal. Budaya sosial memainkan peran penting sebagai medan representasi dan negosiasi identitas musikal mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa karakter musikal House DJ Generasi Z tidak dapat dilepaskan dari konstruksi sosial-budaya yang membentuk habitus mereka. Temuan ini diharapkan dapat memperkaya studi tentang musik populer, generasi muda, dan dinamika budaya di era digital.
-
POLA ADAPTASI PARA PEKERJA KREATIF RANTAU DI DAERAH KHUSUS JAKARTAPenelitian ini mengkaji pola adaptasi pekerja kreatif rantau di Daerah Khusus Jakarta pada 2025, dengan fokus pada pola adaptasi dan interaksi sosial dalam menghadapi budaya baru. Informan dikategorikan menurut Trisula Kreatif (Higgs & Cunningham, 2008): Spesialis Kreatif, Pekerja Tertaut, dan Pekerja Pendukung. Menggunakan teori adaptasi Bennett (1979) dan metode life history, temuan menunjukkan bahwa proses adaptasi diawali dengan pemenuhan kebutuhan dasar, lalu diikuti strategi adaptasi seperti peniruan, penyesuaian diri, interaksi sosial serta pemanfaatan modal yang dimiliki.
-
MODAL SOSIAL KOMUNITAS “ONTHEL TEGALEGA EKSIS” KOTA BANDUNGPenelitian ini menganalisis peran modal sosial dalam menjaga eksistensi Komunitas Onthel Tegalega Eksis (OTG Eksis) di Kota Bandung. Komunitas ini terbentuk pada tahun 2021 dan beranggotakan pecinta sepeda onthel yang berupaya melestarikan nilai budaya serta eksistensi sepeda onthel di tengah modernisasi dan menurunnya minat masyarakat perkotaan terhadap onthel. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teori modal sosial milik Robert Putnam untuk mengidentifikasi unsur-unsur modal sosial seperti kepercayaan, jaringan sosial, dan norma yang berkembang di dalam komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial berperan penting dalam membangun solidaritas, memperkuat relasi antaranggota, serta menjadi strategi utama dalam mempertahankan eksistensi komunitas dan sepeda onthel sebagai warisan budaya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu sosial, khususnya terkait aksi kolektif dan pelestarian komunitas berbasis hobi tradisional.
-
BENTUK KEPEDULIAN ORGANISASI KEPEMUDAAN “EXALT TO CREATIVITY” DALAM PELESTARIAN SENI REAK DI CICALENGKA KABUPATEN BANDUNGPenelitian ini mengkaji peran aktif organisasi kepemudaan Exalt to Creativity dalam pelestarian seni reak di Cicalengka, Kabupaten Bandung. Studi ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana sebuah kelompok pemuda yang kerap distigmatisasi sebagai "gengster" dapat menjadi salah satu aktor penting dalam menjaga kelestarian warisan budaya lokal. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini mengungkapkan bagaimana upaya Exalt to Creativity telah memberikan bentuk kepeduliannya terhadap pelestarian seni reak. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan, seperti pelatihan, pertunjukan, dan dokumentasi, tidak hanya melestarikan teknik dan estetika seni reak, tetapi juga memperkuat identitas lokal dan nilai-nilai budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa organisasi kepemudaan, bahkan yang kerap dilabel negatif, memiliki potensi besar dalam menjadi agen perubahan dan pelestarian budaya.
