Items
-
MASIEUP DIRI (Penyajian Kacapi dalam Tembang Sunda Cianjuran)“Masieup Diri” adalah judul sajian tugas akhir penyajian kacapi dalam tembang sunda cianjuran. Lagu-lagu yang dibawakan pada sajian tugas akhir ini terdiri dari beberapa wanda ialah wanda pasieupan, dedegungan, rarancagan. Laras yang disajikan yaitu laras degung, laras sorog, dan laras mandalung. Sajian yang berjudul “Masieup Diri” ini merupakan konsep garap secara konvensional. Sajian ini berlatar belakang kurangnya eksistensi tembang sunda cianjuran di Cianjur, maka dari itu untuk meningkatkan kesadaran terhadap masyarakat khusunya di Cianjur. Alat musik yang digunakan adalah kacapi indung, rincik, kenit, dan suling. Menambahkan jembatan atau peralihan antar laras. Pendekatan teori yang digunakan dalam sajian ini adalah teori garap yang dikemukakan dalam buku “Bothekan Karawitan II: Garap”oleh Rahayu Supanggah.
-
PANANGTANG SORA NU MIDANG“PANANGTANG SORA NU MIDANG” merupakan penyajian kendang dalam ketuk tilu yang disajikan secara konvensional. Arti kata panangtang diambil dari salah satu repertoar dalam ketuk tilu yaitu tépak panangtang, sora berarti suara, nu berarti kata sambung yang dalam dialek bahasa Sunda, dan midang yang berarti menyajikan. Maka dari itu, “panangtang sora nu midang” memiliki makna bahwasannya akan ada seseorang yang menyajikan kendang dalam ketuk tilu tetapi kata ketuk tilu diganti menggunakan salah satu repertoar yang penyaji bawakan. Sajian ini dibawakan secara konvensional ketuk tilu pada umumnya. Secara konvensional, ketuk tilu memiliki pola garap kendang yang berbeda. Pola garap tersebut terbagi kedalam tiga kelompok, di antaranya: a) kelompok lagu yang hanya memiliki pola tépak ibing, b) kelompok lagu yang hanya memiliki pola tépak lagu, c) kelompok yang memiliki pola tépak lagu dan tépak ibing. Pola garap tersebutlah yang menjadikan ciri dan sebuah identitas dari kendang ketuk tilu. Ada pula teori yang digunakan adalah teori Garap yang dikemukakan oleh rahayu supanggah dalam bukunya yang berjudul “Bothekan Karawitan II : Garap. poin penting dari teori ini adalah garap merupakan suatu proses kreatif dari pengrawit dalam menyajikan komposisi gending atau lagu. Keterkaitannya dengan sajian ini adalah proses kreatif penyaji dan pengrawit dalam menjaga keutuhan ketuk tilu secara konvensional.
-
SORA NU NGABALADA (Penyajian Kacapi dalam Kawih Wanda Anyar)“SORA NU NGABALADA” merupakan sebuah judul karya seni yang memiliki arti suara sebagai media untuk menceritakan suatu pesan. Karya seni tersebut pada dasarnya merupakan sebuah penyajian kacapi dalam kawih wanda anyar gaya Mang Koko yang menyajikan tiga repertoar lagu dalam lima laras dan menggunakan seni pantun Sunda sebagai jembatan penyajian antara lagu satu dengan lagu lainnya. Landasan teori garap dari Rahayu Supanggah digunakan sebagai panduan untuk menyajikan karya seni dengan rangkaian proses meliputi proses eksplorasi, evaluasi, dan komposisi, sehingga ditemukan temuan-temuan dalam garapan seperti menggarap lagu kawih wanda anyar dengan format sajian kacapi, gitar dan juru kawih. Adapun temuan dalam mengkolaborasikan kawih wanda anyar dengan seni pantun Sunda dengan membuat cerita fiksi agar terdapat kesinambungan antar lagu yang dibawakan dengan gaya pantun Sunda. Adapun penyaji menemukan sebuah temuan baru dalam mengiringi lagu kawih wanda anyar digarap menggunakan waditra kacapi dan gitar dengan mengatur oktaf waditra tersebut. Jika kacapi memainkan oktaf rendah maka gitar memainkan oktaf tinggi begitupun sebaliknya adapun pengolahan chord di beberapa bagian dengan cara mencari nada harmoni lain yang tidak ada dalam kacapi.
-
“UMBANG AMBING MAWA HARIRING” (Penyajian Rebab Dalam Wanda Celempungan)Karya penyajian ini berjudul ‚Umbang Ambing Mawa Hariring” membahas penyajian waditra rebab dalam kesenian celempungan. Suatu bentuk kesenian yang dipadupadankan dari berbagai instrumen tradisional. Fokusnya adalah eksplorasi rebab sebagai pembawa melodi utama dalam sajian celempungan yang berjudul ‚Umbang Ambing Mawa Hariring”. Penyaji mengadopsi gaya permainan rebab betawi dan lagu yang bernuansa banyumas, serta melakukan inovasi atau pengembangan dengan mengganti waditra gambang menjadi calung renteng untuk memperkaya warna musikal. Penyajian ini bertujuan untuk melestraikan kesenian rebab, memperkenalkan kesenian celempungan ke khalayak luas dengan pendekatan baru, serta menjadi tolak ukur kompetensi penyaji selama masa Studi di ISBI Bandung. Penelitian ini memanfaatkan pendekatan teori laras dan surupan untuk mengembangkan teknik permainan rebab yang lebih variatif dan harmonis dalam kerangka laras salendro, madenda, dan degung. Sumber data diperoleh melalui studi literatur, wawancara dengan praktisi seni, dan analisis audio visual. Hasilnya diharapkan memperkaya khazanah kesenian sunda dan mendorong regenerasi minat terhadap waditra rebab alam seni pertunjukan tradisional.
-
PROSES KREATIF SENI BANGBARONGAN MUNDING DONGKOL KARYA HERMANA HMT DI KOTA CIMAHISeni Bangbarongan Munding Dongkol adalah sebuah karya seni yang menggabungkan unsur seni tari yang mengacu pada gerak dasar tari tradisional dan diiringi oleh musik tradisional Sunda sebagai pengiringnya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode penelitian kualitatif deskriftif dan juga menggunakan pendekatan konsep teori kreativitas empat P yang ditawarkan oleh Mell Rhodes yaitu person, press, process, dan juga product. Teori ini relevan dengan penelitian yang dilakukan karena teori ini dapat mengupas kepribadian Hermana secara detail dan dapat mengetahui proses kreatif Hermana dalam menciptakan suatu seni. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap secara mendalam sosok Hermana HMT sebagai pencipta dan juga mengungkap tahapan proses kreatif yang dilalui Hermana. Pengolahan data yang dihimpun melalui studi pustaka, observasi lapangan, wawancara yang dilakukan kepada pencipta dan pihak-pihak terkait, serta dokumentasi visual dan audio. Hermana HMT dipilih sebagai subjek utama penelitian karena perannya yang sentral dalam penciptaan dan pengembangan seni Bangbarongan Munding Dongkol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses kreatif Hermana berlangsung melalui tahapan yang kompleks dan reflektif, yang melibatkan pemahaman terhadap nilai-nilai tradisional, eksplorasi bentuk dan gerak Bangbarongan, serta upaya menyampaikan pesan sosial melalui media seni. Namun, berkat pengalaman dan ilmu yang Hermana miliki terbukti ia dapat menciptakan dan mendapat apresiasi sosial lokal dan memiliki penerimanaan kultural bahkan sudah diakui oleh berbagai pihak sebagai seni tradisi yang menjadi ikon dari kota Cimahi. Seni Bangbarongan Munding Dongkol tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki fungsi sebagai unsur ritual v dan sarana mempererat hubungan sosial dalam masyarakat. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperkuat pemahaman mengenai dinamika penciptaan karya seni serta pentingnya pelestarian budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
-
SEKAR RAHARJA KIDULAN: GARAP SEKAR ASEP SUNANDAR SUNARYA (Penyajian Sekar Dalang dalam Wayang Golek)“Sekar Raharja Kidulan: Garap Sekar Asep Sunandar Sunarya” adalah karya tugas akhir penyajian sekar dalang dalam pertunjukan wayang golek, sebuah bentuk seni tradisional Sunda yang memadukan unsur musik, vokal, dan narasi. Sekar dalang, memainkan peran penting dalam membangun suasana, menyampaikan pesan moral, serta memperkuat karakter tokoh-tokoh pewayangan. Tujuan penyajian ini adalah untuk menyajikan bentuk penyajian sekar dalang, fungsi estetis dan komunikatifnya, serta pemaknaannya dalam konteks pertunjukan wayang golek secara keseluruhan. Proses pengarapan sajian ini, menggunakan teori Garap menurut Rahayu Supanggah, yang meliputi; materi garap, penggarap, sarana garap, parabot atau piranti garap, penentu garap, dan pertimbangan garap. Kesimpulan dari karya tugas akhir ini menegaskan bahwa sekar dalang merupakan elemen vital dalam wayang golek yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi budaya yang sarat makna.
-
CIANJURAN TI BIHARI KA KIWARI (Penyajian Sekar dalam Tembang Sunda Cianjuran)Tembang Sunda Cianjuran sebagai bagian dari seni suara dalam karawitan Sunda merupakan bentuk kebudayaan yang dinamis dan terus mengalami perkembangan seiring dengan kebutuhan zaman. Perkembangan tersebut tidak hanya terlihat dalam aspek kontekstual saja, tetapi juga dalam aspek tekstual meliputi estetika vokal dan musikal. Beberapa karya seni seperti katem karya Nano S., tembang bandungan dan sekar anyar karya Ubun Kubarsah dan para kolaboratornya, muncul sebagai bentuk kreativitas baru yang mengadaptasi unsur-unsur seni tembang sunda cianjuran. Meskipun sempat menuai perdebatan terkait kesetiaan terhadap pakem tradisi tembang sunda cianjuran itu sendiri, karya-karya tersebut kini mulai diterima dan mulai dijadikan sebagai alternatif materi penyajian tembang sunda cianjuran di berbagai institusi seni khususnya di Jawa Barat. Penyajian karya dalam tugas akhir ini menyajikan lagu-lagu tembang sunda cianjuran klasik dan lagu-lagu hasil perkembangan dari tembang sunda cianjuran meliputi lagu-lagu dalam katem, tembang bandungan, sekar anyar. Hal tersebut bertujuan untuk menginformasikan kepada publik, khususnya publik penggarap, penggemar, dan pemerhati tembang sunda cianjuran bahwa lagu-lagu hasil perkembangan tersebut masih memiliki karakteristik estetika tembang sunda cianjuran. Dengan menggunakan pendekatan teori garap dari Supanggah (2007), dalam proses garap karya ini, penyaji menyimpulkan bahwa walaupun terdapat upaya-upaya kreativitas dalam proses penciptaan lagu-lagu perkembangan tersebut, tetapi piranti garap yang digunakan masih tetap berkarakteristik tembang sunda cianjuran. Melalui penyajian karya ini, diharapkan juga dapat memperkaya pemahaman estetika tembang sunda cianjuran bagi penyaji, sekaligus membangun kesadaran bersama bahwa seni tembang sunda cianjuran pun masih memiliki ruang untuk terus berkembang.
-
TALATAH RASA KU SORA (Penyajian vokal dalam kawih wanda anyar)Karya seni yang berjudul “Talatah Rasa Ku Sora” ini merupakan ungkapan seseorang untuk menyampaikan pesan rasa melalui suara dalam sajian vokal kawih wanda anyar. Sajian ini mengisahkan dua insan yang tidak sengaja bertemu lalu saling menyayangi akan tetapi mereka tidak dapat bersatu dan memiliki. Dengan diiringi oleh alat musik karawitan yang di kolaborasikan dengan alat musik nonkarawitan seperti biola dan drum pad elektrik dengan tujuan untuk menambah kreativitas garap dan menghasilkan harmonisasi melalui berbagai laras dan genre untuk kebutuhan lagu yang dikemas lebih modern akan tetapi tetap mempertahankan esensi kawih wanda anyar. Dalam sajiannya akan dibawakan secara medley dengan gending peralihan pada setiap lagunya. Dengan repertoar lagu Biru karya Nano S, Miheman dua carita karya Maman SWP, Tamperan Kaheman karya Nano S, Ulah Tepang Deui karya Ubun R Kubarsah.
-
JENTRÉNG SORA INDUNG (Penyajian Kacapi Dalam Tembang Sunda Cianjuran)Karya penyajian yang berjudul “Jentréng Sora Indung”, yang berarti "suara dari kacapi indung", diambil untuk menggambarkan bagaimana kacapi indung menjadi peran utama dalam Tembang Sunda Cianjuran. Kacapi indung tidak hanya berperan sebagai pengiring vokal, tetapi juga menjadi pemimpin dalam jalannya pertunjukan. Dalam penyajian karya ini, dilandasi oleh pendekatan teori. Teori yang menjadi dasar utama adalah teori komunikasi nonverbal kacapi indung dalam Tembang Sunda Cianjuran yang berfokus pada peran kacapi indung dalam Tembang Sunda Cianjuran. Melalui teori ini, dijelaskan bagaimana peran kacapi indung menjalankan fungsi komunikasi secara tidak langsung dengan instrumen lain, seperti kacapi rincik, kacapi kenit, suling, rebab, serta vokal. Karya ini digarap secara konvensional atau secara tradisi, dengan mempertahankan bentuk penyajian, teknik permainan, dan struktur musikal khas Tembang Sunda Cianjuran.
-
MIASIH KU HARIRING KAWIH (Penyajian Vokal dalam Kawih Wanda Anyar)Sajian kawih wanda anyar yang berjudul “Miasih Ku Hariring Kawih” adalah sajian vokal Kawih wanda Anyar yang merupakan sebuah upaya komunikasi untuk mengungkapkan perasaan cinta penyaji melalui nyanyian lagu kawih wanda anyar dengan konsep sajian bertema asmara dan sajian kolaborasi menggunakan perangkat karawitan yaitu gamelan degung ditambah dengan kacapi, suling, rebab, kendang, goong, dan biola serta perkusi sebagai perangkat tambahan yang bersifat non karawitan. Serta akan disajikan secara berkesinambungan digabungkan menggunakan melodi-melodi penghubung dan gending peralihan dari sajian satu lagu ke lagu lainnya sehingga empat lagu yang tersaji menjadi satu kesatuan yang utuh. Adapun pendekatan teori yang digunakan dalam sajian karya seni ini adalah teori estetika menurut Djelantik dengan pengaplikasian unsur- unsur estetika pada sajian karya yang meliputi keutuhan (Unity), penonjolan (Dominance), dan keseimbangan (Balance).
-
ANALISIS ORGANOLOGI KENDANG SUNDA KARYA YAYA DI IMAH GENDANG KABUPATEN BOGORPenelitian ini mengungkap dinamika inovasi organologi dalam lanskap musik tradisional Sunda melalui telaah mendalam terhadap kendang botol, instrumen perkusi eksperimental karya Yaya Kurniawan yang dikembangkan di Imah Gendang, Kabupaten Bogor. Instrumen ini merepresentasikan reinterpretasi kendang Sunda melalui transformasi bentuk menyerupai botol (kuluwung) dan karakter akustik yang khas—tajam, resonan, dan ekspresif—yang menjadikannya kompatibel dengan corak musikal kontemporer, seperti dangdut dan jaipongan urban. Menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi, penelitian ini mengintegrasikan observasi partisipatif, wawancara mendalam, serta dokumentasi lapangan yang sistematis. Kerangka konseptual berpijak pada teori organologi kontekstual Margaret J. Kartomi dan pemahaman musik sebagai suara yang diorganisasi secara manusiawi menurut John Blacking. Fokus analitis diarahkan pada morfologi instrumen, teknik konstruksi, inovasi material, serta respons komunitas seni terhadap eksistensi dan fungsi kendang botol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi yang diwujudkan oleh Yaya Kurniawan tidak sekadar memperkaya aspek visual dan sonoritas kendang, tetapi juga mengukuhkan posisi kendang botol sebagai artefak budaya yang responsif terhadap perubahan zaman. Kehadirannya memfasilitasi pergeseran paradigma dari pelestarian pasif menuju transformasi aktif warisan budaya takbenda. Selain itu, kendang botol menjadi medium edukatif dan alat pemberdayaan ekonomi berbasis lokal, mempertegas peran penting kreativitas dalam pelestarian tradisi di era modern. Dengan demikian, studi ini menegaskan urgensi inovasi dalam praktik kesenian tradisional sebagai strategi keberlanjutan yang dinamis dan adaptif terhadap kompleksitas sosial budaya kontemporer.
-
PAMURBA GENDING (Penyajian Rebab Dalam Celempungan)Skripsi ini berjudul “Pamurba Gending” dengan garap utama Rebab dalam Celempungan. Tujuan utama dari penulisan Skripsi ini tidak lain untuk mendeskripsikan garap yang disajikan oleh penyaji yang mengutamakan garap Rebab secara mandiri dengan mengacu pada fungsi utama Rebab yaitu sebagai pamurba tanpa melibatkan kehadiran vokal sindén dan alok selaku pamurba lain, dengan tujuan agar lebih bebas berekspresi dalam menyajikan garap Rebab baik dalam tafsir melodi maupun penempatan ornamentasi. Tujuan dari penyajian ini adalah untuk mempresentasikan fungsi utama Rebab yang menjadi pamurba lagu dalam sajian Celempungan. Pendekatan teori yang digunakan mengacu pada buku yang berjudul Ringkesan Pangawikan Rinenggaswara (Ringkesan Élmuning Nayaga) yang ditulis oleh R.Machyar Angga Kusumahdinata, dengan salah satu tulisannya yaitu teori laras yang mengatakan bahwa “rakitan laras saléndro ngawengku tilu raras (laras)” dari pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan berinduk ke laras saléndro bisa juga menyajikan laras lain seperti madenda dan degung tentunya dengan berbagai surupan yang bervariatif dengan hanya bermodalkan waditra pengiring dengan laras saléndro saja. Proses atau metode yang digunakan dalam karya penyajian tugas akhir ini antara lain eksplorasi, evaluasi dan komposisi. Dengan demikian dalam penyajian pemenuhan Tugas Akhir ini penyaji lebih menekankan fungsi Rebab sebagai pamurba dalam keseluruhan jalannya sajian yang berwujud gending, sehingga penyaji memilih garap Rebab dalam Celempungan karena dinggap alternatife yang paling cocok untuk mempresentasikan maksud yang diinginkan penyaji.
-
KAWIH CALUNG KIWARI LAIN BIHARI (Penyajian Kawih Wanda Anyar dalam Perangkat Calung)Karya seni berjudul “Kawih Calung Kiwari Lain Bihari” ini merupakan sajian vokal dalam genre calung dengan tujuan revitalisasi dalam bentuk kreasi. Pada pertunjukan ini membawakan lima buah lagu yang disajikan dalam bentuk medley menggunakan perangkat calung jingjing serta instrumen pendukung seperti kacapi, suling, drum, piul dan keyboard. Konsep garap sajian ini adalah menggabungkan bentuk sajian calung dengan struktur Kawih Wanda Anyar yang merupakan bentuk pengimplementasian dari teori estetika A.A.M Djelantik yang menekankan keutuhan, penonjolan dan keseimbangan. Karya ini bertujuan untuk menghidupkan kembali minat terhadap kesenian calung dikalangan generasi muda serta memperkaya khasanah seni karawitan Sunda.
-
ANALISIS ARANSEMEN LAGU “TOKECANG” VERSI PADUAN SUARA KARYA INDRA RIDWANSkripsi dengan judul “Analisis Aransemen Lagu Tokecang Versi Paduan Suara Karya Indra Ridwan” bertujuan untuk mendeskripsikan struktur musikal dan ekspresi visual saat pertunjukan. Tujuannya untuk menganalisis harmoni, melodi, ritme, dinamika, serta gestur dan ekspresi dalam paduan suara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teori analisis tekstual dan kontekstual dari Cook. Penelitian ini memperoleh data dari hasil studi literatur, analisis dokumen, wawancara, dan pendokumentasian. Analisis tekstual menelaah aspek musikal melalui partitur, sementara analisis kontekstual mengevaluasi pertunjukan dari video Gita Suara dalam lomba paduan suara Festival Paduan Suara Gerejawi X HKBP Pasar Rebo tahun 2019. Pendekatan ini mengungkap dinamika, tempo, dan gestur yang tidak tertulis namun tampak dalam pertunjukan. Aransemen “Tokecang” berhasil memadukan unsur Sunda dan teknik vokal Barat. Harmoni, ritme, dan dinamika dimodifikasi secara kreatif tanpa menghilangkan identitas melodi. Gestur visual dan koreografi memperkuat keindahan pertunjukan. Karya ini menunjukkan potensi lagu daerah untuk dikembangkan dalam format paduan suara yang modern dan ekspresif. Penelitian menyimpulkan bahwa lagu “Tokecang” dapat diadaptasi menjadi karya paduan suara tanpa kehilangan identitas budaya. Aransemen ini dapat dijadikan referensi bagi konduktor, arranger, dan pendidik. Temuan ini mendorong penelitian lanjutan serta mendukung revitalisasi kreatif musik tradisional melalui ensambel vokal modern.
-
KAMONÉSAN Penyajian Kendang dalam Ketuk Tilu“KAMONÉSAN” merupakan sajian kendang dalam ketuk tilu. Materi yang disajikan diusung dengan konsep gaya dari daerah Karawang, Sumedang, dan Subang dan perbedaan tepak kendang maupun sajian garapan dari setiap daerahnya, serta penggunaan repertoar lagu yang biasa digunakan dalam penyajian ketuk tilu. Landasan teori yang digunakan adalah teori Garap yang ditulis oleh Rahayu Supanggah dalam bukunya yang berjudul BHOTEKAN KARAWITAN II. Penyaji menggunakan unsur materi garap, penggarap, sarana garap, prabot atau piranti garap, Secara garis besar penyaji menyimpulkan sistem kerja dalam hal penggarapan ini tidak lepas dari konvensi atau kesepakatan yang sudah ada di masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan konsep penyaji yang menyajikan kendang ketuk tilu secara konvensional.
-
KENDANG NGAWIRAHMA WAYANG Penyajian Kendang Dalam Wayang GolekKeberadaan Seni dan Budaya menciptakan lingkungan yang baru untuk bisa berinteraksi satu sama lain, dan interaksi di dalam lingkungan yang memberikan apresiasi kepada seniman dan budayawan. Dalam hal ini lingkungan sangat berpengaruh pada penyaji untuk mengenal seni Karawitan Sunda Khususnya kendang. Penyajian tepak kendang pada pertunjukan Wayang golek disajikan secara konvensional, dengan garap tepak yang digunakan yaitu pola tepak Endang Berlin. Tepak kendang yang disajikan oleh Endang Berlin mempunyai ciri khas tersendiri, tidak hanya pada kejelasan dalam artikulasi, tepak Endang Berlin juga dapat membangun estetika pola gerak pada wayang golek yang disajikan oleh Dalang. Hal inilah yang akan disajikan dalam Garapan. Dalam perancangan garap yang dilakukan, penyaji menggunakan pendekatan teori sebagai acuan yaitu teori Garap yang dikemukakan oleh Rahayu Supanggah dalam buku Bhotekan Karawitan II: Garap (2007:3). Teori tersebut penyaji jadikan sebagai rujukan untuk mengeksplanasikan garap yang sesuai rumusan masalah. Adapun materi yang disajikan yaitu gawil barang dengan tepak ibing Maktal, dilanjutkan dengan materi Gunung Sari dengan tepak ibing Rahwana dan Sinta. Karatagan Mundur naek Pariswado, dengan tepak ibing Rahwana (Karatagan Mundur). Lagu jalan Banjaran dengan ragam tepak wayang golek dan tepak kliningan, Sampak dengan ragam tepak aksentuasi perang tanding. Lagu jalan Bendrong Petit dengan ragam tepak wayang golek. dan lagu penutup sajian. Adapun capaian dalam sajian ini, penyaji ingin menunjukkan keterampilan dalam memainkan tepak kendang wayang golek gaya Endang Berlin, disesuaikan dengan kemampuan dan pemahaman tafsir garap yang penyaji miliki.
-
TINJAUAN FUNGSI SENI PAKEMPLUNG DI MASYARAKAT TEGAL BUNGUR KECAMATAN NARINGGUL KABUPATEN CIANJURPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fungsi Seni Pakemplung di masyarakat Tegal Bungur, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perubahan fungsinya. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan landasan teori fungsi musik dari Alan P. Merriam (1964), data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian seni Pakemplung difokuskan terhadap empat fungsi utama: fungsi estetika yang tercermin dari kesederhanaan bentuk dan nuansa reflektif; fungsi komunikasi sebagai media penyampaian nilai, sejarah, dan pesan spiritual; fungsi hiburan yang kini lebih dominan seiring pergeseran dari peran ritual; serta fungsi pengesahan pranata sosial dan religius yang kini bersifat simbolik akibat melemahnya tradisi. Perubahan fungsi ini dipengaruhi oleh faktor internal, seperti perubahan pandangan pelaku seni, kurangnya regenerasi, dan keterikatan pada konteks ritual; serta faktor eksternal, seperti dominasi budaya populer, perubahan sosial-ekonomi, minimnya dukungan pemerintah, dan rendahnya eksposur media. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Seni Pakemplung mengalami dinamika fungsi yang kompleks akibat perubahan zaman. Oleh karena itu, diperlukan strategi pelestarian yang adaptif agar kesenian ini tetap hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat Tegal Bungur.
-
ADARMAJAP Penyajian Vokal Seni Pantun‚ADARMAJAP‛ adalah judul sajian tugas akhir yang merepresentasikan vokal kepesindenan dalam garap seni Pantun Sunda. Pantun Sunda merupakan salah satu genre sastra lisan yang berkembang di masyarakat Sunda dan memiliki peran penting dalam konteks upacara ritual serta hiburan. Namun, eksistensi Pantun Sunda saat ini mengalami penurunan, terutama di kalangan generasi muda. Melalui karya ini, penyaji berupaya untuk melakukan inovasi pada penyajian Pantun Sunda dengan mengangkat kisah perjuangan Ki Lapidin dari Subang sebagai lakon utama serta mengadopsi teknik vokal yang terdapat pada rumpun kepesindenan. Proses penyajian didukung oleh referensi dari seniman, praktisi, sumber audio visual, dan literatur terkait. Penyaji mengaplikasikan teori garap dari Rahayu Supanggah untuk memperkuat konsep garap serta bentuk sajian. Tujuan penyajian ini adalah melahirkan gagasan yang relatif baru dalam penyajian Pantun Sunda, membuktikan daya tarik inovasi lakon, serta mendorong pelestarian dan apresiasi terhadap seni Pantun Sunda di masyarakat. Karya ini diharapkan memberikan manfaat sebagai referensi, menambah wawasan, serta meningkatkan keterampilan vokal dalam bidang seni Pantun Sunda, khususnya bagi mahasiswa dan masyarakat.
-
PROSES REVITALISASI KESENIAN ANGKLUNG SERED BALANDONGAN DESA SUKALUYU KECAMATAN MANGUNREJA KABUPATEN TASIKMALAYA PERIODE 1998-2025Bermula dari alat komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan informasi kepada penduduk Kampung Balandongan Desa Sukaluyu Kecamatan Mangunreja Kabupaten Tasikmalaya ketika penjajah hadir. Angklung Sered kemudian berubah menjadi bentuk hiburan. Ketertarikan terhadap seni ini mengalami fluktuasi yang menimbulkan kecemasan atas perlunya menjaga warisan seni tersebut. Salah satu penyebab utama yang menyebabkan turunnya minat terhadap Angklung Serat Balandongan adalah dampak dari globalisasi, serta kurangnya dukungan dari pemerintah dan lembaga lain, yang mempengaruhi keberlanjutan kesenian Angklung Sered Balandongan dan terbatasnya dokumentasi di masa lalu. Proses revitalisasi budaya sejalan dengan pemikiran yang dinyatakan oleh Clifford Geertz dalam bab tiga, yang menjelaskan tentang upaya untuk menghidupkan kembali budaya yang mulai memudar atau terlupakan, serta bagaimana ritual dapat menghubungkan masa lalu dengan masa kini, membantu masyarakat untuk tetap terikat dengan warisan budayanya. Proses revitalisasi ini dapat dilakukan melalui pendidikan, sosialisasi, dan pertunjukan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menganalisis sejauh mana efektivitas proses revitalisasi yang telah dijalankan, pengaruhnya terhadap masyarakat, serta memberikan rekomendasi untuk pelestarian budaya yang lebih berkelanjutan di masa depan. Angklung Sered menjalani proses revitalisasi melalui seminar, workshop, dan metode pembelajaran yang menjelaskan tentang latar belakang, filosofi, serta pelatihan Angklung Seret Balandongan yang dipimpin oleh Bapak Agus. Bahkan, beberapa sekolah terlibat dalam program ekstrakurikuler di bidang Seni Budaya untuk tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, bertujuan agar pelajar dapat lebih mencintai budaya mereka sendiri dan memberikan kontribusi dalam upaya pelestarian sebagai bagian dari kearifan lokal dan warisan. Konteks keberhasilan pemulihan, proses revitalisasi melalui pendidikan di berbagai sekolah, seminar, dan lokakarya, telah membuat kesenian kembali diminati oleh masyarakat dan melestarikan kesenian Angklung Sered Balandongan.
-
ANURAGA SWARAKarya sajian dengan judul “Anuraga Swara” merupakan sajian vokal dalam kawih wanda anyar dengan tema asmara. “Anuraga Swara”, melalui judul tersebut, penyaji ingin menyampaikan romantika atau perasaan cinta yang mendalam melalui estetika vokal dalam kawih wanda anyar. Sehingga, penyaji memilih menggunakan teori Estetika dari Djelantik untuk diaplikasikan pada sajian ini, unsur-unsur estetika yang diaplikasikan yakni Keutuhan (Unity), Penonjolan (Dominance), dan Keseimbangan (Balance). Berdasarkan teori tersebut, penyaji memilih menyajikan secara konvensional dan berkolaborasi dengan musik barat sebagai pendukung musik. Materi lagu yang disajikan yaitu, Asa Cikeneh, Peuting Asih, Wuyung Gandrung dan Ngalagena, ini merupakan karya penerus Mang Koko.
-
KREATIVITAS SOFYAN TRIYANA DALAM ALBUM ROMANTIKA KELOMPOK SWARANTARAPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji kreativitas Sofyan Triyana dalam Album Romantika kelompok Swarantara. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang bertujuan untuk memahami aspek-aspek proses kreatif, inovasi karya, dan faktor pendukung yang mempengaruhi kreativitas tersebut. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sofyan Triyana mampu mengintegrasikan unsur-unsur musik tradisional Sunda, seperti karawitan, dengan genre kontemporer, pop, jazz, bosa nova, dangdut dan karakter-karakter musik yang lainya secara inovatif. Kreativitasnya dipengaruhi oleh faktor pribadi, lingkungan, dan sosial, yang memotivasi dirinya untuk berinovasi tanpa menghilangkan identitas budaya. Album Romantika yang terdiri dari sembilan lagu ini kaya akan makna dan emosi, serta menunjukkan keberanian dalam bereksperimen dengan aransemen dan penggunaan teknologi. Temuan ini menegaskan bahwa kreativitas dalam bermusik tidak hanya bersifat individual, tetapi juga dipengaruhi oleh proses kolaboratif dan faktor eksternal, yang secara bersama-sama mendukung terciptanya karya inovatif dan bermakna. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kreativitas di bidang seni musik tradisional yang relevan dengan perkembangan zaman.
-
IMPLEMENTASI INTERVAL LARAS SALÉNDRO DALAM KARAWITAN SUNDA: STUDI KASUS WADITRA KACAPI MANG AYI PANTUNPenelitian ini membahas tentang implementasi interval laras Saléndro dalam praktik karawitan Sunda, dengan fokus pada studi kasus waditra kacapi yang dimainkan oleh Mang Ayi Pantun, seorang praktisi seni pantun dari Subang. Laras saléndro secara teoretis dirumuskan oleh Raden Machyar Angga Koesoemadinata dengan pembagian interval merata sebesar 240 Cent. Namun dalam praktiknya, banyak seniman yang menggunakan intuisi dan pengalaman musikal sebagai dasar penyetelan, sehingga menghasilkan interval yang bervariasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi lapangan, wawancara mendalam, dan eksperimen penyetelan kacapi. Frekuensi nada pada kacapi yang disetel oleh Mang Ayi dianalisis dan dibandingkan dengan interval teoretis laras Saléndro rakitan 15 nada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interval yang dihasilkan oleh Mang Ayi memiliki tingkat kemiripan sebesar 84%–98% terhadap laras Saléndro teoretis. Variasi ini dipengaruhi oleh intuisi musikal, pengalaman pribadi, serta transmisi pengetahuan secara oral. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik pelarasan dalam karawitan Sunda tidak sematamata mengacu pada teori baku, melainkan merupakan hasil dari proses psikokultural yang kompleks. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang fleksibilitas sistem nada dalam musik tradisional Sunda dan pentingnya mempertimbangkan aspek budaya dalam studi etnomusikologi.
-
GAMBANG DWI SUKMA“GAMBANG DWI SUKMA” merupakan sajian tugas akhir yang berfokus pada eksplorasi dan penyajian pola tabuhan gambang dalam seni pertunjukan wayang golek, dengan mengadopsi serta mengadaptasi gaya permainan dua tokoh gambang terkemuka dari tradisi Giriharja, yaitu Arief Nugraha Rawanda dan Guna Ginanjar. Sajian ini menitikberatkan pada dua pola tabuhan utama, yakni cacagan dan carukan, yang masing-masing diangkat dari kekhasan teknik kedua tokoh tersebut. Pola tabuh cacagan yang diadaptasi dari Arief Nugraha Rawanda dikenal inovatif dan penuh variasi, sedangkan pola carukan dari Guna Ginanjar memiliki karakteristik stakato yang rapi dan harmonis. Melalui pendekatan teori garap sebagaimana dikemukakan oleh Rahayu Supanggah, penyaji mengembangkan konsep pertunjukan yang mencakup materi garap, penggarap, sarana garap, prabot garap, penentu garap, dan pertimbangan garap secara menyeluruh.
-
AQSHAL PRIOLANPenulisan skripsi ini berjudul “ASTA KALIH WIRAHMA NING WAYANG” dengan minat utama penyajian kendang dalam Wayang Golek. Tujuan dari skripsi ini adalah sebagai bukti intelektual penyaji selain bisa mereprentasikan tepak kendang dalam Wayang Golek, penyaji juga bisa membuat karya tulis ilmiah. Skripsi ini, mendeskripsikan tentang ragam tepak kendang Wayang Golek khususnya gaya Giri Harja 3 dengan konsep garap yang singkat dan padat tanpa mengurangi estetika musikal yang biasa disajikan dalam pertunjukan Wayang Golek. Landasan teori yang digunakan merupakan teori imitasi parsial yang menitik beratkan pengadopsian garap tepak kendang dalam Wayang Golek khususnya gaya Giri Harja 3 yang diselaraskan dengan kebutuhan visual serta aspek musikal yang biasa disajikan dalam pertunjukan Wayang Golek. Hasil yang diharapkan dari skripsi dan penyajian garapan ini adalah, setiap pengendang khususnya dalam kesenian Wayang Golek harus mampu memahami dan menguasai setiap aspek – aspek penting dalam pertunjukan Wayang Golek seperti, pemahaman terhadap ragam tepak pada ibingan Wayang, juga mampu mengungkap setiap karakter tokoh Wayang.
-
FENOMENA PERTUNJUKAN PUPUH RAÉHAN KARYA YUS WIRADIREDJAPenelitian ini mengkaji pupuh raéhan sebagai inovasi dalam seni pertunjukan Sunda modern yang diprakarsai oleh Yus Wiradiredja. Karya ini hadir sebagai respons atas menurunnya minat generasi muda terhadap pupuh tradisional dan sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan selera musikal di era digital. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi faktor-faktor pendorong lahirnya pupuh raéhan sebagai inovasi penyajian pupuh tradisional, dan (2) menganalisis pandangan pencipta, seniman, dan audiens terhadap pertunjukannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, teori fenomenologi sosial Alfred Schutz, dan metode analisis tematik Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuh raéhan merupakan bentuk pelestarian budaya melalui strategi penyajian kontemporer yang diterima secara cenderung positif, terutama dalam dunia pendidikan. Namun demikian, terdapat pula pandangan skeptis dari sebagian pihak, termasuk beberapa siswa yang tidak serta-merta memahami dan menerima inovasi ini, serta kekhawatiran terhadap potensi degradasi nilai simbolik pupuh tradisional. Hal ini menandakan adanya dinamika antara inovasi dan konservatisme dalam pelestarian seni. Kontribusi penelitian ini terletak pada pemahaman baru tentang strategi inovatif dalam pelestarian seni tradisi berbasis konteks sosial, serta menjadi referensi bagi seniman dan institusi pendidikan dalam mengembangkan model pembelajaran seni yang relevan dengan generasi muda.
