Items
-
KAWIH CALUNG KIWARI LAIN BIHARI (Penyajian Kawih Wanda Anyar dalam Perangkat Calung)Karya seni berjudul “Kawih Calung Kiwari Lain Bihari” ini merupakan sajian vokal dalam genre calung dengan tujuan revitalisasi dalam bentuk kreasi. Pada pertunjukan ini membawakan lima buah lagu yang disajikan dalam bentuk medley menggunakan perangkat calung jingjing serta instrumen pendukung seperti kacapi, suling, drum, piul dan keyboard. Konsep garap sajian ini adalah menggabungkan bentuk sajian calung dengan struktur Kawih Wanda Anyar yang merupakan bentuk pengimplementasian dari teori estetika A.A.M Djelantik yang menekankan keutuhan, penonjolan dan keseimbangan. Karya ini bertujuan untuk menghidupkan kembali minat terhadap kesenian calung dikalangan generasi muda serta memperkaya khasanah seni karawitan Sunda.
-
ANALISIS ARANSEMEN LAGU “TOKECANG” VERSI PADUAN SUARA KARYA INDRA RIDWANSkripsi dengan judul “Analisis Aransemen Lagu Tokecang Versi Paduan Suara Karya Indra Ridwan” bertujuan untuk mendeskripsikan struktur musikal dan ekspresi visual saat pertunjukan. Tujuannya untuk menganalisis harmoni, melodi, ritme, dinamika, serta gestur dan ekspresi dalam paduan suara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teori analisis tekstual dan kontekstual dari Cook. Penelitian ini memperoleh data dari hasil studi literatur, analisis dokumen, wawancara, dan pendokumentasian. Analisis tekstual menelaah aspek musikal melalui partitur, sementara analisis kontekstual mengevaluasi pertunjukan dari video Gita Suara dalam lomba paduan suara Festival Paduan Suara Gerejawi X HKBP Pasar Rebo tahun 2019. Pendekatan ini mengungkap dinamika, tempo, dan gestur yang tidak tertulis namun tampak dalam pertunjukan. Aransemen “Tokecang” berhasil memadukan unsur Sunda dan teknik vokal Barat. Harmoni, ritme, dan dinamika dimodifikasi secara kreatif tanpa menghilangkan identitas melodi. Gestur visual dan koreografi memperkuat keindahan pertunjukan. Karya ini menunjukkan potensi lagu daerah untuk dikembangkan dalam format paduan suara yang modern dan ekspresif. Penelitian menyimpulkan bahwa lagu “Tokecang” dapat diadaptasi menjadi karya paduan suara tanpa kehilangan identitas budaya. Aransemen ini dapat dijadikan referensi bagi konduktor, arranger, dan pendidik. Temuan ini mendorong penelitian lanjutan serta mendukung revitalisasi kreatif musik tradisional melalui ensambel vokal modern.
-
KAMONÉSAN Penyajian Kendang dalam Ketuk Tilu“KAMONÉSAN” merupakan sajian kendang dalam ketuk tilu. Materi yang disajikan diusung dengan konsep gaya dari daerah Karawang, Sumedang, dan Subang dan perbedaan tepak kendang maupun sajian garapan dari setiap daerahnya, serta penggunaan repertoar lagu yang biasa digunakan dalam penyajian ketuk tilu. Landasan teori yang digunakan adalah teori Garap yang ditulis oleh Rahayu Supanggah dalam bukunya yang berjudul BHOTEKAN KARAWITAN II. Penyaji menggunakan unsur materi garap, penggarap, sarana garap, prabot atau piranti garap, Secara garis besar penyaji menyimpulkan sistem kerja dalam hal penggarapan ini tidak lepas dari konvensi atau kesepakatan yang sudah ada di masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan konsep penyaji yang menyajikan kendang ketuk tilu secara konvensional.
-
KENDANG NGAWIRAHMA WAYANG Penyajian Kendang Dalam Wayang GolekKeberadaan Seni dan Budaya menciptakan lingkungan yang baru untuk bisa berinteraksi satu sama lain, dan interaksi di dalam lingkungan yang memberikan apresiasi kepada seniman dan budayawan. Dalam hal ini lingkungan sangat berpengaruh pada penyaji untuk mengenal seni Karawitan Sunda Khususnya kendang. Penyajian tepak kendang pada pertunjukan Wayang golek disajikan secara konvensional, dengan garap tepak yang digunakan yaitu pola tepak Endang Berlin. Tepak kendang yang disajikan oleh Endang Berlin mempunyai ciri khas tersendiri, tidak hanya pada kejelasan dalam artikulasi, tepak Endang Berlin juga dapat membangun estetika pola gerak pada wayang golek yang disajikan oleh Dalang. Hal inilah yang akan disajikan dalam Garapan. Dalam perancangan garap yang dilakukan, penyaji menggunakan pendekatan teori sebagai acuan yaitu teori Garap yang dikemukakan oleh Rahayu Supanggah dalam buku Bhotekan Karawitan II: Garap (2007:3). Teori tersebut penyaji jadikan sebagai rujukan untuk mengeksplanasikan garap yang sesuai rumusan masalah. Adapun materi yang disajikan yaitu gawil barang dengan tepak ibing Maktal, dilanjutkan dengan materi Gunung Sari dengan tepak ibing Rahwana dan Sinta. Karatagan Mundur naek Pariswado, dengan tepak ibing Rahwana (Karatagan Mundur). Lagu jalan Banjaran dengan ragam tepak wayang golek dan tepak kliningan, Sampak dengan ragam tepak aksentuasi perang tanding. Lagu jalan Bendrong Petit dengan ragam tepak wayang golek. dan lagu penutup sajian. Adapun capaian dalam sajian ini, penyaji ingin menunjukkan keterampilan dalam memainkan tepak kendang wayang golek gaya Endang Berlin, disesuaikan dengan kemampuan dan pemahaman tafsir garap yang penyaji miliki.
-
TINJAUAN FUNGSI SENI PAKEMPLUNG DI MASYARAKAT TEGAL BUNGUR KECAMATAN NARINGGUL KABUPATEN CIANJURPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fungsi Seni Pakemplung di masyarakat Tegal Bungur, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perubahan fungsinya. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan landasan teori fungsi musik dari Alan P. Merriam (1964), data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian seni Pakemplung difokuskan terhadap empat fungsi utama: fungsi estetika yang tercermin dari kesederhanaan bentuk dan nuansa reflektif; fungsi komunikasi sebagai media penyampaian nilai, sejarah, dan pesan spiritual; fungsi hiburan yang kini lebih dominan seiring pergeseran dari peran ritual; serta fungsi pengesahan pranata sosial dan religius yang kini bersifat simbolik akibat melemahnya tradisi. Perubahan fungsi ini dipengaruhi oleh faktor internal, seperti perubahan pandangan pelaku seni, kurangnya regenerasi, dan keterikatan pada konteks ritual; serta faktor eksternal, seperti dominasi budaya populer, perubahan sosial-ekonomi, minimnya dukungan pemerintah, dan rendahnya eksposur media. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Seni Pakemplung mengalami dinamika fungsi yang kompleks akibat perubahan zaman. Oleh karena itu, diperlukan strategi pelestarian yang adaptif agar kesenian ini tetap hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat Tegal Bungur.
-
ADARMAJAP Penyajian Vokal Seni Pantun‚ADARMAJAP‛ adalah judul sajian tugas akhir yang merepresentasikan vokal kepesindenan dalam garap seni Pantun Sunda. Pantun Sunda merupakan salah satu genre sastra lisan yang berkembang di masyarakat Sunda dan memiliki peran penting dalam konteks upacara ritual serta hiburan. Namun, eksistensi Pantun Sunda saat ini mengalami penurunan, terutama di kalangan generasi muda. Melalui karya ini, penyaji berupaya untuk melakukan inovasi pada penyajian Pantun Sunda dengan mengangkat kisah perjuangan Ki Lapidin dari Subang sebagai lakon utama serta mengadopsi teknik vokal yang terdapat pada rumpun kepesindenan. Proses penyajian didukung oleh referensi dari seniman, praktisi, sumber audio visual, dan literatur terkait. Penyaji mengaplikasikan teori garap dari Rahayu Supanggah untuk memperkuat konsep garap serta bentuk sajian. Tujuan penyajian ini adalah melahirkan gagasan yang relatif baru dalam penyajian Pantun Sunda, membuktikan daya tarik inovasi lakon, serta mendorong pelestarian dan apresiasi terhadap seni Pantun Sunda di masyarakat. Karya ini diharapkan memberikan manfaat sebagai referensi, menambah wawasan, serta meningkatkan keterampilan vokal dalam bidang seni Pantun Sunda, khususnya bagi mahasiswa dan masyarakat.
-
PROSES REVITALISASI KESENIAN ANGKLUNG SERED BALANDONGAN DESA SUKALUYU KECAMATAN MANGUNREJA KABUPATEN TASIKMALAYA PERIODE 1998-2025Bermula dari alat komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan informasi kepada penduduk Kampung Balandongan Desa Sukaluyu Kecamatan Mangunreja Kabupaten Tasikmalaya ketika penjajah hadir. Angklung Sered kemudian berubah menjadi bentuk hiburan. Ketertarikan terhadap seni ini mengalami fluktuasi yang menimbulkan kecemasan atas perlunya menjaga warisan seni tersebut. Salah satu penyebab utama yang menyebabkan turunnya minat terhadap Angklung Serat Balandongan adalah dampak dari globalisasi, serta kurangnya dukungan dari pemerintah dan lembaga lain, yang mempengaruhi keberlanjutan kesenian Angklung Sered Balandongan dan terbatasnya dokumentasi di masa lalu. Proses revitalisasi budaya sejalan dengan pemikiran yang dinyatakan oleh Clifford Geertz dalam bab tiga, yang menjelaskan tentang upaya untuk menghidupkan kembali budaya yang mulai memudar atau terlupakan, serta bagaimana ritual dapat menghubungkan masa lalu dengan masa kini, membantu masyarakat untuk tetap terikat dengan warisan budayanya. Proses revitalisasi ini dapat dilakukan melalui pendidikan, sosialisasi, dan pertunjukan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menganalisis sejauh mana efektivitas proses revitalisasi yang telah dijalankan, pengaruhnya terhadap masyarakat, serta memberikan rekomendasi untuk pelestarian budaya yang lebih berkelanjutan di masa depan. Angklung Sered menjalani proses revitalisasi melalui seminar, workshop, dan metode pembelajaran yang menjelaskan tentang latar belakang, filosofi, serta pelatihan Angklung Seret Balandongan yang dipimpin oleh Bapak Agus. Bahkan, beberapa sekolah terlibat dalam program ekstrakurikuler di bidang Seni Budaya untuk tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, bertujuan agar pelajar dapat lebih mencintai budaya mereka sendiri dan memberikan kontribusi dalam upaya pelestarian sebagai bagian dari kearifan lokal dan warisan. Konteks keberhasilan pemulihan, proses revitalisasi melalui pendidikan di berbagai sekolah, seminar, dan lokakarya, telah membuat kesenian kembali diminati oleh masyarakat dan melestarikan kesenian Angklung Sered Balandongan.
-
ANURAGA SWARAKarya sajian dengan judul “Anuraga Swara” merupakan sajian vokal dalam kawih wanda anyar dengan tema asmara. “Anuraga Swara”, melalui judul tersebut, penyaji ingin menyampaikan romantika atau perasaan cinta yang mendalam melalui estetika vokal dalam kawih wanda anyar. Sehingga, penyaji memilih menggunakan teori Estetika dari Djelantik untuk diaplikasikan pada sajian ini, unsur-unsur estetika yang diaplikasikan yakni Keutuhan (Unity), Penonjolan (Dominance), dan Keseimbangan (Balance). Berdasarkan teori tersebut, penyaji memilih menyajikan secara konvensional dan berkolaborasi dengan musik barat sebagai pendukung musik. Materi lagu yang disajikan yaitu, Asa Cikeneh, Peuting Asih, Wuyung Gandrung dan Ngalagena, ini merupakan karya penerus Mang Koko.
-
KREATIVITAS SOFYAN TRIYANA DALAM ALBUM ROMANTIKA KELOMPOK SWARANTARAPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji kreativitas Sofyan Triyana dalam Album Romantika kelompok Swarantara. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang bertujuan untuk memahami aspek-aspek proses kreatif, inovasi karya, dan faktor pendukung yang mempengaruhi kreativitas tersebut. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sofyan Triyana mampu mengintegrasikan unsur-unsur musik tradisional Sunda, seperti karawitan, dengan genre kontemporer, pop, jazz, bosa nova, dangdut dan karakter-karakter musik yang lainya secara inovatif. Kreativitasnya dipengaruhi oleh faktor pribadi, lingkungan, dan sosial, yang memotivasi dirinya untuk berinovasi tanpa menghilangkan identitas budaya. Album Romantika yang terdiri dari sembilan lagu ini kaya akan makna dan emosi, serta menunjukkan keberanian dalam bereksperimen dengan aransemen dan penggunaan teknologi. Temuan ini menegaskan bahwa kreativitas dalam bermusik tidak hanya bersifat individual, tetapi juga dipengaruhi oleh proses kolaboratif dan faktor eksternal, yang secara bersama-sama mendukung terciptanya karya inovatif dan bermakna. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kreativitas di bidang seni musik tradisional yang relevan dengan perkembangan zaman.
-
IMPLEMENTASI INTERVAL LARAS SALÉNDRO DALAM KARAWITAN SUNDA: STUDI KASUS WADITRA KACAPI MANG AYI PANTUNPenelitian ini membahas tentang implementasi interval laras Saléndro dalam praktik karawitan Sunda, dengan fokus pada studi kasus waditra kacapi yang dimainkan oleh Mang Ayi Pantun, seorang praktisi seni pantun dari Subang. Laras saléndro secara teoretis dirumuskan oleh Raden Machyar Angga Koesoemadinata dengan pembagian interval merata sebesar 240 Cent. Namun dalam praktiknya, banyak seniman yang menggunakan intuisi dan pengalaman musikal sebagai dasar penyetelan, sehingga menghasilkan interval yang bervariasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi lapangan, wawancara mendalam, dan eksperimen penyetelan kacapi. Frekuensi nada pada kacapi yang disetel oleh Mang Ayi dianalisis dan dibandingkan dengan interval teoretis laras Saléndro rakitan 15 nada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interval yang dihasilkan oleh Mang Ayi memiliki tingkat kemiripan sebesar 84%–98% terhadap laras Saléndro teoretis. Variasi ini dipengaruhi oleh intuisi musikal, pengalaman pribadi, serta transmisi pengetahuan secara oral. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik pelarasan dalam karawitan Sunda tidak sematamata mengacu pada teori baku, melainkan merupakan hasil dari proses psikokultural yang kompleks. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang fleksibilitas sistem nada dalam musik tradisional Sunda dan pentingnya mempertimbangkan aspek budaya dalam studi etnomusikologi.
-
GAMBANG DWI SUKMA“GAMBANG DWI SUKMA” merupakan sajian tugas akhir yang berfokus pada eksplorasi dan penyajian pola tabuhan gambang dalam seni pertunjukan wayang golek, dengan mengadopsi serta mengadaptasi gaya permainan dua tokoh gambang terkemuka dari tradisi Giriharja, yaitu Arief Nugraha Rawanda dan Guna Ginanjar. Sajian ini menitikberatkan pada dua pola tabuhan utama, yakni cacagan dan carukan, yang masing-masing diangkat dari kekhasan teknik kedua tokoh tersebut. Pola tabuh cacagan yang diadaptasi dari Arief Nugraha Rawanda dikenal inovatif dan penuh variasi, sedangkan pola carukan dari Guna Ginanjar memiliki karakteristik stakato yang rapi dan harmonis. Melalui pendekatan teori garap sebagaimana dikemukakan oleh Rahayu Supanggah, penyaji mengembangkan konsep pertunjukan yang mencakup materi garap, penggarap, sarana garap, prabot garap, penentu garap, dan pertimbangan garap secara menyeluruh.
-
AQSHAL PRIOLANPenulisan skripsi ini berjudul “ASTA KALIH WIRAHMA NING WAYANG” dengan minat utama penyajian kendang dalam Wayang Golek. Tujuan dari skripsi ini adalah sebagai bukti intelektual penyaji selain bisa mereprentasikan tepak kendang dalam Wayang Golek, penyaji juga bisa membuat karya tulis ilmiah. Skripsi ini, mendeskripsikan tentang ragam tepak kendang Wayang Golek khususnya gaya Giri Harja 3 dengan konsep garap yang singkat dan padat tanpa mengurangi estetika musikal yang biasa disajikan dalam pertunjukan Wayang Golek. Landasan teori yang digunakan merupakan teori imitasi parsial yang menitik beratkan pengadopsian garap tepak kendang dalam Wayang Golek khususnya gaya Giri Harja 3 yang diselaraskan dengan kebutuhan visual serta aspek musikal yang biasa disajikan dalam pertunjukan Wayang Golek. Hasil yang diharapkan dari skripsi dan penyajian garapan ini adalah, setiap pengendang khususnya dalam kesenian Wayang Golek harus mampu memahami dan menguasai setiap aspek – aspek penting dalam pertunjukan Wayang Golek seperti, pemahaman terhadap ragam tepak pada ibingan Wayang, juga mampu mengungkap setiap karakter tokoh Wayang.
-
FENOMENA PERTUNJUKAN PUPUH RAÉHAN KARYA YUS WIRADIREDJAPenelitian ini mengkaji pupuh raéhan sebagai inovasi dalam seni pertunjukan Sunda modern yang diprakarsai oleh Yus Wiradiredja. Karya ini hadir sebagai respons atas menurunnya minat generasi muda terhadap pupuh tradisional dan sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan selera musikal di era digital. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi faktor-faktor pendorong lahirnya pupuh raéhan sebagai inovasi penyajian pupuh tradisional, dan (2) menganalisis pandangan pencipta, seniman, dan audiens terhadap pertunjukannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, teori fenomenologi sosial Alfred Schutz, dan metode analisis tematik Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuh raéhan merupakan bentuk pelestarian budaya melalui strategi penyajian kontemporer yang diterima secara cenderung positif, terutama dalam dunia pendidikan. Namun demikian, terdapat pula pandangan skeptis dari sebagian pihak, termasuk beberapa siswa yang tidak serta-merta memahami dan menerima inovasi ini, serta kekhawatiran terhadap potensi degradasi nilai simbolik pupuh tradisional. Hal ini menandakan adanya dinamika antara inovasi dan konservatisme dalam pelestarian seni. Kontribusi penelitian ini terletak pada pemahaman baru tentang strategi inovatif dalam pelestarian seni tradisi berbasis konteks sosial, serta menjadi referensi bagi seniman dan institusi pendidikan dalam mengembangkan model pembelajaran seni yang relevan dengan generasi muda.
-
TRILOKA (Penyajian Kendang dalam Topeng Cirebon, Kiliningan, dan Sisingaan)Penulisan skripsi ini berjudul “Triloka” dengan garap utama waditra kendang dalam Topeng Cirebon, Kiliningan, dan Sisingaan. Tujuan dari penulisan ini adalah membuktikan keberagaman jenis-jenis kendang yang ada di Jawa Barat. Landasan teori yang digunakan dalam penulisan ini adalah teori garap. Penulisan ini menyajikan tiga repertoar yakni Topeng Klana pada garap kendang Topeng Cirebon, lagu Goléwang naék Hayam Ngupuk pada garap kendang kiliingan, dan Sisingan Sadulur Group pada garap kendang sisingaan.
-
GULAK-GILEK LARAS DINA GELIK SULING (Penyajian Suling dalam Sekar Gending)Sajian yang berjudul ‘Gulak-Gilek Laras dina Gelik Suling’ merupakan karya seni yang menyajikan permainan suling liang salapan dalam dua genre seni yaitu tembang sunda cianjuran dan celempungan. Judul tersebut berasal dari kamus bahasa Sunda yang dimana judul tersebut memiliki arti tiap katanya, jika dirangkaikan yaitu permainan suling yang mengutamakan pengolahan laras melalui teknik penjarian dan ornamentasi. Sajian ini menggunakan pendekatan teori kreativitas yang dikemukakan oleh Conny R Semiawan dalam buku yang berjudul “Kreativitas: Sejarah, Teori dan Perkembangan” karya Nur Iswantara, dalam sajian ini teori tersebut diterapkan dalam pengolahan unsur musikal yang memodifkasi melodi-melodi lagu dari dua genre kesenian yang berbeda sehingga menghasilkan nuansa lagu yang syarat dengan penerapan berbagai laras. Dalam sajian ini laras yang digunakan terdiri dari laras saléndro, madenda dan degung. Sajian ini diharapkan bisa menjadi referensi mengenai teknik permainan suling liang salapan bagi para seniman terutama pemain suling dalam mengembangkan teknik permainan suling liang salapan yang lebih variatif dan kreatif.
-
FUNGSI KESENIAN GEMBYUNG GRUP DARSIM MUDA DALAM TRADISI HAJATAN DI KECAMATAN PAGADEN KABUPATEN SUBANGPenelitian ini berjudul Fungsi Kesenian Gembyung Grup Darsim Muda dalam Tradisi Hajatan di Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna dan peran strategis kesenian Gembyung sebagai manifestasi budaya yang hidup, dinamis, dan berakar kuat dalam struktur sosial masyarakat Sunda, khususnya dalam konteks hajatan. Gembyung bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana komunikasi simbolik, media spiritualitas, serta alat pelestarian identitas budaya lokal yang kaya dan kompleks. Grup Darsim Muda, sebagai salah satu kelompok Gembyung yang aktif dan berpengaruh di Kecamatan Pagaden, dipilih sebagai fokus kajian karena konsistensinya dalam menjaga dan mengembangkan tradisi di tengah tantangan modernisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan strategi etnografi, yang memungkinkan peneliti merekam pengalaman budaya secara holistik dan mendalam. Teknik pengumpulan data terdiri atas studi pustaka, observasi langsung dalam berbagai acara hajatan, serta wawancara mendalam dengan pelaku seni, tokoh adat, dan masyarakat setempat sebagai pemangku kepentingan budaya. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan kerangka teori fungsi musik Alan P. Merriam (1964), yang secara komprehensif mengidentifikasi fungsi-fungsi musik dalam konteks kebudayaan lintas wilayah dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenian Gembyung yang dibawakan oleh Grup Darsim Muda memiliki fungsi sosial, spiritual, edukatif, ekspresif, dan integratif yang sangat vital dalam kehidupan masyarakat Pagaden. Fungsi-fungsi tersebut menjadikan Gembyung sebagai jembatan penghubung antar generasi, memperkuat kohesi sosial, serta mempertegas dan melestarikan identitas budaya lokal. Eksistensi Grup Darsim Muda juga memperlihatkan bahwa seni tradisi bukanlah entitas statis, melainkan terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi dan nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam kajian etnomusikologi lokal dan menegaskan urgensi pelestarian seni tradisi sebagai warisan budaya takbenda yang bernilai luhur dan relevan untuk masa kini dan generasi mendatang.
-
PASIEUP PANGGUGAH RASA (Penyajian Kacapi dalam Tembang Sunda Cianjuran)“Pasieup Panggugah Rasa” merupakan judul sajian Tugas Akhir terhadap penyajian kacapi dalam Tembang Sunda Cianjuran. Makna yang terkandung dalam judul karya “Pasieup” merupakan pola tabuh instrumen kacapi indung, “Panggugah Rasa” merupakan arti dari kata menumbuhkan rasa. Artinya bahwa teknik permainan instrumen kacapi indung dapat menumbuhkan rasa terhadap pemain kacapi indung. Sajian yang berjudul “Pasieup Panggugah Rasa” merupakan judul sajian yang didalamnya terdapat konsep garap secara konvensional, yang didampingi dengan rawayan gending disusun secara terstruktur dimulai dengan Teknik landangan instrumen suling disajikan pada sajian pertama sebelum lagu dan termasuk kepada bubuka. Lagu yang dibawakan terdapat 3 laras yaitu laras degung, laras laras madenda, dan laras mandalungan. Adapun teori yang digunakan pada sajian kacapi dalam Tembang Sunda Cianjuran adalah teori dari Dr. Heri Herdini, M. Hum. Teori yang dikemukakan oleh beliau adalah teori komunikasi Non-Verbal bawasanya komunikasi Non-Verbal adalah “kacapi indung dalam Tembang Sunda Cianjuran sebagai induk pengiring jalannya sajian Tembang Sunda Cianjuran, dan merupakan patokan terhadap garap dari instrumen yang ada di dalam kesenian Tembang Sunda Cianjuran.” Hal tersebut mengartikan bahwa instrumen kacapi indung merupakan instrumen pokok yang dianalogikan sebagai induk dari sajian Tembang Sunda Cianjuran dan pemberi aba aba untuk penembang.
-
REALITAS DAYA TAFSIR KOMUNITAS KAIBUTSU TERHADAP PENGGAMBARAN HETERONORMATIVITAS DALAM FILM MONSTER KARYA HIROKAZU-KOREEDAPenelitian ini menganalisa pembingkaian norma gender dalam film Jepang berjudul Monster. Heteronormativitas sebagai konstruksi sosial sering kali direpresentasikan dalam film melalui narasi, karakter, dan konflik yang mengutamakan relasi heteroseksual sebagai norma utama. Monster adalah film yang menggambarkan kehidupan dua anak laki-laki, Minato Mugino dan Yori Hoshikawa, yang menghadapi kesulitan akibat tekanan heteronormativitas dari lingkungan mereka. Film ini memperlihatkan bentuk diskriminasi, kecurigaan, dan homofobia yang dihadapi keduanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi pembingkaian heteronormativitas dalam film serta memahami bagaimana audiens dari Komunitas Kaibutsu merespons pembingkaian tersebut. Analisis menggunakan teori analisis framing Murray Edelman. Data dikumpulkan melalui Google Form dan wawancara online serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Kaibutsu menafsirkan bahwa film Monster membingkaikan heteronormativitas yang berperan membentuk ekspektasi dan perilaku gender, tetapi juga menimbulkan tekanan sosial dan psikologis, terutama bagi individu yang menyimpang dari norma tersebut.
-
PERAN KOMUNITAS SKATEBOARD STREETWEAR DALAM INDUSTRI CLOTHING DI KOTA BANDUNG (Studi Pada Clothing UNKL347)Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pola budaya streetwear dalam perkembangan industri clothing, peran komunitas dalam membentuk dan menyebarluaskan budaya streetwear dan faktorfaktor yang mempengaruhi pertumbuhan budaya streetwear di Kota Bandung. Lokus penelitian dilakukan di Kota Bandung. Populasi penelitian ini adalah pelaku industri industri clothing dan komunitas streetwear yang terlibat secara lansung. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara dan studi pustaka. Partisipan penelitian adalah pendiri clothing UNKL347 dan Skateboarder. Berdasarkan hasil penelitian bahwa peran komunitas skateboard streetwear dalam industri clothing di Kota Bandung (studi pada clothing UNKL347) terdapat beberapa aspek utama. Aspek karakteristik pola budaya streetwear mencakup 1) pengaruh subkultur; 2) desain kasual dan eksklusivitas; dan 3) kolaborasi. Aspek peran komunitas mencakup 1) pembentuk kolaborasi kreatif; 2) pendorong brand lokal; dan 3) pembentuk identitas kolektif. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan budaya streetwear di Kota Bandung mencakup beberapa faktor pendukung diantaranya: 1) budaya kreatif lokal; 2) platform digital; 3) industri clothing; dan 4) event dan festival.
-
REPRESENTASI NILAI SINKRETISME DALAM PRAKTIK KEHIDUPAN DI NEGERI PELAUW KABUPATEN MALUKU TENGAHPenelitian ini membahas tentang representasi nilai sinkretisme dalam praktik kehidupan masyarakat di Negeri Pelauw, Kabupaten Maluku Tengah. Negeri Pelauw merupakan salah satu komunitas adat Islam di Pulau Haruku yang mempertahankan tradisi leluhur sambil mempraktikkan ajaran Islam secara bersamaan. Sinkretisme dalam konteks ini merujuk pada perpaduan nilai-nilai adat dan agama yang melebur secara harmonis dalam kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai sinkretisme tercermin dalam berbagai praktik kehidupan, antara lain ritual Ma’atenu, pelantikan raja dan kabaresi, ritual sasi, gotong royong (masohi), serta penggunaan pakaian dan simbol keagamaan. Sinkretisme ini terbentuk melalui tiga faktor utama: sejarah dan warisan budaya, peran tokoh adat dan agama, serta struktur sosial yang inklusif. Masyarakat Negeri Pelauw tidak memisahkan adat dari agama, melainkan memandang keduanya sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Ajaran Islam memberikan legitimasi spiritual atas praktik-praktik adat, sementara adat memperkuat identitas lokal dan solidaritas sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa sinkretisme bukan sekadar kompromi budaya, melainkan bentuk keberagamaan yang kontekstual dan berakar kuat pada nilai-nilai kearifan lokal.
-
PERAN PEREMPUAN PENGANYAM TOPI BAMBU TERHADAP PEMENUHAN EKONOMI RUMAH TANGGA DI DESA ANCOL PASIR KABUPATEN TANGERANGRealitas sosial kelompok masyarakat di pedesaan dihadapkan pada tantangan ekonomi akibat keterbatasan akses pekerjaan formal, rendahnya pendidikan, serta minimnya keterampilan produktif. Dalam kondisi di Desa Ancol Pasir, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, perempuan mengambil peran strategis sebagai agen ekonomi keluarga melalui kegiatan menganyam topi bambu yang merupakan keterampilan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana peran sosial perempuan terbentuk melalui proses interaksi sosial, kontribusi ekonomi mereka berdampak pada keberlangsungan rumah tangga, serta aspek gender dan pemberdayaan perempuan pada pekerjaan menganyam topi bambu. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi lapangan, dan studi literatur. Informan terdiri dari perempuan penganyam, pengrajin, ketua komunitas, dan pihak pemerintah daerah. Teori yang digunakan adalah teori pembentukan peran dari George Herbert Mead yang menekankan tahapan pembentukan peran melalui pengalaman sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran perempuan sebagai penganyam sudah terbentuk sejak dini melalui proses sosial dari Ibu dan menjadi bagian dari struktur sosial kelompok penganyam. Aktivitas menganyam, cenderung dikategorikan sebagai pekerjaan sampingan karena segi penghasilan yang relatif rendah. Namun, bagi perempuan di pedesaan dengan tingkat pendidikan yang rendah dan keterampilan yang terbatas, pekerjaan ini menjadi satu-satunya pilihan untuk menopang ekonomi rumah tangga. Analisis gender pada pekerjaan ini menggambarkan adanya ketimpangan gender dalam pembagian kerja, akses, dan upah. Hal ini mencerminkan relasi kuasa yang tidak seimbang dalam rantai produksi. Meski demikian, pekerjaan ini membuka ruang pemberdayaan perempuan dalam skala lokal. Diperlukan kebijakan afirmatif berbasis gender untuk memperkuat posisi, peran, dan kapasitas perempuan dalam struktur ekonomi lokal.
-
FESYEN AMERICAN 80’S STYLE DI KOMUNITAS GANIATI UPI BANDUNG SEBAGAI PEMBENTUK IDENTITAS DIRIPenelitian ini membahas bagaimana pengaruh fesyen American 80’s style terhadap dinamika kehidupan anggota komunitas Ganiati UPI Bandung dalam aktivitas sehari-hari dan apa makna serta nilai yang terkandung dalam penggunaan fesyen American 80’s style dikalangan anggota komunitas Ganiati UPI Bandung dalam pembentukan identitas diri. Proses pembentukan identitas diri melalui fesyen American 80’s style di komunitas Ganiati UPI Bandung dianalisis menggunakan teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan pengaruh, makna dan nilai fesyen American 80’s style terhadap dinamika kehidupan anggota komunitas Ganiati UPI Bandung dalam aktivitas sehari-hari. Penelitian ini memberikan manfaat untuk pengembangan ilmu Antropologi Budaya mengenai hubungan fesyen internasional dalam penggunaannya di kalangan masyarakat lokal dan pembentukan identitas diri melalui fesyen dalam anggota komunitas tertentu. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data studi literatur, observasi partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fesyen American 80’s style digunakan anggota komunitas Ganiati sebagai bagian dari pembentukan identitas diri. Pilihan gaya dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, lingkungan komunitas, serta nilai dan kesadaran yang dimiliki masing-masing individu. Fesyen tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetika tetapi juga mencerminkan sikap, prinsip dan posisi mereka dalam lingkungan sosial.
-
PERSEPSI PENGUNJUNG MENGENAI FENOMENA SELFIE DI MASJID RAYA AL-JABBAR KOTA BANDUNGPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pengunjung terhadap fenomena selfie yang dilakukan di lingkungan Masjid Raya Al-Jabbar, Kota Bandung. Selfie sebagai bagian dari budaya digital telah merambah berbagai ruang publik, termasuk ruang ibadah, sehingga menimbulkan respons sosial yang beragam. Masjid Raya Al-Jabbar dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki daya tarik arsitektural yang tinggi dan menjadi salah satu destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori persepsi yang dilengkapi dengan teori atribusi sosial, yang membantu menjelaskan bagaimana pengunjung membentuk pandangan dan penilaian terhadap aktivitas selfie di lingkungan masjid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pengunjung terhadap fenomena selfie di Masjid Raya Al-Jabbar terbagi menjadi tiga kategori: positif, netral, dan negatif. Persepsi positif umumnya dilandasi oleh anggapan bahwa selfie merupakan bentuk ekspresi kekaguman terhadap kemegahan masjid dan sebagai sarana dokumentasi pribadi. Sementara itu, persepsi negatif muncul dari pandangan bahwa selfie mengganggu kekhusyukan beribadah dan tidak sesuai dengan norma kesopanan di tempat suci.
-
JARINGAN SOSIAL PEDAGANG BAKSO PATROL DI KOTA BANDUNGPenelitian ini dilakukan untuk meneliti jaringan sosial pedagang bakso patrol di Kota Bandung serta menjelaskan aktor-aktor dan proses pembentukan jaringan sosial. Penelitian ini melibatkan manfaat dan relevansi dengan menggali potensi sistem sosial pedagang bakso patrol yang berasal dari Ciamis, Sumedang, dan Tasikmalaya dalam membangun keberlangsungan usaha mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah metodologi kualitatif dengan pendekatan etnografi yang menggunakan teori Jaringan Sosial Mark Granovetter. Populasi penelitian meliputi pedagang bakso patrol di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan sosial pedagang bakso patrol terdiri atas empat bentuk jaringan. Pertama, jaringan sosial paguyuban yang bersifat informal dan dilandasi kepentingan, dengan titik awal dari juragan HN yang merekrut pekerja berdasarkan kepercayaan dan kesamaan daerah asal. Kedua, jaringan sosial kesamaan daerah asal dari Dusun Bitungsari dan Samarang (Ciamis), Rancakalong (Sumedang), dan Singaparna (Tasikmalaya). Ketiga, jaringan sosial perkawinan dan kekerabatan dengan ikatan emosional yang lebih kuat. Keempat, jaringan sosial pertemanan melalui interaksi sehari-hari dengan bentuk expressive emotional friendship dan instrumental friendship. Proses pembentukan terjadi melalui transformasi ikatan lemah menjadi ikatan kuat, pembentukan norma vertikal dan horizontal, keterlekatan relasional melalui interaksi harian, serta kepercayaan askriptif dan prosesual yang mendorong solidaritas antarpedagang. Simpulan dari penelitian ini adalah jaringan sosial pedagang bakso patrol di Kota Bandung tidak hanya berorientasi pada aktivitas ekonomi semata, tetapi juga membangun sistem sosial yang mendukung keberlangsungan usaha. Jaringan didasari oleh ikatan kuat dan ikatan lemah yang terbentuk melalui interaksi sehari-hari. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat menjadi bentuk pertimbangan dalam memahami dinamika hubungan sosial, budaya dan ekonomi pedagang yang berkembang di kawasan perkotaan.
-
PERSEPSI PENGUNJUNG DAN PENGELOLA MUSEUM TERHADAP REVITALISASI TAMAN MUSEUM GEDUNG JUANG 45 DI KABUPATEN BEKASIMuseum Gedung Juang 45 Bekasi merupakan bangunan cagar budaya bersejarah yang terletak di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, yang berfungsi sebagai pusat edukasi sejarah perjuangan rakyat Bekasi serta pelestarian identitas budaya lokal. Penelitian ini membahas persepsi pengunjung dan pengelola terhadap revitalisasi Museum Gedung Juang 45 Bekasi sebagai upaya pelestarian cagar budaya sekaligus peningkatan fungsi edukasi dan rekreasi. Revitalisasi mencakup alih fungsi museum menjadi berbasis digital serta penataan ulang kawasan taman agar lebih menarik bagi masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan revitalisasi memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan jumlah kunjungan, khususnya dari kalangan pelajar dan generasi muda. Selain itu, revitalisasi berhasil menciptakan museum yang lebih interaktif, tidak hanya sebagai tempat menyimpan benda sejarah, tetapi juga menjadi ruang publik yang edukatif dan rekreatif. Persepsi positif dari pengelola dan pengunjung menunjukkan bahwa revitalisasi mampu mengembalikan fungsi museum sebagai media pembelajaran sejarah sekaligus tempat hiburan masyarakat Bekasi.
