Items
-
TRILOKA (Penyajian Kendang dalam Topeng Cirebon, Kiliningan, dan Sisingaan)Penulisan skripsi ini berjudul “Triloka” dengan garap utama waditra kendang dalam Topeng Cirebon, Kiliningan, dan Sisingaan. Tujuan dari penulisan ini adalah membuktikan keberagaman jenis-jenis kendang yang ada di Jawa Barat. Landasan teori yang digunakan dalam penulisan ini adalah teori garap. Penulisan ini menyajikan tiga repertoar yakni Topeng Klana pada garap kendang Topeng Cirebon, lagu Goléwang naék Hayam Ngupuk pada garap kendang kiliingan, dan Sisingan Sadulur Group pada garap kendang sisingaan.
-
GULAK-GILEK LARAS DINA GELIK SULING (Penyajian Suling dalam Sekar Gending)Sajian yang berjudul ‘Gulak-Gilek Laras dina Gelik Suling’ merupakan karya seni yang menyajikan permainan suling liang salapan dalam dua genre seni yaitu tembang sunda cianjuran dan celempungan. Judul tersebut berasal dari kamus bahasa Sunda yang dimana judul tersebut memiliki arti tiap katanya, jika dirangkaikan yaitu permainan suling yang mengutamakan pengolahan laras melalui teknik penjarian dan ornamentasi. Sajian ini menggunakan pendekatan teori kreativitas yang dikemukakan oleh Conny R Semiawan dalam buku yang berjudul “Kreativitas: Sejarah, Teori dan Perkembangan” karya Nur Iswantara, dalam sajian ini teori tersebut diterapkan dalam pengolahan unsur musikal yang memodifkasi melodi-melodi lagu dari dua genre kesenian yang berbeda sehingga menghasilkan nuansa lagu yang syarat dengan penerapan berbagai laras. Dalam sajian ini laras yang digunakan terdiri dari laras saléndro, madenda dan degung. Sajian ini diharapkan bisa menjadi referensi mengenai teknik permainan suling liang salapan bagi para seniman terutama pemain suling dalam mengembangkan teknik permainan suling liang salapan yang lebih variatif dan kreatif.
-
FUNGSI KESENIAN GEMBYUNG GRUP DARSIM MUDA DALAM TRADISI HAJATAN DI KECAMATAN PAGADEN KABUPATEN SUBANGPenelitian ini berjudul Fungsi Kesenian Gembyung Grup Darsim Muda dalam Tradisi Hajatan di Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna dan peran strategis kesenian Gembyung sebagai manifestasi budaya yang hidup, dinamis, dan berakar kuat dalam struktur sosial masyarakat Sunda, khususnya dalam konteks hajatan. Gembyung bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana komunikasi simbolik, media spiritualitas, serta alat pelestarian identitas budaya lokal yang kaya dan kompleks. Grup Darsim Muda, sebagai salah satu kelompok Gembyung yang aktif dan berpengaruh di Kecamatan Pagaden, dipilih sebagai fokus kajian karena konsistensinya dalam menjaga dan mengembangkan tradisi di tengah tantangan modernisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan strategi etnografi, yang memungkinkan peneliti merekam pengalaman budaya secara holistik dan mendalam. Teknik pengumpulan data terdiri atas studi pustaka, observasi langsung dalam berbagai acara hajatan, serta wawancara mendalam dengan pelaku seni, tokoh adat, dan masyarakat setempat sebagai pemangku kepentingan budaya. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan kerangka teori fungsi musik Alan P. Merriam (1964), yang secara komprehensif mengidentifikasi fungsi-fungsi musik dalam konteks kebudayaan lintas wilayah dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenian Gembyung yang dibawakan oleh Grup Darsim Muda memiliki fungsi sosial, spiritual, edukatif, ekspresif, dan integratif yang sangat vital dalam kehidupan masyarakat Pagaden. Fungsi-fungsi tersebut menjadikan Gembyung sebagai jembatan penghubung antar generasi, memperkuat kohesi sosial, serta mempertegas dan melestarikan identitas budaya lokal. Eksistensi Grup Darsim Muda juga memperlihatkan bahwa seni tradisi bukanlah entitas statis, melainkan terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi dan nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam kajian etnomusikologi lokal dan menegaskan urgensi pelestarian seni tradisi sebagai warisan budaya takbenda yang bernilai luhur dan relevan untuk masa kini dan generasi mendatang.
-
PASIEUP PANGGUGAH RASA (Penyajian Kacapi dalam Tembang Sunda Cianjuran)“Pasieup Panggugah Rasa” merupakan judul sajian Tugas Akhir terhadap penyajian kacapi dalam Tembang Sunda Cianjuran. Makna yang terkandung dalam judul karya “Pasieup” merupakan pola tabuh instrumen kacapi indung, “Panggugah Rasa” merupakan arti dari kata menumbuhkan rasa. Artinya bahwa teknik permainan instrumen kacapi indung dapat menumbuhkan rasa terhadap pemain kacapi indung. Sajian yang berjudul “Pasieup Panggugah Rasa” merupakan judul sajian yang didalamnya terdapat konsep garap secara konvensional, yang didampingi dengan rawayan gending disusun secara terstruktur dimulai dengan Teknik landangan instrumen suling disajikan pada sajian pertama sebelum lagu dan termasuk kepada bubuka. Lagu yang dibawakan terdapat 3 laras yaitu laras degung, laras laras madenda, dan laras mandalungan. Adapun teori yang digunakan pada sajian kacapi dalam Tembang Sunda Cianjuran adalah teori dari Dr. Heri Herdini, M. Hum. Teori yang dikemukakan oleh beliau adalah teori komunikasi Non-Verbal bawasanya komunikasi Non-Verbal adalah “kacapi indung dalam Tembang Sunda Cianjuran sebagai induk pengiring jalannya sajian Tembang Sunda Cianjuran, dan merupakan patokan terhadap garap dari instrumen yang ada di dalam kesenian Tembang Sunda Cianjuran.” Hal tersebut mengartikan bahwa instrumen kacapi indung merupakan instrumen pokok yang dianalogikan sebagai induk dari sajian Tembang Sunda Cianjuran dan pemberi aba aba untuk penembang.
-
REALITAS DAYA TAFSIR KOMUNITAS KAIBUTSU TERHADAP PENGGAMBARAN HETERONORMATIVITAS DALAM FILM MONSTER KARYA HIROKAZU-KOREEDAPenelitian ini menganalisa pembingkaian norma gender dalam film Jepang berjudul Monster. Heteronormativitas sebagai konstruksi sosial sering kali direpresentasikan dalam film melalui narasi, karakter, dan konflik yang mengutamakan relasi heteroseksual sebagai norma utama. Monster adalah film yang menggambarkan kehidupan dua anak laki-laki, Minato Mugino dan Yori Hoshikawa, yang menghadapi kesulitan akibat tekanan heteronormativitas dari lingkungan mereka. Film ini memperlihatkan bentuk diskriminasi, kecurigaan, dan homofobia yang dihadapi keduanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi pembingkaian heteronormativitas dalam film serta memahami bagaimana audiens dari Komunitas Kaibutsu merespons pembingkaian tersebut. Analisis menggunakan teori analisis framing Murray Edelman. Data dikumpulkan melalui Google Form dan wawancara online serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Kaibutsu menafsirkan bahwa film Monster membingkaikan heteronormativitas yang berperan membentuk ekspektasi dan perilaku gender, tetapi juga menimbulkan tekanan sosial dan psikologis, terutama bagi individu yang menyimpang dari norma tersebut.
-
PERAN KOMUNITAS SKATEBOARD STREETWEAR DALAM INDUSTRI CLOTHING DI KOTA BANDUNG (Studi Pada Clothing UNKL347)Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pola budaya streetwear dalam perkembangan industri clothing, peran komunitas dalam membentuk dan menyebarluaskan budaya streetwear dan faktorfaktor yang mempengaruhi pertumbuhan budaya streetwear di Kota Bandung. Lokus penelitian dilakukan di Kota Bandung. Populasi penelitian ini adalah pelaku industri industri clothing dan komunitas streetwear yang terlibat secara lansung. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara dan studi pustaka. Partisipan penelitian adalah pendiri clothing UNKL347 dan Skateboarder. Berdasarkan hasil penelitian bahwa peran komunitas skateboard streetwear dalam industri clothing di Kota Bandung (studi pada clothing UNKL347) terdapat beberapa aspek utama. Aspek karakteristik pola budaya streetwear mencakup 1) pengaruh subkultur; 2) desain kasual dan eksklusivitas; dan 3) kolaborasi. Aspek peran komunitas mencakup 1) pembentuk kolaborasi kreatif; 2) pendorong brand lokal; dan 3) pembentuk identitas kolektif. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan budaya streetwear di Kota Bandung mencakup beberapa faktor pendukung diantaranya: 1) budaya kreatif lokal; 2) platform digital; 3) industri clothing; dan 4) event dan festival.
-
REPRESENTASI NILAI SINKRETISME DALAM PRAKTIK KEHIDUPAN DI NEGERI PELAUW KABUPATEN MALUKU TENGAHPenelitian ini membahas tentang representasi nilai sinkretisme dalam praktik kehidupan masyarakat di Negeri Pelauw, Kabupaten Maluku Tengah. Negeri Pelauw merupakan salah satu komunitas adat Islam di Pulau Haruku yang mempertahankan tradisi leluhur sambil mempraktikkan ajaran Islam secara bersamaan. Sinkretisme dalam konteks ini merujuk pada perpaduan nilai-nilai adat dan agama yang melebur secara harmonis dalam kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai sinkretisme tercermin dalam berbagai praktik kehidupan, antara lain ritual Ma’atenu, pelantikan raja dan kabaresi, ritual sasi, gotong royong (masohi), serta penggunaan pakaian dan simbol keagamaan. Sinkretisme ini terbentuk melalui tiga faktor utama: sejarah dan warisan budaya, peran tokoh adat dan agama, serta struktur sosial yang inklusif. Masyarakat Negeri Pelauw tidak memisahkan adat dari agama, melainkan memandang keduanya sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Ajaran Islam memberikan legitimasi spiritual atas praktik-praktik adat, sementara adat memperkuat identitas lokal dan solidaritas sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa sinkretisme bukan sekadar kompromi budaya, melainkan bentuk keberagamaan yang kontekstual dan berakar kuat pada nilai-nilai kearifan lokal.
-
PERAN PEREMPUAN PENGANYAM TOPI BAMBU TERHADAP PEMENUHAN EKONOMI RUMAH TANGGA DI DESA ANCOL PASIR KABUPATEN TANGERANGRealitas sosial kelompok masyarakat di pedesaan dihadapkan pada tantangan ekonomi akibat keterbatasan akses pekerjaan formal, rendahnya pendidikan, serta minimnya keterampilan produktif. Dalam kondisi di Desa Ancol Pasir, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, perempuan mengambil peran strategis sebagai agen ekonomi keluarga melalui kegiatan menganyam topi bambu yang merupakan keterampilan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana peran sosial perempuan terbentuk melalui proses interaksi sosial, kontribusi ekonomi mereka berdampak pada keberlangsungan rumah tangga, serta aspek gender dan pemberdayaan perempuan pada pekerjaan menganyam topi bambu. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi lapangan, dan studi literatur. Informan terdiri dari perempuan penganyam, pengrajin, ketua komunitas, dan pihak pemerintah daerah. Teori yang digunakan adalah teori pembentukan peran dari George Herbert Mead yang menekankan tahapan pembentukan peran melalui pengalaman sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran perempuan sebagai penganyam sudah terbentuk sejak dini melalui proses sosial dari Ibu dan menjadi bagian dari struktur sosial kelompok penganyam. Aktivitas menganyam, cenderung dikategorikan sebagai pekerjaan sampingan karena segi penghasilan yang relatif rendah. Namun, bagi perempuan di pedesaan dengan tingkat pendidikan yang rendah dan keterampilan yang terbatas, pekerjaan ini menjadi satu-satunya pilihan untuk menopang ekonomi rumah tangga. Analisis gender pada pekerjaan ini menggambarkan adanya ketimpangan gender dalam pembagian kerja, akses, dan upah. Hal ini mencerminkan relasi kuasa yang tidak seimbang dalam rantai produksi. Meski demikian, pekerjaan ini membuka ruang pemberdayaan perempuan dalam skala lokal. Diperlukan kebijakan afirmatif berbasis gender untuk memperkuat posisi, peran, dan kapasitas perempuan dalam struktur ekonomi lokal.
-
FESYEN AMERICAN 80’S STYLE DI KOMUNITAS GANIATI UPI BANDUNG SEBAGAI PEMBENTUK IDENTITAS DIRIPenelitian ini membahas bagaimana pengaruh fesyen American 80’s style terhadap dinamika kehidupan anggota komunitas Ganiati UPI Bandung dalam aktivitas sehari-hari dan apa makna serta nilai yang terkandung dalam penggunaan fesyen American 80’s style dikalangan anggota komunitas Ganiati UPI Bandung dalam pembentukan identitas diri. Proses pembentukan identitas diri melalui fesyen American 80’s style di komunitas Ganiati UPI Bandung dianalisis menggunakan teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan pengaruh, makna dan nilai fesyen American 80’s style terhadap dinamika kehidupan anggota komunitas Ganiati UPI Bandung dalam aktivitas sehari-hari. Penelitian ini memberikan manfaat untuk pengembangan ilmu Antropologi Budaya mengenai hubungan fesyen internasional dalam penggunaannya di kalangan masyarakat lokal dan pembentukan identitas diri melalui fesyen dalam anggota komunitas tertentu. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data studi literatur, observasi partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fesyen American 80’s style digunakan anggota komunitas Ganiati sebagai bagian dari pembentukan identitas diri. Pilihan gaya dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, lingkungan komunitas, serta nilai dan kesadaran yang dimiliki masing-masing individu. Fesyen tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetika tetapi juga mencerminkan sikap, prinsip dan posisi mereka dalam lingkungan sosial.
-
PERSEPSI PENGUNJUNG MENGENAI FENOMENA SELFIE DI MASJID RAYA AL-JABBAR KOTA BANDUNGPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pengunjung terhadap fenomena selfie yang dilakukan di lingkungan Masjid Raya Al-Jabbar, Kota Bandung. Selfie sebagai bagian dari budaya digital telah merambah berbagai ruang publik, termasuk ruang ibadah, sehingga menimbulkan respons sosial yang beragam. Masjid Raya Al-Jabbar dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki daya tarik arsitektural yang tinggi dan menjadi salah satu destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori persepsi yang dilengkapi dengan teori atribusi sosial, yang membantu menjelaskan bagaimana pengunjung membentuk pandangan dan penilaian terhadap aktivitas selfie di lingkungan masjid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pengunjung terhadap fenomena selfie di Masjid Raya Al-Jabbar terbagi menjadi tiga kategori: positif, netral, dan negatif. Persepsi positif umumnya dilandasi oleh anggapan bahwa selfie merupakan bentuk ekspresi kekaguman terhadap kemegahan masjid dan sebagai sarana dokumentasi pribadi. Sementara itu, persepsi negatif muncul dari pandangan bahwa selfie mengganggu kekhusyukan beribadah dan tidak sesuai dengan norma kesopanan di tempat suci.
-
JARINGAN SOSIAL PEDAGANG BAKSO PATROL DI KOTA BANDUNGPenelitian ini dilakukan untuk meneliti jaringan sosial pedagang bakso patrol di Kota Bandung serta menjelaskan aktor-aktor dan proses pembentukan jaringan sosial. Penelitian ini melibatkan manfaat dan relevansi dengan menggali potensi sistem sosial pedagang bakso patrol yang berasal dari Ciamis, Sumedang, dan Tasikmalaya dalam membangun keberlangsungan usaha mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah metodologi kualitatif dengan pendekatan etnografi yang menggunakan teori Jaringan Sosial Mark Granovetter. Populasi penelitian meliputi pedagang bakso patrol di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan sosial pedagang bakso patrol terdiri atas empat bentuk jaringan. Pertama, jaringan sosial paguyuban yang bersifat informal dan dilandasi kepentingan, dengan titik awal dari juragan HN yang merekrut pekerja berdasarkan kepercayaan dan kesamaan daerah asal. Kedua, jaringan sosial kesamaan daerah asal dari Dusun Bitungsari dan Samarang (Ciamis), Rancakalong (Sumedang), dan Singaparna (Tasikmalaya). Ketiga, jaringan sosial perkawinan dan kekerabatan dengan ikatan emosional yang lebih kuat. Keempat, jaringan sosial pertemanan melalui interaksi sehari-hari dengan bentuk expressive emotional friendship dan instrumental friendship. Proses pembentukan terjadi melalui transformasi ikatan lemah menjadi ikatan kuat, pembentukan norma vertikal dan horizontal, keterlekatan relasional melalui interaksi harian, serta kepercayaan askriptif dan prosesual yang mendorong solidaritas antarpedagang. Simpulan dari penelitian ini adalah jaringan sosial pedagang bakso patrol di Kota Bandung tidak hanya berorientasi pada aktivitas ekonomi semata, tetapi juga membangun sistem sosial yang mendukung keberlangsungan usaha. Jaringan didasari oleh ikatan kuat dan ikatan lemah yang terbentuk melalui interaksi sehari-hari. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat menjadi bentuk pertimbangan dalam memahami dinamika hubungan sosial, budaya dan ekonomi pedagang yang berkembang di kawasan perkotaan.
-
PERSEPSI PENGUNJUNG DAN PENGELOLA MUSEUM TERHADAP REVITALISASI TAMAN MUSEUM GEDUNG JUANG 45 DI KABUPATEN BEKASIMuseum Gedung Juang 45 Bekasi merupakan bangunan cagar budaya bersejarah yang terletak di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, yang berfungsi sebagai pusat edukasi sejarah perjuangan rakyat Bekasi serta pelestarian identitas budaya lokal. Penelitian ini membahas persepsi pengunjung dan pengelola terhadap revitalisasi Museum Gedung Juang 45 Bekasi sebagai upaya pelestarian cagar budaya sekaligus peningkatan fungsi edukasi dan rekreasi. Revitalisasi mencakup alih fungsi museum menjadi berbasis digital serta penataan ulang kawasan taman agar lebih menarik bagi masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan revitalisasi memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan jumlah kunjungan, khususnya dari kalangan pelajar dan generasi muda. Selain itu, revitalisasi berhasil menciptakan museum yang lebih interaktif, tidak hanya sebagai tempat menyimpan benda sejarah, tetapi juga menjadi ruang publik yang edukatif dan rekreatif. Persepsi positif dari pengelola dan pengunjung menunjukkan bahwa revitalisasi mampu mengembalikan fungsi museum sebagai media pembelajaran sejarah sekaligus tempat hiburan masyarakat Bekasi.
-
APLIKASI BUBBLE SEBAGAI MEDIUM ILUSI PARASOSIAL PADA PENGGEMAR K-POP LUCY BAND (WALWAL)Penelitian ini mengkaji peran aplikasi Bubble sebagai medium pembentuk ilusi parasosial antara penggemar Lucy Band (Walwal) dengan idolanya. Penelitian ini mengungkapkan fenomena hubungan parasosial di era digital yang semakin kompleks, di mana teknologi tidak hanya memediasi interaksi, tetapi juga membentuk persepsi dan realitas emosional penggemar. Kesenjangan penelitian ini muncul dari terbatasnya studi tentang aplikasi Bubble sebagai platform eksklusif yang menciptakan kedekatan semu, khususnya dalam konteks K-Band seperti Lucy Band, yang berbeda secara musikalitas dan interaksi dengan penggemar dibandingkan idola K-Pop pada umumnya. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis mekanisme ilusi parasosial yang terbentuk melalui Bubble serta pengaruhnya terhadap kehidupan nyata penggemar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, berlandaskan teori Ekologi Media McLuhan yang menekankan peran medium dalam membentuk persepsi dan realitas sosial. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan lima penggemar (Walwal), dan studi literatur. Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola interaksi dan dampak hubungan parasosial. Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa fitur-fitur Bubble seperti notifikasi real-time, konten eksklusif, dan simulasi interaksi personal (seperti fitur Your Name dan Birthday Greetings) berhasil menciptakan ilusi kedekatan emosional yang dalam. Hubungan parasosial ini memengaruhi perilaku penggemar, seperti perubahan gaya hidup, pembentukan emotional bonding, dan peningkatan standar hubungan ideal. Namun, di balik dampak positif seperti motivasi berolahraga atau belajar bahasa Korea, terdapat risiko ketergantungan emosional pada hubungan sepihak. Implikasi penelitian ini mencakup dua aspek: akademis dan praktis. Secara akademis, temuan ini memperkaya literatur tentang hubungan parasosial di era digital, khususnya dalam konteks K-Band. Secara praktis, penelitian ini memberikan wawasan bagi industri hiburan tentang dampak psikologis platform parasosial serta rekomendasi bagi penggemar untuk menjaga keseimbangan antara interaksi virtual dan kehidupan nyata.
-
REPRESENTASI PENGGUNAAN RUANG DAN INTERAKSI SOSIAL PENGUNJUNG DI TAMAN LITERASI MARTHA CHRISTINA TIAHAHU BLOK M JAKARTA SELATANPenelitian ini mengkaji representasi penggunaan ruang dan interaksi sosial pengunjung di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Blok M, Jakarta Selatan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teori produksi ruang Henri Lefebvre, penelitian bertujuan untuk memahami bagaimana ruang taman diproduksi secara sosial dan bagaimana pola interaksi sosial terbentuk di dalamnya. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan pengunjung, pengelola, dan komunitas penyelenggara kegiatan, serta dokumentasi aktivitas di taman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang taman tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai ruang sosial yang dinamis, tempat pertukaran ide dan pengembangan literasi masyarakat. Pengunjung dan komunitas secara aktif memaknai dan memanfaatkan ruang sesuai kebutuhan, sementara desain dan aktivitas yang ada mendorong terbentuknya interaksi sosial yang beragam. Penelitian ini merekomendasikan pengelolaan taman yang lebih partisipatif dan adaptif agar taman dapat terus berkembang sebagai ruang publik yang inklusif dan berkelanjutan di tengah masyarakat urban.
-
FENOMENA CANCEL CULTURE DI TWITTER/X: STUDI KASUS PLAGIARISME RICODWICHYPenelitian ini bertujuan untuk memahami fungsi cancel culture sebagai mekanisme kontrol sosial di media sosial Twitter/X serta menganalisis respons pengguna terhadap kasus plagiarisme Ricodwichy. Dengan pendekatan etnografi virtual dan teori intersubjektivitas Alfred Schutz, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana makna kolektif dibangun melalui interaksi digital. Data dikumpulkan melalui pengamatan konten digital, dokumentasi postingan, dan analisis interaksi, menggunakan kerangka analisis media siber pada level ruang media, dokumen media, objek media, dan pengalaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cancel culture menjadi alat yang efektif untuk menegakkan norma sosial di ruang digital, dengan engagement tinggi pada thread utama yang mengekspos kasus ini. Diskursus daring menciptakan dampak nyata di dunia offline, seperti sanksi akademik yang diterima Ricodwichy. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian budaya digital dengan menyoroti bagaimana ruang digital mendukung pembentukan dan penerapan norma sosial.
-
PERSEPSI WISATAWAN DOMESTIK PADA DESTINASI WISATA MUSEUM BATIK INDONESIA TMII JAKARTAMuseum Batik Indonesia yang terletak di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta merupakan destinasi wisata budaya yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik. Museum Batik Indonesia memiliki peran penting sebagai media edukasi serta upaya pelestarian batik sebagai warisan budaya takbenda Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana Museum Batik Indonesia mampu memenuhi ekspektasi dan kebutuhan wisatawan. Oleh karena itu penting untuk mempelajari persepsi wisatawan domestik terhadap empat komponen utama dalam pengelolaan destinasi wisata, yaitu atraksi, aksesibilitas, fasilitas, dan layanan tambahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan pengelola museum dan wisatawan domestik, serta studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Museum Batik Indonesia memiliki atraksi, aksesibilitas, fasilitas, dan layanan tambahan yang kuat sebagai destinasi wisata edukatif dan budaya. Museum ini sudah memberikan kepuasan serta respons yang positif kepada wisatawan domestik. Namun, terdapat beberapa catatan yang perlu diperhatikan untuk museum yaitu kurangnya penyampaian informasi mengenai kegiatan workshop kepada wisatawan, tidak adanya toko suvenir resmi, akses menuju pintu masuk yang belum ramah bagi penyandang disabilitas, tidak adanya petunjuk arah yang jelas menuju mushola, serta fasilitas media interaktif yang masih bersifat pasif. Selain itu, Museum Batik Indonesia juga menjalankan peran strategis dalam pelestarian warisan budaya batik melalui program-program yang edukatif, partisipatif, berkelanjutan, serta adaptif terhadap perkembangan zaman.
-
PENGARUH BUDAYA K-POP DANCE COVER TERHADAP GAYA HIDUP REMAJA KOMUNITAS THE NATION PROJECT KOTA BANDUNGPenelitian ini menjelaskan mengenai bagaimana pengaruh dari budaya K-Pop dance cover terhadap para remaja di komunitas The Nation Project Bandung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatis dengan pendekatan yang bersifat deskriptif, dengan menggunakan teknik pengambilan data melalui partisipasi peneliti, observasi, wawancara, kuesioner, dan studi pustaka. Teori yang digunakan untuk menganalisis penelitian ini adalah teori motivasi Abraham Maslow. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dorongan motivasi yang membuat mereka tertarik pada budaya K-Pop dance cover, yang meliputi (1) Adanya bentuk dorongan yang berasal dari dalam dirinya sendiri atau faktor internal dan dorongan dari lingkungan sosialnya atau faktor eksternal. (2) Budaya K-Pop dance cover memengaruhi gaya hidup para remaja yang didominasi oleh tiga pengaruh, yaitu meningkatnya kepercayaan diri, meningkatnya selera fashion atau representasi estetika fashion, dan eksistensi diri mereka di kehidupan sehari-hari maupun media sosial.
-
PROSES TAHAPAN RITUAL SEBELUM PAGELARAN KESENIAN RONGGENG GUNUNG DI DESA PANYUTRAN KECAMATAN PADAHERANG KABUPATEN PANGANDARANKesenian Ronggeng Gunung sebagai warisan budaya tradisional Indonesia memiliki nilai penting untuk dilestarikan karena mengandung kekayaan makna dan simbol yang merefleksikan kearifan lokal masyarakat, khususnya di Kabupaten Pangandaran. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya dokumentasi dan tulisan mendalam mengenai proses tahapan ritual sebelum pagelaran Ronggeng Gunung di Desa Panyutran, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, yang berpotensi mengancam keberlangsungan nilai-nilai sakral dalam kesenian tersebut. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan proses tahapan ritual yang harus dilakukan ronggeng sebelum pagelaran dan menganalisis konsep shamanisme dalam kesenian tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengaplikasikan teori liminalitas Victor Turner sebagai kerangka analisis. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai sumber primer, sedangkan sumber sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan. Analisis data meliputi tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses ritual yang dilakukan oleh calon ronggeng merupakan serangkaian prosesi sakral yang memiliki makna simbolik dan fungsi spiritual, terutama ritual pemandian di Kedung Nyi Samboja. Ronggeng dalam konteks ini berperan sebagai perantara komunikasi antara dunia manusia dan dimensi transendental, menegaskan posisinya sebagai seorang shaman yang mengalami transformasi spiritual setelah menjalani ritual pemandian tersebut. Implikasi dari temuan ini menyoroti pentingnya ritual ini untuk menjadi wahana transmisi pengetahuan dan nilai-nilai tradisional antar generasi, di mana narasi tentang sosok Samboja dan praktik-praktik ritual diwariskan kepada calon ronggeng, memastikan keberlangsungan tradisi lisan yang menjadi fondasi kesenian ini.
-
NARASI GENDER DAN DEKONSTRUKSI PATRIARKI DALAM DRAMA KOREA QUEENMAKERKorea Selatan merupakan negara dengan sistem budaya patriarki yang kuat. Dalam budaya mereka, laki-laki dianggap lebih utama dibandingkan perempuan. Ketidakadilan gender bagi perempuan Korea telah dialami sejak masa dinasti yang diperkuat dengan adanya ajaran Konfusianisme. Artinya, sistem patriarki ini telah menjadi logosentris atau memiliki bangunan yang kokoh di Korea. Oleh karena itu, untuk membongkar bangunan kokoh tersebut, Drama Korea Queenmaker memotret gambaran ketidakadilan gender itu, khususnya dalam dunia politik melalui sosok politikus wanita yang harus berhadapan dengan kerasnya ‘dunia laki-laki’. Penelitian ini membahas mengenai narasi gender dan dekonstruksi patriarki dalam drama Korea Queenmaker. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dekonstruksi patriarki yang ada dalam drama Korea Queenmaker. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan content analisys (Eryanto, 2011). Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, dokumentasi yang dilakukan dengan mengambil tangkapan layar dari sejumlah adegan drama Korea Queenmaker di situs layanan Netflix. Analisis penelitian menggunakan teori dekonstruksi Jaques Derrida yang memebahas narasi gender dan dekonstruksi patriarki yang ada dalam drama Korea Queenmaker. Hasil dari penelitian ini adalah drama Queenmaker telah mendekonstruksi narasi patriarki melalui dominasi suara-suara perempuan, kemampuannya menjadi pusat, dan menawarkan beragam pemaknaan dalam memperlihatkan kemampuan perempuan dalam menegosiasikan dirinya dengan memimpin di lingkungan yang dikuasai oleh laki-laki.
-
TRANSFORMASI FUNGSI LESUNG DARI TRADISI MITEMBEYAN TANDUR KE SENI HIBURAN GONDANG BUHUN DI DESA WANAKERTA KECAMATAN CIBATU KABUPATEN GARUTPenelitian ini membahas perubahan fungsi lesung dari alat pertanian yang digunakan dalam tradisi yang bersifat sakral menjadi alat musik dalam seni hiburan Gondang Buhun yang bersifat profan di Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut. Lesung pada awalnya digunakan dalam kegiatan menumbuk padi yang dilakukan sebagai bagian dari ritual penghormatan terhadap Dewi Sri atau Nyi Pohaci Sanghyang Asri sebagai simbol kesuburan. Namun seiring berjalannya waktu dan pergeseran teknologi pertanian, tradisi ini mengalami pergeseran. Fungsi lesung pun turut berubah menjadi alat musik dalam pertunjukan seni Gondang Buhun yang kini tidak lagi bersifat ritual, melainkan menjadi hiburan serta simbol budaya yang diwariskan kepada generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana proses perubahan fungsi lesung tersebut terjadi dan menjelaskan bagaimana pengaruhnya terhadap eksistensi lesung dalam kehidupan masyarakat Desa Wanakerta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pelaku budaya, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan fungsi lesung terjadi karena pengaruh dari modernisasi alat pertanian, perubahan struktur ekonomi masyarakat, serta kebutuhan masyarakat akan sarana ekspresi budaya yang baru. Meskipun fungsi sakralnya memudar, nilai simbolik lesung tetap dipertahankan melalui transformasi ke dalam ranah seni pertunjukan. Komunitas seni seperti Lingkung Seni Putra Pamager Sari berperan penting dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya ini melalui kegiatan pelatihan dan pertunjukan rutin. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa perubahan fungsi lesung tidak menghilangkan nilai-nilai budaya yang dikandungnya, melainkan merupakan bentuk adaptasi terhadap perubahan zaman. Proses perubahan ini juga menjadi cerminan dinamika kebudayaan yang lentur namun tetap mempertahankan identitas lokal.
-
FETISISME KOMODITAS PHOTOCARD SEVENTEEN : STUDI PADA KOMUNITAS CARATDEUL DI KOTA BANDUNGPenelitian ini membahas fenomena fetisisme komoditas pada penggemar K-Pop dalam komunitas Caratdeul Bandung, khususnya dalam praktik koleksi photocard SEVENTEEN. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan anggota komunitas Caratdeul Bandung yang berlatar belakang status ekonomi sosial menengah hingga bawah berupaya menggapai hasrat memiliki photocard SEVENTEEN dan menjelaskan alasan utama anggota komunitas Caratdeul Bandung ingin memiliki photocard SEVENTEEN tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teori fetisisme komoditas dari Theodor Adorno, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa photocard SEVENTEEN tidak hanya diposisikan sebagai barang koleksi, melainkan sebagai representasi dari nilai simbolik, loyalitas, serta kedekatan emosional dengan idola. Para penggemar, meskipun memiliki keterbatasan finansial, menunjukkan strategi konsumsi yang berbagai macam seperti menabung, mengikuti komunitas, hingga membeli photocard tidak resmi demi memuaskan hasrat memilki photocard tersebut.
-
BENTUK RITUAL NGADU ELMU PADA TRADISI JEBLAG DI PESANTREN DARUL FALAH JAMBUDIPA KECAMATAN WARUNGKONDANG KABUPATEN CIANJURPondok Pesantren Darul Falah dikenal sebagai pondok pesantren tertua di Jawa Barat yang masih merawat nilai-nilai kebudayaan dan ke Islaman. Ritual Ngadu Elmu adalah ritual dalam tradisi jeblag untuk mendapatkan elmu tenaga dalam yang dimana ritual tersebut mengundang makhluk-makhluk ghaib sesuai dengan kemampuan/tingkatan yang dimiliki oleh masing-masing pemain jeblag untuk dipergunakan ketika ngadu elmu pada tradisi jeblag itu berlangsung. Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Darul Falah Jambudipa Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur, tempat dimana tradisi jeblag ini lahir dan berkembang. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif yang dimana terdapat teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi. Dan teknik analasis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Tradisi jeblag merupakan sebuah tradisi yang di dalamnya dijadikan sebagai sarana ritual ngadu elmu yang dimana orang tersebut menguji ilmu jeblag untuk membela diri yang telah dipelajari sesuai dengan tingkatannya. Bagi masyarakat dengan adanya tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur dan tolak bala atas segala sesuatu yang buruk. Pelaksaanan tradisi jeblag dilakukan pada 12 (dua belas) mulud. Simbol yang terkandung dalam tradisi jeblag yaitu simbol kekuatan dan memiliki makna spiritual. Dengan terjaga dan terlestarikannya tradisi jeblag, nilai simbol dan makna yang terkandung di dalamnya tetap utuh dalam kehidupan masyarakat di Desa Jambudipa Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur.
-
INTERAKSI SOSIAL WARGA ETNIS BALI DAN WARGA NON BALI DI KAMPUNG BALI KELURAHAN HARAPAN JAYA KOTA BEKASIPenelitian ini bertujuan untuk menganalisa dinamika interaksi sosial antar warga etnis Bali dan warga non Bali di Kampung Bali Bekasi, kelurahan Harapan Jaya. Kampung Bali Bekasi Kawasan yang multietnis dihuni oleh warga dari latar belakang yang berbeda dalam segi suku dan agama. Di Kampung Bali Bekasi terdiri dari lima etnis seperti, Bali, Jawa, Sunda, Betawi, Ambon, dan Batak. Keberagaman ini menciptakan ruang sosial yang unik, karena warga hidup berdampingan dengan toleransi, kesetaraan, dan saling menghargai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data didapatkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan warga Bali dan warga non Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial di Kampung bali berlangsung dengan inklusif, dapat ditekankan dengan keterlibatan aktif warganya di berbagai kegiatan bersama seperti pada perayaan kegamaan, gotong royong, dan budaya, membentuk kerukunan dalam nilai-nilai multikulturalisme yang muncul di keseharian warga yang saling mendukung. Oleh karena itu, Kampung Bali dijadikan sebagai model kawasan multikultural yang harmonis dan kuatnya intergrasi sosial.
-
POLA PEWARISAN BUDAYA DALAM KESENIAN TRADISIONAL BRAI DI SANGGAR SEKAR PUSAKA KABUPATEN CIREBONBrai merupakan jenis kesenian tradisional tertua di Cirebon. Kesenian tradisional Brai mengalami kurangnya eksibisi. Modernisasi menyebabkan kelompok Brai di kabupaten Cirebon hilang jejak dan tidak lagi muncul di antaranya yaitu, Brai di blok Danalaya desa Tegalsari dan blok Karangbrai di Tengahtani yang telah punah. Namun, Brai dari sanggar Sekar Pusaka tetap menjadi lingkung seni yang aktif mengupayakan pewarisan hingga sekarang. Berdirinya sanggar seni menjadi wadah pembelajaran untuk mewariskan budaya lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teori Pewarisan Budaya Cavalli-Sforza dan Marcuz Feldman (1981). Adapun teknik pengumpulan data melalui observasi partisipan, wawancara tidak terstruktur dan studi literatur. Hasil penelitian ini mengungkapkan terdapat tiga macam pola pewarisan dalam kesenian tradisional Brai yang dilakukan oleh sanggar Sekar Pusaka yaitu, (vertical) atau pewarisan tegak melalui internaliasi dengan mengajak keturunan, kedua (horizontal) atau pewarisan mendatar melalui sosialisasi dari lingkungan hidup masyarakat, dan yang terakhir (diagonal) atau pewarisan miring melalui pendidikan informal berupa kegiatan rutin yang dilakukan oleh sanggar Sekar Pusaka dalam membahas keberlangsungan kesenian tradisional Brai. Terdapat aspek pendukung dan penghambat di tengah pewarisan kesenian tradisional Brai yang dialami sanggar Sekar Pusaka sehingga terjadi beberapa perubahan dalam elemen bentuk keseniannya. Pola pewarisan budaya yang dilakukan oleh sanggar Sekar Pusaka terhadap generasi muda penerus di masa sekarang bertujuan agar kesenian tradisional Brai dapat selalu eksis di masa depan.
-
PERANAN KELOMPOK MUSIK SORA (SOUND OF HERITAGE) DALAM PELESTARIAN MUSIK TRADISIONAL ETNIS NUSANTARA DI KOTA BANDUNGPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peranan kelompok musik SORA dalam pelestarian alat musik tradisional etnis Nusantara seperti angklung yang menghasilkan bunyi-bunyi khas dan unik yang berbeda dengan alat musik universal dan modern lainnya (gitar, bass, drum, piano, keyboard, synthesizer). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan instrumen studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini dianalisis menggunakan Teori Peran milik Soerjono Soekanto. Adapun hasil penelitian menunjukan bahwa dalam setiap karya yang diciptakan oleh komposer-komposer dalam kelompok musik SORA (Sound Of Heritage) merupakan ide konseptual dan interpretasi dari pengalaman sang komposer, salah satunya terinterpretasi dari “Kaulinan Barudak” seperti Bakikik dan Gobak Sodor yang menggunakan alat musik lokal yang dikemas menjadi lebih dinamis.
