Items
-
PERUBAHAN VISUAL BARONGAN DALAM KESENIAN KUDA LUMPING DI DESA SUMBERSARI KABUPATEN BANDUNGKesenian Kuda lumping mengandung beberapa unsur seni, diantaranya yaitu seni musik, seni tari, serta seni rupa yang dipadukan menjadi sebuah seni pertunjukan. Kesenian Kuda lumping memiliki berbagai macam bentuk khas di setiap daerahnya masing-masing. Saat ini kesenian Kuda lumping yang berada di Desa Sumbersari Kabupaten Bandung telah menjadi kesenian yang berfungsi sebagai media perayaan atau hiburan masyarakat, meskipun tetap mempertahankan nilai-nilai sakral dan tradisi. Objek penelitian ini merujuk pada perubahan visual yang terdapat dalam salah satu instrumen kesenian Kuda lumping, yaitu Barongan, pada kelompok Kuda lumping yang terletak di Desa Sumbersari, Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan Trans-estetika, dalam memaparkan transformasi atau transisi pada visual Barongan dari bentuk asalnya. Transestetika pada Barongan di interpretasikan melalui berbagai perubahan dan percampuran kandungan estetik dan simboliknya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif. Hasil penelitian ini memaparkan data mengenai bagaimana Barongan dalam kesenian Kuda lumping di Desa Sumbersari Kabupaten Bandung, Mengalami transisi perubahan dari bentuk asalnya yang bersumber pada Bangbarongan Reak dan BengBerokan. Perubahan visual tersebut dilatar belakangi oleh adanya pergeseran fungsi sakral menjadi profan, serta tradisi yang digantikan oleh kreasi dan inovasi.
-
KARYA DIORAMA DALAM UPAYA REKONSTRUKTIF EKSPEDISI CARSTENSZ 1936 UNTUK MUSEUM PT.FREEPORT INDONESIAEkspedisi Carstensz 1936 merupakan ekspedisi sejarah yang sangat penting di Papua, Indonesia. Ekspedisi ini dilakukan oleh tokoh-tokoh penting pada masa itu diantaranya Jean Jacques Dozy, Anton Colijn, dan Frits Wissel. Sejarah ekspedisi ilmiah ini sayangnya belum terdokumentasi dengan baik secara visual, oleh karena itu, penelitian ini akan dilakukan dengan mengumpulkan data-data untuk merekonstruksi visual Ekspedisi Carstensz 1936 dengan pendekatan seni rupa pembuatan mini diorama. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk merekonstruksi visual Ekspedisi Carstensz 1936 dengan membuat maket diorama peristiwa Ekspedisi Carstensz 1936. Rangkaian penelitian ini mengumpulkan studi literatur sejarah, pengumpulan arsip foto, data antropologis, serta dalam eksekusi praktiknya menggunakan teknik modelling sculpture. Hasil penelitian ini merupakan satu buah maket skala 1:4 yang merepresentasikan kembali suasana ekspedisi Carstensz pada salah satu dokumentasi foto yang ada. Kesimpulannya bahwa sebuah sejarah dapat direkonstruksi melalui pendekatan seni yang menjadikan media edukatif untuk menghidupkan kembali suasana suatu peristiwa yang kurang terdokumentasi dengan baik secara visual.
-
BONEKA SEBAGAI INSPIRASI KARYA SENI LUKIS DENGAN PENDEKATAN SIMBOLIKKarya tugas akhir ini berangkat dari gagasan bahwa boneka bukan sekadar objek permainan. Sebaliknya, boneka berfungsi sebagai media dari berbagai aspek emosional, psikologis, dan sosial kehidupan terhadap manusia. Boneka dapat menggambarkan kenangan, masa kecil, isolasi, bahkan trauma psikologis yang tersimpan. Boneka digunakan dalam karya seni lukis ini sebagai media ekspresi untuk mengangkat tema-tema universal melalui pendekatan simbolik. Lukisan ini dimaksudkan untuk menciptakan suasana hati dan menciptakan cerita simbolik yang dapat dipahami oleh penonton melalui permainan warna, tekstur, komposisi, dan ekspresi boneka. Aspek estetika bukan satu-satunya tujuan dari pembuatan ini; itu juga berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi dengan emosi yang paling dalam dan sulit diungkapkan secara verbal. Diharapkan bahwa karya ini akan membantu perkembangan wacana seni lukis simbolik, memberi penonton lebih banyak opsi interpretasi, dan memperluas perspektif tentang objek boneka sebagai simbol kehidupan.
-
NAWANG WULAN SEBAGAI INSPIRASI KREATIF SENI LUKIS SIMBOLISMEPenciptaan karya seni lukis konseptual ini berfokus pada konsep yang terinspirasi dari cerita rakyat "Nawang Wulan," sebuah legenda yang mengangkat isu perempuan yang kemudian dikaitkan dengan budaya 3M (Macak, Masak, Manak) di pulau Jawa, sebuah norma sosial yang membatasi peran perempuan hanya pada peran domestik saja. Cerita Nawang Wulan ini mengisahkan seorang bidadari dari kayangan yang kehilangan selendangnya akibat dicuri oleh Jaka Tarub, sehingga membuatnya terikat pada kehidupan duniawi dan peran domestik. Selendang dalam cerita ini tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk kembali ke kayangan tetapi juga menjadi simbol identitas dan kebebasan Nawang Wulan. Melalui karya ini, seniman ingin memberikan respon positif terhadap perjuangan perempuan Jawa yang berhasil keluar dari tekanan budaya tersebut. Selendang menjadi simbol dari kebebasan, pilihan, dan jati diri. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dengan memperkaya kajian tentang perjuangan perempuan dalam cerita rakyat Indonesia, serta manfaat berupa edukasi mengenai isu kesetaraan gender dan pentingnya kesadaran akan peran perempuan dalam masyarakat.
-
SEMIOTIKA RELIEF MONUMEN RAWAGEDE: REPRESENTASI PERISTIWA SEJARAH DALAM TANDA DAN MAKNARelief Monumen Rawagede merupakan representasi visual peristiwa pembantaian oleh militer Belanda pada 9 Desember 1947 di Desa Rawagede. Namun, pemaknaan terhadap relief ini masih minim karena masyarakat belum banyak menggunakan pendekatan keilmuan seperti semiotika. Menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce, penelitian ini menganalisis tanda-tanda visual dalam relief—seperti ikon, indeks, dan simbol—untuk mengungkap makna yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan, studi pustaka, dan wawancara. Setiap elemen visual dalam relief berperan sebagai bentuk komunikasi visual yang memperkuat ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah bangsa. Penelitian menunjukkan bahwa relief tidak hanya menyampaikan narasi sejarah, tetapi juga memuat pesan simbolik tentang penderitaan dan perjuangan, serta berfungsi sebagai media komunikasi visual yang kuat. Selain itu, Penelitian ini juga menegaskan peran penting seni rupa dalam merekam dan menyampaikan narasi sejarah kepada generasi penerus.
-
INTERPRETASI PERSONA ARTISTIK PADA KARYA TUGAS AKHIR MAHASISWA DALAM PAMERAN GROUND:01Dalam proses pendidikan seni rupa, pameran tugas akhir tidak hanya menjadi bagian dari syarat kelulusan, tetapi juga menjadi ruang awal bagi mahasiswa seni untuk memperkenalkan karya dan identitas artistiknya kepada publik. Namun, persoalan yang muncul adalah bagaimana karya-karya tersebut sering kali hanya dipahami sebatas pencapaian teknis dan formal, tanpa membongkar lebih dalam narasi personal dan artistik yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana persona artistik seniman dibentuk dan direpresentasikan dalam karya tugas akhir pada pameran Ground:01. Fokus utama penelitian ini adalah pada bagaimana hubungan antara ekspresi visual dan latar belakang personal maupun sosial membentuk citra diri seniman sebagai individu kreatif dalam karya tugas akhir dalam sebuah pameran. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode deskriptif interpretatif menggunakan konsep dramaturgi Goffman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap seniman yang sedang melaksanakan atau telah melaksanakan tugas akhir memiliki persona artistik yang unik dalam karyanya, hal itu dipengaruhi oleh kombinasi dari pemilihan medium, tema, gaya visual, latar belakang personal dan sosial masingmasing seniman.
-
PERANCANGAN MEDIA EDUKASI BUKU ILUSTRASI FANTASI KOPI PUNTANGkopi puntang, media, buku ilustrasi
-
RAISTARA (Penyajian Sekar Kepesindenan dalam Wayang Golek)Penulisan Skripsi ini berjudul “RAISTARA” dalam cerita yang berjudul “ANGKARA SIRNA” dengan minat utama penyajian sekar kepesindenan dalam wayang golek. Skripsi ini berisi seluruh aspek yang berkaitan dengan garap pertunjukan wayang golek. Sajian pertunjukan wayang golek ini merajuk pada struktur sajian wayang golek konvensional yang digarap dengan singkat dan dipadatkan. Tujuan penyajian sekar kepesindenan dalam wayang golek ini untuk meningkatkan keterampilan penyaji mengenai seni tradisi khususnya sekar kepesindenan dan juga untuk regenerasi pesinden. Untuk menambah referensi rumpaka, lagu yang digunakan dalam sekar kepesindenan dalam wayang golek. Sajian pertunjukan wayang golek ini merujuk pada pendekatan teori Surupan Machyar Angga Koesoemadinata, yang dalam hal ini penyaji akan menambahkan sentuhan-sentuhan kreativitas terhadap pengolahan laras dan surupan. Mengingat, bahwa untuk menguji keterampilan dalam menyajikan sekar kepesindenan, dibutuhkan materi-materi yang memiliki keragaman bentuk, irama, dan laras, sebagai minat utama penyajian.
-
GALÉCOK (Penyajian Gambang dalam Gambangan)Penyajian karya seni berjudul “GALÉCOK” ini merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan eksistensi Gambangan yang kini semakin meredup dan kurang dikenal oleh masyarakat luas bahkan di kalangan seniman sekalipun. Gambangan merupakan salah satu genre dalam karawitan Sunda yang memperlakukan Gambang sebagai waditra utama dalam sajiannya. Melalui penyajian “GALÉCOK” ini penyaji mencoba untuk membangkitkan kembali genre Gambangan dengan pemikiran-pemikiran baru, dengan tujuan Gambangan dapat hidup dan eksis seperti kesenian karawitan Sunda lainnya. Judul “GALÉCOK” bukan hanya sekedar nama dari sebuah pertunjukan, melainkan menggambarkan bagaimana kerumitan ragam garap tabuh Gambang yang digambarkan melalui judul “GALÉCOK” yang berarti saling mengobrol atau saling bersautan. Untuk mencapai tujuan itu, Penyaji menggunakan pendekatan Teori Garap Rahayu Supanggah, yang membahas tentang segala unsur yang terdapat pada sebuah proses menyusun sebuah karya, yaitu Materi Garap, Penggarap, Sarana Garap, Prabot/Piranti Garap, Penentu Garap, dan Pertimbangan Garap. Melalui teori itu, pada penyajian karya “GALÉCOK” ini ditemukan bahwa waditra Gambang dapat berdiri sendiri menjadi waditra utama pembentuk genre.
-
NGAPING HARIRING KU RUPANING SULING (Penyajian Suling dalam Tembang Sunda Cianjuran)Karya “Ngaping Hariring ku Rupaning Suling” merupakan bentuk penyajian musik dalam Tembang Sunda Cianjuran yang menitikberatkan pada eksplorasi instrumen suling sebagai elemen utama. Latar belakang penyajian karya ini berangkat dari ketertarikan penyaji terhadap keberagaman jenis suling dalam Tembang Sunda Cianjuran seperti suling panjang liang tujuh, suling degung, suling mandalungan, suling wisaya, suling cirebonan, dan suling songsong, yang pada dasarnya memiliki ukuran dan karakteristik bunyi yang berbeda. Karya seni ini disajikan secara konvensional dengan menggunakan instrumen kacapi indung, kacapi rincik, dan ragam suling dengan surupan 60, serta dilengkapi oleh vokal yaitu panembang pria dan wanita. Untuk menonjolkan skill penyaji, lagu-lagu yang disajikan menggunakan laras degung, mandalungan, dan madenda. Permainan suling pun disesuaikan dengan konteks fungsionalnya, yakni suling berperan penting sebagai pamurba lagu dalam sajian instrumentalia, serta sebagai pengiring vokal dengan menerapkan konsepsi méréan, marengan, dan nungtungan. Tujuan dari penyajian karya ini adalah sebagai wujud penerapan hasil pembelajaran selama studi di Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, serta sebagai sarana apresiasi dan inspirasi bagi generasi berikutnya. Teori garap yang dikemukakan Rahayu Supanggah menjadi landasan pendekatan dalam pengembangan karya ini.
-
JENTRÉNG KACAPI MIRIG ATI (Penyajian Kacapi indung dalam Tembang Sunda Cianjuran)Jentréng Kacapi Mirig Ati merupakan salah satu bentuk ekspresi seni musik tradisional sunda yang mengandalkan alat musik kacapi indung sebagai instrumen utama yang dimaknai sebagai suara kacapi yang bisa mengiringi setiap suasana hati manusia, baik dalam suka maupun duka. Dalam penyajian ini lebih bersifat konvensional karena membawakan lagu-lagu tembang sunda cianjuran secara utuh. Dalam sajian ini kacapi indung merupakan pemimpin dalam pertunjukan kacapi tembang sunda cianjuran dengan berbagai laras yakni laras degung dan laras sorog. Selain itu penyajian kacapi indung dalam tembang sunda cianjuran ini yang diaktualisasikan dalam tugas akhir Jentréng Kacapi Mirig Ati. Dalam tulisan ini penyaji menggunakan teori garap yang dimana akan menitik beratkan ke dalam teknik dan pola permainan kacapi indung. Dalam sajian ini, terdapat garap, diantaranya: pada bagian menambahkan jembatan antara laras degung ke laras sorog. Oleh karena itu, penyaji memasukan parabot garap seperti teknik pasieupan. Kemprangan, dan kait yang dimana merujuk ke dalam estetika pemainan kacapi indung. Artinya garap sajian merupakan reinterpretasi garap penyajian Tembang Sunda Cianjuran yang dipertunjukan sebagai pertunjukan yang diapreasi oleh penonton.
-
ANALISIS TEKNIK PERMAINAN SULING SUNDA PADA SULING BANGSING DALAM GARAPAN GRUP MUSIK SWARANTARAPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis teknik permainan suling Sunda pada suling bangsing dalam garapan grup musik Swarantara. Teori yang digunakan adalah teori analisis musik Nettl dengan pendekatan selektif, yaitu mendeskripsikan dan menganalisis bagian tertentu dari musik, dalam hal ini teknik permainan yang berkaitan langsung dengan estetika musikal. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan secara kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, studi literatur, dan dokumantasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa grup Swarantara mengadaptasi teknik permainan suling Sunda pada suling bangsing dengan cara yang sangat kreatif dan inovatif. Teknik permainan suling Sunda yang digunakan pada suling bangsing Swarantara meliputi teknik ornamentasi, teknik tiupan, dan teknik penjarian. Penelitian ini memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi pengembangan musik tradisional Sunda. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan untuk pengembangan teknik permainan suling Sunda yang lebih kreatif dan inovatif.
-
KATRESNA LIGAR NA ATI (Penyajian Vokal dalam Kawih Wanda Anyar)Karya berjudul “Katresna Ligar Na Ati” merupakan sebuah sajian vokal (sekar) dalam bentuk wanda anyar yang mengusung tema asmara. Sajian ini menghadirkan rangkaian lagu yang merepresentasikan perjalanan emosional penyaji melalui lirik lagu, yang dikemas menjadi sebuah alur kisah cinta secara musikal. Latar belakang penciptaan karya ini berangkat dari keinginan penyaji untuk menampilkan bentuk vokal wanda anyar secara konvensional dalam aspek vokalnya, namun disajikan secara nonkonvensional dari sisi musikalitas. Dalam penyajiannya, karya ini menggabungkan vokal wanda anyar dengan iringan musik tradisional seperti kacapi siter, suling, rebab, kendang, dan goong, serta menambahan instrumen non tradisional seperti violin, viola, cello, flute, dan perkusi. Sajian ini juga diperkuat oleh kehadiran layeutan swara. Konsep garap yang digunakan berbentuk medley, di mana penyaji membawakan beberapa repertoar, antara lain Nano S, Hegar Parangina, dan Yus Wiradiredja. Adapun lagu-lagu yang disajikan meliputi: Kawaas dan Nineung karya Nano S, Liwat Ieu Hate karya Hegar Parangina, serta Rahwana Gandrung karya Yus Wiradiredja. Penggarapan karya ini merujuk pada teori garap yang dikemukakan oleh Rahayu Supanggah dalam buku Bothekan Karawitan II: Garap, yang dipandang relevan dalam mendukung konsep dan pendekatan penyajian yang diusung oleh penyaji. Dengan demikian, karya ini tidak hanya ditujukan sebagai pemenuhan salah satu syarat akademik untuk memperoleh gelar Sarjana (S-1), tetapi juga sebagai media untuk mengasah kompetensi penyaji selama masa perkuliahan, serta menjadi bentuk kontribusi terhadap ranah apresiasi seni, khususnya dalam pelestarian dan pengembangan bentuk-bentuk ekspresi musik Sunda.
-
NGARUCITA SORA (Penyajian Wiraswara dalam Wayang Golék)Penyajian garap karawitan fungsional dalam pertunjukan wayang golek ini menghadirkan sajian vokal alok yang berjudul “Ngarucita Sora.” Sesuai dengan judul yang diusung, sajian ini menitikberatkan pada pengolahan ornamentasi lagu hasil modifikasi dari berbagai tokoh wiraswara di Jawa Barat. Hal tersebut merepresentasikan kekayaan, keragaman, serta kreativitas para tokoh dan seniman wiraswara yang berkembang di wilayah tersebut. Sajian tugas akhir ini merupakan sajian tugas akhir kelompok dikarenakan melibatkan penyaji lain yang membawa minat utama sekar padalangan, sekar kepesindenan, kendang, dan gambang. Tujuan utama dari sajian ini adalah sebagai media penerapan garap vokal dengan ragam senggol hasil sintesis dari tiga tokoh wiraswara yang dijadikan narasumber. Selain itu, sajian ini juga bertujuan membuktikan bahwa sekar alok tidak bersifat kaku atau terikat pada satu versi tertentu, melainkan dapat diolah secara kreatif sesuai dengan kemampuan dan interpretasi masing-masing individu. Pendekatan teori yang digunakan dalam penyajian ini adalah garap. Garap merupakan kerja kreatif dari seorang atau sekelompok pengrawit dalam menyajikan sebuah gending atau komposisi karawitan untuk dapat menghasilkan wujud bunyi dengan kualitas atau hasil tertentu sesuai dengan maksud, keperluan, atau tujuan dari suatu kekaryaan atau penyajian karawitan yang dilakukan. Dalam sajian tugas akhir ini dipilih lakon “Karna Tanding” dengan judul “Asmara Laga.” Pemilihan lakon ini didasarkan pada makna cerita yang menggambarkan bahwa perang antara Pandawa dan Kurawa di Kurukshetra bukan sekadar peristiwa bela negara, melainkan juga dilatarbelakangi oleh cinta yang tak tersampaikan, yang pada akhirnya memicu terjadinya peperangan. Dalam lakon ini pula digambarkan perasaan Dewi Drupadi yang masih menyimpan rasa cinta serta rasa bersalah yang mendalam kepada Adipati Karna.
-
KAJIAN FUNGSIONALISME STRUKTURAL TALCOTT PARSONS DALAM PERMAINAN REBANA PADA KESENIAN HADRAHPenelitian ini mengkaji peran instrumen rebana dalam kesenian hadrah melalui pendekatan teori fungsionalisme struktural yang dikembangkan oleh Talcott Parsons, terutama melalui kerangka AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration, dan Latency). Hadrah merupakan kesenian bernuansa Islam yang masih dilestarikan oleh masyarakat Garut dan biasa dimainkan dalam kegiatan keagamaan maupun sosial. Instrumen rebana dalam konteks ini bukan hanya berfungsi sebagai pengiring musik, tetapi juga memiliki makna sosial dan budaya yang signifikan. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap pelaku seni hadrah di Desa Kersamenak Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut. Penelitian ini juga menganalisis struktur ritme rebana dalam lima lagu sholawat, yaitu: “Assalamualaik”, “Ya Asyiqol”, “Ya Thoybah”, “Busyrolana”, dan “Mahlul Qiyam”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi instrumen rebana dalam hadrah dapat dijelaskan melalui empat aspek AGIL: (1) Adaptation – kemampuan rebana menyesuaikan dengan gaya permainan hadrah juga suasana acara; (2) Goal Attainment – mendukung pencapaian tujuan dengan menjaga ritme dan menentukan tempo, yang merupakan elemen kunci dalam setiap pertunjukan musik; (3) Integration – sebagai penghubung yang menyatukan berbagai elemen musik dalam pertunjukan menciptakan keterpaduan sosial antara pemain dan audiens; dan (4) Latency – menjaga dan mewariskan nilai-nilai religius serta tradisi budaya. Dengan demikian, rebana dalam hadrah memiliki fungsi struktural dalam sistem hadrah.
-
HARIRING PANGRINGGITAN (Penyajian Sekar Kepesindenan dalam Wayang Golek)Skripsi berjudul “Hariring Pangringgitan” ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses kreatif sajian wayang golek dalam sebuah lakon pergelaran singkat berjudul Karna Tanding, yang di dalamnya memadukan lima penyajian minat utama, yakni pesinden, wiraswara, dalang, penabuh kendang dan penabuh gambang dalam konsep yang sama. Namun pada tulisan ini penyaji lebih memfokuskan diri pada minta utama penyajian sekar kepesindenannya saja. Sekar kepesindenan dalam wayang golek memiliki ciri khas tersendiri dalam garapnya, yaitu pesinden bukan hanya sekedar menyajikan lagu-lagu tetapi harus mendukung tematik dari lakon yang disajikan. Proses kreatif penyaji dalam karya ini terletak pada aspek penggunaan rumpaka, mengolah sénggol, penguasaan terhadap irama, tempo, laras, surupan dan dinamika. Kreatifitas garap yang menitikberatkan pada penggunaan alih laras di beberapa materi lagu tentu berpengaruh besar pada garapan aspek lainnya, hal ini dimaksudkan untuk memberi varian yang berbeda dan sajian yang menarik. Berpijak pada hal tersebut, maka dalam menyajikan karya seni ini penyaji menggunakan pendekatan teori laras Raden Machjar Angga Koesoemadinata. Walaupun terdapat proses kreatif di berbagai aspek, namun konsep garap dan struktur repertoar yang dibawakan tetap dalam bentuk pergelaran wayang golek konvensional.
-
NGAOS DINA MAMAOS (Penyajian Sekar dalam Tembang Sunda Cianjuran)Pertunjukkan karya seni berjudul “Ngaos dina Mamaos” merupakan pertunjukan Tembang Sunda Cianjuran dengan konsep konvensional dengan rumpaka yang memiliki makna kebaikan, seperti yang diajarkan oleh kitab suci Al-Quran sehingga disebut bermakna Islami. Rumpaka dalam Tembang Sunda Cianjuran pada dasarnya telah mengandung makna yang dimaksud di atas, namun beberapa di antaranya memerlukan tingkat pemahaman yang mendalam bagi pendengarnya sehingga terkadang sulit dipahami. “Ngaos dina mamaos” hadir sebagai alternatif pertunjukan yang mengedepankan penyajian lagu-lagu cianjuran dengan rumpaka islami, bersumber dari buku Nurhidayahan: Saritilawah Basa Sunda Winangun Pupuh yang mudah dipahami pendengar. Dengan menggunakan pendekatan teori estetika dari Djelantik (2004) penyajian karya seni dilakukan, sehingga terdapat termuan garap bahwa dalam menyanyikan lagu cianjuran dengan rumpaka yang relatif baru memerlukan tingkat pemahaman tentang makna rumpaka, pedotan, serta teknik menyanyikan secara komprehensif agar karakteristik lagu dan makna rumpaka tetap utuh.
-
KREATIVITAS YUS WIRADIREDJA DALAM MENCIPTAKAN LAGU UNTUK ANAK-ANAKPenelitian ini mengkaji kreativitas Yus Wiradiredja dalam menciptakan lagu anak-anak berbasis budaya Sunda dengan menggunakan teori kreativitas 4P yang dikemukakan oleh Mel Rhodes, yaitu person, press, process, dan product. Fokus penelitian ini adalah untuk memahami kreativitas Yus Wiradiredja dalam menciptakan lagu untuk anak-anak sekaligus kontribusinya sebagai seniman dan pendidik dalam menghadirkan karya-karya lagu untuk anak-anak yang sarat akan nilai edukatif, moral, religius, dan budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas Yus Wiradiredja dipengaruhi oleh latar belakang estetik sejak masa kecil, lingkungan keluarga dan sosial yang mendukung, serta pendidikan formal yang memperkuat kompetensinya sebagai seniman dan pendidik. Lagu-lagu untuk anak-anak seperti “Korupsi”, dan “Riksa Basa Sunda” merupakan contoh konkret dari produk kreatif yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Yus Wiradiredja telah berhasil memadukan unsur musik tradisional Sunda dengan pesan-pesan pendidikan dalam bentuk lagu anak-anak, yang berperan penting dalam penguatan karakter dan pelestarian budaya lokal di kalangan generasi muda.
-
STRUKTUR PERTUNJUKAN ANGKLUNG BUNCIS BUHUN “MITRA MUSTIKA” DALAM RITUAL SIRAM KEMBANG DI NANGGERANG, CILILIN, BANDUNG BARATSkripsi dengan judul ‚Struktur Pertunjukan Angklung Buncis Buhun ‚Mitra Mustika‛ dalam Ritual Siram Kembang di Nanggerang, Cililin, Bandung Barat‛ ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur pertunjukan angklung buncis dalam ritual siram kembang. Dengan pendekatan teori pertunjukan dari Sal Murgiyanto dan metode penelitian kualitatif deskriptif, penelitian ini untuk memperoleh data dari hasil observasi, studi literatur, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertunjukan angklung buncis buhun dalam ritual siram kembang memiliki tiga tahapan persiapan (preparation), pementasan (performance) dan akhir pertunjukan (affermath). Tahap persiapan pertunjukan mencakup segala bentuk persiapan antara lain yaitu penyediaan sesajen, pakaian ganti anak yang akan mengikuti ritual, peralatan tata rias dan mempersiapkan alat musik angklung buncis. Tahap pementasan merupakan inti dari keseluruhan rangkaian, pementasan diawali dengan arak-arakan menuju tempat sumber mata air (huluwotan), dilanjutkan dengan prosesi pemandiannya (ngamandian), merias anak yang telah dimandikan (ngadangdanan), arak-arakan kembali ke tempat tinggal, serta ditutup dengan prosesi sawer. Tahap akhir pertunjukan ditandai dengan pembacaan doa, pengemasan kembali alat musik angklung buncis buhun, serta kegiatan makan bersama sebagai bentuk syukur dan kebersamaan antara pemangku hajat dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan ritual.
-
LÉOT SULING PANGGEUING KURING (Penyajian Suling dalam Tembang Sunda Cianjuran)Tembang Sunda Cianjuran merupakan salah satu bentuk seni musik tradisional yang berasal dari Cianjur, Jawa Barat. Seni ini dikenal karena kemampuannya menghadirkan ketenangan dan kedalaman spiritual bagi para pendengarnya. Dalam pertunjukan Tembang Sunda Cianjuran, suling memainkan peran penting dalam memperkaya ekspresi musikal melalui teknik ornamentasi yang khas. Salah satu teknik ornamentasi tersebut adalah leot, yang menghasilkan transisi nada yang halus dan menyentuh, menciptakan suasana kontemplatif dan mendalam. Karya berjudul “Leot Suling Panggeuing Kuring” menyoroti peran teknik leot dalam membangkitkan kesadaran spiritual, baik bagi pemain suling maupun audiens. Melalui penerapan teknik ini, suling tidak hanya berfungsi sebagai instrumen musik, tetapi juga sebagai medium refleksi terhadap kebesaran Ilahi, memperkuat dimensi spiritual dalam pertunjukan Tembang Sunda Cianjuran.
-
STRUKTUR PERTUNJUKAN RONGGENG TAYUB KALERAN SANGGAR SENI SURYA GUMILANG DI DESA MEKARSARI KECAMATAN TAMBAKSARI KABUPATEN CIAMISSkripsi yang berjudul “Struktur Pertunjukan Ronggeng Tayub Kaleran Sanggar Surya Gumilang di Desa Mekarsari Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis” ini bertujuan untuk menjelaskan serta menjelaskan karakteristik utama yang membentuk identitas pertunjukan ronggeng tayub kaleran serta mendeskripsikan struktur pertunjukan ronggeng tayub kaleran Sanggar Surya Gumilang. Penelitian ini menggunakan landasan teori struktur dari Djelantik yaitu membahas mengenai struktur pertunjukan. Dalam penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, studi literatur, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menujukan bahwa pertunjukan ronggeng tayub kaleran memiliki elemen pembentuk pertunjukan. Elemen pembentuk pertunjukan tersebut meliputi gerak tari, karawitan sekar, dan karawitan gending. Tahapan struktur pertunjukanya yaitu melalui tahap pra pertunjukan, pelaksanaan pertunjukan, dan pasca pertunjukan. Pra pertunjukan meliputi proses nimpahan/negosiasi, Tahap persiapan pertunjukan meliputi menyediakan alat musik/waditra, persiapan nayaga, ronggeng dan pesinden, panggung dan dekorasi panggung, alat penerangan, pengeras suara, kegiatan nonjok goong, menyediakan sesajian (sesajen), dan kegiatan zikir. Tahap pelaksanaan pertunjukan tersebut memiliki lima bagian yaitu tatalu, lagu pembuka, ibing lulugu, tayuban, ibing tambahan, dan lagu penutup. Tahap pementasan pertunjukan diiringi dengan tabuhan seperangkat alat waditra gambelan dengan menggunakan laras salendro dan juga laras pelog. Tahap akhir pertunjukan yaitu membagikan uang sawer dan honor, membereskan alat waditra gamelan oleh para wiyaga yang diangkut menggunakan mobil bak terbuka untuk dibawa ke sanggar. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pertunjukan ronggeng tayub kaleran akan tetap lestari apabila mendapatkan dorongan dan dukungan dari masyarakat maupun intansi pemerintahan.
-
JENTRENG KACAPI WANDA ANYAR (Penyajian Kacapi dalam Kawih Wanda Anyar)Sajian pada karya seni yang dilakukan oleh penyaji, penyaji menyajikan Kawih-kawih yang di aransemen menggunakan konsep musikal Kacapi Kawih Wanda Anyar sebagai bentuk pengaplikasian hasil dari pembelajaran selama kuliah di ISBI Bandung. Kacapi Kawih Wanda Anyar merupakan sebuah genre yang memiliki ciri khas tersendiri dalam permainan instrumen Kacapi yang menjadi instrumen utama. Kacapi Kawih Wanda Anyar memiliki aransemen yang mandiri untuk satu lagu, sehingga aransemen Kacapi berbeda dari satu dengan lagu-lagu yang lainnya. Perbedaan permainan aransemen Kacapi Kawih Wanda Anyar dalam setiap lagu dapat dilihat pada bagian intro, teknik iringan kacapi, unsur garap pada bagian lagu, dan dinamika permainan instrumen Kacapi yang mengikuti vokal atau juru kawih. Karya seni ini berjudul “JENTRENG KACAPI WANDA ANYAR” yang berarti suara hasil petikan kacapi dengan menggunakan konsep musikal Kacapi Kawih Wanda Anyar
-
KAJIAN ORGANOLOGI ALAT MUSIK BEKICOT DI DESA KARANGSEWU KECAMATAN CISEWU KABUPATEN GARUTPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek organologi dari alat musik tradisional Bekicot yang berasal dari Desa Karangsewu, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Alat musik ini terbuat dari tempurung Bekicot yang dipadukan dengan bambu dan kayu, menghasilkan suara unik yang menyerupai katak namun lebih nyaring dan berkarakter. Fokus penelitian meliputi dua aspek utama organologi, yaitu aspek fisik yang mencakup bahan, bentuk, dan konstruksi alat musik, serta aspek non-fisik yang mencakup sejarah, teknik memainkan, dan lainnya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat musik Bekicot memiliki struktur yang terdiri atas tempurung sebagai resonator utama, batang bambu, karet gelang sebagai pengatur frekuensi suara, serta alat pemukul khusus (panakol). Dalam praktiknya, alat musik ini dimainkan oleh beberapa pemain dengan pola permainan yang terdiri dari pancer, tempas, tojo, engklok, dan gong. Selain sebagai hiburan, alat musik Bekicot memiliki fungsi budaya dan spiritual yang penting bagi masyarakat setempat.
-
SEKARNA TEPAK JEUNG RENGKAKNA (Penyajian kendang dalam pencak silat dan jaipongan)Dalam sajian ini terdapat garap kendang pencak silat dan kendang jaipongan secara konvensional dan kolaborasi dari genre pencak silat yang penyaji bawakan secara konvensional terdapat lagu khas dari genre kendang pencak silat yaitu lagu kendor kulon. Pada kendang sejak jaipongan konvensinoal terdapat lagu peyeum gaplek. Kemudian pada garap kolaborasi antara kendang pencak silat dan kendang jaipongan penyaji membawakan lagu yang berjudul goresan hate. Kedua genre tersebut merupakan suatu kebiasaan dalam lingkungannya sehingga alasan penyaji dalam membawakan kedua genre tersebut, karena ruang lingkup, atau pewarisan yang telah diturun temurunkan menjadi ahli waris kedua orang tuanya dari genre kendang pencak silat tersebut. Dan kemudian dalam genre kendang jaipongan terdapat pengalaman semasa menempuh pendidikannya di Institut Seni Budaya Indonesia ISBI Bandung. Pendekatan teori yang penyaji gunakan pada sajian ini yaitu pendekatan teori AGIL. Terdapat beberapa point di dalam teori tersebut yaitu: adaptation (adaptasi), goal attainment (pencapaian tujuan), integration (integrasi), dan Latency (pemeliharaan pola). penyajian ini membuktikan bahwa kolaborasi antara kendang pencak silat dan kendang jaipongan sangat mungkin dilakukan tanpa menghilangkan identitas masing-masing. Lebih dari itu, karya ini diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata dalam pelestarian sekaligus inovasi seni tradisional Sunda.
