PENYUTRADARAAN TRANSCENDENTAL FILM BELENGGU
- Rights Holder
- ISBI
- Creator
- Haidar Difa Al Islam
- Title
-
PENYUTRADARAAN TRANSCENDENTAL FILM
BELENGGU - Description
- Peristiwa pasca G30S 1965 menyisakan dampak psikologis mendalam bagi para korban, termasuk seniman yang dituduh tanpa keterlibatan langsung. Berdasarkan konteks tersebut, karya tugas kahir berjudul Belenggu diangkat sebagai film fiksi yang mengisahkan seorang mantan tahanan politik yang hidup dalam keterasingan akibat trauma masa lalu. Ide penciptaan ini menarik karena menyoroti sisi kemanusiaan dari sudut pandang korban yang jarang ditampilkan dalam karya film, serta menggunakan pendekataan gaya film Transcendental yang menekankan pada tempo lambat, visual statis, dan kesan hening untuk membangun suasana emosional. Rumusan ide berfokus pada representasi psikologis korban, penerapan gaya penyutradaraan laissez-faire, dan eksplorasi bentuk sinema non-konvensional. Penelitian dilakukan secara kualitatif melalui observasi lapangan, wawncara dengan narasumber terkait, serta studi literatur untuk mendukung akurasi penceritaan. Metode penciptaan meliputi tahapan pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi dengan pendekatan kolaboratif antara sutradara dan kru. Hasil akhirnya adalah sebuah film pendek berdurasi 25 menit yang tidak hanya merepresentasikan trauma sejarah, tetapi juga menjadi media reflektif atas peristiwa pelanggaran HAM serta eksplorasi bentuk penyutradaraan yang lebih personal.
- The 1965 G30S tragedy left lasting psychological impacts on its victims, including artist who were unjustly detained without direct involvement in political movements. Responding to this historical context, the final project Belenggu is a fictional short film that portrays the life of a former political prisoner living in isolation due to unresolved trauma. This works offers a unique perspective by focusing on the victim’s emotional and psychological aftermath, a narrative angle that is rarely explored in Indonesian cinema. Employing the Trancendental film style-marked by slow pacing, static shots, and minimal sound-the film aims to evoke deep emotional reflection. The project explores how trauma can be visually represented, how liassez-faire directing allows actors greater emotional depth, and how alternative cinematic forms can enhance storytelling. A qualitative research method was applied, involving field observations, interviews with key informants, and literature studies to ensure narrative authenticity. The production process consisted of pre-production, production, and post-production stages, emphazing collaborative efforts among the creative team. The resulting 25-minute film serves both as an artistic expression and a medium for historical reflection on human rights violations and the long-terms effects of state-led repression.
- lm fiksi, trauma, G30S 1965, penyutradaraan, film transcendental
- Date
- 2025
- Has Part
- televisidanfilm
Position: 143 (8 views)