Items
Class
Thesis
-
ANGGAKKarya tari Anggak menggambarkan keangkuhan seseorang yang memiliki standar kehidupan tinggi, baik dari segi finansial maupun kecantikan, namun pada akhirnya harus menyesali sifat tersebut. Judul Anggak diambil dari KBBI, yang berarti “angkuh.” karya ini bertujuan untuk menyampaikan nilai sosial yang dipersepsikan sebagai pengendalian diri, agar dapat menjadi cerminan bagi setiap individu. Tarian ini terinspirasi dari legenda Telaga Warna, yang menceritakan tenggelamnya kerajaan Kutatanggeuhan akibat kesombongan Putri Gilang Rukmini. Sifat angkuhnya lahir dari pola asuh orang tuanya yang terlalu memanjakannya, hingga akhirnya membawa malapetaka. Secara bentuk, Anggak merupakan tari kontemporer berbasis tradisi, yang disajikan dalam format tari kelompok. Tarian ini berlandaskan konsep tari dramatik dan menggunakan pendekatan metode garap yang terdiri dari tiga tahap proses: eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Proses penciptaan karya ini melibatkan lima penari perempuan, seorang pemusik, penata cahaya (lighting man), serta penata rias dan busana, sehingga karya tari Anggak dapat terwujud dan optimal.
-
KREATIVITAS ELANG HERRY DALAM PENCIPTAAN TARI MANGGALA YUDA DI SANGGAR SENI SEKAR PANDAN CIREBONElang Herry adalah seorang seniman kreatif yang lahir di lingkungan Keraton Kacirebonan, Kota Cirebon, dengan konsisten menjalani kehidupan berkeseniannya dan produktif dalam menciptakan karya tari, termasuk salah satunya yaitu tari Manggala Yuda. Karya tari ini menggambarkan kegagahan, kewaspadaan, dan kesigapan para prajurit keraton, di dalamnya memiliki ciri khas tersendiri seperti yang terlihat dalam koreografinya misalnya; ngelemprak, nindak, nindak patet, capang, dan laras konda lembean mangku bungkoan. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan informasi akademik yang terstruktur dan sistematis secara deskriptif analisis mengenai Kreativitas Elang Herry dalam Menciptakan Tari Manggala Yuda di Sanggar Seni Sekar Pandan Cirebon. Oleh sebab itu, pertanyaan penelitian dirumuskan bagaimana Kreativitas Elang Herry dalam Menciptakan Tari Manggala Yuda di Sanggar Seni Sekar Pandan Cirebon. Untuk mendapatkan jawabannya, digunakan landasan konsep pemikiran Rhodes yang menyebutkan 4P (Person, Process, Press, Product). Sejalan dengan konsep pemikiran tersebut, digunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis yang secara operasionalnya menggunakan langkah-langkah studi pustaka, studi lapangan, dan analisis data. Adapun dari hasil penelitian ini didapatkan penjelasan sebagai berikut: Pertama, secara bentuk visual, kreativitas tari Manggala Yuda dibangun oleh tiga unsur utama yaitu; struktur koreografi, struktur iringan tari, dan penataan artistik; Kedua, karya tari ini menyampaikan pesan simbolik mengenai gambaran kepahlawanan.
-
ROMKarya Tari “ROM” merupakan karya yang penulis ciptakan dari ketertarikan terhadap keindahan yang terdapat pada burung Cendrawasih, ketertarikan penulis terhadap burung tersebut adalah ketika burung Cendrawasih jantan sedang melakukan Mating dance. Saat Mating Dance burung Cendrawasih melakukan gerakan tarian yang rumit dengan tubuhnya sehingga memperlihatkan Fleksibilitas tubuh burung tersebut sehingga hal tersebut yang menjadi titik fokus dari karya “ROM”. Begitu pula dengan judul yang penulis angkat yaitu “ROM” diambil dari bahasa Inggris dan terdiri dari tiga kata yaitu “Range Of Motion” yang memiliki arti “Rentang Gerak”. Dari inspirasi tersebut penulis membuat sebuah karya Tari kelompok bertipe murni, dengan pendekatan kontemporer kemudian digarap menggunakan metode Y Sumandiyo Hadi yaitu Eksplorasi, Improvisasi, dan Pembentukan. Desain koreografi menggunakan rangsang kinetik dari gerak burung, kemudian digabung dengan gerak sehari hari dan gerak tradisi, lalu di perkuat dengan musik yang memunculkan suara dari instrumen Papua. Rias dan busana yang digunakan menonjolkan keindahan burung Cendrawasih dengan mengambil warna dari bulunya. Panggung yang digunakan yaitu panggung proscenium dan tidak menggunakan Setting apapun di dalam panggung, sedangkan untuk lighthing lebih memperkuat keindahan dan garis-garis pada gerak pada tubuh. Hasil dari karya ini, penulis dapat mewujudkan sebuah karya tari yang bersumber dari perilaku Cendrawasih dan terciptalah sebuah karya yang memiliki inovasi dalam visualisasi dan proses penggarapannya serta terdapat keunikan yang bisa menyampaikan ke semua orang tentang keindahan atau nilai estetika dari Burung Cendrawasih yang diadaptasikan kedalam gerak tubuh manusia.
-
TARI TALAK SI JANTUK DI SANGGAR MARGASARI KACRIT PUTRA KABUPATEN BEKASITari Talak Si Jantuk merupakan tari kreasi yang diciptakan pada tahun 2014 oleh Selvia Erviliani di sanggar Margasari Kacrit Putra. Tarian ini terinspirasi dari pertunjukan Topeng Lenong Betawi dan kisah Bapa Jantuk. Gerak pada tari ini mengadopsi gerak tari tradisi Topeng Betawi dan silat yang kemudian di kembangkan menjadi gerak kreasi, kostum tarinya merupakan hasil modifikasi dari kostum tradisi serta pengembangan karakter Jantuk dan iringan tari yang digunakan yaitu gamelan Topeng Betawi. Hal tersebut yang menjadikan ketertarikan penulis untuk mengkaji tarian ini dengan fokus kajian pada struktur Tari Talak Si Jantuk di Sanggar Margasari Kacrit Putra di Kabupaten Bekasi. Penelitian ini menggunakan landasan konsep pemikiran Y. Sumandiyo Hadi mengenai struktur Tari meliputi: gerak tari, ruang tari, iringan tari, judul tari, tema tari, tipe tari, mode penyajian, jumlah penari dan jenis kelamin, rias dan kostum tari, tata cahaya dan properti tari. Metode yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif melalui pendekatan deskriptif analisis dengan menggunakan langkah-langkah pengumpulam data yang terdiri dari studi pustaka, studi lapangan (observasi, wawancara, dokumentasi) dan analisis data. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa tiap komponen struktur yang ada memiliki keterkaitan satu sama lain sehingga menjadi sebuah satu kesatuan yang utuh, milai dari gerak tari yang merupakan pengembangan dari gerak tradisional, rias serta kostum yang pengembangan dari kostum tradisi serta pengembangan karakter Jantuk, hingga segala komponen pun mendukung tema serta karakter dari tarian tersebut.
-
KREATIVITAS WAWAN KURNIA DALAM TARI NGARUWAT GONDEWA DI SANGGAR KUTALARAS KABUPATEN CIANJURKetertarikan penulis terhadap eksistensi seni tradisi yang mengalami pergeseran dan kecenderungan terpinggirkan, khususnya cerita pantun dalam budaya Sunda menjadi dasar dilakukannya kajian terhadap karya tari Ngaruwat Gondewa. Tarian ini diciptakan oleh Wawan Kurnia pada tahun 2013 di Sanggar Kutalaras, Cianjur, sebagai upaya pelestarian budaya melalui media tari kreasi baru. Tari Ngaruwat Gondewa mengangkat kisah Mundinglaya Dikusumah, dengan menampilkan karakter utama Mundinglaya dan Nyi Mas Padmawati. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kreativitas, nilai budaya, dan peran tari ini sebagai media pewarisan budaya. Rumusan masalah mencakup bagaimana kreativitas dibangun dan diterapkan dalam penciptaan karya ini. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Landasan untuk menjawab permasalahan menggunakan teori 4P dari Mel Rhodes yakni person, process, press, product. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek person, Wawan Kurnia memiliki kapasitas personal berupa pengetahuan budaya, keterampilan teknis, serta kepedulian terhadap pelestarian tradisi. Pada aspek process, penciptaan karya ini melalui tahapan persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Pada aspek press, dorongan muncul dari keprihatinan terhadap lunturnya cerita pantun dan dukungan lingkungan sanggar. Sementara pada aspek product, Tari Ngaruwat Gondewa menjadi karya yang memiliki nilai edukatif dan artistik, serta efektif sebagai media pelestarian budaya lokal. Penelitian ini menegaskan bahwa kreativitas dalam seni tradisi memerlukan integrasi antara kapasitas individu, proses reflektif, lingkungan pendukung, dan produk yang kontekstual.
-
TARI SIM SIM KARYA KARTINI KISAM DI SANGGAR RATNA SARI JAKARTA TIMURTari Sim Sim hasil kreativitas Kartini Kisam diciptakan pada tahun 1997 di Sanggar Ratna Sari Kecamatan Ciracas Jakarta Timur, tari ini menggambarkan kegembiraaan anak-anak Betawi setelah pulang mengaji. Pembahasan penelitian difokuskan pada kreativitas Kartini Kisam dalam menciptakan Tari Sim Sim, Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan kejelasan mengenai kreativitas Kartini Kisam, dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan konsep kreativitas pemikiran Rhodes 4P meliputi Person ,Proses,Press, Produck. Tahapan pengumpulan data yang dilakukan melalui: studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumentasi. Kreativitas 4P dijelaskan sebagai berikut: Tahap pribadi dieksplanasi dengan pendapat Carl Jung mengenai ketidaksadaran memainkan peranan yang amat penting dalam kreativitas tingkat tinggi. Tahap Proses dieksplanasi dengan pendapat Alma M. Hawkins mengenai proses kreatif yang terdiri atas lima fase yaitu merasakan, menghayati, mengkhayalkan, mengejewantahkan, dan memberi bentuk. Tahap Pendorong dieksplanasi dengan pendapat Amabile mengenai motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, tahap produk dieksplanasi dengan pendapat Iyus Rusliana mengenai Isi Tari dan Bentuk Tari.
-
TARI RINEKA DEWI KARYA INDRAWATI LUKMAN DI STUDIO INDRA KOTA BANDUNGTari Rineka Dewi merupakan tari kreasi baru yang diciptakan oleh Indrawati Lukman pada tahun 1971. Judul tarian ini memiliki arti yaitu Rineka menurut Indrawati dibuat dalam bahasa Sunda berarti beraneka atau beragam dan Dewi menurut KBBI yaitu sosok perempuan yang memiliki kekuatan ilahiah atau adikodrati namun dalam tarian ini dewi diartikan sebagai gadis yang cantik dan indah. Tari ini disajikan oleh penari putri secara kelompok yang menggambarkan kemolekan para dan kecantikan gadis yang sedang berhias mempercantik diri dan bersenda gurau. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis yang berupa penjelasan dengan berdasar kepada data yang ditemukan. Peneliti mengambil fokus dari estetika pada Tari Rineka Dewi dengan menggunakan konsep estetika A.A.M Djelantik yang menjelaskan bahwa aspek yang terdapat dalam estetika meliputi wujud (bentuk dan struktur), bobot (isi tarian yang mencakup suasana, gagasan, dan pesan), dan penampilan (bakat, keterampilan, dan sarana atau media yang mencakup rias busana, tata panggung, dan tata cahaya). Adapun tujuan dan hasil dari Tari Rineka Dewi ini dapat dieksplanasi berdasarkan teori estetika beserta aspek-aspek di dalamnya, sehingga tulisan ini dapat menjadi bahan kajian berikutnya.
-
DUGA RUMEKSAKarya tari Duga Rumeksa mengangkat fenomena sosial yang marak terjadi di kalangan masyarakat khususnya remaja, yaitu perjudian online yang kini menjadi gaya hidup baru akibat pengaruh perkembangan zaman. Judul karya tari Duga Rumeksa berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti “Pemikiran atau Pandangan kedua”, mereprsentasikan refleksi atas kondisi sosial yang terjadi. Tema utama yang diangkat dalam karya tari ini adalah perjuangan, dengan fokus pada dampak negatif dari aktivitas perjudian online terhadap kehidupan individu dan masyarakat. Tari ini digarap dengan pendekatan dramatik agar pesan sosial yang ingin disampaikan dapat diterima secara emosional oleh apresiator. Proses penciptaan karya menggunakan metode penciptaaan tari menurut Y. Sumandiyo Hadi, yang dilandasi oleh konsep garap Jacqueline Smith dalam Autard. Pola garap yang digunakan bersifat kontemporer dan bersumber dari gerak keseharian. Karya ini disajikan dalam bentuk kelompok oleh tujuh orang penari, dan disusun dalam bentuk baru yang inovatif dengan harapan dapat diterima oleh masyarakat serta menjadi sarana edukasi sosial melalui media seni pertunjukan.
-
SEA BELLSIde gagasan dalam Karya ini terinspirasi dari hewan Biota Laut yaitu ubur- ubur berjenis Moonjellyfish. Bentuk tubuh ubur-ubur seperti lonceng dan transparan serta memiliki keunikan terutama dalam cara gerak sehingga menjadi ketertarikan tersendiri bagi penulis. Karya ini diberi judul “SEA BELLS”, merupakan sebutan lain dari hewan ubur-ubur di ambil dari bahasa inggris yang mempunyai arti Lonceng Laut, karna tubuhnya memiliki bentuk seperti lonceng serta habitatnya di laut. Karya ini menggunakan pendekatan kontemporer bertipe murni dengan metode Alma M. Hawkins meliputi eksplorasi, improvisasi (evaluasi), dan komposisi. Penulis dalam garapan ini lebih memfokuskan pada kebiasaan bergerak yang dilakukan ubur-ubur bulan yang di padukan dengan gerak dan gerak sehari-hari serta di olah melalui tenaga, ruang, dan waktu. Karya tari ini bertujuan menyampaikan nilai-nilai keindahan dan kebersamaan. Karya ini dikemas dalam bentuk tari kelompok yang berjumlah 7 orang penari, 5 penari perempuan, dan 2 orang penari laki-laki, serta melalui proses komposisi sehingga terciptanya satu kesatuan yang utuh.
-
TARI SEKE KARYA SUDRAJAT DI SANGGAR DAPUR SENI FITRIA CIMAHITari Seke yaitu sebuah tarian bergenre Tari Jaipongan karya Sudrajat di Sanggar Dapur Seni Fitria Kota Cimahi. Seke berasal dari bahasa Sunda yang memiliki arti mata air, kehadiran tari Seke secara tidak langsung menggambarkan nilai- nilai dan pelestarian alam khususnya mata air. Tarian ini disajikan oleh tujuh orang penari berjenis kelamin perempuan, sejak tahun 2017 karya tari Seke telah dijadikan icon Kota Cimahi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Struktur Tari Seke Karya Sudrajat di Sanggar Tari Dapur Seni Fitria di Kota Cimahi, adapun metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dan menggunakan landasan konsep pemikiran dari teori struktur Y. Sumandiyo Hadi yang memiliki sebelas aspek. Hasil dari penelitian ini tari Seke Karya Sudrajat di Sanggar Tari Dapur Seni Fitria Cimahi memiliki gerak tari yang terstruktur, mulai dari gerak tari, ruangan tari, iringan atau musik tari, tema tari, judul tari, jenis tari, rias dan kostum tari, tata cahaya, dan properti tari. Dari sebelas aspek tersebut memiliki korelasi yang saling berkaitan.
-
SELVIA ERVILIANI KREATOR TARI GEOL MANIS DI MARGASARI KACRIT PUTRA KABUPATEN BEKASITari Geol Manis merupakan karya tari kreasi baru yang diciptakan pada tahun 2018 oleh Selvia Erviliani di Sanggar Margasari Kacrit Putra. Tarian ini menceritakan tentang anak-anak gadis remaja yang sedang dalam proses pendewasaan diri dan masa senang bergaul. Penamaan Tari Geol Manis diambil dari gerakan geol yang berarti menggoyangkan pinggul, di mana dapat dikembangkan menjadi banyak variasi gerak. Sedangkan kata ‘manis’ di sini diartikan sebagai pemanis atau pemikat karena gerakan-gerakan dalam tari ini dibuat dinamis, lincah, dan dapat menarik perhatian. Tari Geol Manis diciptakan sebagai tari tontonan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, serta teknik pengumpulan data yang terdiri dari studi pustaka, observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisis data. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kreativitas Selvia Erviliani dalam menciptakan Tari Geol Manis. Oleh karena itu, untuk menganalisisnya digunakan teori kreativitas dari Rhodes yang isinya terdiri dari Person (Pribadi), Process (Proses), Press (Dorongan), dan Product (Produk). Adapun hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Selvia merupakan pribadi yang kreatif, ia banyak menciptakan karya tari kreasi baru melalui sebuah proses eksplorasi, improvisasi, dan komposisi (memberi bentuk) dengan ciri khas nya tersendiri.
-
STRUKTUR TARI ENGGANG MELENGGANG KARYA RISNA HERJAYANTI DI KABUPATEN BERAUTari Enggang Melenggang ini diciptakan oleh Risna Herjayanti koreografer asal Kabupaten Berau, Kalimantan Timur pada tahun 2015. Karya tari ini terinspirasi dari simbolisme Burung Enggang sebagai makhluk yang dihormati dalam budaya Dayak Kenyah, dengan penyajian yang memadukan elemen tradisional dan kontemporer. Tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis struktur Tari Enggang Melenggang berdasarkan teori struktur tari menurut Y. Sumandiyo Hadi yang mencakup sebelas aspek tari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Teknik pengumpulan data meliputi studi pustaka, observasi, wawancara, dokumentasi, dan triangulasi. Data dianalisis secara sistematis untuk memperoleh gambaran menyeluruh tentang struktur tari yang mencakup aspek gerak, ruang, iringan, judul, tema, tipe/jenis, mode penyajian, jumlah dan jenis kelamin, rias dan kostum, tata cahaya, dan properti tari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Enggang Melenggang memiliki struktur yang terencana, di mana seluruh elemen tari mendukung penyampaian isi secara estetis. Gerak yang terinspirasi dari Burung Enggang, penggunaan property Kirip, serta iringan musik gabungan alat tradisional dan EDM membentuk satu kesatuan yang harmonis. Korelasi antara kesebelas aspek menciptakan karya yang memiliki nilai estetis dan representative terhadap kearifan lokal budaya Dayak.
-
BAGJAKarya tari dengan judul BAGJA berasal dari Bahasa sunda yang berarti “Bahagia”. Judul ini terinspirasi dari ungkapan kebahagiaan masyarakat Desa Pasirangin, Kecamatan Darangdan. Yang dahulu merayakan turunnya hujan sebagai anugrah melalui kesenian domyak. Dalam proses penciptaan karya tari, inspirasi menjadi titik awal yang penting bagi seorang koreografer, untuk menerjemahkan nilai budaya kedalam bentuk gerak. Karya tari BAGJA mengangkat kesenian domyak sebagai sumber ide utama, dengan menitikberatkan kepada nilai kekompakan yang mencerminkan rasa Syukur pada Masyarakat. Adapun proses dalam karya tari ini digarap dengan menggunakan metode Sumandiyo Hadi (2003:70) dan diwujudkan dengan menggunakan landasan konsep garap walas yang menyatakan empat komponen dalam struktur tari, meliputi: persiapan, inkubasi, iluminasi, verifikasi, dengan pendekatan dramatic dan pola garap kontemporer. Penyajian Karya dilakukan dalam bentuk tari kelompok yang dibawakan oleh tujuh penari, terdiri dari lima Perempuan dan dua laki-laki. Pengolahan gerak dalam karya ini merupakan hasil eksplorasi dari unsur-unsur tradisi domyak yang dikembangkan secara kreatif agar tetap relevan dalam konteks pertunjukan tari kontemporer. BAGJA tidak hanya menghadirkan aspek esteti, tetapi juga menjadi symbol harapan, rasa Syukur, dan ikatan social dalam kehidupan Masyarakat,
-
KROLOCITAKarya penciptaan tari Krolocita terinspirasi dari fenomena sosial yaitu perselingkuhan, karya tari ini menggambarkan luka emosional akibat pengkhianatan dalam relasi personal, khususnya yang dialami oleh perempuan, serta menjadi medium untuk menyuarakan pemulihan, kekuatan, dan penghargaan terhadap martabat perempuan. Judul ini diambil dari dua kata yaitu Kroda dan Anglocita yang mempunyai arti; Kroda artinya amarah, sedangkan Anglocita berartikan ungkapan isi hati. Penciptaan karya ini menggunakan pendekatan teori kreativitas dua tingkat dari Mark A. Runco Teori ini menekankan dua komponen utama yaitu proses (motivasi dan pengetahuan) serta kemampuan kreatif (penemuan masalah, ideasi, dan evaluasi). Menggunakan pendekatan tari kontemporer, dengan tipe tari dramatik karena memunculkan konflik dan penyelesaian dan disajikan dalam bentuk tari kelompok berjumlah satu penari laki-laki dan tujuh penari perempuan, yang menitik fokuskan pada perselingkuhan dan memiliki tema amarah. Tahapan eksplorasi, komposisi, dan evaluasi dilakukan secara kolaboratif bersama penari, komposer, dan tim artistik, guna memastikan kesatuan antara tema, gerak, musik, dan visualisasi panggung. Hasil karya ini menunjukkan bahwa proses kreatif yang terstruktur, dengan landasan teoritik yang kuat, mampu menghasilkan karya tari yang estetis, komunikatif, dan reflektif. Krolocita menjadi media untuk menyampaikan pesan bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk bangkit, layak bahagia, dan layak dihormati.
-
TARI RAKEAN KALANG SUNDA KARYA TOTO SUGIARTO DI SANGGAR ANGGITASARI KABUPATEN SUKABUMITari Rakean Kalang Sunda merupakan sebuah repertoar tari Kreasi Baru yang diciptakan oleh Toto Sugiarto pada tahun 2011 di Sanggar Anggitasari, mengangkat tentang cerita pantun yang ada di Kabupaten Sukabumi. Tarian ini ditarikan oleh lima orang penari laki-laki yang menggambarkan tentang karakter gagah, lincah, perkasa serta sakti pada tokoh Rakean Kalang Sunda. Keunikan dari tarian ini adalah gerak yang mengadopsi dari gerak tari tradisi Sunda yang dikreasikan dengan gerak-gerak akrobatik. Oleh sebab itu, fokus permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan bagaimana estetika tari Rakean Kalang Sunda karya Toto Sugiarto di Sanggar Anggitasari. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan informasi akademis secara deskriptif dan analisis mengenai estetika Tari Rakean Kalang Sunda. Untuk mendapatkan jawaban pada penelitian ini yaitu menggunakan landasan konsep pemikiran yang bersifat teoritik Estetika Instrumental dari Djelantik yang akan menjadi pisau bedah dalam penelitian ini. Sejalan dengan konsep pemikiran tersebut, digunakan pendekatan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dengan langkah-langkah operasional meliputi; studi pustaka, studi lapangan (observasi, wawancara, dan dokumentasi). Adapun hasil dari penelitian ini menunjukan, bahwa tari Rakean Kalang Sunda dibentuk oleh tiga unsur estetika utama yaitu; wujud tari, bobot tari, serta penampilan yang saling berhubungan yang menjadi sebuah kesatuan yang utuh.
-
NIEMAKarya penciptaan tari dengan judul Niema merupakan karya yang terinpirasi dari kehidupan sosial saat ini, dimana banyak seorang ibu yang mengalami kecemasan pasca melahirkan atau bisa disebut dengan istilah sindrom baby blues. Karya tari ini berjudul Niema berasal dari Bahasa arab yang berarti rahmat atau karunia. Karya tari Niema bertemakan literer tentang perjuangan seorang ibu terhadap kodratnya sebagai wanita dengan tipe dramatik yang digarap secara berkelompok yakni lima penari perempuan dengan pola garap kontemporer yang dihasilkan dari proses distorsi dan stilasi dari gerak keseharian sehingga menghasilkan sebuah pembaruan. Adapun tahapan metode garap yang dikemukakan oleh Sumandiyo Hadi yang meliputi eksplorasi, evaluasi, dan komposisi sehingga dapat menjadi sebuah karya tari yang utuh. Dalam mewujudkan karya tari ini memiliki pesan moral yang dapat dipahami dan dapat menjadi sumber inspirasi bagi apresiator serta bertujuan untuk menambah wawasan dan menambah jenis karya tari yang terinspirasi dari fenomena sosial. Hasil yang dicapai dari proses karya tari Niema, sebagai informasi penting bahwa wanita harus menerima kodrat yang diberikan oleh Tuhan.
-
GOALSKarya tari dengan judul GOALS merupakan sebuah karya tari kontemporer yang terinspirasi dari permainan futsal. GOALS berasal dari bahasa Inggris yang memiliki arti tujuan akhir yang ingin dicapai. Gagasan utama dalam Karya ini adalah perjuangan seorang pemain futsal yang mengalami intimidasi dari lawan yang licik dan bermain kasar. Karya ini menggambarkan proses panjang yang harus dilalui oleh pemain untuk mencapai tujuan akhir, yaitu goals, sebuah istilah yang juga bermakna atau pencapaian akhir. Penciptaan karya ini menggunakan metode eksplorasi, improvisasi, dan seleksi. Sumber gerak diambil dari aktivitas keseharian seperti berjalan, berlari, berguling serta gerak futsal yang di distorsi dan distilisasi untuk menghasilkan bentuk gerak baru yang ekspresif. Karya ini digarap dengan pendekatan dramatik dalam gaya tari kontemporer, mengangkat tema perjuangan sebagai fokus utama. Hasil akhir dari proses ini adalah terwujudnya sebuah karya tari yang utuh, yang tidak hanya menampilkan estetika gerak tetapi juga menyampaikan pesan tentang semangat perjuangan, ketekunan dan keberanian dalam menghadapi tantangan untuk mencapai tujuan
-
IBING TEPAK DUA ZNER DI PAGURON MUSTIKA SIMPAY WARGI KABUPATEN BANDUNGIbing Tepak Dua Znér merupakan perkembangan dari pencak silat yang berasal dari Kabupaten Bandung. Ibing Znér ini dimiliki oleh Iim komalawati di Paguron Mustika Simpay Wargi, Kabupaten Bandung. Ibing Znér ini disusun bersama Atep sebagai pelatih dari Paguron Budhi Kancana. Ibing Znér merupakan ibingan yang menggunakan jurus-jurus pencak silat dari aliran Cikalong dan Cimande. Ibing Znér memiliki gerak ciri khas yaitu bandungbanters, gatotkaca ngawang-ngawang dan sumsangsumel yang menjadi daya tarik penelitian ini. Penelitian ini menggunakan landasan konsep pemikiran Y. Sumandyo Hadi mengenai struktur tari yang terdiri atas; gerak tari, ruang tari, iringan tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah penari, jenis kelamin, rias kostum tari, tata cahaya, dan properti tari. Metode yang digunakan ialah metode penelitian kualitafif melalui pendekatan deskriptif analisis dengan menggunakan langkah-langkah pengumpulan data meliputi; observasi, wawancara, dokumentasi, triangulasi; analisis data. Hasil dari penelitian ini ialah terungkapnya struktur Ibing Tepak Dua Znér yang saling berkorelasi antar aspek-aspeknya. Adapun struktur tarinya terdiri atas; tiga susunan ragam gerak yaitu tepak dua, tepak tilu dan padungdung. Tarian ini ditampilkan di panggung prosenium menggunakan seperangkat alat kendang penca sebagai pengiring tarinya. Tari ini berjudul Ibing Znér dengan tema Kegagahan Wanita, tergolong pada tari tradisi kerakyatan dengan tipe murni tidak bercerita. Disajikan secara simbolis-representasional, secara Tunggal dan hanya dapat dimainkan oleh perempuan. Ibing Znér menggunakan kostum pangsi, iket, dan sabuk dengan menggunakan properti tari berupa kujang, trisula dan golok. Adapun struktur tari ini saling berkorelasi antar aspek-aspek tarinya, sehingga menjadi sebuah pertunjukan yang utuh.
-
TARI JAIPONGAN GALUDRA KARYA NENI SURYANI DI SANGGAR CITRA BUDAYA KABUPATEN BOGORTari Jaipongan Galudra yang diciptakan oleh Neni Suryani di Sanggar Citra Budaya bertemakan perjuangan, daya tariknya terletak pada gerak hiber yang mengolah sampur sebagai sayap, ngepak muka, pasang ngalaga. Berdasarkan daya tarik tersebut, pertanyaan penelitian dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana struktur Tari Jaipongan Galudra karya Neni Suryani di Sanggar Citra Budaya?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis secara deskriptif analisis struktur Tari Jaipongan Galudra. Landasan konsep pemikiran yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada konsep pemikiran struktur tari dari Y. Sumandiyo Hadi, meliputi sebelas komponen yaitu: gerak tari, ruang tari, iringan/musik tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah penari dan jenis kelamin penari, rias dan kostum tari, tata cahaya, serta properti tari. Adapun dalam operasionalnya menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis serta menggunakan langkah-langkah; pengumpulan data, studi lapangan, dan analisis data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, bahwa struktur penyajian koreografi dari Tari Jaipongan Galudra dibangun oleh empat ragam gerak (konstruksi) tari, yaitu; bukaan, nibakeun, pencugan, dan mincid. Keempat konstruksi tersebut, terwujudkan dalam suatu struktur tari yang meliputi: Pertama, struktur koreografi terdiri atas intro, lagu Galudra irama lalamba embat sawilet, naek lagu Galudra irama jalan embat dua wilet. Kedua, karawitan iringan tari dengan menggunakan struktur intro, lagu Galudra irama lalamba embat sawilet, naek lagu Galudra irama jalan embat dua wilet. Ketiga, busana; apok, daleman tile, rok, celana sontog, dan sabuk dan dilengkapi dengan kace serta riasan rambut dan wajah. Daya tarik lainnya, yaitu sampur yang dibentuk berupa sayap pada bagian bahu.
-
NGLEKERKarya tari ini terinspirasi dari permainan tradisional anak-anak yang berasal dari Yogyakarta, yaitu Permainan Jamuran. Permainan ini memiliki kesan yang sangat energik dan biasanya dimainkan di luar ruangan atau di halaman yang cukup luas, serta melibatkan jumlah pemain yang tidak terbatas. Gerak dominan dalam permainan Jamuran bersifat melingkar. Hal ini terlihat dari cara bermainnya, di mana satu orang berdiri di tengah sebagai batang atau pusat, sementara pemain lainnya bergandengan tangan membentuk lingkaran mengelilingi batang tersebut. Berdasar karakter permainan tersebut, karya tari ini diberi judul “Ngleker”. Kata “Ngleker” diambil dari bahasa Jawa yang berarti melingkar, sejalan dengan pola gerak utama yang digunakan dalam permainan Jamuran. Karya tari “Ngleker” digarap dalam bentuk tari kelompok yang ditarikan oleh tujuh orang penari. Tari ini bertipe murni dan mengangkat tema non-literer. Proses kreatif penciptaannya menggunakan metode tari kontemporer yang dikemukakan oleh F.X. Widaryanto yang meliputi tiga tahapan utama: eksplorasi, komposisi, dan evaluasi. Pola gerak serta karakter energik Permainan Jamuran menjadi dasar dalam penciptaan karya ini, kemudian dipadukan dengan gerak-gerak sehari-hari yang diperkuat melalui pengolahan unsur teknik tari seperti tenaga, ruang, dan waktu. Melalui proses tersebut, lahirlah sebuah karya tari berjudul “Ngleker” sebuah interpretasi artistik dari semangat permainan tradisional dalam bentuk ekspresi tari kontemporer.
-
TARI JAIPONGAN KIDUNG SILAYUNG KARYA AYEP DI PADEPOKAN SENI TUNJUNG BALEBAT KABUPATEN BANDUNG BARATAbah Ayep merupakan seorang kreator Tari Jaipongan yang konsisten dan produktif menciptakan karya Tari Jaipongan, salah satunya adalah tari Jaipongan “Kidung Silayung”. Karya tari ini memiliki daya tarik tersendiri, terutama dari aspek gerak yang khas seperti; ngecrik dalam kegiatan nelayan ketika menangkap ikan, liukan gerakan ikan, dan beberapa jurus penca. Karya tari ini terinspirasi dari kondisi kerusakan lingkungan Situ Ciburuy yang diusung menjadi tema. Adapun fokus penelitian ini tertuju pada bagaimana kreativitas Ayep dalam menciptakan Tari Jaipongan Kidung Silayung di Padepokan Seni Tunjung Balebat Kabupaten Bandung Barat. Landasan konsep pemikiran Rhodes mengenai 4P (Person, Process, Press, Product) digunakan sebagai acuan untuk mendapatkan jawaban, sejalan dengan konsep pemikiran tersebut, dalam operasionalnya digunakan metode Kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dengan langkah-langkah meliputi; studi pustaka, studi lapangan, dan analisis data. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa wujud karya tari Kidung Silayung ini memiliki dua dimensi, yaitu: Pertama, kreativitas Ayep dalam penciptaan Tari Jaipongan Kidung Silayung sangat ditentukan oleh adanya person, process, press, product sebagaimana disampaikan Rhodes (4P) yang masing-masing membangun keterkaitan erat saling mempengaruhi dan melengkapi menjadi satu kesatuan bentuk yang utuh secara visual estetik-artistik; Kedua, karya tari Jaipongan Kidung Silayung mampu menyampaikan pesan moral dan sosial kepada masyarakat seperti yang terkandung dalam tema Tari Jaipongan Kidung Silayung yaitu agar lebih peduli terhadap pelestarian alam yang terkandung dalam kearifan budaya lokal. Dengan demikian, proses kreatif Ayep menghasilkan karya tari yang otentik dan bermakna.
-
CHANCHALAHProses kreatif penciptaan karya tari ini mengangkat tentang persoalan nikah siri yang banyak terjadi di berbagai daerah termasuk di Jawa Barat. Karya tari ini diberi judul “Chanchalah” berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti resah. Resah yang dimaksudkan dalam karya tari ini adalah perasaan dari seorang perempuan yang mengalami kekecewaan akibat nikah siri, serta sebuah keinginan untuk keluar dari persoalan tersebut. Diharapkan persoalan yang dijadikan sebagai gagasan karya tari ini dapat menjadi sebuah pesan edukasi bagi perempuan terhadap dampak nikah siri. Karya tari ini menggunakan metode pola garap tari kontemporer dengan tipe tari dramatik, berbentuk tari kelompok yang ditarikan oleh lima orang penari (tiga orang perempuan dan dua orang laki-laki). Landasan konsep garap tentang tipe dramatik yang dipakai pada karya ini adalah konsep Jacqueline Smith, sedangkan untuk metode penciptaan menggunakan metode Y. Sumandiyo Hadi yang meliputi tahap Eksplorasi, Improvisasi dan Komposisi. Adapun capaian dari karya “Chanchalah” ini adalah untuk pengingat pada masyarakat supaya mentaati peraturan Agama dan Negara. Karya ini diharapkan dapat menyampaikan pesan moral tentang akibat yang sangat rentan dalam pernikahan siri baik terhadap individu dirnya sendiri maupun keluarga.
-
NAFIQNAFIQ berasal dari bahasa Arab memiliki arti munafik. Karya tari ini mengisahkan tentang seorang manusia (perempuan) pilihan yang memiliki sifat egois. Proses penciptaan karya NAFIQ yang terinspirasi dari kesenian Sintren khususnya dari Cirebon. Sintren merupakan kesenian yang mengandung unsur magis dan hanya dapat dimainkan oleh orang tertentu. Karya tari ini berfokus pada sosok penari Sintren yang diyakini bukan sembarang orang. Dalam tafsir penulis, ditunjukan bahwa manusia tidaklah sempurna: mereka memiliki sisi baik dan buruk, namun selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Landasan teori yang digunakan dalam karya tari ini kreativitas dari Wallas, sementara metode garap yang digunakan merujuk pada pendekatan Y. Sumandiyo Hadi. Karya tari NAFIQ disajikan dalam bentuk tari kelompok, bertipe dramatik dan diwujudkan dalam pola garap kontemporer. Sebuah karya tari tidak akan terwujudtanpa dari tiga unsur utama, yaitu koreografi, musik, dan artistik. Hasil yang dicapai dari karya tari NAFIQ, sebagai pelajaran bagi manusia bahwa tidak boleh bersikap egois.
-
KAMAKama merupakan judul dari karya tari ini, diambil dari kata sansekerta, yang mempunyai arti keinginan. Keinginan yang dimaksud dalam karya tari ini adalah keinginan untuk memperjuangkan serta memajukan pendidikan bagi kaum perempuan. Karya ini terinspirasi dari salah satu tokoh Garut yaitu Raden Ayu Lasminingrat yang merupakan pahlawan pendidikan bagi kaum perempuan. Karya tari ini mencoba menafsirkan kembali perjuangan Raden Ayu Lasminingrat dalam bidang pendidikan. Karya Kama berfokus pada semangat perempuan dan keberanian dalam memperjuangkan pendidikan untuk kaum perempuan. Adapun nilai dalam karya tari ini adalah tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan agar memperoleh hak yang setara serta kesempatan yang sama dalam kehidupan. Karya tari ini ditarikan dengan bentuk kelompok, bertipe dramatik, serta menggunakan pola garap tari kontemporer. Proses penciptaan karya tari ini menggunakan motode garap Y. Sumandiyo Hadi yang meliputi beberapa tahapan yaitu eksplorasi, Improvisasi dan komposisi. Adapun capaian karya ini yaitu untuk mengapresiasi perjuangan Raden Ayu Lasminingrat dalam menyebarluaskan semangat perempuan dalam meningkatkan akses pendidikan bagi perempuan. Merepresentasikan nilai-nilai emansipasi serta memperkuat peran seni pertunjukan sebagai pewaris nilai-nilai historis.
-
BURUNG PHOENIX SEBAGAI CITRA PERUSAHAAN INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI MONUMENTAL, BASED PROJECT PERUSAHAAN PENGEMBANG PERUMAHAN SUBSIDI DAN KOMERSIL PT.PANCA MULIA PERSADAPenelitian ini berfokus pada penciptaan karya seni patung monumental yang merepresentasikan citra perusahaan PT. Panca Mulia Persada, sebuah pengembang perumahan subsidi dan komersial. Patung monumental ini menggunakan simbol Burung Phoenix sebagai elemen utama, yang melambangkan pembaruan, kebangkitan, dan transformasi. Dalam konteks ini, Burung Phoenix dipilih karena relevansinya dengan visi dan misi perusahaan yang selalu berusaha untuk mengubah lahan yang belum berkembang menjadi kawasan hunian yang bernilai dan berkelanjutan. Penelitian ini membahas pentingnya seni patung monumental dalam memperkuat identitas visual wilayah, khususnya dalam sektor pembangunan perumahan. Patung yang dihasilkan tidak hanya bertujuan sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai instrumen komunikasi untuk memperkenalkan nilai-nilai perusahaan kepada masyarakat luas. Dengan menggunakan teknik cetak resin, karya ini diharapkan dapat menciptakan hubungan emosional antara penghuni dengan lingkungan tempat tinggal mereka, sekaligus memperkuat citra perusahaan sebagai pengembang yang visioner dan peduli terhadap budaya lokal. Melalui pendekatan ini, penelitian ini juga mengkaji tantangan dan realitas dalam penciptaan karya seni monumental di ruang publik, yang seringkali berinteraksi dengan berbagai kepentingan eksternal dan keterbatasan sumber daya.
