Items
-
APLIKASI BUBBLE SEBAGAI MEDIUM ILUSI PARASOSIAL PADA PENGGEMAR K-POP LUCY BAND (WALWAL)Penelitian ini mengkaji peran aplikasi Bubble sebagai medium pembentuk ilusi parasosial antara penggemar Lucy Band (Walwal) dengan idolanya. Penelitian ini mengungkapkan fenomena hubungan parasosial di era digital yang semakin kompleks, di mana teknologi tidak hanya memediasi interaksi, tetapi juga membentuk persepsi dan realitas emosional penggemar. Kesenjangan penelitian ini muncul dari terbatasnya studi tentang aplikasi Bubble sebagai platform eksklusif yang menciptakan kedekatan semu, khususnya dalam konteks K-Band seperti Lucy Band, yang berbeda secara musikalitas dan interaksi dengan penggemar dibandingkan idola K-Pop pada umumnya. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis mekanisme ilusi parasosial yang terbentuk melalui Bubble serta pengaruhnya terhadap kehidupan nyata penggemar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, berlandaskan teori Ekologi Media McLuhan yang menekankan peran medium dalam membentuk persepsi dan realitas sosial. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan lima penggemar (Walwal), dan studi literatur. Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola interaksi dan dampak hubungan parasosial. Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa fitur-fitur Bubble seperti notifikasi real-time, konten eksklusif, dan simulasi interaksi personal (seperti fitur Your Name dan Birthday Greetings) berhasil menciptakan ilusi kedekatan emosional yang dalam. Hubungan parasosial ini memengaruhi perilaku penggemar, seperti perubahan gaya hidup, pembentukan emotional bonding, dan peningkatan standar hubungan ideal. Namun, di balik dampak positif seperti motivasi berolahraga atau belajar bahasa Korea, terdapat risiko ketergantungan emosional pada hubungan sepihak. Implikasi penelitian ini mencakup dua aspek: akademis dan praktis. Secara akademis, temuan ini memperkaya literatur tentang hubungan parasosial di era digital, khususnya dalam konteks K-Band. Secara praktis, penelitian ini memberikan wawasan bagi industri hiburan tentang dampak psikologis platform parasosial serta rekomendasi bagi penggemar untuk menjaga keseimbangan antara interaksi virtual dan kehidupan nyata.
-
REPRESENTASI PENGGUNAAN RUANG DAN INTERAKSI SOSIAL PENGUNJUNG DI TAMAN LITERASI MARTHA CHRISTINA TIAHAHU BLOK M JAKARTA SELATANPenelitian ini mengkaji representasi penggunaan ruang dan interaksi sosial pengunjung di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Blok M, Jakarta Selatan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teori produksi ruang Henri Lefebvre, penelitian bertujuan untuk memahami bagaimana ruang taman diproduksi secara sosial dan bagaimana pola interaksi sosial terbentuk di dalamnya. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan pengunjung, pengelola, dan komunitas penyelenggara kegiatan, serta dokumentasi aktivitas di taman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang taman tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai ruang sosial yang dinamis, tempat pertukaran ide dan pengembangan literasi masyarakat. Pengunjung dan komunitas secara aktif memaknai dan memanfaatkan ruang sesuai kebutuhan, sementara desain dan aktivitas yang ada mendorong terbentuknya interaksi sosial yang beragam. Penelitian ini merekomendasikan pengelolaan taman yang lebih partisipatif dan adaptif agar taman dapat terus berkembang sebagai ruang publik yang inklusif dan berkelanjutan di tengah masyarakat urban.
-
FENOMENA CANCEL CULTURE DI TWITTER/X: STUDI KASUS PLAGIARISME RICODWICHYPenelitian ini bertujuan untuk memahami fungsi cancel culture sebagai mekanisme kontrol sosial di media sosial Twitter/X serta menganalisis respons pengguna terhadap kasus plagiarisme Ricodwichy. Dengan pendekatan etnografi virtual dan teori intersubjektivitas Alfred Schutz, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana makna kolektif dibangun melalui interaksi digital. Data dikumpulkan melalui pengamatan konten digital, dokumentasi postingan, dan analisis interaksi, menggunakan kerangka analisis media siber pada level ruang media, dokumen media, objek media, dan pengalaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cancel culture menjadi alat yang efektif untuk menegakkan norma sosial di ruang digital, dengan engagement tinggi pada thread utama yang mengekspos kasus ini. Diskursus daring menciptakan dampak nyata di dunia offline, seperti sanksi akademik yang diterima Ricodwichy. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian budaya digital dengan menyoroti bagaimana ruang digital mendukung pembentukan dan penerapan norma sosial.
-
PERSEPSI WISATAWAN DOMESTIK PADA DESTINASI WISATA MUSEUM BATIK INDONESIA TMII JAKARTAMuseum Batik Indonesia yang terletak di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta merupakan destinasi wisata budaya yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik. Museum Batik Indonesia memiliki peran penting sebagai media edukasi serta upaya pelestarian batik sebagai warisan budaya takbenda Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana Museum Batik Indonesia mampu memenuhi ekspektasi dan kebutuhan wisatawan. Oleh karena itu penting untuk mempelajari persepsi wisatawan domestik terhadap empat komponen utama dalam pengelolaan destinasi wisata, yaitu atraksi, aksesibilitas, fasilitas, dan layanan tambahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan pengelola museum dan wisatawan domestik, serta studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Museum Batik Indonesia memiliki atraksi, aksesibilitas, fasilitas, dan layanan tambahan yang kuat sebagai destinasi wisata edukatif dan budaya. Museum ini sudah memberikan kepuasan serta respons yang positif kepada wisatawan domestik. Namun, terdapat beberapa catatan yang perlu diperhatikan untuk museum yaitu kurangnya penyampaian informasi mengenai kegiatan workshop kepada wisatawan, tidak adanya toko suvenir resmi, akses menuju pintu masuk yang belum ramah bagi penyandang disabilitas, tidak adanya petunjuk arah yang jelas menuju mushola, serta fasilitas media interaktif yang masih bersifat pasif. Selain itu, Museum Batik Indonesia juga menjalankan peran strategis dalam pelestarian warisan budaya batik melalui program-program yang edukatif, partisipatif, berkelanjutan, serta adaptif terhadap perkembangan zaman.
-
PENGARUH BUDAYA K-POP DANCE COVER TERHADAP GAYA HIDUP REMAJA KOMUNITAS THE NATION PROJECT KOTA BANDUNGPenelitian ini menjelaskan mengenai bagaimana pengaruh dari budaya K-Pop dance cover terhadap para remaja di komunitas The Nation Project Bandung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatis dengan pendekatan yang bersifat deskriptif, dengan menggunakan teknik pengambilan data melalui partisipasi peneliti, observasi, wawancara, kuesioner, dan studi pustaka. Teori yang digunakan untuk menganalisis penelitian ini adalah teori motivasi Abraham Maslow. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dorongan motivasi yang membuat mereka tertarik pada budaya K-Pop dance cover, yang meliputi (1) Adanya bentuk dorongan yang berasal dari dalam dirinya sendiri atau faktor internal dan dorongan dari lingkungan sosialnya atau faktor eksternal. (2) Budaya K-Pop dance cover memengaruhi gaya hidup para remaja yang didominasi oleh tiga pengaruh, yaitu meningkatnya kepercayaan diri, meningkatnya selera fashion atau representasi estetika fashion, dan eksistensi diri mereka di kehidupan sehari-hari maupun media sosial.
-
PROSES TAHAPAN RITUAL SEBELUM PAGELARAN KESENIAN RONGGENG GUNUNG DI DESA PANYUTRAN KECAMATAN PADAHERANG KABUPATEN PANGANDARANKesenian Ronggeng Gunung sebagai warisan budaya tradisional Indonesia memiliki nilai penting untuk dilestarikan karena mengandung kekayaan makna dan simbol yang merefleksikan kearifan lokal masyarakat, khususnya di Kabupaten Pangandaran. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya dokumentasi dan tulisan mendalam mengenai proses tahapan ritual sebelum pagelaran Ronggeng Gunung di Desa Panyutran, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, yang berpotensi mengancam keberlangsungan nilai-nilai sakral dalam kesenian tersebut. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan proses tahapan ritual yang harus dilakukan ronggeng sebelum pagelaran dan menganalisis konsep shamanisme dalam kesenian tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengaplikasikan teori liminalitas Victor Turner sebagai kerangka analisis. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai sumber primer, sedangkan sumber sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan. Analisis data meliputi tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses ritual yang dilakukan oleh calon ronggeng merupakan serangkaian prosesi sakral yang memiliki makna simbolik dan fungsi spiritual, terutama ritual pemandian di Kedung Nyi Samboja. Ronggeng dalam konteks ini berperan sebagai perantara komunikasi antara dunia manusia dan dimensi transendental, menegaskan posisinya sebagai seorang shaman yang mengalami transformasi spiritual setelah menjalani ritual pemandian tersebut. Implikasi dari temuan ini menyoroti pentingnya ritual ini untuk menjadi wahana transmisi pengetahuan dan nilai-nilai tradisional antar generasi, di mana narasi tentang sosok Samboja dan praktik-praktik ritual diwariskan kepada calon ronggeng, memastikan keberlangsungan tradisi lisan yang menjadi fondasi kesenian ini.
-
NARASI GENDER DAN DEKONSTRUKSI PATRIARKI DALAM DRAMA KOREA QUEENMAKERKorea Selatan merupakan negara dengan sistem budaya patriarki yang kuat. Dalam budaya mereka, laki-laki dianggap lebih utama dibandingkan perempuan. Ketidakadilan gender bagi perempuan Korea telah dialami sejak masa dinasti yang diperkuat dengan adanya ajaran Konfusianisme. Artinya, sistem patriarki ini telah menjadi logosentris atau memiliki bangunan yang kokoh di Korea. Oleh karena itu, untuk membongkar bangunan kokoh tersebut, Drama Korea Queenmaker memotret gambaran ketidakadilan gender itu, khususnya dalam dunia politik melalui sosok politikus wanita yang harus berhadapan dengan kerasnya ‘dunia laki-laki’. Penelitian ini membahas mengenai narasi gender dan dekonstruksi patriarki dalam drama Korea Queenmaker. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dekonstruksi patriarki yang ada dalam drama Korea Queenmaker. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan content analisys (Eryanto, 2011). Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, dokumentasi yang dilakukan dengan mengambil tangkapan layar dari sejumlah adegan drama Korea Queenmaker di situs layanan Netflix. Analisis penelitian menggunakan teori dekonstruksi Jaques Derrida yang memebahas narasi gender dan dekonstruksi patriarki yang ada dalam drama Korea Queenmaker. Hasil dari penelitian ini adalah drama Queenmaker telah mendekonstruksi narasi patriarki melalui dominasi suara-suara perempuan, kemampuannya menjadi pusat, dan menawarkan beragam pemaknaan dalam memperlihatkan kemampuan perempuan dalam menegosiasikan dirinya dengan memimpin di lingkungan yang dikuasai oleh laki-laki.
-
TRANSFORMASI FUNGSI LESUNG DARI TRADISI MITEMBEYAN TANDUR KE SENI HIBURAN GONDANG BUHUN DI DESA WANAKERTA KECAMATAN CIBATU KABUPATEN GARUTPenelitian ini membahas perubahan fungsi lesung dari alat pertanian yang digunakan dalam tradisi yang bersifat sakral menjadi alat musik dalam seni hiburan Gondang Buhun yang bersifat profan di Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut. Lesung pada awalnya digunakan dalam kegiatan menumbuk padi yang dilakukan sebagai bagian dari ritual penghormatan terhadap Dewi Sri atau Nyi Pohaci Sanghyang Asri sebagai simbol kesuburan. Namun seiring berjalannya waktu dan pergeseran teknologi pertanian, tradisi ini mengalami pergeseran. Fungsi lesung pun turut berubah menjadi alat musik dalam pertunjukan seni Gondang Buhun yang kini tidak lagi bersifat ritual, melainkan menjadi hiburan serta simbol budaya yang diwariskan kepada generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana proses perubahan fungsi lesung tersebut terjadi dan menjelaskan bagaimana pengaruhnya terhadap eksistensi lesung dalam kehidupan masyarakat Desa Wanakerta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pelaku budaya, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan fungsi lesung terjadi karena pengaruh dari modernisasi alat pertanian, perubahan struktur ekonomi masyarakat, serta kebutuhan masyarakat akan sarana ekspresi budaya yang baru. Meskipun fungsi sakralnya memudar, nilai simbolik lesung tetap dipertahankan melalui transformasi ke dalam ranah seni pertunjukan. Komunitas seni seperti Lingkung Seni Putra Pamager Sari berperan penting dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya ini melalui kegiatan pelatihan dan pertunjukan rutin. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa perubahan fungsi lesung tidak menghilangkan nilai-nilai budaya yang dikandungnya, melainkan merupakan bentuk adaptasi terhadap perubahan zaman. Proses perubahan ini juga menjadi cerminan dinamika kebudayaan yang lentur namun tetap mempertahankan identitas lokal.
-
FETISISME KOMODITAS PHOTOCARD SEVENTEEN : STUDI PADA KOMUNITAS CARATDEUL DI KOTA BANDUNGPenelitian ini membahas fenomena fetisisme komoditas pada penggemar K-Pop dalam komunitas Caratdeul Bandung, khususnya dalam praktik koleksi photocard SEVENTEEN. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan anggota komunitas Caratdeul Bandung yang berlatar belakang status ekonomi sosial menengah hingga bawah berupaya menggapai hasrat memiliki photocard SEVENTEEN dan menjelaskan alasan utama anggota komunitas Caratdeul Bandung ingin memiliki photocard SEVENTEEN tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teori fetisisme komoditas dari Theodor Adorno, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa photocard SEVENTEEN tidak hanya diposisikan sebagai barang koleksi, melainkan sebagai representasi dari nilai simbolik, loyalitas, serta kedekatan emosional dengan idola. Para penggemar, meskipun memiliki keterbatasan finansial, menunjukkan strategi konsumsi yang berbagai macam seperti menabung, mengikuti komunitas, hingga membeli photocard tidak resmi demi memuaskan hasrat memilki photocard tersebut.
-
BENTUK RITUAL NGADU ELMU PADA TRADISI JEBLAG DI PESANTREN DARUL FALAH JAMBUDIPA KECAMATAN WARUNGKONDANG KABUPATEN CIANJURPondok Pesantren Darul Falah dikenal sebagai pondok pesantren tertua di Jawa Barat yang masih merawat nilai-nilai kebudayaan dan ke Islaman. Ritual Ngadu Elmu adalah ritual dalam tradisi jeblag untuk mendapatkan elmu tenaga dalam yang dimana ritual tersebut mengundang makhluk-makhluk ghaib sesuai dengan kemampuan/tingkatan yang dimiliki oleh masing-masing pemain jeblag untuk dipergunakan ketika ngadu elmu pada tradisi jeblag itu berlangsung. Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Darul Falah Jambudipa Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur, tempat dimana tradisi jeblag ini lahir dan berkembang. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif yang dimana terdapat teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi. Dan teknik analasis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Tradisi jeblag merupakan sebuah tradisi yang di dalamnya dijadikan sebagai sarana ritual ngadu elmu yang dimana orang tersebut menguji ilmu jeblag untuk membela diri yang telah dipelajari sesuai dengan tingkatannya. Bagi masyarakat dengan adanya tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur dan tolak bala atas segala sesuatu yang buruk. Pelaksaanan tradisi jeblag dilakukan pada 12 (dua belas) mulud. Simbol yang terkandung dalam tradisi jeblag yaitu simbol kekuatan dan memiliki makna spiritual. Dengan terjaga dan terlestarikannya tradisi jeblag, nilai simbol dan makna yang terkandung di dalamnya tetap utuh dalam kehidupan masyarakat di Desa Jambudipa Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur.
-
INTERAKSI SOSIAL WARGA ETNIS BALI DAN WARGA NON BALI DI KAMPUNG BALI KELURAHAN HARAPAN JAYA KOTA BEKASIPenelitian ini bertujuan untuk menganalisa dinamika interaksi sosial antar warga etnis Bali dan warga non Bali di Kampung Bali Bekasi, kelurahan Harapan Jaya. Kampung Bali Bekasi Kawasan yang multietnis dihuni oleh warga dari latar belakang yang berbeda dalam segi suku dan agama. Di Kampung Bali Bekasi terdiri dari lima etnis seperti, Bali, Jawa, Sunda, Betawi, Ambon, dan Batak. Keberagaman ini menciptakan ruang sosial yang unik, karena warga hidup berdampingan dengan toleransi, kesetaraan, dan saling menghargai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data didapatkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan warga Bali dan warga non Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial di Kampung bali berlangsung dengan inklusif, dapat ditekankan dengan keterlibatan aktif warganya di berbagai kegiatan bersama seperti pada perayaan kegamaan, gotong royong, dan budaya, membentuk kerukunan dalam nilai-nilai multikulturalisme yang muncul di keseharian warga yang saling mendukung. Oleh karena itu, Kampung Bali dijadikan sebagai model kawasan multikultural yang harmonis dan kuatnya intergrasi sosial.
-
POLA PEWARISAN BUDAYA DALAM KESENIAN TRADISIONAL BRAI DI SANGGAR SEKAR PUSAKA KABUPATEN CIREBONBrai merupakan jenis kesenian tradisional tertua di Cirebon. Kesenian tradisional Brai mengalami kurangnya eksibisi. Modernisasi menyebabkan kelompok Brai di kabupaten Cirebon hilang jejak dan tidak lagi muncul di antaranya yaitu, Brai di blok Danalaya desa Tegalsari dan blok Karangbrai di Tengahtani yang telah punah. Namun, Brai dari sanggar Sekar Pusaka tetap menjadi lingkung seni yang aktif mengupayakan pewarisan hingga sekarang. Berdirinya sanggar seni menjadi wadah pembelajaran untuk mewariskan budaya lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teori Pewarisan Budaya Cavalli-Sforza dan Marcuz Feldman (1981). Adapun teknik pengumpulan data melalui observasi partisipan, wawancara tidak terstruktur dan studi literatur. Hasil penelitian ini mengungkapkan terdapat tiga macam pola pewarisan dalam kesenian tradisional Brai yang dilakukan oleh sanggar Sekar Pusaka yaitu, (vertical) atau pewarisan tegak melalui internaliasi dengan mengajak keturunan, kedua (horizontal) atau pewarisan mendatar melalui sosialisasi dari lingkungan hidup masyarakat, dan yang terakhir (diagonal) atau pewarisan miring melalui pendidikan informal berupa kegiatan rutin yang dilakukan oleh sanggar Sekar Pusaka dalam membahas keberlangsungan kesenian tradisional Brai. Terdapat aspek pendukung dan penghambat di tengah pewarisan kesenian tradisional Brai yang dialami sanggar Sekar Pusaka sehingga terjadi beberapa perubahan dalam elemen bentuk keseniannya. Pola pewarisan budaya yang dilakukan oleh sanggar Sekar Pusaka terhadap generasi muda penerus di masa sekarang bertujuan agar kesenian tradisional Brai dapat selalu eksis di masa depan.
-
PERANAN KELOMPOK MUSIK SORA (SOUND OF HERITAGE) DALAM PELESTARIAN MUSIK TRADISIONAL ETNIS NUSANTARA DI KOTA BANDUNGPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peranan kelompok musik SORA dalam pelestarian alat musik tradisional etnis Nusantara seperti angklung yang menghasilkan bunyi-bunyi khas dan unik yang berbeda dengan alat musik universal dan modern lainnya (gitar, bass, drum, piano, keyboard, synthesizer). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan instrumen studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini dianalisis menggunakan Teori Peran milik Soerjono Soekanto. Adapun hasil penelitian menunjukan bahwa dalam setiap karya yang diciptakan oleh komposer-komposer dalam kelompok musik SORA (Sound Of Heritage) merupakan ide konseptual dan interpretasi dari pengalaman sang komposer, salah satunya terinterpretasi dari “Kaulinan Barudak” seperti Bakikik dan Gobak Sodor yang menggunakan alat musik lokal yang dikemas menjadi lebih dinamis.
-
ANALISIS WACANA KRITIS ATAS POLEMIK LIRIK “SOS” LAGU SEVENTEEN DI MEDIA SOSIAL XLagu “SOS” merupakan lagu berbahasa Inggris kedua Seventeen setelah merilis Darl+ing di tahun 2022. Lagu ini diproduseri oleh Woozi dan Bumzu dengan berkolaborasi bersama DJ Marshmello. Munculnya lagu SOS ini menimbulkan polemik di antara sesama penggemar Seventeen di media sosial khususnya aplikasi X yang berada di Indonesia, Awal mulanya ada yang beranggapan bahwa penggalan lirik lagu “SOS” ada yang berkaitan dengan fenomena kondisi perang di Palestina namun sebagian penggemar Seventeen yang lain beranggapan bahwa lagu ini sama sekali tidak ada keterkaitannya dengan kondisi di Palestina karena lagu ini menggambarkan seseorang yang melawan penyakit mental. Teori yang digunakan untuk mengkaji permasalahan yang ada pada penelitian ini adalah teori analisis wacana kritis norman fairclough. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, pendekatan yang bertujuan untuk memahami fenomena atau permasalahan dalam konteks yang mendalam dan menyeluruh. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki pengalaman emosional, sosial, dan budaya yang unik, sehingga memengaruhi cara mereka memahami pesan dalam lagu tersebut.
-
RESIPROSITAS KALANGAN PERANTAU ASAL NAGARI LIMAU LUNGGO DI JAKARTA TIMUR: (STUDI PADA FORUM KELUARGA BESAR LIMAU LUNGGO (FKBL) PERANTAUAN)Penelitian ini membahas mengenai apa dan bagaimana bentuk-bentuk resiprositas yang terjadi di dalam kelompok sosial Forum Keluarga Besar Limau Lunggo (FKBL), yang sebagian besar anggotanya berprofesi sebagai pelaku usaha kaos kaki sebagai bentuk dukungan ikatan solidaritas kelompok dan kesejahteraan ekonomi kelompok perantau asal Nagari Limau Lunggo di Jakarta Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang menggunakan teori Resiprositas Marshall Sahlins, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi pengamatan, wawancara, dokumentasi, serta validasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk resiprositas yang terjadi pada kalangan perantau kelompok sosial Forum Keluarga Besar Limau Lunggo (FKBL) di Jakarta Timur terbagi dalam dua kategori utama, yaitu resiprositas sebanding (balanced reciprocity) dan resiprositas umum (generalized reciprocity). Resiprositas sebanding tercermin dalam hubungan ekonomi antara pedagang eceran dengan pemilik grosir kaos kaki yang ditandai dengan adanya transfer pengetahuan dan keterampilan usaha, penyaluran informasi strategis pasar, serta pemberian hutang barang tanpa batas waktu pengembalian yang ketat. Sementara itu, resiprositas umum terlihat dalam praktik pemberian tempat tinggal kepada perantau baru, sistem santunan kematian dan sakit, serta dukungan moral dan emosional yang diberikan tanpa ekspektasi pengembalian langsung atau setara.
-
VOLUNTERISME DI KALANGAN MAHASISWA: STUDI PADA SEKOLAH BUDAYA ADHIKARI KOTA BANDUNGPenelitian ini membahas fenomena volunterisme di kalangan mahasiswa melalui studi pada Sekolah Budaya Adhikari (SBA) di Kota Bandung. Bertujuan untuk memahami motivasi utama mahasiswa dalam keterlibatannya sebagai volunter serta faktor-faktor yang mendorong keberlanjutan maupun berakhirnya keterlibatan mereka. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap volunter yang telah aktif selama1,5 tahun sampai 3 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan mahasiswa sebagai volunter didorong oleh motivasi yang berakar dari lima tingkat kebutuhan Maslow, mulai dari kebutuhan fisiologis hingga aktualisasi diri. Faktor-faktor yang mendorong keberlanjutan dan berakhirnya keterlibatan volunter di Sekolah Budaya Adhikari selama 1,5 sampai 3 tahun yaitu: 1) lingkungan sosial yang hangat dan suportif, 2) dukungan teman dan keterikatan emosional, 3) pengembangan diri dan aktualisasi potensi melalui keterlibatan di SBA, Sementara itu, faktor yang menyebabkan volunter memilih untuk mengurangi keterlibatan atau berhenti dari SBA, yaitu: 1) ketidakmerataan dalam apresiasi, 2)masalah jarak dan biaya, 3) hilangnya dukungan sosial internal.
-
INTERNALISASI METODE HORENSOU DALAM HIMPUNAN MAHASISWA BAHASA JEPANG UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIAPenelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk memahami bagaimana mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menginternalisasi dan menerapkan metode Horensou yang terdiri dari tiga prinsip utama: Houkoku (melapor), Renraku (menghubungi), dan Soudan (berdiskusi). Fokus penelitian diarahkan pada ruang nonformal, yaitu organisasi kemahasiswaan HIMABAJA, sebagai kanal sosial tempat nilai-nilai budaya kerja Jepang diperkenalkan dan dihidupkan secara kolektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif pasif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teori internalisasi dari John F. Scott yang mencakup tiga tahap: idea (pengenalan nilai), concept (pemahaman nilai), dan activities (penerapan dalam tindakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi Horensou dalam HIMABAJA tidak berlangsung melalui regulasi formal, melainkan berkembang secara organik melalui praktik sosial dan pengalaman kolektif dalam organisasi. Mahasiswa menerapkan Horensou dalam berbagai kegiatan seperti koordinasi program kerja, laporan kegiatan, serta diskusi internal. Ketua HIMABAJA berperan sebagai aktor kunci dalam memperkuat nilai ini, baik secara struktural maupun kultural. Penerapan Horensou berdampak pada terbentuknya budaya organisasi yang komunikatif, bertanggung jawab, dan kolaboratif. Dengan demikian, Horensou tidak hanya menjadi konsep budaya kerja Jepang, tetapi telah menjadi nilai internal yang membentuk karakter dan etos kerja mahasiswa HIMABAJA.
-
PENGGUNAAN MUSIK BINAURAL SEBAGAI MEDIA MEDITASIPenelitian ini mengkaji pemanfaatan musik binaural sebagai media dalam praktik meditasi dari sudut pandang antropologi budaya. Musik binaural merupakan teknologi suara yang menghasilkan frekuensi ilusi di otak melalui perbedaan nada pada masing-masing telinga, yang diyakini mampu menstimulasi ketenangan dan kesadaran diri. Dengan pendekatan kualitatif etnografi, penelitian ini berfokus pada pengalaman personal penulis dan sesi observasi di Sanggar Meditasi 7 Kerikil, Kabupaten Bandung. Tujuan utama dari penelitian ini adalah memahami bagaimana musik binaural digunakan dalam proses meditatif serta menelaah fungsinya melalui teori fungsi musik Alan P. Merriam. Temuan menunjukkan bahwa penggunaan musik binaural dalam meditasi tidak hanya berperan sebagai musik pengiring saja, tetapi juga berpotensi untuk pelepasan emosi, pembentukan ruang refleksi, serta integrasi spiritual dalam praktik kontemporer. Dalam konteks budaya digital, musik binaural menawarkan cara baru yang fleksibel dan relevan bagi masyarakat modern dalam mengeksplorasi meditasi.
-
STRATEGI MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI PUSAT OLAH SENI TARI SETIALUYU BANDUNGPenelitian ini menjelaskan tantangan dalam mempertahankan eksistensi salah satu sanggar seni tari kreasi Sunda di era globalasasi serta peran kunci dalam memelihara identitas budaya pada generasi selanjutnya yang bertujuan untuk menguraikan bentuk adaptasi budaya dalam berbagai aspek seperti tahapan dan strategi dalam mempertahankan eksistensi serta pengaruhnya keberadaan sanggar Pusat Olah Seni Tari Setialuyu Bandung terhadap pelestarian jagat tari Sunda di era globalasasi. Teori yang digunakan adalah Teori Adaptasi Budaya dari Kim Young Yun. Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, akan menghasilkan data deskriptif dari narasumber utama dan beberapa narasumber sekunder lainnya yang akan dituangkan dalam bentuk laporan dan uraian. Hasil penelitian menunjukan berbagai pernyataan dari narasumber dan berbagai strategi yang diterapkan mencakup inovasi dalam bentuk pertunjukan, kolaborasi dengan institusi pendidikan dan komunitas seni, pemanfaatan media sosial untuk promosi dan pengelolaan dalam segi internal dan eksternal serta dalam menghadapi dinamika zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang menjadi identitasnya.
-
INTERAKSI SOSIAL ANTARA BARISTA DAN PELANGGAN SEBAGAI BENTUK HOSPITALITY DI KEDAI KOPI NIRBANA SAESTU KOTA BEKASIPenelitian ini membahas tentang Interaksi Sosial sebagai bentuk Hospitality yang dilakukan oleh Barista kepada pelanggan di kedai kopi Nirbana Saestu Kota Bekasi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apa faktor Interaksi yang terdapat antara Barista dan pelanggan, serta bagaimana interaksi tersebut dapat menjadi sebuah bentuk pelayanan Hospitality dengan menjabarkan beberapa karakteristiknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, setidaknya terdapat Identifikasi, dan Simpati yang menjadi faktor sebuah interaksi sosial antara Barista dan pelanggan. Sementara Intangibility, Immovability, Simultaneity, dan Heterogeneity merupakan karakteristik Hospitality yang sangat dominan dalam Interaksi tersebut.
-
PEWARISAN BUDAYA DAN STRATEGI MASYARAKAT KAMPUNG DUKUH DI KABUPATEN GARUT DALAM MENJAGA KEBERLANJUTAN RUMAH ADAT SUNDAPenelitian ini bertujuan untuk memahami proses pewarisan budaya yang dilakukan masyarakat Kampung Dukuh dalam membangun rumah adat Sunda serta mengidentifikasi strategi pelestarian yang diterapkan di tengah tantangan modernisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, menggali data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap kehidupan masyarakat di Kampung Dukuh, khususnya di wilayah Dukuh Dalam yang masih memegang teguh aturan adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pewarisan budaya dalam pembangunan rumah adat Sunda dilakukan melalui proses internalisasi, enkulturasi, dan sosialisasi. Nilai-nilai seperti kesederhanaan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap leluhur diwariskan sejak dini dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Strategi pelestarian dilakukan dengan mempertahankan bentuk rumah panggung tradisional, penggunaan bahan alami, serta pelaksanaan ritual adat yang menyertai proses pembangunan rumah adat Sunda. Peran tokoh adat, praktik gotong royong, dan kesadaran masyarakat Kampung Dukuh dalam menjaga warisan budaya menjadi elemen dalam menjaga keberlangsungan tersebut. Selain itu, dukungan pemerintah melalui program Sekolah Lapang Kearifan Lokal (SLKL) turut memperkuat upaya pelestarian.
-
UPAYA PELESTARIAN RITUAL NGAHUMA DALAM TRADISI MENANAM PADI HUMA DI KAMPUNG SUKAPURA, DESA MALANGNENGAH, KECAMATAN CIBITUNG, KABUPATEN PANDEGLANGPenelitian ini mengkaji keberlanjutan Ritual Ngahuma, sebuah praktik tradisional penanaman padi huma yang masih dijalankan oleh keluarga Abah Kalimi di Kampung Sukapura, Desa Malangnengah, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Pandeglang. Ritual ini tidak hanya merepresentasikan aktivitas pertanian lokal, namun juga sarat dengan makna budaya, nilai spiritual, dan kearifan ekologis yang diwariskan antar generasi. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif berbasis studi lapangan dengan teknik observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Fokus utama penelitian ini adalah untuk menggambarkan urutan prosesi Ritual Ngahuma, mengidentifikasi nilai-nilai budaya yang dikandungnya, serta memahami motivasi dan strategi keluarga Abah Kalimi dalam mempertahankan praktik tersebut. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terdapat 13 tahapan dalam Ritual Ngahuma, yang mencerminkan keharmonisan antara manusia, alam, dan aspek spiritual, dengan simbol utama berupa figur Nyi Sri sebagai lambang kesuburan. Keberlangsungan ritual ini dijaga sebagai bentuk penghormatan terhadap amanat leluhur dan dijadikan pedoman etis dalam menjalani kehidupan. Strategi pelestarian dilakukan melalui pewarisan nilai-nilai di lingkungan keluarga serta komunitas petani lokal, meskipun terdapat tantangan seperti anggapan bahwa ritual tersebut usang, bertentangan dengan ajaran agama, dan minimnya ketertarikan generasi muda terhadap dunia pertanian. Studi ini menekankan pentingnya Ritual Ngahuma sebagai bagian dari warisan budaya takbenda yang berperan dalam memperkuat identitas lokal dan mendukung keberlanjutan ekologi dan sosial masyarakat agraris. Pelestarian ritual ini memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak agar tetap eksis di tengah arus perubahan zaman.
-
PERKAWINAN ANAK DI DESA CIPTAHARJA KECAMATAN CIPATAT KABUPATEN BANDUNG BARAT: LIFE HISTORY DAN NARRATIVE PERSONAL PADA LIMA PEREMPUAN MENIKAH USIA ANAKPenelitian ini membahas mengenai fenomena perkawinan anak di Desa Ciptaharja yang masih berlangsung hingga saat ini. Perkawinan anak menjadi isu penting karena berdampak pada kehidupan remaja perempuan, terutama dalam hal pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman perempuan yang melakukan perkawinan anak, faktor penyebab perkawinan anak, dan dampak yang terjadi dalam menjalani perkawinan anak. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, teknik pengumpulan yang dilakukan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan utama dalam penelitian ini adalah lima perempuan yang melakukan perkawinan anak, serta beberapa informan tambahan seperti penghulu, staf desa, bidan desa, orang tua dalam konteks masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena perkawinan anak dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kondisi dorongan orang tua, norma agama, norma budaya, dan pergaulan bebas. Selain itu, terdapat dinamika dalam menjalani kehidupan rumah tangga yang mereka alami termasuk persoalan kesehatan, beban ganda, keterbatasan akses pekerjaan. Penelitian ini juga menemukan bahwa sebagian informan mengalami tekanan psikologis akibat transisi peran yang terlalu cepat dari anak menjadi istri dan ibu. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dalam memahami realita dari praktik perkawinan anak, serta menjadi bahan pertimbangan dalam memutuskan melakukan perkawinan anak, dan upaya intervensi sosial.
-
FENOMENA LIMINALITAS MASYARAKAT PADA RITUAL LARUNG DI JATIGEDE KABUPATEN SUMEDANGPenelitian ini mengkaji fenomena liminalitas yang dialami oleh masyarakat Jatigede, Kabupaten Sumedang, melalui ritual Larung yang muncul sebagai respons budaya terhadap perubahan sosial dan lingkungan besar akibat pembangunan Waduk Jatigede. Waduk yang dikategorikan sebagai proyek strategis nasional ini menyebabkan terendamnya puluhan desa, lahan pertanian, makam leluhur, dan ruang hidup masyarakat adat, sehingga memaksa ribuan penduduk untuk berpindah dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Ritual Larung yang awalnya hanya dimaknai sebagai bentuk mengenang, kini berkembang menjadi ruang budaya simbolik yang mencerminkan usaha masyarakat dalam menjaga memori kolektif, merekonstruksi identitas, dan melanjutkan keberlangsungan budaya di tengah keterputusan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi literatur. Data diperoleh dari tokoh adat, warga terdampak, seniman, akademisi, dan perwakilan pemerintah daerah. Analisis menggunakan teori liminalitas dari Victor Turner yang membagi proses perubahan menjadi tiga tahap utama: separation, liminality, dan incorporation. Ketiga tahapan ini menunjukkan dimensi transisi dan transformasi yang dialami masyarakat Jatigede. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap separation, masyarakat mengalami keterputusan dari tanah kelahiran dan akar budayanya, disertai rasa kehilangan dan keterasingan. Tahap liminality menjadi fase yang paling kompleks, di mana masyarakat berada dalam kondisi “mengambang” antara kehilangan dan harapan. Di fase ini, ritual Larung menjadi media penting untuk mengolah trauma, mempererat solidaritas, dan merawat hubungan spiritual melalui prosesi ziarah, sesajen, tarian Umbul, pelarungan, dan diskusi budaya. Pada tahap incorporation, masyarakat mulai menerima keadaan baru dan menjadikan ritual Larung sebagai sarana penyembuhan, penguatan identitas, dan pelestarian budaya secara kolektif. Dengan demikian, ritual Larung Jatigede bukan sekadar upacara adat, melainkan wujud nyata dari liminalitas budaya masyarakat yang menghadapi transformasi besar. Larung menjadi ruang reflektif atas pengalaman kehilangan dan harapan, sekaligus menjadi strategi budaya untuk bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan.
-
KONSUMERISME MELALUI MEDIA E-COMMERCE PADA KALANGAN GENERASI Z DI KOMPLEKS GRIYA BANDUNG ASRI II BANDUNGHadirnya e-commerce atau platform belanja digital memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk dapat berbelanja kebutuhannya tanpa dibatasi waktu dan tempat. Namun, di sisi lain, hal ini telah mendorong terjadinya perilaku konsumtif, khususnya di kalangan Generasi Z yang memiliki keterikatan kuat dengan teknologi atau sering disebut sebagai digital native. Penelitian ini mengkaji fenomena konsumerisme digital yang terjadi pada kalangan Generasi Z di Kompleks Griya Bandung Asri II, Kabupaten Bandung, dengan menggunakan kerangka teori Liquid Consumerism dari Bauman (2000). Fokus utama penelitian adalah bagaimana perilaku konsumtif melalui platform e-commerce membentuk identitas, gaya hidup, serta memengaruhi kesejahteraan individu dan keluarga. Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan material, tetapi juga sebagai sarana ekspresi diri dan komunikasi sosial yang terus berubah sesuai dinamika masyarakat yang bersifat cair. E-commerce berperan sebagai ruang sosial dan rekreasional yang mendorong perilaku konsumtif, yang berujung pada pengeluaran impulsif dan tekanan ekonomi, terutama bagi mereka yang masih bergantung pada pendapatan keluarga. Fenomena ini mencerminkan orientasi konsumsi jangka pendek yang menjadi ciri khas masyarakat konsumen cair, serta tantangan dalam mengelola keuangan pribadi dan keluarga.
