Items
-
ANALISIS WACANA KRITIS ATAS POLEMIK LIRIK “SOS” LAGU SEVENTEEN DI MEDIA SOSIAL XLagu “SOS” merupakan lagu berbahasa Inggris kedua Seventeen setelah merilis Darl+ing di tahun 2022. Lagu ini diproduseri oleh Woozi dan Bumzu dengan berkolaborasi bersama DJ Marshmello. Munculnya lagu SOS ini menimbulkan polemik di antara sesama penggemar Seventeen di media sosial khususnya aplikasi X yang berada di Indonesia, Awal mulanya ada yang beranggapan bahwa penggalan lirik lagu “SOS” ada yang berkaitan dengan fenomena kondisi perang di Palestina namun sebagian penggemar Seventeen yang lain beranggapan bahwa lagu ini sama sekali tidak ada keterkaitannya dengan kondisi di Palestina karena lagu ini menggambarkan seseorang yang melawan penyakit mental. Teori yang digunakan untuk mengkaji permasalahan yang ada pada penelitian ini adalah teori analisis wacana kritis norman fairclough. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, pendekatan yang bertujuan untuk memahami fenomena atau permasalahan dalam konteks yang mendalam dan menyeluruh. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki pengalaman emosional, sosial, dan budaya yang unik, sehingga memengaruhi cara mereka memahami pesan dalam lagu tersebut.
-
RESIPROSITAS KALANGAN PERANTAU ASAL NAGARI LIMAU LUNGGO DI JAKARTA TIMUR: (STUDI PADA FORUM KELUARGA BESAR LIMAU LUNGGO (FKBL) PERANTAUAN)Penelitian ini membahas mengenai apa dan bagaimana bentuk-bentuk resiprositas yang terjadi di dalam kelompok sosial Forum Keluarga Besar Limau Lunggo (FKBL), yang sebagian besar anggotanya berprofesi sebagai pelaku usaha kaos kaki sebagai bentuk dukungan ikatan solidaritas kelompok dan kesejahteraan ekonomi kelompok perantau asal Nagari Limau Lunggo di Jakarta Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang menggunakan teori Resiprositas Marshall Sahlins, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi pengamatan, wawancara, dokumentasi, serta validasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk resiprositas yang terjadi pada kalangan perantau kelompok sosial Forum Keluarga Besar Limau Lunggo (FKBL) di Jakarta Timur terbagi dalam dua kategori utama, yaitu resiprositas sebanding (balanced reciprocity) dan resiprositas umum (generalized reciprocity). Resiprositas sebanding tercermin dalam hubungan ekonomi antara pedagang eceran dengan pemilik grosir kaos kaki yang ditandai dengan adanya transfer pengetahuan dan keterampilan usaha, penyaluran informasi strategis pasar, serta pemberian hutang barang tanpa batas waktu pengembalian yang ketat. Sementara itu, resiprositas umum terlihat dalam praktik pemberian tempat tinggal kepada perantau baru, sistem santunan kematian dan sakit, serta dukungan moral dan emosional yang diberikan tanpa ekspektasi pengembalian langsung atau setara.
-
VOLUNTERISME DI KALANGAN MAHASISWA: STUDI PADA SEKOLAH BUDAYA ADHIKARI KOTA BANDUNGPenelitian ini membahas fenomena volunterisme di kalangan mahasiswa melalui studi pada Sekolah Budaya Adhikari (SBA) di Kota Bandung. Bertujuan untuk memahami motivasi utama mahasiswa dalam keterlibatannya sebagai volunter serta faktor-faktor yang mendorong keberlanjutan maupun berakhirnya keterlibatan mereka. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap volunter yang telah aktif selama1,5 tahun sampai 3 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan mahasiswa sebagai volunter didorong oleh motivasi yang berakar dari lima tingkat kebutuhan Maslow, mulai dari kebutuhan fisiologis hingga aktualisasi diri. Faktor-faktor yang mendorong keberlanjutan dan berakhirnya keterlibatan volunter di Sekolah Budaya Adhikari selama 1,5 sampai 3 tahun yaitu: 1) lingkungan sosial yang hangat dan suportif, 2) dukungan teman dan keterikatan emosional, 3) pengembangan diri dan aktualisasi potensi melalui keterlibatan di SBA, Sementara itu, faktor yang menyebabkan volunter memilih untuk mengurangi keterlibatan atau berhenti dari SBA, yaitu: 1) ketidakmerataan dalam apresiasi, 2)masalah jarak dan biaya, 3) hilangnya dukungan sosial internal.
-
INTERNALISASI METODE HORENSOU DALAM HIMPUNAN MAHASISWA BAHASA JEPANG UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIAPenelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk memahami bagaimana mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menginternalisasi dan menerapkan metode Horensou yang terdiri dari tiga prinsip utama: Houkoku (melapor), Renraku (menghubungi), dan Soudan (berdiskusi). Fokus penelitian diarahkan pada ruang nonformal, yaitu organisasi kemahasiswaan HIMABAJA, sebagai kanal sosial tempat nilai-nilai budaya kerja Jepang diperkenalkan dan dihidupkan secara kolektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif pasif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teori internalisasi dari John F. Scott yang mencakup tiga tahap: idea (pengenalan nilai), concept (pemahaman nilai), dan activities (penerapan dalam tindakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi Horensou dalam HIMABAJA tidak berlangsung melalui regulasi formal, melainkan berkembang secara organik melalui praktik sosial dan pengalaman kolektif dalam organisasi. Mahasiswa menerapkan Horensou dalam berbagai kegiatan seperti koordinasi program kerja, laporan kegiatan, serta diskusi internal. Ketua HIMABAJA berperan sebagai aktor kunci dalam memperkuat nilai ini, baik secara struktural maupun kultural. Penerapan Horensou berdampak pada terbentuknya budaya organisasi yang komunikatif, bertanggung jawab, dan kolaboratif. Dengan demikian, Horensou tidak hanya menjadi konsep budaya kerja Jepang, tetapi telah menjadi nilai internal yang membentuk karakter dan etos kerja mahasiswa HIMABAJA.
-
PENGGUNAAN MUSIK BINAURAL SEBAGAI MEDIA MEDITASIPenelitian ini mengkaji pemanfaatan musik binaural sebagai media dalam praktik meditasi dari sudut pandang antropologi budaya. Musik binaural merupakan teknologi suara yang menghasilkan frekuensi ilusi di otak melalui perbedaan nada pada masing-masing telinga, yang diyakini mampu menstimulasi ketenangan dan kesadaran diri. Dengan pendekatan kualitatif etnografi, penelitian ini berfokus pada pengalaman personal penulis dan sesi observasi di Sanggar Meditasi 7 Kerikil, Kabupaten Bandung. Tujuan utama dari penelitian ini adalah memahami bagaimana musik binaural digunakan dalam proses meditatif serta menelaah fungsinya melalui teori fungsi musik Alan P. Merriam. Temuan menunjukkan bahwa penggunaan musik binaural dalam meditasi tidak hanya berperan sebagai musik pengiring saja, tetapi juga berpotensi untuk pelepasan emosi, pembentukan ruang refleksi, serta integrasi spiritual dalam praktik kontemporer. Dalam konteks budaya digital, musik binaural menawarkan cara baru yang fleksibel dan relevan bagi masyarakat modern dalam mengeksplorasi meditasi.
-
STRATEGI MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI PUSAT OLAH SENI TARI SETIALUYU BANDUNGPenelitian ini menjelaskan tantangan dalam mempertahankan eksistensi salah satu sanggar seni tari kreasi Sunda di era globalasasi serta peran kunci dalam memelihara identitas budaya pada generasi selanjutnya yang bertujuan untuk menguraikan bentuk adaptasi budaya dalam berbagai aspek seperti tahapan dan strategi dalam mempertahankan eksistensi serta pengaruhnya keberadaan sanggar Pusat Olah Seni Tari Setialuyu Bandung terhadap pelestarian jagat tari Sunda di era globalasasi. Teori yang digunakan adalah Teori Adaptasi Budaya dari Kim Young Yun. Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, akan menghasilkan data deskriptif dari narasumber utama dan beberapa narasumber sekunder lainnya yang akan dituangkan dalam bentuk laporan dan uraian. Hasil penelitian menunjukan berbagai pernyataan dari narasumber dan berbagai strategi yang diterapkan mencakup inovasi dalam bentuk pertunjukan, kolaborasi dengan institusi pendidikan dan komunitas seni, pemanfaatan media sosial untuk promosi dan pengelolaan dalam segi internal dan eksternal serta dalam menghadapi dinamika zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang menjadi identitasnya.
-
INTERAKSI SOSIAL ANTARA BARISTA DAN PELANGGAN SEBAGAI BENTUK HOSPITALITY DI KEDAI KOPI NIRBANA SAESTU KOTA BEKASIPenelitian ini membahas tentang Interaksi Sosial sebagai bentuk Hospitality yang dilakukan oleh Barista kepada pelanggan di kedai kopi Nirbana Saestu Kota Bekasi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apa faktor Interaksi yang terdapat antara Barista dan pelanggan, serta bagaimana interaksi tersebut dapat menjadi sebuah bentuk pelayanan Hospitality dengan menjabarkan beberapa karakteristiknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, setidaknya terdapat Identifikasi, dan Simpati yang menjadi faktor sebuah interaksi sosial antara Barista dan pelanggan. Sementara Intangibility, Immovability, Simultaneity, dan Heterogeneity merupakan karakteristik Hospitality yang sangat dominan dalam Interaksi tersebut.
-
PEWARISAN BUDAYA DAN STRATEGI MASYARAKAT KAMPUNG DUKUH DI KABUPATEN GARUT DALAM MENJAGA KEBERLANJUTAN RUMAH ADAT SUNDAPenelitian ini bertujuan untuk memahami proses pewarisan budaya yang dilakukan masyarakat Kampung Dukuh dalam membangun rumah adat Sunda serta mengidentifikasi strategi pelestarian yang diterapkan di tengah tantangan modernisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, menggali data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap kehidupan masyarakat di Kampung Dukuh, khususnya di wilayah Dukuh Dalam yang masih memegang teguh aturan adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pewarisan budaya dalam pembangunan rumah adat Sunda dilakukan melalui proses internalisasi, enkulturasi, dan sosialisasi. Nilai-nilai seperti kesederhanaan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap leluhur diwariskan sejak dini dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Strategi pelestarian dilakukan dengan mempertahankan bentuk rumah panggung tradisional, penggunaan bahan alami, serta pelaksanaan ritual adat yang menyertai proses pembangunan rumah adat Sunda. Peran tokoh adat, praktik gotong royong, dan kesadaran masyarakat Kampung Dukuh dalam menjaga warisan budaya menjadi elemen dalam menjaga keberlangsungan tersebut. Selain itu, dukungan pemerintah melalui program Sekolah Lapang Kearifan Lokal (SLKL) turut memperkuat upaya pelestarian.
-
UPAYA PELESTARIAN RITUAL NGAHUMA DALAM TRADISI MENANAM PADI HUMA DI KAMPUNG SUKAPURA, DESA MALANGNENGAH, KECAMATAN CIBITUNG, KABUPATEN PANDEGLANGPenelitian ini mengkaji keberlanjutan Ritual Ngahuma, sebuah praktik tradisional penanaman padi huma yang masih dijalankan oleh keluarga Abah Kalimi di Kampung Sukapura, Desa Malangnengah, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Pandeglang. Ritual ini tidak hanya merepresentasikan aktivitas pertanian lokal, namun juga sarat dengan makna budaya, nilai spiritual, dan kearifan ekologis yang diwariskan antar generasi. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif berbasis studi lapangan dengan teknik observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Fokus utama penelitian ini adalah untuk menggambarkan urutan prosesi Ritual Ngahuma, mengidentifikasi nilai-nilai budaya yang dikandungnya, serta memahami motivasi dan strategi keluarga Abah Kalimi dalam mempertahankan praktik tersebut. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terdapat 13 tahapan dalam Ritual Ngahuma, yang mencerminkan keharmonisan antara manusia, alam, dan aspek spiritual, dengan simbol utama berupa figur Nyi Sri sebagai lambang kesuburan. Keberlangsungan ritual ini dijaga sebagai bentuk penghormatan terhadap amanat leluhur dan dijadikan pedoman etis dalam menjalani kehidupan. Strategi pelestarian dilakukan melalui pewarisan nilai-nilai di lingkungan keluarga serta komunitas petani lokal, meskipun terdapat tantangan seperti anggapan bahwa ritual tersebut usang, bertentangan dengan ajaran agama, dan minimnya ketertarikan generasi muda terhadap dunia pertanian. Studi ini menekankan pentingnya Ritual Ngahuma sebagai bagian dari warisan budaya takbenda yang berperan dalam memperkuat identitas lokal dan mendukung keberlanjutan ekologi dan sosial masyarakat agraris. Pelestarian ritual ini memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak agar tetap eksis di tengah arus perubahan zaman.
-
PERKAWINAN ANAK DI DESA CIPTAHARJA KECAMATAN CIPATAT KABUPATEN BANDUNG BARAT: LIFE HISTORY DAN NARRATIVE PERSONAL PADA LIMA PEREMPUAN MENIKAH USIA ANAKPenelitian ini membahas mengenai fenomena perkawinan anak di Desa Ciptaharja yang masih berlangsung hingga saat ini. Perkawinan anak menjadi isu penting karena berdampak pada kehidupan remaja perempuan, terutama dalam hal pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman perempuan yang melakukan perkawinan anak, faktor penyebab perkawinan anak, dan dampak yang terjadi dalam menjalani perkawinan anak. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, teknik pengumpulan yang dilakukan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan utama dalam penelitian ini adalah lima perempuan yang melakukan perkawinan anak, serta beberapa informan tambahan seperti penghulu, staf desa, bidan desa, orang tua dalam konteks masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena perkawinan anak dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kondisi dorongan orang tua, norma agama, norma budaya, dan pergaulan bebas. Selain itu, terdapat dinamika dalam menjalani kehidupan rumah tangga yang mereka alami termasuk persoalan kesehatan, beban ganda, keterbatasan akses pekerjaan. Penelitian ini juga menemukan bahwa sebagian informan mengalami tekanan psikologis akibat transisi peran yang terlalu cepat dari anak menjadi istri dan ibu. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dalam memahami realita dari praktik perkawinan anak, serta menjadi bahan pertimbangan dalam memutuskan melakukan perkawinan anak, dan upaya intervensi sosial.
-
FENOMENA LIMINALITAS MASYARAKAT PADA RITUAL LARUNG DI JATIGEDE KABUPATEN SUMEDANGPenelitian ini mengkaji fenomena liminalitas yang dialami oleh masyarakat Jatigede, Kabupaten Sumedang, melalui ritual Larung yang muncul sebagai respons budaya terhadap perubahan sosial dan lingkungan besar akibat pembangunan Waduk Jatigede. Waduk yang dikategorikan sebagai proyek strategis nasional ini menyebabkan terendamnya puluhan desa, lahan pertanian, makam leluhur, dan ruang hidup masyarakat adat, sehingga memaksa ribuan penduduk untuk berpindah dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Ritual Larung yang awalnya hanya dimaknai sebagai bentuk mengenang, kini berkembang menjadi ruang budaya simbolik yang mencerminkan usaha masyarakat dalam menjaga memori kolektif, merekonstruksi identitas, dan melanjutkan keberlangsungan budaya di tengah keterputusan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi literatur. Data diperoleh dari tokoh adat, warga terdampak, seniman, akademisi, dan perwakilan pemerintah daerah. Analisis menggunakan teori liminalitas dari Victor Turner yang membagi proses perubahan menjadi tiga tahap utama: separation, liminality, dan incorporation. Ketiga tahapan ini menunjukkan dimensi transisi dan transformasi yang dialami masyarakat Jatigede. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap separation, masyarakat mengalami keterputusan dari tanah kelahiran dan akar budayanya, disertai rasa kehilangan dan keterasingan. Tahap liminality menjadi fase yang paling kompleks, di mana masyarakat berada dalam kondisi “mengambang” antara kehilangan dan harapan. Di fase ini, ritual Larung menjadi media penting untuk mengolah trauma, mempererat solidaritas, dan merawat hubungan spiritual melalui prosesi ziarah, sesajen, tarian Umbul, pelarungan, dan diskusi budaya. Pada tahap incorporation, masyarakat mulai menerima keadaan baru dan menjadikan ritual Larung sebagai sarana penyembuhan, penguatan identitas, dan pelestarian budaya secara kolektif. Dengan demikian, ritual Larung Jatigede bukan sekadar upacara adat, melainkan wujud nyata dari liminalitas budaya masyarakat yang menghadapi transformasi besar. Larung menjadi ruang reflektif atas pengalaman kehilangan dan harapan, sekaligus menjadi strategi budaya untuk bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan.
-
KONSUMERISME MELALUI MEDIA E-COMMERCE PADA KALANGAN GENERASI Z DI KOMPLEKS GRIYA BANDUNG ASRI II BANDUNGHadirnya e-commerce atau platform belanja digital memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk dapat berbelanja kebutuhannya tanpa dibatasi waktu dan tempat. Namun, di sisi lain, hal ini telah mendorong terjadinya perilaku konsumtif, khususnya di kalangan Generasi Z yang memiliki keterikatan kuat dengan teknologi atau sering disebut sebagai digital native. Penelitian ini mengkaji fenomena konsumerisme digital yang terjadi pada kalangan Generasi Z di Kompleks Griya Bandung Asri II, Kabupaten Bandung, dengan menggunakan kerangka teori Liquid Consumerism dari Bauman (2000). Fokus utama penelitian adalah bagaimana perilaku konsumtif melalui platform e-commerce membentuk identitas, gaya hidup, serta memengaruhi kesejahteraan individu dan keluarga. Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan material, tetapi juga sebagai sarana ekspresi diri dan komunikasi sosial yang terus berubah sesuai dinamika masyarakat yang bersifat cair. E-commerce berperan sebagai ruang sosial dan rekreasional yang mendorong perilaku konsumtif, yang berujung pada pengeluaran impulsif dan tekanan ekonomi, terutama bagi mereka yang masih bergantung pada pendapatan keluarga. Fenomena ini mencerminkan orientasi konsumsi jangka pendek yang menjadi ciri khas masyarakat konsumen cair, serta tantangan dalam mengelola keuangan pribadi dan keluarga.
-
SIMBOL DAN MAKNA ZIARAH BAGI PENGUNJUNG DI MAKAM SUNAN GUNUNG JATI DESA ASTANA KECAMATAN GUNUNGJATI KABUPATEN CIREBONTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui simbol dan makna ziarah bagi para pengunjung di makam Sunan Gunung Jati Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang dianalisis berdasarkan teori interpretatif simbolik dari Clifford Geertz. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam tradisi ziarah terdapat tahapan-tahapan yang dilakukan oleh para pengunjung. Tahapan-tahapan tersebut dilakukan karena pengunjung merasa harus menjaga adab ketika datang ke makam Sunan Gunung Jati. Selain itu, dalam tradisi ziarah ini terdapat simbol-simbol, baik itu simbol fisik merupakan simbol yang dapat diraba dan dilihat seperti arsitektur, barang-barang peninggalan dan sebagainya, dan simbol verbal merupakan simbol melalui ucapan seperti doa-doa. Selain itu, tradisi ziarah dimaknai sebagai sebuah harapan yang dititipkan kepada wali atau orang yang dekat dengan Allah swt dan harapan meminta barokah.
-
BENTUK DAN MAKNA PADA TRADISI MAPAG MENAK DI DESA NAGRAK KECAMATAN PACET KABUPATEN BANDUNGPenelitian ini membahas struktur dan makna simbolik dalam tradisi Mapag Menak yang berkembang di Desa Nagrak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Sebagai bagian dari budaya Sunda, Mapag Menak merupakan ritual penyambutan tamu kehormatan yang disajikan melalui arak-arakan budaya, pertunjukan dodombaan dan badawang, pencak silat, musik tradisional, serta sajian makanan khas hasil bumi lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, serta mengacu pada teori interpretasi simbol dari Clifford Geertz, Victor Turner, dan Arnold van Gennep. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Mapag Menak sarat dengan simbol budaya. Dodombaan mencerminkan penghormatan dan keramahtamahan, badawang mewakili semangat kolektif dan sukacita masyarakat, sementara sajian makanan mencerminkan rasa syukur dan kearifan lokal. Seluruh tahapan pelaksanaan mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga refleksi pasca acara—mengandung nilai-nilai kebersamaan, penghormatan terhadap tamu, serta pelestarian tradisi. Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa Mapag Menak bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan tradisi yang hidup dan terus diwariskan, yang memperkuat jalinan sosial dan identitas budaya masyarakat. Upaya pelestarian melalui pendidikan, dokumentasi, serta keterlibatan aktif masyarakat sangat diperlukan agar tradisi ini tetap relevan di tengah perubahan zaman.
-
KESENIAN SASAPIAN SEBAGAI IKON KABUPATEN BANDUNG BARATPenelitian ini berfokus pada pertanyaan penelitian mengenai bagaimana proses materi kesenian sasapian diubah menjadi ikon daerah dan bagaimana ikon kesenian sasapian ini dapat menunjang branding pariwisata daerah. Proses ikonisasi kesenian sasapian dianalisis menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan bagaimana proses ikonisasai kesenian sasapian dan menawarkan model city branding untuk pembentukan branding pariwisata daerah Kabupaten Bandung Barat yang diwakili oleh kesenian sasapian. Manfaat teoritisnya dapat menjadi bahan rujukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan antropologi, terutama yang berhubungan dengan pendekatan semiotika. Manfaat praktisnya memberikan masukan kepada pemangku kebijakan, terutama pemerintah Kabupaten Bandung Barat dalam pengembangan kesenian sasapian. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumen. Hasil penelitian menunjukan bahwa mitos yang berkembang mengenai kesenian sasapian di media pemberitaan dan platform digital adalah kesenian sasapian sebagai ikon daerah. Selain itu, kesenian sasapian dapat menunjang branding pariwisata daerah berdasarkan analisis city branding.
-
PERAN KEAGENAN PADA PERUBAHAN TRADISI SEDEKAH BUMI DI KAMPUNG SAWAH KOTA BEKASI AKIBAT URBANISASIPenelitian ini membahas perubahan tradisi sedekah bumi di Kampung Sawah, Kota Bekasi akibat urbanisasi serta peran aktif agen budaya dalam mempertahankan dan menyesuaikannya. Dulu, tradisi sedekah bumi lekat dengan kehidupan agraris, namun kini mengalami perubahan yang signifikan akibat konversi lahan pertanian menjadi permukiman. Agen utama yang berperan dalam tradisi sedekah bumi adalah Jemaat Gereja Katolik Santo Servatius yang melakukan inkulturasi budaya lokal dalam tradisi gereja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teori strukturasi dari Anthony Giddens guna menganalisis interaksi antara agen dan struktur sosial dalam membentuk ulang tradisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun bentuk tradisi mengalami perubahan serta penyesuaian, namun makna spiritual dan sosial yang ada di dalamnya tetap terjaga. Jemaat Gereja Katolik berperan sebagai agen perubahan yang menghasilkan struktur tradisi melalui tindakan sosial, seperti pelibatan komunitas lintas agama, serta penyelenggaraan tahapan acara yang lebih terbuka dan modern. Tradisi Sedekah Bumi di Kampung Sawah menjadi media pelestarian identitas, solidaritas sosial, dan toleransi masyarakat. Urbanisasi tidak bersifat destruktif terhadap tradisi, melainkan berperan dalam pembentukan kembali makna dan praktik budaya yang relevan dengan zaman.
-
AKSI KOLEKTIF DALAM MEMBENTUK IDENTITAS BERSAMA PADA KOMUNITAS PENGGEMAR KLUB SEPAK BOLA CHELSEA DI BANDUNG (CISC)Suporter sepak bola memainkan peranan penting dalam membangun identitas bersama diantara para anggota komunitas penggemar klub mereka.Aksi kolektif merupakan kegiatan yang dilakukan di dalam komunitas untuk mempererat hubungan diantara sesama anggota sehingga dapat menciptakan identitas bersama yang dianut oleh para anggota komunitas. Komunitas CISC Bandung merupakan komunitas resmi regional Bandung yang dibentuk untuk mereka yang memiliki ketertarikan dengan klub Chelsea yang melaksanakan berbagai aksi kolektif dan partisipasi anggota komunitas sehingga pada akhirnya aksi-aksi kolektif seperti nonton bareng pertandingan Chelsea, futsal rutin, aksi kemanusiaan, perayaan hari jadi komunitas, dan acara malam keakraban pada akhirnya dapat membentuk identitas bersama dan menjadikan hubungan yang solid diantara anggota. Penelitian ini menggunakan teori identitas sosial Henri dan Turner untuk mengkaji bagaimana aksi kolektif dapat membentuk identitas bersama dalam konteks komunitas penggemar klub sepak bola. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan teknik observasi langsung, wawancara dan studi literatur untuk menambah referensi terkait dengan penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Hasil penelitian menunjukan bahwa aksi kolektif yang dilakukan memainkan peranan penting untuk keberlanjutan komunitas. Aksi tersebut antara lain nonton bareng guna mendukung klub kesayangan mereka, Chelsea dan sebagai sarana untuk memperkuat hubungan antara anggota komunitas serta partisipasi yang aktif akan menumbuhkan perasaan emosional dan simbolik baik kepada klub maupun komunitas. Lebih jauh lagi, aksi kolektif tersebut memberikan pengaruh terhadap identitas dari CISC Bandung tersebut dengan menumbuhkan silaturahmi antar sesama anggota, bahwa komunitas ini terbentuk menjadi sebuah keluarga bagi para anggota dan sebagai tempat untuk memperluas relasi. Hal ini menjadi bentuk nyata bahwa komunitas penggemar sepak bola dapat berarti lebih dari sekadar komunitas, melainkan melibatkan perasaan kuat yang tumbuh diantara sesama anggota sehingga menjadikan komunitas ini sebagai bagian dari keluarga mereka. Analisis teori identitas sosial Henri dan Turner menyoroti mengenai 3 tahapan pembetukan di dalam komunitas CISC Bandung, yaitu kategorisasi sosial, identifikasi sosial dan perbandingan sosial.
-
STRATEGI PENGELOLAAN MUSEUM KONPERENSI ASIA AFRIKA DALAM PENGEMBANGAN WISATA SEJARAH DI KOTA BANDUNGMinat terhadap wisata sejarah di Kota Bandung masih minim, oleh karena itu penelitian ini membahas mengenai strategi dan peran Museum KAA dalam peningkatan wisata sejarah di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, studi dokumentasi. untuk mengumpulkan data-data informan berupa anggota, karyawan serta pengunjung Museum KAA. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori Peran milik Soerjono Soekanto yang membagi peran menjadi tiga bagian yaitu: peran aktif, partisipatif dan pasif. Proses analisis datanya dimulai dengan pengumpulan data dilanjutkan dengan langkah-langkah khusus: pengurangan atau penambahan jumlah data, penyajian data, serta pengambilan kesimpulan (validasi). Hasil dari penelitian ini adalah analisis deskriptif yang mencakup: (1) Penjelasan tentang strategi pengelolaan dan program-program yang ditawarkan Museum KAA untuk menarik minat pengunjung, (2) Analisis peran Museum KAA dalam meningkatkan wisata sejarah di Kota Bandung.
-
PERAN DAN RELASI ANTARGENERASI PAGUYUBAN ULIN BARONG SEKELOA SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN DI KECAMATAN COBLONG, KOTA BANDUNGKesenian yang tumbuh dan berkembang ditengah Kota Bandung dari tahun 1885 hingga saat ini Ulin Barong Sekeloa merupakan kesenian lokal yang kaya akan nilai historis dan ritual yang berfungsi sebagai ekspresi budaya dan identitas kolektif masyarakat. Budaya lokal di Kecamatan Coblong ini mengalami tantangan dalam pelestariannya, terutama pada perubahan sosial dan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengungkap realitas budaya yang masih bertahan berdasarkan pengalaman dialami dari anggota paguyuban. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif untuk mengumpulkan data dari informan dari berbagai generasi yang merupakan anggota dari paguyuban, Teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi. Analisis penelitian menggunakan teori generasi Karl Mannheim dan teori pelestarian budaya Marget Mead untuk menjabarkan tentang peran dan relasi pada paguyuban Ulin Barong Sekeloa. Hasil dari penelitian ini adalah analisis deskriptif mengenai hubungan yang kuat setiap generasi dalam dalam pelestarian budaya, temuan penelitian mencakup; (1) perbedaan peran antara generasi tua, generasi muda, dan generasi anak-anak, (2) bentuk relasi yang pada paguyuban Ulin Barong Sekeloa, (3) strategi dalam melestarikan kesenian Ulin Barong Sekeloa.
-
REALITAS BUDAYA DALAM BENTUK SISTEM PEWARISAN SENI BELUK DI KAMPUNG ADAT CIKONDANG KABUPATEN BANDUNGPenelitian ini membahas mengenai realitas budaya yang berkaitan dengan sistem pewarisan seni Beluk di Kampung Adat Cikondang Kabupaten Bandung. Pembahasan penelitian ini mencakup bentuk sistem pewarisan seni Beluk serta kontribusi pewarisan seni Beluk terhadap masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bentuk, proses, dan faktor-faktor terkait dengan sistem pewarisan seni Beluk. Penelitian ini menggunakan teori pewarisan budaya Cavalli-Sforza dan Feldman dalam mengungkap sistem pewarisan seni Beluk sebagai pisau bedahnya. Novelty dari riset ini terungkap bahwa sistem pewarisan seni Beluk di Kampung Adat Cikondang dilakukan secara turun temurun menggunakan 2 konsep pewarisan budaya yaitu pewarisan tegak (vertical transmission) dan pewarisan mendatar (horizontal transmission). Dalam proses pewarisan seni Beluk di Kampung Adat Cikondang terdapat beberapa bentuk kontribusi terhadap masyarakat sekitar yaitu menciptakan rasa cinta, bangga dan peduli masyarakat terhadap kelestarian seni Beluk sebagai aset budaya dari leluhur, sistem pewarisan seni Beluk menjadi kontrol sosial bagi masyarakat, dan sistem pewarisan seni Beluk juga berkontribusi terhadap promosi desa Lamajang
-
KEBERTAHANAN INDUSTRI RUMAH GERABAH DI DESA ANJUN KECAMATAN PLERED KABUPATEN PURWAKARTAPenelitian ini mengkaji kebertahanan industri rumah gerabah di Desa Anjun, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta dengan fokus pada bagaimanapemilik industri rumah gerabah mampu bertahan dan beradaptasi dalam menghadapi tantangan. Lokus pada penelitian ini dipilih karena Desa Anjun merupakan salah satu sentra gerabah di Jawa Barat yang terus bertahan di tengah perunbahan zaman. Permaslahan yang dikaji adalah tantangan apa yang dihadapi oleh pemilik industri rumah gerabah serta bagaimana stratego reseiliensi yang diterapkan untuk mempertahankan usahanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Penelitian ini menggunakan teori resiliensi Reivich dan Shatte yang mencakup tujuh dimensi: control, komitmen, tantangan, percaya diri, koneksi, kompetensi dan kontribusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilik industri rumah gerabah memepertahankan usaanya melalui strategi adaptif dengan nilai tradisioal, inovasi desain, diversifikasi produk, serta menggunakan media sosial sebgai alat pemasaran. Komunitas dan dukungan keluarga berperan penting sebgai jaringan sosial yang menopang ketahanan usaha. Etos usaha yang kuat dan motivasi menjaga warisan budaya menjadi penggerak dalam keberlangsungan usaha. Pada penelitian ini menemukan bahwa kebertahanan industri rumah gerabah di Desa Anjun tidak hanya bergantung pada kapasitas ekonomi, tetapi juga pada dimensi sosial-budaya dan psikologis yang membentuk resiliensi kolektif. Pemilik industri rumah gerabah menunjukkan kemampuan bertahan yang tinggi melalui peran aktif dalam komunitas, adaptasi terhadap perubahan, dan pemanfaatan kekuatan lokal untuk menghadapi dinamika pasar.
-
PERAN PEREMPUAN KAMPUNG ADAT PULO KABUPATEN GARUT DALAM MEMPERTAHANKAN PEWARISAN IDENTITAS BUDAYADahulu, perempuan di Kampung Adat lebih banyak berperan dalam ranah domestik, mengurus rumah tangga dan menjaga tradisi keluarga sesuai dengan nilai-nilai adat yang berlaku. Namun seiring perkembangan zaman dan masuknya pariwisata, ruang gerak mereka pun meluas hingga ke ranah publik, memungkinkan perempuan untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi, pelestarian budaya, dan berbagai peran sosial lainnya di tengah masyarakat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana peran perempuan Kampung Adat Pulo dalam menjaga pewarisan identitas budaya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teori gender nature nurture dan Struktural Fungsional Talcott Parsons sebagai landasan teori. Hasil dari penelitian perempuan di Kampung Adat Pulo berperan di ranah domestik sebagai seorang istri dan ibu. Menjalankan peran sebagai istri, perempuan di Kampung Adat Pulo tetap membutuhkan peran atau kerjasama dari suami. Sebagai seorang ibu, perempuan Kampung Adat Pulo mengasuh dan memberikan pendidikan formal sembari tetap menanamkan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat Kampung Adat Pulo. Modernisasi dan masuknya sektor pariwisata telah membawa perubahan terhadap perempuan Kampung Adat Pulo sehingga mereka harus beradaptasi dan aktif di ranah publik sebagai pedagang dan juru pelihara rumah adat. Perempuan juga memiliki peranan penting dalam tradisi niisken pare dan kegiatan sosial karnaval sunatan massal.
-
BENTUK KEPEDULIAN DAN PARTISIPASI MASYARAKAT TENTANG MITIGASI BENCANA TSUNAMI DI DESA TELUK KECAMATAN LABUAN KABUPATEN PANDEGLANGIndonesia terletak di kawasan ring of fire Pasifik, yang membuatnya menjadi salah satu negara dengan potensi bencana alam terbesar di dunia, termasuk tsunami. Desa Teluk, yang terletak di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, merupakan daerah yang rawan terhadap bencana tsunami karena letaknya yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia juga adanya Gunung Anak Krakatau. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepedulian masyarakat Desa Teluk terhadap mitigasi bencana tsunami dan mengidentifikasi mekanisme penanggulangan mitigasi yang melibatkan pemerintah daerah, lembaga terkait, dan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Lokasi penelitian adalah Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, dipilih karena tingkat kerawanannya yang tinggi terhadap bencana tsunami. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi literatur. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pemahaman mendalam tentang kepedulian masyarakat terhadap mitigasi bencana tsunami di Desa Teluk, serta memberikan rekomendasi kepada pemerintah dan lembaga terkait dalam merancang program edukasi mitigasi bencana yang lebih efektif.
-
PERFORMATIVITAS GENDER DALAM KEBEBASAN BEREKPRESI MELALUI FESYEN ANDROGINI DI KALANGAN MAHASISWA FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNGPenelitian ini mengkaji praktik performativitas gender melalui fesyen androgini di kalangan mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB). Fesyen androgini dipahami sebagai medium representasi identitas gender non-biner yang mencerminkan ketidakterikatkan pada norma-norma gender biner konvensional. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana mahasiswa mempraktikkan fesyen androgini sebagai bentuk Tindakan performative serta mengidentifikasi pengaruh lingkungan sosial dan budaya kampus terhadap ekspresi gender tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi visual terhadap tiga informan yang secara konsisten mengadopsi gaya berpakaian androgini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi gender melalui fesyen androgini merupakan bantuk konstruksi sosial yang diproduksi secara berulang melalui Tindakan, penampilan, dan negosiasi dalam ruang sosial. Lingkungan FSRD ITB yang inklusif dan terbuka terhadap keragaman ekspresi artistic memberikan ruang aman bagi praktik performative tersebut, meskipun para pelaku tetap menghadapi tantangan dari norma sosial yang hegemonik di luar kampus.
-
PERAN IBU-IBU DALAM PROGRAM THE POWER OF EMAK-EMAK DI CIBOGO KOTA BANDUNGPenelitian ini membahas mengenai bagaimana peran ibu-ibu dalam program the power of emak-emak ini memelihara dan melestarikan lingkungan berdasar perspektif ekofeminisme. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan peran ibu-ibu dalam mengelola lingkungan. Metodologi yang dipilih untuk penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena secara mendalam. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi studi pustaka, wawancara, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Teori yang dijadikan landasan analisis adalah Teori Ekofeminisme Vandana Shiva, yang membantu dalam menganalisis bagaimana peran ibu-ibu yang terlibat dalam program the power of emak-emak memelihara dan melestarikan lingkungannya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat gerakan sosial yang muncul dari diri ibu-ibu untuk menjaga lingkungan. Gerakan yang mempengaruhi keadaan lingkungan menjadi lebih baik karena ibu-ibu terus bergerak untuk mengedukasi warga seberapa penting memelihara dan melestarikan lingkungan agar lingkungan tidak rusak dan tetap layak untuk dihuni.
